Kwon Soonyoung yang dalam pelarian/?
#soonhoon #seventeen #gs #t
Say Yes
8
Dering ponsel yang merambat di permukaan kasur serupa melodi dari alam mimpi berhasil membuat sesosok tubuh setengah telanjang—yang hanya memakai selembar celana dalam menutupi bagian terpenting badannya—untuk menampakkan tanda-tanda kehidupan, setelah nyaris sepuluh panggilan masuk sebelumnya sama sekali tidak membuat ia bergerak meski cuma ujung jari. Tubuh mungil tersebut menggeliat, bibirnya bercelah mengeluarkan dengungan lelah campur kesal sementara kedua tangan terentang meraba dan menggapai spasi tempat tidur mencari sumber suara yang tak jua mau berhenti.
Pip. Akhirnya ponsel berisik itu ketemu.
"Halo." Suara seraknya menyapa malas.
"LEE JIHOON!? KEMANA SAJA KAU!? AKU TELPON DARITADI TIDAK DIANGKAT!" nada tinggi seorang wanita langsung berdenging memenuhi lubang telinga Jihoon.
"Mmm!" Jihoon menggumam ngantuk dengan kedua alis bertaut sebal. Dia membalikkan badan, meninggalkan ponsel nangkring di atas telinga sedangkan kedua matanya tetap dibiarkan tertutup rapat.
"Apa Soonyoung di tempatmu? Dia sudah dua hari tidak pulang ke rumah." Suara Raina masih kedengaran panik di seberang sana tanpa tahu jika lawan bicaranya sedang setengah sadar.
"Hm?" balas Jihoon pendek, perlahan napasnya kembali teratur. Dia mulai tertidur lagi.
"Apa Soonyoung bersamamu? Apa dia menghubungimu? Dia kabur dari rumah dan ponselnya sama sekali tidak bisa ditelpon." Raina mengulangi kalimatnya.
Hening. Tak lagi ada jawaban dari pihak Jihoon.
"Jihoon-ah?" panggil Raina. "Kau masih di sana? Lee Jihoon?" wanita tersebut menjauhkan ponsel dari telinga untuk melihat layar yang sudah kembali ke homescreen. Dia berdecak keras, kembali men-dial nomor gadis mungil pacar sepupunya namun malah operator yang menjawab panggilannya.
Bagus! Sekarang Jihoon juga ikut-ikutan tidak bisa dihubungi! Kompak sekali mereka berdua! Gerutu Raina dalam hati.
-o-
Matahari sudah tinggi saat Jihoon menapakkan kaki di ruang klub musik. Tubuh mungilnya terbalut celana pendek dengan hoodie hitam yang sudah mulai luntur warnanya dan rambut dikuncir kuda dihias semburat gelap menggantung di bawah kedua mata sipit. Gadis tersebut menguap lebar sembari mengayunkan kaki menuju studio biasa dia membuat lagu. Langkahnya terhenti oleh sapaan Seokmin.
"Selamat siang, Noona." Pemuda itu melambaikan sebelah tangan sebab tangan satunya sedang memegang gitar di pangkuan. Wajah Seokmin nampak tak kalah lelah dengan Jihoon tapi entah bagaimana bibirnya masih saja dapat mengembangkan senyuman lebar secerah matahari siang itu.
Jihoon membalas dengan senyuman kecil. "Siang juga, Seokmin-ah. Kau sudah lama di sini?"
"Lumayan." Seokmin mengedikkan bahu. "Aku dari pagi tidur di sini dan membolos semua pelajaran."
Jihoon tertawa kecil. "Terus untuk apa kau ke kampus kalau tidak kuliah sama sekali?"
"Aku malas di rumah. Ibuku akan menginterogasiku habis-habisan kalau aku di rumah dan tidak melakukan apa-apa. Jadi lebih baik aku ke kampus meski akhirnya cuma tidur."
Kembali Jihoon terkekeh. "Kau benar-benar unfaedah."
"Eyy, aku masih lebih baik daripada orang yang sejak kemarin ada di sini dan menumpang tidur," bela Seokmin.
Alis Jihoon mengerut. "Siapa yang sejak kemarin di sini dan menumpang tidur?" tanyanya.
"Soonyoung Hyung," jawab Seokmin.
"Soonyoungie?" desis Jihoon seketika teringat jika dia bermimpi ditelpon Raina yang menanyakan tentang Soonyoung. Tunggu, itu mimpi atau kenyataan ya? Kondisi Jihoon yang sedang tidak cukup sadar untuk menyimpan memori membuat semua ingatannya kabur. Yang dia tahu pasti cuma saat bangun dari hibernasi 2x24 jam-nya, ponsel gadis itu sudah mati kehabisan daya baterei.
"Eum. Aku 'menemukannya' tidur di studiomu. Dia bilang dia ada di sini dari kemarin dan terlalu capek untuk pergi keluar," ujar Seokmin.
"Oh." cuma itu tanggapan Jihoon lantas beranjak dari hadapan Seokmin menuju studio yang dibilang adik kelasnya sedang digunakan tidur oleh Soonyoung sekaligus menjadi studio yang paling sering digunakan Jihoon untuk bekerja.
Gadis tersebut mendorong pintu kedap suara yang tak terkunci dan langsung menyalakan saklar lampu. Memang, dapat Jihoon lihat ada sesosok tubuh dalam balutan celana jeans dan jaket tebal tengah terbaring tak bergerak di sofa seperti 'arem-arem'. Topi jaketnya dibiarkan menutupi rambut hingga kedua mata, menghalau cahaya lampu, membuat silaunya gagal membangunkan manusia itu yang masih mendengkur pelan dalam tidur pulas.
Jihoon meletakkan tas di lantai dan melepas hoodie, menyisakan selembar kaos hitam oversize menutupi bagian atas badannya memberi kesan semakin mungil dipadukan dengan celana pendek yang ia kenakan.
"Soonyoung-ah," panggil Jihoon sembari menggoyangkan pelan tangan pemuda yang tidur seperti orang mati di sofa studionya.
Tak ada reaksi seolah Soonyoung sudah benar-benar mati.
"Soonyoung!" Jihoon memanggil lebih keras dengan tangan juga menepuk bahu kekasihnya tapi si pemilik nama bergeming bagai mayat.
Jihoon berdecak, ia berjongkok di dekat sofa. "SOONYOUNG FIGHTING!" serunya kemudian tepat di salah satu telinga Soonyoung dan pemuda tersebut sontak bangkit duduk sambil berteriak keras.
"YOO! FIGHTING! FIGHTING!"
Lalu hening. Usai berteriak, Soonyoung hanya duduk diam di sofa tanpa bergerak sedikit pun.
Jihoon menghela napas, bangkit berdiri. "Buka matamu dulu," ujarnya seraya menarik turun topi hoodie Soonyoung, membiarkan sepasang mata sipit itu terkena cahaya lampu sementara ia menarik kursi dan menyalakan komputer.
Soonyoung masih bergeming selama satu menit. Di detik selanjutnya baru dia mengangkat wajah dan menyisir poni rambut ke belakang menggunakan jari tangan. Pemuda tersebut menguap lebar, menepuk sofa di bawahnya lantas kembali berbaring. Kedua matanya yang dilingkari warna hitam nampak menatap kosong ke depan.
"Kapan kau datang?" tanya Soonyoung dengan suara serak.
"Baru saja," jawab Jihoon. Jemari lentiknya sibuk mengaktifkan satu per satu software komposing lagu tak mengindahkan mata yang masih terasa lelah dan mulut yang tak henti-henti menguap.
"Jangan memaksakan diri," desis Soonyoung. "Bagaimana kau masih bisa bergerak setelah semua itu? Aku bahkan bersyukur masih bisa membuka mata karena aku pikir aku akan mati kelelahan," lanjutnya mengingat kemarin lusa dia, Jihoon, Seokmin, dan seluruh anggota klub musik—akhirnya—menggelar konser amal yang sudah dipersiapkan matang sejak bulan lalu.
Selama hampir empat jam mereka bergantian tampil sambil berlari ke sana-kemari mengurus keperluan belakang panggung sebab tidak mungkin bagi organisasi kampus seperti mereka dapat menyewa staff panggung. Jadi mau tidak mau mulai dari pemasangan setting, lampu, audio, hingga pengaturan black out dilakukan sendiri. Satu orang terpaksa merangkap tiga hingga lima pekerjaan sekaligus dan hal tersebut tak hanya menguras energi namun juga pikiran karena setelahnya mereka masih harus tampil di depan penonton, membawakan lagu sambil memasang senyum tanpa diijinkan menunjukkan raut lelah—apalagi marah—sedikit pun.
Benar-benar malam yang melelahkan. Maka tak heran kalau keesokan harinya semua anggota klub musik tidak ada yang menampakkan tanda-tanda kehidupan. Mereka pasti sudah tak sadarkan diri di tempat tinggal masing-masing termasuk Jihoon yang jatuh tertidur selama hampir 2 hari berturut-turut di kamar apartemennya.
"Aku sendiri tidak tahu kenapa aku bisa menyalakan ini sekarang. Seolah tubuhku sudah otomatis bergerak kalau masuk ke sini," gumam Jihoon, mengulap wajahnya menyingkirkan poni yang menggantung nyaris menyentuh kelopak mata. Ia menoleh ke sofa, memandang pupil Soonyoung yang kembali terpejam.
"Eonnie mencarimu," ujarnya.
"Eonnie siapa?" balas Soonyoung.
"Raina Eonnie."
Mata sipit pemuda itu terbuka. Raut wajahnya datar.
"Dia bilang apa?"
Jihoon menggelengkan kepala, bangkit dari kursi dan berjalan mendekati Soonyoung. Gadis tersebut naik ke atas tubuh kekasihnya, membaringkan diri tengkurap di atas dada Soonyoung.
"Aku lupa. Aku setengah sadar waktu dia menelpon," bisik Jihoon, menyamankan diri di atas badan kekasihnya yang terasa hangat persis kasur kesayangannya di apartemen. "Lebih baik kalau kau menghubungi dia sekarang. Dia terdengar mencemaskanmu."
Lengan Soonyoung bergerak memeluk Jihoon yang mulai menutup kedua kelopak matanya.
"Abaikan saja." Dia mendesis dan mungkin kalimatnya itu akan dibalas pertanyaan penasaran oleh Jihoon jikalau gadisnya tersebut tidak lebih dulu tertidur sebelum sempat mendengar jawabannya.
"Aku sedang malas mengurusi mereka," sambung Soonyoung berbisik seraya ikut memejamkan mata dan mengeratkan pelukan di tubuh Jihoon.
-o-
Sambil berdendang pelan seorang pemuda tinggi melangkahkan kaki di jalan menuju tempat tinggalnya yang mulai sepi. Malam memang telah turun dengan langit menghitam sempurna ditambah penerangan minim membuat suasana makin mencekam namun Jisoo—pemuda tinggi itu—tetap riang menggumamkan melodi seolah tak merasa terusik sama sekali dengan semua kesunyian di sekitar. Dia sedang bahagia karena barusan ada orang yang mau berbaik hati membantunya melakukan long-shift. Jisoo memang mendapat jatah long-shift (piket dari pagi hingga pagi lagi) selama hampir tiga hari berturut-turut disebabkan ada dokter yang cuti melahirkan. Di saat dia merasa sudah mau mati kelelahan, secara ajaib sore tadi ada salah satu rekannya yang mau menggantikan jaga karena kebetulan dia sedang mencari jam lembur untuk mendapat bayaran tambahan.
Lucky! Pikir Jisoo kala itu. Neraka begadangnya telah berakhir dan dia bisa pulang lebih awal. Di sepanjang perjalanan pria berwajah mungil tersebut tak henti-henti berdendang mengungkapkan rasa bahagianya, bahkan dia juga mampir membeli tteokbeokki untuk merayakan bersama Mingyu serta Jihoon. Kebahagiaan begitu sederhana untuk ukuran seorang Hong Jisoo.
"Falling for you, falling for you~" Jisoo masih bernyanyi pelan bahkan ketika sudah berbelok dari jalan utama menuju gang ke rumah kontrakannya. Walaupun dia anak orang kaya dan meskipun pekerjaannya adalah dokter, namun Jisoo jarang mengemudikan mobil. Dia lebih suka berjalan kaki atau naik sepeda untuk bepergian. Mobil abu-abu metalik yang mendekam tak jauh dari tempat tinggalnya dan dibiarkan kena debu, hujan, angin hanya sesekali digunakan untuk pergi berbelanja bulanan sebab bagasinya yang luas dapat dengan mudah menampung banyak barang. Cuma itu manfaat mobil bagi seorang Hong Jisoo.
"Fallin—" melodi yang mengalun dari celah bibir tipis pria berambut pendek tapi memiliki poni yang menutupi kening tersebut terhenti seiring dengan ayunan kakinya yang membeku. Dia menoleh ke samping, sedikit menggeser langkah ke belakang untuk memastikan penglihatannya barusan. Sepasang mata lebar itu berkedip dengan alis tegas yang kemudian mengerut saat tatapannya menemukan sebuah pemandangan langka. Jisoo bermaksud untuk mendekatkan diri namun niatnya ia urungkan ketika dari arah berlawanan muncul seorang lelaki paruh baya membawa tas plastik. Pria yang lebih muda tersenyum dan menyapa lebih dulu.
"Malam-malam begini membeli apa, Paman?" tanya Jisoo mengenali lelaki itu sebagai ketua RT di lingkungan tempatnya tinggal.
"Oh? Jisoo-ya? Ini tteokbeokki. Aku tidak bisa tidur jadi aku putuskan untuk mengemil saja." Lelaki tersebut terkekeh ramah. "Kau sendiri, kenapa jam segini masih keluyuran? Meski kau masih muda, tapi tidak baik lama-lama berada di luar waktu malam."
Jisoo tersenyum lebar. "Aku baru pulang dari rumah sakit. Kebetulan jadwalku jaga sampai malam, Paman," jawabnya.
"Ckckck. Anak muda jaman sekarang memang sangat rajin bekerja. Ya sudah, cepat pulang dan tidur. Kau harus banyak istirahat untuk bekerja lagi besok."
"Ne, Paman. Sampai jumpa besok." Jisoo membungkukkan badan sopan tanpa melepas senyum sedikit pun.
Sambil memandang kepergian tetangganya, ujung mata bulat pemuda itu masih mengamati benda yang berdiam tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Jisoo menimbang sebentar hingga akhirnya memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa. Ia berbalik, meneruskan perjalanan menuju rumahnya, kali ini tanpa menggumamkan lagu maupun berdendang riang seperti sebelumnya.
-o-
Diskotik. Mau dimana saja tempatnya terkesan tak ada bedanya. Minim penerangan, lampu neon putih yang harusnya menjadi sumber mata mendapatkan cahaya digantikan oleh lampu kecil warna-warni yang menyorot bergantian dari langit-langit ruangan. Berisik, tak hanya oleh suara musik namun juga obrolan serta teriakan pengunjungan. Bau rokok, parfum, dan minuman keras menguar di semua tempat meski AC berkapasitas tinggi sudah dinyalakan di banyak titik strategis. Ramai, tidak diragukan lagi. Lalu di tengah-tengah suasana diskotik yang seperti itu, tepatnya di tempat bartender utama berada, duduk sebuah tubuh jangkung yang melengkung ke depan mengikuti kepalanya yang menempel di permukaan meja di sebelah tangan yang masih memegang sebuah gelas berisi air berwarna keemasan. Di sampingnya berdiri seorang gadis tinggi berpakaian pelayan hitam-putih.
"Wonwoo Oppa, berhentilah minum. Kau sudah terlalu mabuk," desis gadis itu, menatap khawatir pada pria yang seperti telah hilang kesadaran di meja. Sesuai dugaan, pria tersebut tidak menjawab apalagi terlihat merespon kata-katanya.
"Aku menelpon taksi sekarang ya? Untuk mengantarmu pulang," ujar lagi.
"Myungho-ya, ada apa? Aku lihat kau berdiri terus di sini sejak tadi." Seorang pemuda berpakaian sama hitam-putih muncul dari arah belakang mengagetkan rekannya.
"Ah! Oppa terus-menerus minum dan tidak mau berhenti. Setiap aku bilang aku akan mencarikannya taksi untuk pulang, dia selalu menolak," jelas Myungho. "Junhui Oppa, haruskah kita memanggil manager?" ia nampak putus asa.
"Kenapa harus sampai memanggil manager?" balas Junhui heran, alis coklatnya mengerut.
"Habisnyaaa, dia 'kan teman dekat manager Raina," jawab Myungho. "Aku sangat mencemaskannya. Sejak tadi dia sudah minum saaangat banyak!"
Junhui menghela napas. "Ini 'kan bukan pertama kalinya dia mabuk di sini. Biasanya juga akan ada wanita yang menjemput dia pulang, jadi biarkan saja."
"Wanita? Siapa? Ibunya?"
Junhui menatap datar pada rekan kerjanya. "Apa kau serius dengan pertanyaanmu itu?" dia mendesis. "Mana ada pria dewasa yang mabuk di diskotik terus dijemput pulang oleh ibunya!?"
Myungho mengerjabkan mata. "Jadi... pacarnya?"
Kali ini Junhui mengedikkan bahu. "Mana aku tahu. Wanita yang membawanya pergi selalu berbeda. Sudahlah tak perlu mencemaskan dia, kembali bekerja saja."
Myungho bergeming sejenak namun kemudian menganggukkan kepala meski ragu masih tersimpan di raut wajahnya yang merasa tidak puas dengan jawaban Junhui barusan. Baru juga dia berbalik hendak pergi, badan tingginya nyaris bertabrakan dengan seorang gadis mungil berambut pendek yang berjalan tergesa ke tempat Wonwoo berada. Gadis itu langsung mengulurkan tangan, meraih lengan Wonwoo dan menariknya keras memaksa pria tersebut untuk bangkit dari permukaan meja.
"Jeon Wonwoo!" terdengar suara si gadis menghardik.
Walah, beneran dijemput wanita, batin Myungho terkejut.
Wonwoo yang berada di bawah pengaruh keras alkohol cuma memberi tatapan kosong tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Dimana Soonyoung Oppa?" gadis mungil itu—Eunha—bicara dengan nada tegas. Cengkeraman tangannya di lengan Wonwoo terlihat kuat namun tetap saja dapat dengan mudah ditepis pria yang lebih tua sambil ia berdecak pelan. Wonwoo masih membisu, hanya memutar badan menghadap meja bartender dan meneguk isi gelasnya hingga tandas tak tersisa tanpa mengacuhkan keberadaan Eunha.
"Kau pasti tahu kemana dia pergi 'kan? Apa kau—" kalimat Eunha terhenti sejenak. "Apa kau membiarkan dia bertemu dengan wanita itu?" lanjutnya menyimpan geram di suara. Wanita yang ia maksud tentu saja Jihoon.
"Yah, seharusnya kau yang paling tahu kalau Oppa sedang di bawah pengawasan sekarang. Dia sedang diincar banyak orang karena skandal kemarin. Hidup matinya ada di ujung tanduk. Apa kau sama sekali tidak peduli pada itu? Pada reputasinya, perusahaannya, harga dirinya, hidupnya? Jeon Wonwoo, kau sebagai sekretaris pribadi Oppa seharusnya bisa lebih profesional melindungi dia apapun yang terjadi. Bukan malah membiarkannya menghilang tanpa jejak seperti ini! Apa yang akan kau lakukan kalau kemudian saingan kalian menyebarkan gosip murahan tentang Oppa? Apa kau akan tetap berdiam diri dan mabuk-mabukan seperti ini sambil menunggu dia dimangsa hidup-hidup?"
Wonwoo tetap bungkam. Hanya menatap lurus ke depan dengan mata gamang. Genggaman tangannya di gelas kosong whisky perlahan mengerat.
"Jeon Wonwoo!" hardik Eunha kembali menarik lengan pria di depannya, memaksa tubuh jangkung itu untuk berhadapan tapi kemudian dia memekik keras sebab di waktu yang sama Wonwoo melempar gelas yang ia pegang ke lantai.
PRANG! Suara benda pecah masih dapat terdengar menggema lantang di tengah hiruk-pikuk suara musik diskotik, mencuri perhatian para pengunjung, membuat mereka menoleh dan menjatuhkan tatapan terkejut ke tempat yang sama. Mata Eunha membelalak kaget, napasnya berpacu tiba-tiba, sama sekali tak menyangka jika Wonwoo akan bereaksi seperti itu. Di sisi lain Myungho yang masih berdiri di dekat mereka ikut pucat pasi. Pasalnya, hantaman gelas Wonwoo mendarat tepat di sebelah kakinya dan hal tersebut membuat ia membeku seketika layaknya patung es. Junhui yang juga masih belum beranjak langsung mendekati Myungho dengan wajah khawatir, diraihnya kedua pipi gadis tersebut yang memutih.
"Kau baik-baik saja?" tanyanya dibalas anggukan kaku Myungho. Junhui memeluknya erat, mencoba untuk menenangkannya.
"Kau siapa?" suara berat Wonwoo mendesis serak. Perlahan Eunha menoleh, memandangnya dengan dua bola mata bergetar.
"Kau siapa berani mengaturku?" Wonwoo merosot turun dari kursi, berdiri tegak di atas kaki panjangnya, menjulangkan badan jangkung di hadapan Eunha mungil yang harus mendongak untuk membalas tatap tajam matanya.
"Tahu apa kau tentang Soonyoung? Tahu apa kau sampai bisa menceramahiku apa yang harus aku lakukan atau tidak aku lakukan mengenai dia. Akulah yang paling tahu tentang dia. AKU DAN BUKAN KAU!" Wonwoo mengacungkan telunjuk tepat di depan mata bulat Eunha. "Jadi jangan sekali-kali kau mencoba mengaturku. KAU TIDAK TAHU APA-APA SOAL DIA!"
Eunha mengetatkan geraham. Dengan berani ia menyingkirkan tangan Wonwoo dari depan wajahnya, balik menatap pria tersebut geram.
"Aku tunangannya. Aku orang yang akan menikah dengannya, jadi aku yang paling tahu soal dia!"
"Kh-" Wonwoo menyeringai. "Tunangan? Akan menikah? Sekarang aku tanya, apa kau pernah membuatnya bahagia? Apa kau pernah membuatnya benar-benar bahagia dari dalam hatinya sampai dia rela mengorbankan semua yang dia punya untukmu?"
Bibir Eunha bergetar. "Aku..." kalimatnya tercekat di tenggorokan.
"Kau tidak pernah melakukan itu." Dan Wonwoo yang menyelesaikannya. "Soonyoung tidak pernah bahagia bersamamu. Kebahagiaan kalian cuma formalitas untuk melengkapi title perjodohan, pertunangan, dan semua bullshit-nya itu. Karena kalau memang dia bahagia denganmu, dia tidak akan pernah meninggalkanmu. DIA TIDAK AKAN PERNAH MENGHILANG SEPERTI INI!"
"ITU KARENA ADA ORANG YANG MENGHASUTNYA!" suara Eunha melengking. Air bening mulai meleleh dari kedua matanya mewakili berbagai perasaan yang tercampur aduk. Sedih, cemas, takut, marah. Semuanya.
"Wanita itu... wanita itu yang sudah—!"
"Berhenti bicara tentang orang yang kau tidak tahu siapa!" potong Wonwoo, kedua matanya mendelik lebar penuh kemarahan.
"Jihoon tidak akan melakukan hal serendah itu. Dia bukan orang yang seperti itu..." akhir kalimat Wonwoo melirih. "Aku sangat mengenalnya. Dia bukan orang yang akan memaksa Soonyoung mengikutinya. Kalau memang dia begitu, sejak awal dia tidak akan membiarkan orang bodoh itu meninggalkannya tanpa alasan." Tangan Wonwoo terkepal keras hingga bergetar seolah dia tengah menahan berbagai macam emosi yang berkecamuk di dalam dadanya. Perasaan yang ia sendiri tidak tahu harus bagaimana mengatasinya.
Hening.
Kedua tangan putih Eunha terulur, jemari lentiknya meraih lengan kemeja panjang Wonwoo, memeganginya dengan kuat. Kepala gadis tersebut menunduk, butir bening masih menetes membasahi lantai.
"Aku mohon..." bisiknya. "Bawa Oppa pulang." Eunha terisak.
"Bawa dia kembali padaku, aku mohon..."
Wonwoo diam.
"Jeon Wonwoo, hanya kau yang tahu dimana dia sekarang. Aku yakin kau tahu dimana dia... aku mohon padamu..."
"Aku memang peduli pada Soonyoung," desis Wonwoo. "Tapi aku lebih peduli pada perasaannya."
.
"Aku akan mendukung apapun keputusannya."
.
Perlahan Wonwoo melepaskan pegangan tangan Eunha dari lengannya dan beranjak meninggalkan wanita tersebut tanpa mengatakan apa-apa lagi. Dia berjalan pergi, melewati Junhui serta Myungho yang menatapnya bergantian. Sementara di tempat semula, mendadak Eunha jatuh terduduk, menutup muka dengan kedua tangan, menangis sesenggukan sendirian.
-o-
Jadi apa ini keputusanmu, Soonyoung-ah? batin Wonwoo sembari mendongak, memandang atap rumah Jihoon. Dia sekarang sedang berada di belokan gang sempit menuju rumah kontrakan gadis yang menjadi mantan kekasih semasa kuliah teman terdekatnya itu.
Sejak mendengar berita tentang Soonyoung yang tiba-tiba menghilang dari kantor Wonwoo langsung bergerak cepat menelusuri keberadaan bosnya. Mulai dari memeriksa tiap CCTV kantor yang menunjukkan Soonyoung menolong seorang karyawan berlumuran darah di kamar mandi malam-malam, masuk ke ambulans, hingga pertengkarannya dengan Raina. Semua hal tersebut diketahui Wonwoo hanya dari penyelidikan rekaman CCTV. Termasuk saat kemudian Soonyoung berjalan lunglai keluar rumah sakit dan menghentikan sebuah taksi. Dia bahkan sampai meminta bantuan polisi untuk dapat mengakses pusat informasi jalan raya seluruh Seoul dan menemukan kenyataan jika taksi yang dinaiki Soonyoung berhenti di depan rumah Jihoon. Sejak itu ia tak pernah lagi terlihat keluar dari sana.
Wonwoo menghela napas perlahan, tangannya masuk ke saku jas bagian dalam untuk mengambil sebuah bungkus rokok. Dinyalakannya benda itu sebatang, sambil menghirup asap hasil pembakaran tembakau dan menghembuskannya ke udara musim semi yang mulai semakin hangat, pandangan Wonwoo menerawang.
Kalau diingat lagi, kau juga pernah menghilang seperti ini, pemuda itu membatin.
Setahun lalu, waktu kau bertengkar dengan Ayahmu hanya karena beliau menegurmu terlalu larut di kegiatan klub sampai melupakan kuliah. Kau kesal dan tidak pulang ke rumah hampir dua hari. Saat itu, kalau saja Jihoon tidak memberitahu Raina tempat keberadaanmu mungkin kami tidak akan pernah bisa menemukanmu, Wonwoo kembali menghisap rokoknya.
Lee Jihoon. Aku sama sekali tidak bisa memahami jalan pikirannya. Dia bilang dia mencintaimu tapi mau saja melepasmu, tidak memberimu kesempatan membuat alasan untuk tetap berada di sampingnya.
"Kenapa Jihoon tidak menahanku? Apa dia tidak benar-benar mencintaiku? Padahal, kalau saja dia bilang tidak mau aku pergi, aku tidak akan pergi. Aku cuma butuh kata itu. 'Jangan tinggalkan aku'. Kenapa Jihoon tidak mengatakannya?"
Wonwoo menghela napas dalam, kembali menghisap rokoknya dalam keheningan tanpa menyadari tapak sepatu kets kaki Jisoo mulai melangkah mendekat.
-o-
"Kim Mingyu!" panggil Jisoo begitu membuka pintu rumahnya.
"Yo~ baru pulang, Hyung? Mau makan dulu apa mandi dulu?" balas Mingyu yang melongokkan kepala dari ruang duduk. Di bibirnya terjepit sepotong keripik kentang.
"Mobil di pinggir jalan itu punya siapa?" tanya Jisoo tak ingin berbasa-basi.
"Mobil? Dimana?" balas Mingyu heran.
"Di pinggir jalan. Sebelum belokan ke gang depan. Itu mobil mahal, tidak mungkin orang sekitar sini memilikinya," jelas Jisoo lalu menceritakan benda—yang tak lain adalah mobil mewah dengan bandrol harga menyamai sebuah rumah—yang mencuri perhatiannya barusan dalam perjalanan pulang, di tempat ia mengobrol dengan Ketua RT.
"Masa'?" mata Mingyu membulat. "Aku tadi juga lewat sana. Tidak ada mobil sama sekali."
"Jam berapa kau lewat?" tanya Jisoo.
"Sore. Pulang dari restoran."
"Berarti mobil itu baru saja datang," desis Jisoo. "Aku tidak mengenali plat nomornya, jadi tidak mungkin itu dari rumah."
"Hyung, kau mau aku menyelidikinya?" Mingyu serius bertanya.
Jisoo menggelengkan kepala. "Untuk sementara biarkan saja. Mungkin cuma orang yang kebetulan lewat."
"Tapi bagaimana kalau itu salah satu pesaing bisnismu dan mereka di sini untuk memata-matai. Atau bahkan lebih buruk, mereka bermaksud untuk menculikmu!" Mingyu heboh. "Biar aku lihat dulu—ack!" dia bangkit berdiri namun dihentikan dengan cepat oleh tangan Jisoo yang meraih ujung kaosnya dan menarik tubuh tinggi tersebut sampai jatuh terbaring di lantai.
BRUK! Mingyu mengaduh, menggeliat memegang punggungnya yang terasa ngilu membentur permukaan keras ubin.
"Rasanya aku memang pernah melihat mobil itu entah dimana. Tapi sepertinya kalau mata-mata bukan deh. Mana ada mata-mata membawa kendaraan mencolok begitu? Lagipula orang komplek sekitar sini berpenghasilan menengah ke bawah. Kalau mereka pintar, mereka tidak akan membuatku cepat menyadarinya begini," tutur Jisoo masuk akal.
"Jadi yang ke sini orang bodoh dong?" Mingyu memberi perhatian di tempat yang salah.
"Yang pasti selama tidak ada perubahan mencurigakan di sekitar sini kita bisa membiarkan mobil itu." Jisoo menghela napas. "Aku kaget sekali barusan, aku pikir kau yang membawanya kemari."
Mata Mingyu mendelik. "Untuk apa aku membawa benda begituan kemari!?" suaranya meninggi tidak terima mendapat tuduhan.
"Siapa tahu." Jisoo mengedikkan bahu. "Kau 'kan anjingnya Papa."
"Tapi aku orang yang berpegang teguh pada janji!" Mingyu menunjuk rekan tinggal satu atapnya. "Aku sudah berjanji untuk mengikuti misimu jadi meski ada perintah dari Paman Hong aku tidak mungkin mematuhinya tanpa ijinmu!"
"Iya iya, aku percaya." Jisoo mengibaskan tangan, berjalan pergi menuju kamarnya.
"Kalimatmu tidak menunjukkan kau percaya!" Mingyu berteriak kesal. "Hyung, dengarkan aku!"
"Jangan teriak-teriak, Kim Mingyu. Sudah malam. SST!"
-o-
Perlahan Jihoon memeras handuk kecil di tangannya hingga tidak ada lagi air yang menetes baru kemudian dia menempelkannya kembali ke kening Soonyoung yang memerah akibat suhu tubuhnya yang meningkat. Gadis itu memandang jam yang menggantung di dinding, melihat jarum pendeknya sudah sampai di angka tiga lalu dia menguap. Jihoon merosot turun dari tempat tidur, duduk memeluk lutut di atas lantai sambil matanya menatap ke depan pada Chan yang tergeletak pulas di ruang tamu, tidur di permukaan kasur lipat sengaja dijauhkan dari Soonyoung supaya bayi kecil tersebut tidak tertular.
Jihoon menghela napas pendek, perlahan memalingkan wajahnya ke samping dan memandang tangan Soonyoung. Lebih tepatnya dia sedang melihat cincin yang terpasang di jari manis pria itu. Jihoon sudah memberitahu dirinya sendiri untuk tidak lagi mengindahkan keberadaan cincin tersebut sejak berjam-jam lalu, namun entah kenapa dia tidak mampu menghentikan keinginan untuk melihatnya dan kembali menatapnya dengan pandangan kosong seperti sekarang. Tangan Jihoon terulur, ujung jarinya menyentuh logam keras itu lalu rasa nyeri tiba-tiba berdenyut dari dasar rongga dadanya. Gadis tersebut menggelengkan kepala, ditepuknya kedua pipinya sendiri dengan keras supaya sadar.
Hidupmu bukan lagi ada di dia, Lee Jihoon! Tapi Chan! Chan-lah yang paling utama sekarang!
Jihoon bangkit berdiri, memandang sejenak pada Soonyoung yang masih memejamkan mata lantas mengayunkan kaki bermaksud pergi.
"...nha..." suara lirih itu menghentikan gerakan Jihoon seketika.
Eunha?
Dan rasa nyeri kembali muncul di dasar dada si ibu muda.
Jihoon mengetatkan bibir, kembali melangkah meninggalkan kamar untuk berbaring di samping bayinya. Membiarkan Soonyoung mengingau sendirian di tempat tidur.
"...ha... Jihoo... nha..."
-TBC-
Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan~
