"Aarrghh!" sebuah erangan terdengar dalam kesepian malam. Membuat bising udara malam yang dingin. Hewan-hewan malam yang dibuat terkejut karenanya segera kembali ke sarang. Takut bahaya mengancam. Padahal itu hanyalah sebuah suara keputusasaan. Menyuarakan hati yang sudah mau menyerah. Diselengi tangisan yang membanjiri pipi pemuda itu, dia kembali mengerang. Kali ini sambil menatap seseorang dihadapannya.

"Kau kenapa heh?" tanya orang itu dengan senyum yang begitu memuakan.

"Apa kau masih bertanya?! Semua ini kesalahanmu! Kau yang memulai semuanya! Kau itu berotak kecil! Tidak pernah berpikir panjang, tahu?!"

"Kau juga menerimanya kan? Atau bahkan menikmatikmatinya?" ujar pemuda itu santai. Sementara pemuda di sebrangnya sudah diambang kemarahan, atau penyesalan.

"Aku hanya turut bahagia," lengkungan di bibirnya miris sekali.

"Bahagia atas apa yang telah kulakukan, benar?"

"Memangnya selain itu aku harus apa?! Melarangmu sementara bisa saja ada orang lain yang terluka?!"

"Tapi, bukankah lebih baik kau lakukan itu dari awal daripada sekarang? Rasa sakitnya bukan kau yang merasakan."

"Jangan asal! Aku yang menjadi pusatnya, aku yang merasakan semuanya. Bahkan lebih dari kalian semua!"

Pemuda itu tertawa, keras memekakkan telinga. "Jangan pernah berpikir hanya kau sendiri yang berjuang. Dia juga berjuang kau tau? Apa kau tau seberapa banyak yang telah dia korbankan?"

"Aku tahu dan aku tidak bisa membuatnya berkonban lebih lagi!"

"Tapi tidak dengan cara seperti ini, sayang."

"Lalu kau mau aku bagaimana?!" pemuda itu tersenyum ramah. Matanya yang semula menampakkan sorot tajam, kini berubah menjadi hangat. Menatap dirinya sendiri lembut.

"Jangan pernah memaksa. Biarkan semuanya mengalir. Dia hanya mau kita bahagia. Tidak peduli seberapa banyak dia berkorban. Dia hanya ingin daddynya bahagia. Bersamanya."

Detik selanjutnya, yang ada hanyalah sunyi. Pemuda yang menatap dirinya sendiri dengan cermin itu ingin mengelak dari semua yang dia ucapkan tadi. Menolak semua perlawanan dari sudut pandang lain dirinya.

"Bać…”bagaimana kalau ini semakin parah? Kita tidak punya banyak waktu lagi, kalau kau ingat. Hanya kurang dari tiga bulan lagi. Apa yang dapat kita lakukan?" tangisnya kembali pecah, tapi tidak ada lagi jawaban dari cermin itu, dari pantulan dirinya. Lelah kembali menangis selama setengah jam, pemuda itu beranjak pergi. Meninggalkan cermin itu sendiri menggantung manis di dinding. Membawa tubuhnya terlelap lagi dibalik gumpalan selimut yang hangat.