Selamat hari raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin :3

.

#soonhoon #seventeen #gs #t

Say Yes
9

"Lee Jihoon, tidurlah denganku."

Kepala Jihoon langsung menoleh begitu mendengar kalimat tersebut. "Apa kau bayi? Mau tidur saja minta ditemani," balasnya ketus.

"Jangan pura-pura bodoh. Kau tahu maksudku—"

"Hentikan, Jeon Wonwoo. Apa kau segitu mabuknya sampai semua kalimatmu jadi ngelantur?" potong gadis mungil lantas meneguk habis minuman keras di gelasnya. Mereka sedang berada di klub milik Raina saat ini, duduk bersisian menghadap meja bar sementara Soonyoung kelayapan mencari makan entah kemana. Suara keras musik menyamarkan pembicaraan keduanya, bahkan mungkin cuma mereka yang bisa mendengar perkataan satu sama lain.

"Aku tidak pernah mabuk." Wonwoo tersenyum. "Meski aku minum satu drum bir aku tidak akan mabuk." Dia meneguk habis isi gelasnya dalam sekali telan tanpa menunjukkan sedikit pun ekspresi terganggung ketika cairan keras dan panas tersebut melewati kerongkongan.

"Jadi bagaimana, Jihoon-ah. Kau mau tidur denganku?" Wonwoo mengulangi kata-katanya, menatap gadis mungil yang tengah duduk di sebelah dengan sorot teduh mata dingin dan senyum simpatik yang Jihoon yakin pasti menjadi senjata andalan pemuda itu untuk membuat semua wanita meleleh ke dalam pelukannya.

"Apa sudah jadi sifatmu, menggoda semua perempuan termasuk pacar temanmu?" tanya Jihoon dengan wajah datar, sejujurnya dia tidak menyukai cara Wonwoo tersenyum. Dia terlihat jauh lebih baik dengan muka jutek dan ekspresi emo yang biasanya.

"Mau pacar teman atau pacar ayahku, perempuan tetap perempuan," ujar pemuda tinggi bermata sipit. "Aku yakin kalian punya metode 'seleksi alam' dan terus mencari pasangan hidup terbaik tanpa pernah berhenti. Kalian akan meninggalkan yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan yang lebih baik tak peduli itu teman, musuh, pacar ibumu, pacar anakmu, maupun pacar temanmu. 'Kesetiaan' cuma kata penghibur kosong." Wonwoo menyeringai. "Faith is bullshit."

"Kau sudah gila, Jeon Wonwoo," desis Jihoon jengah, ia beranjak turun dari kursi dan hendak pergi, namun tangannya dengan cepat ditahan oleh jemari panjang pemuda tinggi yang masih belum menyerah.

"Aku dengar ibumu dirawat di rumah sakit dan perawatannya membutuhkan biaya yang tidak sedikit."

Sorot mata Jihoon menajam kali ini, semakin mengembangkan seringaian Wonwoo menjadi senyum kemenangan. Perlahan dia juga turun dari kursi dan mendekatkan diri pada Jihoon yang mengikuti gerakannya hingga mendongakkan kepala.

"Aku punya uang yang lebih banyak dari Soonyoung. Perlu kau tahu, meski aku cuma anak kedua dan tidak menjadi pewaris utama seperti Soonyoung tapi aku sudah punya pendapatan sendiri. Aku punya investasi dan banyak rekening yang bisa aku ambil sesuka hati, tidak seperti Soonyoung yang harus mendapat persetujuan dari orang tuanya sebelum melakukan transaksi besar." Wonwoo meraih helaian rambut halus Jihoon, ia sedikit membungkukkan badan untuk bisa mensejajarkan wajah pada gadis mungil yang tengah menatapnya dengan muka memerah menahan apapun emosi yang sedang bergejolak di dalam dadanya.

"Berapa uang yang kau butuhkan untuk mengobati ibumu? Satu juta? Lima juta? Seratus juta? Aku akan memberikannya tunai. Dan kalau kau tidak sanggup mengganti uang sebanyak itu secara tunai juga, kau bisa mengangsurnya dengan bercinta denganku seminggu sekali selama kurun waktu yang kita sepakati bersama." Wonwoo masih tersenyum. "Tenang saja, akan aku bantu menyembunyikannya dari Soonyoung," bisiknya melanjutkan.

Rahang Jihoon mengeras. "Seharusnya ini akan jadi momen bagus untuk menamparmu, Jeon Wonwoo." Ia mendesis sementara pemuda yang lebih tinggi hanya terkekeh. Dilepaskan tangan dari helai surai coklat Jihoon.

"Namun kenyataannya kau tidak menamparku 'kan? Apa itu artinya kita sepakat, Lee Jihoon? Seks pasti bukan hal yang baru untukmu. Aku tidak percaya kau belum pernah melakukannya."

"Aku memang pernah melakukannya—kh, apa yang kau harapkan dari orang berumur dua puluh tahun di jaman sekarang," sela Jihoon cepat. "Tapi bukan berarti aku mau melakukannya dengan orang sepertimu."

"Kau terlalu pemilih," desis Wonwoo. "Tipe ideal itu cuma kenaifan yang lebih mirip dengan omong kosong."

"Aku tidak bicara tentang tipe ideal," ujar Jihoon. "Aku cuma benci pada laki-laki yang gemar menggoda perempuan untuk kesenangannya semata setelah itu meninggalkannya. Apa kau bahkan ingat wajah para wanita yang kau ajak kencan? Kau sama sekali tidak bisa menghargai orang lain. Aku benci orang-orang sepertimu."

"Jika kau membicarakan harga maka itu adalah uang—"

"Kalau begitu kau tidak akan pernah selesai membayarku karena yang aku inginkan bukan cuma satu malam bersamamu tapi KARMA supaya kau tidak akan pernah melupakanku seumur hidupmu!" tuding Jihoon. "Aku akan membuatmu memikirkanku siang dan malam. Aku akan menjadi mimpi burukmu. Kau tidak akan pernah dapat lari dari penyesalan karena sudah memilih orang yang salah untuk kau ajak tidur. Apa kau siap?"

Wonwoo terdiam, senyum menghilang dari wajahnya dan sorot matanya kembali mendatar lengkap dengan tatapan dingin ciri khasnya. "Kedengarannya seperti sebuah kutukan—"

"Memang benar! Jangan kira aku tidak bisa melakukannya! Akan aku kutuk kau dengan rasa penyesalan tiada akhir sampai mati!" Jihoon geram.

"Oke oke, aku menyerah." Wonwoo mengangkat tangan. "Kau menang, Lee Jihoon. Kau mengalahkanku. Kau benar-benar mengerikan," ujarnya masih dengan ekspresi datar.

"Dasar!" gerutu Jihoon. "Bisakah kau berhenti melakukan lelucon seperti itu? Dulu kau pernah tiba-tiba bilang mencintaiku dan ingin jadi kekasih gelapku. Lalu mengajakku berciuman. Dan sekarang merayuku untuk tidur denganmu. Kalau sampai Soonyoung tahu kebiasaan burukmu ini, dia pasti akan memukulmu."

"Dia sudah tahu." Wonwoo kembali duduk di kursi menghadap bar.

"Eh?" Jihoon terkejut. "Maksudmu, dia membiarkan kau menggoda setiap pacarnya?"

"Yaah, dia memang memarahiku beberapa kali tapi setelahnya dia jadi berterima kasih." Wonwoo meneguk kembali bir yang sudah mengisi gelas. "Anak konglomerat seperti Soonyoung tidak mungkin tak menjadi incaran para wanita. Terlebih dia orang yang lemah menghadapi wanita. Dia selalu kesulitan untuk menolak perempuan-perempuan itu, jadi aku membantunya sedikit."

"Membantunya dengan cara menggoda mereka?" tanya Jihoon, kembali duduk di sebelah Wonwoo.

"Nafsu wanita 'kan gampang ditebak. Kalau bukan karena wajah pasti uang. Untungnya mukaku lebih menjual daripada Soonyoung."

Jihoon melengos.

"Sayangnya untuk menjebak wanita-wanita itu aku harus totalitas hingga ke adegan ranjang dan itu membuatku mendapat julukan playboy. Semua gara-gara si bodoh Soonyoung." Pemuda tinggi menggerundel.

"Bukankah kau juga menikmatinya?" desis Jihoon lebih tepat disebut tuduhan.

"Tapi sepertinya aku sudah tidak perlu melakukannya lagi," ujar Wonwoo sembari menoleh, memandang Jihoon yang balik menatapnya polos.

Kau sudah menemukan gadis yang tepat, Soonyoung-ah.

"Kenapa?" sepasang mata kecil tersebut berkedip.

"Tidak ada." Pemuda berambut hitam tersebut menggeleng lantas beranjak dari kursinya.

"Mau kemana?" tanya Jihoon heran.

"Kencan." Wonwoo melambaikan tangan. "Kalau Soonyoung mencariku, suruh saja dia pulang duluan."

Jihoon berdecak keras. "Dasar playboy." Ia menggerutu. "Memang sudah dari sononya dia doyan perempuan, tapi masih juga menyalahkan orang lain."

-o-

Tak tak tak! Suara ujung pisau terdengar nyaring mengenai tatakan kayu dalam irama teratur, diiringi keras hempasan potongan bawang segar basah yang langsung diceburkan ke dalam minyak mendidih menciptakan aroma harum bumbu yang dikagumi sendiri oleh peraciknyaㅡKim Mingyuㅡyang melanjutkan memasak sambil tersenyum dan berdendang kecil. Berhadapan dengan dapur yang sedang ia gunakan, duduk Jisoo di ruang makan yang merangkap sebagai ruang nonton TV dan bersantai. Buku ada di tangannya, kacamata terpasang di atas hidung, namun pandangan lelaki tersebut menerawang seolah jiwanya tengah terbang entah kemana.

"Hyung, semalam aku mendapat cerita bagus dari ibuku. Kau sudah dengar dari Bibi belum?" tanya Mingyu sembari tangannya sibuk membolak-balikkan tumis sayuran di teflon.

Tak ada jawaban, Jisoo masih diam di tempat dengan tangan terpatri pada buku.

"Ibuku bilang, ada anak konglomerat yang sedang kabur dari rumah dan karena skandal itu saham perusahaannya terancam anjlok. Masih belum jelas siapa orangnya, tapi kalau sudah ketahuan kita bisa ikut menyerang. Lumayan 'kan, satu pesaing hilang," tutur Mingyu lagi.

"Mingyu-ya," panggil Jisoo dengan suara mengambang.

"Ne, Hyung?" jawab Mingyu layaknya adik yang baik.

"Tidakkah kau merasa aneh? Sudah hampir dua hari Jihoon tidak ke sini," desis Jisoo.

"Lalu?"

"Biasanya 'kan dia rajin ke sini. Entah untuk makan atau menitipkan Chan." Jisoo menoleh ke dapur. "Tidak mungkin 'kan tiba-tiba dia berubah rajin masak dan sama sekali tidak kerepotan mengurus Chan sendirian? Bagaimana menurutmu?"

"Hyung." Mingyu meniriskan tumis sayuran ke piring. "Jihoon Noona itu sudah dewasa. Dia bahkan sudah punya anak. Tentu saja tidak aneh kalau dia bisa masak, mengurus anak dan dirinya sendiri, meski memang sih kadang dia mager lalu melempar semua pekerjaan pada kita." Pemuda tersebut berjalan keluar dapur untuk meletakkan piring berisi tumis sayuran ke atas meja yang sudah disiapkan oleh Jisoo.

"Justru yang aneh itu kau." Mingyu menuding. "Hyung, aku beritahu ya. Jadi orang jangan terlalu baik. Jangan terlalu gampang mempercayai dan mencemaskan orang lain. Mungkin benar Jihoon Noona sudah bertetangga lama dengan kita, tapi aku yakin dia sendiri pasti punya insting bertahan hidup. Jadi, santai saja."

Jisoo berdecak. "Aku khawatirnya kalau Jihoon sakit atau apa. Kau sendiri tahu dia selalu sembrono mengurus diri dan anaknya. Bagaimana kalau ternyata sekarang dia sedang sakit? Dan Chan cuma dikasih minum air putih dengan biskuit? Atau jangan-jangan malah dia sakit tapi nekat menyusui Chan dan Chan jadi ikutan sakit?"

Mingyu terdiam. "Hyung, jangan membuatku paranoid." Ekspresi wajahnya mengeras. Kecemasan mulai menguar nyata dari kedua matanya. Perumpaan Jisoo terlalu nyata dan faktual untuk kepribadian seorang Lee Jihoon, dengan kata lain bayangan tadi tidak bisa sepenuhnya salah.

"Mingyu-ya..." bisik Jisoo. "...apa kita harus menelpon ambulans?"

"Bodoh! Cek dulu baru telpon ambulans!" Mingyu melompat ke pintu kontrakan masih dengan memakai celemek, di belakangnya menyusul Jisoo.

"NOONA! JIHOON NOONA! KAU MASIH HIDUP 'KAN!?" teriak Mingyu seperti orang kesurupan di jalan.

-o-

"Wonwoo-ya, kau masih di sini?" sapaan sebuah suara berat mengagetkan Wonwoo yang sedang mengetik di laptop, reflek dia langsung berdiri dan membungkukkan badan pada pemimpin perusahaan yang tak lain adalah ayah Soonyoung, Tuan Kwon.

"Ini sudah lewat dari jam kantor. Pulanglah," ujar Tuan Kwon dengan suara beratnya yang selalu terdengar tenang dan berwibawa walau letih nampak tergaris jelas dari warna hitam yang menggantung di bawah sepasang mata tua pria itu.

"Pekerjaan saya sedikit lagi selesai, Pak. Setelah ini saya akan langsung pulang," ujar Wonwoo kembali membungkukkan badan. "Maaf sudah membuat anda cemas."

Tuan Kwon menganggukkan kepala puas. "Kau benar-benar punya dedikasi sangat tinggi pada semua tanggung jawab yang diserahkan padamu. Putra keluarga Jeon memang tidak ada yang mengecewakan."

Pemuda yang mendapat pujian hanya tersenyum kecil. "Terima kasih, Pak Direktur. Saya merasa tersanjung."

"Seandainya anak bodoh itu bisa belajar sedikit saja darimu..." pandangan Tuan Kwon beralih pada meja manager yang berada tak jauh dari meja tempat Wonwoo melakukan pekerjaannya sebagai asisten. Meja itu nampak sunyi walau di atasnya terdapat alat tulis lengkap, laptop modern yang merupakan sarana dari perusahaan untuk menunjang produktifitas kerja, serta sebuah papan nama akrilik bertuliskan KWON SOONYOUNG.

Perlahan Tuan Kwon menghela napas panjang. "Apa kau tahu dimana anak itu sekarang, Wonwoo?"

Untuk sesaat pemuda yang ditanya hanya bisa diam lalu menggelengkan kepala.

"Maaf, saya tidak tahu dimana Soonyoung berada, Pak," desisnya lirih.

"Aku pikir seiring dengan usianya yang bertambah dia akan semakin dewasa. Aku kira dengan memberinya seorang istri dia akan bisa mulai berpikir jauh ke depan dan tidak lagi menyia-nyiakan waktunya untuk hal bodoh."

"Saya percaya Soonyoung pasti punya alasannya sendiri." Wonwoo memberanikan diri menyela. "Dia meskipun dari luar kelihatannya tidak bisa diandalkan, tapi pada kenyataannya dia selalu berusaha keras memberikan hasil yang terbaik. Kali ini juga—dia pasti tidak akan mengecewakan kita. Dia pasti akan kembali dan memperbaiki semua salah paham ini sampai tuntas."

Tuan Kwon kembali menghela napas. "Aku harap dia tidak terlambat." Suaranya terdengar pelan. "Rumor soal menghilangnya ahli waris perusahaan sudah mulai meluas. Kalau sampai nama Soonyoung muncul ke permukaan, kita sudah tidak bisa apa-apa lagi."

"Saya tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ujar Wonwoo.

Tuan Kwon memandang pemuda tinggi yang sedang memberinya sebuah tatapan tegas penuh keyakinan dan rasa percaya diri. Sebuah semangat yang memang seharusnya ada di dalam diri orang-orang muda seperti dia.

"Kau berteman baik dengan Lee Jihoon 'kan?"

Sedetik ekspresi datar lelaki yang lebih muda nampak terkejut meski selanjutnya dia segera menguasai diri dan kembali tenang.

"Lee Jihoon... siapa maksud anda?"

"Tidak perlu berbohong. Tidak usah melindunginya," ujar Tuan Kwon kali ini membuat kilat khawatir muncul dari kedua mata pemuda yang tengah berhadapan dengannya. "Aku tidak akan melakukan hal buruk pada gadis itu. Aku cuma ingin tahu orang seperti apa dia. Apa yang sudah dia lakukan sampai Soonyoung bisa jatuh begitu dalam padanya."

Wonwoo menunduk pelan, bibirnya bergerak dengan ragu. "Yang saya tahu, Jihoon hanya memperlakukan Soonyoung seperti orang biasa. Soonyoung menyukainya karena cuma dia gadis yang tidak memperlakukannya sebagai anak orang kaya."

"Dia terdengar seperti seorang gadis yang baik," bisik Tuan Kwon, seulas senyum terukir di bibir keriputnya.

Pemuda berambut hitam tidak menjawab, hanya mengalihkan pandangan seolah tak mau membuka mulutnya lebih jauh.

"Aku sudah berusaha untuk tidak terlalu tertarik pada gadis ini, tapi kalau kau bahkan bilang begitu sepertinya mau tak mau aku harus menemuinya sendiri," sambung Tuan Kwon.

"Sebaiknya jangan," desis Wonwoo memberanikan diri.

"Kenapa?" alis Tuan Kwon mengernyit heran.

"Karena Soonyoung mungkin bisa marah pada anda." Pemuda tinggi tersebut menunduk. "Dia tidak pernah membawa Jihoon pada anda, berarti dia memang tidak ingin anda tahu soal gadis itu 'kan?"

Tuan Kwon bergeming sejenak. "Anak itu memang selalu sembrono, membuatnya mendapat banyak masalah di sana-sini. Tapi dia akan sangat berhati-hati dalam bertindak kalau sudah menyangkut hal yang penting baginya. Semakin penting hal itu, maka akan semakin dia berpikir dua kali untuk membuat keputusan. Lee Jihoon pasti merupakan orang yang sangat ingin dia lindungi, sampai aku yang ayahnya ini tidak tahu apa-apa soal mereka."

Pria yang lebih muda terdiam.

"Bukankah alasan itu sudah cukup untukku, harus melihat sendiri seperti apa Lee Jihoon? Seperti apa wanita yang dipilih dan dilindungi Soonyoung dengan segenap kemampuannya."

Wonwoo mengetatkan rahang. "Tetap saja..." ia mendesis dengan suara yang tidak didengar oleh atasannya.

"Percayalah padaku, Wonwoo-ya. Aku tidak akan melakukan hal yang buruk pada Lee Jihoon. Sekarang beritahu orang tua ini, apakah Soonyoung anakku yang bodoh itu sedang bersama Lee Jihoon?"

Pemuda tinggi berambut hitam langsung mengatupkan mulut rapat dan memalingkan wajah.

"Jeon Wonwoo." Panggilan itu terdengar lunak sekaligus tegas di satu waktu membuat bibir Wonwoo bergetar seperti seorang anak kecil yang khawatir akan dimarahi oleh ayahnya.

"Saya..." dia berbisik. "Saya tidak tahu."

-o-

"BERISIK!" kepala Jihoon yang nongol dari balik pintu lengkap dengan teriakan dan ekspresi kesalnya sontak membuat Jisoo dan Mingyu terlonjak di tempat mereka berdiri.

"JANGAN TERIAK-TERIAK! JANGAN MENGGEDOR PINTU! AKU SEDANG BEKERJA!" omel Jihoon dengan dada naik turun, di pelukannya ada Chan yang kedua pipinya basah. Sepertinya baru saja menangis.

"Chan-ahhh~" Mingyu memanggil riang, mengulurkan tangan pada bayi yang langsung memberinya 'hiks' membuat gerakan pemuda tersebut mematung.

"Teriakanmu membangunkan dia. Makanya dia jadi kesal dan menangis," keluh Jihoon.

"Maafkan aku, Chan..." Mingyu suram seketika.

"Kau baik-baik saja?" Jisoo angkat bicara.

"Maksud Oppa? Aku tidak kenapa-napa," jawab Jihoon heran.

"Kau tidak keluar rumah dua hari dan tidak pergi makan ke tempat kami. Kami khawatir. Kami pikir kalian sakit."

"Err..." bola mata Jihoon berputar. Bukan aku sih yang sakit, tapi orang lain...

"Tenang saja, Oppa. Aku sangat sehat dan baik-baik saja kok. Aku cuma sedang dikejar deadline, jadi tidak sempat pergi kemana-mana." Jihoon mengibaskan tangan.

"Kau bisa bekerja dan mengurus Chan sendiri? Kami tidak keberatan membantumu kalau kau kerepotan," ujar Jisoo, rasa lega tercermin dari binar matanya.

"Ah yaaa, begitulah. Hahaha. Kebetulan Chan sedang tidak terlalu rewel, jadi tenang saja." Jihoon salah tingkah.

"Kalau begitu malam ini kau makan di tempat kami saja, Noona," celetuk Mingyu.

"Eh!?" Jihoon kaget. Kalau aku keluar, yang menjaga Soonyoung siapa?

"Benar sekali! Mingyu bilang akan mentraktir kita semua makan di restoran hanwoo," imbuh Jisoo membuat adiknya melotot.

"Siapa bilang begi—aw!" Mingyu tak berkutik setelah kakinya diinjak oleh Jisoo yang menyadari mata Jihoon langsung bersinar mendengar kata 'hanwoo'. Dia sangat tahu kesukaan gadis mungil itu. Lagipula, siapa yang tidak menyukai hanwoo?

"Oke! Tunggu aku lima menit! Aku segera siap!" Jihoon setuju begitu saja.

Yes! Jisoo bersorak dalam hati.

"Sambil kau bersiap-siap, aku akan menjaga Chan untukmu." Pemuda tersebut bermaksud untuk masuk ke dalam rumah tetangganya namun dengan sigap Jihoon menutup pintu terlebih dulu.

"Tidak perlu! Aku akan ke tempat kalian nanti! Kalian tunggu saja di rumah!"

Hening.

"Benar 'kan, ada yang aneh dengan Jihoon," gumam Jisoo.

"Apanya yang aneh?" sahut Mingyu, sedang meratapi masa depannya yang harus mentraktir Jihoon makan hanwoo di saat dia sendiri tahu seperti apa nafsu makan wanita yang satu itu.

"Dia pasti sedang menyembunyikan sesuatu dari kita. Kalau tidak, dia tidak akan melarang kita masuk ke dalam rumahnya begini. Hmmm." Jisoo mengusap dagu.

Rahang Mingyu mengeras. "Wajar saja seorang wanita single melarang laki-laki masuk ke dalam rumahnya, Hyung! Yang aneh itu justru kau yang suka menyelinap masuk ke rumah dia tanpa ijin seperti orang mesum!"

Wajah Jisoo memerah. "A-aku bukan orang mesum. Lagipula sudah seharusnya orang bertetangga rukun satu sama lain?"

"Rukun apanya kalau kebiasaanmu masuk ke rumah orang lain seperti pencuri!" Mingyu kesal.

"Kenapa kau jadi berteriak padaku, Kim Mingyu?"

"Kenapa kau membuatku harus mentraktir kalian makan!? Aku tidak punya uang!"

"Ya sudah, aku yang bayar."

"Oke sepakat!"

-o-

"Aku segera kembali," bisik Jihoon seraya menaikkan ujung selimut hingga menutupi dada Soonyoung yang masih berbaring sejak tiga hari lalu. Demamnya sudah turun dan menurut Raina seharusnya ia akan sadar dalam waktu dekat.

Perlahan Jihoon bangkit membuat tempat tidur bergoyang sebentar dan beranjak mendekati Chan yang ia biarkan berbaring di lantai setengah mengantuk di samping kain gendong yang sudah disiapkan oleh ibunya. Tak butuh waktu lama bagi wanita mungil itu untuk bersiap-siap, begitu sudah menggendong Chan serta menyandang tas berisi kebutuhan bayinya di salah satu bahu Jihoon memandang sejenak Soonyoung yang masih nampak tenang tertidur di ranjang. Sekejab terbersit rasa tidak nyaman di dadanya.

Bagaimana kalau waktu aku kembali, aku tidak bisa melihatnya lagi di tempat ini?

Namun sedetik kemudian Jihoon menepis jauh-jauh pikirannya tersebut.

Kalau dia tidak ada di sini berarti Raina Eonnie sudah membawanya pergi. Untuk apa aku harus mencemaskannya.

Dengan itu gadis mungil tersebut beranjak menuju pintu rumahnya, melangkah keluar, dan mengunci pintu, menyisakan keheningan yang secara instan langsung menaungi petak sempit kontrakan sederhana hingga ke sudut terkecil.

-o-

"Kakek itu bertanya padaku 'Nak, kau siapa?' aku jawab 'Saya dokter di sini, Kek. Kakek mau kemana? Saya antar'. Dia bilang mau ke toilet, ya sudah aku antar ke toilet. Begitu sampai di depan toilet dia berhenti, dia memandangku lama. Aku jadi heran lalu aku tanya dia 'Ada apa, Kek? Tidak jadi ke toilet?' dia menjawab 'Kau siapa?' oh my God!" tutur Jisoo menuai gelak tawa Mingyu dan Jihoon bersamaan.

"Memang susah berurusan dengan orang jompo." Mingyu terbahak. "Kalau tidak sabar, kita pasti sudah tepar. Hahaha!"

"Tepar fisik tidak masalah, masih bisa dipulihkan." Jisoo menyahut, bibirnya masih tersenyum, geli membayangkan kembali pengalamannya sendiri. "Tidak berlebihan rasanya kalau aku menyebut ini tepar secara psikologis. Kakek itu pikunnya mengalahi diriku. Baru lima menit lalu aku memperkenalkan diri, dia sudah bertanya lagi siapa aku. What did I do in the past to deserve thisss!"

"Hahaha!" kembali Mingyu dan Jihoon tertawa ngakak.

"Sabar, Hyung. Begitulah orang tua."

"Sejak itu aku tidak mau masuk bangsal geriatri lagi. Bukan keahlianku." Jisoo mengakhiri ceritanya dengan membalik beberapa potong daging di atas mesin pemanggang menggunakan sumpit lalu mengambil satu untuk dicelupkan ke dalam saus berisi adonan bumbu.

"Aku juga pernah bertemu dengan orang jompo begitu di rumah sakit waktu mengantar Chan cek bulanan," ujar Jihoon. "Aku sedang berjalan dan tiba-tiba ada seorang nenek yang memanggilku. Dari logat bicaranya sepertinya beliau orang Daegu. Dia memanggilku keras lalu membentakku dan memarahiku. Dia bicara sangat cepat, aku sampai kesulitan memahami kata-katanya—"

"Dan biasanya gigi orang jompo juga sudah mulai ompong, membuat apapun yang mereka katakan jadi makin tidak jelas," sela Jisoo.

"Benar! Benar!" Jihoon sependapat. "Nenek itu terus memarahiku sampai aku malu dilihat oleh banyak orang," lanjutnya. "Lalu aku memberanikan diri untuk menyelanya. 'Maaf, anda salah orang' aku bilang. Dia cuma terdiam melihatku, memicingkan mata, kemudian berkata 'Oh iya, kau bukan Minji' lalu pergi. Iya! Dia pergi begitu saja meninggalkan aku cengo sendirian. What the!"

Giliran Jisoo yang tertawa.

"I feel ya, girl. I FEEL YA." Jisoo antusias.

"Aku sering bertemu orang jompo yang hendak menyeberang jalan, tapi untungnya tidak pernah bertemu yang pikun seperti itu," ujar Mingyu di sela-sela tawanya. "Bisa gigit sandal aku kalau bertemu orang tua begitu."

"Jangankan gigit sandal, rasanya kau ingin mengunyah kaca dan beton," timpal Jihoon. "Mau marah, tidak boleh. Tidak marah tapi mengesalkan. Berurusan dengan orang tua tidak bisa pakai logika. Bisa-bisa kita yang bunuh diri kalau terlalu dimasukkan ke hati," tandasnya.

"Benar sekali." Jisoo sependapat.

"Apa nanti kita kalau sudah tua akan jadi begitu ya?" celetuk Mingyu. "Pikun dan suka salah mengenali orang."

"Menurut ciri-ciri sih, kau yang paling sesuai dengan kategori itu, Kim Mingyu," jawab Jihoon. Jisoo terkikik.

"Ah, Noona~ kau jahat sekali," protes Mingyu.

"Kita pasti akan jadi begitu suatu saat nanti. No exceptional." Jisoo menengahi.

"Nyonya Lee." Sebuah sapaan sopan menghentikan obrolan heboh ketiga sahabat tersebut.

"Ne?" jawab Jihoon memandang pelayan yang baru saja memanggilnya.

"Putra anda sudah bangun."

"Oh iya, terima kasih." Wanita itu hendak bangkit berdiri tapi tangan berkulit gelap Mingyu menghentikannya.

"Aku saja. Aku belum minta maaf pada Chan karena sudah membuat dia kesal tadi siang."

"Oke." Jihoon langsung mengiyakan, kembali duduk dan membiarkan Mingyu yang mengambil bayinya di ruang penitipan anak karena sejak masuk ke dalam kedai Chan terus tidur sehingga tidak mungkin membawanya ikut serta makan.

"Apa Chan sehat?" tanya Jisoo dengan cekatan mengambil satu per satu daging matang dari mesin pemanggang untuk diletakkan di atas piring dan menggantinya dengan potongan baru yang masih segar.

"Eum," angguk Jihoon, menikmati hanwoo yang sudah ditiriskan Jisoo di piring.

"Aku sama sekali tidak keberatan kalau kau sibuk, tapi setidaknya kau tetap harus mengutamakan Chan," ujar pemuda yang lebih tua dengan suara lembut. "Kau bukan lagi gadis lajang, Jihoon-ah. Kau seorang ibu."

"Aku tahu," kata Jihoon. "Oppa tidak perlu mencemaskanku berlebihan. Aku makan dengan baik, cukup minum dan istirahat. Aku juga tidak 24 jam non stop bekerja. Tenang saja, aku bisa menjaga diri."

"Meski kau bilang begitu juga..." Jisoo mendesah pelan. Sepasang mata bulatnya menatap lekat pada Jihoon yang sedang asyik mengunyah daging berlapis saus bumbu.

"Jihoon-ah, tidakkah terpikir olehmu untuk mencarikan Chan seorang ayah?"

Pandangan Jihoon dengan cepat jatuh ke manik coklat di depannya.

"Maksud Oppa?"

"Kau masih muda dan Chan juga masih bayi. Belum terlambat untukmu 'membuat sosok ayah' bagi dia. Tidakkah kau menginginkannya? Seseorang yang bisa membantumu mengurus rumah dan Chan."

Jihoon mengalihkan pandangan. "Aku paling tidak suka topik seperti ini, Oppa." Ia mendesis.

"Maaf." Jisoo tersenyum tipis. "Aku cuma ingin memberi sedikit saran. Maaf kalau itu malah menyinggungmu."

Jihoon tidak menjawab.

"Tapi kalau di kemudian hari kau kepikiran tentang itu, aku—"

"Ta-daa!" Mingyu muncul dengan senyuman lebar merekah di wajah. Di gendongannya ada Chan yang langsung menjerit riang saat melihat Jihoon dan menggerakkan tangan ke depan mencoba meraih ibunya.

"Mamamama!"

"Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi aku senang dia bangun dan langsung tertawa melihatku," oceh Mingyu. "Melihatnya bahagia begini, rasanya hatiku meleleh seperti saus daging. Ahh Chaaan~" pemuda tan itu mendramatisir.

"Chan bahagia bukan karena kau, tapi karena tidurnya lama dan enak," koreksi Jihoon.

"Auwamama," panggil Chan, merentangkan tangan ke arah Jihoon. "Emamamam."

"Noona, bisakah kau menyenangkan aku sedikiiit saja," protes Mingyu sambil cemberut.

"Tidak." Jihoon menggelengkan kepala.

"Kejam," cibir pemuda tinggi berkulit tan.

"Aku hidup untuk diriku sendiri dan bukan untuk menyenangkan orang lain," lanjut si gadis mungil.

"Dingin!" Mingyu kesal.

"Mamamama!" Chan memanggil lebih keras. "Auuu!"

"Apa? Kau memanggil Eomma?" Jihoon memandang anaknya yang segera tergelak riang.

"Uwa mma auu," oceh bayi itu.

"Eomma tidak mengerti. Bicara yang benar," goda Jihoon.

"Uwawa auu mamamam!" Chan terus berceloteh dengan tangan mungil mengarah pada Jihoon.

"Uwa uwa apa? Eomma tidak paham." Jihoon sengaja tidak mempedulikan anaknya dan melanjutkan makan.

"Mma! Aaa! Auu! Aemamama!" Chan mulai frustasi dan setelah itu baru ibunya tergelak.

"Oke oke, Eomma mengerti." Jihoon mengambil bayinya dari pangkuan Mingyu. "Anak Eomma kyeo sekali—cup! Pintar sekali bicara—cup! Siapa yang mengajari—cup! Siapa huh, siapa?" gregetan, Jihoon bicara sambil mendaratkan ciuman bertubi-tubi ke kedua pipi gembul bayinya bergantian membuat gelak tawa Chan langsung menggema di tengah-tengah keramaian kedai daging.

"Eomma sedang makan, apa kau mau makan juga? Mau daging? Ini?" Jihoon mengambil sepotong hanwoo menggunakan sumpit dan memperlihatkannya pada Chan yang langsung mengulurkan tangan hendak meraihnya tanpa pikir panjang.

"Tidak boleh~ ini punya Eomma. Aem~" namun dengan jenaka Jihoon memasukkan daging tersebut ke dalam mulut dan membiarkan sepasang mata kecil Chan melihatnya.

"Nyam nyam nyam. Enak sekali~" ujar Jihoon sengaja menggoda bayinya yang terus memperhatikan ia mengunyah makanan. Seolah mengerti jika sedang dikerjai, mendadak raut muka Chan berubah. Bibirnya melengkung ke bawah dengan pipi dan hidung memerah.

"Hiks—"

"Waduh, kau kesal? Jangan menangis. Cup cup cup~" Jihoon terkejut.

"Huweee!" Tangisan legendaris pun pecah.

"Eomma jahat!" Mingyu bicara dengan suara cadel. "Dia pasti bilang begitu," katanya mengacu pada Chan yang masih menangis di pelukan Jihoon.

"Makanya jangan terlalu sering mengerjai anak kecil. Kalau mereka menangis, kau juga yang repot," sambung pemuda jangkung tersebut diiyakan oleh Jisoo yang mengunyah daging penuh kedamaian di sebelahnya. Sedangkan Jihoon tidak dapat membalas perkataan kedua lelaki tersebut dan hanya mendengus ketika bangkit berdiri, hendak menuju ruang penitipan sekaligus menjadi tempat tertutup bagi ibu yang ingin menyusui bayinya.

-o-

Sementara itu di tempat lain, di dalam rumah Jihoon, di antara kesunyian yang mencekam berpeluk lembut sprei ranjang dan hangat selimut, perlahan ujung jari yang memakai cincin pertunangan nampak bergerak disusul sepasang kelopak mata pucat mencoba membuat celah setelah selama berhari-hari terkatup rapat. Sipit bola mata mengintip, memandang suram kamar tanpa cahaya yang ditemani keheningan. Dengan lemah kedua manik itu bergerak menyamping, menatap kosong apapun yang tergambar samar pada retina matanya.

Tok tok tok. Terdengar suara ketukan dari pintu depan.

"Nona Lee Jihoon, anda di dalam?" sebuah kalimat sopan menyapa nyaring.

"Maaf mengganggu anda sore-sore begini, tapi bisakah anda keluar sebentar?"

Siapa...?

Tok tok tok.

"Nona Lee Jihoon."

Jihoon...

Sepasang alis mengernyit seiring dengan binar kesadaran perlahan-lahan mulai mengisi mata sipit yang masih terbuka payah kehabisan tenaga.

Iya. Aku mencari Jihoon.

Bagai terbangun di batas antara tidur dan sadar, sekujur tubuh ia rasakan mati kaku. Jangankan untuk bangkit, menggerakkan tangan saja dia tak mampu.

Apa aku akan mati?

Kembali sepasang mata kecil itu memandang gamang pada kegelapan atap kamar yang balik menatapnya bisu.

"Nona Lee, kami hanya ingin menanyakan sedikit tentang Tuan Muda Soonyoung. Tolong buka pintunya."

Bergeming, kedua mata sipit tersebut masih menatap lurus pada kegelapan dengan sorot yang berubah datar.

Tuan Muda Soonyoung kalian sudah mati. Jangan mencarinya lagi.

.

"Maaf, Tuan. Sepertinya Nona Lee sedang tidak ada di rumah." Dengan hormat sekretaris Hwang membungkukkan badan di depan Tuan Kwon yang membalas dengan helaan napas pelan.

"Dia tidak ada di rumah atau tidak mau menemuiku?" desisnya. "Wonwoo juga bersikeras bilang tidak tahu dimana Soonyoung. Dia benar-benar tidak tahu atau tidak mau memberitahuku? Kenapa anak-anak muda ini kompak sekali bersikap antipati pada orang tua sepertiku?"

"Maaf, Tuan. Akan saya tempatkan pengawal di sekitar sini untuk mengawasi dan mencari informasi—"

"Tidak perlu." Tuan Kwon mengangkat tangan keberatan.

"Tapi, Tuan bilang kemungkinan besar Tuan Muda ada di sini—" sekretaris Hwang terkejut.

"Ada di sini atau tidak, itu cuma prasangka. Wonwoo sendiri bilang dia tidak mungkin ada di sini juga. Terlalu beresiko bagi Soonyoung datang ke tempat yang bisa memicu skandalnya sendiri."

"Baik, Tuan." Sekretaris Hwang membungkuk hormat.

"Lebih baik kita kembali ke kantor. Ada banyak pekerjaan penting yang harus diselesaikan," ajak Tuan Kwon lantas beranjak dari depan pintu rumah Jihoon diikuti sekretaris Hwang di belakangnya.

Apapun yang kau lakukan sekarang, jangan pernah mengecewakan Appa, Soonyoung-ah.

-o-

"Wuaah kenyang~ kenyang kenyang kenyang~" sorak Jihoon sambil merentangkan kedua tangannya ke atas.

"Waaa!" Chan menyahut dari gendongan ibunya, ikut menunjukkan kepalan mungil tangannya meniru Jihoon.

"Kenyang ya, Chan-ah. Dagingnya enaaak sekali!" ulang sang Eomma puas.

"Auuu!"

"Syukurlah kalau kau senang, Jihoon-ah." Jisoo tersenyum lembut.

"Harus senang! Kalau belum senang setelah menghabiskan hampir satu sapi nanti jadinya kelainan," sahut Mingyu yang berjalan di samping kedua rekannya menuai lirikan sinis salah satu dari mereka, siapa lagi kalau bukan Jihoon.

"Kenapa kau sirik sekali padaku sejak tadi, Kim Mingyu?" tanyanya pedas. "Mau aku makan banyak atau sedikit 'kan bukan kau yang bayar, tapi Jisoo Oppa. Kau tidak berhak kesal padaku."

Mingyu mendecih. "Cih, dia tahu ternyata."

"Tak usah berlagak seperti kau yang membayar," sambung Jihoon.

"Iya iya aku tahu." Mingyu menyerah. Tidak mudah berurusan dengan Jihoon Noona, batinnya. Sedangkan dari samping mereka Jisoo hanya memperhatikan sambil tersenyum.

"Apa setelah ini kau akan bekerja lagi, Jihoonie?" tanya Jisoo.

"Iya, tinggal menambah beberapa instrumen dan neraka ini akan selesai," jawab Jihoon.

"Auu aiiyaa waa!" Chan menambahi.

"Ne ne, Chanie juga harus membantu Eomma dengan tidak berbuat nakal ya." Dengan lembut Jisoo mengusap kepala bulat Chan yang ditumbuhi rambut-rambut halus.

"Pintu rumah kami selalu terbuka kapanpun kau membutuhkan bantuan," pesan si dokter muda sebelum mereka berpisah di depan gang rumah Jihoon.

Gadis mungil menjawab tawaran tetangganya dengan sebuah senyuman. "Terima kasih untuk traktirannya. Sampai jumpa besok." Ia melambaikan tangan.

"Sampai jumpa," balas Jisoo tetap berdiri di tempat seraya memperhatikan sosok Jihoon hingga menghilang masuk ke dalam gang.

"Hyung, aku mandi duluan ya." Perkataan Mingyu tidak ditanggapi oleh Jisoo sebab pria yang lebih tua terlanjur dipenuhi berbagai macam pikiran yang bermunculan di benaknya.

Apa yang bisa aku lakukan untuk melindungi kalian berdua Jihoon-ah, Chan-ah?

Mata Jisoo meredup.

"Jihoon-ah, tidakkah terpikir olehmu untuk mencarikan Chan seorang ayah?"

"Tapi kalau di kemudian hari kau kepikiran tentang itu, aku—"

.

—aku bersedia menjadi ayahnya.

-o-

"Pam pam pam~ akhirnya kita pulang~" dendang Jihoon seraya mengambil kunci pintu dari dalam tasnya.

"Auuu waa aaii." Chan menyahut nyanyian ibunya dengan riang.

"Pam pam pam~ hari sudah malam~" ia melanjutkan hingga masuk dan melepas sepatunya di beranda.

"Auuwaa maemama." Chan menggerakkan kedua kaki dan tangan seolah dia sedang menari di gendongan ibunya.

"Pam pam pam~ waktunya Chanie tidur~" Jihoon menyalakan satu per satu lampu termasuk lampu di depan rumah sambil kakinya melangkah di lorong menuju ruang duduk.

"Auuwaa." Chan masih mengoceh.

"Hm? Kau tidak mau tidur?" tanya Jihoon seolah mengerti apa yang dikatakan oleh bayinya.

"Maemamam." Dan seperti sedang menjawab pertanyaan sang ibu, Chan pun menganggukkan kepala.

"Kau tidak mau tidur? Kenapa? Tidakkah kau mengantuk?" Jihoon terkejut, dengan pelan ia menurunkan anaknya ke atas lantai.

"Auwawa." Chan menggelengkan kepalanya dengan keras ke kanan dan ke kiri lantas bayi tersebut memekik keras, "WAAAA!" dan membalikkan badan tengkurap, segera merangkak membuat ibunya tergelak.

"Baiklah kalau kau tidak mau tidur. Bermainlah dulu sampai capek." Jihoon menyerah pada sikap bayinya yang penuh semangat dan menggemaskan.

Selagi Chan sibuk sendiri, lebih baik aku mengecek—

Jihoon mengalihkan pandangan pada kamar tidur yang pintunya ia biarkan terbuka supaya memudahkannya melihat keadaan di dalam dan sontak kedua mata kecil wanita tersebut membelalak lebar. Jihoon berdiri dengan cepat, melompat menuju pintu kamar, merasakan dadanya bergemuruh kencang melihat ranjang yang sudah kosong. Botol infus tidak nampak menggantung lagi dan selimut yang seharusnya tertata rapi membungkus tubuh seseorang beberapa jam lalu kini sudah berantakan di atas tempat tidur tanpa menyisakan apapun.

Napas Jihoon tercekat.

"Mma?" dari arah belakang kakinya Chan merangkak mendekat dengan wajah heran.

Tubuh gadis itu terasa lemas.

Soonyoung-ah...

-TBC-


Apa yang akan kalian lakukan kalau ketemu Myka di real life? :3 *ngarep banget jadi pemes/? XD