#soonhoon #seventeen #gs #t
Say Yes
10
Jihoon menyadarkan dirinya cepat. Mencoba berpikir positif.
Mungkin saja begitu dia sadar dia langsung menghubungi orang di rumahnya atau Wonwoo—ah ya, dia mungkin menghubungi Wonwoo, lalu Wonwoo menjemputnya, dan mereka pulang bersama. Pasti begitu. Iya, pasti begitu. Tak ada yang perlu kau cemaskan, Jihoon-ah. Tak ada yang perlu kau cemaskan...
Jihoon terdiam, perlahan merosot jongkok di tempatnya berada, tak mengerti akan rasa panas yang muncul di kedua mata dan bagaimana penglihatannya menjadi kabur karena lapisan air bening. Gadis itu memegang kepala yang tidak terasa sakit, justru rasa sakit berasal dari dalam dadanya.
Kenapa rasanya...aku seperti orang bodoh ditinggalkan lagi seperti ini... Jihoon merutuk dirinya sendiri.
"Mmaa auuu," di sisi lain Chan yang belum mengerti situasi saat ini bergerak merangkak memasuki kamar. Dia menyentuh kayu panjang tempat menggantungkan topi dan mantel yang juga sempat menjadi tempat botol infus berada. Memegangnya, menepuk-nepuk penasaran, lalu ketika ia sadar benda mati tersebut tidak memberi respon apa-apa Chan meninggalkannya bosan. Bayi tersebut berbalik, ganti merangkak ke tempat lain, menuju sisi ujung tempat tidur yang berhadapan dengan meja rias Jihoon. Chan mengedarkan pandangan, terdiam. Perlahan ia duduk, mengerjabkan mata kecilnya dan menelengkan kepala ke samping.
"Aaa," bayi mungil tersebut mulai mengoceh. "Auwaa mmaa uuwaa."
Jihoon yang masih larut dalam pikirannya sendiri tidak mengindahkan celotehan Chan, dia hanya menoleh sebentar ke sumber suara tanpa melakukan apa-apa.
"Mamama." Chan masih berbicara. "Auuu kyaaa!" bayi itu mendadak memekik, senyuman lebar merekah di wajahnya dan ia kembali merangkak. Bergerak ke depan.
"Jangan ke sini, kau bisa tertular...uhuk uhuk..."
Jihoon terkesiap mendengar bisikan lirih barusan. Dia menoleh ke arah Chan dan mendapati bayinya kembali tertawa senang.
"Kyahaha! Aemamamama," Chan masih mencoba merangkak namun kemudian sebuah telapak tangan besar yang bagian punggungnya diplester pada selang panjang nampak memegang kening bayi tersebut, menahannya untuk semakin mendekat. Jihoon cepat berdiri.
"Aniya, ku bilang jangan ke si—" ucapan serak bibir pucat terhenti ketika sosok Jihoon muncul di belakang Chan, menatapnya. Perlahan Soonyoung mendongak, terdiam membalas tatap mata sipit yang mengarah lurus padanya. Pandangan Jihoon sendiri beralih mengamati keadaan pria itu. Bajunya masih sama seperti saat terakhir ia mengecek keadaannya, selang infus masih terpasang meski cairannya stuck dan berhenti mengalir karena botolnya diletakkan sembarang di atas lantai, lalu yang membuat dada gadis itu berdesir adalah sebuah foto di tangan Soonyoung. Itu adalah foto Jihoon yang sedang menggendong Chan. Satu-satunya foto keluarga yang ia cetak dan bingkai untuk menghiasi kamar.
"Hai..." desis Soonyoung tak tahu harus mengatakan apa. Sepasang matanya menatap dengan sorot lemah, wajahnya pucat pasi, dan bibir tipisnya juga memutih kering.
"Uwaa," ocehan Chan seperti melempar ibunya yang termenung kembali pada dunia nyata. Bayi tersebut masih memaksa untuk merangkak sementara Soonyoung tetap menahan keningnya sembari sesekali terbatuk. Jihoon mengulurkan tangan ke bawah, meraih Chan untuk digendong.
"Auwaa mamamama," Chan protes. Menunjuk-nunjuk ke lantai, mengisyaratkan masih ingin merangkak tapi Jihoon malah membawanya keluar kamar.
"Mmaaa!" bayi usia enam bulan mulai berteriak kesal tak diindahkan oleh ibunya. Jihoon mengambil baby fence, memasangnya di ruang tamu dan meletakkan Chan tepat di tengah-tengah. Wanita muda itu juga memberi bayinya beberapa bola membuat Chan menjerit senang dan langsung merangkak girang mengejar bola-bola kesukaannya.
"Tetap di sini. Eomma segera kembali," pesan Jihoon seolah anaknya akan mengerti apa yang diucapkan, lantas ia kembali masuk ke kamar.
Langkah kaki Jihoon berhenti di dekat Soonyoung yang masih berada di tempat semula. Duduk di lantai sambil memeluk foto Jihoon dan Chan.
"Kau bisa berdiri?" tanya gadis mungil, nada suaranya keluar datar.
"Bisa...mungkin," desis Soonyoung, mencoba tersenyum namun gagal. Energinya seolah sudah terkuras habis hingga untuk menggerakkan bibir selain bicara terasa sangat sulit untuknya.
Jihoon mengambil figura dari tangan Soonyoung, kembali meletakkannya di atas meja rias. Dia meraih lengan panjang pria tersebut, membawanya ke atas pundak dan membantu Soonyoung untuk bangkit berdiri.
Berat... batin Jihoon namun tetap membopong lelaki yang seumuran kembali ke atas tempat tidur. Begitu Soonyoung sudah berbaring lagi di ranjang, Jihoon menutupkan selimut di tubuhnya lalu memeriksa jarum infus di tangannya, wanita itu menggantung lagi botol cairan nutrisi di gantungan topi.
"Kau mau makan sesuatu?" tanya Jihoon. Soonyoung menggeleng lemah.
"Aku akan membuatkanmu bubur," ujar gadis berambut panjang sebelum berbalik keluar kamar tanpa sadar gerakannya diikuti oleh sepasang mata sipit yang menatap penuh rindu.
"Mmaaa!" Chan berteriak dari ruang tamu.
"Mwo!?" balas Jihoon dari dapur. "Eomma sedang memasak. Kau main di situ saja."
"Aaa!" bayi tersebut menjerit. "Maaa! Mamamaemama!" Chan terdengar seperti sedang mengomeli ibunya.
"Apa sih!? Eomma tidak paham kau bicara apa," balas Jihoon. Soonyoung yang mendengar percakapan absurd tersebut hanya dapat menyunggingkan senyum kecil di dalam kamar.
Sepertinya kau berhasil hidup dengan baik, Jihoon-ah. Syukurlah... perlahan sepasang mata pria itu terpejam.
.
Soonyoung terbangun pada rasa dingin di dahinya. Perlahan ia membuka mata dan langsung dapat melihat seraut wajah Jihoon di hadapannya. Wajah mungil dengan pupil sipit, bibir tipis, dan pipi halus yang selama ini hanya dapat ia tatap jauh di dalam memori hati tanpa mampu diwujudkan dalam sosok nyata.
Apa aku mimpi? Aku melihat Jihoon...
"Demammu tadi sudah turun tapi sekarang naik lagi. Besok aku akan minta Raina Eonnie ke sini memeriksamu," gumam Jihoon menyakinkan pria yang sedang terbaring kalau ini bukanlah mimpi. Soonyoung tidak sedang bermimpi melihat ataupun mendengar suara gadis yang dulu pernah menjadi separuh dari jiwanya tersebut. Dia tidak sedang bermimpi seperti biasanya. Ini kenyataan.
"Kau mau minum?" tanya Jihoon dijawab sebuah gelengan lemah. Soonyoung mengalihkan pandangan keluar kamar, dari pintu yang dibuka dapat ia lihat sosok kecil Chan sudah tidur pulas di kasur lantai ditutupi sebuah selimut kecil.
"Jam berapa sekarang?" bisik Soonyoung yang masih bisa didengar Jihoon. Wanita bertubuh mungil memutar badan mencari jam dinding.
"Sebelas malam."
"Kau belum tidur?"
"Setelah ini aku tidur." Jihoon memandang Soonyoung yang masih memandang keluar kamar. "Panggil aku kalau kau membutuhkan sesuatu." Ia beranjak dari tepi ranjang.
"Jihoon-ah," lemah panggilan Soonyoung menghentikan gerakan Jihoon.
"Siapa namanya?" tak perlu Jihoon balik bertanya siapa yang dimaksud pria tersebut, sudah pasti ia bertanya tentang Chan.
"Chan. Lee Chan."
Perlahan senyum tipis terukir di bibir Soonyoung. "Lee Chan..."
"Aku yakin aku pernah mengatakan ini padamu, tapi aku akan mengulanginya lagi," desis Jihoon. "Dia bukan anakmu. Chan bukan anakmu, dia anak orang lain."
Soonyoung menatap Jihoon, masih tersenyum. Nampak kepalanya mengangguk, "Aku tahu..."
Kemudian Jihoon beranjak keluar kamar, kali ini sedikit menutup pintu meski masih ada celah yang dapat dipakai Soonyoung untuk tetap memperhatikan bagaimana Chan menggeliat dalam tidur ketika pipi gembulnya diciumi gemas oleh Jihoon sebelum ibu muda itu ikut berbaring dan memeluk bayinya.
Sebenci itukah kau padaku, Jihoon-ah? Batin Soonyoung. Sampai kau tidak mau mengakui dia adalah anakku...
-o-
"Auwaaa~" Chan merangkak di lantai tepat ketika sepasang tangan Jihoon meraih kedua kakinya dari belakang lalu menarik bayi tersebut hingga ia meluncur backward di permukaan lantai kayu.
"Aaaaa!" Chan berteriak protes. Begitu kakinya dilepas dia kembali menegakkan tangan dan paha, hendak merangkak lagi namun Jihoon malah mengangkat badan mungil itu dari lantai.
"Uwaaa!" Chan berontak, mencoba melepaskan diri di dekapan kuat ibunya yang sedang memasangkan kaos kaki pada sepasang kaki mungil yang tak berhenti menendang-nendang sebab ingin bermain di lantai.
"Diamlah. Diam sebentar. Kalau kau diam pekerjaan ini akan segera berakhir dan kau bisa main lagi," bujuk Jihoon merasa seperti sedang berperang melawan anaknya sendiri yang masih berteriak-teriak, menggeliat, dan menendangi kaki ibunya.
"MMAAA!" jeritan lantang andalan Chan sampai melengking keluar, mengagetkan Raina yang sedang memeriksa suhu badan Soonyoung di dalam kamar.
"YAH! Bisakah kau diam, Lee Chan!?" teriak sang dokter pura-pura kesal.
"Ssst, diamlah. Diam. Lihat, kau dimarahi Tante Raina," bisik Jihoon sejenak dapat menghentikan gerakan Chan. Di kesempatan yang singkat tersebut dia langsung memakaikan kaos kaki pada kaki anaknya dan beanie yang menutupi rambut di kepala bulatnya.
"Kalian itu selaaalu saja bertengkar. Berisik tau!" ujar Raina sambil menatap tajam pada Chan yang memandangnya dari ruang duduk. Bayi tersebut lekat menatap Raina, perlahan bibirnya melengkung ke bawah, dan...
"Huweee~" tangisan keluar dari celah bibir Chan mengagetkan Raina maupun Jihoon.
"Yah, wae wae wae wae?" Jihoon memeluk bayinya sementara Chan menangis makin keras di dada ibunya. "Kau mengerti kalau sedang dimarahi? Kau takut, huh? Atau kau kesal dimarahi Tante Raina?" tanya Jihoon sembari membawa anaknya berdiri, menimangnya sambil berjalan memutari ruang duduk.
"Mwoya~" Raina tertawa. "Bagaimana bisa dia sudah mengerti kalau sedang dimarahi?"
"Dia pasti cuma takut pada suaramu saja, Eonnie." Jihoon mengibaskan tangan, ikut terkekeh mengusap punggung Chan yang sesenggukan.
"Ah kyeo~ kenapa dia sangat pintar?" Raina gemas.
Setelah Chan mulai tenang, Jihoon menurunkannya ke lantai bermaksud untuk mengambil tas dan alat gendong. Namun baru Jihoon membungkukkan badan tangis Chan kembali pecah. Dia merengek seraya mengeratkan cengkeraman jari gemuk di baju ibunya.
"Apa kau setakut itu pada Tante?" Jihoon benar-benar tidak habis pikir. "Baiklah, Eomma akan terus menggendongmu." Dia menyerah, memeluk Chan di dadanya sambil berjalan masuk ke kamar tempat Soonyoung berbaring untuk mengambil tas serta alat gendong.
"Rawr!" Raina mendekati bayi yang menguselkan muka di tubuh ibunya, membuat makhluk mungil tersebut kembali menangis.
"Chan tidak boleh ikut Eomma. Chan di sini saja sama Tante. Ne?" Raina memegang badan keponakannya, menarik si mungil untuk lepas dari pelukan Jihoon dan membuat bayi tersebut menjerit keras sambil menangis.
"MMAAAA! HUWAAA!" muka Chan sudah memerah dengan pipi basah kuyup bercucuran air mata tapi hal itu malah membuat Raina tergelak makin girang.
"Eonnie, hentikan. Sudah sudah. Kau bisa membuatnya cegukan nanti." Jihoon mendekap erat bayinya, menimang sambil mengusap punggungnya lembut sementara si tante jahil tertawa terbahak-bahak. Soonyoung yang memandang kesemua itu dalam diam ikut mengulum senyum.
"Kyeowo~ dia kyeowo~ Chanie kyeowo~" Raina meraih wajah Chan, memaksanya untuk menerima ciuman walau si bayi sudah menolak dan kembali menangis menjerit-jerit.
"Hadeeeh, kapan aku berangkat kerja ini!?" Jihoon tertawa pahit. Meeting menantinya kurang dari setengah jam namun sekarang bayinya menangis hebat digoda tanpa henti oleh tantenya yang sebodo amat.
"Stop stop stop!" Jihoon menjauhkan Chan dari jangkauan Raina.
"Andweee~ Jihoon-ah, aku masih mau main dengan Chan." Raina merengek.
"Eonnie tidak bermain dengannya, Eonnie membuatnya menangis," ujar Jihoon, buru-buru keluar dari kamar dan kembali ke ruang duduk. Dia menurunkan Chan ke lantai, menuai rengekan bayi tersebut. Dengan cepat gadis bertubuh mungil memakai selendang gendong mengelilingi badan lantas meraih Chan lagi, langsung memasukkan dia ke balik kungkungan kain hangat. Jihoon juga melepas kancing bajunya, memaksa memasukkan puting susu ke mulut Chan supaya tangisan bayi itu lekas berhenti.
"Kau tidak asik, Jihoon-ah," keluh Raina memandang wanita muda yang memakai mantel dan menenteng tas, sudah siap pergi keluar.
"Aku akan kembali tiga jam lagi," pamit Jihoon dengan langkah tergesa menuju beranda rumah.
"Ne~ hati-hati di jalan!" seru Raina membalas. Tak ada jawaban, hanya suara pintu depan ditutup dan dikunci dari luar.
Suasana hening dalam sekejab. Terlalu hening sampai Raina bisa mendengar suara napasnya sendiri. Dokter wanita itu menoleh, mengambil termometer dari Soonyoung.
"38 derajat. Sudah lebih baik daripada sebelumnya," desis Raina datar.
"Noona," panggil Soonyoung serak. "Terima kasih," sepasang mata sipit menatap lemah pada saudara sepupunya.
"Kau sudah menemani Jihoon selama ini," ia melanjutkan.
"Jangan bicara, Soonyoung-ah. Semua yang kau katakan hanya akan membuatku kesal," ujar Raina.
"Saat aku tahu dia melahirkan anakku, aku terus berpikir kehidupan seperti apa yang sudah dia lalui. Kesulitan apa yang sudah dia hadapi. Tapi sekarang aku lega kalau ternyata ada Noona yang membantunya," desis Soonyoung.
"Tapi itu tidak akan membuat dosamu berkurang." Raina menatap tajam adik sepupunya. "Satu tahun yang sudah dia lalui tak akan pernah bisa kau tebus meski kau harus masuk neraka sembilan kali. Dia sudah mengalami banyak hal yang tidak bisa kau bayangkan."
Sorot mata lemah Soonyoung berubah sendu. "Aku tahu..."
Keadaan kembali hening.
"Apa selama ini ada lelaki yang mendekati Jihoon?" tanya Soonyoung.
"Kau pikir siapa lelaki yang sudi dekat-dekat dengan wanita hamil tanpa pasangan? Jihoon tidak pernah membiarkan siapapun mendekatinya. Dia sudah berniat untuk hidup hanya berdua dengan Chan sampai mati," jawab Raina.
"Kalau aku bilang begitu padanya, apa dia akan mengakui Chan anakku?"
Raina memandang Soonyoung heran. "Dia benar-benar bilang Chan bukan anakmu?"
Pria yang terbaring di ranjang perlahan mengangguk. "Dia masih bersikukuh bilang Chan bukan anakku. Padahal jelas-jelas anak itu punya tahi lalat merah di ketiaknya yang jadi penanda keturunan keluargaku."
"Tsk. Gadis itu sangat keras kepala." Raina berdecak keras. "Kalau memang dia bilang begitu padamu, kau turuti saja. Kalau kau membantah bisa-bisa dia benar-benar tidak akan mau bertemu denganmu selamanya."
"Kenapa dia tidak menemuiku saat tahu dirinya hamil?" tanya Soonyoung.
"Apa lagi kalau bukan 'tidak mau merepotkanmu'?" ketus Raina. "Kalian putus dengan alasan kau mau belajar bisnis di luar negeri dan Jihoon menerimanya. Sesederhana itu! Walau pada akhirnya dia tahu alasanmu yang sebenarnya adalah kau sudah lama bertunangan dan akan segera menikah. Itulah kenapa dia memutuskan menyembunyikan kehamilannya darimu. Dia terlalu marah padamu hingga tidak sudi lagi melihatmu. Dia merasa kau sudah membohonginya selama ini."
Soonyoung menutup mata, merasakan pening mendengar penuturan Raina. "Jadi dia sudah tahu kalau aku akan bertunangan dengan orang lain?" desisnya. "Kau yang memberitahunya?"
"Aku tidak bisa berbohong pada gadis itu. Dia sadar ada yang aneh pada sikapmu dan aku tidak tega membiarkannya terus mencemaskanmu. Dia pikir dia sudah melakukan kesalahan dan tanpa sengaja menyakitimu oleh karena itu kau meninggalkannya. Aku tidak mau dia menyalahkan dirinya sendiri padahal kaulah yang sebenarnya paling bersalah."
Soonyoung menelan air ludah yang terasa pahit. "Mungkin itu juga alasan dia tidak mau mengakui Chan adalah anakku. Jihoon sedang menghukumku."
Suasana kembali hening hingga Raina menyeletuk, "Aku sebenarnya tidak ingin mengungkit ini tapi aku pikir kau harus tahu. Kau sudah menghilang selama tiga hari dan sekarang ada banyak orang yang panik mencarimu. Paman, Bibi, Wonwoo, dan seluruh staff perusahaanmu."
"Aku tidak mau kembali ke sana," desis Soonyoung.
"Dan lari dari tanggung jawabmu lagi? Tidakkah cukup dengan kau lari dari tanggung jawabmu akan Jihoon? Dan sekarang kau ingin lari dari tanggung jawab yang lain?" balas Raina ketus. "Yah, Kwon Soonyoung. Kalau memang kau laki-laki sejati, jangan pernah kau lari. Hadapi setiap masalah dan selesaikan!"
Soonyoung terdiam.
"Aku akan meminta Wonwoo ke sini untuk membicarakan pekerjaanmu—"
"Jangan," potong Soonyoung cepat. "Jangan suruh dia ke sini. Aku akan menghubunginya nanti. Wonwoo sangat sensitif pada Jihoon. Mereka bisa bertengkar kalau dia datang ke sini."
"Anak itu masih saja tidak mempercayai Jihoon?" Raina mendelik kaget.
Soonyoung mengangguk. "Dia sudah menyalahkan Jihoon atas semua masalah ini. Aku tidak mau mereka bertemu."
"Lalu bagaimana kau akan menyelesaikan pekerjaanmu?" tanya Raina.
"Tolong kau bawakan laptopku. Aku bisa mengurusnya online."
"Oke. Aku membantumu hanya karena aku tidak mau Jihoon semakin repot karena kebodohanmu. Tapi kalau kau malah membuat keadaan ini makin runyam, aku tidak akan segan-segan lagi padamu," ancam Raina.
Soonyoung kembali mengangguk, ia tersenyum kecut. "Terima kasih, Noona."
-o-
"Soonyoung-ah," panggil Jihoon mengganggu kekasihnya yang sedang mempelajari kord gitar baru.
"Hm?" balas Soonyoung terlampau fokus pada senar di antara jari-jarinya.
"Kau pernah melakukan seks?"
Pertanyaan pendek tersebut langsung membuat kepala Soonyoung menoleh dengan mata membulat lebar.
"Apa maksudmu?" balasnya heran campur kaget.
"Wonwoo gemar meniduri wanita dan kalian selalu bersama bahkan sering berbagi makanan, jadi aku tak akan heran kalau kalian juga akan berbagi wanita."
"Aniya!" Soonyoung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku tidak pernah tidur dengan sembarangan wanita! Aku tidak seperti Wonwoo!"
"Berarti kau pernah meniduri wanita?"
Soonyoung terpojok.
"Aku sudah 20 tahun. Bukankah itu wajar?" dia tak dapat mengelak.
Jihoon menyeringai. "Ternyata anak konglomerat juga manusia biasa yang punya hawa nafsu. Aku pikir karena kalian punya posisi tinggi jadi akan tabah seperti Budha."
"Jangan meledekku," ketus Soonyoung kesal.
"Berapa kali kau tidur dengan wanita?" tanya Jihoon lagi.
"Sudah hentikan! Aku tidak mau membahasnya!" wajah Soonyoung memerah. "Niat sekali kau mau membongkar aib orang!"
Jihoon tergelak. Merasa puas bisa membuat kekasihnya mencak-mencak.
"Kau sendiri bagaimana?" Soonyoung keceplosan mengucapkan pertanyaan itu.
Jihoon berhenti tertawa, ganti menatap pemuda yang terkejut akan kalimatnya sendiri.
"Kau yakin mau tahu?" balas Jihoon. "Aku tidak mau membuatmu kecewa."
Pikiran dan hati Soonyoung langsung bergejolak hebat. Jawaban Jihoon begitu ambigu. Antara dia sudah pernah melakukan seks atau malah sebaliknya. 'Kecewa' apa yang dimaksud itu?
"Seperti yang kau bilang, umurku sudah 20 tahun. Jadi wajar saja 'kan?" Jihoon tersenyum.
"A-apa sebenarnya maksudmu membahas ini?" Soonyoung memalingkan wajah.
"Aku hanya tidak ingin berbohong dan menyembunyikan sesuatu darimu. Aku tidak mau menyenangkanmu dengan mengatakan aku masih suci atau sejenisnya. Aku ingin kau tahu bagaimana keburukanku dan kalau kau tidak bisa menerima itu, kau bisa pergi."
Tak ada jawaban dari Soonyoung. Jihoon kembali bicara sebelum keheningan muncul di antara mereka.
"Biar bagaimanapun, wanita yang sudah berhubungan seks sebelum menikah itu kesannya lebih kotor daripada pria."
Perlahan Soonyoung menghela napas panjang. Diletakkannya gitar ke lantai. Dia menoleh memandang Jihoon yang juga sedang menatapnya.
"Menurutku sama saja," ujar pemuda bermata kecil. "Mau pria atau wanita atau bahkan mereka yang masih suci. Semua kembali pada kepribadiannya dan buatku, seseorang yang berani mengakui dia tak lagi suci adalah satu dari yang terbaik."
Perlahan senyum kecil muncul di bibir tipis Jihoon.
"Berhenti melihatku." Gadis itu mendorong wajah Soonyoung menjauh membuat kekasihnya terkekeh, merasa gemas pada sikap malu-malu Jihoon yang sangat jarang dia temui.
.
Alasanku menerimamu tak lain adalah karena kau menerimaku lebih dulu. Dengan semua kelemahan dan kekuranganku, kau sudah membuka tangan untuk memelukku. Terima kasih, Jihoon-ah. Aku mencintaimu...
-TBC-
GAAAK
GAK MAU BIKIN NC-NYA
NOOOOOOOOO!
