WARNING! (1)
GS!
DON'T LIKE GENDERSWITCH, DON'T READ!

WARNING! (2)
ENDING GANTUNG!

Ini beneran ending-nya gantung loh -,- dan Myka gak tahu bisa lanjut kapan. Mungkin aja nanti Myka bikin cerita judul lain dulu dan gak lanjutin yang ini.
Jadi buat yg gak mau penasaran, mending jangan baca :*


Pasangan muda yang baru saja saling menyematkan cincin di masing-masing jari manis tersebut nampak bertukar pandangan lalu tersenyum penuh makna, hingga tiba-tiba kaki bersepatu flat berhenti tepat di depan mereka.
"Kwon ... Soonyoung?"

#soonhoon #seventeen #gs #t

Say Yes

Wedding hall malam itu terlihat semarak. Meja-meja bundar ditutupi kain beludru putih bersih nampak tertata rapi membentuk pola di dalam ruangan, dihiasi oleh susunan empat tingkat gelas kaca bening berisi wine yang seolah berkilau membiaskan cahaya dari lampu-lampu raksasa yang menggantung megah di langit-langit. Tamu undangan dalam berbagai balutan resmi jas mahal serta gaun halus bertabur manik-manik berlian juga terlihat saling bercengkerama dengan senyum serta tawa tak henti-henti terlukis di wajah mereka, begitu pula dengan kedua mempelai yang tengah berdiri di dekat patung kaca dewi Aquarius yang menuangkan air kehidupan dari gucinya.

Pasangan muda yang baru saja saling menyematkan cincin pertunangan di masing-masing jari manis tersebut nampak mengobrol santai dengan beberapa undangan sambil sesekali bertukar pandangan lalu tersenyum penuh makna, menuai sorakan jahil orang-orang di sekitar mereka yang notebene-nya adalah teman dekat sendiri. Melodi klasik Canon D Major terdengar mengalun merdu memenuhi tiap sudut ruangan yang didekor cantik dengan pita dan bunga, terasa indah melengkapi kebahagiaan yang terbagi dalam tawa ceria itu.

Tuk, sepasang kaki jenjang dengan sepatu flat berhenti tepat di depan kedua mempelai yang masih bercanda dengan teman-teman mereka.

"Kwon ... Soonyoung?" lirih suara itu memanggil, penuh getar, mengkiaskan ragu, namun entah kenapa hal tersebut cukup membuat mempelai pria menolehkan kepala dengan cepat. Sepasang mata sipitnya langsung membesar begitu melihat sosok yang kini tengah berdiri tertegun di hadapannya, dengan dress sederhana yang menggantung hingga bawah lututnya, sebuah tas tersandang di bahu kanannya, dan jemari lentik yang nampak meremas kuat sebuah buntalan kain di gendongan tangan kirinya.

"Soon ... young-ah?" bibir tipis itu kembali bergetar, tak ada yang bisa dijelaskan dari kedua matanya selain rasa kaget. Pun dengan mempelai laki-laki yang terpaku pucat menatapnya.

"Jihoon..." sebuah nama terlepas dari tenggorokan pria itu, terdengar berat, menyimpan sejuta makna bagai jeda yang mengisi jarak pandang keduanya yang telah melekat satu sama lain.

Dunia seolah bungkam, menjatuhkan tatapan pada dua orang yang terlihat seperti bicara melalui telepati, bertukar kata lewat pikiran sebab tak ada satupun suara yang kemudian terdengar lagi dari mereka.

Waktu seolah berhenti, melamatkan berisik suara musik, ramai orang bercerita, dan kenangan yang berputar kembali di depan mata. Hingga kemudian sebuah jeritan memecah semua kebekuan menjadi puing kenyataan yang jatuh berhamburan.

Buntelan di gendongan Jihoon nampak bergerak-gerak sambil terus mengeluarkan suara tangis dan mendadak sebuah lengan kecil dengan jari-jari chubby mungil terlepas dari balutannya, memukul-mukul udara dengan kuat. Jihoon terlihat sama sekali tidak terganggu dengan suara jeritan yang semakin keras, dia hanya meraih tangan kecil itu dan membiarkannya meremas kuas jari telunjuknya sembari menimang pelan buntelan di gendongannya. Mata gadis tersebut tidak beralih dari manik Soonyoung yang kini sudah dua kali terbeliak lebih lebar.

"J-Jihoon..." bibir Soonyoung bergetar, namun tidak begitu dengan mata Jihoon yang tegas menatapnya.

-o-

Ruangan ini berkebalikan dengan wedding hall yang ramai. Masih luas memang, namun lebih tenang dan lengang, benar-benar pencitraan sempurna sebuah suit room hotel berbintang lima. Ranjang dengan ukuran king size diletakkan di titik paling strategis ruangan, lengkap dengan bedcover-nya yang terbuat dari satin serta menguarkan aroma harum relaksasi tapi Jihoon lebih memilih merebahkan dirinya di sofa. Dia meletakkan tas di lantai di sebelah kakinya sambil duduk memandang pada isi buntelan kain di tangan kirinya yang tengah balik menatap dengan sepasang mata kecil yang sesekali berkedip pelan.

"Enak? Minum? Iya? Channie minum? Hm?" tanya Jihoon dengan suara kecil, tersenyum saat—kembali—sebuah kedipan cute menjawabnya membuat wanita tersebut terkekeh lantas mencubit gemas hidung mungil bayi di gendongannya yang kemudian menggeliat sejenak lalu meneruskan kesibukannya menghisap lapar puting susu ibunya.

Membiarkan anaknya kembali minum, Jihoon menerawangkan pandangan dan menghela napas panjang. Teringat olehnya wajah terkejut Soonyoung, matanya, tatapan dari wanita yang berdiri—dan menggandeng tangannya—di sebelahnya, pandangan dari seluruh tamu ... Jihoon menutup kedua matanya rapat-rapat. Merutuk dalam hati. Mengutuk dirinya sendiri.

Apa yang sudah aku lakukan...?

-o-

Jihoon baru selesai mengancingkan kemeja ketika pintu ruangan terbuka. Dengan hati-hati dia berdiri, masih dengan menggendong bayinya yang sudah kembali tertidur. Orang yang pertama dia lihat berjalan memasuki ruangan dengan langkah cepat dan menghentak adalah seorang wanita, sepertinya sudah cukup berumur namun masih nampak cantik oleh polesan make up yang begitu pas dan natural di kulitnya. Di belakang wanita itu, Jihoon melihat Soonyoung bersama dua orang pria lain yang salah satunya menutup pintu begitu mereka bertiga sudah berada di dalam ruangan.

PLAK! Baru juga Jihoon akan membungkukkan badan memberi salam, sebuah tamparan sudah lebih dulu menyapa keras pipinya.

"EOMMA!" Soonyoung memekik kaget melihat ibunya langsung main tangan pada orang yang bahkan tidak dia kenal.

Jihoon membeku, merasakan panas dan perih merambat dari pipi kirinya merata ke kepala, cukup memberinya denyutan migran. Jeritan bayi di gendongannya menjadi hal yang menyadarkan gadis tersebut. Chan—nama bayi itu—terlonjak bangun oleh suara keras tamparan dan spontan menangis.

"JALANG!" Nyonya Kwon langsung memaki, nadanya lantang menyaingi Chan yang mana hanya dipeluk erat oleh Jihoon yang terdiam.

"Siapa yang menyuruhmu? Katakan padaku siapa yang menyuruhmu untuk datang dan mengHANCURKAN PESTA ANAKKU!?"

Jihoon makin mempererat pelukannya pada bayi yang masih belum berhenti menangis, dia tidak ingin pekikan yang menyakitkan telinganya itu sampai di pendengaran Chan yang masih lembut.

"Kau bahkan sampai membawa bayi. Apa kau mau bilang kalau anak itu adalah anak Soonyoung? Kau mau menipu kami? Apa yang kau mau? UANG!? HAH!?"

"Eomma—" Soonyoung menyela, namja tersebut memberanikan diri untuk memegang tangan ibunya dan mencoba menariknya menjauh dari Jihoon yang masih berdiri diam memeluk Chan yang dia biarkan menangis. Bayi itu sekarang mulai sesenggukan.

"Lepaskan!" sesuai dugaan, Nyonya Kwon menepis keras tangan putranya dan kembali menuding Jihoon yang perlahan mengangkat wajah. Bukan untuk memandang raut penuh kemarahan wanita paruh baya di hadapannya, melainkan untuk menemukan sepasang mata Soonyoung yang menyorot khawatir padanya. Napas Soonyoung tercekat menatap pupil Jihoon, entah kenapa dadanya mendadak terasa sesak seperti dihimpit oleh beban ratusan ton, terlebih ketika ibunya kembali mengucapkan tuduhan dan makian pada gadis itu.

"Yeobeo..." salah satu dari dua pria yang tadi mengikuti Soonyoung perlahan menyentuh pundak Nyonya Kwon yang naik-turun dikuasai oleh emosi serta kemarahan. "Tenanglah—"

"APANYA YANG TENANG!?" Nyonya Kwon memekik. "Pelacur ini sudah menghancurkan pesta Soonyoung! Dia mau menipu kita, bilang kalau anak itu adalah anak Soonyoung dan dia mau menghancurkan kita!"

"Tapi dia bahkan tidak mengatakan apa-apa—"

"SUDAH PASTI ITU YANG AKAN DIA KATAKAN!"

Suara tangisan Chan mulai terdengar jarang-jarang, berganti dengan sesenggukan dan mulutnya yang terengah karena kesulitan bernapas. Jihoon melonggarkan balutan selimut di tubuh bayinya, membawa kepala mungil itu untuk sedikit mendongak dan dengan cepat merogoh saku bajunya mengambil sebuah dot. Chan memberontak, menolak menyimpan dot karet tersebut di dalam mulutnya tapi karena tangan sang ibu terus bertahan di depan bibirnya, pada akhirnya bayi itu mau mengemut dot sambil perlahan menutup mata, kecapekan menangis.

"Sudahlah, biarkan Soonyoung yang bicara dengannya, ini urusan mereka." Tuan Kwon masih berusaha membujuk istrinya.

"Kalau Soonyoung yang bicara, sudah pasti jalang ini akan merayunya! Dia pasti akan bertingkah munafik dan merayu Soonyoung!" Nyonya Kwon kalap.

Tuan Kwon berdecak keras, menoleh pada anak lelakinya yang hanya berdiam diri memandang semuanya.

"Kwon Soonyoung, kenapa kau diam saja? Katakan sesuatu." Pria paruh baya tersebut menghardik pelan dengan suara beratnya yang bijak. Soonyoung mengalihkan mata sejenak pada ayahnya.

"Tidak perlu, Soonyoung-ah. Biar Eomma yang mengurus ini. Eomma tahu apa yang diinginkan wanita murahan ini di sini. Dia hanya ingin menipumu dan menghancurkan pernikahanmu dengan Eunha," ujar Nyonya Kwon, ditudingnya kembali Jihoon yang masih membisu.

"Heh, Jalang. Kenapa kau diam saja? Kau tidak punya hal yang mau dikatakan karena semua skenariomu sudah aku beberkan, iya 'kan!? Kau memang datang kemari untuk menipu kami, dasar muraha—" tangan Nyonya Kwon kembali melayang, Jihoon reflek menutup mata tapi keras sebuah tamparan tidak juga dia rasakan mendarat di wajahnya.

Hening sejenak.

Menyadari tidak terjadi apa-apa, Jihoon perlahan membuka mata dan dia terkejut mendapati sesosok tinggi tengah berdiri tepat di depannya, memberinya pemandangan sebuah punggung lebar berjas tebal. Samar tercium aroma mint dari tubuhnya, wangi yang tidak asing bagi Jihoon, ini harum parfum Soonyoung.

"S-Soonyoung-ah..." suara Nyonya Kwon terdengar bergetar, matanya menyorot tidak percaya ketika tiba-tiba gerakan tangannya dihentikan oleh putranya sendiri dan bahkan pria muda tersebut kini berdiri memasang badan di depan wanita mungil tidak dia kenal yang barusan puas dia maki-maki.

"Aku yang akan bicara padanya, Eomma. Eomma keluar saja dengan Appa." Suara Soonyoung terdengar datar, dalam, penuh dengan ketegasan.

"Tap-tapi kalau nanti dia—" Nyonya Kwon masih mencoba untuk bertahan.

"Soonyoung sudah bilang dia yang akan bicara, kita keluar saja." Dari belakang Tuan Kwon kembali meraih pundak istrinya dan perlahan menariknya pergi.

"Tapi, Yeobeo. Bagaimana kalau wanita itu merayu Soonyoung? Bagaimana kalau dia berbohong dan—"

"Sudah, sudah," potong Tuan Kwon sambil tetap menuntun istrinya yang masih mengoceh bahkan ketika mereka telah berjalan keluar ruangan.

"Sekretaris Hwang, aku minta kau juga pergi," ujar Soonyoung pada pria yang sejak masuk ke dalam kamar hotel, hanya berdiri menunggu di dekat pintu. Lelaki yang nampak lebih tua dari ayah Soonyoung itu cuma membungkukkan badan lantas berjalan keluar.

Klap, pintu tertutup. Suasana tenang seketika.

Lengang.

Perlahan Soonyoung menghela napas.

Detik berlalu dan hening masih menetap.

"Sakit?" suara cekak Soonyoung yang pertama mengoyak sunyi. Terasa namja tersebut bergerak, berbalik dan sebentar kemudian telapak tangan besarnya meraih pipi kiri Jihoon yang memerah cap tangan tamparan ibunya. Gadis itu mendongak, langsung berbenturan pandang dengan sepasang mata kecil yang menyorot lembut penuh keteduhan padanya.

"Apa sakit?" bisik Soonyoung, bibirnya bergetar pun dengan manik coklat yang perlahan namun pasti mulai memperlihatkan rongga-rongga kerapuhan. Jempol pria tersebut mengusap halus tulang pipi Jihoon, "Maaf..." desisnya. "Ibuku memang sangat keterlaluan..."

Untuk sesaat Jihoon jatuh pada sentuhan hangat di bekas panas yang tertinggal di wajahnya, tapi kemudian dia tersadar dan segera menyingkirkan tangan Soonyoung. Wanita itu bergerak mundur, memberi jeda di antara tubuh mereka berdua.

"Aku..." Jihoon mendesis, matanya kehilangan fokus, mencoba untuk memandang apapun selain Soonyoung, dan tanpa sadar pelukannya pada Chan yang sudah tertidur kembali mengerat. "Aku tidak bermaksud untuk menganggu, aku tidak sengaja datang ke sana, aku—"

"Bolehkah aku melihat bayi itu?" Soonyoung menyela.

"Dia bukan anakmu." Jihoon menyahut cepat, semakin erat mendekap tubuh mungil di dadanya. Namun Soonyoung seperti tidak mendengar, hanya beranjak mendekat membuat gadis di depannya reflek bergerak mundur.

"Dia bukan anakmu," ulang Jihoon terus melangkah ke belakang hingga dia merasa punggungnya menempel pada dinding. "Demi Tuhan, aku tidak melahirkan anakmu. Dia anak orang lain." Wanita itu menggelengkan kepala dan makin menyembunyikan Chan di dalam pelukan, namun dengan mudah Soonyoung berhasil meraih tangan kiri si bayi.

Pria tersebut tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangkat sedikit tangan kecil itu ke atas, menurunkan lengan pendek bajunya dan seketika mata Soonyoung terbeliak melihat ada sebuah titik merah di ketiaknya. Tahi lalat merah, yang bagi Soonyoung bukanlah sesuatu hal yang asing. Dengan gemetar namja tersebut mengembalikan tangan Chan ke pelukan ibunya dan mendadak dia langsung jatuh berlutut di depan kaki Jihoon yang hanya dapat menatapnya terkejut.

"Maaf..." bibir Soonyoung bergetar, kepalanya menunduk, kedua tangannya menangkup sepatu Jihoon. "Maafkan aku, Lee Jihoon..." dia terisak, menjatuhkan kening pada kaki wanita di depannya.

-o-

Pintu terbuka dan kedatangan Soonyoung langsung disambut oleh berpasang-pasang mata dengan berbagai macam sirat terkias pada sorotnya. Di antara mereka, ada kedua orang tua Soonyoung dan gadis yang beberapa puluh menit lalu dia genggam tangannya dengan hangat sembari menjejerkan cincin pertunangan di jari manis mereka. Namun berbeda dengan ekspresi bahagia serta cantiknya ketika Soonyoung mencium keningnya di depan banyak orang, kini gadis tersebut hanya diam menatapnya dengan mata datar dan bibir dingin.

Soonyoung membungkukkan badan dalam-dalam. Meminta maaf adalah hal yang pertama harus dilakukan. Untuk yang mana? Semuanya. Pesta yang berantakan, skandal yang pasti akan mulai dibicarakan para rekan bisnis yang menjadi tamu undangan, kemarahan ibunya, kekecewaan keluarga tunangannya, tanda tanya yang mereka simpan, namun Soonyoung sama sekali tidak ingin menyalahkan Jihoon. Kedatangan gadis itu bukanlah penyebab dari semua ini, melainkan kelakuan Soonyoung sendirilah yang membuat masa depannya berubah menjadi seperti ini.

"Mana jalang itu? Kau sudah mengirimnya ke kantor polisi 'kan? Kita harus menuntutnya, kita harus membuat dia mengembalikan nama baik keluarga kita—"

"Soonyoung-ah," suara berat Tuan Kwon menyela kalimat panjang istrinya, memberi kesempatan pada putra mereka untuk bicara sebab sekarang yang paling penting adalah mendengar penjelasan dari Kwon Soonyoung.

Pria muda tersebut mengambil napas panjang sebelum bicara, "Aku meminta sekretaris Hwang mengantarnya pulang."

Hening sejenak.

Terkejut.

"APA KAU BILANG!? KENAPA KAU BIARKAN DIA PERGI!? KWON SOONYOOOUNG!" Nyonya Kwon langsung naik pitam, dia merangsek maju hendak meraih rambut anaknya, mencakarnya, atau apapun itu yang dapat meluapkan kemarahannya namun dengan cepat beberapa orang dengan stelan jas rapi dan berkacamata hitam langsung menahan wanita tersebut.

Tuan Kwon nampak menghela napas dalam-dalam, kedua alisnya mengerut tegas dan dapat Soonyoung lihat jika sang ayahanda tengah berusaha menahan diri untuk tidak dikuasai oleh emosi. Pria muda itu menundukkan kepala, mengepalkan kuat tangannya, merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri dan ingin menghabisi dirinya yang mengecewakan tersebut dengan tangannya sendiri.

Sepasang kaki jenjang yang berhenti di depan Soonyoung membuat namja tersebut mendongak perlahan. Eunha di sana, tunangannya, seorang gadis mungil dengan mata besar yang hanya menatap datar padanya.

Soonyoung diam, mengikuti keheningan yang diberikan Eunha. Dia rela jikalau seandainya wanita itu akan memakinya, menampar, melakukan apapun yang mungkin bisa sampai membunuhnya, Soonyoung akan menerimanya. Sebab dia tahu, rasa kecewa, sedih, malu dan penasaran yang dirasakan Eunha serta keluarganya tidak akan pernah bisa terbayar bahkan oleh kematian Soonyoung sekalipun.

"Sebaiknya kau punya penjelasan yang bagus untuk ini ketimbang hanya meminta maaf, Oppa." Hanya itu yang dikatakan bibir mungil Eunha lalu dia beranjak, berjalan melewati Soonyoung menuju pintu diikuti oleh kedua orang tua serta anggota keluarganya yang lain yang memilih untuk bersikap bijak dan tidak ikut campur.

Klap, pintu tertutup. Soonyoung merasa seluruh persendian badannya melemas. Namja tersebut jatuh berlutut di atas lantai, kedua pandangan matanya menerawang, telinganya berdenging tak lagi dapat memproses apapun termasuk makian ibunya yang kini tertuju padanya, mengatainya tentang 'LIHAT APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA EUNHA! PADA KELUARGANYA! PADA KELUARGA KITA! INI SEMUA SALAHMU, KWON SOONYOUNG! DAN JALANG ITU—'

Bukan... desis Soonyoung dalam hati. Semuanya... hanya salahku...

-o-

"Nona—" sapaan ketiga bibir keriput sekretaris Soonyoung baru berhasil menyadarkan Jihoon dari pikiran panjangnya dan membuat gadis itu balik menatap gamang pada si pria berumur yang tengah menunggunya di dekat pintu mobil yang terbuka.

"Kita sudah sampai," ujar sekretaris Hwang. Jihoon mengedarkan pandangan ke luar jendela mobil dan butuh beberapa detik tambahan untuknya menyadari jika sekarang dia sudah sampai di depan gang rumah kontrakannya.

"O-oh, i-iya, anu—terima kasih, itu... maaf, aku melamun," ujar Jihoon gugup, langsung membenarkan tali gendongan pada tubuh Chan dan meraih tasnya. Nampak sekretaris Hwang tersenyum simpul, menggeser badan sedikit untuk memberi jalan pada Jihoon yang keluar dari mobil, lantas kembali menutup pintu Jaguar itu perlahan.

"Akan saya antar sampai ke rumah—"

"Tidak perlu." Jihoon menggelengkan kepala. "Hanya masuk sedikit aku sudah sampai di rumah kok." Gadis tersebut tersenyum.

"Terima kasih karena sudah mengantarku." Dengan sopan dia membungkukkan badan yang dibalas hal serupa oleh sekretaris Hwang. "Dan..."

...bilang pada Soonyoung aku berterima kasih dan minta maaf padanya.

Jihoon menelan kembali kalimat yang muncul di dalam kepalanya, memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa.

" 'Dan?' " ulang sekretaris Hwang yang kemudian kembali menyadarkan wanita muda di hadapannya.

"A-ti-tidak, tidak ada apa-apa." Dengan cepat Jihoon menggelengkan kepala. "Anu... pokoknya terima kasih karena sudah repot-repot mengantarku."

Sekretaris Hwang kembali tersenyum. "Saya hanya melaksanakan tugas, Nona."

Hening sejenak.

Canggung.

Jihoon tidak dapat menemukan kata yang pas untuk berpamitan. Dia memang bukan orang yang pandai bicara.

"Jika anda tidak keberatan—" suara sekretaris Hwang terdengar lunak. "—bolehkah saya melihat anak anda?"

"Eh? Oh, Chan? Kenapa memang?" balas Jihoon heran, seingatnya tadi Soonyoung juga mengatakan hal yang sama. Ingin melihat Chan.

"Hanya memastikan sesuatu," ujar sekretaris Hwang lalu mendekati Jihoon. "Maaf," ucapnya sopan sebelum memegang tangan kiri Chan dan menariknya keluar dari balutan selimut dengan hati-hati. Bayi itu bergerak sejenak namun segera tenang oleh tepukan lembut sang ibu di bokongnya. Sekretaris Hwang mengangkat tangan Chan ke atas, menurunkan sedikit lengan pakaiannya dan sepasang mata tua tersebut langsung menyipit. Tanpa mengatakan apa-apa, dia mengembalikan tangan si bayi ke atas tubuhnya.

"Ada apa?" tanya Jihoon tidak mengerti, tapi cuma sebuah gelengan yang menjawab rasa ingin tahunya.

"Kalau begitu saya permisi sekarang, semoga malam anda menyenangkan," pamit sekretaris Hwang begitu saja. Jihoon hanya sempat menganggukkan kepala sebelum melihat pria itu masuk ke dalam mobil. Mesin menyala dan segera kendaraan tersebut berlalu dari hadapan Jihoon.

Gadis mungil itu menelengkan kepala, dengan iseng dia mengangkat tangan bayinya ke atas lantas berdecak pelan.

"Ada apa dengan ketekmu, Chan-ah?"

-o-

Jihoon baru akan membuka pintu rumahnya ketika suara lantang barang terbanting membuat sepasang kaki jenjangnya melompat di tempat. Spontan dia memeriksa wajah Chan di gendongan dan langsung menghela napas lega begitu melihat bayi tersebut masih terlelap. Jihoon mengarahkan mata pada jendela bangunan rumah yang bersisian dengan miliknya, nampak kaca kotak itu masih menyinarkan cahaya lampu dari dalam.

Mereka bertengkar lagi? Batin gadis tersebut sambil memutar knop pintu dan mendorongnya ke dalam. Neon beranda menyala otomatis begitu sensornya merasakan hawa panas kedatangan manusia. Setelah mengunci kembali pintu depan, Jihoon melepas sepatu tanpa sempat meletakkannya di rak. Segera kemudian dia berjalan menuju kamar tidur sambil tak lupa menyalakan setiap saklar lampu di ruangan yang dia lewati tak terkecuali dapur.

Jihoon meletakkan tas di lantai lalu dengan hati-hati menidurkan Chan ke ranjang. Bayi itu langsung menggeliat, merenggangkan seluruh bagian tubuhnya begitu terbebas dari kungkungan kuat selimut lantas bergerak menyamping dan kembali terlelap sementara ibunya menghela napas, memegang tepi tempat tidur dan perlahan merosot turun merebahkan pinggul di atas lantai kayu yang terasa sejuk. Dengan lesu wanita itu menyandarkan punggung pada kayu ranjang dan menatap gamang lurus ke depan. Semua hal yang sudah terjadi hari itu berputar kembali di otaknya.

"Kwon ... Soonyoung?"

Jihoon menutup kedua matanya rapat-rapat, merutuki kebodohannya di dalam hati, tak henti-henti mengutuk rasa penasarannya yang begitu kurang ajar dan tidak tahu tempat. Jika bisa memutar waktu Jihoon tidak akan pernah masuk ke dalam wedding hall itu, kalau perlu dia tidak akan datang ke hotel dan lebih memilih untuk pulang makan ramen.

Jihoon tidak bohong saat bilang ke Soonyoung dia tidak bermaksud mengganggu, dia sama sekali tidak berdusta ketika mengatakan dia tidak sengaja masuk dan mengenali pria itu. Jihoon baru saja menuntaskan meeting dengan beberapa komposer kenalannya yang sama-sama terlibat di dalam pembuatan sebuah album kolaborasi di kafe tak jauh dari lokasi hotel tempat Soonyoung berada. Dia sudah terbiasa mengadakan meeting di luar kantor sambil membawa Chan, sebab teman-temannya lebih dari senang punya kesempatan untuk bertemu dengan bayi yang baru-baru ini mencoba untuk belajar merangkak itu. Dan lagi, karena Jihoon tinggal sendiri serta tidak punya orang lain yang dapat dititipi untuk mengasuh anaknya. Wanita tersebut masih tidak tega jika harus menyerahkan Chan ke tempat penitipan anak.

Sudah hampir waktu makan malam saat Jihoon melangkahkan kaki keluar kafe dan melambaikan tangan pada teman-temannya yang memutuskan untuk makan bersama. Jihoon menolak ajakan mereka dengan alasan Chan sudah tidur dan mungkin bisa menjadi penghalang bagi kumpulan orang muda itu untuk bersenang-senang sambil minum-minum di restoran. Dia melihat bangunan hotel yang berada dekat dengan kafe lalu memutuskan untuk makan malam di sana saja.

Baru saja memasuki lobi, sebenarnya Jihoon sudah sadar jika hotel itu sedang mengadakan acara. Sebab hampir di setiap sudut dia bisa melihat sekuriti berpakaian rapi dengan kacamata hitam dan orang-orang bergaun mewah dengan ber-make up glamour berjalan berseliweran. Jihoon tidak ambil pusing, hanya mengedikkan bahu, lalu langsung menuju lift ke lantai tempat restoran hotel berada.

"Apa ada yang menikah?" tanya Jihoon kala itu pada seorang pelayan yang mengantarkan sup rumput laut pesanannya.

"Iya, Nona. Ada pesta pertunangan."

Jihoon ber-oh pendek, tak lupa mengucapkan terima kasih ketika makanannya telah diletakkan semua di atas meja. Dia menoleh ke samping, tersenyum melihat Chan yang pulas tidur di atas boks bayi yang disediakan oleh pihak restoran, baru kemudian wanita muda tersebut meraih sendok.

Jihoon tidak mengambil lorong yang sama ketika dia keluar dari restoran. Iseng, dia mencoba untuk lewat di depan wedding hall, sekedar ingin melihat seperti apa pesta yang digelar di hotel berbintang dan juga bagaimana kedua mempelainya. Dia berniat akan segera pergi setelah melihat dari kejauhan, namun seraut wajah yang sepertinya dia kenal seketika membuat niat awalnya itu buyar.

Jihoon tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Tubuhnya bergerak sendiri, kakinya melangkah sendiri, kepalanya kosong dan hatinya berpacu cepat kehilangan pegangan hingga dia berhenti di depan orang yang dia harap bukanlah orang yang sama dengan yang dia kenal.

"Kwon ... Soonyoung?" tapi kemudian orang itu menoleh, merespon panggilannya dan memasang wajah terkejut yang sama dengannya.

Jihoon tidak tahu harus mengatakan apa.

Apa-apaan ini? Cerita macam apa ini? Kenapa...

Jihoon sangat berharap jika yang sedang dia lihat sekarang hanyalah halusinasinya, hanya tipuan kedua matanya, hanya orang yang mirip dan bukan benar-benar...

"Jihoon..."

TIDAK! INI TIDAK MUNGKIN TERJADI! Jihoon menjerit dalam hati. Mengeratkan pelukannya pada Chan yang masih terlelap.

Dari semua takdir buruk di dunia ini, kenapa ... kenapa mereka harus digariskan untuk bertemu lagi? Dan di tempat seperti ini...

Jihoon langsung menyesali semua keputusannya untuk pergi ke hotel itu sejak awal.

Seharusnya aku tidak pergi. Seharusnya aku tidak masuk ke sana. Seharusnya aku tidak...

...sudah terlambat.

Perlahan Jihoon merebahkan badan ke lantai, merasakan dingin permukaan kayu menyapa tubuhnya yang sudah cukup beku oleh hawa malam musim semi yang masih berada di titik-titik rendah derajat celcius.

Apa yang sekarang akan kau lakukan, Lee Jihoon? Desis Jihoon dalam hati. Bayangan wajah Soonyoung mendadak kembali terbentuk di depan wajahnya. Alis tegas, mata tajam yang teduh, senyuman lembut, tak ada yang berubah. Perlahan gadis tersebut memejamkan mata. Ya, sama sekali tak ada yang berubah dari diri Soonyoung, termasuk suaranya yang menenangkan dan sentuhan tangannya.

-o-

Ruangan serupa tempat kerja itu nampak gelap. Rak-rak tinggi yang dipenuhi buku, deretan sofa yang merapat ke dinding, meja dengan komputer serta tumpukan kertas dokumen, dan jendela besar yang dibiarkan terbuka tirainya memperlihatkan kelam langit malam yang menyimpan purnama di balik pelukan awan.

Klek, tiba-tiba pintu ruangan terbuka, membuat Tuan Kwon yang sedang berdiri menghadap jendela menoleh ke belakang, langsung mendapati sosok sekretaris Hwang yang meski sudah berumur namun masih terlihat tegap sedang membungkukkan badan dengan sopan.

"Kau sudah tahu, siapa nona itu?" tanya Tuan Kwon mengacu pada gadis mungil yang menggendong bayi yang muncul di pesta pertunangan anaknya malam ini.

"Namanya Lee Jihoon, dari Busan. Dia satu angkatan di universitas tempat Tuan Muda belajar dulu. Mereka seumuran, Nona Lee mengambil jurusan Music Major dan selama hampir satu tahun berada di klub musik yang sama dengan Tuan Muda. Mereka sempat mengadakan beberapa pertunjukan amal," tutur sekretaris Hwang.

Nampak Tuan Kwon mengangguk-angguk. "Jadi dia ikut di acara yang selalu dibahas Soonyoung sewaktu kuliah itu," desisnya.

"Tentang keluarganya, tidak ada masalah. Ayahnya seorang nelayan dan sudah meninggal karena badai saat dia masih kecil. Ibunya meninggal beberapa bulan lalu karena sakit. Sekarang dia tinggal sendiri di sebuah rumah kontrakan di perbatasan Gangnam. Kondisinya cukup baik, tidak terlalu kumuh."

"Pekerjaannya?" tanya Tuan Kwon.

"Nona Lee menjadi komposer lagu untuk beberapa perusahaan musik dan di akhir minggu dia ikut menjadi tutor melatih paduan suara gereja."

Suasana hening sejenak, terlihat Tuan Kwon kembali mengangguk-anggukkan kepala.

"Dia masih muda, tapi sudah bisa menata hidupnya sendiri."

"Nona Lee tidak punya banyak teman, namun setiap orang yang dekat dengannya mengenalnya sebagai seorang pribadi yang baik," imbuh sekretaris Hwang.

Tuan Kwon tersenyum, "Aku tahu, sikapnya yang tenang saat menghadapi ibu Soonyoung itu benar-benar mengagumkan. Aku bersyukur, setidaknya Soonyoung tidak salah memilih teman."

Kembali hening.

"Lalu, bagaimana dengan bayinya?"

"Itu..." sekretaris Hwang nampak ragu sesaat, mengundang kerutan curiga di kening tuannya. "Saya sudah memeriksanya sendiri dan..."

"Dan?" Tuan Kwon menunggu.

"Di ketiak kiri bayi itu ada tahi lalat merah. Persis seperti tanda lahir di keluarga ini."

Sunyi mengetuk bersama dengan detikan jam. Rasa kaget terlihat nyata memancar dari raut wibawa wajah Tuan Kwon namun kemudian dia menghela napas panjang sambil memejamkan mata, mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Anak bodoh itu..." desisnya menyimpan geram.

-o-

Tuk, tuk, crasss! Suara nyaring benda lunak mendarat di atas minyak panas penggorengan membuat mata Jihoon mengerjab. Dia memandang ventilasi di atas jendela bertirai tebal yang sudah memperlihatkan warna terang langit dan mulai menggeliatkan badan. Di sebelahnya, Chan yang terkejut oleh gerakan sang ibu ikut merenggangkan kedua kaki dan tangan kecilnya kemudian kembali tenang memejamkan mata sementara Jihoon memandang gamang pada atap kamar, sedang mengumpulkan lembar demi lembar kesadarannya.

Merasa sudah cukup kembali ke dunia nyata, wanita muda tersebut bangkit bangun. Dia memutar badannya ke kanan dan kiri, membuat persendian pinggangnya berbunyi lalu mengecek keadaan buah hatinya yang sudah kembali pulas. Jihoon tersenyum, perlahan turun dari ranjang menuju cermin rias. Dijepitnya rambut coklat yang menjuntai hingga bawah tali bra dan dia meraih tisu, membersihkan minyak di wajah seperlunya sembari berjalan keluar kamar menuju sumber suara berisik barusan. Sesosok tinggi berpunggung lebar dengan rambut cepak nampak sedang berdiri sambil meratakan telur yang mulai matang di atas penggorengan di dapur Jihoon.

"Oppa," panggil gadis tersebut membuat namja yang membelakanginya langsung menoleh.

"Oh, kau sudah bangun?" dia tersenyum, membawa sepasang matanya yang indah untuk melengkung. "Good morning~"

.

Tluk, dengan hati-hati Jisoo meletakkan piring berisi telur hangat di depan Jihoon yang duduk meneguk air menghadap meja makan.

"Semalam kau pulang jam berapa?" tanya namja itu, ikut duduk berseberangan dengan gadis mungil yang meletakkan gelas kosong di dekat mangkuk nasinya yang juga masih dibiarkan kosong.

"Entahlah," Jihoon mengedikkan bahu. Sejenak dia mengamati berbagai macam makanan yang sudah tersaji di atas meja. Sayur, tumis-tumisan, telur, dan wanita tersebut segera menjatuhkan tatapan menyelidik pada sosok di hadapannya yang sudah mulai mengisi mangkuk dengan nasi dari dalam rice cooker.

"Kenapa?" tanya Jisoo heran melihat Jihoon yang memandang penuh curiga padanya.

"Kau yang memasak semua ini?" balas si gadis sembari menunjuk makanan di atas meja.

Senyuman Jisoo merekah. "Tentu saja," jawabnya bangga. "Cobalah, aku yakin kau akan terkejut," lanjutnya sambil mencomot sedikit tumis lalu menyodorkannya di depan mulut Jihoon yang langsung terkatup rapat.

"Yah," desis Jisoo, ekspresi wajahnya mendatar terlebih ketika gadis di hadapannya menyingkirkan sumpitnya untuk menjauh.

"Ah, wae~" namja tersebut merajuk, mengerutkan alis tidak terima dengan penolakan Jihoon.

"Masakanmu selalu aneh, Oppa," tandas si mungil. "Kalau kau tidak salah memasukkan bahan, kau pasti akan salah memasukkan racun. Aku tidak mau makan, aku masih mau hidup."

Jisoo berdecak keras. "Oke, aku mengaku. Aku bohong. Mingyu yang memasak semua ini, aku cuma memanaskan. Puas kau? Sekarang, makan!"

Mendengar itu, Jihoon tersenyum. "Nah, gitu dong. Dari awal kek," ujarnya riang dan baru mau menyendok nasi, tak menghiraukan Jisoo yang menggerutu di antara kunyahan makanannya.

"Semalam aku mendengar ada yang melempar barang di tempatmu. Jeonghan Eonnie datang lagi?" tanya Jihoon di sela-sela kesibukannya melahap sarapan.

"Eoh," jawab Jisoo singkat.

"Dia marah-marah lagi?"

"Menurutmu?" balas namja berwajah mungil itu disusul oleh desahan napas berat. "Wanita itu hanya datang padaku kalau sedang marah saja."

"Bertengkar lagi dengan Choi Seungcheol?" tebak Jihoon yang kembali mendapat helaan napas panjang.

"Ya Tuhan, salah apa hambaMu ini sampai-sampai punya teman hanya menjadikanku sebagai tempat sampah," desis Jisoo memasang ekspresi galau, mengundang cekikikan Jihoon.

"Itu karena kau terlalu baik, Oppa," tudingnya balik. "Kau selalu diam saja mendengar keluhan mereka dan tidak keberatan rumahmu diacak-acak sebagai pelampiasan—"

"Siapa bilang tidak keberatan!?" sahut Jisoo cepat. "Untung saja Yoon Jeonghan sadar diri dan mau bersih-bersih sebelum pergi. Tapi aku akan lebih berterima kasih padanya kalau dia bisa menghadapi masalahnya sendiri dan tidak menarik-narik namaku. Kau tahu? Alasan kenapa dia selalu bertengkar dengan Choi Seungcheol adalah pacarnya itu salah paham padaku, mengira aku ada apa-apa dengan Jeonghan sebab wanita itu lebih sering datang padaku daripada ke tempatnya. Dia tidak tahu saja Jeonghan datang untuk menangisinya. Ish, menyebalkan."

Kembali Jihoon terkekeh mendengar Jisoo yang malah ganti curhat padanya.

"Makanya, aku 'kan sudah bilang berkali-kali. Carilah pacar, Oppa. Kalau bisa menikahlah sekalian, daripada dituduh sana-sini—"

"Yah—" Jisoo mencoba menyela namun sumpit Jihoon terlebih dulu naik ke udara, memintanya untuk diam.

"—kau itu terlalu tampan, mapan dan baik. Tidak heran para pria menganggapmu sebagai saingan. Coba kalau kau jelek dan pengangguran, tidak akan ada yang melirikmu meski tahu kau menjadi teman curhat wanita mereka. Mingyu contohnya."

Jisoo sudah akan membantah kalimat Jihoon namun mendengar ada nama temannya berbagi biaya kontrakan muncul di ujung tuturan, entah kenapa malah membuat tawanya meledak. Gadis di depannya ikut tertawa, tidak mengingkari apa yang barusan dia katakan dan tak ingin memperbaikinya, apalagi minta maaf pada pemilik nama yang sekarang bahkan tidak tahu jika sedang dibicarakan.

"Yah, kenapa kau menyebut-nyebut Mingyu? Aish, jinjja." Jisoo terkekeh. "Dia itu tampan. Dia punya daya tarik yang unik dan dia juga sudah tidak menganggur lagi sekarang."

"Eh!? Mingyu benar-benar diterima jadi koki?" mata Jihoon membulat kaget. Jisoo mengangguk.

"Weeeh, keren!" puji gadis tersebut. "Aku dengar restoran itu sangat terkenal dan punya level internasional. Sangat sulit untuk bekerja di sana, apalagi menjadi koki."

"Mingyu sudah mengorbankan jiwa, raga dan waktunya untuk bisa bekerja di tempat itu. Dia pantas mendapatkannya."

"Apa kau membantunya?"

"Apa maksudmu?" balas Jisoo dengan mata membulat.

"Aku dengar pemegang saham terbesar di restoran itu bermarga Hong." Kalimat Jihoon mengandung tuduhan.

"Eyy~" Jisoo mengibaskan tangan. "Darimana kau tahu berita seperti itu?"

Smirk muncul di bibir tipis Jihoon. "Jangan mengalihkan pembicaraan." Dia mengacungkan ujung sumpit pada Jisoo. "Kau melakukan kongkalikong supaya Mingyu diterima kerja di tempat itu 'kan, Hong Jisoo-ssi?"

Jisoo menelan potongan telur gorengnya sebelum bicara. "Tidak," dia menggeleng. "Sebelumnya aku bahkan sama sekali tidak tahu kalau restoran itu ada hubungannya dengan perusahaan."

"Lalu? Darimana kau tahu?" tanya Jihoon.

"Dari sertifikat yang dibawa pulang Mingyu. Nama dan cap di bagian direkturnya itu, dia teman minum teh ibuku."

Jihoon mendesis. "Mengerikan," lirihnya. "Keluargamu benar-benar mengerikan, Oppa. Ayahmu pebisnis, ibumu istri pebisnis, dan kau sekarang menjadi dokter. Aku berani bertaruh minggu depan kau akan jadi dokter yang mengurusi bisnis."

Mendengar hal tersebut, Jisoo hanya tertawa.

"Dan kau tahu apa yang lebih mengerikan?" tanya Jihoon.

"Apa?" namja di depannya nampak penasaran.

"Kenyataan kalau kau ada di sini, tinggal di kontrakan kecil yang biaya per tahunnya ditanggung oleh dua orang. DUA ORANG! Di saat kau bisa menyewa sebuah apartemen elit hanya untuk dirimu sendiri."

Jisoo tergelak keras.

"Kau tahu aku pernah tinggal di tempat seperti itu 'kan? Dan kau tahu tempat begitu tidak lebih baik dari sekarang—"

"Tapi tetap saja," sela Jihoon. "Kau punya gaji tetap sebagai dokter, masih bisa mengandalkan investasi dari perusahaan, tapi kau hidup seolah kau cuma kuli bangunan, itu juga ditambah dengan uang sokongan dari Mingyu yang bekerja serabutan untuk makan. Oppa, yang kau lakukan sekarang benar-benar sangat jahat."

Kembali Jisoo tertawa. "Lalu kau mau aku bagaimana?" tanyanya kemudian.

"Pulanglah. Kembalilah ke alammu dan jangan ganggu ketentraman orang kecil seperti kami." Jihoon mengibaskan tangan seolah Jisoo adalah seekor kucing kecil yang harus dia usir dari rumahnya.

Namja ramah tersebut hanya tertawa renyah. "Kau pikir aku setan," tanggapnya santai.

"Ngomong-ngomong, kau tidak mematikan lampu dapur lagi dari semalam," ujar Jisoo setelah beberapa saat terdiam mengunyah makanan.

"Aku lupa," sahut Jihoon sederhana.

"Berhentilah lupa, hal seperti itu yang membuat tagihan listrikmu membengkak terus tiap bulan."

"Ah iya, tagihan..." Jihoon meletakkan tangan di sebelah mangkuknya yang sudah hampir kosong. "Batas waktu melunasi tagihan air itu kapan ya? Aku lupa," desisnya dengan kedua mata menerawang. "Aku letakkan dimana ya kertasnya?"

"Kau belum membayar tagihan?" tanya Jisoo dibalas anggukan.

"Aku bahkan lupa menaruh kertasnya dimana."

"Kenapa? Kau tidak punya uang?" Jisoo bertanya lagi, kali ini dengan sirat cemas menggantung di permukaan coklat mata beningnya, mengundang delikan galak manik sipit Jihoon.

"Yah, jangan coba-coba berpikir untuk meminjamiku uang atau membayarkan tagihanku, Oppa. Aku akan membunuhmu kalau sampai kau melakukan itu," tuding si gadis mungil.

"Apa salahnya saling meminjam uang di antara tetangga—"

"Tapi niatmu tidak meminjamkannya, kau MEMBERIKANNYA PADAKU!" sentak Jihoon jengkel. "Kau tidak pernah menagihnya padahal kau sendiri tahu aku ini pelupa. Aku ... aku benar-benar tidak bisa hidup tenang kalau tidak ingat berapa yang sudah aku pinjam darimu dan kau sama sekali tidak membantuku untuk mengingat. Aku tersiksa, Oppa. SADARLAH!"

Jisoo tergelak untuk kesekian kalinya, merasa terhibur oleh kemarahan dan emosi meletup-letup gadis di hadapannya.

"Aku punya pekerjaan, aku bisa menghasilkan uang, jadi jangan memperlakukan aku seolah kau adalah Daddy Sugar yang harus mengurusku," pungkas Jihoon.

"Ok, ok, ok, sorry. I am sorry." Jisoo mengangkat kedua tangannya, masih belum berhenti terkikik. "Lalu bagaimana perkembangan proyek kolab-mu? Kemarin kau bilang kau ada meeting untuk membicarakan ini 'kan?" dia mengalihkan pembicaraan.

Jihoon menyerahkan mangkuk kosong pada Jisoo yang mulai membereskan meja makan. "Lumayan. Sebagian besar dari mereka sudah aku kenal jadi kemungkinan tidak akan ada kendala yang berarti."

"Benarkah?" alis Jisoo mengerut sangsi. "Semalam kau pulang larut aku pikir karena meeting-nya berjalan alot."

Jihoon mengibaskan tangan. "Tidak, bukan itu. Aku pulang telat karena..."

Bertemu Soonyoung.

Jihoon terdiam.

"Karena apa?" Jisoo menunggu.

"Aku makan dulu di hotel dekat kafe." Jihoon tersenyum kecil.

"Oh, dengan teman-temanmu?"

"Tidak. Sendiri."

"Yah—" mata lebar Jisoo membeliak. "Kau semalam makan sendiri? Kenapa tidak memberitahuku? Aku juga makan sendiri, aku kesepian. Aish, tahu begitu kita bisa makan sama-sama 'kan."

Jihoon terkekeh. "Mana aku tahu, Oppa."

Jisoo hanya mendengus. "By the way, kapan kau mulai membuat lagu?" lanjut namja tersebut, dengan hati-hati meletakkan satu per satu alat makan di bawah westafel dan mulai menyalakan air.

"Secepatnya."

"Hmm, kau akan sibuk berarti," gumam Jisoo menuai kerutan heran alis hitam Jihoon.

"Kenapa memang?" giliran gadis itu yang bertanya.

"Ada banyak stok barang yang habis di rumah dan karena Mingyu baru masuk kerja, aku tidak enak memintanya untuk menemaniku belanja—" Jisoo memandang Jihoon. "Temani aku juseyoo~"

Jihoon tersenyum kecut, antara mau dan tidak mau. Berbelanja dengan teman memang menyenangkan, tapi Jisoo punya kebiasaan buruk setiap kali pergi membeli sesuatu dengannya.

"Kau juga bisa sekalian belanja 'kan? Popok Chan, susu Chan, bajunya—ah, kemarin ada temanku di rumah sakit yang memfoto sepatu bayi lucuuu sekali di mall. Aku langsung kepikiran Chan, pasti akan sangat cute kalau dia memakainya. Jadi—"

Tuh 'kan.

Kalimat Jisoo terhenti sebab raut wajah Jihoon perlahan berubah seiring dengan ocehannya. Gadis tersebut kini tengah menatapnya datar dengan kilat mata siap mengkulitinya hidup-hidup.

"Aku membelikannya untuk Chan, bukan untukmu," ujar Jisoo mencoba membela diri, namun hal itu sepertinya tidak berpengaruh bagi Jihoon yang mana langsung meraih kerah bajunya lalu menariknya ke beranda.

"Keluar! Keluar dari sini dan jangan pernah kembali lagi. Kembalikan kunci pintuku. Jangan pernah kembali kemari dan sarapan lagi di sini. Persetan dengan makan sendirian itu sepi atau demi menjaga kerukunan tetangga atau apalah terserah. Jangan pernah ke sini lagi, makanlah di tempatmu sendiri!" kata Jihoon.

"Yah yah yah, tunggu sebentar. Aku—" Jisoo mencoba beralasan.

"KELUAR!"


A/N:

Udah ya, gitu doang -.-
Soalnya ide cerita ini menggelitik minta ditulis sih, jadi ya ... gitu deh '-')a
Sempet galau mau dibikin SoonHoon atau cast lain, soalnya lebih cocok buat cast lain. Tapi setelah diskusi ini itu sama sesama author penikmat ff SVT, dilanjut aja bikin SoonHoon

Ceritanya mainstream ya, heung~ -,,-

Btw, itu Eunha ... iya, itu Eunha GFriend! XD