Sekarang, apa yang lebih bodoh dari orang yang sudah menemukan kebohongan namun tetap mengiyakannya?
#soonhoon #seventeen #gs #t
Say Yes
4
Jam menunjukkan pukul satu siang saat Soonyoung tiba di ruang klub musik sambil bersiul-siul riang, salah satu tangannya nampak membawa dua buah buku tebal dengan nomor seri perpustakaan bakal referensi tugas makalah birokrasi ekonomi yang berikan pada kelasnya pagi tadi dan tangan lain memegang ponsel yang tertancap kabel earphone menggantung hingga lubang telinga. Namja itu mendadak menghentikan langkah kaki ketika sepasang matanya menangkap sosok seorang gadis mungil dengan celana jeans pendek tengah berdiri di atas kursi dan mencoba meraih jam dinding yang setahu Soonyoung memang sudah berhenti bergerak beberapa hari terakhir. Meski sudah dibantu oleh tinggi kursi, namun Jihoon masih nampak kewalahan mengambil jam tersebut, bahkan sekarang gadis itu mencoba berjinjit di ujung jari kakinya.
"Sial—" terdengar samar makian Jihoon, berusaha untuk memanjangkan lengannya ke atas dan berjinjit lebih tinggi.
Soonyoung hanya diam memperhatikan, bukan karena dia tidak mau membantu atau merasa tidak mungkin bisa meraih jam dinding tersebut—Soonyoung bisa saja mengambilnya dengan mudah, lebih gampang daripada Jihoon yang nampak semakin ngotot sekarang—dia cuma tidak ingin mengganggu gadis itu. Sejak menjadi bagian dari klub musik, Jihoon terus bersikap ketus pada Soonyoung membuat pemuda tersebut serba salah. Dia merasa tidak melakukan pelanggaran namun gadis mungil itu terus saja menudingnya. Dia bahkan sudah berusaha keras melatih kemampuannya bermain gitar, tapi Jihoon tetap bergeming.
Soonyoung pernah bertanya pada senior di klub musik alasan kenapa salah satu vokalis utama tersebut begitu sensitif padanya, mungkin saja dia punya dendam pribadi dengan Soonyoung atau Soonyoung melakukan kesalahan yang tidak dia sadari, namun jawaban para senior rata-rata sama; Jihoon pasti masih merasa kesal pada insiden 'bbuing-bbuing' Soonyoung saat audisi. Mereka menambahi jika Jihoon adalah tipe orang yang sangat membenci aegyo. Baginya, aegyo tidak ada bedanya dengan sesuatu yang harus dijauhi karena dapat mengakibatkan alergi dan gatal-gatal akut.
Langsung saja Soonyoung bersungut-sungut tidak terima. Mana dia tahu kalau Jihoon alergi pada aegyo. Mereka baru pertama kali tatap muka dan yang pemuda itu lakukan hanyalah ingin mengesankan juri. Mana dia tahu jika keputusannya akan membuat Jihoon membencinya seumur hidup. Dan lagi, bukan salahnya kalau punya wajah yang lebih condong ke lucu dan menggemaskan dibanding maskulin dan tampan. Soonyoung tidak minta dilahirkan seperti ini, jadi Jihoon juga tidak berhak sebal setiap kali melihat mukanya cuma karena dia mirip bayi kelinci.
Lee Jihoon benar-benar gadis yang tidak bisa dimengerti Soonyoung, bukankah kebanyakan wanita suka sesuatu yang lucu dan menggemaskan? Tapi kenapa selera Jihoon berbeda? Apakah dia tidak sadar kalau wajahnya sendiri begitu bulat dan lucu seperti pipi merah Pikachu? Dasar!
Drak!
"Kyaa!"
Belum selesai Soonyoung melamun, tiba-tiba kaki Jihoon luput dari pijakannya. Tubuh mungil itu hilang keseimbangan dan tergelincir dari atas kursi bersamaan dengan pekikan kagetnya. Reflek Soonyoung membuang semua yang dia pegang, merentangkan tangan untuk menangkap Jihoon sebelum dirinya jatuh membentur lantai.
Bruk!
"Aow—" Soonyoung mengerang pelan, merasakan linu di seluruh punggung serta bahunya ketika dia ambruk dengan posisi terlentang bersama Jihoon yang meringkuk di atas dadanya.
Hening sekejab. Berdua mereka masih bergeming. Soonyoung meringis menahan sakit yang mulai merambat hingga kepala belakangnya dan Jihoon masih menutup mata rapat mengira dia telah bertemu gravitasi lalu berguling-guling membuat kulitnya lecet di sana sini.
Perlahan gadis itu membuka mata, hal pertama yang dia rasakan adalah heran sebab dirinya sama sekali tidak merasa sakit ataupun perih ditambah dengan tempatnya berbaring sepertinya bukan lantai klub musik yang dingin serta jarang disapu. Jihoon memberanikan diri bangkit untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
"Hai," sebuah cengiran yang memamerkan deretan gigi putih langsung menyapa Jihoon, lengkap dengan kedua mata sipitnya yang menghilang membentuk lengkungan dua buah garis tipis. Gadis tersebut membelalakkan mata dan buru-buru melompat dari atas tubuh Soonyoung.
"Adududuh..." pemuda itu mencoba untuk bangkit setelah beban berat berpindah dari atas badannya. Dia mengusap-usap belakang kepala dan menegakkan punggung yang terasa linu.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya pada Jihoon yang masih terdiam memandang dengan mata nanar. Sepertinya gadis tersebut terkejut melihat kenyataan Soonyoung-lah yang menolongnya barusan. Orang yang selalu dia judesi dan menjadi korban omelannya tanpa sebab, menjadi orang yang sama yang telah menyelamatkannya. Jihoon pasti sedang menghadapi dilema terbesar dalam hidupnya sekarang, antara membuang gengsi dan mempermalukan diri sendiri untuk sekedar menundukkan kepala mengatakan terima kasih atau bersikukuh mempertahankan ego dengan langsung pergi dan menganggap tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Sialan, kenapa juga harus bayi kelinci itu yang menolongnya!? Jihoon galau akut.
Di sisi lain, Soonyoung malah tidak mengatakan apapun. Dia mendongak memandang jam dinding yang masih bertahta anggun, kemudian berdiri. Namja tersebut naik ke kursi yang sebelumnya menjadi pijakan Jihoon, mengulurkan tangan dan mengambil jam dengan mudah. Jihoon yang melihatnya hanya dapat memberikan tatapan iri.
Enak sekali menjadi orang tinggi. Cih!
"Batereinya sudah karatan," ujar Soonyoung tanpa diminta begitu memeriksa bagian belakang jam bulat tersebut sebelum menyerahkannya pada Jihoon yang menerima dengan dengusan keras.
"Kau baik-baik saja? Kakimu tidak apa-apa?" sekali lagi pemuda itu menanyakan keadaan rekan satu klubnya.
"Tidak apa-apa," jawab si gadis sambil menunduk, pura-pura sibuk memeriksa jam padahal dalam hati dia sedang perang batin antara akan mengatakan terima kasih atau tidak.
"Kalau begitu kau bisa 'jalan' 'kan?"
"Tentu saja! Kau pikir aku akan patah kaki hanya karena jatuh dari kursi!" Jihoon menyalak. Di luar dugaan, Soonyoung malah nyengir lebar.
"Oke, aku tunggu jam tujuh setelah kegiatan klub selesai," ujarnya lantas berlalu, berjalan menuju buku, ponsel, serta tas yang tadi dia tinggalkan berserakan di lantai.
Eh? Jihoon bergeming. Mencoba mengingat lagi apa yang baru saja dia katakan.
"Kalau begitu kau bisa 'jalan' 'kan?"
'Jalan' itu maksudnya...
Mata Jihoon melotot. Dia menoleh dengan garang namun terlambat, Soonyoung sudah memberinya sebuah senyum lebar penuh kemenangan.
DASAR LICIK!
-o-
"Berat badannya bertambah, panjang badannya juga bertambah, lingkar kepalanya juga." Dengan riang Raina mencorat-coret kertas berisi laporan kesehatan Chan. "Wah wah, sepertinya bola daging Tante yang satu ini sudah tumbuh dengan baik. Uluh uluh, Tante bangga padamu, Nak. Cubit dulu~" pujinya lalu mencubit keras paha gemuk Chan yang sedang menyusu pada Jihoon. Sontak bayi itu langsung menjerit kesakitan, menangis sekencang-kencangnya membuat sang ibu kelabakan dan segera berdiri untuk menimang-nimang dia.
"Eonnie, berhentilah membuatnya menangis," keluh Jihoon sambil berusaha menjejalkan puting susu ke mulut Chan supaya anaknya diam, tapi sepertinya cubitan Raina terlalu sakit sampai bayi tersebut menggeliat dan mengerang dengan lebih memilukan.
"Salah siapa dia sangat menggemaskan." Si dokter sama sekali tidak memperlihatkan wajah bersalah. "Salah siapa kau melahirkan anak yang sangat menggemaskan," imbuhnya hanya membuat Jihoon mendengus dan meneruskan kesibukan membuai anaknya yang masih menjerit-jerit.
"Apa selama satu bulan ini Chan pernah sakit?" tanya Raina seolah tidak mempedulikan wanita yang lebih muda yang masih kerepotan menggendong bayinya.
"Tidak," jawab Jihoon singkat, membawa Chan berjalan berkeliling ruang pemeriksaan sembari terus mencoba membuatnya diam.
"Alergi? Gatal-gatal atau biang keringat?" Raina menuliskan sesuatu di kertas laporan yang masih dia pegang.
"Tidak—eh, pernah pernah." Dengan cepat Jihoon mengkoreksi. "Dia pernah hampir kena biang keringat tapi Jisoo Oppa lebih cepat menyadarinya dan segera mencegahnya."
"Jisoo Oppa?" Raina mengangkat alis heran, namun kemudian dia melanjutkan. "Oh, dokter yang tinggal di sebelah rumahmu?"
Jihoon mengangguk, berhasil membuat Chan tersadar ada makanan di dalam mulutnya dan bayi itu langsung berhenti menangis, kembali menghisap rakus puting susu ibunya sementara Jihoon mengusap lembut bekas cubitan Raina yang mulai meninggalkan warna kemerahan di kulit bayinya.
"Aku senang ada orang yang bisa membantumu di saat darurat waktu aku tidak ada. Orang seperti kau memang harusnya dipantau dua puluh empat jam seperti itu." Raina mengangguk-anggukkan kepala.
"Aku tidak seceroboh itu." Jihoon nyengir.
"Bicara saja dengan bokongku," balas Raina cuek. "Bulan depan datanglah tanggal dua puluh."
"Imunisasi lagi?" Jihoon nampak terkejut, perlahan mendudukkan diri kembali di kursi. Chan sudah lebih tenang di pelukannya, minum dengan mata berkedip berat karena mengantuk.
Raina menjawab dengan anggukan, mencoba untuk meraih tubuh mungil di pangkuan Jihoon namun ibu muda itu lebih gesit memutar posisi duduknya hingga cubitan sang dokter luput dan berganti dengan dengusan kesal.
"Aish, aku paling tidak suka dengan imunisasi. Chan pasti akan demam dan rewel," keluh Jihoon memperbaiki posisi tidur anaknya.
"Wajar kalau bayi demam setelah imunisasi, itu lebih baik daripada dia mudah sakit nantinya," ujar Raina. "Lagipula tetanggamu 'kan dokter, minta saja bantuannya untuk mengurus Chan."
"Mana bisa semudah itu." Jihoon melengos.
"Kenapa?" tatap Raina penuh selidik. "Apa dia menyukaimu? Kau bilang dokter itu hanya beberapa tahun lebih tua darimu dan masih jomblo."
"Eonnie—" kalimat Jihoon tertahan. "Please, jangan mulai."
"Aku jadi penasaran dengan dia. Jihoon-ah, kapan-kapan bawakan fotonya padaku. Oke?" Raina menjentikkan jari dibalas dengan 'yah' Jihoon yang penuh tulah. Dokter cantik tersebut tergelak.
"Kalau memang ada orang yang menyukaimu dan mau menerima keadaanmu apa adanya, saranku lebih baik kau bersama orang itu. Aku bukannya meragukan kemampuanmu untuk menjadi single parents, tapi kau juga harus memikirkan Chan. Saat dia lebih besar nanti, dia akan berpikir teman-temannya punya dua orang tua tapi kenapa dia hanya punya satu. Dia akan merasa iri pada mereka yang punya ayah dan itu tidak akan baik untuk psikologisnya. Aku yakin kau bisa membesarkan anak ini sendirian, tapi Chan tidak bisa tumbuh sendiri. Apalagi dia laki-laki, dia butuh sosok super hero yang bisa dia kagumi seperti seorang ayah," tutur Raina lembut, membuat Jihoon menundukkan pandangan.
"Apa kau masih berharap pada Soonyoung?"
Mendengar pertanyaan itu, sekejab si gadis mungil mengangkat wajahnya. Dia tersenyum kecut.
"Kalau aku masih berharap padanya, bukankah sejak awal aku akan mencari dia? Eonnie sendiri tahu soal itu," jawabnya dengan desisan samar.
"Aku tidak tahu." Raina menggeleng. "Aku hanya tahu kau ingin menyembunyikan kehamilanmu dari Soonyoung. Tapi aku sama sekali tidak tahu alasannya. Alasan sesungguhnya kenapa kau menghindari dia dan tidak memberitahunya."
Jihoon terdiam, kedua matanya seketika menerawang sementara tangannya dengan pelan melepaskan puting dari bibir Chan dan kembali mengancingkan pakaian. Diusapnya lembut sekitar mulut bayi itu dengan ujung lengan baju.
"Kenapa kau tidak memberitahu Soonyoung? Aku tahu dia memang bodoh, tapi aku yakin dia akan bisa menjadi ayah yang hebat untuk Chan. Kenapa kau tidak memberitahunya?" tanya Raina dengan mata lurus menatap Jihoon yang kemudian memberinya pandangan dengan kilat yang begitu sulit untuk dibaca. Sejak awal diperkenalkan oleh Soonyoung, Raina sudah tahu jika Jihoon adalah gadis yang susah dipahami. Membuatnya merasa kagum pada Soonyoung sebab adiknya tersebut dapat begitu mudah mengerti Jihoon dan bahkan pasangan berwajah imut itu bisa klop seolah benang takdir mereka sudah saling menemukan sulur yang cocok dan mulai merenda simpul yang dapat mengisi serta menguatkan satu sama lain.
Lalu apa gerangan yang membuat simpul itu terlepas? Apakah ada orang lain yang memotongnya? Ataukah mereka sendiri yang mengurainya?
"Aku bertemu dengan Soonyoung. Dia pergi ke barku," cerita Raina menuai sedikit rasa kaget di wajah Jihoon. "Dia terlihat sangat tertekan. Insiden di pesta itu benar-benar sudah membebani pikirannya, aku bahkan tidak akan heran kalau nanti dia bunuh diri ataupun overdosis obat penenang karena tidak kuat menanggung ini semua. Aku beritahu padamu LAGI, Lee Jihoon. Soonyoung tidak menjadi lebih baik setelah kalian berpisah. Dia tidak seperti dirinya sendiri. Dia kehilangan semangat hidup dan hanya mengikuti apa yang diperintahkan oleh ibunya. Dia tidak punya hasrat tidak seperti saat dia masih bersamamu."
Jihoon menarik napas panjang. "Jadi Eonnie menyalahkan aku karena sudah meninggalkannya?"
"Aku menyalahkan dia karena sudah melepasmu," koreksi Raina, kembali membuat wajah mungil di depannya terkejut. "Bukan salahmu kalau kau meninggalkan dia, aku pun juga pasti akan sakit hati mendengar pengakuan pacarku jika dia sudah dijodohkan dengan wanita pilihan ibunya. Tapi Soonyoung bodoh karena kemudian dia melepaskanmu dan tidak mau mengambil resiko dengan memilihmu. Dia pengecut, makanya sekarang dia kena karma dan tidak bisa bahagia." Wanita itu mendengus kesal.
Perlahan Jihoon tersenyum kecut. "Tunangan Soonyoung sepertinya gadis yang baik dan dia cantik—" dia mencoba mengalihkan topik.
"Memang, tapi dia bukan orang yang dibutuhkan Soonyoung." Dengan cepat Raina memotong. "Dia seorang tuan putri dari kastil barbie yang setiap hari masih membiarkan pelayan mengganti baju serta menata rambutnya. Wonwoo bilang dia lebih cocok duduk di dalam kotak kaca daripada berjalan-jalan di luar."
"Wonwoo?" tanya Jihoon.
"Sekretaris Soonyoung. Mereka teman sekelas waktu kuliah—eh, aku lupa, sepertinya Soonyoung bilang begitu. Pokoknya mereka teman, makanya dia membuat Wonwoo jadi sekretarisnya."
Drrt, drrt, mendadak terdengar suara getaran. Jihoon segera merogoh saku roknya dan mengecek notif ponsel bersamaan dengan Raina bangkit dari kursi menuju meja kerja tempat ponselnya berada. Dokter itu mengetik kalimat singkat membalas pesan yang baru saja masuk.
"Apa yang akan kau lakukan kalau kau bertemu Soonyoung?" celetuk Raina tanpa gagal membuat Jihoon kembali terkejut.
"Apa maksud Eonnie?" balasnya bingung.
"Selama ini aku sudah membantumu bersembunyi dari Soonyoung. Berusaha keras untuk tidak memberitahu dia kau hamil, melahirkan, dan kerepotan sendiri mengurus anaknya. Aku bahkan sampai berakting supaya dia tidak curiga padaku dan sama sekali tidak sadar jika aku masih berhubungan denganmu. Tapi sekalinya kau bertemu dia, peranku tidak akan berpengaruh apa-apa." Raina menatap lurus Jihoon.
"Jihoon-ah, cepat atau lambat kau pasti akan bertemu dengan Soonyoung. Sekeras apapun kau menghindarinya, kalian punya takdir yang sama. Apa yang akan kau katakan padanya? Kau akan berbohong lagi, mengatakan Chan bukan anaknya? Kau pikir Soonyoung akan percaya?"
Jihoon menunduk.
"Anak itu mungkin memang plin-plan, tapi kalau kau bisa meyakinkannya satu kali saja dia akan mempertaruhkan semuanya untukmu. Dia masih mencintaimu, Jihoon-ah. Perasaannya sama sekali tidak berubah. Kau juga masih mencintainya 'kan?"
Mata Jihoon menerawang, dia diam sejenak. "Kalau memang Soonyoungie masih mencintaiku... bukankah seharusnya sejak awal dia memilihku?" gadis itu mendesis, perlahan membawa pandangan pada Raina, memperlihatkan padanya luka lama yang masih tertoreh di sana. Tak berubah, sama sekali tidak bisa menyembuhkan diri. Yang ada malah dia semakin merah, dalam, dan berdarah.
Dada Raina sesak seketika. Lidahnya kelu tak kuasa berkata-kata melihat bagaimana kedua mata kecil itu nampak rapuh dan kuat di saat yang bersamaan, bagaimana raut wajahnya yang cantik terlihat tegar dan terluka di waktu yang sama.
"Maaf..." bisik Raina. Maafkan adikku yang bodoh itu, Jihoon-ah...
-o-
Dengan kepala menunduk Jihoon berjalan di lorong rumah sakit. Bahu kirinya menahan berat gendongan Chan dan bahu kanannya membawa tas berisi keperluan bayi itu. Perlahan dia mengusap sebelah pipinya yang dia yakini pasti nampak pucat sekarang. Gadis tersebut menghela napas panjang, sudah hampir setahun lebih dia bolak-balik bertemu dengan Raina untuk awalnya hanya memeriksakan kandungan dan sampai sekarang mengontrol kesehatan Chan, baru kali itu dokter tersebut menyinggung nama Soonyoung.
Karena Raina adalah salah satu orang yang paling tahu kisah cinta adik sepupunya tersebut dan dia sangat mengerti walau Soonyoung berpisah baik-baik dengan Jihoon, namun Jihoon masih menyimpan sakit hati pada namja itu sebab tidak pernah memberitahunya kalau sejak awal dia sudah dijodohkan dengan wanita pilihan keluarganya. Makanya Raina jarang membicarakan Soonyoung di hadapan Jihoon, toh Jihoon juga tidak membutuhkannya. Mereka sudah berpisah ditambah dengan dia tidak ingin ada Soonyoung di kehidupan Chan.
Sejatinya Jihoon tidak marah, dia hanya kecewa karena Soonyoung sudah berbohong padanya. Tentang keputusan pria itu untuk kemudian mengakhiri kisah cinta mereka dan lebih memilih mengikuti kemauan keluarganya, Jihoon juga tidak sakit hati sebab dia sadar siapa dirinya. Keluarganya tidak punya bisnis apa-apa, ayahnya sudah meninggal dan ibunya sakit-sakitan, Jihoon bisa kuliah pun karena mengandalkan beasiswa. Jikalau dia mau sesumbar akan menciptakan lagu dan menjadi kaya dari royalty, buktinya saja dia baru mau memulai itu semua.
Jihoon tahu tidak ada yang bisa diandalkan dari dirinya, maka dia juga tidak bisa menahan Soonyoung ketika namja itu melangkah pergi meninggalkannya. Hanya berharap pria tersebut akan lebih mencintainya dan memilihnya daripada kewajiban bisnis, namun di sisi lain Jihoon tidak ingin membuat Soonyoung menjadi musuh keluarganya sendiri karena dia. Lucu memang, menyebut Soonyoung adalah orang yang plin-plan, tapi Jihoon sendiri sama plin-plannya dengan dia.
Dan kalau diingat lagi, Raina hampir tidak pernah menyebut nama Soonyoung. Dia juga tidak memberitahu Jihoon kalau pada akhirnya namja itu bertunangan dengan wanita lain dan sama-sama terkejut ketika melihat Jihoon muncul di pesta bersama Chan pun dengan Jihoon yang melihat Soonyoung berdiri bersama seorang gadis cantik merangkul lengannya.
Jihoon antara bersyukur dan sedih dia tidak tahu soal pertunangan itu. Dia bersyukur, karena akhirnya Soonyoung menentukan pilihan dan hidup bahagia. Di sisi lain dia sedih sebab ternyata dia masih bisa merasakan kehilangan meski setahun lebih telah berlalu dan ucapan putus sudah terlontar.
Percuma merasa sedih sekarang, Lee Jihoon. Kau sudah tidak bisa memperbaiki apa-apa. Kau sudah tidak bisa mengambil apa-apa, batin Jihoon pada dirinya sendiri.
Wanita muda itu terus berjalan dengan mata hanya mengarah pada wajah mungil Chan yang tengah terlelap tenang, begitu nyaman terkungkung di dalam gendongan sama sekali tidak mengerti keresahan dan kekalutan yang tengah dirasakan oleh ibunya. Jihoon membelok di ujung lorong, baru beberapa langkah mengayunkan kaki dan tiba-tiba dia mendengar namanya dipanggil oleh seseorang.
"Lee Jihoon?"
Tubuh gadis tersebut membeku, sangat mengenali suara yang barusan melafalkan namanya dengan fasih.
"Jihoon-ah?" suara itu kembali memanggil Jihoon seolah ingin memastikan. Perlahan, si pemilik nama menoleh dan benar saja raut terkejut seorang Kwon Soonyoung sudah menantinya di sana.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Soonyoung nyaris berbisik melihat gadis mungil di hadapannya hanya berdiri mematung dengan tas tersandang dan sebuah buntelan berada di pelukannya. Sorot mata Soonyoung melembut melihat gendongan Jihoon, dia yakin jika sekarang pasti ada seorang bayi yang sedang tertidur lelap di dalam sana berbalut selimut hangat.
Hening menyeruak, berdua mereka hanya bergeming, saling menatap tanpa tahu harus mengatakan apa.
.
"Apa yang akan kau lakukan kalau kau bertemu dengan Soonyoung?"
Raina meletakkan ponsel kembali ke atas meja setelah beberapa menit benda itu berhenti bergetar. Matanya menerawang, layar ponsel masih menyala memperlihatkan laman obrolan yang telah terhenti.
[Soonyoung] Noona, aku sudah sampai di rumah sakit. Kau mau bicara dimana?
[Raina] Naiklah ke kantorku.
[Soonyoung] Oke.
-o-
Kantin rumah sakit cukup ramai. Beberapa pembesuk dan keluarga pasien nampak duduk menyantap makan siang ataupun sekedar menyesap minuman dingin dengan mata menerawang seolah sedang mengistirahatkan diri sejenak dari beban yang dipikul oleh pundak. Di salah satu sudut yang mejanya sedikit terpisah dari keramaian, duduk sepasang laki-laki dan perempuan yang masing-masing mengatupkan mulut rapat dengan gelas berembun berisi minuman dingin di hadapan mereka. Sang pria memakai jas khasnya orang kantoran dan si wanita duduk dengan sebuah gendongan bayi di pangkuannya. Beberapa menit berlalu dan mereka masih saling diam, tidak mengacuhkan balok es yang semakin menyusut di dalam gelas.
Soonyoung menghela napas, sekali lagi menatap wajah mungil yang ada di depannya yang sudah lebih dari satu tahun tidak pernah muncul di hari-harinya. Sepasang alis tipis dengan mata kecil dan hidung seukuran juga bibir serupa goresan ujung pensil lancip yang selama empat musim terakhir hanya dapat dia temui di dalam mimpi, wajah yang selalu dia rindukan. Seolah sadar sedang ditatap, Jihoon mengarahkan pandangan pada Soonyoung yang langsung menoleh ke arah lain bersikap seolah tidak pernah melakukan apa-apa. Melihat itu, gadis tersebut mengesah pelan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" akhirnya Jihoon mengoyak hening yang sudah menggantung selama hampir tiga puluh menit.
Soonyoung diam sejenak. "Aku pikir kau pasti sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan," ucapnya dengan nada suara yang sangat biasa, tidak seperti cara bicaranya dulu ketika dia menemui Jihoon sebagai seorang kekasih dan bukan mantan.
"Aku sudah bilang padamu aku tidak sengaja datang ke pesta itu. Apa keluargamu masih marah? Kalau mereka ingin aku minta maaf, aku akan melakukannya. Kalau mereka ingin aku membuat surat pernyataan—"
"Aku tidak bilang aku tidak percaya dengan kata-katamu," potong Soonyoung cepat. "Aku juga tidak bilang keluargaku ingin kau minta maaf."
"Tapi kau tidak bilang mereka tidak marah." Jihoon menatap tajam Soonyoung.
"Dan aku tidak bilang aku tidak bisa mengatasinya." Soonyoung membalas.
Jihoon kalah. Gadis itu merapatkan bibir lantas membuang pandangan.
"Semua orang bilang pasti akan terasa canggung kalau bertemu dengan mantan kekasih tapi kenapa aku malah merasa biasa saja kalau kita sudah bertengkar seperti ini." Soonyoung mendesis.
Jihoon tidak menjawab, membiarkan sunyi kembali menguasai spasi di antara mereka berdua.
"Bagaimana kabarmu?" Soonyoung yang kali ini pertama membuka suara. "Aku dengar sebelum wisuda kau sudah mendapat tawaran untuk menjadi komposer. Apa kau menerimanya?"
Jihoon mengangguk.
"Aku senang kau akhirnya mendapatkan cita-citamu." Soonyoung tersenyum tipis. "Jangan tanyakan bagaimana diriku, kau sudah bisa melihatnya. Aku berakhir sesuai dengan jurusan yang aku ambil." Dia mencoba bergurau namun gadis di depannya hanya bergeming.
"Tidak lucu ya," desis Soonyoung. "Canggungnya mulai terasa sekarang." Dia menarik sudut bibir dengan pahit.
"Katakan apa perlumu. Aku tahu kau tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi," ujar Jihoon.
"Kau masih tidak berubah. Kata-katamu kejam," cengir pria berambut gelap di hadapannya.
"Kwon Soonyoung, berhentilah bercanda." Jihoon menatap jengah ke depan. "Berhentilah memaksakan diri untuk bercanda kalau kau sendiri sadar pembicaraan kita tidak akan bisa lebih baik dari ini."
Soonyoung terdiam dan Jihoon masih memandangnya dengan mata menyorot lelah seolah dia ingin segera pulang melupakan semuanya.
"Aku bahkan tidak mengatakan apa-apa, tapi kenapa kau bisa tahu apa yang aku pikirkan?" pria itu mendesis, ada getar di suaranya. Sementara Jihoon melengos, benar-benar ingin segera meninggalkan tempat ini dan jauh-jauh dari sosok, wajah, maupun suara Soonyoung.
"Aku akan menikah dengan Eunha."
Sesuatu di dalam dada Jihoon terasa berhenti bergerak.
"Dia seorang dokter idola dan anak tunggal dari perusahaan yang punya hubungan bisnis penting dengan keluargaku. Rencananya kami akan menikah musim gugur tahun ini."
Bibir tipis Jihoon yang terkatup rapat perlahan bergetar.
"Selamat..." desisnya. "Aku turut berbahagia."
Soonyoung yang kali ini terdiam, tanpa berkedip menatap lurus ke pusat manik coklat yang juga mengunci pandangan ke arahnya. Berdua mereka saling meraba perasaan satu sama lain, mencoba mencari kebenaran dari kilatan mata, berusaha menerjemahkan kata yang tidak dapat diurai dengan panca indera. Baik Soonyoung maupun Jihoon sama-sama bisa membacanya, tak ada ketulusan di sana, tak ada kejujuran di sana, tak ada kebahagiaan.
"Terima kasih," ucap Soonyoung mengakhiri pembicaraan siang itu.
Sekarang, apa yang lebih bodoh dari orang yang sudah menemukan kebohongan namun tetap mengiyakannya?
-o-
Cklek. Raina langsung menoleh ketika mendengar pintu kantornya dibuka dari luar. Segera dia dapat melihat sosok tinggi dengan kemeja rapi berdasi dan jas yang ditenteng dengan sebelah tangan.
"Lama sekali. Darimana kau? Kau bilang kau sudah sampai di rumah sakit," omel wanita itu segera.
"Maaf," desis Soonyoung nyaris berbisik, langsung berjalan menuju sofa, meninggalkan jasnya sembarangan di atas meja.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Raina berlagak bodoh, memandang penuh heran pada adik sepupunya yang merebahkan diri dan segera menutupkan lengan ke atas mata.
"Tidak apa-apa," jawab Soonyoung. "Aku hanya lelah..."
"Kau mau tidur? Kau bilang kau sibuk hari ini." Raina masih mencoba bersikap biasa meski dalam hati dia menebak jika pertemuan Soonyoung dengan Jihoon pasti tidak berakhir dengan baik.
"Wonwoo akan mengurus semuanya..." suara Soonyoung nyaris menghilang seolah dia sudah mulai tertidur, namun kenyataannya pria itu hanya menahan diri untuk tidak mengeluarkan bunyi yang mencurigakan mengiringi lengan baju yang mulai basah oleh rembesan air mata.
-o-
Jihoon masih sangat ingat pertama kali dia pergi keluar bersama Soonyoung setelah namja itu menipunya dengan bertanya apa dia bisa 'jalan' sementara 'jalan' yang dimaksud adalah 'berkencan'. Jihoon sangat marah saat itu, langsung melupakan kenyataan kalau Soonyoung baru saja menolongnya yang hampir jatuh dari kursi. Namun seperti biasa, pemuda sipit tersebut cuma cengar-cengir menanggapi. Di luar dugaan, usai kegiatan klub Soonyoung benar-benar menunggu Jihoon, tanpa malu-malu mengajaknya pulang bersama.
"Apa kau bodoh? Memangnya aku bilang aku mau pergi denganmu?" tanya Jihoon dengan nada menusuk kala itu.
"Kau juga tidak bilang kau menolakku," jawab Soonyoung sangat santai. Dia menambahi, "Aku sudah menolongmu dan tidak marah meski kau tidak mengucapkan terima kasih. Apa sekarang kau masih tidak mau melakukan sesuatu untukku? Astaga, aku tidak menyangka kalau ternyata seorang Lee Jihoon yang perfeksionis adalah orang yang tidak tahu terima kasih."
"Tutup mulutmu," desis Jihoon dengan tatapan tajam.
"Jadi, kau bisa 'jalan' atau tidak?" Soonyoung melemparkan senyuman manis tanpa dosa. Gadis di depannya menggeram kesal lalu segera pergi sambil menghentakkan kaki.
"Aku masih ada urusan! Cepat atau 'ku tinggal kau!" bentak Jihoon kemudian membuat senyuman makin merekah lebar di wajah Soonyoung.
"Baik, Tuan Putri~" jawabnya lantas berbalik dan mensejajarkan langkah dengan si mungil.
Yang terlintas di pikiran Jihoon saat itu hanyalah Soonyoung akan mengajaknya menghabiskan waktu dengan sia-sia. Jalan-jalan di mall, nonton film, makan es krim, dan semua hal yang lazim dilakukan oleh pasangan yang sekaligus sangat dibenci Jihoon karena menurutnya melakukan hal-hal tersebut tidak akan memberikan manfaat apapun. Soonyoung memang membelikannya kopi dingin dan mengajaknya berjalan menyusuri trotoar sambil tidak berhenti berbicara untuk mengisi jeda, namun namja itu sama sekali tidak membawa Jihoon ke mall ataupun bioskop layaknya orang yang sedang berkencan. Soonyoung mengajak Jihoon menuju salah satu keramaian yang ada di area pejalan kaki.
"Apa ini?" tanya Jihoon dengan alis mengerut tidak nyaman melihat ada begitu banyak orang berada di satu titik yang sama. Dia memang tidak terlalu suka dengan keramaian.
"Kau akan segera tahu." Soonyoung mengedipkan sebelah mata, ditariknya tangan putih gadis itu untuk berjalan memutari kumpulan orang tersebut. Soonyoung menyapa seorang pemuda yang memakai kalung ID di lehernya, setelah menyerahkan beberapa lembar uang pemuda itu mengajak Soonyoung dan Jihoon untuk masuk ke sebuah jalan kecil yang ditandai dengan pita kuning menuju barisan terdepan keramaian manusia. Setelah duduk di salah satu kursi, baru Jihoon paham.
Kumpulan orang itu sedang mengelilingi sebuah area yang diperuntukkan untuk pertunjukan musik. Ada banyak instrumen yang sudah diletakkan di sana. Mulai dari gitar, bass, piano, hingga drum.
"Ini salah satu pertunjukkan jalanan yang aku sukai," ujar Soonyoung tanpa ditanya, membalas tatap mata heran Jihoon dengan sebuah senyuman. "Kenapa? Kau tidak menyangka aku akan mengajakmu ke sini?" tebaknya.
"Mereka punya tema yang berbeda untuk setiap pertunjukkan dan aku dengar malam ini mereka akan memainkan akustik. Kau suka akustik 'kan?"
Kembali, Jihoon hanya memandang Soonyoung tanpa bicara.
Dan di malam itu, untuk pertama kalinya Jihoon melihat pertunjukkan akustik jalanan setelah selama ini dia hanya mempelajari musik serta memainkan musik di dalam sekolah. Untuk pertama kalinya Jihoon mendengar power suara yang tidak bisa dikalahkan oleh hembusan angin maupun riuh bunyi kendaraan. Untuk pertama kalinya Jihoon melihat Soonyoung bukan sebagai pribadi yang menyebalkan.
"Kau sangat manis kalau tersenyum," puji Soonyoung kala itu dengan sorot mata teduh menatap Jihoon dan seulas senyuman lembut menghiasi bibirnya. Jihoon sendiri tidak mengerti apakah karena dia sudah terlalu larut oleh suasana ataukah memang dia merasa senang dipuji seperti itu, sontak gadis tersebut merasa kedua pipinya memanas dan dadanya berdegup kencang.
Jika ada yang bertanya kapan Jihoon pertama kali jatuh cinta pada Soonyoung, dia akan menjawab mungkin saat pemuda itu mengajaknya menonton pertunjukkan akustik jalanan.
.
Jihoon menghentikan langkah kaki di dekat sekumpulan orang berkalung ID yang nampak sibuk menata kabel serta menentukan tempat meletakkan tiang mikrofon. Beberapa orang lainnya yang juga memakai ID terlihat menyibukkan diri membagikan tumpukan brosur yang mereka pegang, salah seorang di antaranya memberikannya pada Jihoon yang masih berdiri mematung.
Dengan mata kosong gadis itu menatap brosur warna-warni yang menuliskan akan digelar sebuah pertunjukkan akustik malam nanti, di tempatnya berdiri sekarang. Penonton akan dibebaskan dari pungutan biaya namun bagi mereka yang mau membayar, akan diberikan tempat duduk khusus di depan panggung dan berkesempatan untuk mendatangi backstage.
Jihoon merasa dia tidak menemukan kalimat yang menyedihkan namun mendadak seisi dadanya terasa sesak dan matanya memanas. Setetes air bening jatuh bergulir di atas pipinya.
"Aku akan menikah dengan Eunha."
Dan Jihoon menggunakan brosur tersebut untuk menutupi wajahnya yang pasti terlihat sangat konyol terisak di tempat umum seperti ini.
A/N:
Betapa senangnya baca review kalian yg bilang ikutan baper sama Jihoon, sebel sama Soonyoung, dan jatuh cinta sama lucunya Chan.
Duuuh, Myka juga rasanya makin cintaaa sama Jisoo *eh
Awalnya mau pending judul ini dan nulis SoonHoon idol verse kayak dulu, tapi mendadak ide nabrak bikin gatel buat segera berbagi.
Akhirnya jeng jeng jeng~
Myka harap ini gak bikin kalian makin baper. Maapin yaaa~ fufufu
