Aku gelisah, seolah sedang berjalan di atas es

Hentikan mimpi buruk tiada akhir ini, sebelum terlambat

Kau sudah tahu jawaban yang aku tunggu-tunggu

Jangan pernah menganggapnya tak ada artinya

Lebih baik kau hempaskan saja aku

Sepotong harapan yang ku miliki hancur berantakan

.

.

SIGN

.

.

Baekhyun berjalan-jalan di sekitar sungai Han. Dia terlihat banyak melamun memikirkan seseorang. Sungguh tidak percaya dirinya sangat bodoh, dan dia tidak akan percaya lagi pada orang lain kecuali Chanyeol. Kekasihnya yang pergi karena pengkhianatan yang dia lakukan.

Ini sudah sebulan sejak Chanyeol memutuskannya dan Chanyeol seperti hilang di telan bumi, tak pernah nampak sedikitpun batang hidungnya dalam indra penglihatan Baekhyun.

Baekhyun sudah berusaha bertemu Chanyeol, dia bahkan mendatangi kantor Chanyeol, tapi resepsionis mengatakan bahwa Mr. Park tidak ada di tempat, dan jawaban di hari-hari lainpun sama. Awalnya Baekhyun memaksa akan menemui Chanyeol atau menunggu tapi penjaga keamanan menghampirinya dan menyeret Baekhyun, yang mereka tahu bahwa dia kekasih atasannya.

Tidak sampai disitu, Baekhyun mengintai dari pagi sampai malam di sebrang kantor agar dia bisa melihat melihat Chanyeol, walaupun hanya mobilnya saja. Dia akan senang. Dia juga mendatangi kediaman Park, yang seperti biasa tampak sepi. Karena orangtua Chanyeol dan kakaknya, Yoora. Berada di luar negeri.

Kemana perginya Chanyeol? Apakah dia benar-benar ingin memutuskan hubungan mereka, bahkan itu komunikasi mereka. Mungkin, mereka benar-benar berakhir.

Lelaki tinggi bertelinga lebar yang selalu memberikan apa yang dia butuhkan, memberikan apapun untuk Baekhyun. Ingatan saat mereka masih kuliah, Chanyeol terang-terangan mendekatinya yang hanya anak yatim piatu, dia tidak memiliki keluarga lagi di dunia ini. Menyatakan cinta padanya yang saat itu hanyalah penjaga kasir supermarket di waktu sore hingga malam untuk membiayai hidupnya sendiri dan uang universitas.

Chanyeol memberinya kenyaman yang selama ini tak pernah Baekhyun harapkan, di bawanya ke apartemen milik lelaki tampan itu. Memfasilitasi kehidupan Baekhyun dan melarangnya bekerja, membuat Baekhyun merasa ini hanyalah mimpi. Dan keluarga Chanyeol yang baik hati, tidak memandang dirinya sebelah mata hanya dirinya anak miskin, mereka menerima Baekhyun dengan baik bahkan menganggap dia anak mereka, mereka tidak memedulikan derajat. Mereka hanya ingin anak-anaknya bahagia dan nyaman.

Dan dia sudah menyia-nyiakan orang-orang baik dan orang yang dia cintai, hanya karena hasrat dirinya sendiri. Saat ini, dia memakai cincin yang pernah Chanyeol beli tapi tidak sempat diberikan padanya. Jari manisnya terpasang cincin itu yang berinisial PCY di belakangnya.

Baekhyun menutup matanya sedih, "Apa yang harus kulakukan, Chan?" Berbisik lirih lalu tertunduk membuka matanya sambil menatap jemarinya.

Baekhyun mengambil ponsel di saku coatnya. Menyalakan ponselnya dan memperlihatkan pukul 4 sore. Ia harus bergegas ke tempat bekerja, karena waktu kerjanya 30menit lagi.

Baekhyun kembali bekerja di sebuah restoran untuk shift malam, selama seminggu ini. Dirinya membutuhkan uang untuk kembali membiayai hidupnya dan biaya kuliah, dia juga masih tinggal di apartemen milik mantan kekasihnya karena dia tidak memiliki uang untuk menyewa sebuah kos.

Kemarin, pihak kampus memanggil dirinya untuk membayar iuran dan juga bayar untuk ujian semester secepatnya, bahkan dia belum membayar bulan kemarin dan sekarang. Padahal, Chanyeol sudah mentransfer uang untuk membayar dan keperluan Baekhyun sendiri. Tapi... dia memberikan kartu miliknya kepada Daehyun yang saat itu membutuhkan. Dia memberikan password karena di percaya, dia kira Daehyun benar-benar mencintainya seperti bagaimana Chanyeol mencintai dirinya.

Baekhyun membuka pintu restoran, melihat keadaan itu begitu penuh. Membuat dirinya segera pergi kebelakang untuk mengganti pakaian khas restoran itu.

Sesudah beres dan rapi, dia berjalan keluar.

"Pelayan." Baekhyun mendengar seseorang memanggil dirinya. Jadi, dia mendekat orang yang tengah memainkan ponsel.

Baekhyun tersenyum mencoba bersikap ramah saat wanita muda itu mendongak sambil tersenyum kecil, "Agashi.. ingin memesan apa?" Baekhyun bersiap mencatat.

"Aku ingin teobbokki, eskrim chocolate toping chocochip dan teh hangat." Pintanya.

Baekhyun mencatat itu, "Ada tambahan lain?" Tanyanya setelah selesai mencatat pesanan pelanggan, di angguki oleh wanita itu, "Baik tunggu beberapa menit, agashi."

Baekhyun pergi kedapur memberikan permintaan pelanggan.

Heukk.. huekk oookgh

Baekhyun menutup mulutnya lalu pergi ke toilet mencuci mulutnya, dia tidak tahan mencium bau bumbu kari. Dirinya memang tidak enak badan selama beberapa hari, dia tidak suka bau yang menyengat di hidungnya, dia juga merasa pusing. Dan setiap ia bangun pagi, dia akan muntah, dan ketika keluar hanya bentuk cairan.

Setelah dirasa sudah tenang, dia kembali ke dalam. Melayani pelanggan lain.

.

.

Baekhyun berjalan dengan terburu memasuki kelasnya yang pasti sudah mulai, dia terus muntah saat bangun tadi, membuat kepalanya pusing bukan main dan saat menunggu bus, bus itu sudah lewat beberapa menit.

'Sunguh sial hari ini.' Rutuk Baekhyun.

Baekhyun membuka pintu langsung membungkuk, "A-annyeonghaseyo... maafkan saya pak, sa-saya terlambat masuk." Sesalnya.

"Masuklah."

Ujaran itu membuat Baekhyun menghembuskan nafasnya merasa lega, ia berjalan memasuki kelas mendapatkan lambaian dari Kyungsoo. Membuat dia berjalan sedikit cepat menuju sahabatnya.

Kyungsoo berbisik saat Baekhyun duduk di kursi belakangnya, "Kau kenapa jadi sering terlambat, sih?" Rasa penasaran Kyungsoo membuncah, melihat sahabatnya jadi lebih sering telat beberapa kali dalam sebulan ini. Dia juga tidak pernah melihat mobil Chanyeol atau Daehyun yang menjemput dan mengantar Baekhyun.

Baekhyun balas dengan berisik, "Aku akan menjelaskan nanti." Dan setelah, mereka mulai fokus pada penjelasan dosen didepannya.

.

"Kyung.. jauhkan makanan kari itu!" Ujar Baekhyun kesal sambil menutup hidungnya melihat temannya memakan kari dengan santai didepannya. Padahal, dirinya sedang bermasalah pada makanan itu.

"Yak!! Tidak usah kau dorong juga, lihatkan... jadi tumpah!" Kyungsoo menatap Baekhyun kesal, "Kau kenapasih? Aku merasa kau jadi aneh."

Baekhyun menghela nafas lewat mulut masih dengan hidung dia tutup, "Aku... sudah putus dengan Chanyeol, Kyung." Bibirnya tiba-tiba bergetar sedih saat mengucapkan itu.

Kyungsoo terdiam, dia kaget. Jelas saja, setahunya mereka saling mencintai dan tidak peduli pada badai yang menerpa. Atau jangan-jangan...

"Kenapa bisa? Apa kau berkhianat darinya?" Tanya Kyungsoo menatap datar sahabatnya yang menangis sedih, dirinya sudah mengingatkan jangan melakukan itu. Tapi, lihat siapa sekarang yang menyesal.

Baekhyun menutup wajahnya tidak tahan, "Ya.. hiks. Maafkan aku membohongimu, Kyung. Tapi dulu aku benar-benar lelah akan hubunganku dengan Chanyeol hiks. Aku ingin mencoba dengan oranglain tapi.. hiks" Baekhyun membekap mulutnya saat ia ingin menangis keras.

Kyungsoo berdiri mendekati sahabatnya, "Ayo. Kita ke taman belakang, dan jangan meminta maaf padaku. Minta maaflah pada Chanyeol." Kyungsoo menyangga sahabatnya yang masih menahan tangis agar tidak di dengar orang lain.

Mereka berjalan dengan Baekhyun yang menunduk menyembunyikan air matanya hingga sampai disana.

"Duduklah." Titah Kyungsoo, mereka diam. Kyungsoo membiarkan tangis Baekhyun mengencang, "Baek. Kau harus kuat. Aku tahu ini sulit untukmu, aku yakin Chanyeol akan memaafkanmu." Kyungsoo berujar seperti itu agar Baekhyun tenang. Tangisan Baekhyun sungguh menyayat hatinya, kesihan sekali sahabatnya. Tapi, apalah daya ini salahnya sendiri.

"Aku menyesal, Kyung. Sunggu menyesal. Apa yang harus ku lakukan. Chanyeol bahkan memblokir aksesku untuk bertemu dengannya dan menghubunginya." Dia mengusap air mata di pipinya, "Dia benar-benar sudah membenciku. Kyung." Ucapan itu melirih membayangkan Chanyeol tidak akan sudi berjumpa atau berbicara sekata pun padanya.

Kyungsoo mengusap bahu sahabatnya, "Kau harus tenang dan sabar. Aku yakin Chanyeol tidak seperti itu. Dia mungkin hanya ingin menenangkan diri, supaya bisa berpikiran jernih."

Baekhyun mengangguk mendengar itu, "Iya, Kyung. Aku akan menunggunya. Dan tentang Daehyun... dia lelaki brengsek. Kau benar Kyung. Aku tidak seharusnya dekat dengannya, uang yang Chanyeol beri untuk keperluanku di bawa olehnya. Aku sangat percaya, tapi dia melakukan sesuatu yang jahat padaku." Baekhyun mengangkat wajahnya, tatapannya kosong ke depan.

Kyungsoo menepuk bahu Baekhyun, "Apa karena itu, pihak kampus memanggilmu?" Tanya Kyungsoo penasaran. Yang diangguki Baekhyun sebagai jawaban.

Baekhyun mengusap bawahnya, menghilangkan air matanya, "Aku merasa pusing. Bahkan beberapa hari ini kondisiku semakin menurun. Aku merasa tidak enak dan selalu pusing. Setiap terbangun aku juga merasa mual." Jelas Baekhyun.

Kyungsoo mengehela nafas, "Kau jangan terlalu memikirkan, kau harus sehat. Apakah kau ingin diperiksa? Ayo biar aku antar." Ajak Kyungsoo.

Baekhyun menoleh lalu tersenyum, "Tidak, Kyung. Tak apa. Mungkin ini karena aku terlalu lelah dan banyak pikiran saja." Balasnya menenangkan sahabatnya yang melihatnya khawatir.

"Kau tampak pucat, apa benar tidak apa?" Kyungsok bertanya memastikan, yang di angguki oleh Baekhyun.

...

Baekhyun berjalan menuju gerbang kampus, dia sendirian karena Kyungsoo memiliki rapat tentang organisasi yang dia ikuti.

"Kau lihat, dia sekarang menyedihkan."

"Benar... dia sekarang tidak di jemput atau antar Chanyeol lagi. Kkkk."

"Aku dengar mereka putus karena dia menghianati Chanyeol. Aku tahu ini karena Daehyun, kekasih lain jalang itu, bercerita pada teman-temannya yang salah satunya temanku."

"Aku tidak menyangka si bodoh itu menyia-nyiakan Chanyeol oppa."

"Benar... sungguh tidak di untung! Chanyeol sudah mau memungutnya dan lihat apa balasannya? Memalukan."

"Saat bersama Chanyeol, dia begitu so berkuasa. Kk aku kasihan sebenarnya, tapi jatuhnya norak."

"Aku bersyukur Chanyeol oppa, akhirnya sadar diri."

Cibiran-cibiran itu mulai Baekhyun dapatkan dari orang yang tidak menyukai dirinya karena mendapat Chanyeol dan sikap dirinya dulu.

Baekhyun hanya terus melangkah mengabaikan ucapan orang-orang. Mereka menatap dirinya rendah.

Baekhyun mencepatkan langkahnya meninghalakan mereka, dia tidak tahan dan ingin segera bekerja.

Sesampainya di halte, tak berapa lama juga bus datang. Ia segera saja naik membawanya ke apartemen dulu, untuk mandi lebih dahulu.

Baekhyun menatap jalanan sedih. Tanpa Chanyeol, semuanya terasa sulit.

Jika dulu, dia hanya harus pulang membuat makan malam walaupun Chanyeol jarang memakannya karena bekerja sampai larut atau ketika kantor baik-baik saja maka jam 8 malam dia pulang.

Ketika weekend, Baekhyun hanya tinggal di apartemen, kadang dia pergi saat Chanyeol pulang sore. Menikmati kencan mereka yang jarang mereka rasakan.

...

Baekhyun terlihat sibuk bolak-balik melayani pelanggan. Tapi, karena terlalu sibuk, membuat dia merasa pusing berat bukan main. Baekhyun berusaha tersenyum walaupun kepalanya berdenyut-denyut sakit.

Baekhyun membawa nampan permintaan pelanggan, tapi karena sakit kepalanya yang tidak bisa dia tahan membuat dia terjatuh, tergeletak tak sadatkan diri.

Brakkk pranggg

Disana semua pesanan milik pelanggan berhamburan dan beberapa mangkuk dan gelas pecah.

"Astagaaa." Mereka melihat dan mendengar sesuatu yang pecah kaget. Mereka mulai mengerubungi pelayan yang pucat dan berkeringat banyak.

Pemilik restoran mengusap wajahnya ingin memarahi pelayan yang teledor itu. Tapi,

"Minggir." Suara berat dan dalam membelas kerumunan itu, dia mendekat menyangga kepala Baekhyun lalu dia mengangkatnya pergi dari sana.

Dia berhenti sebentar, lalu menoleh, "Jangan kau bilang aku yang menolongnya. Katakan saja kau yang mengantar dia kerumah sakit dan katakan nominal kerugian yang dia buat. Jangan pecat dia." Membuat pemilik itu mengangguk dan pria mengenakan masker itu pergi memasuki mobilnya.

Mobil itu melaju membelah jalan, dia membawa mobil sedikit terburu menuju rumah sakit terdekat.

Berhenti didepan gedung itu lalu mengendong Baekhyun menuju ruang pasien. Dokter dan suster menghampiri membawa Baekhyun masuk dan mulai memeriksa. Membiatkan pria itu menunggu diluar.

Hampir 30 menit lelaki itu menunggu, dan akhirnya dokter itu keluar.

"Apakah dia saudara anda atau suami?" Tanya sang dokter memastikan

Yang di angguki lelaki itu, "Bisa dikatakan seperti itu."ujarnya.

Sang dokterpun tersenyum, "Selamat tuan, Dia tengah hamil. Umurnya bisa di katakan 5 minggu lebih beberapa hari. Dia sepertinya memiliki banyak pikiran dan kelelahan, itu bisa membahayakan kandungannya yang masih muda. Kami harap keluarga bisa menjaganya dengan baik. Terima kasih." Sang dokterpun pamit undur diri meninggalkan lelaki itu yang tengah blank mendengar penejelasan itu.

Dia masuk ke dalam, melihat Baekhyun yang terbaring dengan pucat, dia mengusap rambut milik Baekhyun, "Kau bahkan hamil anaknya." Bisiknya lirih, lalu dia mencium dahi lelaki munyil yang masih terlelap didepannya.

"Kau harus sehat. Selamat tinggal." Ujarnya, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, meninggalkan Baekhyun sendirian.

Pria itu akan kembali kerestoran itu, menganti kerugian yang lelaki munyil lakukan.

.

.

Baekhyun mengerang saat merasa pusing, dia membuka matanya perlahan. Lalu, melihat sekeliling dan dia baru menyadari dia berada di rumah sakit. Dia ingat kejadian semalam, oh astaga pasti dia akan mendapat amarah dari pemilik restoran tempat dia bekerja.

"Kau sudah bangun, Baek?" Suara sahabatnya membuat Baekhyun menoleh kesamping dan baru menyadari sahabatnya disana, menungguinya.

"Kyung. Apa yang dokter katakan?" Suaranya serak, tapi dia ingin tahu.

Kyungsoo mendekat, menduduki kursi di samping ranjang Barkhyun, "Baekhyun. Semuanya akan baik-baik saja." Ujarnya menatap sahabatnya itu sedih.

Baekhyun mengerjit, "Kenapa Kyung? Jangan membuatku takut!"

Kyungsoo memejamkan matanya, "Kau hamil, Baek. Bayi itu baru berumur 1bulan lebih."

Ujaran itu membuat Baekhyun tegang, Baekhyun bisa merasakan matanya terasa panas. Dia mengangkat tangan yang tidak di infus menuju perutnya, "Be-benarkah? Benarkah itu, Kyung?" Suara Baekhyun bergetar menanyakan itu. Kyungsoo hanya mengangguk meyakinkan.

Baekhyun memejamkan matanya, setelahnya tersenyum kecil," I-ini anugrah, Kyung. Dia adalah hasil cintaku dengan Chanyeol hiks." Baekhyun menangis haru sekaligus sedih. Dia mengusap perutnya pelan, memberitahu bahwa dia sangat mencintai anaknya ini.

Kyungsoo diam menatap sedih temannya itu, ini sungguh anugrah atau bukan. Tapi, Kyungsoo merasa kasihan. Baekhyun tidak memiliki seseorang yang bisa menjaganya, kecuali dirinya.

"Kyung... aku akan berhenti kuliah, aku ingin istirahat menjaga anakku. Aku akan bekerja di shift pagi atau siang." Ungkapan itu membuat Kyungsoo menatap tidak percaya sahabat yang menatapnya sambil tersenyum.

Senyumnya seperti tidak memiliki beban hidup. Padahal, dia tengah bersedih di tinggal orang tercinta dan penyesalan mendalam. Tapi, bayinya membawa pengaruh cukup baik bagi Baekhyun- Bagitulah pikir Kyungsoo.

Kyungsoo balas tersenyum, "Aku akan mendukung semua keputusanmu, Baek."

.

.

Baekhyun memegang perut bawahnya. Ia mengenakan jaket menutupi perut berisi anaknya. Dia sudah sehat kembali, setelah dua hari di rawat di rumah sakit dan satu hari beristirahat di apartemen.

Baekhyun tengah bekerja, masih di tempat yang sama, tapi kali ini dirinya di tempatkan di bagian kasir. Sungguh, pemilik restoran ini begitu bermurah hati membiayai rumah sakit dan tidak memarahi ketika kekacauan yang dia buat waktu lalu.

"Oh.. siapa ini?" Suara seseorang mengganggu lamunannya.

Baekhyun mendongak sambil tersenyum, tapi senyumannya dia telan kembali saat tahu siapa gerangan yang berdiri dibalik meja itu.

"Kau bekerja? Ahh... Tentu saja. Tanpa Chanyeol oppa, kau bukan apa-apa." Ucapan tajam itu membuat Baekhyun menunduk, dia Taeyoon. Orang yang menyukai Chanyeol dan membenci dirinya.

Berita tentang dirinya berhenti sekolah, menyebar begitu cepat. Mereka, khususnya orang yang membenci dirinya merasa senang dan mengejek dirinya. Bahkan berita dirinya yang putus dari Chanyeol karena dia berkhianat tersebar juga. Semua orang kecuali Kyungsoo mengira dirinya hamil anak Daehyun. Tapi Baekhyun tidak peduli, karena itu memang benar kecuali untuk yang terakhir, mereka tidak tahu apa-apa.

"13 won." Ujar Baekhyun mengabaikan ejekan itu.

Wanita itu mengeluarkan uang lebih, "Nah.. bukankah kau sudah tidak memiliki apa-apa. Jadi aku beri, ambil saja kembaliannya hahhaa." Ejeknya sambil berlalu pergi, meninggalkan Baekhyun yang mencoba meredakan amarah.

Baekhyun mencoba menarik nafas lalu dia hembuskan, dia juga mengusap perutnya sayang, "Kau tenang saja, sayang. Mommy tidak akan membiarkan seseorang manyakitimu." Bisiknya pada bayinya kembali, "Kau juga tahu pasti, siapa ayahmu." Lanjutnya.

Baekhyun menoleh ke arah jalanan, melihat kesibukan di luar sana. Restoran ini masihlah sepi karena ini masih pukul 9 pagi. Baekhyun menyangga dagunya menggunakan lengannya, menikmati lamunan sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang kesana kemari.

Seseorang yang Baekhyun kenal masuk pada pandangannya, Baekhyun langsung keluar dengan terburu meninggalkan tempat kasir. Ia membuka pintu dengan tergesa.

"Cha-chanyeol. Chanyeol!" Baekhyun sedikit berlari mendekati Chanyeol yang berjalan bersama wanita. Mereka tertawa dan saling merangkul mendekati mobil biru yang terparkir didepan mereka, mereka masuk dengan Chanyeol sedikit berlari kearah pintu kemudi.

Baekhyun mendekat kesana, walaupun hatinya berdenyut sakit saat melihat Chanyeol mencium mesra wanita dalam mobil itu. Dia mendekat dengan tangan mengepal dan matanya terasa panas.

"C-chanyeol."

Mereka menoleh kearahnya, dan salah satu dari mereka membelalakan matanya. Terkejut.

.

.

.

TBC

Vote yaa.. Mau ini happyend, sad end atau setengah happy;V

btw ff ini menarik ga sih? maybe pada khawatir yaa.. makanya diem-diem bae:3

btw buat yang terlanjur baca chap2, ada tambahan di di akhir. sekian

makasih buat yang fav, follow

and

big

THANKS FOR SUPPORT THIS FANFIC

[ Chanbaek09, BubbleBooo, apanger614, belikebaek, Guest, putrisetya19, Realcynk92, Lil piece of shit, 90GoldButOld ]