Langit bumi kian menggelap, cahaya mentari yang berganti dengan rembulan membuatnya berwarna jingga dengan sedikit warna hitam sebagai perpaduannya. Jauh berbeda dengan langit yang membawa ketenangan senja, seorang pemuda memasuki rumahnya dengan wajah penuh gelisah nan lelah. Pintu rumah pun terbanting akibatnya. Sepasang sepatu kulit berterbangan terpisah dari kaki majikannya. Tuan rumah membiarkan sepatu dan tasnya bergeletakan di lantai rumah yang dingin. Kaki jenjang pemuda memasuki kamarnya yang berantakan. Segera dia ambil handuk dan beranjak ke kamar mandi. Suara gemericik air memenuhi gendang telinga, sementara kepalanya sibuk mengulang kalimat yang beberapa saat lalu dengan bodohnya ia ucapkan. Kenapa dia mengucapkannya? Apakah dia sudah tidak waras? Rasa bersalah dan menyesal perlahan menggerogotinya. Tidak membiarkan ia melupakannya barang sedetik pun. Mandinya usai, sekarang urusannya adalah dengan ranjang. Sekarang dia berbaring seraya menutup mata berharap dapat bertemu dengannya lagi.

"Daddyyy!" seorang gadis kecil menubruk tubuhku. Memelukku erat. Astaga ternyata dia masih sama. Sangat menggemaskan.

Aku usap rambut halusnya seraya berkata "Hey baby, kenapa?" sungguh, sebenarnya saat ini jantungku sedang memompa darah dengan cepat. Takut-takut baby-ku akan berubah.

"Aku kangen daddy. Kenapa daddy sangat sibuk eoh?" bibirnya mengerucut lucu.

"Oh myㅡI'm sorry, sweetheart. Proyekku menumpuk bahkan aku bingung ngerjainnya gimana," seandainya mantra untuk menghilangkan benda ada saat ini, aku akan hilangkan semua proyek bodoh itu demi baby-ku.

Lagi-lagi bibirnya mengerucut lucu. Aku tahu dia akan mulai merajuk. Jadi dengan segera aku membawa dia keluar rumah. Tidak terlalu jauh, hanya jalan-jalan di taman kota saja menikmati semilir angin petang. Kueratkan gandengan tanganku kepada perempuan mungil, menuntun dan memastikan dia ada di jalan yang benar. Palang bertulisan "Taman Kota" sudah terlihat dari arah kami berjalan, membuat tangan yang berada dalam gandenganku lepas dan mengikuti tubuh asalnya berlari menuju taman. Kuperingatkan untuk tidak berlari tapi si nakal itu tidak menggubrisnya.

Petang itu, suasana taman lumayan sepi, hanya terlihat beberapa orang remaja yang mencoba mencari ketenangan sendiri maupun berdua dengan pasangannya. Para adik kecil yang biasa bermain di taman ini sudah tidak terlihat karena orangtua mereka sudah memerintahkan mereka untuk pulang ke rumah, sekedar menunggu makan malam atau menunggu ayah mereka pulang membawakan makanan. Kurasa baik mengajak baby-ku keluar jam segini, toh orangtuanya tidak akan protes juga.

"Daddy dadyy! Ayo dorong ayunanku!" bayi besarku itu ternyata sudah duduk manis di ayunan berwarna biru dengan pegangan terbuat dari rantai besi. Kakinya digoyangkan maju mundur, tidak sabar untuk berayun di udara. Aku menghampiri ayunan itu dan mendorongnya dengan perlahan. Teriakan senang dari bibirnya membuatku ikut tersenyum. Bibirnya kembali berucap untuk menyuruhku mendorong ayunan lebih kuat agar dia terbang tinggi katanya. Mungkin secara harfiah dia akan jatuh dengan melayang terlebih dahulu di udara, tapi dengan polosnya dia bilang itu terbang dengan akhiran superhero landing. Tanganku kembali mendorong ayunan dengan tenaga yang lebih besar. Tubuhnya berayun sangat tinggi ke depan dan kembali ke belakang seperti membentuk busur 180. Tawa cerianya memenuhi pendengaranku, ikut merasakan bahagia tapi ada rasa khawatir dan bersalah di lubuk hati. Takut kalau suatu hari nanti ia tidak akan bisa mendengar tawa itu lagi. Bagaimana kalau nanti tawa itu tergantikan oleh senyum hambar atau bahkan tangisan memilukan? Mungkin si kecil tidak akan pernah tau kalau dirinya bisa kapan saja terluka dan hancur hanya karena satu kalimat kenyataan yang diucapkan oleh pemuda yang selama ini dia panggil daddy.

Dewi bulan tersembunyi diantara awan kelabu dalam kesunyian malam. Semilir angin menguasai angkasa dengan udara dingin yang menusuk. Seseorang terbangun dari tidurnya yang menyenangkan. Salahkan panggilan alam yang tiba-tiba memutus semua kebahagiaannya. Dingin air bersentuhan dengan kulitnya, sempat membuat dia menggigil di kamar mandi tempatnya melakukan ritual alam. Helaan nafas terdengar dari bibirnya yang kaku. Melihat ke cermin yang bertengger di diding kamar mandi yang bahkan warnanya sudah pudar dan kusam. Tapi cermin itu tetap bersih dan mengkilap. Dia memandangi wajah yang terpantul di cermin itu cukup lama. Terdiam tanpa ekspresi dan gerakan yang berarti. Saat sudah sekitar seperempat jam waktu yang hilang, dia menunduk. Menjadikan wajahnya gelap tidak terkena cahaya. Kesunyian malam membuat suara isakan kecil terdengar begitu jelas. Bahunya yang bergetar terlihat jelas dari pantulan cermin. Ya, dia menangis.