WARNING GS!
DON'T LIKE GENDER SWITCH, DON'T READ!

Jihoon yang tidak bisa berhenti memikirkan Soonyoung. Soonyoung yang memutar lagi kenangan-kenangan lama mereka.
"...ada hal lain yang aku sadari lebih penting."
"No dancing."

#soonhoon #seventeen #gs #t

Say Yes
3

Pertama kali Jihoon bertemu dengan Soonyoung, bukan di momen yang romantis.

"Namaku Kwon-Soon-Young! Mahasiswa ekonomi bisnis tahun kedua. Tidak ikut klub apapun kecuali bank kredit yang menjadi organisasi wajib bagi orang ekonomi. Aku sangat ingin bisa bergabung di klub musik jadi mohon kerja samanya~" Soonyoung menundukkan badan begitu selesai dengan kalimat perkenalan dirinya.

"Kau sudah tahun kedua? Kenapa baru masuk sekarang?" tanya Jihoon yang duduk di belakang meja menghadap Soonyoung yang berdiri agak jauh di tengah-tengah panggung kecil yang sengaja disediakan untuk audisi perekrutan anggota baru klub musik.

"Itu karena tahun kemarin aku tidak lolos audisi, jadi... hehehe..." Soonyoung menggaruk belakang kepalanya dengan malu-malu.

"Ah, aku ingat dirimu." Gadis yang duduk di sebelah Jihoon angkat bicara membuat temannya menoleh. "Ketua langsung menendangmu keluar begitu kau baru mulai, 'kan?"

"Kenapa? Apa dia membuat masalah?" tanya Jihoon heran.

"A-ti-tidak, aku sama sekali tidak membuat masalah—" Soonyoung mencoba menjelaskan lebih dulu.

"Dia diminta menunjukkan keahlian musiknya tapi malah nge-dance," jawab rekan sesama juri Jihoon dengan santai, membuat gadis mungil itu ber-oh pendek dan kepala Soonyoung menunduk dalam.

"Apa dia yang membuat peraturan tahun ini punya tambahan 'NO DANCING' di brosurnya?" tebak Jihoon.

"Eoh." Diiyakan oleh kakak kelas sekaligus senior di klub musik. "Kami mungkin memang klub musik, tapi sayangnya kami hanya fokus pada band dan akustik. Jadi kalau kau mau menari lagi, lebih baik keluar saja."

"Ti-tidak, aku tidak akan menari. Sekarang aku sudah ada peningkatan, aku sudah bisa bernyanyi!" ucap Soonyoung langsung.

"Bernyanyi karena bakat itu yang paling bagus, tapi bukan berarti kemampuan bernyanyi tidak dapat diasah." Jihoon mencoba menengahi, melepaskan helaan napas lega namja di depannya. "Baiklah, mari kita dengarkan suaramu."

Soonyoung diam sejenak, nampak sedikit gugup, tapi kemudian dia tersenyum.

"Honjayeossdeon neoreul saranghan manheun saram jung, naega neol gajge dwaeseo haengbokhaesseo. Aemaehan du sarang anin han sarangi doego, ijen da naekkeorago mideossneunde..." Soonyoung melantunkan lagu yang dia persiapkan, dari awal hingga akhir. Mencoba melakukan yang terbaik dan dia puas ketika dia selesai bernyanyi tak ada wajah seram maupun kursi yang terangkat, tidak seperti tahun lalu waktu dia usai menari.

"Aku suka caramu mengakali lagu ini." Jihoon yang lebih dulu memulai komentar. "Kau menyesuaikan lirik yang seharusnya dinyanyikan tiga orang menjadi satu orang. Kau juga sadar batasan pitch suaramu dan mengambil lagu yang tidak banyak punya nada tinggi. Aku suka."

"Entah kenapa aku merasa penjiwaanmu pada lagu ini sangat bagus. Apa kau sedang jatuh cinta? Atau mungkin kau menyanyikannya untuk salah satu dari kami?" goda seorang juri yang merupakan kakak kelas membuat Soonyoung ber-hehehe hingga kedua matanya terlipat menjadi dua garis tipis, diam-diam dia menatap Jihoon yang sedang terkikik menanggapi gurauan barusan.

"Warna suaramu unik. Bagus untuk menyanyi ataupun mengerap dan sepertinya kau tahu itu," sambung rekan juri Jihoon dibalas 'Ne' malu-malu oleh pemuda yang masih berdiri di panggung. "Kau mencoba menonjolkannya di bagian sebelum chorus dan menurutku itu sangat bagus. Terlebih kau menggunakan falseto untuk memodifikasi chorus-nya, itu poin plus lagi."

"Intinya adalah kau memilih lagu yang tepat." Anggota juri lain menyimpulkan, menuai tawa kecil teman-temannya yang mengangguk mengiyakan. Tak terkecuali Soonyoung yang tidak bisa berhenti cengar-cengir.

"Sepertinya kau belajar banyak dari kegagalanmu tahun lalu." Juri melanjutkan dengan gurauan.

"Ne, aku sangat ingin masuk ke klub musik jadi aku benar-benar berlatih keras," ujar Soonyoung.

"Bagi seorang penyanyi sangat penting bisa menyanyikan semua lagu, tapi lebih penting untuk tahu batasannya dalam membawakan sebuah lagu. Kau tidak hanya tahu batasanmu tapi juga punya kreatifitas mengotak-atik lagu hingga sesuai dengan style-mu. Good job!" Jihoon mengakhiri dengan memberikan thumbs up diiringi tepukan tangan ketiga rekan juri yang lain. Kali ini Soonyoung tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya. Wajahnya memerah dan dia hanya bisa menunduk sambil tersenyum serta menggumamkan terima kasih.

"Lalu? Instrumen musiknya?"

"Ne?" mata kecil Soonyoung melebar.

"Kau tidak membaca persyaratan di brosur audisi? Selain menyanyi kau harus setidaknya menguasai satu alat musik."

"Ah, itu—" sekejab panik menguasai pandangan Soonyoung. "A-aku sedang belajar main gitar—ah, tidak! Aku sudah menguasai chord dasar gitar dan aku akan terus belajar. Aku pasti akan bisa memainkannya!" dia mencoba meyakinkan.

Jihoon mengangguk-angguk. "Yang lainnya?"

"Eh?"

"Kalau kau masih punya talenta untuk ditunjukkan, silakan. Kami akan menggunakannya sebagai bahan pertimbangan karena kau tidak memainkan instrumen apapun. Setidaknya kau sudah lolos di bagian suara."

"Ituuu..." Soonyoung menggigit bibir bawahnya dengan gugup, sebisa mungkin memutar otak mengorek informasi diri tentang kemampuan bermusiknya.

"Sejak kecil aku tertarik dengan street dance dan dunia idol. Aku belajar banyak dari mereka—" tutur namja bermata sipit.

"No dancing," sahut Jihoon yang langsung disambar oleh Soonyoung.

"Tidak, aku tidak akan menari." Pemuda itu mengibaskan tangan. "Sebaliknya, ada hal lain yang aku sadari lebih penting."

Gadis mungil nampak menunggu.

"Itu..." Soonyoung memberi jeda. "...aegyo? Bbuing bbuing~" dia menggoyangkan kedua kepalan tangan di sebelah pipi.

Jihoon terdiam.

Juri terdiam.

Cicak terdiam.

Dunia terdiam.

"..."

"KELUAAAAARRR!"

"WAAA, JIHOOONN! TURUNKAN KURSINYA, TURUNKAAANNN!"

BRAK! BRUK! BRAK!

-o-

Tok tok tok, terdengar suara ketukan di pintu.

"Ne, sebentar," sahut seorang namja tinggi sambil berlari kecil ke beranda. Dia meraih knop dan memutarnya, menarik daun pintu untuk terbuka...

"Chaaan~" seru Mingyu lantang sembari membuka kedua tangan lebar-lebar serupa senyumannya yang sudah mengembang membelah wajah menjadi dua bagian. Tanpa menghabiskan waktu lagi segera saja dia meraih ketiak bayi yang hanya berkedip polos dengan mulut menghisap dot di pelukan Jihoon.

"Cepat sekali kalian pulang," ujar Jihoon melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah kontrakan Mingyu dengan Jisoo begitu Chan sudah berpindah ke gendongan tetangganya, ditimang-timang oleh lelaki tersebut mengiringi lagu nang-ning-nung andalannya.

"Thanks to God, supermarket tidak antri dan jalanan tidak macet. Kami bahkan masih sempat mengisi bensin," jawab Jisoo seraya melanjutkan kesibukan mengeluarkan bungkusan makanan dari tumpukan kantung plastik di lantai.

"Bagus sekali, aku juga sudah kelaparan. Kalau kau tidak menge-chat, aku pasti sudah tidur." Jihoon duduk bersila di dekat meja yang sudah berubah menjadi gunung makanan.

"Memangnya bahan makananmu habis?" Jisoo menghentikan sejenak gerakan tangannya, di dekat mereka berdiri Mingyu yang masih asyik bermain dengan Chan.

"Masih. Aku malas memasak," jawab si gadis mungil, nampak sudah tenggelam mengamati barang-barang yang dibeli tetangganya.

"Kalau kau malas memasak, kau bisa membuat ramen. Kau itu ibu menyusui, kalau kau tidak makan anakmu juga tidak bisa maka—" kalimat Jisoo terhenti, sekejab kedua matanya melebar. "Jangan bilang padaku Chan belum makan sejak tadi?" tunjuknya.

"Aku sudah memberinya biskuit," kata Jihoon.

"ASI?"

Jihoon memutar mata.

"Susu formula?"

Gadis berambut lurus itu menggaruk kepala.

"Kau sama sekali belum memberinya susu!?" nada suara Jisoo meninggi. "Yah, Lee Jihoon—"

"Aku sudah memberinya minum. Aku sudah memberinya air putih dan dia sama sekali tidak menangis." Jihoon memotong kuliah kedokteran Jisoo.

"Air putih berbeda dengan susu," tegas sang dokter. "Chan tidak hanya butuh minum, dia butuh kandungan protein yang ada di air susu. Dia masih balita, dia sangat memerlukannya untuk perkembangan—"

"Aku tahu, aku tahu, aku tahu." Jihoon kembali menyela, kedua tangannya terangkat. "Aku minta maaf. Lain kali aku tidak akan telat makan dan memberinya susu."

Jisoo mendengus. Mingyu yang melihat memilih untuk tutup mulut tanpa berhenti menimang Chan yang sedang menarik-narik kancing bajunya.

"Wow, kalian jadi beli hamburger?" tanya Jihoon, tangan kecilnya mengambil sebuah bungkusan bulat dari tumpukan makanan yang berserakan di atas meja.

"Bukannya kau yang minta?" ketus Jisoo, kesal masih terdengar jelas di nada suaranya.

"Aku cuma bercanda. Aku pikir kalian tidak akan mungkin mengantri dan membelinya."

"Noona, apa kau pikir Hyung orang yang tahu arti kata 'bercanda'? meski aku sudah bilang kau tidak serius mengatakannya, dia tetap akan pergi membelinya," celetuk Mingyu.

"Kau orang yang mengerikan, Hong Jisoo," sahut Jihoon.

"Mmaaa~" mendadak Chan memanggil.

"Eum, sebentar. Eomma makan dulu, kau mainlah dengan Paman Mingyu." Ibunya menyahut santai, membuka kertas minyak yang membungkus burger lantas segera menggigit roti berlapis tomat, potongan bawang, serta daging tersebut.

"Mmaa!" Chan mulai memekik, menggeliat, dot terlepas dari mulutnya, dan dia menendang-nendangkan kaki membuat Mingyu kewalahan. Di detik selanjutnya pecahlah tangisan bayi tersebut.

"Yah Kim Mingyu, lakukan sesuatu dengannya. Aku sedang makan," ujar Jihoon melanjutkan memasukkan burger ke dalam mulut sambil sebelah tangannya berkelana mencari santapan lain.

"Noona~ bagaimana bisa kau tetap makan sedangkan anakmu menangis?" tanya Mingyu tak habis pikir, ditimangnya tubuh Chan naik turun seraya lengannya memeluk bayi itu dengan lebih kuat sebab dia tidak mau berhenti melepaskan diri darinya. Chan terus menangis dengan dua tangan gemuk terjulur ke arah Jihoon, meminta untuk bersama ibunya.

"Noona~" Mingyu berdecak ketika dilihatnya si ibu muda malah membuka bungkusan tteokbeokki.

"Tunggu sebentar, biarkan aku menghabiskan ini dulu. Satu tteokbeokki ini dulu." Jihoon meminta perpanjangan waktu, mempercepat gerakan mulutnya mengunyah burger yang sekarang sudah bercampur dengan potongan merah tteokbeokki. "Wah, pedas," pujinya nikmat.

"Aish, dasar." Mingyu mendesis gusar lantas beranjak ke dapur.

"Ck, kau parah, Lee Jihoon," gumam Jisoo meletakkan makanan terakhir ke meja dan berdiri membereskan plastik kosong yang berceceran.

"Hehehe~" Jihoon hanya terkekeh. "Kalau bukan kalian yang mengurusnya aku juga tidak akan begini. Aku percaya Mingyu pasti bisa mengatasinya."

Tak lama kemudian, suara tangisan bayi berhenti.

Sebelah alis Jihoon naik, "Lihat 'kan?" ujarnya yang kembali menuai dengusan Jisoo. Namja itu beranjak, membawa kantung plastik untuk disimpan di dapur diiringi oleh cekikikan tetangganya.

Jisoo masuk ke dapur berpapasan dengan Mingyu yang menggendong keluar Chan yang tangannya nampak memegang sesuatu dan dimasukkan ke dalam mulut.

"Apa itu?" tanya Jihoon menunjuk benda yang tengah diemuti bayinya dengan ujung sumpit.

"Apel," jawab Mingyu singkat, mendudukkan diri di dekat meja berhadapan dengan Jihoon, membuat Chan duduk bersandar di pangkuannya.

"Dia pasti benar-benar lapar sampai apel saja bisa membuatnya diam," celetuk Jisoo yang kemudian ikut bersila di dekat Mingyu, tangannya terjulur mencari makanan. Di sisi lain, Jihoon yang merasa kena sindiran cuma dapat menunduk seraya memasukkan potongan tteokbeokkie ke dalam mulut.

"Tapi Chan benar-benar hebat. Padahal apel ini baru keluar dari kulkas dan dia langsung menggigitnya. Apa giginya tidak linu?" Mingyu menatap penuh kagum pada bayi di pangkuannya yang masih asyik mengemuti potongan apel seolah itu adalah dotnya.

"Noona, apa tidak apa-apa aku memberinya makanan dingin? Bagaimana kalau nanti dia pilek?" namja tinggi berkulit tan beralih pada Jihoon yang sedang berusaha membuka kotak berisi ayam goreng, berhenti sejenak untuk meraih cup berisi nasi putih.

"Tidak apa-apa. Dia sudah biasa makan dingin sejak dulu. Bahkan gara-gara dia aku jadi pecandu es krim waktu hamil," jawab Jihoon cuek.

"Benarkah?" Mingyu nampak terkejut. "Bukannya kau bilang kau tidak suka makanan manis dan dingin?"

Jihoon lebih dulu mencecap ujung sumpitnya yang terkena saus ayam goreng sebelum bicara. "Aku juga tidak mengerti, dokter yang merawatku bilang itu namanya bawaan bayi. Aku lupa pastinya mulai kapan, tapi perutku sudah besar waktu aku ingin makan es krim. Awalnya aku pikir itu cuma keinginan sesaat seperti mengidam, namun di hari-hari seterusnya aku tidak bisa lepas dari es krim. Bahkan aku pernah sehari menghabiskan delapan es krim."

"Wow~" Mingyu membelalakkan mata. "Aku pasti sudah sakit kepala kalau makan delapan es krim dalam sehari."

"Makanya, tidak masuk akal 'kan?" Jihoon tertawa. "Dan aku baik-baik saja. Sama sekali tidak sakit apalagi pilek."

"Hyung, apa hal yang seperti itu benar-benar ada? Makan delapan es krim sendirian dan tidak sakit?" tanya Mingyu pada Jisoo yang mengunyah kimbap.

"Ada banyak hal yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah di dunia kedokteran. Bawaan bayi salah satunya. Kasus yang terjadi pada setiap orang berbeda-beda dan sebagian memang tidak masuk akal," jelas Jisoo. "Tapi, Jihoon-ah. Terlalu banyak makan es krim juga tidak baik untuk janin dan kesehatanmu. Apa doktermu tidak memberitahu itu?"

Jihoon mengangguk. "Dia memberitahuku, makanya setelah beberapa hari aku mencoba menahan diri untuk tidak selalu makan es krim. Lama-lama aku bisa lepas dari kecanduan es krim dan setelah melahirkan aku tidak lagi suka makanan dingin dan manis."

"Berarti benar-benar karena pengaruh bayi ya?" Mingyu membulatkan mulut. "Eh tapi, ada kemungkinan itu kebiasaan dari salah satu orang tuanya juga 'kan, Hyung?"

Jisoo mengangguk.

"Ayah Chan tidak suka es krim," tutur Jihoon sebelum ditanya.

"Eehh?"

"Kalau aku memang dasarnya tidak suka makanan dingin dan manis, ayah Chan tidak kuat dengan makanan dingin. Giginya pasti akan linu dan kepalanya sakit. Tidak ada di antara kami yang bisa makan es krim."

"Wah, baru pertama kali aku melihat sendiri ada keajaiban seperti ini," desis Mingyu takjub.

"Akan lebih ajaib lagi kalau kau melihat bayi manusia sebesar itu bisa keluar dari—"

"Hong Jisoo," potong Jihoon. "Kita sedang makan."

"Ne," jawab Jisoo menahan tawa.

"Dari mana, Hyung?" bisik Mingyu cekikikan di sebelah teman serumahnya menuai delikan tajam dari satu-satunya wanita di ruangan tersebut.

"Kim Mingyu!"

"Hahaha!" Jisoo dan Mingyu tertawa kompak.

-o-

Soonyoung memijat bahunya dengan lelah begitu melangkahkan kaki memasuki rumah, menggerakkan kepala ke kanan dan ke kiri untuk sekedar mengurangi penat, lalu sejenak bergeming ketika sorot matanya menemukan sosok yang tak asing tengah berjalan menuruni anak tangga. Namja sipit tersebut tetap berdiri di tempatnya berada hingga Eunha berhenti di hadapannya.

"Bibi memintaku ke sini, dia bilang kepalanya sakit," ujar si gadis tanpa ditanya.

Soonyoung memperhatikan tas besar yang dibawa Eunha, memang tidak mirip dengan tas yang biasa dia pegang jika pergi bermain maupun bersantai.

"Oppa dari mana? Bukankah jam kantor sudah selesai sore tadi?" imbuh gadis mungil tersebut membuat tunangannya otomatis melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam.

"Aku pergi ke klub Hyerin Noona dengan Wonwoo." Namja yang lebih tua tidak berdusta, toh tak ada gunanya juga berbohong karena Eunha sudah pasti tidak akan membahasnya lebih jauh. Dia selalu percaya dengan apa yang dikatakan Soonyoung.

"Oppa beberapa hari tidak menghubungiku, aku pikir kau sakit. Syukurlah kalau kau baik-baik saja dan malah sempat pergi ke klub." Eunha tersenyum.

"Maaf, aku sangat sibuk," desis Soonyoung. Wanita di depannya mengangguk.

"Kapan kira-kira Oppa tidak sibuk?"

"Kenapa?"

"Ada film horor yang ingin aku tonton, tapi aku tidak berani menontonnya sendiri."

"Kau mau mengejekku? Kau tahu aku tidak tahan dengan horor." Soonyoung merengut. "Tapi kalau kau sangat ingin menontonnya, boleh saja. Traktir aku makan."

Eunha terdiam seketika. "Pelit," cetusnya kemudian.

"Kau yang mengajak duluan, tentu saja kau yang harus mentraktir," tegas tunangannya.

"Pelit," ulang Eunha membuat namja di depannya terkekeh.

"Aku tidak bisa mengantarmu pulang. Hati-hati di jalan," ujar Soonyoung lalu beranjak.

"PELIT!" seru Eunha kembali menuai tawa dari arah tangga.

"Ngomong-ngomong—" pria yang lebih tua menghentikan langkah kakinya dan berbalik. "Rambutmu bagus. Aku suka, kau terlihat manis." Dia menunjuk rambut hitam Eunha yang memang sudah dipotong lebih pendek dari terakhir kali mereka bertemu.

Sekejab senyuman lebar merekah di wajah gadis itu, membuat Soonyoung ikut menarik bibir ke samping.

.

Bruk, lenguhan panjang keluar dari mulut Soonyoung begitu punggungnya ambruk memeluk kasur dengan segala kelembutan, kehangatan, serta rasa nyamannya. Untuk sesaat letih yang dia rasakan akibat bekerja seharian seolah menguap habis di awang-awang. Soonyoung memejamkan mata, berharap untuk jatuh tertidur sehingga dia tidak perlu ingat mandi dan mengganti baju. Tubuhnya terlalu lelah untuk bangkit lagi dan melakukan hal-hal tidak perlu, seletih jiwanya yang tak ingin melepaskan diri dari mimpi penuh kemanjaan untuk menghadapi kenyataan. Namun hati tak pernah pandai membohongi diri, terbukti dari terbukanya kembali kelopak mata Soonyoung, menatap langit-langit kamar dalam gamang.

"Kau... masih mencintainya?"

Sorot manik Soonyoung meredup.

"Dia bukan anakmu. Demi Tuhan, aku tidak melahirkan anakmu. Dia anak orang lain."

Soonyoung mengulapkan telapak tangan ke wajah. Kepalanya mendadak terasa sakit dan dia menyalahkan alkohol untuk itu—walau sebenarnya dia sama sekali tidak minum alkohol barang seteguk pun, yang menghabiskan seluruh botol minumnya adalah Raina.

Namja tersebut bangkit, duduk bergeming di tepi kasur selama beberapa saat baru kemudian berdiri dan beranjak mendekati almari pakaian. Soonyoung merogohkan tangan masuk ke salah satu tumpukan bajunya, semakin dalam dia memaksa lengannya untuk terjulur jauh hingga ujung jarinya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin. Namja itu mencoba memegang benda tersebut lalu menariknya keluar.

Sebuah kotak pipih seukuran dompet tanggung wanita, terbuat dari logam berwarna metalik yang memiliki password kombinasi angka di tuas pembukanya. Sambil merebahkan pantat di ranjang, Soonyoung memutar roda kunci pada empat angka yang sudah dia hapal di luar kepala hingga terdengar bunyi klik ciri khas gembok yang terlepas. Perlahan pria itu membuka penutup kotak.

Hal pertama yang dia lihat adalah seulas senyum lebar yang membuat sepasang mata kecil terlipat cantik menjadi dua garis tipis di seraut wajah mungil dengan rambut hitam tergerai lurus menutupi bahunya. Tanpa sadar Soonyoung ikut tersenyum. Pelan, ujung jarinya menyentuh lekuk pipi Jihoon, bergerak ke lengkungan bibir tipisnya dan lelaki tersebut masih tersenyum seolah dia baru saja terkena mantera sihir.

Soonyoung menggeser foto Jihoon hanya untuk menemukan foto-foto lain yang serupa. Beberapa merupakan hasil bidikan kamera polaroid dan sisanya adalah cetakan komputer. Soonyoung tahu semua itu sebab dia sendirilah yang sudah mengambil foto-foto tersebut, dulu ketika masih bersama Jihoon di bangku kuliah mereka.

Soonyoung menyingkirkan semua lembaran gambar hingga terlihat sebuah layar hitam legam tergeletak di bagian paling bawah kotak. Diambilnya ponsel tersebut dengan hati-hati. Dia menekan tombol power dan menghela napas lega saat benda yang sudah hampir satu tahun tidak dia sentuh itu masih mau menyalakan diri. Soonyoung meletakkan kotak fotonya di atas tempat tidur. Sembari menunggu booting ponselnya selesai namja tersebut menelusuri stiker yang menghiasi badan gadget-nya, terutama sebuah tempelan inisial nama cukup besar di bagian punggung yang terbaca SJ. Soonyoung tersenyum mengingat bagaimana dulu Jihoon mengamuknya habis-habisan karena stiker buatan tangan tersebut. Dia kesal sebab Soonyoung suka berlebihan menanggapi hubungan mereka sampai membuat inisial seperti itu meski sejatinya lelaki bermata sipit lebih tahu jika gadis tersebut hanya merasa malu.

Layar yang selesai booting berkedip, menampilkan wallpaper yang segera tertutupi oleh kotak password. Soonyoung mengetikkan tanggal dan bulan lahir Jihoon, kombinasi angka yang sama yang dia gunakan pada kotak fotonya. Laman password menghilang berganti dengan wallpaper cerah gambar salah satu selcanya bersama Jihoon, lengan memeluk leher gadis itu dengan kedua pipi mereka bersentuhan, Jihoon yang memegang kamera dan Soonyoung memamerkan V sign, berdua mereka sama-sama tersenyum menghilangkan mata masing-masing. Sekejab rasa sesak memenuhi dada Soonyoung. Tangan namja itu bergetar, melihat senyuman Jihoon entah kenapa membuat kedua matanya memanas. Ada rasa sedih, cemas, panik, dan seperti dihimpit oleh sesuatu yang besar yang menjadikannya kesulitan bernapas.

Soonyoung merosot turun dari tempat tidur. Terduduk di lantai dengan tangan masih menggenggam ponsel lamanya. Kedua lutut pemuda itu terlipat, menyembunyikan kepalanya yang sudah menunduk dalam dan bergetar.

Maafkan aku, Jihoon-ah... maafkan aku...

-o-

"Maafkan aku, Lee Jihoon..."

Jihoon tersentak, pandangannya gamang menatap deretan buku komik yang tertata rapi di rak bersebelahan dengan ensiklopedia kedokteran setebal ratusan halaman. Untuk beberapa saat wanita itu masih terdiam, baru setelahnya dia menghela napas panjang sambil memejamkan mata menenangkan diri. Jihoon menunduk, memandang Chan yang mulai tertidur di pelukannya dengan mulut masih bergerak menghisap puting susunya. Perlahan dia mengusap kepala bayi tersebut, menyingkirkan poni hitam yang memanjang menutupi keningnya, mengganggu tidur si kecil dan membuat buah hatinya menggeliat pelan. Setelah membuang napas Chan kembali tenang, menggenggam kuat baju ibunya, menghisap air susu lebih keras dengan mata tetap terpejam.

Jihoon yang ganti menghela napas. Padahal dia cuma bengong sebentar namun jiwanya sudah terjungkal ke hari-hari yang telah berlalu. Pikiran yang mendadak kosong membuat celah seolah mengundang berbondong-bondong ingatan masa lalu untuk datang menerjangnya, saat pertama kali dia bertemu Soonyoung di audisi klub musik kampus, saat dimana dia masih merasa kesal setengah mati dengan cengiran bodoh namja itu, saat Soonyoung menipunya untuk pergi berkencan, saat mereka jadian, saat pertama kali mereka menghabiskan malam bersama, saat Soonyoung meninggalkannya, dan yang terakhir ketika dia bersujud di kaki Jihoon meminta maaf sambil menangis. Mata Jihoon meredup, hanya satu orang yang dia pikirkan tapi seribu ingatan muncul mengiringi. Sungguh ajaib.

"Jihoon-ah." Suara Jisoo dari ruang tengah mengoyak kesadaran Jihoon yang semakin dalam terbawa aliran perasaannya.

"Ne?" jawab si gadis, memandang Chan yang sudah tidur pulas kekenyangan dan perlahan melepaskan puting susu dari mulutnya.

"Besok kau ada acara? Aku mau pergi menonton film dengan Mingyu, mau ikut?" seru Jisoo, dia menoleh manakala mendengar suara langkah kaki mendekat ke ruang tengah. Sosok mungil Jihoon muncul dengan Chan di pelukannya, setiap kali sedang berada di rumah Jisoo dia memang selalu menyusui bayinya di perpustakaan kedua pria itu—disebut perpustakaan karena memang ruangan kecil tersebut hanya berisi buku kedokteran Jisoo dan koleksi komik milik Mingyu.

"Aku mau ke rumah sakit, besok jadwal pemeriksaan bulanan Chan." Jihoon meletakkan bayinya perlahan di atas selimut yang dibentangkan di lantai, di sebelah Mingyu yang sedang tiduran sambil nonton TV.

"Uluh uluh uluh kau sudah tidur? Hm? Ssangnamja jam segini sudah tidur?—muah. Kyeowo—muah~" sambut Mingyu sambil menjatuhkan beberapa ciuman gemas yang langsung menuai pukulan Jihoon di kepalanya.

"Kalau sampai dia bangun, 'ku tendang kau," ancam sang ibu dengan mata mendelik tajam. Mingyu nyengir hingga gingsul giginya kelihatan, segera namja itu memeluk tubuh Chan sembari menyembunyikan wajah di samping badan si kecil.

"Eomma-mu seram, Chan-ah~" rengek pria berkulit tan.

"Gaya sekali." Jisoo menyeringai. "Orang biasanya pergi ke posyandu untuk memeriksakan bayi mereka, kau pergi ke rumah sakit."

"Kalau bukan permintaan dokterku dulu, aku juga tidak mau." Jihoon duduk di sebelah tetangganya, menghadap meja yang masih memiliki beberapa makanan setelah separuhnya dihabiskan Mingyu dan Jisoo ketika wanita tersebut sedang menidurkan Chan.

"Benar juga, dokter yang memeriksa Chan sama dengan yang memeriksamu waktu hamil 'kan?"

Jihoon mengangguk, membuka plastik penutup jjajjangmyun. Jisoo terdiam.

"Sudah makan sebanyak itu kau masih mau makan lagi?" tanya namja berwajah mungil dengan mata menyorot tidak percaya. Tak jauh dari mereka, Mingyu ikut melayangkan tatapan tak terbaca pada Jihoon.

Gerakan sumpit Jihoon terhenti di udara, dipandanginya Jisoo dengan mata polos. "Kenapa?"

Berdua, Jisoo dan Mingyu melengos bersamaan.

"Wanita ini bukan manusia..."

-o-

Rringg~ tluk.

"Noona?"

"Jadi bagaimana?"

"..."

"Kau tidak bisa seperti ini terus, Soonyoung-ah."

"Aku tahu."

"Apa yang akan kau lakukan?"

"..."

"..."

"Aku akan menemuimu waktu makan siang, Noona. Aku masih ada meeting."

Raina menurunkan ponsel dari telinganya, menghela napas, dan memasukkan benda itu ke dalam saku jubah putihnya.

.

"Maemaemaemaa," oceh Chan dengan mata mengarah lurus pada mainan berbentuk gelang yang dipegang Jihoon di atas wajahnya.

"Eom-ma," tuntun Jihoon pada bayinya yang langsung mengalihkan pandangan menatapnya dan tersenyum lebar.

"Ehehehe," Chan terkekeh.

"Eom-ma. Ayo bilang. Eom-ma," ulang Jihoon kembali membuat si buah hati tergelak senang.

"Aemamaemaemm," celoteh Chan, kedua tangan gemuknya terulur ke atas untuk meraih mainan yang diacung-acungkan ibunya.

"Ting tung," dengan jahil Jihoon menyentuhkan mainan ke puncak hidung anaknya, membuat bayi itu tertawa. "Ting tung ting tung," ulangnya lagi dan kali ini Chan menjerit senang sampai menendang-nendangkan kaki mengakibatkan beberapa orang yang berada di lobi rumah sakit menoleh lantas ikut tersenyum melihat keceriaan pasangan ibu dan anak tersebut.

"Aigoo kyeowoo—muah. Anak Eomma kyeowo—muah muah muah," Jihoon tidak tahan untuk menciumi Chan, menikmati sejenak tawa riang bayi itu baru kemudian memberikan mainan di tangannya yang segera digenggam kuat oleh jemari chubby si buah hati dan berakhir dengan digigiti oleh gigi susunya.

Jihoon mengangkat wajah, mengalihkan perhatian dari Chan yang berbaring di pangkuannya dan segera dia bertemu pandang dengan sepasang mata coklat cantik yang langsung melengkungkan senyum penuh keakraban.

"Menunggu lama?" sapa wanita ramping dengan rambut panjang terikat dan tubuh berbalut jubah putih khas kedokteran begitu berhenti di depan Jihoon. Gadis yang lebih mungil menggelengkan kepala.

"Aku tahu Eonnie sibuk, aku sengaja datang agak siang." Jihoon tersenyum, dibalas lengkungan bibir serupa.

"Entah kenapa aku merasa baru saja kau menyindirku," ujar sang dokter. "Lee Chaaan~" dia langsung beralih pada Chan yang cuma memberinya tatapan sekilas tanpa minat. Bayi lelaki tersebut melanjutkan kesibukannya menggigiti mainan gelang sambil tidak berhenti menggumamkan kosakata alien.

"Lihat dia, dia bahkan tidak mau memandangku," tunjuk si dokter muda dengan wajah keki mengacu pada Chan. Jihoon terkikik.

"Mungkin dia lupa."

"Lupa apanya?" sang dokter merajuk. "Padahal baru bulan lalu dia melihatku, masa iya sekarang sudah lupa lagi? Lee Chan~ Chan-ah~ Chanie~"

Jihoon menahan tawa melihat sikap kekanakan di depannya. Terlebih ketika tahu respon Chan hanya menoleh sebentar lalu kembali tenggelam dalam dunianya.

"Aish, akan aku tunjukkan padamu siapa yang berkuasa di sini." Dengan kesal sang dokter meraih ketiak Chan dan langsung mengangkatnya dari pangkuan Jihoon. Si bayi terkejut berpindah tempat ke pelukan orang yang tidak dia kenal, seketika Chan menjerit.

"Eonnie—" Jihoon nampak kaget melihat anaknya memekik dan menangis dengan tangan menggapai-gapai mencarinya.

"Biar, biarkan dia menangis. Jangan tolong dia. Kalau tidak begini dia tidak akan bisa bersosialisasi dengan baik nanti." si dokter menahan semua gerakan Chan, mencoba memaksanya diam namun hanya berakhir dengan membuat bayi tersebut semakin mengamuk.

"MMAAAA!" teriakan Chan melengking, disusul oleh tangisan kencangnya.

"Eonnie..." Jihoon melihat sekeliling dengan gugup, merasa tidak enak karena sudah membuat keributan.

"Biarkan saja, Jihoon-ah. Dia harus tahu siapa tantenya. Dia harus selalu ingat pada tante Raina karena aku tidak suka ada namja yang menolakku, termasuk keponakanku sendiri. Nah Chan-ah, ayo kencan sama Tante~"

"MMAA! MAA! HUWAAA!"

Jihoon menghela napas menyerah, memandang punggung sempit yang berjalan meninggalkannya masih dengan lengan menggendong anaknya yang menangis menjerit-jerit. Wanita muda itu memperbaiki gendongan di bahu, mengambil tas berisi perlengkapan Chan lantas beranjak menyusul langkah Raina menuju ruang pemeriksaan.

-o-

Klub musik sedang sepi dan pintunya tertutup rapat ketika Soonyoung tiba untuk melihat pengumuman hasil audisi tempo hari. Dia menelusuri satu per satu nama dan begitu terbaca kalimat 'Kwon Soonyoung' langsung saja namja itu bersorak di tempat, melompat-lompat, membalikkan badan, dan sekejab membeku kaku. Wajah Soonyoung menampakkan ekspresi kaget yang sangat kentara melihat aura suram menguar dari sepasang mata kecil Jihoon yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya.

"Oh, h-hai..." sapa Soonyoung tak tahu harus mengatakan apa. Sebaliknya, Jihoon hanya mendengus, berjalan melewati pemuda tersebut dan memegang knop pintu ruang klub musik.

"Terima kasih karena sudah menerimaku, aku akan berusaha sekeras mungkin untuk bisa berguna di sini," ucap Soonyoung menghentikan gerakan gadis yang membelakanginya.

"Jangan percaya diri dulu." Suara Jihoon terdengar dingin. "Kau terpilih hanya karena kandidat tahun ini tidak banyak yang memuaskan dan kami punya target yang harus dipenuhi."

Soonyoung tersenyum, sedikit kecut. "Aku tahu. Aku akan berusaha."

Jihoon menolehkan kepala, menatap namja yang lebih tinggi darinya, mempelajari wajahnya. Soonyoung yang tidak mengerti dengan keheningan yang mendadak muncul, hanya bisa kembali tersenyum lebar memamerkan deretan gigi serta menenggelamkan kedua matanya ke dalam satu garis mirip sobekan lubang celengan.

Tiba-tiba Jihoon merasa kesal.

"Berhenti tersenyum. Kau terlihat idiot," ketusnya sekejab membuat pria di depannya benar-benar berhenti tersenyum dan memasang muka flat yang lebih mirip dengan ekspresi kaget. Tapi sedetik kemudian bibir tipis itu mengembang lagi, malah lebih lebar kali ini sampai Jihoon ragu apa mungkin Soonyoung masih bisa melihat jalan waktu matanya menghilang karena tersenyum begini.

"Sudah aku bilang jangan tersenyum!"

"Ehehe, aku terlalu senang sampai tidak bisa menghentikannya. Eotteoke~" kekeh namja itu.

Jihoon berdecak keras. "Dasar aneh," cetusnya lantas membuka pintu klub dan masuk ke dalam.

Seperginya Jihoon, Soonyoung mengepalkan kedua tangan.

"Yes, aku masuk klub musik. Yes, aku berhasil. Yes yes yes!" dia melanjutkan menari dan melompat meluapkan rasa senangnya.


A/N:

Judul ini mungkin bakal pending. Myka kangen bikin idol verse mereka, fufufu

Lagu yang dinyanyiin Soonyoung adalah "You Call It Romance"-nya K Will ft Davichi