Tidak ingin memberikan sinopsis -,-

#soonhoon #seventeen #gs #t

Say Yes
7

PLAK!

Mata Jihoon membulat, masih juga sebelah tangannya mengambang di udara, baru sampai separuh jalan hendak memberi tamparan pada Soonyoung namun sebuah pukulan telah lebih dulu mendarat di salah satu pipi chubby pemuda itu. Darimana asalnya? Dari tangan Soonyoung sendiri. Iya. Dia menampar dirinya sendiri.

Jihoon kehilangan kata-kata.

"Maaf," desis Soonyoung. Kedua pipinya merah tua seperti kue mochi sedang dipanggang.

Kyeopta...

"A-aku benar-beNAR MINTA MAAF, LEE JIHOON!" Soonyoung berseru gugup lalu bergerak cepat melewati Jihoon, cuma butuh waktu kurang dari sedetik dia sudah melesat melarikan dirinya meninggalkan gadis mungil yang bahkan masih belum selesai memproses seluruh kesimpulan peristiwa yang barusan ia alami.

Jihoon membawa tangan yang termangu di udara untuk menyentuh bibir tipisnya sendiri. Dingin. Rasanya sungguh berbeda dari saat Soonyoung yang melakukannya tadi... dengan bibirnya.

Mendadak Jihoon merasa kesal.

Bisa-bisanya orang itu menciumku sembarangan lalu menyatakan perasaan dan sekarang kabur begitu saja. Pengecut sekali dia. Tidak akan aku maafkan! Jihoon mengepalkan tangan kuat-kuat, kemudian menghirup napas sebanyak mungkin, dan...

"KYAAAAAAAAA!"

Bagai kendaraan yang pedal remnya diinjak tiba-tiba sekuat tenaga, begitulah Soonyoung menghentikan langkah kaki yang nyaris membuatnya tersungkur jatuh. Napas pemuda itu tercekat dan degup jantungnya seolah ikut kehilangan ritme akibat rasa terkejut serupa akan sebuah teriakan melengking dengan resonansi suara yang sangat dia kenali.

Lee Jihoon!? Insting Soonyoung bergerak cepat. Tanpa pikir panjang dia berbalik lari menuju koridor yang barusan dilewati, kembali ke ruang musik tempat dirinya meninggalkan Jihoon sendiri.

"Lee Jihoon!" panggil Soonyoung bersamaan dengan sosok mungil yang dikhawatirkan muncul dari belokan lokasi ruangan tujuan pemuda itu.

"Soonyoung-ah!" Jihoon kesulitan mengendalikan kakinya dan nyaris menubruk badan yang lebih tinggi ketika dia sudah berusaha menghentikan lari. Wajah gadis tersebut pucat, kedua tangannya dingin gemetaran.

"Ada apa? Kau kenapa?" tanya Soonyoung cemas, berpikir jika Jihoon terluka sesaat setelah ia pergi.

"Piano..." Jihoon terbata-bata. "Pi-pianonya bermain sendiri."

Wajah Soonyoung membiru seketika.

"P-p-p-pianonya main s-s-s-s-s-sendiri?" pemuda itu jadi jauh lebih gagap.

Jihoon mengangguk cepat.

Grep! Tanpa bicara, tanpa berpikir, tanpa bertanya, Soonyoung langsung menggenggam tangan Jihoon lantas menarik gadis mungil tersebut untuk berlari mengikuti ayunan kakinya melewati panjang koridor. Berdua mereka terbirit-birit menjauhi ruang musik dan keluar dari bangunan kampus.

"LARI, JIHOON-AH!"

Sambil terengah-engah Jihoon menatap punggung Soonyoung yang berada dekat di jarak pandangnya. Ia memindahkan mata pada tangan yang sedang diremas kuat oleh jemari panjang pemuda itu dan perlahan tersenyum. Tanpa disadari Soonyoung, Jihoon balas menggenggam tangannya.

Kau pasti tidak akan kembali 'kan kalau aku tidak melakukan ini? Dan mungkin kau tidak akan pernah kembali lagi karena kau benar-benar seorang bodoh yang pengecut dan plin-plan. Dasar Kwon Soonyoung, batin Jihoon dalam hati cekikikan melihat kenyataan Soonyoung begitu mudah ia bohongi soal piano yang bermain sendiri.

"Lebih cepat, Jihoon-ah! Aku tidak pernah percaya kalau piano itu berhantu tapi ternyata benar ada hantunyaaa! AAAAAARGHH!" Soonyoung berseru heboh tanpa menghentikan laju kaki sedikit pun tak peduli makhluk mungil yang ia seret sudah pontang-panting dan hampir tersandung-sandung menyamakan langkah dengan dirinya.

"AAAAAAAAAAAAA!"

"..."

"ADA SETAN, AAAAAAAAAAAAAAAA!"

"JANGAN TERIAK-TERIAK, KWON SOONYOUNG! BERISIK!"

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

-o-

Bangsat Kwon Soonyoung! Dia menarikku seperti sapi! Kakiku sampai lecet! umpat Jihoon keesokan harinya saat pergi ke ruang klub musik dengan kaki memakai sandal (bukan sepatu seperti biasa) dan jalan terpincang-pincang.

Akan ku bunuh dia kalau sampai dia berani menghindariku nanti, gadis mungil tersebut mengukir dendam kesumat dalam hati. Tangannya terulur hendak meraih knop pintu namun dari belakang sebuah lengan mendahului dan mendorong daun pintu seolah sengaja membukanya untuk dia. Jihoon mematung karena terkejut, dia hendak menoleh ke belakang namun pandangannya lebih dulu terbentur pada dada bidang di balik balutan kaos hitam polos yang menjadi baju dalaman kemeja biru motif kotak-kotak dengan lengan panjang digulung sesiku.

Jantung Jihoon berdegup cepat. Ia memindahkan tatapan mata ke atas dengan pandangan bergetar dan menemukan apa yang sudah mampir di pikirannya sejak awal lengan panjang itu mendahului membuka pintu dengan membawa semerbak harum aroma parfum mint yang khas.

Soonyoung tidak mengatakan apa-apa, cuma terpaku di depan Jihoon seperti sebuah patung batu yang pipinya dicat warna merah jambu. Pemuda tersebut jelas-jelas sangat gugup, canggung, dan tidak tahu harus mengatakan ataupun melakukan apa. Sepertinya dia memutuskan untuk muncul di hadapan Jihoon begitu saja tanpa sempat memikirkan sesuatu yang ingin disampaikan. Jihoon sendiri tidak mempermasalahkannya—ini tidak bohong—bagi dia asal Soonyoung tidak kabur dan menjauhinya gara-gara kejadian kemarin, itu sudah cukup. Sebab menurut pengalaman Jihoon setelah beberapa bulan mengenal makhluk jadi-jadian gabungan kue mochi dan hamster bernama Kwon Soonyoung, meski dia seorang pribadi yang selalu nampak ceria dan hiperaktif namun di saat yang sama ia juga canggung dan terus mencoba untuk menjaga perasaan orang lain. Sekali Soonyoung merasa sudah menyakiti seseorang, dia akan minta maaf lalu menjaga jarak dengan orang tersebut karena ia takut ia akan kembali salah langkah dan menyakitinya lagi. Selalu seperti itu yang Jihoon lihat terjadi pada Soonyoung. Makanya, ketika sekarang Jihoon melihat pemuda berpipi gembil tersebut mendadak muncul tanpa persiapan di hadapannya, setidaknya gadis itu bisa menghembuskan napas lega. Kwon Soonyoung sadar sudah melakukan kesalahan, tapi sisi baiknya dia tidak lagi memutuskan lari seperti yang selalu ia lakukan.

"Ada apa?" Jihoon yang pertama membuka suara, memulai percakapan, merobek kesunyian, karena dia pikir diam ini tak akan berakhir dalam kurun waktu satu dekade jika mengandalkan Soonyoung bicara lebih dulu.

"Kakimu..." Soonyoung mendesis. "...kenapa? Sakit?"

Ngapain kau masih tanya!? Kau pikir gara-gara siapa aku begini!? Jihoon mengomel dalam hati.

"Lecet. Karena kemarin aku terlalu banyak berlari—" kalimat Jihoon terhenti sekejab sebab tiba-tiba Soonyoung berlutut, memeriksa kedua kakinya.

"Apa parah? Ada lebamnya? Bengkak tidak? Kau sudah ke dokter?" tanya pemuda tersebut beruntun, rasa cemas menguar dari kedua mata sipitnya.

"A-apa—tidak apa-apa. Ini cuma luka kecil," jawab Jihoon.

"Jangan remehkan luka sekecil apapun! Kalau tidak segera diobati nanti bisa jadi infeksi. Kalau infeksinya parah bisa-bisa kakimu diamputasi!" ujar Soonyoung tegas. "Kau tunggu di sini. Aku akan mengambil mobil, kita ke rumah sakit." Dengan cepat pemuda itu berbalik dan lari.

"Hah? Tunggu, Kwon Soonyoung! Aku tidak separah itu sampai harus ke rumah sakit segala! Kwon Soonyoung! Soonyoung-ah!"

Namun Soonyoung sudah tidak dapat mendengar teriakan Jihoon, ia terus berlari menjauh dari tempat klub. Beberapa menit kemudian dia benar-benar kembali dengan mengemudi mobil yang baru pertama kali dilihat oleh Jihoon—gadis itu memang tidak pernah tahu sebelumnya kalau Soonyoung sesekali ke kampus naik mobil dan dia langsung takjub melihat kenyataan mobil pemuda yang terus-terusan ia maki-maki serta hampir kena lempar meja tersebut memiliki lebih dari tujuh enol di bandrol harganya.

Jihoon tentu menolak mati-matian untuk naik mobil mewah itu dan pergi ke rumah sakit namun salahkan tubuhnya yang terlampau mungil, cukup dengan satu gendongan di bahu Soonyoung berhasil melemparnya ke atas jok lantas menggelandang gadis tersebut layaknya seorang penculik menuju rumah sakit.

"Tenang saja, ada kakak sepupuku yang bekerja di rumah sakit itu. Kita bisa dapat diskon banyak nanti," ujar Soonyoung sambil cengengesan mengemudikan mobil sementara Jihoon merutuk dalam hati memperhatikan sekelilingnya, masih tidak menyangka dapat mendudukkan diri di kursi kendaraan yang bahkan harganya setara dengan ia menjual rumahnya di Busan sepuluh kali.

Lalu rumah sakit yang disebut oleh Soonyoung akan menjadi tempat pertama kali Jihoon bertemu dengan Raina.

.

Sebuah telunjuk bercat kuku merah langsung teracung pada hidung Jihoon di detik kedua ia melihat sosok wanita ramping memakai rok pendek dengan jubah putih kedokteran.

"Pacarmu?" tanya Raina singkat, nada suaranya terdengar ketus membuat alis Jihoon mengerut.

Tidak ramah sama sekali.

"B-bukan—maksudku, belum. Eh, anu itu—" Soonyoung gelagapan.

Raina berjalan mendekati Jihoon, sengaja lebih menegakkan badannya yang sedang memakai sepatu hak tinggi begitu kontras dengan si gadis mungil yang cuma beralaskan sandal karet biasa, semakin membuat Jihoon dongkol.

"Kau dari keluarga mana?" tanya Raina.

"Anda bertanya atau sedang mengajak berkelahi, Tante?" balas Jihoon mulai hilang kesabaran.

"Tan-Tante... kau bilang..." samar meski masih cukup terlihat, satu per satu urat di pelipis Raina mencuat tegang.

"A-anu, Noona..." Soonyoung mencoba menengahi. "Dia ini salah satu temanku di kampus—"

"Harusnya kau bisa lebih pintar memilih teman, Soonyoungie. Bukankah kami—keluargamu—selalu bilang kau hanya boleh bergaul dengan yang sekelas kita saja?" kalimat Raina terasa tajam membuat Soonyoung terdiam seketika namun di sisi lain semakin meletupkan amarah Jihoon.

Apa dia sedang merendahkan aku hanya karena aku orang biasa dan mereka pemilik mobil mewah? Gadis mungil tersebut mengetatkan gigi.

"Aku minta maaf karena tidak bisa mencari teman seperti yang diinginkan keluargaku," desis Soonyoung sekejab membuat Jihoon terkejut dengan kata-katanya. Ia menoleh nanar, menatap pemuda di dekatnya dengan pandangan tidak percaya.

Jadi selama ini, Soonyoung sebenarnya... diam-diam di dalam hatinya dia juga membeda-bedakan orang begitu...?

"Tapi, orang-orang yang sekelas kita bukan berarti juga orang yang menyenangkan. Aku sudah banyak melihat anak-anak teman bisnis Appa, kebanyakan dari mereka orang yang membosankan dan licik. Sama sekali tidak menyenangkan meski aku memaksakan diri bergaul. Yang ada aku hanya akan kena pengaruh buruk. Apa kalian mau aku yang suci bersih dan polos tanpa noda itu kena bujuk rayu tentang kelicikan politik dan pencucian uang? Tidak 'kan? Makanya, aku memilih berteman dengan orang biasa yang sederhana namun punya hati baik dan tulus. Dari mereka aku banyak belajar hal-hal baik bahkan bisa memikirkan tentang bisnis menggunakan bahan sederhana tapi menghasilkan sesuatu yang besar. Teman tidak cuma ditentukan dari status namun juga kualitas dan aku lebih memilih temanku yang orang biasa ini!"

Hening.

Raina diam menatap tajam Soonyoung yang balik memberinya pandangan mata sungguh-sungguh sedangkan Jihoon sendiri tertegun, tidak tahu harus mengatakan apa atau melakukan apa. Dia ingin menjawab tapi pertanyaan barusan bukan ditujukan padanya. Cuma kalau dibiarkan saja, rasanya dia ingin ikut menjawab.

Masih hening.

Tangan Raina bergerak, terayun jauh ke samping.

Ditampar!? Jihoon terkejut.

Set. Sebuah acungan jempol berhenti tepat di depan muka Soonyoung.

"Nice answer, Kwon Soonyoung!" ujar Raina. "Itu baru keponakanku!" dia melanjutkan dengan nada sungguh-sungguh.

"Assa!" Soonyoung sendiri bersorak. "Aku pikir jawabanku akan meleset! Aku sampai membawa-bawa Appa supaya terdengar makin meyakinkan!"

"Tidak masalah menyebut ayahmu. Justru kau harus melakukannya sebagai penguat perbandingan. Bagus sekali!"

Jihoon cengo.

Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

"Oh iya, sampai kelupaan." Raina memandang Jihoon. "Maaf ya, Nona kecil. Aku jadi melibatkanmu. Barusan itu kami cuma bercanda. Aku dan Soonyoung sering begini kalau ketemu. Maaf sudah membuatmu terkejut, jangan marah ya." Dokter wanita tersebut menepuk pucuk kepala Jihoon seperti sedang mengusap seorang bocah TK tanpa tahu sikapnya itu membuat si gadis mungil langsung memasang muka masam.

"Jadi, apa yang kau lakukan sampai datang kemari dengan anak-anak? Jangan kau bilang kau membuat masalah dengannya, dasar mahasiswa cabul pedofil," tanya Raina separuhnya menuduh dan sisanya sarkastik.

"A-ah, tidak. Tentu saja tidak. Lagipula dia ini bukan an—" Soonyoung mengibaskan tangan yang segera dihentikan oleh Jihoon.

"Aku teman angkatannya di kampus. Aku bukan anak-anak. Dan lagi, aku tidak dicabuli ataupun dipedofil." Aura gadis itu sudah suram, membuat Soonyoung nyengir sambil melangkah satu jengkal menjauhi Jihoon.

"Eeeeh, kau satu angkatan dengan uri Soonyoungie!? Serius!? SEKECIL INI!? Berapa umurmu? Jangan-jangan kau masuk sekolah umur 2 tahun ya?" tanya Raina takjub.

Jihoon makin gondok. Kalau saja yang berdiri di depannya bukan orang yang lebih tua dan bukan dokter, mungkin dia sudah meraih kursi terdekat untuk dilemparkan sejak semenit lalu.

"Yo, Soonyoung. Apa yang kau lakukan di sini?" dari arah belakang terdengar sebuah sapaan suara berat membuat Soonyoung dan Jihoon bersamaan menoleh.

"Wah, kau di Korea? Sejak kapan?" sapa Soonyoung ramah. "Heh, siang bolong begini kau sudah 'minum'?" Ia mengulurkan tangan namun cuma dibalas pukulan pelan kaleng bir yang sedang dipegang pemuda tinggi berbadan kurus dengan ekspresi wajah mengantuk. Wonwoo meneguk minumannya sebelum kembali bicara.

"Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak kuliah? Bolos?"

"Aku mengantar temanku yang sakit." Soonyoung menunjuk Jihoon dengan dagunya. "Kau sendiri kenapa di sini? Kuliahmu di LA bagaimana?"

"Membosankan. Makanya aku pulang," jawab Wonwoo asal.

"Yah, mana boleh begitu." Soonyoung merengut. "Aku saja ingin ke sana tapi tidak bisa. Kau yang sudah berhasil kuliah di sana harus bersungguh-sungguh, Jeon Wonwoo!"

"Yang tidak bisa ke sana 'kan kau. Jangan lantas memaksakan kehendak gagalmu itu padaku. Kau-tidak-punya-hak," ketus Wonwoo tajam makin membuat muka Soonyoung memerah karena kesal.

"Tinggal di luar negeri sepertinya tidak memperbaiki mulutmu sama sekali ya."

"Setidaknya aku belajar banyak kata baru," ujar Wonwoo.

"Apa?" jika bisa memutar waktu Soonyoung akan memilih untuk tidak bertanya sebab kalimat Wonwoo selanjutnya benar-benar hampir membuat pemuda itu kalap.

"Damn." Adalah kata pertama Wonwoo. "Damn Soonyoung. Fcking asshole Soonyoung. Low creature Soonyoung. Fcking stupid Soonyoung. Ugly-rat and mini-dick Soonyoung. The hell—"

"HENTIKAN, JEON WONWOO! KU BUNUH KAUUU!" Soonyoung mengayunkan tinjunya.

"Aku cuma mengatakan kebenaran." Dengan luwes Wonwoo menghindari amukan sahabatnya.

"APANYA YANG KEBENARAN!? KAU CUMA MAU MENGHINAKU!" Soonyoung kembali menyerang.

"Kalau kau marah berarti kau mengakui semua itu." Wonwoo kembali menghindar.

"BERISIIIKKK!"

Jadi... apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini? Batin Jihoon, tertinggal sendirian di tengah kehebohan antara Soonyoung dan Wonwoo.

Plek, gadis itu terjengat saat tiba-tiba sesuatu memegang pundaknya. Raina sudah menunggu dengan senyuman ketika Jihoon menoleh.

"Namamu?"

"Lee Jihoon."

"Kau bisa memanggilku Raina. Kau pacar Soonyoung?"

Muka Jihoon memerah. "Ti-tidak. Bukan—"

"Tidak perlu malu." Raina masih tersenyum. "Soonyoung belum pernah membawa seorang gadis ke sini satu kali pun. Kau yang pertama. Jadi aku yakin kau pasti orang yang spesial."

Wajah Jihoon makin merah.

"Selamat datang di keluarga kami, Jihoon-ah. Seperti yang kau lihat, kami sangat beringas dan kacau tapi kami harap kau bisa menerimanya. Ne?" Raina menepuk pelan sebelah pipi Jihoon. "Kau sangat cantik dan imut. Di masa depan kau pasti akan melahirkan anak yang imut juga."

Jihoon menyentuh pipinya yang barusan ditepuk Raina, wajah gadis tersebut masih memerah dan perlahan ia tersenyum.

"Eum," dengan pelan Jihoon menganggukkan kepala malu tanpa sadar membuat Raina menggigit bibir menahan gemas.

"KYAAA KYEOPTAAA!" dia merentangkan kedua tangan, menubruk Jihoon, dan memeluknya sekuat tenaga mengagetkan Soonyoung yang masih disibukkan Wonwoo.

"Noona, apa yang kau lakukan!? Lepaskan!" seru Soonyoung.

"TIDAK MAUUU! DIA KYEOPTAAA!" Raina mengeratkan dekapannya pada Jihoon.

"LEPASKAN KAU BISA MEMBUNUHNYA! DIA SESAK NAPAS TUH!"

Wonwoo meneguk isi kaleng bir yang masih tersisa di tangan sambil memandang tidak mengerti pada kehebohan antara Soonyoung dan Raina.

"Siapa dia?" gumamnya ketika melihat sosok Jihoon yang sudah lemas setelah lepas dari dekapan kuat sang dokter.

-o-

"Bagaimana keadaannya?" tanya Jihoon, baik ekspresi wajah maupun getar suaranya sama-sama menyiratkan rasa khawatir.

"Demamnya cukup tinggi tapi kalau dia bisa beristirahat banyak dan tetap hangat, panasnya akan segera turun. Beruntung lambungnya tidak bermasalah jadi kondisinya masih stabil untuk sekarang," jawab Raina sambil menyimpan kembali seluruh peralatan pengobatan ke dalam tas. Ia memperbaiki selang infus yang terjulur dari tiang tempat biasa menggantung mantel yang berakhir menempel pada punggung tangan Soonyoung yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur Jihoon. Di dalam rumah Jihoon. Pada akhirnya gadis itu tidak dapat meminta bantuan siapapun dan mengangkat Soonyoung seorang diri lalu memanggil Raina.

"Tidakkah sebaiknya kau bawa dia pulang, Eonnie?" tanya Jihoon, Chan berada di gendongannya. Masih terlelap.

Dan membiarkan dia menerima tekanan semakin banyak di saat raga serta mentalnya sudah di ambang batas begini? Aku pasti gila kalau mengiyakan permintaanmu, Jihoon-ah, batin Raina seraya menghela napas pendek.

"Jihoon, aku tahu kau sangat membencinya setelah apa yang ia lakukan padamu, tapi bisakah kau membiarkan saja dia di sini untuk beberapa saat?"

"Eh?" di detik pertama Jihoon cuma tertegun, lambat untuk merespon namun di detik selanjutnya kedua mata kecil tersebut membulat. "Eeeeehhh!? Kau serius, Eonnie!? Mana bisa begitu—tunggu, kau sendiri tahu bagaimana reputasiku di keluarga Soonyoung sekarang. Ibunya bisa membunuhku—tidak, ibunya AKAN BENAR-BENAR MEMBUNUHKU!" Jihoon heboh.

"Akan aku cari cara untuk mengatasinya." Raina mengibaskan tangan. "Lebih penting dari itu, Soonyoung memang sangat butuh untuk menjauh dari keluarganya sekarang."

Jihoon terdiam. Hanya menatap Raina yang memandang sendu pada sepupunya yang tengah terbaring tidak sadarkan diri di tengah deraan panas tubuh serta mungkin rasa sakit di beberapa bagian badannya, termasuk dalam hatinya.

"Apa Soonyoungie mendapat banyak kesulitan karena aku?" desis Jihoon sedikit bergetar. Sejujurnya ia takut bertanya demikian. Raina adalah satu-satunya orang terakhir yang dapat dia percayai dari pihak Soonyoung. Jihoon yakin Raina tidak akan menyakitinya, oleh karena itu ia membiarkan dokter tersebut membantunya melewati masa-masa berat kehamilan dan proses melahirkan yang sangat menyakitkan hingga sekarang dia dapat merawat Chan seorang diri. Semuanya tak lepas dari dukungan Raina. Jihoon selalu yakin meski wanita itu tidak sepenuhnya berpihak pada dia, namun—mungkin—Raina tidak akan mengatakan hal menyakitkan seperti yang dilakukan oleh Wonwoo.

"Itu semua karena Soonyoung yang bodoh dan lemah." Raina menjawab, mengagetkan Jihoon dengan kalimatnya. "Laki-laki ini—ah, aku bahkan heran kenapa dia bisa dilahirkan sebagai laki-laki. Dia itu sangat rapuh, mudah dihasut dan dikendalikan. Dia juga masih terus memelihara kebiasaan buruknya yang selalu memikirkan hal-hal sepele. Hanya sedikit keluarganya bilang pernikahan dengan putri penguasaha akan membuat perusahaannya bertambah kuat dan dia langsung mengiyakan. Waktu aku tanya kenapa, dia cuma menjawab tunangannya adalah seorang dokter dan pasti bisa membantu merawat ibunya yang gampang sakit. Like hell I care! Memang siapa yang mau menikah? Dia atau ibunya!? Kalau itu demi kepentingan ibunya biarkan saja ibunya mengadopsi atau mempekerjakan gadis itu. Selesai masalah!" Raina mengomel.

"Tak hanya itu, semakin hari anak ini jadi makin muram dan kehilangan semangat hidup yang dulu pernah ia miliki. Cih, dia benar-benar jadi orang yang menyedihkan, tak ada bedanya dengan mayat hidup yang cuma mematuhi perintah orang lain dan Soonyoung masih bisa menjawabku sambil menyunggingkan senyuman palsunya itu kalau asalkan ayah, ibu, dan perusahaannya baik-baik saja maka dia juga tidak apa-apa. Tidak apa-apa matamu! Mati saja kau di selokan!" wanita tersebut semakin hilang kendali.

Bibir Jihoon kelu, pandangannya meredup ketika menatap wajah pucat Soonyoung yang tertidur akibat pengaruh obat Raina.

Soonyoungie berubah...? Padahal cuma sebentar. Jihoon mendesis dalam hati.

Satu tahun itu... sebentar 'kan?

-o-

"Eonnie~ apa masalahmu setiap hari membuat putus asa?"

"Oppa~ apa kau menderita karena terhimpit masalah kerjaan dan pacar?"

"Yeorobun~ apa ada teman nakal yang selalu mengganggu di sekolah?"

"KAMI bisa menuntaskan semua masalah itu secepat kilat!"

"Cepat, terjamin, dan bisa diandalkan!"

"Aku SOON!"

"Dan aku SEOK!"

"KAMI adalah SOONSEOK yang akan MENGHAPUS SELURUH KESEDIHAN DAN MURAM DURJA DARI HARI-HARIMU!"

JREEEEENG!

Suara gitar yang menjadi backsound sudah dipetik dan di waktu bersamaan baik Soonyoung maupun Seokmin berhasil melakukan pose yang mereka sebut sebagai 'pose tampan' yang membutuhkan waktu seminggu membuatnya dan tambahan tiga jam memperdebatkan soal posisinya.

"Bagaimana? Sempurna 'kan?" Soonyoung mengibaskan poni rambut dengan gaya sombong.

"Berita soal kami berbakat bukan cuma isapan jempol 'kan?" imbuh Seokmin memamerkan deretan giginya yang entah kenapa bisa memantulkan sinar lampu saat itu meski sama sekali tidak merubah ekspresi datar lima orang anggota klub musik yang menonton pertunjukan (bodoh) mereka dari awal.

"Kalian memanggil kami cuma untuk ini?" ujar anggota A.

"Kalian benar-benar kurang kerjaan," desis anggota B.

"Duh, enak sekali ya kalian. Di saat semua orang sibuk mempersiapkan konser amal kalian masih bisa santai-santai dan membuat hal bodoh begini," kata anggota C sambil bangkit dari duduknya.

"Aku pikir apa. Buang-buang waktu saja," dengus anggota D.

Anggota E hanya menguap.

Soonyoung dan Seokmin tercengang.

"HEEEI! Kami mempersiapkan ini untuk konser amal! Ini juga bagian dari konser amal!" Soonyoung meradang.

"Apanya yang bagian dari konser amal? Yang harusnya kita tunjukkan itu permainan musik, bukan lawakan absurd begini."

"Ini tidak absurd! Ini bagian dari konser. Aku sudah bertanya pada Jihoon Noona kami boleh menyisipkan stand-up comedy!" Seokmin ngotot.

"Benarkah?" anggota E menyahut.

"Tentu saja benar!" Soonyoung dan Seokmin menjawab bersamaan.

"Kalau begitu, aku ingin mendengarnya dari Jihoon sendiri. Benarkah kau sudah mengijinkan mereka membuat dagelan konser?" anggota E mengarahkan stik drum yang ia pegang pada sosok Jihoon yang entah sejak kapan sudah berdiri di pintu studio membuat tubuh Soonyoung maupun Seokmin membatu.

Jihoon tidak menjawab. Rambutnya nampak kusut diikat karet gelang dan bajunya masih sama seperti yang dua hari lalu ia kenakan. Tatapan gadis tersebut tajam meski kulit wajahnya pucat dengan warna hitam terlihat jelas di kantung mata. Jihoon memandang Soonyoung dan Seokmin seperti kanibal sedang kelaparan membuat dua pemuda itu makin kaku dengan keringat dingin mulai mengalir.

"Kalau kalian masih sempat membuat lelucon seperti ini..." kalimat Jihoon terhenti. Ia menarik napas mengumpulkan tenaga. "...PERGI LATIHAN SANA!"

BRAK!

.

"Jihoon Noona seram~~~" rengek Seokmin saat kembali ke studio tempat dia dan teman-temannya membuat lagu setelah diamuk habis-habisan oleh si gadis mungil.

"Siapa juga yang menyuruhmu bermain-main di waktu yang sudah mepet konser begini? Meskipun ini cuma konser amal, tapi kalau kita berhasil menggelarnya dengan baik kita akan mendapat poin plus dari pihak kampus," sahut salah satu anggota klub sambil tersenyum.

Seorang anggota yang lain menepuk punggung Seokmin mencoba menghibur. "Sudah sudah, jangan terlalu dipikirkan. Kita semua tahu watak Jihoon memang begitu. Ditambah lagi dia pasti sedang sangat lelah sekarang makanya jadi gampang emosi. Dia yang paling bersemangat mengurus konser ini dan sampai tidak pulang tiga hari hanya untuk menyelesaikan rekaman. Kau jangan mau kalah dari gadis sekecil itu, ne?"

"Hiks, Sunbae semuanya baik padaku. Tidak seperti Jihoon Noona." Seokmin terisak.

"Ngomong-ngomong, kemana Soonyoungie? Bukannya tadi dia bersamamu?"

"Jihoon Noona menyuruhnya ke studio. Mungkin mau dibunuh," jawab Seokmin asal membuat orang-orang di sekitarnya tertawa.

"Mana mungkin, Seokmin-ah. Soonyoung pasti cuma diminta rekaman."

.

"Jihoon-ah, kau baik-baik saja?" tanya Soonyoung dari dalam ruang rekaman melalui mikrofon yang suaranya sampai ke tempat Jihoon duduk mengatur volume musik dan bass.

"Diamlah. Ulangi lirik yang barusan sekali lagi," dengus Jihoon masih merasa kesal pada tingkah Soonyoung dan Seokmin barusan.

"Kau yakin? Kau kelihatan pucat. Sudah berapa hari kau tidak tidur?"

Jihoon tidak menjawab.

"Aku tahu kau ingin melakukan yang terbaik untuk konser ini tapi kau juga harus bisa menjaga kesehatanmu. Coba bayangkan, kau bekerja keras sekarang namun kalau pada akhirnya kau jatuh sakit waktu konser 'kan sama saja," ujar Soonyoung.

"Diamlah dan lakukan saja rekamanmu!" Jihoon berdiri dan menggebrak meja penuh amarah tapi di detik selanjutnya tubuh mungil tersebut limbung lalu ambruk ke lantai.

"LEE JIHOON!" Soonyoung berseru kaget. Serta merta ia melepas earphone dan melompat keluar ruang rekaman, langsung masuk ke bilik produser lantas meraih Jihoon yang memejamkan rapat kedua matanya.

"Lee Jihoon, bangunlah. Jihoon-ah!" panggil Soonyoung panik. "Aku harus memanggil yang lainnya—" ia bermaksud bangkit dan keluar studio tapi kemudian merasa ada yang menarik lengan bajunya. Jihoon mengeluh, mencoba bangkit dengan tangan berpegangan kuat pada Soonyoung.

"Kau baik-baik saja?" Soonyoung membantu gadis tersebut berdiri, menuntunnya ke sofa dan membiarkan ia duduk bersandar di sana.

"Tidur sedikit pasti juga sudah tidak apa-apa," desis Jihoon, suaranya terdengar sangat lemah.

Soonyoung menatap lekat sosok di sampingnya, kedua mata kecil pemuda itu meredup.

"Jihoon-ah, dengarkan aku. Kau boleh saja kerja keras, tapi jangan sampai melupakan kesehatanmu. Karena kalau kau sakit kau tidak akan bisa melanjutkan kerja keras itu. Pada akhirnya kau hanya akan kehilangan semua hal. Kau pasti tidak ingin itu terjadi 'kan, makanya perhatikanlah dirimu dengan lebih baik lagi," nasihat Soonyoung.

"Aku tahu," desis Jihoon. "Biarkan aku tidur sebentar."

Perlahan Soonyoung tersenyum. "Aku akan menemanimu di sini." Dia membenahi duduknya dan ikut bersandar di sebelah Jihoon tanpa sadar membuat gadis tersebut memunculkan warna merah di kedua pipi.

"Soonyoung-ah," panggil Jihoon setelah beberapa menit kesunyian merebak.

"Hm?"

"Kita ini apa?"

"Hah? Maksudmu?" Soonyoung bangkit, memandang wajah Jihoon yang mengarah ke langit-langit studio.

"Malam itu kau menciumku dan mengatakan perasaanmu, lalu memintaku jadi pacarmu. Tapi kau terus minta maaf dan kabur. Sekarang, hubungan kita jadinya apa?"

Ting, muka Soonyoung merah seperti kepiting rebus.

"A-aku—anu... itu, sebenarnya—anu..." pemuda tersebut gagap.

"Aku tipe orang yang tidak suka ketidakpastian. Kalau kau memang serius, katakan. Kalau kau cuma bercanda, katakan. Aku tidak suka setengah-setengah," desis Jihoon masih belum memandang orang di dekatnya.

Soonyoung terdiam. Sekujur tubuhnya gemetar bahkan telapak tangannya terasa berkeringat dan jantungnya berdegup dengan kencang, namun ia tetap memberanikan diri. Pemuda tersebut mengepalkan kedua tangan, tak ingin menyerah sebab mungkin tak akan ada lagi kesempatan kedua.

"Aku serius," ujar Soonyoung mantap, kali ini berhasil membuat Jihoon terjengat dan menoleh memandangnya.

"Aku serius. Lee Jihoon, aku ingin menjadi pacarmu. Biarkan aku jadi pacarmu. Aku mungkin akan membuatmu marah-marah, tapi aku berjanji aku bisa menjadi laki-laki yang lebih baik dan membahagiakanmu. Jadi aku mohon, terimalah aku jadi pacarmu, Lee Jihoon."

Hening.

Wajah Jihoon memerah, pun dengan Soonyoung dan tidak ada satu pun dari mereka yang mengatakan sesuatu.

Keheningan itu tetap bertahan bahkan setelah lima belas detik berjalan.

Perlahan Jihoon mengalihkan pandangan.

"Apa yang kau lakukan? Tingkahmu benar-benar memalukan." Terdengar gumaman pelan.

"Jadi, apa kau menerimaku?" Soonyoung menuntut jawaban.

"Berisik!" Jihoon bermaksud memukul Soonyoung namun niat tersebut ia urungkan. Sudah cukup, sudah waktunya berhenti melakukan kebiasaan buruk seperti itu, sudah waktunya untuk jujur pada hatinya sendiri. Dia bukan anak remaja lagi yang gemar malu-malu dan suka menutupi perasaan dengan bersikap kasar. Dia memang tsundere, tapi kalau ia memukul Soonyoung sekarang dan mengabaikan ketulusan pemuda tersebut, rasanya Soonyoung tidak akan pernah kembali. Jihoon merasa jika tidak menahan Soonyoung saat itu juga, dia tidak akan pernah melihatnya lagi.

"Kau... boleh jadi pacarku," bisik Jihoon dengan mengumpulkan seluruh kekuatan dalam hatinya.

Hening.

"Anu—" Soonyoung menelengkan kepala. "Bisa kau ulangi? Aku tidak mendengarmu."

Jihoon meletup. Lelaki satu ini KENAPA HARUS SELALU MEMBUATKU MARAH!?

"Aku bilang aku juga mencintaimu dan mau jadi pacarmu!" Jihoon berteriak tepat di depan muka Soonyoung membuat pemuda itu terkejut.

"Ah terserah! Kau sangat menyebalkan!" gadis mungil tersebut menutup rapat wajahnya menggunakan telapak tangan dan menjatuhkan diri ke bantalan sofa.

"Kau..." Soonyoung masih tidak percaya. "Kau menerimaku?" dia mengguncang bahu Jihoon.

"Jihoon-ah, kau benar-benar menerimaku? Kau tidak bohong? Kau tidak akan menarik kata-katamu 'kan? Jihoon-ah!" Soonyoung girang.

"Aku berjanji aku akan membuatmu bahagia, Jihoonie! Terima kasih!" dengan riang pemuda itu memeluk erat makhluk mungil yang tidak menjawab namun diam-diam juga tersenyum di permukaan bantal sofa yang menutupi wajahnya.

Dan begitulah awal dari kisah cinta Jihoon bersama Soonyoung. Mereka berdua punya watak yang sangat berbeda tapi benar-benar sempurna untuk melengkapi satu dengan yang lain. Soonyoung seringkali bersikap terlampau gila seperti anak anjing lepas namun Jihoon selalu bisa mengontrolnya dan mengembalikan kewarasan pikirannya. Di sisi lain ketika Jihoon sudah terlalu serius dan nyaris mendekati titik stress di pekerjaan, maka munculah Soonyoung dengan semua keceriaannya membuat saraf kekasihnya langsung kendor dan Jihoon dapat tertawa lagi. Soonyoung dan Jihoon bukan seperti minyak dengan air maupun api dan air. Mereka adalah dua warna yang berbeda yang kemudian mendekat, berinteraksi, menyatu, dan menciptakan gradiasi serta warna baru yang lebih indah.

-o-

"Mau kencan kemana akhir minggu ini?" tanya Soonyoung. Dia duduk di sofa, kedua kakinya berada di atas meja dengan tangan memegang brosur tempat wisata.

"Terserah," jawab Jihoon, masih fokus menyusun file rekaman di layar komputer.

"Jangan bilang terserah begitu. Kau bukan gadis ABG lagi," ujar Soonyoung.

"Aku diberitahu Raina Eonnie ada rumah hantu sedang dibuka di mall. Ke sana saja."

Muka Soonyoung pucat pasi. "Aku tidak mau! Kenapa kau suka sekali pergi ke tempat seperti itu!?"

"Siapa suruh kau jadi penakut. Kita akan ke sana. Anggap saja terapi untuk menyembuhkan sifat pengecutmu." Jihoon memutuskan.

"TIDAK MAU!"

"Ada hotdog enak di mall itu. Aku pernah memakannya dan rasanya benar-benar sangat enak."

"Hmph!" Soonyoung cemberut. "Baiklah. Tapi kau yang traktir."

"Baru kali ini aku tahu ada namja minta ditraktir oleh yeojachingu-nya."

"Berisik! Itu karena kau mau membawaku masuk rumah hantu! Makanya kau harus mentraktirku sebagai balas budi!"

Jihoon menyeringai. "Nanti jangan ketakutan sampai ngompol ya, Kwon Soonyoung. Atau perlu aku bawakan popok, hmm bayi besar?"

"DIAM!" muka Soonyoung memerah total.

"Ngomong-ngomong, aku masih penasaran tentang satu hal." Jihoon memutar kursinya hingga berhadapan dengan tempat Soonyoung duduk.

"Sejak kapan kau menyukaiku?"

Soonyoung menelengkan kepala. "Apa itu penting?"

Mata Jihoon menerawang. "Tidak juga sih. Aku cuma ingin tahu karena kebanyakan orang menilaiku galak dan judes, cukup aneh juga ada yang suka padaku."

Senyuman Soonyoung merekah. "Kau itu cantik tau," ujarnya. "Wajar ada yang menyukaimu. Kalau aku pribadi, aku sudah merasa tertarik dari sejak pertama melihatmu waktu kita membayar biaya kuliah semester satu."

"Itu lama sekali," desis Jihoon.

"Yup, hebat 'kan? Rasa sukaku tidak berubah, hehehe." Soonyoung cengengesan. "Waktu itu kau terlihat sangat keren di mataku. Padahal semua orang sudah mengantri dari pagi dan mengomel harus melakukan pembayaran manual di jaman canggih begini. Tapi kau mau memberikan nomor antrianmu begitu saja pada seorang ibu-ibu yang baru datang menggantikan anaknya membayar. Kau mengambil nomor yang baru dan harus menunggu sampai sore untuk bisa membayar. Aku benar-benar sangat salut."

Jihoon menjentikkan jari. "Aku ingat! Kau yang masih duduk di ruangan setelah semua orang pulang dan tinggal aku yang terakhir membayar di loket."

"Benar sekali. Aku sengaja menunggu di sana karena penasaran dengan apa yang kau lakukan. Akankah kau menyerah atau tidak, tapi ternyata kau tetap bertahan meski mendapat nomor antrian terakhir. Hebat~"

Pipi Jihoon memerah. "Aku tidak punya pilihan lain. Saat itu aku masih di Busan dan perjalanan ke Seoul benar-benar melelahkan jadi aku bertekad harus menyelesaikan semua keperluan di hari itu juga supaya tidak harus kembali besoknya."

"Tapi kesungguhanmu benar-benar pantas diacungi jempol., Jihoon-ah." Soonyoung mengacungkan jempol tangannya semakin membuat wajah cantik si gadis memerah.

"Kau sendiri seperti orang bodoh duduk di kursi sampai sore padahal sudah membayar. Kenapa tidak pulang saja?"

"Sudah aku bilang, aku sedang memperhatikanmu," jawab Soonyoung. "Lagipula, aku juga tidak ada kerjaan seharian itu. Daripada cuma berkeliling tidak jelas, lebih baik menemanimu 'kan?"

"Dasar orang aneh," ketus Jihoon.

"Aneh pun kau suka." Soonyoung membuang buku yang ia pegang dan bangkit, merentangkan tangan pada Jihoon yang cuma menatapnya. "Lee Jihoonie, saranghaeee~" dengan riang pemuda sipit itu memeluk kekasihnya dan mengusel gadis mungil tersebut seperti seekor anak kucing.

"Haaah..." Jihoon menghela napas, sudah mulai terbiasa dengan tingkah Soonyoung yang satu itu karena biar bagaimanapun Kwon Soonyoung yang ceria menandakan jika suasana hatinya sedang bagus.

Iya, Soonyoung memang selalu ceria.

Dia selalu ceria.

Selalu dan selalu ceria.

.

.

.

"Kau tahu caranya menyuntik lewat selang infus 'kan?" Raina beranjak dari sebelah ranjang tempat Soonyoung berbaring. "Suntik dia sesuai dosis yang aku berikan tiga kali sehari. Kalau dalam tiga hari demamnya belum turun, aku akan ke sini lagi."

"Eum." Jihoon mengangguk, masih menatap Soonyoung yang pucat, berkeringat, dan nampak tidak nyaman dalam tidurnya.

"Aku akan mengirimkan beberapa bajunya melalui paket karena kalau sampai ada orang yang melihatku ke sini ataupun tahu Soonyoung di sini, masalah besar bisa timbul. Terutama si Jeon Wonwoo itu. Intuisinya sangat tajam dan mulutnya juga jelek. Aku yakin dia tidak akan tinggal diam bosnya diserang masalah bertubi-tubi begini." Raina memandang Jihoon. "Kau akan baik-baik saja 'kan sendirian, Jihoon-ah?"

Jihoon menoleh. Ia tersenyum, "Iya. Aku akan baik-baik saja."

"Baguslah." Raina ikut tersenyum. "Begitulah seharusnya seorang wanita. Tetap kuat untuk bisa mendampingi para laki-laki bodoh seperti Soonyoung." Dokter wanita tersebut menepuk pelan lengan Jihoon.

"Hubungi aku sewaktu-waktu kalau ada yang ingin kau tanyakan," pesannya sebelum berbalik meninggalkan kamar Jihoon menuju pintu utama. Sambil memakai sepatu Raina memperhatikan rumah yang ia kunjungi.

Soonyoung harus benar-benar memperhatikan kehidupan Jihoon. Atau setidaknya memberi dia tempat tinggal yang lebih layak, batin wanita itu.

Raina melangkah keluar rumah dan menutup pintu, berjalan di gang sempit menuju jalan utama dan langsung membelok ketika melihat Jisoo juga baru saja keluar dari gang rumah kontrakannya. Sepasang mata wanita tersebut melotot, dengan cepat ia bergerak mundur lalu menyembunyikan diri di gang yang tak terlihat dari ruas jalan aspal. Terdengar langkah kaki Jisoo mendekat, semakin dekat, dan Raina sudah menggenggam kuat tali tasnya dengan tangan gemetar.

Rringg, terdengar suara ponsel membuat wanita itu gelagapan merogoh seluruh saku bajunya.

"Halo." Suara Jisoo terdengar dan Raina langsung menghembuskan napas lega. Dia kira ponselnya yang berbunyi.

"Aku masih di rumah. Ada apa?" Jisoo membalikkan badan. "Harus sekarang? Oke, aku akan segera sampai di rumah sakit." Laki-laki tersebut berjalan menjauhi gang rumah Jihoon.

Mungkin besok saja aku ke rumahnya, ujar Jisoo dalam hati. Ia menoleh memandang jendela rumah Jihoon sambil tersenyum kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah sakit untuk melakukan shift malam.

Kenapa dia bisa ada di sini? Batin Raina, memandang punggung Jisoo yang sudah menjauh.

Pewaris tunggal konglomerat Hong. Aku dengar dia orang dengan kepribadian unik yang tidak mau tinggal di rumah dan menolak pergi ke kantor namun tetap bisa mengurus semua perusahaannya lewat online. Kenapa orang yang menjadi saingan utama perusahaan Kwon bisa tinggal di tempat kumuh begini dan bahkan pergi berjalan kaki?

Kedua alis Raina bertaut kuat.

Bisa gawat kalau sampai dia melihat Soonyoung di tempat Jihoon. Hong pasti akan langsung membuat skandal yang bisa menghabisi Kwon dalam sekali injak!

-TBC-


Jisoo buat Myka aja. Semakin dibayangin dia makin keren. Tanya: Kok bisa?