Waktu menunjukan pukul tujuh pagi. Dan masih, hanya mereka berlima yang ada. Melihat ini Sakura menjadi khawatir dengan Sasuke yang tidak terlihat lagi sejak kejadian semalam. Tapi, biarkan saja ini memang bagus untuknya.
Mikoto, Sakura dan kelima putranya sudah duduk rapi mengelilingi meja makan dan Sasuke masih belum muncul. Raut khawatir terlihat jelas di wajah Mikoto kemudian dia menatap satu per satu onix milik putranya penuh tanya.
"Sasuke di kamar mandi." jawab Obito dan melanjutkan makannya tanpa mempedulikan kebingungan Ibunya. Obito tahu kalau tatapan Mikoto mengacu kepada keberadaan Sasuke saat ini.
"Sejak semalam kaa-chan tidak melihatnya." Kini Mikoto melanjutkan perkataanya. Masih dengan tatapan ancaman kepada para putranya.
Semua putranya terdiam dan Mikoto pun bangkit dari duduknya menuju kamar Sasuke. Semua putranya menghela nafas dan melepaskan sendok makan mereka. Obito memutar bola matanya kesal kemudian bangkit, di susul Shisui, Izuna, Itachi dan Madara kemudian Sakura juga mengikuti mereka
Seperti saat Sakura terpuruk kemarin malam. Kini Mikoto kembali berteriak histeris melihat putranya hanya menggunakan celana dalam duduk lemas di lantai kamar mandi. Tubuhnya sedingin es, bibirnya putih pucat seperti wajahnya. Sepertinya kelima saudaranya mengurung Sasuke di kamar mandi semalaman tanpa pakaian.
"Tega sekali kalian ini!" Teriak Mikoto memeluk putra bungsunya yang lemas. Ya, Sasuke sepuluh menit lebih muda dari Izuna. Kelima Uchiha lainnya mati-matian menahan tawa mereka agar tidak pecah saat melihat adiknya itu menderita. Sedangkan Sakura terdiam dengan wajah memerah melihat Sasuke yang seksi sekaligus menyedihkan. Sasuke menatap tajam Sakura hingga rasa bersalah mulai muncul menghantuinya. Ada rasa kasihan, ada juga rasa senang saat melihat Sasuke seperti ini. Entahlah!
"Ayo Sakura-chan! Nanti kita terlambat." Obito menarik tangan Sakura agar meninggalkan tempat itu. Sakura melirik Sasuke sebentar sebelum akhirnya hilang di balik pintu.
Mungkin sepulang sekolah nanti Sakura akan meminta maaf atas kejadian semalam. Ah... tidak! Seharusnya Sasuke yang meminta maaf sehingga membuatnya harus mengenakan plester berlambang Uchiha di lehernya. Semua siswi di kelasnya pasti akan menanyakan tentang plester itu.
"Obito-nii, a-apa Sasuke akan baik-baik saja?" tanya Sakura khawatir. Kenapa di hari keduanya Sakura harus menerima kesialan ini sih? Dan sekarang meskipun Sasuke yang salah Sakura malah merasa lebih bersalah karena melihat Sasuke tersiksa seperti tadi.
"Tenang, kaa-chan tidak akan membiarkan putra kesayangannya sakit." Jawab Obito dan memasukan Sakura kedalam mobil. Sakura kembali menghela nafas dan berharap semoga perkataan Obito itu benar.
Jam pelajaran belum dimulai dan Sakura sedang berada di atap sendirian. Sakura belum begitu akrab dengan teman wanitanya jadi lebih baik menyendiri saat ini. Nanti juga akan kenal dengan sendirinya. Sakura menikmati hembusan angin yang sejuk, dan pemandangan indah dari atas sini.
"Bosan?" Suara seseorang mengejutkannya dari belakang membuat Sakura menoleh seketika. Ah, itu Izuna. Berjalan santai menghampirinya, mengikuti gaya Sakura yang bertumpu pada pembatas, teralis besi. Dia sangat tampan dan memesona seperti Uchiha lainnya. Mereka memiliki pesona yang menakjubkan.
"Hm... Aku hanya..." Sakura menggantungkan ucapannya dan menghela nafas panjang sebelum akhirnya Izuna menyambung perkataannya.
"Sasuke?" Ucapnya melirik Sakura dan membalikkan tubuhnya bersandar pada teralis besi. Sakura melirik menatap wajah Izuna dari samping yang sangat mirip dengan Sasuke.
"Ah, apa dia akan baik-baik saja?" Sakura mengetuk-ngetukan jarinya pada besi yang menjadi tumpuannya. Entah kenapa kekhawatiran benar-benar melanda dirinya saat ini.
"Dia sudah biasa di hukum oleh para Nii-chan." Jawab Izuna santai dan menengadah menatap langit. Ya, mungkin hukuman semacamnya.
"Hm... aku hanya merasa bersalah." Sakura mengikuti gaya Izuna yang bersandar dan menunduk menatap jari-jari tangannya.
"Seharusnya dia di hukum lebih berat dari itu, karena telah menandaimu seenaknya. Dia bersaing tidak sehat dan mengibarkan bendera perang pada kami" Ucapnya dengan nada kesal. Oh ayolah! Izuna juga ingin sekali menandai Sakura seperti Sasuke tapi, kenyamanan Sakura lebih penting darinya terlebih lagi Izuna tidak ingin Sakura menganggapnya buruk jika dia melakukan itu. Itu akan memperburuk citranya di depan Sakura.
Sakura hanya menunduk malu dan meraba lehernya yang di beri plester. Kemudian menghela nafas.
Izuna meliriknya, menatap leher Sakura yang jenjang dan putih. Tidak heran jika Sasuke tidak mampu menahan diri karena Izuna pun sekarang merasakan darahnya mengalir lebih cepat. Tubuhnya memanas melihat helaian merah muda Sakura diterpa angin. Izuna menelan ludahnya kasar sebelum ia segera membalikkan dirinya memunggungi Sakura. Ia takut hal serupa terjadi lagi jika ia menatap Sakura lebih lama dari ini.
"Kenapa?" Sakura terkejut melihat Izuna. Tubuhnya terlihat kaku dan kepalanya menunduk saat memunggungi Sakura. Tidak ada jawaban, Izuna hanya menggelengkan kepala dan meninggalkan Sakura sendiri.
Jam pelajaran sudah dimulai dan pelajaran pertama adalah fisika oleh Kurenai-sensei. Sakura mulai mencatat beberapa poin yang dianggapnya penting dan mengerjakan tugas yang diberikan sensei itu. Cukup mudah untuk seseorang yang memiliki prestasi bagus sepertinya. Pikirannya masih ke sana ke mari sebenarnya, memikirkan berapa hal seperti berapa lama ia akan terjebak di mansion Uchiha? Dan apalagi yang akan terjadi setelah ini?.
Izuna yang memperhatikannya malah terlihat terpesona bukannya heran atau bingung dengan raut wajah Sakura. Akan ia pastikan Sakura akan menjadi miliknya sebelum Sakura terpikat oleh siapapun dan Sasuke, sepertinya Izuna sudah tidak mengkhawatirkannya. Sakura sudah pasti membencinya dan rasa khawatir yang Sakura tunjukan sudah pasti ia hanya merasa empati terhadap keadaan Sasuke tadi pagi.
Pelajaran berlangsung cukup tenang hingga akhirnya jam istirahat datang. Izuna sudah keluar kelas duluan karena Madara memanggilnya. Entah ada masalah sekolah atau hanya masalah keluarga Sakura tak peduli.
"Hei... " Tiba-tiba Nii-san lainnya datang dan merangkul Sakura bersamaan di sisi kanan dan kiri. Sekarang sudah jam istirahat dan Sakura berjalan sendirian menuju kantin tidak heran jika ia terkejut dengan kehadiran Obito dan Shiusi yang bersmaan.
"He? Nii-san!" Sakura terkejut.
"Sedang memikirkan apa?" Tanya Shisui seraya mendudukan Sakura di bangku kantin.
"Hm..." Sakura menggelengkan kepalanya. Entah apa yang ia pikirkan bahkan Sakura bingung sendiri sepertinya begitu banyak yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Selain perjodohan yang mendadak dan kejadian semalam masih berkutat memenuhi kepalanya. Entah kenapa? Setiap teringat dengan kejadian semalam, Sakura masih dapat merasakan dengan jelas hisapan kuat di lehernya membuat bulu kuduknya berdiri. Ah, apa yang ia pikirkan?
"Sakura-chan?" Panggil Obito menyadarkan Sakura dari lamunannya. Entah kenapa? Ingin sekali Sakura cepat-cepat pulang dan melihat keadaan Sasuke sekarang karena ia tidak masuk sekolah hari ini.
"Hm?" Gumam Sakura.
"Kau baik-baik saja?" Lanjutnya. Sepertinya Sakura banyak pikiran dan itu membuat Obito dan Shisui sangat khawatir. Apa karena Sasuke? Kenapa Sasuke begitu mempengaruhinya bahkan di awal pertemuan mereka. Ini membuat posisi Saudara-saudaranya terancam.
"Katakan! Kenapa aku harus memilih diantara kalian? Bahkan aku tidak tahu kalian sudah punya pacar atau belum. Bisa saja kan keberadaanku ini hanya membuat semuanya kacau." Ucap Sakura yang membungkam mulut Obito dan Shisui. Sakura hanya bingung, entah siapa yang lebih baik diantara mereka. Sakura rasa semua orang baik termasuk si brengsek Sasuke dan rasanya Sakura begitu berat jika harus memilih satu diantara mereka.
"Kau tau kan? Kau itu obsesi terbesar Kaa-chan dan Tou-chan." Obito menghela napas. "Kehadiranmu di tengah-tengah keluarga kami akan membuat Kaa-chan dan Tou-chan bahagia." Lanjutnya tersenyum seraya mengangkat dagu Sakura agar menatapnya.
"Lagi pula kau seorang gadis yang cantik. Kami akan kesulitan untuk bersaing mendapatkanmu." Sambung Shisui sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Sakura. Sakura tersenyum mendengar jawaban keduanya. Sangat senang rasanya ada yang menyukainya seperti ini tapi... ada yang mengganjal di hatinya, mengenai pacar mereka. Belum sempat Sakura menanyakan hal itu lebih lanjut pada keduanya seseorang sudah berteriak dari arah belakang.
"Obito-kun!"
Semua orang berbalik menghadap wanita yang memanggil Obito itu.
"Habislah kau Obito." Ucap Shisui terkekeh kecil dan menarik Sakura kedekatnya. Sedangkan Obito berdiri membekap mulut gadis itu dengan tangannya.
"Siapa dia?" Tanya Sakura berbisik pada Shisui.
"Kekasihnya. Rin." Jawab Shisui. Baru saja pria itu mengatakan hal yang membuat Sakura melambung dan kini, Kekasihnya datang menceramahinya. Menyebalkan! Semua lelaki sama saja hanya ingin mempermainkan perasaan wanita dan sepertinya Sakura harus waspada kepada semua singa itu mulai sekarang.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Obito kesal.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Alih-alih menjawab pertanyaan Obito. Wanita yang dipanggil Rin itu malah bertanya balik. Obito memutar bola matanya kesal dan setelah itu Sakura melihat Obito menarik Rin pergi entah kemana. Selain itu Sakura merasakan ada hembusan nafas seseorang yang begitu dekat dengan wajahnya dan Sakura berbalik ke sumber embusan nafas itu.
Degh!
Jantungnya berdetak kencang menatap mata Shisui yang begitu dekat menatapnya. Bahkan jarak mereka sangat dekat sehingga Sakura dapat merasakan embusan nafas Shisui yang berhembus di wajahnya. Entah sejak kapan pria itu menatap Sakura hingga sedekat ini. Matanya yang begitu indah dengan warna hitam kelam yang meneduhkan. Kenapa Uchiha selalu memiliki pesona yang memabukan Sama dengan Sakura, Shisui pun tak mampu mengedipkan matanya saat melihat pemandangan indah sedekat ini. Wajah cantiknya terlihat sangat jelas membuat Shisui ingin berteriak karena senang. Matanya yang indah begitu tajam menatap matanya sehingga membuat kesadaran Shisui hampir hilang dan bibirnya yang merah membuat jantung Shisui hampir ingin meledak saat itu juga. Tanpa mempedulikan setiap pasang mata yang ada, Shisui perlahan-lahan mendekatkan wajahnya ke wajah Sakura dengan pandangan yang terfokus menatap bibirnya. Sakura menelan ludahnya kasar saat hidung mereka mulai bersentuhan karena wajah Shisui yang semakin mendekat.
"N-nii-san!" Sakura menahan dada Shisui dengan telapak tangannya. Masih di posisi yang sama. Shisui terdiam dan sekarang memfokuskan matanya menatap mata Sakura.
Degh!
Wajahnya memerah sempura karena malu. Belum sempat Shisui menjauhkan wajahnya dari Sakura. Izuna sudah menarik kerah seragamnya kebelakang hingga menjauh dari Sakura.
"Hei, apa kau tidak malu dilihat banyak orang?" Ucap Izuna dan menggantikan posisi duduk Shisui di samping Sakura. Shisui mengedarkan pandangan kesekelilingnya. Dan benar! Para siswa dan siswi sudah membeku, hampir menyaksikan ciuman yang langka tadi, bahkan beberapa di antaranya mungkin sudah mengambil gambar dari kejadian tadi dan Shisui harus bersiap-siap besok wajahnya akan terpampang di mading sekolah.
"K-kau!" Shisui mengepalkan tangannya kesal kemudian berteriak mengusir semua siswa, siswi agar meninggalkan kantin hingga akhirnya mereka berhamburan pergi karena takut. Sakura masih menunduk malu karena itu.
'Selangkah lagi... jika saja bocah tengil ini tidak datang. Mungkin aku sudah merasakan kelembutan bibir Sakura yang merah itu.' Gerutu batinnya. Dan memukul kepala Izuna kasar sebelum akhirnya pergi tanpa meninggalkan sepatah dua patah kata apapun.
"Hei! Ini menyakitkan. Bersainglah secata sehat!" Teriak Izuna sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit akibat pukulan keras yang dilakukan Shisui. "Kau harus berhati-hati pada mereka. Meskipun terlihat baik tapi, tingkat kemesuman mereka tinggi." Bisik Izuna membuat Sakura mengangkat wajahnya yang memerah menatap Izuna penuh curiga dan takut. "Aa... kecuali aku... aku masih bisa mengontrolnya jika dalam jarak aman." Ucapnya terbata-bata. Pipinya sedikit merah karena malu. Sebenarnya dia juga sering memikirkan banyak hal vulgar mengenai Sakura. Tentunya hanya pikirannya yang tau.
Sudah pukul empat sore. Sakura baru sampai di rumah, bersama keempat Uchiha. Itachi masih belum pulang karena pekerjaannya yang padat. Sakura menggantung tasnya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya yang indah. Setelah melamun beberapa menit kemudian Sakura bangkit dan duduk di atas ranjangnya. Ash... kenapa Sasuke selalu muncul di pikirannya? Mungkin ini karena rasa bersalahnya yang begitu besar. Sakura segera mengganti pakaiannya menggunakan rok mini kesukaannya dan kaos ketat berwarna pink. Bukan sengaja ingin membuatnya terlihatseksi dan menarik tapi, Sakura sudah terbiasa berpakaian seperti ini bahkan sejak Sakura masih tinggal bersama orang tuanya.
Sakura segera bergegas menuju keluar untuk mengetahui keadaan Sasuke saat ini. Damn! Sakura berpapasan dengan Shisui tepat di depan pintu kamarnya. Wajahnya kembali memerah mengingat kejadian tadi siang dan wajah Shisui juga sama merahnya melihat penampilan Sakura saat ini. Sial! Kenapa jantung Shisui malah berdetak lebih kencang sekarang? Gadis ini benar-benar membuat insting lelakinya terancam.
"Shisui-nii." Gumam Sakura. Dia hanya menyapanya biasa, karena sepertinya Shisui sengaja berdiri tepat di depan kamarnya.
"A... ano... Sakura-chan..." Shisui menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal kemudian mengusap wajahnya frustasi. Sakura hanya mengedipkan matanya beberapa kali melihat tingkah Shisui yang terlihat aneh walaupun sama anehnya dengan dia. "Ma-Maaf soal kejadian tadi siang." Ucapnya gugup dan menunduk. Bahkan dia tak mampu menatap mata Sakura sekarang.
"Tidak... tidak apa-apa kok." Sakura menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis. Sangat manis hingga membuat Shisui meleleh seperti lilin yang terbakar. Sepertinya ia harus membuat pertahanan kokoh agar dia tidak kalah saing dengan saudaranya yang lain. "Maaf, aku harus melihat keadaan Sasuke." Lanjut Sakura sedikit membungkuk kemudian pergi meninggalkan Shisui.
"Ck. Ada apa denganku? Kenapa aku hanya diam saat dia pergi menemui Sasuke. Argh! Ini tidak benar." Geramnya dan segera menyusul Sakura ke kamar Sasuke.
Sementara itu Sakura sudah berada di kamar Sasuke sekarang. Matanya memancar, penuh rasa bersalah menatap Sasuke terbaring lemah di atas ranjang. Ini bukan salahnya! Ini bukan salahnya! beberapa kali hatinya menyangkal semua hal yang menghantuinya dan mendekat saat Sasuke tak menolak dengan kehadirannya di sana.
"Kau baik-baik saja?" Lirih Sakura. Tangannya meremas roknya gelisah hingga kadang terangkat membuatnya semakin terlihat seksi.
"Menurutmu?" Gumam Sasuke. Sikapnya masih menyebalkan namun juga menyedihkan. Terlihat jelas Sasuke sedang menahan diri saat melihat Sakura terus meremas roknya gelisah. Sasuke demam sejak pagi tadi karena kedinginan berada lebih dari dua belas jam berada di kamar mandi tanpa pakaian. Dan sekarang masih dalam tahap pemulihan.
"Maaf." Sakura menunduk. Lagi-lagi meremas roknya hingga terangkat. Ah, sial! Dia membuat Sasuke semakin demam tinggi sekarang. Dia ingin meminta maaf atau membuat Sasuke lebih cepat mati karena serangan jantung? Ini tidak baik untuk kesehatan jantung dan kesehatan nafas Sasuke. "Kau tidak makan?" Mata Sakura beralih menatap nakas dengan satu mangkuk bubur yang masih utuh.
"Tidak nafsu!" Jawabnya ketus. Kenapa sih? Si brengsek ini begitu egois bahkan karena kesalahannya sendiri. Seharusnya tidak menyiksa Sakura seperti sekarang ini karena membuat Sakura semakin merasa bersalah. Lagi pula ini kesalahannya siapa suruh melakukan pelecehan terhadap Sakura.
"Mau ku suapi?" Sial! Sakura terlanjur menawarkan diri untuk menyuapi si menyebalkan sasuke. Mungkin ini akan mengurangi rasa bersalahnya.
"Mungkin akan memperbaiki nafsu makanku sedikit." Jawabnya berusaha setenang mungkin. Bilang saja sangat mau di suapi Sakura. Masih saja sok jual mahal padahal hatinya berbunga-bunga karena tawaran itu. Bahkan ingin rasanya Sasuke salto karena girang atas tawaran Sakura. Kalau saja tidak adak Sakura mungkin dia juga sudah melakukan hal itu.
"Hm... " Sakura menghela nafas dan mulai mendekati ranjang Sasuke. Meraih mangkuk yang berada di nakas dan duduk di tepi ranjang untuk menyuapinya dan saat itulah Shisui datang.
Degh!
Hatinya terasa sangat sakit melihat Sakura menyuapi Sasuke penuh kasih sayang. Tepatnya Sakura terpaksa dan orang lain melihatnya begitu. Dalam hatinya Shisui merutuki nasibnya. Kenapa sih? bukan dia saja yang sakit hingga bisa Sakura suapi seperti Sasuke. Giginya gemertak tangannya mengepal erat dan mendaratkan kepalannya itu di tembok samping pintu kamar Sasuke yang terbuka. Shisui membalikkan tubuhnya dan berjalan kesal menuju ruang TV. Rasa kesal semakin menjalar di tubuhnya hingga berpusat di ubun-ubunnya yang rasanya ingin meledak. Shisui menyalakan TV dan mulai bermain game player sendirian dengan memencet stick gamenya kasar.
"Kondisimu buruk Shisui." Tiba-tiba Itachi muncul, yang entah sudah pulang sejak kapan? Itachi mengambil stick satunya lagi dan menemani Shisui bermain.
"Apa kau pernah patah hati?" Ucap Shisui membuat Itachi tercengang dan tertawa kecil menanggapi ucapannya.
"Ada apa denganmu?" Tanya Itachi masih terkekeh.
"Aku merasa, tidak suka saja saat ada seseorang yang ku sukai begitu perhatian dengan orang lain." Jawabnya masih dengan nada kesal dan terfokus pada game balap mobilnya.
"Tunggu! Apa maksudmu Sas..." belum sempat Itachi menyelesaikan ucapannya. Obito sudah berteriak histeris mendekati mereka berdua. Dan dua Saudara lainnya menghampiri mereka karena teriakan itu.
"Apa kalian tahu? Sakura sedang berada di kamar Sasuke dan dia sedang menyuapinya dengan penuh kasih sayang." Ucapnya sewot dengan nafas ngos-ngosan karena berlari.
"Apa?" Teriak keempat Saudaranya bersamaan. Sedangkan Shisui masih memainkan gamenya dengan kesal.
TBC
1 September 2018
