WARNING! GS!
DON'T LIKE GENDER SWITCH, DON'T READ!
.
^^ HAPPY BIRTHDAY KWON SOONYOUNG! ^^
.
Review kalian bikin Myka terharu (i_i) kalo gitu nih Myka kasih part 2-nya :*
Sekalian buat ngerayain ultah si mata kesobek tersayang :**
.
Beberapa hari sudah berlalu sejak insiden di pesta pertunangan itu, namun Soonyoung masih belum bisa memutuskan apakah dia akan menemui Jihoon atau tidak.
"Karena rasanya, apapun yang aku lakukan hanya akan menyakiti Jihoon—"
#soonhoon #hozi #seventeen #gs #t
Say Yes
2
Tiga hari sudah berlalu sejak insiden di pesta pertunangan dan Soonyoung telah kembali ke rutinitas hariannya. Pergi ke kantor, membaca setumpuk berkas laporan, meeting di sana-sini, tanda tangan dokumen segunung, dan terkadang masih melayani ajakan beberapa kolega untuk main golf atau sekedar mengobrol santai sambil minum kopi di jam makan siang. Tak ada waktu bagi namja tersebut untuk membahas kejadian malam itu, tak ada jeda baginya meladeni teriakan sang ibu yang terus-menerus mendesaknya untuk melaporkan Jihoon ke polisi, bahkan hingga detik ini tak terbersit sedikit pun di pikirannya nama Eunha setiap kali dia membuka ponsel dan menjawab telpon dari rekan bisnisnya.
Meski nampak tidak peduli, namun sejatinya Soonyoung tahu jika dia sedang menjadi pusat perhatian, topik utama dalam pembicaraan, dan target empuk yang cepat atau lambat akan dihabisi oleh saingan perusahaan. Lebih dari siapa pun, dia menyadari posisinya sedang berada di tepi jurang. Salah sedikit mengambil keputusan, dia tidak hanya akan terpeleset karena kecerobohannya namun juga bisa didorong hingga jatuh oleh orang lain. Oleh sebab itu, sebisa mungkin Soonyoung memperlihatkan sikap seolah dirinya tidak terpengaruh oleh insiden malam yang lalu, mencoba untuk tetap tenang, menutup telinga pada bisik-bisik tak enak juga lirikan sinis yang ada, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa walau di dalam hatinya, di dalam pikirannya, rasa kalut dan bingung serasa sedang mencekiknya hingga mati.
Setidaknya itulah yang disadari oleh Jeon Wonwoo, sahabat dekat sekaligus sekretaris pribadi Soonyoung.
"Pak Bos, woy~" Wonwoo menjentikkan jari di depan Soonyoung yang mendadak kehilangan fokus saat sedang mendengar dia membacakan jadwal pekerjaan pagi itu.
Soonyoung tergagap seketika, berkedip gamang beberapa kali baru kemudian memandang Wonwoo dengan ekspresi perpaduan antara orang linglung dan orang yang baru bangun tidur. Namja tersebut masih tidak mengatakan apa-apa seolah saraf otaknya belum berhasil loading seratus persen dan untuk itu sahabatnya menghela napas panjang. Dia menutup notes yang berisi urut-urutan kegiatan Soonyoung di tangannya.
"Pulanglah, kau benar-benar butuh istirahat. Melihatmu sekarang tak ada bedanya dengan melihat zombie," desis Wonwoo menyimpan nada khawatir dan kasihan di dalam ujaran.
Soonyoung mengusap pelan belakang lehernya, "Aku punya banyak pekerjaan—"
"Tidak usah dikerjakan. Aku akan bilang pada Direktur kalau kau tidak enak badan dan pulang lebih awal. Kalau perlu aku akan membuatkan surat dokter palsu," potong Wonwoo.
"Dan membuat orang-orang mengira aku ambruk karena tidak kuat menahan beban mental dari skandal kemarin? Apa kau pikir para tua bangka dari kantor saham akan melewatkannya begitu saja? Kau mau aku menjadi steak makan malam mereka?" balas Soonyoung bertubi-tubi. Sekretarisnya berdecak keras.
"Yah, kenapa kau harus menghiraukan pendapat orang-orang itu? Kau tidak bisa mengontrol pikiran mereka, kau tidak bisa menyetir hati mereka—"
"Setidaknya aku bisa menyenangkan mereka supaya mau memberikan uang pada bisnis kita." Skakmat. Helaan napas gusar keluar dari Wonwoo dan perdebatan berhenti di situ digantikan oleh keheningan beserta desis halus suara AC.
"Lalu, apa saja kegiatanku hari ini?" tanya Soonyoung merobek sepi.
"Baca saja sendiri." Wonwoo meletakkan notes-nya di hadapan sang manager, di atas dokumen tebal berisi ketentuan kerja sama dari perusahaan lain yang seingat Soonyoung akan menjadi agenda rapat siang nanti.
"Yah!" Soonyoung berseru protes. "Bagaimana bisa kau menyuruh seorang manager untuk membaca sendiri jadwal kegiatannya sementara kau adalah sekretaris!"
"Lalu?" Wonwoo beranjak, mendekati coffee maker yang diletakkan di meja di sudut ruangan.
"Tentu saja kau harus membacakannya untukku! Aku atasanmu!"
"Aku sudah membacanya dan tiap kali dapat separuh kau selalu jatuh melamun. Waktu aku sadarkan, kau menyuruhku untuk mengulanginya. Total, aku sudah membacanya empat kali dan aku tidak mau membaca lagi. Jadi sesi selanjutnya adalah belajar sendiri," papar Wonwoo sebelum sepenuhnya menghadapkan badan pada coffee maker dan mulai memanaskan air.
"Tsk, mana ada bawahan yang bersikap kurang ajar seperti itu. Aku akan memotong gajimu tujuh puluh persen!" ancam Soonyoung.
"Ti~ran~" sahut Wonwoo.
"Bodo amat!" temannya menyalak.
Lalu hening. Di belakang meja kerja, Soonyoung nampak ngedumel sambil mencoba memahami tulisan ceker ayam Wonwoo di notes yang kemudian sukses membuatnya berhenti mengeluhkan sikap kurang ajar sekretaris tersebut dan ganti merutuk bentuk huruf kalimat Wonwoo yang tak jauh beda dengan gaya menulis dokter.
"Soonyoung-ah," celetuk Wonwoo. "Apa kau sudah menemui Jihoon?" tanyanya tiba-tiba, menghentikan gerakan Soonyoung yang sedang membalik halaman notes-nya.
"Kau sudah tahu rumahnya 'kan? Kau sudah menemuinya?" lanjut namja itu.
Soonyoung meletakkan perlahan lembar kertas di sela jarinya, menyatukannya dengan tumpukan lusuh yang berada di bawahnya. Pria tersebut mengusapkan ujung telunjuk sejenak di permukaan tepi notes Wonwoo.
"Kalau kau tidak segera menyelesaikan masalah ini, yang ada semuanya akan menjadi keruh. Orang-orang kurang kerjaan itu bisa saja membumbui gosip-gosip yang beredar dan memperparah salah paham. Sebelum itu terjadi, bukannya kau harus melakukan sesuatu?" Wonwoo mengambil cangkir, meletakkannya di bawah coffee maker untuk mengisinya dengan espresso.
Soonyoung terdiam, wajahnya mengarah ke halaman notes namun kedua matanya menerawang. "Apa..." bisiknya. "...yang harus aku lakukan?"
Wonwoo menuangkan air panas ke dalam cangkir dan mengaduknya pelan. "Entahlah, posisimu membingungkan."
Soonyoung menutup mata, menyingkirkan notes dari hadapannya dan perlahan meletakkan kening ke permukaan meja. Kedua bahu tegap itu roboh, melupakan pertahanannya, kehilangan kekuatannya.
"Apa yang harus aku lakukan...?" bisik Soonyoung lirih di antara pekat kegelapan yang menyesatkan pikiran yang biasanya selalu cemerlang oleh ide-ide kreatif layaknya seorang manager perusahaan. Tapi kali ini jangankan memikirkan ide, apa yang akan dia lakukan selanjutnya terkadang dia sudah lupa. Tak pernah Soonyoung kira jika masalah hati bisa berimbas begini mengerikan.
"Kalau aku telaah permasalahannya, yang harus kau temui pertama kali adalah Jihoon." Suara Wonwoo berbenturan dengan dentingan sendok di dalam cangkir. "Kalau kau ingin memberi penjelasan pada Direktur, Nona Jung, dan keluarga mereka, kau harus tahu dulu apa yang ingin dikatakan Jihoon. Jadi kesannya kau tidak mengarang cerita."
"Apa itu akan merubah keadaan?" desis Soonyoung.
Gerakan tangan Wonwoo terhenti, matanya meredup. "Entah. Tapi setidaknya, kau bisa menjelaskan tentang Jihoon lebih banyak sebab yang sekarang ingin mereka ketahui adalah dia. Siapa dia, apa hubungannya denganmu dan siapa anak yang bersamanya."
"Kalau aku menemui Jihoon dan mengatakan alasan dia datang, apa ada kemungkinan orang-orang itu tidak akan berbalik menudingku selama ini sudah berhubungan diam-diam dengannya di belakang Eunha?"
"Tapi kalau kau tidak menemuinya, yang ada kau juga tidak akan bisa menjelaskan apapun dan terlihat makin mencurigakan seperti sedang menyembunyikan sesuatu." Wonwoo menghela napas menyerah. "Sudah 'ku bilang, posisimu itu membingungkan."
Buah malakama. Maju kena, mundur kena, diam pun kena.
"Masalah ini sebenarnya mudah. Temui Jihoon, minta penjelasan darinya, katakan penjelasannya itu ke keluargamu dan keluarga Nona Jung, lalu selesai—" Wonwoo berdecak pendek. "—yang membuat susah adalah orang-orang yang sudah menonton masalah kalian."
Benar. Orang-orang itu...
Perlahan Soonyoung mengangkat kepala, menegakkan tubuh, menyangga dagu dengan kedua tangannya. Mata sipit tersebut masih menerawang.
"Kau harus cepat mengatasi ini, Soonyoung-ah. Menurutku, Direktur tidak akan tinggal diam begitu saja. Sama seperti yang kau cemaskan, beliau pasti juga tahu kalau ini bisa mengancam posisimu dan kelangsungan perusahaan. Sekarang masih belum ada gerakan, itu artinya Direktur masih percaya kau bisa menyelesaikan ini sendiri." Wonwoo beranjak meninggalkan coffee maker dengan cangkir mengepulkan asap panas di tangannya.
Soonyoung perlahan menutup mata, di dalam otaknya bergelut berbagai macam cara pemecahan beserta kronologi dan semua konsekuensinya. Tapi semakin dipikirkan, semua itu hanya semakin membuat sakit kepala sebab meskipun ada kemungkinan dia bisa mendapatkan penjelasan dan menjelaskan pada kedua pihak keluarga, imbas untuknya di luar itu masih tidak bisa dikendalikan. Orang-orang akan tetap berburuk sangka pada reputasinya, menganggap semua pembelaan adalah bagian dari formalitas dan berakhir dengan dia dipandang sebelah mata. Soonyoung buntu, tak ada cara yang cukup tepat untuk menyelesaikan semua ini.
Tuk, Wonwoo meletakkan cangkir berisi americano hangat di hadapan bosnya yang tengah kalut. Aroma tajam kopi tersebut sontak membuat kedua mata Soonyoung kembali terbuka dan sejenak melupakan apa-apa yang barusan bergumul sengit di dalam otaknya serupa buntelan kusut benang wol. Perlahan namja sipit itu mengangkat wajah, memandang sekretarisnya yang kini telah berdiri lagi di depan meja kerjanya. Wonwoo tersenyum.
"Jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain, Pak Bos. Yang terpenting adalah dirimu, karena ini hidupmu."
"Kh-" Soonyoung menyeringai. "Sejak kapan kau bijak seperti ini?"
"Menakutkan ya kalau aku jadi bijak?" Wonwoo nyengir.
"Sangat. Horor tahu." Soonyoung meraih kuping cangkir kopi di depannya, mengangkatnya dari permukaan meja dan menyeruput isinya perlahan.
"Ngomong-ngomong, Jihoon sama sekali tidak berubah. Iya sih cuma setahun tidak bertemu. Mana mungkin seseorang bisa berubah drastis selama itu," ujar Wonwoo.
"Tidak juga," timpal Soonyoung.
"Eh?"
"Ada yang berubah dari dia." Namja bermata sipit tersebut meletakkan cangkir kopi kembali ke meja. Disangganya rahang dengan sebelah tangan, tatapannya menerawang, mengingat sosok mungil berambut panjang menggendong bayi yang muncul di depannya beberapa hari lalu, mengingat hal-hal yang sebelumnya belum pernah dia lihat ada pada gadis itu. Rok panjang, sepatu wanita yang feminim, dan ... kesabarannya menghadapi kelakuan ibu Soonyoung.
"Dia berubah..." Soonyoung tersenyum. Lebih cantik... sambungnya dalam hati.
Wonwoo menelengkan kepala, tidak mengerti dengan isi pikiran atasannya. Sedetik kemudian dia tersentak, "Oh ya, bayi itu ... apa dia anakmu? Jihoon mengatakan sesuatu?"
"Tidak."
"Lalu? Kau masih tenang saja? Tidakkah kau ingin tahu kalau dia memang anakmu atau bukan? Kau harus tahu 'kan—" kalimat Wonwoo terhenti saat dilihatnya sang manager mengalihkan tatapan mata padanya.
"Aku sudah tahu. Mengetahui sesuatu yang disembunyikan Jihoon adalah keahlianku. Ingat?" Soonyoung tersenyum simpul dan Wonwoo hanya mengangkat sebelah alis.
-o-
Senja telah menghilang beberapa menit yang lalu, menyisakan kelam langit berpeluk mendung yang membuat bintang enggan memancarkan kuat-kuat kerlipan sinarnya karena sudah pasti akan tetap kalah dihalangi oleh awan yang menggantung. Jihoon berbalik, mengganti posisinya yang tengah berbaring di tempat tidur lalu perlahan mengeluarkan desisan pelan napas dari bibirnya seiring dengan terdengar suara gemuruh misterius yang berasal dari dalam perutnya.
Aku lapar, batin gadis itu lesu.
"Aamamamaa-"
"Jangan main di tepi terus, Chan-ah. Kau bisa jatuh," celetuk Jihoon.
"Amaaa! Mamama! Uuuaaah-"
Jihoon menghela napas panjang, kembali membalikkan badan ke posisi pertama dan langsung disuguhi pemandangan sebuah bokong kecil tengah menungging padanya dengan kepala menempel pada kayu yang terpasang memagari seluruh tepi tempat tidur. Dengan malas wanita tersebut bangkit dan merangkak mendekati bayinya yang masih mengoceh tidak karuan.
"Ada apa?" tanya Jihoon. Bayi itu menoleh, menatapnya dengan sepasang mata sipit yang berkedip-kedip.
"Amamama-" ocehnya, tangannya terjulur keluar dari celah jeruji kayu. Jihoon memandang ke bawah dan melihat sebuah bola merah muda tergeletak di atas lantai.
"Kau menjatuhkannya?" gadis itu melompat turun dari ranjang dengan mudah, mengambil bola mainan anaknya, membersihkannya sejenak dengan kain baju lantas melemparnya kembali ke tengah-tengah kasur. Chan menjerit senang, dengan cepat bergulung-gulung di antara sprei dan selimut untuk menjangkau bola kesayangannya.
"Yah, jangan berguling-guling seperti itu. Merangkaklah, kau sudah bisa merangkak 'kan?" Jihoon terkekeh melihat buntelan daging bayinya menggulungkan diri persis kepompong jatuh.
"Aemaemam-" tanggap Chan yang sudah sibuk mengigit-gigit bola plastik di tangannya dan kemudian hanya dapat mengerutkan kening sebab benda bulat tersebut selalu luput untuk empat biji giginya yang baru tumbuh di satu bulan terakhir.
"Haaah~" Jihoon kembali menghempaskan badan di tepi tempat tidur yang tidak dilindungi pagar. "Chan-ah, Eomma lapar," keluhnya sambil memandang anaknya yang masih penasaran dengan bola plastik yang dia pegang. Benda itu digenggam kuat dengan dua tangan berjari gemuk, beberapa kali mencoba dimasukkan ke dalam mulut, terdengar suara gigi susu menggesek permukaan licin plastiknya dan berakhir dengan teriakan jengkel Chan sebab dia kembali gagal menggigit si bola. Entah kenapa Jihoon tertawa melihatnya.
"Sampai besok pagi juga kau tidak akan bisa menggigitnya, Chan-ah. Sini, Eomma ganti sama yang lain." Jihoon mengambil bola berlumuran air liur dari tangan anaknya dan bermaksud untuk mengambil mainan yang biasa digunakan Chan saat giginya gatal ingin menggigit sesuatu, namun jeritan keras bayi itu seketika menghentikan gerakannya.
"AAAAAAA!"
"Wae wae wae?" tanya Jihoon kaget, lebih terkejut lagi ketika dengan cepat anaknya merangkak menerjangnya dan merebut bola di tangan sang ibu.
"Amaa! Mamamama! Maaa!" teriak Chan seolah marah jika mainannya diambil begitu saja.
"Tapi ini sulit untuk kau gigit. Eomma ambilkan yang lebih—"
"MMAAA!" Chan semakin brutal, tangan kecilnya menarik kuat pakaian sang ibu.
"Oke, oke, oke, ini ambillah. Ini." Jihoon menyerahkan bola merah muda tersebut kembali ke tangan anaknya yang langsung diterima dengan senyuman lebar. Bayi laki-laki tersebut segera menjatuhkan diri ke kasur yang empuk, mengangkat bola di tangannya dengan mata berbinar seolah mengagumi warna indah merah mudanya lalu kembali memasukkannya ke dalam mulut.
Jihoon menghela napas. "Kau itu gigih sekali," desis wanita muda tersebut. "Menuruni siapa kau, hah?" dengan gemas dijitaknya pelan tempurung kepala anaknya yang berambut hitam tipis.
"Maemaemaa-" oceh Chan, berganti posisi dari telentang menjadi tengkurap, menundukkan kepala untuk bisa memperangkap bola plastik di dalam dekapannya dan kembali menggigitinya.
Kkruuuk, perut Jihoon berbunyi lagi, membuat gadis tersebut mengeluh panjang dan melipat kaki layaknya kucing tidur. Sejatinya memang Jihoon ingin tidur, setidaknya itu yang selalu dia pikirkan setiap kali dia merasa lapar. Rasa magernya lebih besar daripada apapun, rasa enggannya untuk sekedar mengambil ponsel dan menelpon jasa pengantaran makanan juga tidak dapat dikalahkan oleh apapun. Jika saja dia tidak ingat harus menyusui Chan, Jihoon mungkin akan lebih memilih melingkar seperti ini di tempat tidur hingga pagi.
Tidak boleh, gadis itu memaksakan diri untuk bangkit dari pelukan nyaman kasur hangatnya.
Tidak boleh malas, Chan masih harus minum susu, tekadnya ogah-ogahan sambil dengan berat hati menurunkan kaki dari ranjang. Dia berdiri, menaikkan pagar kayu untuk menghalangi Chan jatuh dari tempat tidur.
"Mamama-" panggil Chan ketika melihat sosok ibunya pergi dari tempat tidur.
"Eomma mau ke dapur sebentar," ujar Jihoon seolah mengerti dengan kata-kata anaknya.
"Mmaaa!" Chan melepaskan bola di tangannya dan merangkak mendekati tepi kasur, memukul-mukul jeruji kayu saat melihat Jihoon keluar kamar meninggalkannya sendirian. "Maaa!"
"Iya, iya, sebentar! Eomma cuma mau cari makanan!" sahut Jihoon keras dari dapur.
"MAAA!" Chan menjerit.
"Wooy pitch control, pitch control!" Jihoon membuka lemari es dan seketika melenguh melihat satu-satunya makanan siap telan hanyalah kimchi sisa ramen beberapa malam lalu, sementara dia sedang benar-benar malas untuk memasak meskipun daging serta sayuran tertata rapi memenuhi spasi kulkas. Gadis itu mengambil wadah dingin berisi kimchi, menimangnya sebentar tapi kemudian mengembalikannya ke tempat semula.
Menyedihkan sekali makan kimchi dingin tanpa nasi ataupun ramen. Jihoon memutuskan untuk tidak makan sekalian. Besok pagi toh Jisoo pasti juga datang ke rumahnya mengajak sarapan bersama. Kalau tidak, masih ada Mingyu.
"Huwaaa-" Chan terdengar mulai menangis, memukul-mukul pagar kayu sambil memanggil-manggil Jihoon dengan melas, membuat ibunya mempercepat langkah menuju kamar tidur.
"Eh eh eh, Eomma 'kan sudah bilang Eomma cuma mau ke dapur mencari makanan. Kau juga bisa mendengar suara Eomma. Kenapa masih menangis, huh?" Jihoon meraih Chan yang tengkurap di tepi kasur, diangkatnya bayi itu ke pelukan sambil tidak lupa menyeka air mata yang membasahi kedua pipi chubby-nya.
"Mmaa...hiks..." Chan menggenggam erat baju Jihoon, seolah takut jika ibunya akan pergi lagi dari jarak pandangnya.
"Kau takut sendirian?" tebak Jihoon merasa geli. "Aigoo aigoo, mana ada cowok macho takut ditinggal sendirian di kamar, heum?" wanita itu meletakkan si bayi kembali ke tengah ranjang sedangkan dia menempatkan diri berbaring di sebelahnya. Chan langsung berbalik tengkurap, memandang Jihoon seperti takut jika mendadak sosok ibunya menghilang.
"Wae?" Jihoon mengulum senyum membalas tatapan mata kecil bayinya yang berkedip-kedip menggemaskan. Chan menunggingkan bokong, menegakkan kedua tangan dan segera merangkak mendekati Jihoon.
"Ammamama-" celotehnya sembari mendaratkan tangan di perut Jihoon lalu ambruk begitu saja di atas dadanya. "Mamamama-"
"Uluh uluh uluh, manjanya anak Eomma~" sambil terkekeh Jihoon mengusap kepala Chan yang berada di atas dadanya. Bayi tersebut menggunakan perut ibunya sebagai pijakan untuk bergerak semakin dekat ke wajah Jihoon. Gadis itu mengumpat pelan ketika tidak sengaja kening Chan terbentur keras mengenai rahangnya, tapi untung bayinya tidak menangis.
"Mmamamamaa-" Chan mengoceh seraya terus mengusel-uselkan kepala di dada serta leher Jihoon, membuat ibu muda tersebut gregetan. Dengan erat dipeluknya tubuh mungil Chan lalu dibawanya untuk telentang sementara Jihoon tengkurap di atasnya.
"Kau itu manja sekali—muah, lucu sekali—muah, pintar sekali—muah, siapa yang mengajarimu?—muah, hm?—muah, ayo bilang ke Eomma siapa yang mengajarimu?—muah muah muah," ujar Jihoon seraya mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke kedua pipi gembul Chan bergantian membuat anaknya menjerit senang. Jihoon tertawa, kembali memberikan kecupan-kecupan sayang ke pipi, hidung, dada dan perut chubby bayinya. Dia juga menghujani telapak mungil tangan Chan dengan ciuman, disambut gelak tawa oleh anak itu.
Jihoon menghadapkan wajah ke muka Chan yang sudah memerah karena tertawa, dia tersenyum memandang bagaimana bayinya menatapnya dengan mata coklat yang cemerlang dan bibir mengembangkan senyuman lebar yang bersinar.
"He-he-he," ujar Jihoon, cukup untuk membuat bayinya terkekeh.
"He-he-he-he," ulang Jihoon dan Chan kembali memekik senang seolah dia sedang menonton dagelan paling lucu sejagat raya. Seluruh tubuhnya bergerak, tangannya menyentak dan kakinya menendang-nendang.
"Eh, jangan menendang. Kena Eomma, sakit," tegur Jihoon beralih meraih kedua kaki gemuk anaknya dan langsung ia kecupi kembali membuat si bayi menjerit kegelian. Chan berontak, menggeliat kuat mencoba untuk melepaskan diri seperti kepompong.
"Aigooo kiyowo~" Jihoon melepaskan kaki anaknya dan langsung memegang badan chubby padat berisi Chan, menghujani lagi wajahnya dengan ciuman-ciuman sayang.
"Kyaaahahahaha!" bayi tersebut tidak bisa berhenti tertawa.
Setelah agak lama bercanda Jihoon menarik kepala sejenak, memandang anaknya yang masih tersenyum lebar, membuat sepasang matanya yang sudah sipit semakin hilang terlipat membentuk sebuah garis lurus. Wanita itu terkekeh.
"Yah, buka matamu. Kalau tertawa jangan merem, kau bisa ditinggal nanti," ujarnya geli.
"Ehee~" hanya itu balasan Chan. Cute maksimal. Dan Jihoon tidak tahan untuk tidak menyerangnya lagi dengan sebuah ciuman super lama di pipi gemuknya. Kembali, Chan menjerit senang.
"Tidak apa-apa, toh Appa-mu juga tidak punya mata," ujar Jihoon usai mencium Chan, senyuman lembut menggantung di bibirnya ketika dia mengatakan itu. Mendadak bayinya menggeliat ingin melepaskan diri dari pelukan. Gadis tersebut bangkit, membiarkan buah hatinya tengkurap. Perlahan dia mengusap kepala bulat Chan yang berambut hitam halus.
"Appa-mu..." mata Jihoon meredup. "Kalau dia melihatmu begini, apa dia akan mengenalimu?" akhir kalimat gadis itu berubah menjadi bisikan, gerakan tangannya di kepala Chan terhenti, pandangan matanya menerawang dan sebuah bayangan kembali muncul di dalam pikirannya, menatapnya dengan sepasang mata kecil yang bersorot teduh serta jemari yang mengusap lembut pipinya.
"Apa sakit?"
"Maaf..." kepalanya menunduk, kedua tangannya menangkup sepatu Jihoon. "Maafkan aku, Lee Jihoon..." dia terisak, menjatuhkan kening pada kaki wanita di depannya.
Kenapa kau minta maaf?
"Mmaaa!" tepukan Chan di tangan Jihoon menyentakkan wanita itu dari lamunan. Dia menunduk untuk menemukan bayinya tengah mendongak menatapnya dengan ekspresi wajah hampir menangis. Jihoon tertegun, dia menyentuhkan jari ke ujung matanya sendiri dan baru tersadar jika ternyata matanya sudah berair.
"Anniya, Eomma tidak apa-apa kok. Jangan khawatir." Jihoon mencoba tersenyum, meraih ketiak anaknya yang masih nampak mencemaskannya, dan menimang sebentar tubuh Chan di udara. "Tidur yuk~" ajaknya kemudian membawa si bayi untuk berbaring di kasur namun dengan kecepatan cahaya Chan kembali tengkurap dan merangkak menjauh.
"Yah, Chan-ah. Ayo tidur," ajak Jihoon. "Eomma lapar, jadi ayo tidur lebih awal."
"Aaaauuuaaa-" tolak Chan, meraih bola merah muda yang masih tertinggal di ranjang.
"Ayolaah, jangan keras kepala." Jihoon merajuk. "Apa kau tidak capek? Tidak mengantuk? Menurun dari siapa kau itu hah, tidak mau diam." Dengan kesal ibu muda tersebut menepok pelan bokong Chan membuat bayinya tertawa dan malah ganti menendang-nendangkan kaki dengan senang.
"Ah, terserah. Eomma mau tidur." Selesai Jihoon mengucapkan kalimat tersebut, ponselnya berbunyi. Gadis itu mengerang frustasi. Dia lapar, dia lelah, dan dia hanya ingin tidur untuk melupakan kenyataan perutnya sedang keroncongan, namun kenapa selaaalu saja ada yang menghalangi niatnya itu. Dengan gusar Jihoon bangkit, mengulurkan tangan untuk mengambil ponsel yang diletakkan di nakas. Ada beberapa pesan dari username yang sama masuk di kotak chat-nya.
"Oh?" Jihoon nampak terkejut. "Daebak," desisnya kemudian.
"Chan-ah, coba lihat ini." Jihoon tengkurap di sebelah bayinya, memperlihatkan layar ponsel pada Chan yang memandang tak mengerti dengan mulut masih sibuk membasahi bola menggunakan air liur.
"Kelihatan enak 'kan?" tanya Jihoon memajang foto yang baru saja dikirim oleh Jisoo, yang menggambarkan berpanci-panci makanan dalam berbagai jenis. Sepertinya namja itu sedang mampir di warung. Sore tadi dia memang mengatakan akan pergi berbelanja dengan Mingyu dan sempat menawari Jihoon. Namun persediaan wanita tersebut masih banyak jadi dengan iseng dia bilang dia minta makanan saja. Tak tahunya Jisoo menanggapi serius hal itu dan benar-benar mampir di warung untuk membeli makanan.
Dalam hati Jihoon bersumpah tidak akan pernah lagi berkata iseng pada Jisoo.
"Kau mau makan apa?" Jihoon mendekatkan layar ponsel ke hadapan Chan yang menatap blank. Dengan tidak sadar bayi itu menyentuhkan tangan kecilnya ke permukaan smartphone dan Jihoon langsung berseru mengagetkan.
"Kau mau makan tteokbeokki? Oke, kita pesan tteokbeokki." Jihoon mengetik dengan cepat di kolom balasan.
"Apa lagi?" dia menoleh memandang Chan yang masih memberinya tatapan polos. "Pork? Chicken? Hanwoo? Burger?" tanya Jihoon.
Chan hanya mengedipkan mata.
"Semuanya? Sip! Chan ingin makan semuanya." Secara sepihak gadis itu memutuskan, mengetik apa saja makanan yang terlintas di kepalanya dan tanpa ragu langsung mengirimkan pesan balasan ke laman chat Jisoo. Begitu selesai, Jihoon mengembalikan ponsel ke nakas.
"Sekarang tinggal menunggu fast delivery service Hong&Kim sampai di sini membawakan makanan kita. Lalu Eomma bisa makan dan kau bisa minum susu," ujar Jihoon mengecup singkat pipi Chan.
"Nyehehehe-" bayi tersebut hanya terkekeh menanggapi.
-o-
Sebuah gelas kaca dengan bongkahan es batu raksasa memenuhinya, berada di tengah-tengah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh lampu pijar warna-warni dan suara keras dentuman bass musik hasil perpaduan tangan kreatif DJ yang memutar-mutar piringan hitam, disempurnakan oleh puluhan tubuh manusia yang menyatu dinamis di lantai dansa dengan beberapa dari mereka lebih memilih duduk di sofa menghabiskan waktu dengan bercengkerama seraya bergantian menghisap asap nikotin maupun berdiri di sepanjang dinding dingin diskotik menikmati kesendirian di dalam keramaian, sama halnya dengan Soonyoung. Duduk diam di depan meja bartender dengan gelas yang telah mengembun dan es yang mulai mencair, sepasang matanya masih memandang kosong ke titik yang tidak dapat ditentukan. Selama hampir setengah jam dia seperti itu, hingga sebuah kata yang keluar dari bibirnya cukup mengejutkan bartender yang sedang mengelap gelas kosong dan sedari tadi berada di dekatnya, namun sudah berhenti menyapanya karena Soonyoung sama sekali tidak menggubrisnya.
"Tequila," ujar Soonyoung sembari menyodorkan gelasnya yang sudah sedikit berisi air akibat es batu yang meleleh. Tanpa banyak bicara, bartender menuangkan minuman yang diminta namja itu. Soonyoung memandang warna keemasan alkohol di dalam gelasnya sejenak, menggoyangkannya hingga terdengar suara es batu berdenting mengenai kaca bening. Dia hampir mendekatkan tepi gelas itu ke bibirnya saat tiba-tiba sebuah tangan bercat kuku merah merebut minumannya dengan cepat. Soonyoung terkejut, menoleh dan hanya dapat diam melihat isi gelasnya tandas, menghilang di antara sepasang bibir berpoles merah.
"Heh, bartender!" wanita itu membentak pelayan yang baru saja memberi Soonyoung minuman. "Hapalkan wajah pria ini. Kalau dia ke sini lagi suatu hari nanti dan memesan alkohol, jangan kau berikan atau kau harus berakhir dengan menelpon ambulans," tunjuknya pada Soonyoung.
"I-iya, Nona—" jawab bartender gugup.
"Noona, tidak bisa minum alkohol bukan berarti aku tidak boleh meminumnya sama sekali." Soonyoung merengut.
"Diam kau!" sebuah telunjuk dengan kuku panjang berwarna merah tua mengarah di depan hidung Soonyoung. "Jangan memanggilku Noona di sini—"
"Apa yang kau katakan, Hyerin Noona—ARGH!" kalimat Soonyoung berakhir dengan cekikan dramatis di lehernya. Dengan panik pria itu memegang lengan kurus yang mencengkeram kuat jalan napasnya.
"Apa-yang-kau-bilang-barusan?" tanya wanita berambut panjang bergelombang di hadapan si namja sipit dengan nada mengintimidasi.
"Rrr-ra-rai-Raina-ssi..." jawab Soonyoung nyaris mati dan segera setelah itu lehernya dilepaskan. Pria tersebut terbatuk hebat.
"Kau itu susah sekali kalau harus memanggil gadis cantik dengan benar. Aku masih muda, aku belum Noona-Noona." Raina mengibaskan rambut panjangnya lantas menyilangkan kaki yang hanya ditutupi miniskirt dengan gaya elegan, sementara di sebelahnya Soonyoung diam-diam menjatuhkan lirikan sadis.
Muda apanya, kau hanya tante-tante yang selalu mengingkari kenyataan, batinnya penuh tulah dengan masih merasakan sakit di tenggorokan.
"Ngomong-ngomong, apa yang dilakukan Pangeran Konglomerat Kwon di tempat seperti ini?" tanya Raina, tangannya menyodorkan gelas Soonyoung ke depan bartender. "Whiski."
"Salah ya? Seingatku ini tempat umum, siapapun bisa ada di sini," elak Soonyoung.
Raina menyeringai. "Ini mungkin memang diskotik yang bagus, tapi ini bukan tempat yang mewah atau elit selevel dengan title-mu. Aku cuma heran kenapa kau bisa muncul di sini seperti penampakan. Kau sendirian?"
"Ada Wonwoo." Soonyoung mengarahkan jempolnya pada sosok tinggi di kegelapan yang sedang berdiri bersandar di dinding dengan beberapa wanita berbaju terbuka mengelilinginya. Mereka nampak akrab mengobrol, tertawa, bahkan beberapa dari wanita tersebut tidak segan-segan menjatuhkan diri di pelukan Wonwoo.
"Aigooo bocah es satu itu. Meski dia pemalu tapi kalau mukanya masih tampan tetap saja akan banyak jalang yang menggodanya." Raina melengos.
"Tidak masalah. Dia menikmatinya." Soonyoung nyengir.
"Back to topic, apa yang kau lakukan di sini, Pangeran?" Raina kembali menyodorkan gelas kosong ke bartender.
"Apa yang aku lakukan?" alis si sipit mengerut. "Tentu saja mencari hiburan."
"Kh-" sebuah decihan menjawabnya sebentar, Raina meneguk habis minuman di dalam gelas baru kemudian bicara. "Kau pikir aku akan percaya begitu saja?" tudingnya.
Soonyoung tersenyum. "Tidak," ujarnya singkat.
"Nah!"
"Mungkin ini yang disebut dengan 'melarikan diri'." Pandangan namja itu kembali menerawang.
"Soal pesta kemarin ya?" kenang Raina, diletakkannya gelas ke meja. "Itu bukan salahmu sih menurutku. Dia datang tiba-tiba, wajar saja kalau kau kaget—" kalimatnya berjeda.
"—dia sama sekali tidak berubah, Lee Jihoon itu. Sekali melihatnya aku langsung tahu itu dia."
Sebentuk senyuman getir muncul di bibir Soonyoung.
"Wae? Ada apa?" tegur Raina merasa heran oleh senyuman rekannya.
"Tidak." Namja bermata sipit tersebut menggeleng. "Entah kenapa aku merasa senang karena kalian masih mengingat Jihoon dengan baik. Wonwoo juga mengatakan hal yang sama."
"Siapa yang bisa melupakannya? Kesan yang dia tinggalkan terlalu dalam. Dia 'kan satu-satunya wanita yang berani menindasmu meski tahu kau anak konglomerat. Dia bahkan yang memerintahmu melakukan ini-itu seolah kau adalah babu dan bahkan tidak segan-segan memukulmu," kisah Raina. "Suaranya waktu menyanyi juga sangat bagus. Aku sempat tidak percaya waktu tahu kalau ayahmu bahkan tidak mengenalnya."
Soonyoung kembali tersenyum, kali ini lebih lembut seolah dia sedang mengingat hal-hal menyenangkan di dalam pikirannya.
"Aku sebenarnya ingin menyapanya malam itu, tapi aku tidak mau menyusahkannya. Orang biasa seperti dia, kalau terlalu dekat dengan kita yang ada malah dijadikan kambing hitam," desis Raina.
"Memang," balas Soonyoung. "Jadi jangan heran kalau Appa bahkan tidak tahu soal dia."
"Kau terlalu melindunginya, Bocah." Raina tersenyum, menoyor pelan pelipis namja di sampingnya. "Apa kau begitu menyukainya?"
"Eum." Tanpa ragu Soonyoung mengiyakan.
"Apa kau juga akan mengatakan ini di depan ayahmu?" goda wanita lebih tua di sebelah Soonyoung yang kemudian mendapat cengiran lebar sebagai jawaban.
"Mana mungkin. Aku berani mengatakannya karena kau Raina."
"Pengecut. Nyalimu kecil," tandas wanita bertubuh langsing itu membuat rekannya lemas seketika, dengan santai dia kembali menyodorkan gelas ke bartender.
"Karena rasanya, apapun yang aku lakukan hanya akan menyakiti Jihoon—"
"Kau belum mencoba," potong Raina. "Kalau kau kemari untuk meminta saranku, pertama-tama kau harus menemui Jihoon. Bicarakan apa yang harus dibicarakan. Memang kalian sudah berpisah baik-baik, tapi kemunculannya kemarin membuktikan meski sudah putus masih ada masalah yang belum selesai. Anak yang bersamanya. Anakmu?"
Soonyoung terdiam.
"Kapan terakhir kali kau tidur dengannya? Kalau aku lihat sekilas, umur bayi itu masih sekitar lima sampai tujuh bulan."
"Dokter spesialis anak memang hebat. Tapi siapa yang menyangka, seorang dokter adalah pemilik dari sebuah diskotik." Soonyoung terkekeh yang kembali mendapat toyoran dari wanita di sampingnya.
"Berisik! Jangan mengomentari bisnis orang lain!" salak Raina.
"Bayi itu..." desisan Soonyoung membuat yeoja di sebelahnya terdiam. "Anakku atau bukan, apa itu akan berpengaruh?"
Hening sejenak.
"Kalau memang anak Jihoon adalah anakku, apa ada pengaruhnya? Eomma pasti akan langsung menyuruhku untuk menikah dengan Eunha. Kalau Eunha hamil, posisi anak Jihoon sudah tidak ada apa-apanya, malah kemungkinan mereka akan dipaksa untuk menyembunyikan diri. Kalau anak itu bukan anakku dan aku mengatakan Jihoon hanyalah mantan pacar yang tidak sengaja mengenaliku di pesta, apa itu juga tidak menutup kemungkinan mereka malah curiga lalu menuduhku menyembunyikan sesuatu? Seandainya mereka mau mengerti pun, di masa depan masalah ini pasti akan terus diungkit-ungkit."
"Itu resiko," ujar Raina, menggoyangkan gelas di tangannya hingga bongkahan es yang tinggal separuh terdengar berdenting menabrak tepi kaca bening. "Kalau kau tidak ingin mereka mengungkitnya, maka kau harus menghapus ingatan mereka. Kau tidak bisa menghindari itu, tidak pernah ada masalah yang benar-benar beres terutama masalah hidup."
Mereka saling diam.
"Kalau aku jadi kau—" Raina menerawangkan mata. "Aku akan menemui Jihoon, bertanya padanya kenapa dia datang ke pesta, apa yang dia inginkan, dan siapa bayi itu. Jika memang itu anakku, aku akan minta pendapatnya apa yang harus dilakukan. Tetap membiarkan bayi tersebut bersamanya, atau melaporkan hal ini pada Paman Kwon. Selanjutnya, aku akan membahas semua penjelasan Jihoon dengan anggota keluargamu, mengatakan keinginannya dan keputusan kami. Baru kemudian pergi ke tempat Eunha. Prosesnya sudah pasti akan alot, tapi setidaknya semua orang menerima penjelasan dan tahu letak titik permasalahan. Posisimu, posisi Jihoon, dan hubunganmu dengan Eunha, semuanya akan jelas."
Hening kembali.
"Tapi kau membuat segala sesuatunya rumit dengan pikiran 'apa yang akan dipikirkan orang lain tentang aku? Bagaimana caraku membuat mereka tidak berprasangka buruk padaku?' padahal kalau sudah mantap dengan semua penjelasan Jihoon dan kesepakatan di keluargamu maupun Eunha, kau tidak perlu mencemaskan hal-hal seperti itu. Gosip akan hilang dengan sendirinya. Atau mungkin—" Raina memandang Soonyoung. "Sebaliknya?"
Soonyoung balas menatap kakak sepupunya dengan mata berkilat heran.
"Bukan reputasimu yang kau khawatirkan melainkan ... Jihoon?" wanita tersebut mendesis, cukup untuk memunculkan ekspresi kaget di wajah Soonyoung. "Kau tidak ingin orang-orang mengecap dia sebagai perusak hubunganmu dengan Eunha. Kau tidak ingin dia disalahkan makanya kau terus memutar otak untuk menyelesaikan masalah ini tanpa harus mengorbankannya? Padahal kau sendiri tahu sejak awal posisi Jihoon sudah sangat tidak menguntungkan di sini."
Soonyoung membeku.
"Kau..." Raina mendesis. "...masih mencintainya?"
A/N:
LUPA SOAL RAINA DX DX DX
Kan kemarin ada tuh berita Hoshi digosipin sama Raina, ih tau gitu Myka pake Raina aja jadi tunangan Hoshi kan pas biar nyeseknya lebih jlebjleb -,-
Sekali lagi makasiiihhh banget buat review di part 1-nya, benaran Myka kaget, kirain bakal di-bash eh malah-
Kalian da best, mumumumumu~ T3T)/
