"C-chanyeol."
Mereka menoleh kearahnya, dan salah satu dari mereka membelalakan matanya. Terkejut.
Baekhyun melangkah pelan bahkan tanganna sampai.mendingin ketika mendekati mobil itu, "Chanyeolie... Bisakah kita bicara, please?" Baekhyun mengigit bibirnya takut Chanyeol menolak.
Chanyeol memijat dahinya setelah menormalkan keterkejutannya, sungguh ia tidak menyangka akan bertemu Baekhyun. Setelah semua kesakitan yang kekasih cantiknya itu berikan.
Chanyeol menoleh ke wanita itu, "Ikut atau kau pulang lebih dulu?" Wanita itu berpikir, sungguh sangat cantik.
Wanita itu mengangguk, "Aku ikut denganmu."
Hal ini membuat Baekhyun meremas jarinya, dia ingin berbicara berdua. Tapi, Chanyeol malah mengajak seseorang diantara pembicaraan pribadi ini. Dia ingin menolak tapi... dia siapa?
Chanyeol turun dari mobil diikuti si wanita, Baekhyun reflek memegang perutnya memberi usapan, memberitahu anaknya jika ayahnya disini. Didepannya.
Baekhyun berjalan lebih dahulu memasuki restoran, ia berbicara pada pemilik itu dan syukurnya dia di izinkan, ketika pemilik itu melihat siapa orang yang akan pegawainya ajak bicara.
Chanyeol menatap Baekhyun didepan sana dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Jika kalian bertanya-tanya kemana perginya Chanyeol kemarin-kemarin. Dia berada di seoul, lebih tepatnya ia tinggal di rumah yang dia beli untuk hadiah pernikahannya dengan Baekhyun. Itu sebelum dia tahu bahwa kekasihnya selingkuh.
Selama itu, dia harus berada di pengawasan dokter karena banyak meminum obat tidur secara berlebihan. Chanyeol mengalami penurunan kejiwaan dan insomnia, da mencoba menghilangkan Baekhyun dalam pikirannya. Tapi untungnya itu semua tidak berkelanjutan, karena semua menjadi lebih baik berkat orang-orang yang mendukungnya.
Kelurganya tidaklah marah pada Baekhyun, mereka mengerti. Mungkin, Baekhyun masihlah labil dan bingung saat itu. Jadi mereka memaklumi, mereka bisa merasakan bagaimana menjadi Baekhyun yang kesepian dan ketika ada seseorang yang mengisi kesepiannya, Baekhyun terima sebagai bentuk pengalihan.
Chanyeol juga sibuk bukan karena cuma-cuma, dia bekerja mencoba menahan keuangan kantor agar stabil yang semakin menurun berkat orang dalamnya korupsi. Jadi, disini tidak ada yang bersalah begitulah pemikiran ayah dan eomma Park.
Chanyeol memilih tempat duduk yang di pojok, dia tidak suka tempa yang banyak orang,
"Apakah tidak apa-apa kamu harus menunggu?" Chanyeol mengusap rambut wanita itu, sayang. Usapan itu seperti usapan pada Baekhyun dulu.
Wanita itu mengangguk tersenyum, "Kau tenang saja, aku akan sabar. Menunggumu mengobrol." Ujar wanita itu menoel hidung Chanyeol, membuat mereka terkekeh.
"Ekhem."
Suara deheman didepannya, membuat mereka menoleh dan sudah ada Baekhyun yang terduduk disana, Baekhyun menatap itu lama. Dia tidak nyaman membicarakan ini didepan orang lain.
Ting ting tinggggg ting ting tinggggggg
Baru saja Baekhyun akan membuka mulutnya untuk berbicara, tapi suara ponsel wanita itu menahannya.
Wanita itu mengerang kesal, "Lihat... bosku sudah menelfon, Chan. Aku akan pergi dulu ya? Aku akan sabar tapi tidak dengan atasanku." Dumel wanita itu lalu bangkit, sebelum pergi mengecup bibir Chanyeol sebentar, setekahnya pergi dari sana memberikan bungkukan pada Baekhyun.
Chanyeol hanya terkekeh melihat kelakuan wanita itu yang mencium dirinya sembarangan.
"Chan... Aku aku-aku minta maaf. Aku menyesal. Aku sangat mencintaimu. Betapa berharganya kamu untukku, tanpamu aku benar-benar merasa sepi dan benar-benar sendirian, aku hanya memilikimu. Aku juga ingin kamu mengerti bahwa aku ini membutuhkan seseorang dikala aku merasa lelah. A-aku ingin kau ada setiap saat... tapi sekarang aku mengerti kau bekerja untuk kita. Untuk masa depan kita dan anak kita." Baekhyun berusaha menahan isaknya walaupun itu percuma, dia bergetar ketika berbicara membuat suaranya sumbang.
Chanyeol terkekeh mendengar itu, "Mudah sekali meminta maaf. Tapi belum tentu kau tidak akan mengulang kembali, Baekhyun. Dengar, Aku akan menikah sebulan lagi dengan Irene. Aku sudah memiliki seseorang yang bisa mengisi hatiku dan... memperbaiki hatiku yang sudah hancur berkeping-keping. Walaupun tidak sebaik dulu, setidaknya dia mampu menatanya kembali." Chanyeol terpejam mencoba menahan rasa sesak di hatinya kala melihat Baekhyun menitikan airmatanya.
Baekhyun mencoba memegang tangan Chanyeol diatas meja, "Chanyeol. Kau tidak mengerti aku, aku melakukan itu karena kamu selalu sibuk hiks."
Chanyeol menyentuh tangan Baekhyun diatas tangannya, "Jika saja aku tidak mengerti dirimu, dari dulu aku sudah akan meninggalkan mu, Baekhyun! Dan jangan hanya ingin di mengerti tapi cobalah belajar untuk mengerti seseorang." Chanyeol bangkit dari duduknya dia menatap datar Baekhyun, "Kurasa tidak ada lagi pembicaraan yang harus kita bahas." Chanyeol membenarkan jasnya lalu melangkah dari sana meninggalkan Baekhyun yang terdiam menangis.
"Aku tetap akan bersamamu. Beri aku kesempatan, Chan. Aku tidak mau jauh darimu!" Tiba-tiba Baekhyun memeluknya dari belakang, membuat Chanyeol kaget saat mendapati itu sekaligus ucapan Baekhyun.
Chanyeol melepas belitan Baekhyun, "Kau tidak bisa egois, Baekhyun."
Lalu melangkah meninggalkan Baekhyun yang menangis tanpa suara. Bahunya bergetar, tangannnya menjalar pada perutnya, mengusap sayang buah hatinya.
'Chanyeol akan menikah dengan wanita itu, lalu memiliki bayi dan...
Dia menggeleng tidak terima ketika bayangan menjengkelkan hinggap dikepalanya, "Kau milikku, Chan."
.
.
Ketika obat yang dokter berikan tidak bekerja pada Chanyeol, Chanyeol sering melihat Baekhyun dari kejauhan. Dia selalu memantau apa yang Baekhyun lakukan, ini obat penenangnya membuat dirinya bisa tertidur nyenyak.
Dirinya bahkan langsung berlari keluar ketika Baekhyun jatuh pingsan dan ketika tiba dirumah sakit, Baekhyun dinyatakan hamil. Chanyeol terkejut bukan main. Tapi masih ragu itu anaknya, bagaimana dia tahu itu anaknya ketika kekasihnya selama ini dia tahu selingkuh? Kalian akan percaya begitu saja? Pasti tidak.
Chanyeol berbaring diatas ranjangnya, memandangi ponselnya. melihat nomor Baekhyun yang dia blokir, dia menimbang.. apakah dia harus membatalkan pemblokiran atau tetap seperti itu?
Lama Chanyeol berpikir dia akhirnya membatalkan, lalu menyimpan ponselnya kembali. Dia tidak boleh menjadi orang yang seperti ini, dia harus bisa menjadi orang yang bisa move on.
Dia bangkit untuk duduk dan memakan satu butir obat agar dia bisa tertidur dengan tenang. Dia meminum air putih, setelahnya kembali berbaring untuk menyelami mimpi yang selama ini tidak pernah tenang seperti dulu.
Dia sudah tidak mempercayai sebuah hubungan, da sedikit takut untuk memulai kembali tapi.. Irene yang selama ini dia kenal berharap bukan seperti Baekhyun.
.
.
Hari dimana Chanyeol membatalkan pemblokiran, Baekhyun langsung mengiriminya ratusan pesan. Baekhyun selalu memaksa untuk mengetahui keberadaannya, jika tidak, ia akan terus-terusan menerror mengirimi Chanyeol pesan,telepon, dan Chat di line atau whatsapp.
Sunggu hal ini membuat Chanyeol mengerang kesal, setiap dia akan menyalakan ponselnya untuk melihat-lihat laporan yang masuk, Baekhyun akan mengganggu dengan menelpon.
Seperti hari ini, Chanyeol terpaksa mengangkat telepon dari Baekhyun, karena ponselnya terus-terusan menyala tanpa jeda.
"Aku berada di kantor."
Tut tut tut
Setelah mengatakan kata singkat hal itu, Chanyeol langsung mematikan ponselnya, dia bahkan belum mendengar ucapan Baekhyun sama sekali. Lalu kembali melihat laporan lewat email yang masuk dari bawahannya.
Chanyeol mengetik kembali menghadap komputer, dia lupa passwordnya makanya dia mengechek lewat ponsel.
Tok tok tok
"Masuk." Ujarnya dengan mata masih terfokus pada komputer didepannya.
Lalu sekertarisnya menyembul dari sana, "Pak, seseorang ingin bertemu dengan anda, dia mengatakan telah memiliki janji dengan anda."
Ucapan itu membuat Chanyeol mengalihkan fokusnya pada sekertarisnya itu, dahinya mengerjit bingung karena dia merasa tidak menjanjikan temu dengan seseorang hari ini.
"Chan."
Panggilan itu membuat Chanyeol tertegun, lalu menghembuskan nafasnya kasar. Dirinya tidak mengerti pada Baekhyun yang masih saja ingin bersama dirinya padahal dirinya sudah mengatakan bahwa dia sudah memiliki calon istri.
Chanyeol mengangguk pada sekertarisnya, membuat sekertarisnya pergi dari sana.
Chanyeol bangkit menghadap Baekhyun yang saat ini memainkan jarinya diatas perutnya yang mulai menonjol, "Ayo, makan."
Ajak Baekhyun lembut lalu dia berjalan kearah sofa, dia mulai membuka makanan yang sudah dia buat khusus untuk Chanyeol. Dia melirik Chanyeol yang bersedekap menatapnya datar.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan, Byun Baekhyun." Suaranya sangat dalam menggetarkan hati Baekhyun.
Baekhyun mencoba tenang lalu menatap Chanyeol, "Makanlah dulu, Chan." Pintanya.
"Pergilah." Chanyeol membuat gestur pergi menggunakan dagunya, membuat Baekhyun meremas bajunya, ketika mendapatkan usiran itu.
Baekhyun membereskan makanan yang ada diatas meja menata kembali ketempatnya, mencoba memendam sisipan kecewa di dalam dirinya.
Dia bangkit lalu mendekat pada Chanyeol, dia berjinjit untuk mengecup bibir Chanyeol tapi Chanyeol menghindar dengan memalingkan wajahnya kekanan.
Baekhyun langsung terdiam meremas pegangannya pada rantang makanan, dia menatap pintu lama. Lalu dia menyimpan makanannya begitu saja di atas lantai, dia berjalan mendekat pada pintu untuk mengunci, dia berbalik menatap Chanyeol sensual.
"Apa yang kau lakukan!" Chanyeol menatap nyalang pada Baekhyun, Chanyeol benar-benar tak habis pikir dengan tingkah Baekhyun. Tidak cukupkah dia menghianatinya, dan lihat sekarang... tingkahnya membuat Chanyeol muak.
Baekhyun menatap Chanyeol sambil melepas coatnya membiarkan tergeletak diatas lantai, setelahnya melepas kaos yang dia pakai membuat dia setengah telanjang, memperlihatkan perutnya sedikit buncit. Tidak sampai disitu, Baekhyun dengan berani menurunkan celananya sampai habis dengan mata menatap Chanyeol menggoda.
Baekhyun berjalan kearah sofa, berjalan dengan meliukan jalannya. Dia duduk disana, dengan kaki yang terbuka lebar memperlihatkan penia kecil.
"Aku ingin menjadi milikmu lagi, Chanyeol! Aku tidak peduli kau akan menikah. Aku hanya memohon padamu jangan tinggalkan aku. Kau boleh menghabiskan tubuh ini, Chan."
Dia sesungguhnya malu bertingkah seperti ini dengan Chanyeol yang hanya menatapnya dingin tak bereaksi. Dulu, mereka sering melakukannya tapi Chanyeol yang menelanjanginya dan menatapnya nafsu. Mereka melakukannya dengan suka cita, tapi ini berbeda keadaannya.
Baekhyun menyingkirkan rasa malunya, dia mengangkat kakinya keatas sofa, membuat dia menganggkang memperlihatkan lubang surgawinya yang sering Chanyeol pakai. Dia mencoba merangsang dirinya didepan Chanyeol.
"Ahh ahh Channn enghh." Baekhyun memegang penisnya sambil tangan satunya memilin puting susunya yang berwarna kecoklatan.
Baekhyun menatap Chanyeol sayu, dia mengigit bibirnya menahan rasa nikmat yang mulai dia rasakan. Dia ingin lebih, dia merindukan sentuhan Chanyeol di atas tubuhnya.
Chanyeol melangkah mendekati Baekhyun masih dengan raut wajah yang dingin, tapi ini membuat Baekhyun merekahkan senyumnya, senang karena dia berhasil.
Biasanya, ketika mereka selesai bercinta mereka akan menghabiskan waktu untuk melakukan hal manis. Dan bayinya saat ini menginginkan ayahnya.
"Nghh Chanhh mmhhh ahh"
Chanyeol membungkuk di hadapan Baekhyun memegang erat pipi Baekhyun lalu menghempaskannya kesamping, "Jalang! Kau melakukan hal ini pada kekasih yang lain bukan? Bahkan kau sampai hamil anaknya!!" Teriak marah Chanyeol, dadanya naik turun dengan deru nafas yang terdengar berat.
Baekhyun langsung memeluk dirinya sendiri. Takut dan malu saking ia ingin memiliki Chanyeol kembali.
Ia tidak pernah melakukan hal ini pada orang lain. Walaupun ia pernah making out dengan Daehyn tapi tidak pernah sampai tahap inti. Ia menolak pada awalnya karena belum siap dan memikirkan Chanyeol, kedua Chanyeol menganggunya dengan menelpon. Mungkin dulu terasa mengganggu tapi sekarang Baekhyun mengucap syukur belum disentuh Daehyun sampai jauh dan Chanyeol menjadi satu-satunya.
"Chanyeol aku mohonn kembali." Baekhyun memegang erat lengan Chanyeol dan Chanyeol langsung menghempaskan pegangan Baekhyun.
"Pergi." Chanyeol berbalik berusaha menenangkan hatinya agar ia tidak menyakiti Baekhyun lebih.
Baekhyun memeluk Chanyeol dari belakang, "Chanyeolie~~ please. Aku tengah mengandung bayimu hiks bukan si Daehyun hiks." Terang Baekhyun mencobaan membuat Chanyeol percaya, "Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku ingin anakku melihat ayahnya, Chan." Baekhyun merengek sedih, sambil mengeratkan pelukannya pada Chanyeol.
"Lepas." Chanyeol mencoba melepaskan belitan tangan Baekhyun yang begitu erat, jika seperti ini Baekhyun bisa meluluhkannya kembali dengan mudah.
"Tidak!"
"Baekhyun!" Bentak Chanyeol.
"Akh.. ssshh sakit." Baekhyun yang masih bertelanjang membungkuk meremas perutnya yang tiba-tiba sakit.
Chanyeol berbalik dan berjongkok menghadap Baekhyun. Dia meremas bahu itu, membawanya dalam pelukan, "Kenapa Baek?" khawatir mulai merayapi dirinya.
Baekhyun memucat di dada Chanyeol masih dengan ringisan kesakitan. Tiba-tiba tangannya lunglai disisi tubuhnya, bersandar sepenuhnya pada Chanyeol.
"Astaga, Baekhyun!" Chanyeol langsung membawanya berbaring diatas sofa. Dia mengambil selimut kecil yang tersimpan di ruangannya, biasanya selimut dan baju-baju itu untuk dia lembur dan berakhir menginap disana.
"Hallo, Uissa-nim. Datanglah ke ruanganku, Ya sekarang" Perintah Chanyeol panik masih dengan melihat ke arah Baekhyun. Dia memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa keadaan Baekhyun.
Chanyeol mengusap dahi Baekhyun yang berkeringat, dia membawa baju dan celana Baekhyun untuk dikenakan kembali pada si manis. Chanyeol menatap sedih Baekhyun, lalu tangannya mengusap perut Baekhyun.
"Benarkah disini ada anakku?" Tanyanya tidak yakin.
15 menit menunggu dokter membuat Chanyeol sedikit kalut. Baginya 15 menit terasa berjam-jam.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk membuat Chanyeol bangkit untuk membuka pintu, karena Baekhyun tadi menguncinya menahan orang lain melihat kelakuannya.
"Masuklah, Dok." Dokter kim jessy tersenyum menatap Chanyeol.
"Ada apa, Chan? Apa kau merasa kurang sehat?"
"Bukan aku. Tapi dia, entah kenapa dia meringis sakit di perutnya, dia sebenarnya tengah hamil. Tapi aku tidak tahu dia kenapa." Chanyeol berjalan menunju Baekhyun yang terbaring membuat wanita itu mengangguk mengerti.
Dokter itu mendekati sofa, dia mulai memeriksa perut Baekhyun dan lain-lainnya. Setelah selesai dia mengangguk sambil membenarkan pakaian Baekhyun yang sempat dia singkap.
"Kehamilannya sangat lemah sekali, dia terlalu banyak membatin, berpikir dan makannya menjadi tidak teratur, Chan. Aku tidak tahu kenapa tapi sepertinya ini berat untuknya dan sangat mempengaruhi kehamilannya, apakah dia hamil anakmu?." Penjelasan dan pertanyaan dokter membuat Chanyeol tertegun.
Ini karena dirinya Baekhyun menjadi seperti ini, tapi Chanyeol masih ragu untuk mengakui itu anakknya. Ketika bayangan itu selalu datang pada pikirannya.
Sang dokter menepuk bahu Chanyeol yang melamun, "Chan, kau baik?" Chanyeol langsung sadar dan meminta maaf, dia tidak menjawab pertanyaan sang dokter.
Dokterpun mengerti, jadi dia tidak memaksanya, "Aku harap dia memiliki seseorang yang bisa menjaga atau setidaknya meringankan beban yang tengah dia lalui, dan dia harus memiliki istirahat yang cukup. Ini resep obat untuk lelaki itu, kalau begitu aku pergi."
Sang dokter pamit undur diri meninggalkan ruangan kerja yang berisi dua lelaki yang berbeda tinggi dan status.
..
"Makanlah." Chanyeol menyerahkan rantang Baekhyun, "Kau harus makan. Untuk apa kau menyuruhku makan tapi kau sendiri belum makan." Chanyeol mengucapkan itu dengan nada datar, dia berbalik kembali ke tempat duduknya.
Baekhyun baru saja sadar, setelah 2 jam dia tertidur. Dia memilin ujung bajunya takut mengingat kelaluannya sendiri tadi, tapi akhirnya dia mengangguk, dia membuka rantangnya sambil sesekali melirik Chanyeol.
Chanyeol tengah sibuk memeriksa documennya, dia terlihat cuek pada Baekhyun. Membiarkan Baekhyun makan dengan hikmat. Chanyeol sebenarnya sejak tadi memikirkan pertanyaan dari dokter. Apakah anak di kandungan Baekhyun anaknya?
Bayangan ketika Baekhyun melakukam hal itu dengan Daehyun masuk kedalam ingatannya. Dia saat itu mengikuti mobil yang mereka tumpangi, dia berjalan mendekati mobil Daehyun karena mereka berhenti cukup lama. Chanyeol melihat bagaimana Daehyun menyesap lubang Baekhyun, hatinya bergerumuh ingin memberikan bogeman dan dampratan pada Baekhyun.
Dia langsung pergi setelah melihat itu, kembali masuk kedalam mobil menjauhi mereka dengan kecepatan diatas rata-rata. Dia langsung menelpon Baekhyun ketika dia menghentikan mobilnya.
I can't believe
Chanyeol tersentak dari lamunannya, dia membawa ponselnya dan mengangkat telepon itu ketika tahu siap yang menelpon.
"Hallo, Iren. Kenapa?"
Mendengar nama wanita itu, membuat Baekhyun menghentikan geraknya yang tengah membereskan peralatan itu. Dia mendengarkan apa yang Chanyeol bicarakan, hatinya sungguh panas dan sesak.
"Baiklah. Selamat bertemu nanti, sayang." Chanyeol tersenyum mengucapkan hal itu. Dia langsung menyimpannya dan memeriksa documen dengan semangat.
Hal itu tidak luput dari pandangan Baekhyun, dia langsung lesu sedih, "Aku ingin ikut." Ucap Baekhyun yang pelan membuat Chanyeol langsung menoleh.
"Apa? Tidak bisa, Baek. Aku akan makan malam dengan Irene." Chanyeol bangkit menyerahkan obat dan vitamin yang sudah dia beli untuk Baekhyun.
"Minumlah."
Baekhyun menggeleng sambil menatap Chanyeol sedih, "Aku tidak mau makan itu jika kau tidak mengizinkanku pergi denganmu." Balas Baekhyun.
Chanyeol mengusak rambutnya kesal, Baekhyun tengah sakit dan kandungannya lemah. Chanyeol harus membujuk Baekhyun, tapi akhirnya dia menyerah karena Baekhyun itu keras kepala, "Baik. Sekarang minum obatnya." Balas Chanyeol yang di angguki Baekhyun sambil tersenyum.
...
Irene mengaduk makanannya tidak semangat, matanya fokus menatap lelaki didepan yang datang bersama calon suaminya tadi. Lelaki kecil itu sejak tadi mengambil alih perhatian Chanyeol padanya.
"Aku ingin makan teobbokki, Chan~." Baekhyun merengek mengoyangkan tangan Chanyeol, membuat wanita yang sedari tadi menatap aneh padanya, semakin menjadi-jadi.
Wanita itu akhirnya memberanikan diri bertanya pada chanyeol, "Chanyeol. Dia siapa sebenarnya? Kenapa dia ikut dalam acara makan malam kita?" Tanyanya keheranan.
Chanyeol menyimpan sendoknya, menghela nafas. Dia menenangkan Baekhyun lebih dulu untu makan-makanan yang sudah dipesan.
"Maafkan aku Irene. Dia... temanku. Dia tengah hamil dan dia tidak memiliki siapapun untuk menjaga kandungannya agar baik-baik saja." Terang Chanyeol.
"Oh." Irene mengangguk mencoba mengerti, walaupun tatapannya masih saja datar menatap Baekhyun.
Baekhyun menghela nafas sedih mendengar ucapan Chanyeol yang mengatakan dia temannya, "Aku ingin teobboki!" Rengeknya sedikit penekanan.
Membuat Chanyeol kembali menyimpan sendoknya dengan sabar, bangkit untuk memesan pesanan Baekhyun.
Baekhyun langsung saja menatap Irene kesal, dibalas tatapan menyebalkan dari Irene.
"Ingat, kau harusnya punya malu. Dia calon suamiku. Kenapa kau merengek padanya?" Irene mngucapkan itu dengan nada yang sinis.
Baekhyun menatap Irene kesal, "Dia ayah dari anakku!" Ucapnya sedikit berteriak membalas ucapan itu.
Irene mengangkat salah satu alisnya, "Benarkah? Bukankah kau selingkuh darinya. Jadi untuk apa kau mencari muka padanya demi anak lelaki selingkuhanmu!" Tuduh Irene.
Baekhyun meremas jaketnya, "Dia buka-"
"Baek." Chanyeol datang dengan makanan yang Baekhyun inginkan. Irene berpura-pura tidak terjadi apa-apa melanjutkan makanan. Berbeda dengan Baekhyun yang masih terdiam mengingat sindiran dari wanita itu.
"Baek, makanlah jangan hanya di tatap." Tegur Chanyeol ketika menengok kesampingnya Baekhyun hanya diam.
Baekhyun tersadar langsung memakannya tanpa banyak bicara.
"Chan, Aku ingin membeli baju lebih dulu ya nanti." Irene menatap berbinar pada Chanyeol yang di balas anggukan oleh dipemilik nama.
.
.
Baekhyun selalu mengikuti kemanapun Chanyeol pergi, bahkan dia ikut makan malam bersama keluarga Park, yang di sambut senang. Sungguh Baekhyun merindukan mereka membuat Baekhyun merengek dengan air mata merangsak keluar.
Dia juga ikut ketika Chanyeol dan Irene memilah baju untuk pernikahan mereka, disana Baekhyun menangis sambil memegang baju pengantin untuk sepasang lelaki gay, membuat Chanyeol.kalutbuntuk menenangkannya.
Kehamilannya sudah baik-baik saja dan sehat berkat Chanyeol, dia menjaga si munyil itu dengan baik sampai Baekhyun mendapat berat badan yang lebih membuat pipi mochinya keluar, karena masa ngidam membuat dia banyak makan ini itu.
Tapi mengingat dirinya akan segera menikah dia tidak akan bisa seperti ini terus-menerus.
Saat ini Chanyeol menemani Baekhyun yang mengidam ingin makan es krim, Chanyeol melihat jam tangannya sejak tadi. Ini sudah malam dan Irene sejak tadi memintanya pulang untuk membicarakan persiapan pernikahan mereka yang akan dilaksanakan dua hari lagi.
"Baek... mungkin ini terakhir kalinya kita seperti ini. Aku harap kau menjaga bayi itu, aku... masih belum percaya bahwa bayi itu anakku. Karena..." Chanyeol menggeleng mencoba menghilangkan ingatan Daehyun dan Baekhyun di mobil, "Kau tahu? Aku sebenarnya melihat saat kau tengah bercinta dengan Daehyun."
Baekhyun menghentikan suapannya, dia tertegun dan terkejut mendengar ucapan Chanyeol. Dia terlalu menikmati apa yang Chanyeol beri, dia kira Chanyeol akan kembali padanya dan Chanyeol melihatnya melakuka hal hina dengan lelakinlain. Pantas saja dia sulit mendapatkan kepercayaam Chanyeol kembali.
"Sekarang ayo kita pulang, in sudah malam." Chanyeol memasangkan coat miliknya di tubuh Baekhyun, menuntun untuk berdiri menaiki mobilnya.
Baekhyun hanya diam saja, tangannya gemetar memikirkan bahwa ini akhir dari segalanya bersama Chanyeol. Dia sudah tidak memiliki kesempatan untuk bersama.
Chanyeol sesekali menengok menatap Baekhyun yang diam saja melihat menjela, terlihat tangan dan bahunya bergetar menandakan dia tengah menangis dan Chanyrol tahu itu. Chanyeol mengeratkan genggamannya pada setir, hatinya berdengut sakit melihat Baekhyun seperti ini.
Chanyeol menghentikan laju mobilnya, Baekhyun semakin menangis keras. Chanyeol yang tidak tahan membawa Baekhyun dalam pelukannya.
Baekhyun bergumam tidak bisa menahan Chanyeol, "Aku mohon, Chanyeol. Aku mohon jangan hukum aku seperti ini." Baekhyun terisak pilu dalam dekapan Chanyeol, "Jangan tinggalakn aku. Aku mohon maafkan aku~."
Chanyeol semakin memeluk Baekhun erat, Chanyeol memejamkan matanya sedih. Baekhyun menggeleng random membayangkan Chanyeol benar-benar terikat dengan orang lain.
Air mata Chanyeol ikut mengalir, tangannya turun mengusap perut Baekhyun yang sudah menonjol, lalu mencium dahinya.
Chanyeol mngusap airmatanya sendiri, dia menjauhkan tubuh Baekhyun, "Besok kau datanglah kepernikahanku." Chanyeol berusaha tersenyum mengatakan itu, ia mengusap air mata Baekhyun.
Baekhyun merasakan sesak, dia akan kehilangan orang yang mengerti dirinya, dia menatap Chanyeol sedih lalu mengeratkan pelukannya untuk terakhir kalinya.
.
.
Pernikahan itu tiba tepat hari ini. Suasana itu ramai oleh para tamu undangan, mereka mulai memadati kursi-kursi yang tersedia. Chanyeol berdiri dengan gagah berdiri di altar sambil tersenyum tenang menunggu.
Baekhyun sudah ada disana, memenuhi kursi yang tersedia sejak 5 menit yang lalu. Dia sebenarnya tidak ingin menghadiri ini. Tapi dia penasaran ingin melihatnya walaupun dadanya sejak tadi terasa sesak.
Baekhyun menunduk menghapus air matanya yang jatuh kembali. Matanya sudah sembab dan dibawah matanya terdapat mata panda. Dia terus mengusap perutnya sayang, mencoba menenangkan perutnya terasa keram. Dia terlalu banyak membatin kembali.
"Baiklah acara ini akan kita mulai." Si pembawa acara memulai, "Apakah kau merasa gugup, Park Chanyeol-ssi?" Tanyanya membuat orang-orang disana tertawa.
Chanyeol tersenyum, "Ya. Karena ini adalah hari special untukku dan kekasihku." Jawabnya tersenyum sambil menatap hadirin.
Si pembawa acara mengangguk sambil tertawa, "Baiklah karena pengantin pria sudah tidak sabar kkkkk. Kepada mempelai lain silahkan menaiki altar."
Pintu di sebrang altar terbuka memperlihatkan Irene, ayah dan eomma Park keluar dari sana membawa bunga. Mereka berjalan pelan menuju Chanyeol.
Baekhyun yang melihat itu langsung menunduk tidak tahan melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah mereka.
Irene mendekati Chanyeol yang langsung disambut oleh Chanyeol dengan senyuman, Chanyeol mencoba menarik nafas dalam-dalam lalu mereka mulai membacakan janji sehidup semati.
Baekhyun bangkit dari duduknya sambil menghapus airmatanya yang mulai turun. Dia sudah tidak akan memiliki kesempatan lagi, Chanyeol akan bahagia bersama Irene dan Baekhyun juga akan pergi bersama anaknya dari kehidupan Chanyeol.
Semuanya sudah usai tidak ada lagi yang harus dia lakukan untuk memperjuangkan hubungan mereka kembali.
Baekhyun menarik nafas melihat matahari diluar gereja tampak cerah. Dan mulai melangkah pergi meninggalkan acara pernikahan itu.
.
.
.
END
