Cinta itu rasa yang harus dirasakan dan disadari. Beberapa orang tidak butuh latihan khusus untuk menyadari cinta namun ada juga yang harus ditampar supaya tahu ada cinta di dalam hatinya, Kwon Soonyoung misalnya.
Kisah melodrama ala-ala kopel cimol SoonHoon kembali berlanjut. Pesan author; jangan gregetan. Sekian.
#soonhoon #seventeen #gs #t
Say Yes
6
"Aaa!" sebuah teriakan suara kecil menggema di pagi di tengah-tengah petak rumah kecil yang hanya terbagi atas satu kamar tidur, satu dapur, satu toilet, dan satu ruang duduk yang sekaligus digunakan sebagai ruang makan.
"Maaa!" suara yang sama berteriak lagi kali ini dengan nada lebih merajuk saat menyadari tidak ada yang menjawabnya. "Mmamamaa!" dia melanjutkan mengoceh.
"Iya, sebentar. Eomma sudah dengar. Sebentar," Jihoon menyahut dari arah dapur, di antara denting perkakas masak yang sedang dia bersihkan sehabis dipakai, di ruang duduk nampak beberapa piring berisi makanan panas juga sudah tersedia di atas meja siap untuk disantap.
"Mmaaa... huwee..." rajukan berubah menjadi rengekan membuat Jihoon mempercepat kesibukannya.
"Eh eh eh, Eomma 'kan sudah bilang sebentar. Kalau Eomma bilang sebentar artinya sebentar. Tidak perlu cengeng begitu." Wanita muda tersebut setengah berlari keluar dapur menuju kamar tidur yang bisa dicapai hanya dalam beberapa langkah.
"Yah, apa yang kau lakukan?" omelannya berubah menjadi cekikikan ketika melihat Chan, anak semata wayang yang belum genap berusia setahun, berada di pinggir tempat tidur menempel pada jeruji kayu yang menghalangi gerakannya supaya tidak terjatuh. Bayi itu memaksa menyelipkan muka chubby-nya di antara jeruji kayu halus membuat hidung mungil dan pipi tembam tergencet menjadi tiga bagian. Belum termasuk bagaimana dia mengulurkan tangan ke depan melewati batas ranjang, menggapai-gapai udara dengan kesepuluh jemari pendeknya.
"Amma!" Chan berseru senang melihat sosok ibunya muncul di pintu. "Amamama," segera dia kembali mengoceh sembari mengayun-ayunkan tangan dan menendangkan kaki sementara Jihoon tertawa mengakui betapa menggemaskan tingkah bayi laki-lakinya satu itu.
"Kau mirip slime yang dipenyet kalau begini." Wanita muda tersebut membalik posisi tengkurap Chan lalu mengangkat ketiaknya untuk kemudian diletakkan di gendongan. "Pipimu terjepit seperti mau tumpah-tumpah." Ia mengusap bekas kemerahan jeruji kayu yang menempel di muka bayinya membuat Chan menutup mata dan memalingkan wajah, sebagai gantinya malah menguselkan kepala ke dada Jihoon.
"Uwawawa," bayi tersebut bicara dengan bahasanya sendiri, dia membuka mulut dan mengemuti kain baju Jihoon.
"Kau mau minum? Tapi Eomma belum makan," ujar Jihoon seolah mengerti kalimat anaknya dibalas celotehan lebih panjang oleh Chan dan jemari gemuk yang menarik pakaian gadis itu memberi isyarat untuk segera membuka baju untuk mengabulkan permintaannya. Namun bukan Jihoon namanya jika tidak mengerjai anaknya sendiri.
"Eomma bilang Eomma belum makan. Nanti saja setelah Eomma makan. Oke?" Jihoon menjentikkan jari seolah bayinya akan mengerti apa yang ia katakan. Chan, yang tentu saja sama sekali tidak paham dengan apa yang dimaksud sang ibu, cuma bisa terus merengek dan mengoceh, mengganggu Jihoon yang sudah duduk di ruang makan, menghadap meja, dan mulai memegang sumpit.
"Jangan. Berhenti. Jangan ganggu Eomma." Jihoon kewalahan menghindarkan sumpit dari jangkauan tangan Chan di pangkuannya. "Kalau kau tidak membiarkan Eomma makan, kau juga tidak bisa minum susu—Chan-ah, yah~" Jihoon mulai kesal.
"Mmaa! Aaa!" nada suara Chan meninggi. Rasa lapar membuatnya ikut kesal. Dengan kuat dia menendang-nendangkan kaki dan menarik baju ibunya. Menguselkan wajah ke dada Jihoon sambil sesekali mencoba mengambil sumpit gadis itu untuk meminta perhatian.
Jihoon menggerutu sambil mengunyah sarapannya. "Kemana Kim Mingyu dan Hong Jisoo di saat begini. Aish," desisnya sembari menjauhkan sang bayi dari meja makan.
"MMAAA!" Chan mulai marah. Wajahnya memerah.
"Ah, jangan mulai." Jihoon mengeluh. "Mana ada di dunia ini seorang ibu bertengkar dengan anak bayinya sendiri selain aku."
"MMAA... huwaaa!" benar saja, sedetik kemudian tangis andalan Chan memecah pagi Lee Jihoon yang indah.
"Ara ara ara, kau menang. Inilah yang membuatku jadi malas makan." Wanita muda itu menyerah, menarik ke atas kaos oversized-nya dan menurunkan salah satu cup bra untuk memperlihatkan puting susu yang lantas langsung disambut gembira oleh anaknya. Tangisan Chan berhenti seperti tidak pernah terjadi sebelumnya. Dengan riang dia menghisap sarapannya, meneguk susu sebanyak-banyaknya sambil tangannya menepuk-nepuk pelan dada Jihoon yang lain dan kaki bergerak seolah sedang menari.
"Senang kau sekarang? Senang? Huh? Tuan Lee Chan?" tanya Jihoon, dengan gemas mencubiti pipi gembul anaknya membuat Chan tersenyum meski mulut masih sibuk menyedot air susu ibunya.
Jihoon tersenyum, merapikan rambut hitam Chan yang halus dan dengan lembut membersihkan kotoran di kedua sudut mata bayi tersebut. "Kyeopta," bisiknya sayang.
"Anak siapa kyeopta begini? Anak siapa lucu begini? Anak siapa ganteng sekali ini? Anak Eomma. Channie anak Eomma. Iya? Kau anak Eomma? Hmm?" Jihoon membuai bayinya tanpa henti, menciumi pipi tembam Chan, dan mengecupi telapak tangannya membuat si buah hati tersenyum serta terkekeh tanpa menghentikan kesibukannya minum.
Tok, tok, tok, mendadak terdengar suara ketukan di pintu depan.
"Ah, Kim Mingyu," tebak Jihoon. "Kenapa dia baru datang sekarang?" dengan hati-hati gadis itu berdiri sambil tetap membawa Chan di gendongannya. Dia menutupkan kaos sebisa mungkin pada bayinya yang juga bermaksud untuk menutupi kulit tubuhnya yang terekspos. Chan sendiri tidak keberatan ditutupi yang penting mulutnya masih dibiarkan terisi penuh oleh makanan.
Tok, tok, tok. Ketukan kembali terdengar yang kali ini lebih keras dari sebelumnya.
"Kenapa kau memukuli pintuku, Kim Mingyu? Biasanya juga kau langsung masuk—" omel Jihoon sambil membuka pintu rumah yang tidak terkunci dan ekspresi wajahnya tercenung untuk sesaat.
Hening merayap di tengah spasi antara dua orang yang berdiri saling menatap satu sama lain. Jihoon yang lebih dulu mengoyak kesunyian itu.
"Kenapa kau ke sini?"
"Kau masih mengingatku, Lee Jihoon?" balas lelaki tinggi bersuara dalam yang memori tentang sosoknya masih ada sisa di dalam kepala Jihoon.
"Tentu saja. Kau... Jeon Wonwoo?"
-o-
Cruuus, sesosok badan tegap berdiri di depan westafel yang tidak berhenti mengucurkan air deras. Rambut hitamnya basah, wajahnya basah, kedua tangannya basah, dan kemeja putihnya berwarna merah oleh ceceran darah. Banyak orang yang masuk-keluar toilet bergantian menatap dia namun itu sama sekali tidak membuatnya beranjak. Ia tetap berdiri di sana, diam, memandang aliran air yang seperti sedang menenggelamkan pikirannya perlahan ke dimensi lain.
Wajah Soonyoung pucat, tatap matanya kosong, dan air yang menetes dari ujung hidungnya sama sekali tidak jelas apa itu air yang barusan dia basuhkan ke wajah atau air dari matanya.
Semua berawal saat tengah malam lalu di salah satu toilet wanita di bangunan kantor yang sudah mulai sepi. Soonyoung hanya berniat membasuh muka, seperti sekarang, ketika malah menemukan salah satu pegawainya merintih kesakitan dengan tangan memegang perut buncit yang tidak berhenti mengalirkan darah ke kedua kaki.
"Saya mohon tolong saya, Pak. Saya sudah tidak kuat lagi. Rasanya sangat sakit sampai saya tidak bisa berjalan." Wanita itu menangis dengan kening yang sudah banjir keringat dan Soonyoung tentu saja tidak bisa menolak. Tak hanya nyawa satu orang yang sedang dipertaruhkan melainkan dua. Dengan cepat dia segera menelpon rumah sakit tempat Raina bekerja, minta dikirim ambulans sementara dirinya sebisa mungkin membopong wanita tersebut, membawanya turun ke lantai paling bawah supaya tim medis bisa lebih mudah menemukan mereka.
Bayangan itu tidak bisa hilang dari kepala Soonyoung. Pemandangan seorang wanita yang sedang menahan sakit luar biasa karena akan melahirkan. Bagaimana dia mengerutkan alis dan menutup matanya dengan mulut tidak berhenti mengaduh. Bagaimana dia meraih tangan Soonyoung dan meremasnya kuat untuk sekedar mencari tambahan kekuatan karena rasa sakit itu tidak main-main. Dan bagaimana Soonyoung tidak dapat menghindarkan mata dari darah yang terus-menerus keluar di antara kedua kaki wanita tersebut.
Semenderita itukah melahirkan bayi? Para wanita mungkin sudah tahu bagaimana sulit melahirkan anak namun mereka masih saja bahagia saat tahu dirinya hamil, mungkin mereka hanya senang karena bisa melihat orang-orang di sekitarnya juga gembira meski nanti yang menunggu hanyalah rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan. Dan para lelaki, seperti Soonyoung, tidak dapat melakukan apa-apa untuk menggantikan menanggung rasa sakit itu dan cuma bisa mengagumi betapa lucu anak mereka setelah lahir tanpa sedikit pun menyadari besar perjuangan para wanita yang mengeluarkannya.
Soonyoung tidak bisa meninggalkan pegawai perempuan itu, walau dia tidak kenal siapa dia dan belum pernah melihat wajahnya yang mungkin karena dia dari divisi berbeda. Tapi melihat ekspresi kesakitannya dan bagaimana dia memegang erat tangan Soonyoung meminta dukungan, entah kenapa membuat pemuda tersebut ingin terus ada di sisinya.
"Pak, saya takut," tangis wanita itu saat sudah berada di dalam ambulans, tidak mengindahkan instruksi perawat mengenai cara bernapas ketika bersalin dan sebagainya.
"Suami saya sedang dinas di luar kota. Ini anak pertama kami dan dia sama sekali tidak tahu saya akan melahirkan sekarang. Saya takut sendirian, Pak," dia terisak memelas membuat mata Soonyoung ikut panas.
"Saya mohon temani saya, Pak. Tolong..." pintanya dengan tangan gemetar memegangi selimut dan Soonyoung tahu dia harus meraih jemari itu sekedar untuk memberi sedikit kekuatan.
Ambulans sampai di rumah sakit tepat waktu.
"Apa saya akan baik-baik saja, Pak?" wanita muda tersebut nampak sudah putus asa di antara rasa sakit yang lebih dari cukup menderanya.
"Kau akan baik-baik saja. Kau harus kuat. Demi anakmu, kau harus berusaha." Soonyoung mencoba mencari kalimat penyemangat terbaik. "Aku akan memberitahu suamimu nanti, jadi bertahanlah. Ne?"
Entah kenapa senyuman yang kemudian muncul di wajah penuh kesakitan wanita itu bisa memunculkan sebuah kesejukan tersendiri di dada Soonyoung. Untuk pertama kalinya dia merasa begitu dihargai sudah bisa membuat seseorang tersenyum dan senang di tengah kondisinya yang sulit. Ada rasa bahagia yang aneh ketika wanita tersebut mempercayai kata-katanya dan menjadi lebih bersemangat karena dia. Inikah sumber kekuatan seorang suami yang sebenarnya? Rasa percaya dan bahagia dari istri yang menghargai dia. Soonyoung tidak tahu, sebab dia belum pernah merasakannya, menjadi seorang suami apalagi seorang ayah.
"Apa yang kau lakukan di sini?" suara Raina membuat Soonyoung terjengat di tempatnya berdiri yang memandang pintu ruang bersalin.
"Aku mengantar pegawaiku. Dia mau melahirkan," jawab pemuda itu jujur, tangannya menunjuk pintu di hadapannya dan nampak Raina juga mengevaluasi penampilan Soonyoung yang berantakan serta penuh darah.
"Pergilah," cetus dokter tersebut kemudian.
"Kenapa? Aku ingin menunggu sampai selesai," tolak Soonyoung.
"Pergi sekarang." Kalimat Raina berubah tegas.
"Aku tidak mau. Aku mau menunggu sampai bayinya lahir. Dia pegawai kantorku, suaminya sedang dinas dan tidak ada yang menemani dia—"
"Aku bilang pergi sekarang!"
"Kenapa kau melarangku di sini!? Apa salahku!?" Soonyoung meninggikan suara.
"Apa salahmu?" Raina menyeringai. "Yah—" dia meraih kerah kemeja saudara sepupunya.
"Apa salahmu, kau bilang?" wanita muda itu berbicara dengan geraham mengetat. "Kau itu penuh dengan kesalahan dari ujung kepala sampai ujung kaki, bahkan keberadaanmu juga salah. Melihatmu saja aku sudah merasa muak! Kau—!" dia terdiam sejenak, menatap langsung ke manik mata Soonyoung yang tercengang.
"Kau bisa-bisanya dengan santai bilang ingin menemani wanita lain melahirkan sementara kau tidak ada di sini saat Jihoon melahirkan anakmu!"
Bibir Soonyoung bercelah, matanya bergetar sekejab dengan sekujur tubuh yang seperti kehilangan seluruh daya dan kekuatan.
"Kau sama sekali tidak tahu 'kan apa yang dialami Jihoon saat itu? Dia datang ke sini sendirian, mengatakan sudah mengalami kontraksi berkali-kali, dan masih harus mengurus semua administrasi seorang diri. Kau pasti sama sekali tidak tahu soal itu 'kan!?"
Soonyoung merasa sebuah batu besar sedang menghimpit dadanya saat ini. Sesak.
"Lee Jihoon, gadis sekecil itu, dia menahan sakit yang luar biasa hanya untuk melahirkan anak dari orang yang bahkan tidak pernah tahu dia sudah mengandung darah dagingnya! Dan sekarang kau masih berani bilang mau menemani wanita lain melahirkan!? Apa kau tidak punya rasa malu, Kwon Soonyoung!? Kau menelantarkan ibu dari anakmu sendiri dan sekarang malah mengurusi wanita lain!" sekuat tenaga Raina mendorong tubuh Soonyoung namun tidak perlu tenaga sekuat itu sebab dengan sendirinya Soonyoung sudah terjatuh ketika pegangan di kerah bajunya terlepas. Dia terpuruk di lantai, menjadi tontonan perawat yang berlalu-lalang.
"Pergi dari sini! Aku muak melihatmu!" Raina mengesampingkan air mata yang meleleh di pipinya dan mempertahankan nada tinggi pada suaranya. "Kenapa Lee Jihoon harus bertemu denganmu? Kenapa!? Kenapa dia harus bertemu denganmu dan mengalami nasib seperti ini!? Kenapa dia harus bertemu dengan orang pengecut dan tidak berguna sepertimu, Kwon Soonyoung!? Kenapa, ya Tuhaaan!?" dengan penuh kemarahan Raina memukuli punggung Soonyoung yang masih bergeming di lantai.
"Aku sudah menyuruhnya untuk menggugurkan anak itu sejak awal tapi dia menolak! Dia selalu sendirian! Tidak ada yang menemaninya melahirkan! Bahkan juga tidak ada yang mengurusnya setelah melahirkan! Gadis itu sangat menderita, Kwon Soonyoung! Dan ini semua karena KAU!" Raina terus-menerus memukuli Soonyoung dan mungkin tidak akan berhenti sampai pagi jika tidak ada beberapa perawat turun tangan melerai mereka serta membantu Soonyoung untuk bangun.
"Kalau kau memang sudah berniat untuk menjadi orang yang tidak berguna, JANGAN PERNAH LAGI MUNCUL DI HADAPAN JIHOON SELAMANYA!" tutup Raina dengan derai air mata penuh kekecewaan dan sekali lagi, Soonyoung masih bergeming, cuma terdiam membiarkan pipinya basah oleh air bening yang meleleh hangat dari kedua matanya.
-o-
"Bagaimana kau bisa tahu aku di sini?" desis Jihoon pelan, mata kecil tak lekang menatap sorot tajam manik coklat di depannya.
"Tidak sulit menemukan identitas pencari sensasi yang sudah berhasil menghancurkan acara pertunangan orang lain." Kalimat Wonwoo penuh duri dan sindiran, gaya bicara yang dikenal Jihoon dari dulu tidak berubah.
"Aku tidak bermaksud menghancurkan acara itu. Aku tidak sengaja datang ke sana dan aku sudah menjelaskan semuanya pada Soonyoung—"
"Jangan menyebut nama Soonyoung," potong Wonwoo. Matanya menajam. "Jangan sekali-kali berani menyebut nama Soonyoung dengan mulut jalangmu itu."
Bibir Jihoon terkatup rapat. Bohong jika bilang dia tidak terpancing kata-kata barusan.
"Aku tidak peduli kau mau sengaja atau tidak sengaja atau cuma lewat atau memang berniat ke pesta itu. Intinya, kau sudah mengacaukan pertunangan itu. Apa kau tahu kerugian yang diakibatkan insiden kemarin? Tidak cuma keluarga Soonyoung mendapat malu, tapi juga keluarga tunangannya, perusahaan mereka, perusahaan kami, dan sekarang semua orang berbicara tentang kejadian itu di belakang kami. Mereka menyebarkan gosip ke sana kemari membuat saham anjlok. Apa kau mau bertanggung jawab soal itu?"
Jihoon diam sebelum menjawab. "Apa kau ke sini untuk menuntut ganti rugi saham padaku?"
"Tidak," jawab Wonwoo cepat. Dia memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana dan memasang ekspresi wajah merendahkan yang sangat menyebalkan. "Aku ke sini untuk memberitahumu supaya menjauhi Soonyoung. Maksudku, it's okay kalian pernah punya hubungan di masa lalu tapi sekarang itu sudah berakhir dan Soonyoung sendiri yang memberitahuku kalau dia sudah tidak ada rasa apa-apa lagi padamu jadi berhentilah mengemis perhatiannya. Hidup Soonyoung sudah bahagia sekarang jadi jangan kau hancurkan hanya karena hidupmu berjalan tidak semestinya." Mata Wonwoo melirik tonjolan sebesar bayi manusia di balik kain baju Jihoon yang bergerak-gerak.
"Apalagi kalau sampai mengaku-ngaku kau sudah melahirkan anaknya... kh, perbuatanmu sungguh rendah, Lee Jihoon."
Jihoon benar-benar marah sekarang.
"Kalau kau sudah selesai bicara, pergilah," desis gadis tersebut.
"Kau tidak membantah? Apa ini artinya kau mengakui kelicikanmu?" Wonwoo tersenyum rasis.
Jihoon menatap lurus manik mata lelaki di depannya. "Seperti kau yang tidak mau aku mengusik hidupmu. Aku juga tidak sudi membuang waktuku memberi penjelasan pada orang yang sudah merasa benar."
Wajah Wonwoo mengeras seketika.
Duk! Jihoon terlonjak, spontan memeluk Chan di gendongannya dengan lebih erat ketika pria bertubuh jangkung memukulkan tangan pada salah satu sisi pintu rumahnya.
"Jalang sepertimu tidak pantas bersikap sombong—"
"Siapa kau?" sebuah suara tegas menghentikan kalimat Wonwoo. Dengan cepat dia menoleh dan terdiam memandang sosok Jisoo yang sudah berada lima meter dari tempatnya berdiri.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya pria itu, raut wajahnya tenang namun alisnya bertaut tegas dan kedua matanya menyorot tajam. "Apa yang kalian bicarakan?"
Wonwoo tidak menjawab, hanya menarik diri dari Jihoon yang menunduk memegangi bayinya. Masih tidak mengatakan apapun, pemuda tersebut beranjak dari depan Jihoon, berjalan melewati Jisoo dan tanpa menoleh langsung menghilang dari sekitar mereka.
Setelah beberapa saat, barulah Jisoo bergerak mendekati Jihoon yang masih berdiam diri di mulut pintu.
"Apa dia orang yang kau kenal?" nada suara lelaki itu melunak, lebih lembut dari yang tadi dan ketika Jihoon menganggukkan kepala terpancar sedikit kelegaan di matanya. "Aku pikir dia orang asing yang sedang ingin menyakitimu."
"O-Oppa, sedang apa di sini?" desis Jihoon masih sedikit dikuasai rasa kaget akibat reaksi Wonwoo tadi.
"Aku baru pulang dari shift malam di rumah sakit dan bermaksud mencari sarapan tapi ternyata Mingyu malah punya shift kerja pagi." Jisoo tersenyum lembut. "Boleh aku makan di sini? Akan aku bantu mencuci piring dan membersihkan rumah," pintanya.
Jihoon tersenyum kecil. "Tentu saja. Masuklah," ujarnya mendahului berbalik dan berjalan ke dalam rumah sedangkan Jisoo dengan riang mengikuti tanpa lupa menutup pintu.
Siapa namja tadi? Batin Jisoo dalam hati. Sepertinya aku pernah melihat wajahnya di suatu tempat. Apa di salah satu pesta para pengusaha ya?
-o-
Dengan hati-hati Jihoon meletakkan Chan yang baru saja tertidur ke atas ranjang yang sudah rapi. Jisoo serius dengan kata-katanya tentang mencuci piring serta membersihkan rumah. Dia tidak hanya mengelap westafel dan meja tapi juga menyapu, membereskan kamar Jihoon, dan sekarang sedang sibuk menyikat kamar mandi. Dari semua orang aneh, Jisoo adalah orang paling aneh yang dikenal Jihoon. Padahal dia anak konglomerat, orang tuanya punya banyak perusahaan dan bahkan rumah sakit tempatnya bekerja sekarang merupakan salah satu rumah sakit yang dimiliki keluarganya, namun dia sama sekali tidak rikuh harus tinggal di sebuah kontrakan kecil berdua dengan teman dekatnya, membayar tagihan yang buatnya mungkin mirip dengan uang jajan setiap bulan, termasuk melakukan pekerjaan rumah tangga, Jisoo cukup lihai di bidang itu.
"Aku suka seperti ini," jawab Jisoo ketika pernah ditanya Jihoon kenapa memutuskan untuk hidup begitu sederhana padahal dia bisa memilih keseharian yang lebih mewah dan glamour. "Aku lebih suka begini. Rasanya seperti tidak ada beban sama sekali. Kita menjalani hidup tanpa harus memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Cuma kerja, makan, istirahat. sama sekali tidak ada yang lain. Aku lebih suka kehidupan santai seperti ini."
Hong Jisoo benar-benar orang yang aneh.
"Aku sudah selesai." Kepala Jisoo menyembul dari mulut pintu, mengagetkan Jihoon yang sedang berhati-hati mengeluarkan sebuah keyboard untuk diletakkan di lantai. "Oh, kau mau membuat lagu?" tanyanya kemudian dijawab anggukan gadis yang lebih muda.
"Mumpung Chan tidur, aku mau menyicil beberapa instrumen," ujar Jihoon, mulai memasang satu per satu kabel dibantu Jisoo. Dia juga memasang earphone agar suara yang dihasilkan keyboard hanya dia sendiri yang mendengarkan jadi tidak mengganggu tidur siang anaknya.
"You need a home studio I think," desis Jisoo melihat betapa ribet gadis di depannya sekarang menyusun kertas-kertas berisi catatan melodi lagu yang sebelumnya sudah ia selesaikan.
Jihoon cuma tersenyum menanggapi, "Hal seperti itu tidak mudah dilakukan. Tempat ini terlalu sempit untuk sebuah studio dan lagi, Chan sama sekali tidak bisa ditinggal untuk mengunci diri di studio."
"Aku jadi penasaran, bagaimana kau dulu membuat lagu waktu hamil?" tanya Jisoo.
"Dulu semuanya lebih mudah daripada sekarang." Mata Jihoon menerawang. "Setiap ada proyek album aku selalu membeli banyak sekali makanan dan vitamin untuk dibawa ke studio. Aku menghabiskan 12 jam membuat lagu, 8 jam tidur, dan sisanya untuk makan serta jalan-jalan. Rasanya benar-benar seperti di surga. Ahh, aku ingin memasukkan Chan ke dalam perut lagi supaya segala hal lebih mudah."
"Jangan begitu." Jisoo terkekeh. "Chan sudah lahir sangat lucu, jangan kau masukkan dia lagi ke dalam."
Jihoon ikut tertawa kecil.
"Sepertinya tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku mau pulang," pamit Jisoo.
"Ne. Terima kasih sudah bersih-bersih, Oppa," ujar Jihoon.
"Aku tidur di rumah kalau kau mencariku." Jisoo tersenyum sebelum beranjak dari hadapan tetangganya, terdengar suara langkah kaki panjangnya menjauh diikuti derak pintu depan yang dibuka lalu ditutup kembali, dan hening. Jihoon menghela napas perlahan.
"...Soonyoung sendiri yang memberitahuku kalau dia sudah tidak ada rasa apa-apa lagi padamu jadi berhentilah mengemis perhatiannya. Hidup Soonyoung sudah bahagia sekarang jadi jangan kau hancurkan hanya karena hidupmu berjalan tidak semestinya..."
Seringaian muncul di bibir Jihoon mengingat kalimat Wonwoo tersebut. Hidup siapa yang tidak berjalan dengan semestinya? Dia pikir. Jika yang dimaksud Wonwoo adalah hidup Jihoon, maka dia salah besar. Sebab Jihoon tidak pernah merasa hidupnya sulit maupun tidak bahagia. Mungkin di beberapa waktu memang dia harus menjalani hari dengan tangisan tapi kebanyakan hari-harinya berjalan penuh senyuman. Setiap satu kesedihan yang Jihoon alami rasanya selalu dibalas Tuhan dengan kebahagiaan berlipat-lipat. Kematian ibunya yang menjadi momen paling membuatnya terpuruk sepanjang hidup, perlahan disembuhkan oleh kenyataan dia sedang mengandung seorang janin kecil. Susahnya melewati masa kehamilan dan sakitnya ketika melahirkan segera diganti oleh hadiah terbesar dari Tuhan yaitu seorang bayi mungil yang sehat dan lucu yang kemudian dia beri nama Chan. Lalu perjuangan untuk tetap memenuhi kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan Chan di sela kesibukan sebagai seorang komposer membuat Jihoon dikaruniai dua orang malaikat yang pindah ke kontrakan di sebelah rumahnya, Kim Mingyu serta Hong Jisoo, yang kemudian menjadi sahabat dekatnya dan tidak pernah keberatan membantu dia memasak juga menjaga si bayi mungil ketika dirinya sedang dikejar deadline.
Tidak ada satu hal pun yang pernah disesali Jihoon dalam hidupnya termasuk perpisahannya dengan Soonyoung. Mungkin memang sudah begitulah seharusnya takdir berjalan. Jika dia tidak berpisah dengan Soonyoung, mungkin saja Jihoon tidak akan mempunyai Chan yang lucu dan mendapat sahabat-sahabat baik seperti Mingyu serta Jisoo. Semua yang terjadi dalam hidup sudah ada yang mengatur dan Jihoon percaya tidak ada satu dari aturan tersebut yang akan berakhir sia-sia.
.
Waktu terasa berjalan lambat. Jihoon menggeliat dan menguap lebar di depan kertas-kertas serta layar laptop yang sudah membuat retina di balik kacamata minusnya terasa perih. Dia melepas earphone dan kacamatanya, memijit kulit di antara kedua mata dan mendongak untuk melihat ke atas ranjang tempat Chan masih terlelap. Gadis tersebut tersenyum, dalam hati bersyukur punya anak yang bisa begitu betah tidur apalagi setelah dimandikan dan perutnya kenyang, Chan bisa tidur seharian.
Perlahan Jihoon bangkit berdiri, menggeliat, melemaskan persendian tubuhnya yang segera berbunyi akibat duduk berjam-jam di lantai membuat lagu. Dia bergerak keluar kamar, bermaksud mengisi botol air yang sudah kosong di dapur saat lamat terdengar oleh telinganya sebuah ketukan pelan di pintu depan rumahnya. Jihoon menelengkan kepala. Siapa datang ke rumahnya sore-sore begini? Seingat dia Jisoo sudah pamit mau tidur dan Mingyu ada shift sampai malam.
Jihoon meletakkan botol minum kosong di ruang duduk dan berjalan menuju beranda. Dia membuka pintu dan langsung terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Kau..."
Tangan Soonyoung masih di udara, gerakannya terhenti karena daun pintu yang mendadak terbuka. Nampak ujung buku jarinya memerah menandakan dia sudah mengetuk dalam kurun waktu lama entah sejak kapan Jihoon sendiri tidak sadar sebab telinganya terus ditutupi oleh earphone.
"Apa yang kau lakukan di sini?" bisik Jihoon seperti tidak ingin ada orang lain yang mendengar pertanyaannya.
Soonyoung diam, hanya menurunkan tangan dan lurus menatap wajah mungil di hadapannya.
"Kau tidak seharusnya ada di sini. Kalau ada yang melihatmu aku bisa dalam masalah besar," lanjut Jihoon dengan nada menyalahkan Soonyoung namun pemuda di depannya bergeming.
Jihoon ikut terdiam, mengamati penampilan Soonyoung yang berantakan, kemeja putih yang kotor oleh warna merah darah luntur, wajah pucat, dan garis hitam tebal melingkari mata yang mulai nampak cekung. Dan Jihoon sadar, ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi sekarang.
"Kau baik-baik saja?" dengan hati-hati gadis itu bertanya.
Bibir Soonyoung bercelah, seperti hendak mengatakan sesuatu tapi gerakannya hanya berhenti di sana.
"Kwon Soonyoung," panggil Jihoon mulai merasakan getar khawatir di dalam dadanya melihat kondisi Soonyoung yang tidak biasa. "Kau baik-baik saja?"
Manik sayu Soonyoung nampak bergetar. Bibirnya kembali bergerak yang kemudian terdengar sebuah bisikan. "...maaf—" disusul kedua matanya terpejam dan tubuh tegap tersebut ambruk hilang kesadaran ke tangan Jihoon yang sigap menangkapnya.
"Yah! Kwon Soonyoung, bangun! Kau kenapa? Soonyoung-ah!" Jihoon berseru panik, terduduk di lantai dengan kepala Soonyoung berada tepat di pangkuannya. Dia menepuk kedua pipi lelaki itu bergantian dan bisa merasakan betapa tinggi suhu badannya sekarang.
Dia sakit. Jisoo Oppa— pikiran Jihoon berhenti di sana. Sebuah pertimbangan segera muncul kemudian. Tidak. Kalau aku memanggil Jisoo Oppa, dia pasti akan bertanya macam-macam. Lagipula Soonyoung juga seorang pengusaha, bukannya tidak mungkin Oppa akan mengenali dia. Aku tidak bisa membuat gosip yang lebih parah dari ini.
Jihoon kebingungan.
Apa yang harus aku lakukan?
-TBC-
Jihoon sama Jisoo aja gimana? Aku gemas :(((
