Begitu lekat Soonyoung menatap lubang itu seolah dia ingin memasukkan diri ke dalamnya, ikut terbuang tanpa tujuan sama seperti hidupnya sekarang setelah mencampakkan satu-satunya orang yang bisa membuatnya termotivasi dan berjanji pada diri sendiri harus dapat melindungi serta membahagiakan dia.
#soonhoon #seventeen #gs #t
Say Yes
5
Matahari sudah turun sedari tadi dan jam kegiatan klub juga sudah berakhir sejak tiga puluh menit yang lalu namun Jihoon baru selesai menuliskan bait terakhir lirik lagu terbarunya. Gadis itu menggeliat, memutar badan ke kiri dan kanan hingga terdengar suara keretakan tulang punggung lantas sedikit mengeluh sambil memegangi pinggang. Duduk terlalu lama selalu berhasil membuat pinggangnya nyeri dan badan lebih lelah daripada berlarian ke sana kemari.
Jihoon bangkit berdiri, membereskan buku, kertas, serta semua alat tulis untuk dimasukkan begitu saja ke dalam tas. Berantakan? Sudah biasa. Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal, gadis mungil tersebut melangkah menuju pintu studio. Baru dua detik dia keluar, sosoknya kembali masuk untuk mengambil ponsel yang berada di tempat pengisian baterei.
"Mau pulang, Noona?" tegur seorang namja dari dalam studio di sebelah tempat Jihoon menulis lagu, studio tersebut biasa menjadi tempat meletakkan instrumen musik dan sering digunakan sebagai ruang latihan, berbeda dengan kamar lain yang lebih kecil serta hanya berfungsi untuk mengaransemen lagu.
"Eoh." Jihoon berjalan masuk, mengambil beberapa buku partitur yang diletakkan di sudut panggung. Dia yang meminjam buku-buku itu dari ruang musik kampus pagi tadi untuk digunakan sebagai media latihan para anggota baru dan bermaksud mengembalikannya sekarang sekalian dia pulang.
"Kau sendirian, Seokmin-ah? Mana Soonyoung?" si gadis balik bertanya mengingat pemuda bernama Lee Seokmin yang merupakan mahasiswa tahun pertama di kampus dan lolos audisi klub musik dengan kemampuan suara emasnya tersebut cukup dekat dengan Soonyoung. Mereka banyak menghabiskan waktu bersama, latihan bersama, dan melakukan hal konyol bersama. Keduanya dikenal sebagai duo SoonSeok sang pelawak klub.
"Dia sudah pulang." Seokmin menjawab sambil memetik malas senar gitar di pangkuannya. "Dia bilang ada urusan."
"Oh." Jihoon mengangguk-angguk. "Kalau begitu aku juga duluan ya." Gadis tersebut pamit.
"Noona mau kemana?" pertanyaan cepat Seokmin menghentikan langkah Jihoon.
"Pulang," jawab sang senior.
"Buku itu mau dibawa pulang?" tunjuk Seokmin pada tumpukan partitur yang ada di tangan Jihoon.
"Aku mau mengembalikannya ke ruang musik."
"Kau berani?"
"Maksudmu?" alis Jihoon mengerut dan dia semakin heran ketika melihat perubahan ekspresi Seokmin yang menegang.
"Noona belum tahu?" tanya namja itu dengan suara sedikit pelan seolah dia tidak ingin ada orang ketiga yang mendengar pembicaraan mereka.
"Tahu apa?" balas Jihoon tidak mengerti, menghabiskan waktu hanya untuk kuliah dan membuat lagu sukses membuatnya menjadi mahasiswi paling ketinggalan jaman yang pernah ada. Dia menyadarinya. Miris memang.
Seokmin menurunkan gitar dari pangkuan, meletakkannya dengan hati-hati di lantai panggung berlapis karpet lalu berdiri untuk mendekati Jihoon yang mendongak memandangnya. Pemuda itu berjongkok di tepi panggung yang hanya 30 sentimeter lebih tinggi dari lantai tempat Jihoon berpijak.
"Kau tidak tahu gosip itu, Noona?" Seokmin berbisik.
Alis Jihoon makin keriting. "Gosip apa?"
Adik kelasnya menghela napas panjang, merasa tidak kaget jika senior introvert yang satu itu benar-benar tidak tahu isu terbaru yang ada di sekitarnya dan bukannya hanya pura-pura tidak tahu.
"Aku dengar ini berita baru. Aku belum memastikannya karena aku tidak berani." Seokmin merebahkan pinggul dan duduk bersila. "Kau tahu 'kan di ruang musik kampus ada piano?"
Mata Jihoon menerawang sejenak lantas dia mengangguk. "Piano rusak itu?"
"Eoh." Seokmin mengiyakan. "Yang sudah tidak bisa berbunyi dan karatan." Dia menambahi.
"KATANYA—" namja tersebut memberikan tekanan. "Akhir-akhir ini piano itu sering berbunyi."
Deg! Sesuatu yang dingin seketika berdesir di nadi leher Jihoon. Dia terpaku.
"Sekitar jam delapan malam ke atas ada bunyi piano dari dalam ruang musik dan beberapa hari sebelumnya juga sering terdengar seperti ada orang berjalan di sana."
"Petugas kebersihan mungkin," desis Jihoon.
"Untuk apa petugas kebersihan ada di dalam ruangan yang gelap!?" sentak Seokmin. "Ruang musik selalu gelap setiap malam dan waktu suara piano itu dimainkan juga keadaannya masih gelap."
Jihoon menelan ludah.
"Menurutmu siapa yang bermain piano, Noona?" mata Seokmin lurus mengarah pada gadis mungil di hadapannya yang perlahan juga membawa pusat iris untuk menatapnya.
Jihoon terdiam. Ekspresinya kaku. Mendadak bola mata gadis itu bergerak, memandang ke belakang Seokmin dan mimik mukanya berubah tegang seakan dia sedang melihat sesuatu yang membuatnya kaget.
Deg deg deg, Seokmin merasa isi dadanya berdentum dengan kecepatan penuh menyadari perubahan wajah Jihoon dan kenyataan jika gadis tersebut sedang memandang apapun itu yang ada di belakangnya sementara sekarang hanya ada mereka berdua di dalam studio. Perlahan Seokmin memutar kepala.
"KYAAAAA!"
"AAAAAAAAAARRGHH!"
BRUK!
"HAHAHA!"
Jihoon tertawa kencang-kencang melihat Seokmin terlonjak kaget setengah mati akibat teriakannya barusan, pemuda tersebut sampai melompat dan jatuh dari panggung, melingkar gemetaran di atas lantai.
"Yah! Kau baik-baik saja?" Jihoon tertawa sampai lemas, menggoyangkan badan adik kelasnya yang masih mendengung ketakutan.
"Hiks... Noona, kau jahat sekaliii!" Seokmin menyedot ingusnya masuk lagi ke dalam hidung. "Aku benar-benar takut tahu!"
"Maaf, maaf, maaf, hahaha..." Jihoon masih tertawa. "Habisnya kau terlihat serius sekali membahas itu." Gadis tersebut ngakak di dekat Seokmin yang tidak menjawab.
"Yah, jangan menangis. Aku cuma bercanda. Seokmin-ah!" Jihoon menggoyangkan bahu adik kelasnya.
"Kalau Noona diganggu hantu itu aku tidak akan datang menolong, hiks hiks..." perlahan Seokmin bangun dengan tangan mengusap kedua matanya. Dia benar-benar menangis dan gadis di sampingnya hanya terkejut lalu kembali tergelak.
"Mana ada hantu di dunia ini," ujar Jihoon. "Itu pasti cuma orang yang iseng datang ke ruang musik lalu menyalakan MP3 piano."
"Terserah! Pokoknya kalau terjadi apa-apa pada Noona aku tidak mau datang menolong!" Seokmin cemberut, kedua matanya sembab.
"Ara, ara." Jihoon menepuk pundak junior-nya. "Aku pulang dulu. Kau juga cepatlah pulang, sudah tidak ada orang lain di tempat ini kecuali kita."
"ADA!" seketika Seokmin berteriak. "Baru saja aku melihat ada orang di studio tiga!" protesnya yang hanya dibalas dengan suara tawa lagi oleh Jihoon yang sudah melangkah keluar dari pintu.
.
Hantu apanya, batin Jihoon sambil membelokkan kaki ke koridor panjang menuju ruang musik. Gedung fakultas sudah sepi dan kosong, ruang kelas tertutup dengan beberapa di antaranya terkunci. Suasana hening, Jihoon bahkan sampai bisa mendengarkan suara jantungnya bergerak dan paru-parunya bernapas saking begitu pekat kesenyapan ada di sekelilingnya. Satu per satu lampu menyala otomatis merespon kedatangannya untuk menerangi jalan lalu segera padam begitu sudah dia lewati.
Seokmin benar-benar harus berhenti nimbrung dengan para gadis tukang gosip itu, pikir si gadis mungil prihatin.
Ting ting ting...
Ayunan kaki Jihoon seketika terhenti. Kedua telinganya tegak. Dan entah kenapa badannya tidak bisa digerakkan.
Suara piano?
Tanpa sadar Jihoon menahan napas.
Di jam seperti ini?
Drrt drrt.
Gadis itu mendongak, memandang lampu pijar di atas kepalanya yang mendadak berkedip-kedip tanpa alasan. Dia tertegun, tidak menyadari jika jemari serta rahangnya mulai saling bertaut erat, gemetar samar dalam kecemasan.
"Piano rusak itu?"
"Yang sudah tidak bisa berbunyi dan karatan."
"KATANYA akhir-akhir ini piano itu sering berbunyi."
"Sekitar jam delapan malam ke atas ada bunyi piano dari dalam ruang musik dan beberapa hari sebelumnya juga sering terdengar seperti ada orang berjalan di sana."
Apa mungkin itu benar...
Ting ting ting...
Suara denting piano kembali menggema di sepanjang koridor, mengalir dari ujung ke ujung, seperti membawa hembusan samar angin dingin bersama getar frekuensinya.
Tidak, Lee Jihoon. Hantu itu tidak ada! Jihoon mendekap buku di pelukannya dengan erat, perlahan menggeser kaki ke belakang.
Ting ting ting ting...
Terdengar lagi, kali ini lebih jelas, lebih keras dari sebelumnya. Jihoon memundurkan kaki satu langkah.
Ting ting—pick me pick me pick me up! Pick me pick me pick me up! Pick me—
Eh?
Sejak kapan ada hantu yang memakai lagu Pick Me IOI sebagai ringtone?
Tubuh Jihoon berhenti gemetar dan sebagai gantinya gadis mungil itu beranjak menuju ruang musik dengan langkah cepat. Jangan sampai yang dia temukan nanti adalah pencuri dan bukan hantu. Kalau itu terjadi, dia tidak akan melepaskannya begitu saja.
Brak! Jihoon membuka pintu ruang musik dengan kasar, napasnya terengah karena berlari dan segera dia merambatkan tangan di dinding untuk menyalakan saklar lampu.
Ctak! Seketika sepasang mata kecil gadis tersebut melotot melihat ada sebuah tangan terulur dari bawah piano hendak meraih ponsel yang tergeletak menyala di lantai. Sepertinya terjatuh. Dan Jihoon sangat mengenali benda datar dengan merk bergengsi tersebut.
"KWON SOONYOUNG!" panggilnya tanpa harus bertanya, menghentikan gerakan tangan putih yang belum berhasil mengambil ponselnya.
"Apa yang kau lakukan di sini!?" pertanyaan Jihoon terlontar dengan nada tajam, napas keluar dari hidungnya sebagai sebuah dengusan, dan dia benar-benar kesal entah untuk alasan apa.
Tangan putih menarik diri ke bawah piano, sebagai gantinya perlahan muncul sebuah sosok yang terhalangi benda besar berwarna hitam itu. Soonyoung berdiri dengan gugup, jarinya menggaruk kepala yang tidak gatal, dan dia menunduk, tidak berani mempertemukan mata dengan Jihoon yang melibasnya dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau lakukan di sini!?" Jihoon mengulang pertanyaannya.
"A-anu... itu..." suara Soonyoung terdengar kecil.
"Kau mau mencuri!?" tuduh si mungil langsung membuat namja yang seumuran menoleh padanya.
"Tidak! Aku tidak mau mencuri! Tidak! Sungguh!" Soonyoung mengibaskan tangan sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Lalu apa yang kau lakukan di sini!?" bentak Jihoon galak. "Bermain piano malam-malam dan mematikan lampu. Kau mau membuat sensasi!?"
"Bukaaan~" Soonyoung merengek. "Dengarkan dulu penjelasanku, Jihoon-ah. Jangan marah dulu," bujuknya.
"Bagaimana bisa aku tidak marah? KAU SUDAH MEMBUAT TAKUT SEISI KAMPUS!" Jihoon meledak.
"Aku tahu, aku tahu, aku tahu!" balas Soonyoung. "Aku minta maaf kalau sudah menakuti kalian, tapi sungguh aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Aku harus menyetel piano ini, aku harus mencoba memainkannya untuk bisa tahu kerusakan yang lain." Pemuda tersebut bicara dengan cepat.
"MENYETEL APA MAKSUD—eh? Piano?" mata Jihoon membulat, di depan sana Soonyoung mengangguk melas.
"Aku sedang menyetel piano." Namja itu mencicit, sangat cocok dengan wajahnya yang sudah mirip dengan bayi marmut.
Jihoon terdiam, menatap piano tua yang sudah bertahun-tahun disimpan di ruang musik sebagai pajangan tanpa pernah dimainkan satu kali pun sebab ada banyak bagiannya yang sudah berkarat serta tidak bisa berbunyi saking lawasnya. Perlahan gadis tersebut memindahkan pandangan pada Soonyoung, baru menyadari jika penampilan pemuda itu sedikit kotor. Ada bercak kecoklatan di pipi serta kerah bajunya yang mirip dengan noda minyak dan saat Jihoon menurunkan mata dapat dia lihat ujung jari Soonyoung semuanya nampak menghitam.
"Aku sudah selesai membersihkan karatnya, hanya tinggal menyetel saja. Tapi itu sangat sulit karena ternyata ada beberapa tuts yang harus diganti." Pemuda bermata sipit menjelaskan tanpa diminta. Dia beranjak untuk mengambil ponsel yang sudah kembali gelap layarnya di lantai. "Kenapa Seokmin menelponku jam segini?" desisnya heran.
"Kau... memperbaiki piano ini?" tanya Jihoon terbata. Soonyoung menoleh.
"Tidak." Dia menjawab. "Aku tidak sepintar itu sampai bisa memperbaiki piano. Aku cuma mau membersihkan karat di tempat yang penting dan menyetel ulang. Setidaknya sampai benda ini bisa berbunyi lagi." Soonyoung tersenyum.
"Kau bisa bermain piano?" mata Jihoon menatap lekat namja yang kemudian beranjak mendudukkan diri di kursi berhadapan dengan salah satu instrumen musik terbesar itu.
"Aku bisa memainkannya lebih baik daripada gitar." Soonyoung menekan satu tuts dengan ujung jari, diikuti oleh jari lain, dan dalam sekejab kesepuluh jemari pemuda tersebut sudah bergantian menari di atas balok hitam-putih memperdengarkan sebuah melodi merdu yang seakan menghipnotis Jihoon di tempat dia berdiri. Nyaris tanpa berkedip gadis tersebut memandang pergerakan jari Soonyoung, keluwesan pergelangan tangannya, dan bagaimana dia mengulum senyum seolah dirinya sendiri pun ikut larut ke dalam dentingan indah yang serupa untaian permainan sihir.
Tuk, permainan Soonyoung terhenti ketika kelingkingnya menekan sebuah tuts namun tidak ada suara keluar dari sana.
"Masih banyak yang harus diganti." Namja itu nyengir pada Jihoon yang bergeming memandangnya. Soonyoung menelengkan kepala. "Kau baik-baik saja?" tanyanya karena gadis mungil galak yang selalu berteriak berang padanya tersebut mendadak menjadi sangat pendiam.
"Jihoon-ah?" panggil Soonyoung sedikit khawatir. Dia bangkit dari kursi dan mendekati Jihoon yang cuma mengikutinya dengan tatapan mata lekat.
"Kau masih sadar 'kan? Kau masih Jihoon 'kan? Jangan bilang kau kerasukan." Soonyoung memegang bahu sempit di depannya dengan cemas.
Namun Jihoon tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap Soonyoung lurus.
"Kenapa kau tidak bilang kau bisa bermain piano?" akhirnya suara keluar dari celah bibir tipis gadis itu.
"Oh, itu karena..." Soonyoung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku lihat tidak ada anggota klub yang pernah bermain piano. Memang ada yang bisa keyboard tapi 'kan keyboard berbeda dari piano."
Perlahan pandangan mata Jihoon turun.
"Kau suka piano?" tanya Soonyoung hati-hati.
Kepala coklat Jihoon mengangguk tanpa pikir panjang. "Aku paling suka piano," desisnya dengan nada tulus. Ada kelembutan tak terelakkan terpancar dari kedua mata yang biasanya menatap tajam dan untaian senyum terkulum indah pada bibir merah muda, melengkapi kecantikan paras yang tidak pernah dapat ditolak oleh Soonyoung sejak pertama kali dia melihat dan bertemu gadis mungil tersebut di loket pembayaran administrasi mahasiswa baru setahun yang lalu.
Kini ganti Soonyoung yang lekat menatap Jihoon dan senyumannya.
"Jihoon-ah," namja tersebut mendesis membuat kepala berambut coklat dengan poni itu mendongak dan yang terjadi setelahnya tidak dapat diproses dengan cepat oleh otak Jihoon.
Sesuatu yang lembut mendarat menyentuh mulutnya bersamaan dengan mata Soonyoung terpejam dan berada sangat dekat di depannya. Perlahan bibir tersebut bergerak, menekan mulutnya, memijat dengan sangat pelan, seiring dapat dia hirup hangat napas yang dibuang Soonyoung tepat di depan hidungnya.
-o-
Menghela napas panjang, Soonyoung memandang pantulan dirinya sendiri di permukaan cermin. Wajah basah, rambut poni basah, bawah mata menghitam dengan pupil dihiasi garis-garis urat merah. Namja itu kembali membuang napas, memutar tuas westafel, mengisi permukaan tangannya dengan air lantas sekali lagi mengulap muka.
Dia terdiam sejenak, menunduk, membiarkan titik-titik air berjatuhan dari ujung dagu serta hidungnya mengenai permukaan porselen westafel kamar mandi yang sudah terasa lengang dan sepi. Kantor memang sudah nyaris tak berpenghuni ditinggalkan para karyawan yang jam kerjanya telah berakhir tiga puluh menit lalu bahkan Wonwoo, sekretaris pribadi Soonyoung juga ikut meminta ijin pulang dengan alasan punya urusan yang Soonyoung yakin hanyalah sebuah kencan bersama salah satu dari sekian banyak wanita koleksinya.
Karakter manusia itu memang tidak bisa ditebak. Bagaimana mungkin seorang sekretaris yang seharusnya menjadi bayangan atasan, selalu mendampingi dan siap setiap saat memberi bantuan bisa meninggalkan bosnya begitu saja. Bahkan dengan alasan pribadi yang sungguh tidak masuk akal. Namun Soonyoung tidak ingin banyak menuntut Wonwoo, karena pada kenyataannya alasan dia masih tinggal di kantor justru lebih sepele daripada pemuda itu. Soonyoung malas pulang. Dia malas melihat rumahnya. Dia malas berhadapan dengan kedua orang tuanya, dengan ayahnya yang selalu diam tapi memberikan tatapan meminta jawaban dan ibunya yang tak berhenti mengoceh soal pernikahan dengan Eunha.
Soonyoung lelah. Secara fisik dan mental dia benar-benar lelah.
Waktu berlalu namun pria tersebut masih bergeming, meletakkan tangan di kedua sisi westafel dengan mata sipit memandang lurus ke lubang pembuangan. Begitu lekat Soonyoung menatap lubang itu seolah dia ingin memasukkan diri ke dalamnya, ikut terbuang bersama dengan air yang sedari tadi dia kucurkan tanpa tujuan sama seperti hidupnya sekarang setelah mencampakkan satu-satunya orang yang bisa membuatnya termotivasi dan berjanji pada diri sendiri harus dapat melindungi serta membahagiakan dia.
Lee Jihoon.
Cinta pertamanya.
Gadis dengan karakter berbeda dari semua wanita yang selama ini dia temui.
Gadis galak namun begitu cantik dan menggemaskan. Gadis tegas dan mandiri yang akan berteriak heboh ketika melihat laba-laba. Gadis bertubuh mungil namun nyatanya pernah hampir melemparnya dengan sebuah meja di hari mereka bertemu saat audisi klub musik. Gadis yang selalu bicara ketus padanya namun punya tatapan begitu lembut ketika melihatnya bermain piano. Gadis yang istimewa, yang tidak pernah dapat Soonyoung temukan selama delapan belas tahun hidup mewahnya sebagai seorang anak tunggal pemilik perusahaan besar di kota metropolitan Seoul.
Dan saat dia menemukannya, dia melepasnya.
Soonyoung menundukkan kepala lebih dalam, mencengkeram tepi westafel kuat-kuat, seiring dengan terbayang kembali raut wajah Jihoon di kafe tempo hari, perubahan garis matanya ketika mendengar perkataan Soonyoung mengenai pernikahan bersama Eunha. Ada rasa terkejut di sana, dan sedih, juga gurat terluka. Tapi seperti dugaannya, Jihoon adalah seorang yang kuat yang tak akan goyah hanya dengan sedikit kejutan, dia tidak akan membiarkan dirinya rapuh oleh semua emosi sesaat yang sejatinya tidak penting. Sikap tenang gadis itu menjadi buktinya. Namun Soonyoung tidak memperkirakan jika Jihoon kemudian akan memberinya selamat.
Kenapa?
Padahal pria itu yakin Jihoon tidak menyukai kata-katanya. Mereka pernah bersama, mereka pernah lebih dari menjalin kasih dan menghabiskan siang-malam berdua. Soonyoung sangat mengenal Jihoon, dia dapat menebak isi pikiran gadis tersebut hanya dengan melihat perubahan wajahnya yang mana juga bisa dia gunakan untuk membongkar kebohongannya. Oleh karena itu Jihoon tidak pernah berhasil menipu Soonyoung.
Dan kali ini pun lagi-lagi dia tidak berhasil melakukannya.
Soonyoung tidak bisa dibohongi, namun kebenaran yang ada juga tidak dapat memberi bantuan apapun.
Buntu.
"Ahh..."
Telinga Soonyoung mendadak tegak seiring dengan kedua bahunya mengikuti bangkit.
Apa itu? Dia bertanya dalam hati.
"Tolong..."
Suara tersebut terdengar lagi. Seperti rintihan seorang wanita. Soonyoung tidak berpikir jika itu hantu sebab tidak ada tanda-tanda makhluk halus datang seperti yang selalu ada di film-film tontonan Wonwoo; lampu berkedip-kedip, angin dingin, air kloset yang menyiram sendiri, maupun suara tapak sepatu.
"Siapapun, tolong...!" kalimat itu terulang lagi, seolah sedang dalam keadaan genting, disusul rintihan wanita yang menahan sakit.
"Tolong..."
Soonyoung beranjak keluar toilet, mengedarkan pandangan.
"Kau dimana?" suaranya menggema hingga ke ujung koridor karena memang suasana kantor sudah sunyi. Tak ada siapapun yang tersisa di dalam gedung belasan lantai tersebut, para cleaning service biasanya baru datang besok dini hari untuk bersih-bersih.
"Halo!" Soonyoung berseru lagi.
"Di sini! Di sini! Aku di sini! Aaaa!" teriakan kuat itu berakhir dengan erangan panjang. Soonyoung bergerak, masuk ke toilet wanita, melewati tempat westafel untuk cuci muka langsung menuju bilik yang dipenuhi dengan kamar mandi berhadap-hadapan. Begitu langkah kakinya berhenti, sepasang mata sipit tersebut membelalak lebar demi melihat ada genangan darah mengalir dari dalam salah satu pintu toilet yang tertutup.
"Yah, apa kau sedang apa!?" Soonyoung berteriak kaget. Perutnya tiba-tiba mual mencium bau amis darah memenuhi hampir seluruh kotak sempit toilet.
"Tolong. Aku mohon tolong aku." Wanita itu terdengar sangat menyedihkan. "Aku sudah tidak tahan lagi. Aku tidak mau melahirkan di sini. Bawa aku ke rumah sakit!"
Sekali lagi mata Soonyoung melotot. "MWO!?"
-o-
Plok, plok. Mata Jihoon mengerjab dalam gelap ketika merasa wajahnya dipukul oleh seseorang.
"Maemamamaph—" menyusul sesuatu yang hangat dan basah mencium—bukan—mengemut sebelah pipinya.
"Chan-ah..." Jihoon mengeluh, menggerakkan lengan dengan malas meraih buntalan popok yang terasa lembab di telapak tangannya dan perlahan menarik tubuh mungil itu untuk kembali berbaring di kasur. Jihoon menyeka pipi yang basah oleh air liur Chan, membalikkan badan telentang dan menggeliat, merenggangkan kedua tangan serta kakinya sambil menguap lebar.
"Kyaaa!" Chan memekik senang melihat ibunya sudah bangun, dia segera membalikkan badan tengkurap lalu merangkak mengejar Jihoon yang hendak memiringkan badan membelakanginya. Dengan cepat bayi tersebut menggenggam kain baju Jihoon.
"Uwaamamama." Kemudian merangkak ke atas badannya dan menjatuhkan diri di dada sang ibu. Chan mengoceh sambil menguselkan wajah ke kancing baju Jihoon.
"Jam berapa sekarang, Chan-ah? Kenapa kau sudah bangun? Aish..." Jihoon mengeluh gusar, tanpa membuka mata wanita muda itu melepas beberapa kancing baju dan memperlihatkan sebelah dada yang langsung diraup rakus oleh mulut lapar Chan. Dengan lahap bayi tersebut menyedot air susu Jihoon hingga sang ibu meringis merasakan isi dada yang berdesir kuat. Dia meraih badan buah hatinya, memperbaiki posisi Chan yang masih menyusu dan menidurkannya kembali di atas tempat tidur. Wanita itu menarik ujung selimut, menutupkannya pada punggung Chan sebelum mendekap makhluk mungil tersebut dalam kehangatan.
"Mmmm." Chan masih sempat menggumam bahkan ketika makanan mengisi penuh mulutnya yang mungil. Dia menggenggam baju Jihoon, berhenti minum sejenak untuk membuang napas panjang dan melanjutkan sambil perlahan menutup mata, merasa nyaman oleh pelukan ibunya serta suara napas teratur yang kemudian ikut membawa si kecil kembali ke alam mimpi.
-o-
Di pagi yang sama di tempat lain, sebuah lengan kurus terulur merabai permukaan nakas mencari ponsel yang menjadi sumber suara telpon yang membangunkan mata dari kepungan indah alam bawah sadar penuh kemanjaan. Begitu jari-jemari bercat kuku cantik tersebut berhasil menemukan benda yang dia cari, melodi panggilan masuk itu sudah berhenti. Dia menggeser badan sedikit ke belakang, membawa lapisan tebal selimut bersamanya untuk menutupi tubuh polos hingga sebatas dada, menyandarkan punggung di kepala ranjang, setengah duduk untuk memeriksa siapa yang barusan menelponnya.
Klek, terdengar suara pintu di sebelah lampu tidur terbuka. Kepala berambut panjang tersebut menoleh dan bibirnya yang sudah bersih dari jejak lipstik seketika tersenyum.
"Kau sudah bangun?" suara berat Wonwoo menyapa, air menitik segar dari ujung rambutnya yang masih nampak basah sementara kemeja sudah menggantung rapi di kedua bahu lebar dan kaki tertutupi celana kain yang bersih.
"Kau sendiri? Mau kemana jam segini mandi?" gadis yang masih berbaring di tempat tidur balik bertanya, meletakkan ponsel kembali ke nakas dan beranjak turun dari tempat tidur bersama selimut yang dia biarkan membungkus tubuhnya serupa lumpia. Dia melingkarkan lengan di pinggang Wonwoo, menempelkan kepala pada pria yang sedang menyalakan pengering rambut di depan meja rias.
"Jangan pergi. Jam kantor 'kan masih lama~" suara gadis tersebut terdengar mendayu, dibuat lucu, dan penuh aegyo seperti anak kecil. Dia mengeratkan pelukan, menghirup dalam-dalam aroma sabun hotel yang menguar dari balik kaos yang melapisi kulit Wonwoo.
"Ada banyak rapat hari ini. Aku harus datang lebih awal untuk mempersiapkannya," ujar Wonwoo, sedetik kemudian suara alat pengering rambut mendengung berisik.
"Tapi kau juga harus 'mempersiapkan' aku 'kan?" si gadis masih merajuk membuat pria di pelukannya terkekeh kecil.
"Kau benar-benar kyeo." Wonwoo memuji tanpa ketulusan namun satu kalimatnya itu sudah berhasil membuat senyuman lebar merekah di wajah cantik gadis yang mendekap dia penuh protektif.
"Kau mengatakannya lagi." gadis tersebut berdendang riang. "Semalam juga kau mengatakannya, kalau aku kyeo. Jadi, apa itu berarti kau menyukaiku? Apa sekarang kita berkencan?"
Wonwoo hanya tersenyum.
"Aku akan memberitahu semua orang kalau kau menyukaiku. Termasuk para gadis yang pernah tidur denganmu. Aku akan menyuruh mereka untuk berhenti mengejarmu karena sekarang kau milikku!" si gadis bersorak senang.
Senyuman Wonwoo perlahan pudar.
Milikmu?
Laki-laki itu membalikkan badan, menatap tajam dua mata yang mendongak cerah padanya. Perlahan dia menundukkan kepala, mendaratkan sebuah kecupan di bibir tipis yang menyambutnya dengan kuluman namun Wonwoo segera menarik diri.
"Kau bisa bersantai lebih lama di sini, aku sudah membayar kamar ini sampai sore nanti." pria tinggi tersebut tersenyum kecil lantas beranjak dari depan meja rias.
"Apa sore ini kau akan menemuiku lagi?" satu pertanyaan itu membuat gerakan Wonwoo yang hendak memakai blazer terhenti, sebagai gantinya dia hanya menyampirkan benda tersebut di pundak.
Wonwoo menoleh, senyuman simpul menggantung di bibirnya. "Aku akan menghubungimu." Ia berbalik dan berjalan menuju pintu kamar.
"Jangan lupa telpon ya! Aku menunggumu!"
Blam, Wonwoo menutup pintu dan segera mengambil ponsel. Dia membuka aplikasi kontak lantas menghapus sebuah nama beserta nomor telpon yang sejatinya milik gadis yang barusan ia tinggalkan di dalam kamar hotel tanpa pikir panjang.
"Merepotkan saja," desis Wonwoo dengan sorot mata datar.
-o-
Laju sedan hitam yang membelah jalanan mulus kota metropolitan Seoul di pagi sebelum para remaja berseragam sekolah bahkan menjejakkan kaki mereka keluar pintu rumah, mendadak menurunkan kecepatan dan perlahan meminggirkan diri di tepi kanan nyaris bergesekan dengan beton trotoar. Jeon Wonwoo, pengemudinya yang juga seorang laki-laki muda berbakat lulusan universitas luar negeri dan kini tengah mengabdikan diri pada sebuah perusahaan bergengsi dengan jabatan sebagai asisten pribadi General Manager, melepaskan lingkaran kemudi setelah mobil benar-benar berhenti dan merogoh saku blazer, mengambil sebuah ponsel yang masih berbunyi yang barusan menjadi alasan dia menghentikan kendaraannya.
"Halo, Jeon Wonwoo di sini." Wonwoo menyapa lebih dulu.
"Soonyoungie? Maaf, saya belum bertemu dengannya hari ini, PresDir. Saya baru akan ke kantor untuk mengeceknya." Dia menjawab dengan suara berat yang tenang.
"Ah, benarkah?" bola mata Wonwoo bergetar sesaat. "Lalu bagaimana?" cemas tersirat singkat di wajahnya yang dominan datar.
"Baiklah, saya mengerti. Kalau begitu saya minta ijin sebentar dari perusahaan, ada sesuatu yang ingin saya kerjakan pagi ini," ucapnya. "Iya—maksud saya, tidak. Tidak perlu, saya bisa mengatasinya sendiri, PresDir tidak perlu membantu."
"Iya, maaf. Saya akan melihat keadaan Soonyoungie setelah ini. Iya PresDir, sama-sama. Ne, selamat pagi." Wonwoo mengakhiri panggilan. Dia menggenggam ponsel untuk sesaat, matanya menatap tajam ke depan, dan di detik selanjutnya dia melempar benda datar tak berdosa itu ke dasbor.
Wonwoo menginjak pedal gas dengan kasar, membiarkan mobil yang dia kemudikan melompat dalam kecepatan penuh.
Tak 'kan kulepaskan kau, Lee Jihoon.
-o-
Brak. Tumpukan buku partitur musik di tangan Jihoon terjatuh, berceceran di lantai seperti sampah sementara gadis yang baru saja memegangnya tengah membeku laksana patung, bergeming bahkan ketika bibir Soonyoung sudah melepasnya miliknya yang sedikit terbuka karena terkejut. Mata kecil Jihoon mengikuti pergerakan pemuda di hadapannya yang sedikit menunduk untuk menatap dia yang memang kecil mungil. Warna mengkilat bekas lipgloss strawberry terlihat menempel samar di permukaan bibir Soonyoung, menyadarkan si gadis akan apa yang barusan terjadi.
Pipi Jihoon terlambat merona. Jantung berpacu di detik selanjutnya.
"Aku..." suara Soonyoung terdengar bergetar dan tangannya benar-benar gemetaran.
"Aku sudah menyukaimu sejak lama. Setahun lalu. Tapi mungkin kau tidak tahu ini, Lee Jihoon," desis pemuda tersebut.
"Aku..." dia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat karena gugup. "Aku... aku ingin jadi pacarmu!"
Apa yang dikatakan namja ini? Batin Jihoon. Apa dia gila? Apa dia mabuk? Apa sesuatu di dalam otaknya ikut berkarat seperti tuts piano itu?
Mendadak Jihoon ingin menampar keras-keras wajah bermata sipit di hadapannya sekarang dan dia melakukannya.
Sebelah tangan putih melayang.
PLAK!
-TBC-
Setelah sekian lama, akhirnya mereka bisa ada di sini lagi
Maapin krn lama ga update mereka :"
Melanjutkan cerita ini adalah hidayah yg datang dari One Fine Day Japan Episode 3 sama 4 :"
Yahh meski momen cuma secuil kek biasa
Meski momennya ga wah kek biasa
Aku tetap lope-lope SoonHoon :"
Siapa itu SoonHoon? Makhluk mana mereka? *efek ga ada momen*
