Semua para singa Uchiha itu sudah berkumpul mengelilingi Sasuke di ranjangnya. Seperti sekumpulan singa yang ingin menghajar singa lainnya. Obito duduk di dekat sandaran Sasuke di sisi kanannya bersama Itachi dan Shisui duduk di sebelah kirinya bersama Izuna sedangkan Madara berdiri bersedekap menatap Sasuke tajam penuh ancaman. Sakura masih duduk di tempatnya, masih dengan memegang mangkuk bubur di tangannya.

"Apa adik kita ini begitu parah sehingga harus disuapi?" Ucap Obito sambil mengacak rambut Sasuke cukup kasar. Tentu itu membuat Sasuke ketakutan dan menelan kunyahan buburnya sangat sulit. Seperti menelan batu besar di tenggorokannya.

"Sakura-chan berikan padaku." Itachi meminta dengan sangat lembut mangkuk bubur yang Sakura pegang. Mana rela Itachi melihat Sakura menyuapi Sasuke. Menang banyak dong dia. Meskipun waktu Itachi bersama Sakura cenderung sedikit tapi, Itachi menaruh perhatian yang lebih pada Sakura saat ia berada di rumah.

"Umh..." Sakura ragu memberikannya pada Itachi karena Sasuke menatapnya penuh ancaman. Apa-apaan mereka ini? Membuat Sakura takut dan bingung.

"TIDAK!!" Teriak Sasuke saat mangkuk bubur yang Sakura pegang disentuh oleh Itachi.

"Diam dasar manja!" Shisui membekap mulut Sasuke dengan tangannya cukup kencang hingga Sasuke tak bersuara lagi. Kakaknya yang lain tertawa pelan melihatnya.

Aukk!! ringis Shisui saat tangannya Sasuke gigit dan berhasil lepas dari mulutnya. "Sasuke!" Geramnya kesal karena kesakitan.

Sasuke segera bangkit dari posisi tidur bersandarnya menjadi duduk tegap sambil memegang tangan Sakura erat. Berharap Sakura tak meninggalkannya.

"Kau akan digantung di tiang bendera jika kau berusaha memonopoli Sakura-chan." Bisik Obito membuat Sasuke bergidik dan semakin erat menggenggam tangan Sakura. Matanya melotot, Kepalanya menggeleng-geleng menandakan jangan pergi Sakura!.

"Kalian jahat! Akan aku adukan pada kaa-chan." Teriaknya masih ketakutan dan menatap Sakura berharap gadis itu bertanggung jawab atas kondisinya saat ini. Sepertinya bukan itu. Tapi Sasuke memanfaatkan kondisinya yang sakit demi mendapatkan perhatian dari Sakura.

"Hei! Lepaskan tanganmu dari Sakura-chan." Madara mencoba menarik tangan Sasuke dari Sakura namun karena begitu kuat cengkraman Sasuke pada Sakura. Itu malah membuat Sakura meringis kesakitan.

"Nii-san! Sudahlah tidak apa-apa. Seharusnya kalian jangan bersikap kasar pada Sasuke. Dia sedang sakit sekarang." ucap Sakura yang malah mendapat balasan decak sebal dari para Uchiha itu. Sedangkan Sasuke mengulum senyumnya atas pembelaan Sakura terhadapnya.

"Maksudmu, kami boleh menghajarnya saat dia sehat nanti?" Celetuk Izuna yang mendapatkan pelototan horor dari Sasuke. Sakura menaruh jari telunjuk di dagunya seperti sedang berpikir kemudian...

"Ide bagus." Jawabnya terkekeh pelan diiringi tawa Uchiha lainnya.

"Hei!" Teriak Sasuke kesal. Sontak Sasuke menarik tangan Sakura dan memeluknya dari arah belakang.

"Hei! Apa-apaan kau ini!" Teriak Sakura terkejut.

"Jika kalian macam-macam padaku, akan ku cium dia sekarang dan memberikan lebih banyak lagi tanda di lehernya." Ancam Sasuke. Sial! padahal Sasuke sedang sakit sekarang, tapi kenapa tenaganya masih bisa sekuat ini? Bahkan lebih kuat rasanya saat Sasuke memeluk Sakura.

"Hei! Lepaskan aku!" Teriak Sakura sambil mencoba melepaskan diri dari Sasuke. Seluruh saudaranya terkejut dan aura iblis menyelimuti mereka seketika seperti seekor singa yang makananya benar-benar di rebut.

"SASUKE!" Teriak mereka bersamaan.

Buagh!

Buagh!

Buagh!

Dan akhirnya merekapun masuk kedalam perkelahian antar Saudara. Sakura berteriak ketakutan saat kelima Uchia lainnya menerjang Sasuke begitu ganas penuh amarah. Namun mereka tak memperdulikan itu dan melanjutkan perkelahiannya. Entah siapa yang mereka tojok atau pukul karena kini posisi Sasuke sedang menelungkup Sakura dari atas. Melindungi gadisnya dari pukulan para singa kelaparan itu.

Degh!

Melupakan sejenak keributan yang berada di balik kukungan Sasuke. Jantung Sakura berdegup begitu kencang sekarang. Wajahnya memerah menatap onix hitam itu. Tubuhnya terasa kaku dan desir darahnya begitu cepat merasakan gesekan dari pangkal paha Sasuke di pahanya. Bukan disengaja tapi, Sasuke mencoba menahan hantaman dari kelima saudaranya yang membuat tubuhnya bergerak-gerak di atas tubuh Sakura. Dan begitu juga dengan Sasuke. Jarak mereka yang begitu dekat dan dengan posisi seperti ini... ah... Sasuke bisa saja menindihnya dan memeluknya, merasakan setiap lekuk tubuhnya yang indah dan menghirup aroma tubuhnya lebih dalam lagi dan... dan... dan... sesuatu dibalik perlindungan celana dalamnya menegang hebat membuatnya berkeringat dan meneteskan beberapa peluhnya itu di wajah Sakura. Sepertinya Sasuke mulai gila sekarang dan tidak memperdulikan keributan yang ada di sana. Hanya menikmati imajinasinya dengan Sakura yang berada di bawahnya.

Tunggu!

"UCHIHAAA!!"

Teriakan yang cukup kencang menyadarkan Sasuke dari setiap imajinasi vulgarnya dan tanpa sengaja lengannya menjadi lemas dan akhirnya benar-benar menindih Sakura.

"Aukk!" Pekik Sakura merasakan beratnya tubuh Sasuke dari atas. Sedangkan Sasuke benar-benar merasa tak bernyawa sekarang saking lemasnya.

Pemilik suara yang berteriak tadi menarik Sasuke dari atas tubuh Sakura menjauhkannya dari gadis yang menjadi obsesinya. Dan keributan pun terhenti memberikan dampak buruk untuk kamar Sasuke yang hancur berantakan seperti kapal pecah.

"Kaa-chan?" Ucap mereka bersamaan karena terkejut.

"Apa yang kalian lakukan?" Bentak Mikoto penuh amarah. Bagaimana bisa para putranya menempatkan Sakuranya dalam bahaya seperti tadi. Jika saja dia tidak datang tepat waktu mungkin Sakuranya sudah lecet sekarang.

"Kaa-chan ini bukan salahku." Sangkal Sasuke. "Salahkan saja para nii-chan pengganggu ini." Lanjutnya sambil menunjuk Kelima Saudaranya.

"Kau!" Geram kelima Saudaranya dan mereka berlima saling lirik. Baru menyadari kalau wajah mereka babak belur tapi tidak dengan Sasuke. Bahkan dia tidak mengalami lecet sedikit pun.

Pipi Shisui dan Izuna yang lebam. Sudut bibir Madara dan Obito yang berdarah dan dahi Itachi yang benjol. Setelah menyadari itu semua, mereka semua berdecak sebal bersamaan. Sebenarnya siapa yang menjadi tujuan penyerangan mereka sejak awal? Bahkan yang jadi tujuannya baik-baik saja.

"Dia yang mulai duluan kaa-chan." Itachi membela diri. "Si bungsu itu sudah bersaing secara tidak sehat dengan cara memonopoli Sakura-chan." Lanjutnya menggebu-gebu karena kesal. Dan diamini oleh keempat saudara lainnya.

"Tidak! Sakura datang ke kamarku untuk meminta maaf karena aku sakit. Dan dia sendiri yang menawarkan untuk menyuapiku." Sasuke tak mau kalah dari para saudaranya karena kali ini ucapannya benar dan tidak mengada-ada. Kelima saudaranya dan Mikoto melirik Sakura yang menunduk setelah perkataan Sasuke selesai. Kemudian ia mengangguk pelan setelahnya.

Ck! Desahan kelima Uchiha yang babak belur itu semakin menjadi setelah melihat Sakura mengangguk. Tanda mengiyakan perkataan Sasuke tadi. Dan sekarang tatapan tajam Mikoto beralih kepada mereka.

"Kaa-chan..." rengek manja Izuna agar ibunya tidak marah dan mau memaafkan mereka.

"Keluar dari kamar Sasuke-kun sekarang!" Teriaknya. "Bagaimana kalau Sakuraku mengalami lecet? Jika ingin menghajar Sasuke-kun seharusnya kalian membawa Sakura-chan pergi dulu agar dia tidak terluka." Ucap Mikoto yang kemudian memeluk Sakura cemas. What? Mulut mereka semua menganga dan hampir saja rahang mereka jatuh karena terkejut setelah mendengar penjelasan Mikoto terlebih lagi Sasuke yang melotot tak percaya ibunya akan setega itu. Ternyata ibunya tidak mengkhawatirkan Sasuke melainkan mengkhawatirkan Sakura. Jika saja situasinya tidak seperti ini, ingin sekali mereka tertawa terbahak-bahak jumpalitan melihat Sasuk, putra bungsunya yang berharga menjadi tidak berharga saat ada Sakura di sana.

"Kaa-chan!" Rengek Sasuke manja karena ucapan ibunya tadi membuatnya tidak berharga di depan Sakura. Seketika rasa Sakit kelima Uchiha pun hilang dan mereka segera keluar dari kamar Sasuke untuk mengobati luka mereka masing-masing.

"Sasuke-kun, kau harus bersaing secara sehat!" Tegas Mikoto masih memeluk Sakura erat.

"Kaa-chan, Sakura hanya ingin bertanggung jawab atas diriku. Maksudku, aku sakit karena hukuman yang menimpa dirinya." ucap Sasuke berharap Mikoto mengerti bahwa ada modus terselubung di dalam ucapannya.

"Dan itu salahmu!" Tegas Mikoto tak peduli.

"Tapi Sakura dengan suka rela membantu pemulihanku 'kan? Sakura." Sasuke menegaskan kata 'kan' saat menatap Sakura. Membuat Sakura merasa terancam dan merasa bersalah juga. Apalagi sekarang kamar Sasuke hancur berantakan karena kecemburuan saudaranya.

"Hm..." akhirnya Sakura menghela nafas dan menyetujui perkataan Sasuke. Senyum tipis hampir tidak terlihat terukir di wajah Sasuke. Tentu saja! Ini membuat Sasuke senang dan memiliki banyak kesempatan untuk mendapatkan Sakura. Ingin sekali rasanya Sasuke lari marathon karena saking senangnya. Tapi jaga imagenya lebih penting sekarang daripada memperlihatkan rasa senangnya.

Waktu menunjukan pukul delapan malam dan Sasuke kehabisan obat. Mikoto memerintahkan Izuna untuk membeli obat namun Izuna merengek agar Sakura menemaninya malam itu. Sasuke tak terima saat mendengar Mikoto dan Sakura menyetujui permintaan Izuna. Jika saja Izuna bukan kakak kembarnya. Ingat sepuluh menit lebih tua. Ingin sekali Sasuke meledakkan kepalanya dengan bom racikan Deidara. Tapi, apalah daya Sasuke yang mulai menggigil kembali. Ia pasrah saja dan berharap sesuatu tidak terjadi di antara mereka berdua.

Begitu pun dengan keempat Saudara Izuna lainnya. Jelas mereka sangat iri dan tak terima melihat Sakura dan Izuna berduaan malam-malam begini. Apalagi mereka berdua pergi berjalan kaki dengan alasan Apotek terdekat hanya butuh menaiki satu kereta dan sampai pada tujuan.

Tapi, lagi-lagi mereka kalah dengan pelototan Mikoto yang tajam. Dan akhirnya menghela nafas berat merelakan Sakura pergi.

Di stasiun kereta terdekat. Izuna dan Sakura terdiam menunggu kereta berhenti untuk membawa mereka ke tempat tujuannya dan beberapa menit kemudian yang dinanti pun berhenti tepat di depan mereka.

Malam ini kereta sangat ramai dan dipenuhi penumpang hingga Sakura dan Izuna harus berdesak-desakan di sana. Izuna mengukung Sakura dengan tangannya yang berada di sisi kanan dan kirinya Sakura. Berharap Sakura tidak tersenggol atau terhimpit penumpang lainnya.

Izuna, kau harus memastikan Sakura-chan tidak lecet sedikitpun. Apalagi di jam segini biasanya kereta sangat padat oleh penumpang kau ingat!

Ah... bayangan ibunya itu selalu terlintas di pikiran Izuna membuatnya benar-benar protectif menjaga Sakura.

Sebenarnya ini posisi yang sempurna untuk... tidak! tidak! Izuna menggelengkan kepalanya menepis semua pikiran kotor dari kepalanya. Yang terpenting sekarang adalah Sakura tidak boleh lecet!.

Tapi... wajah manis nan imut itu menatapnya penuh malu. Terlihat jelas di wajahnya yang memerah. Emeraldnya yang indah beberapa kali berkedip membuat Izuna menelan salivanya susah payah.

"S-sakura-chan..." gumam Izuna masih menanamkan tangannya ke pintu gerbong menahan dorongan dari beberapa orang di belakangnya.

"Hm?" Gumam Sakura tertahan. Nafasnya terdengar terengah-engah dapat Izuna rasakan. Mungkin dia juga merasakan perasaan yang sama dak, dik, duk seperti Izuna.

"Maafkan aku dengan posisi ini. Aku hanya berusaha menjalani perintah kaa-chan." Jelas Izuna. Tangannya mulai tak kuat karena dorongan dari arah belakangnya yang semakin kuat. Kini tubuh Izuna semakin merapat pada Sakura.

Nafasnya terasa semakin tercekat sekarang. Jantungnya hampir copot merasakan benda kenyal menyentuh dadanya. Ah... itu milik Sakura. Oh ya Lord! Selamatkan Izuna dari virus mematikan ini.

"S-sakura... maaf." Ucapnya sekali lagi. Matanya terpejam, kepalanya menunduk meneteskan beberapa butir keringat ke kepala Sakura. Posisinya masih mengurung Sakura dengan tangannya namun, tubuhnya sudah semakin merapat dengan Sakura. Izuna sudah tidak tahan. Bahkan karena dorongan-dorongan orang itu membuat sesuatu di bawah sana menegang dan hampir memuntahkan sesuatu.

'Aku tidak tahan lagi!' Batinnya mulai berteriak saat sesuatu memaksa keluar dari benda di bawah sana. Alasannya, karena sekarang Sakura memeluknya erat karena takut. Tentu saja! Saat pintu gerbong terbuka orang-orang berlomba-lomba untuk keluar dari dalam kereta terlebih dahulu dan Sakura takut karenanya. Bagi Sakura lebih menakutkan orang-orang asing itu dibandingkan dengan Izuna yang ia peluk saat ini. Dan karena dorongan itu pula mengakibatkan gesekan-gesekan panas yang membuat Izuna tidak kuat menahan cairan itu untuk keluar.

"Sial!" Gumamnya pelan. Celananya mulai basah dan wajahnya memerah karena malu. berharap Sakura tidak merasakan cairan yang menembus celananya. Kenapa ini harus terjadi? Sakura pasti akan berfikir kalau dia adalah Uchiha termesum sepanjang sejarah. Arrghh!

"I-Izuna?" Gumam Sakura dan mendongak menatap Izuna. Tangannya masih melingkar di pinggang Izuna dan tangan Izuna masih bertumpu pada dinding gerbong menahan lemas tubuhnya. Wajahnya memerah saat ia memanggil nama Izuna. Perasaan Izuna mulai tidak enak sekarang.

"Hm?" Izuna menggigit bibirnya menahan malu. Kepalanya masih menunduk ke arah Sakura. Ah, itu terlihat sangat manis membuat Sakura meneguk salivanya. Ini sering ia lakukan jika dalam keadaan gugup seperti ini.

"Aku rasa... aku merasakan sesuatu." Ucapnya polos.

jangan! jangan! jangan bilang! Izuna terus berharap kalau Sakura tidak merasakan cairannya.

"Basah!"

DAMN!

Wajah Izuna memerah sempurna seraya melepaskan tumpuannya dan keluar dari dalam kereta. Sakura mengekorinya dari belakang sambil merutuki dirinya yang bodoh. Kenapa dia harus mengatakan hal tadi pada Izuna? Argh! Ini membuat suasana menjadi canggung.

Sakura memberikan resep kepada seorang Apoteker dan tidak lama kemudian Apoteker itupun memberikan obat yang Sakura minta dan Sakura segera membayarnya. Izuna hanya duduk menunggu Sakura sambil menutupi bagian kemaluannya yang basah.

"Umh... sudah!" Sakura menghampiri Izuna. Dan Izuna bangkit dari duduknya berjalan tak nyaman menuju stasiun. Beruntung saat pulang kereta kosong dan hanya ada beberapa penumpang saja membuat Izuna menghela nafas lega. Jarak duduk Izuna dan Sakura cukup berjauhan. Karena kejadian tadi seperti memunculkan dinding besar yang membenteng jarak Izuna dan Sakura. Tidak memerlukan waktu setengah jam mereka pun sampai di mension Uchiha.

Keempat Saudaranya sudah menunggu di ruang tengah sambil melakukan aktifitas bisa seperti bermain game. Tatapan tajam para Uchiha itu tertuju pada Izuna yang berjalan aneh sambil menunduk dan bahkan kemudian berlari menuju kamarnya. Mereka berempat saling melirik seolah bertanya apa yang terjadi? pada satu sama yang lainnya. Dan yang lainnya mengedikan bahu tak tahu.

Sakura berjalan menunduk dan memberikan kantung obatnya pada Mikoto saat wanita paruh baya itu menghampirinya. Dan tanpa kata-kata apapun Sakura berjalan menunduk menuju kamarnya seperti yang dilakukan Izuna. Ini membuat keempat Uchiha itu dibayangi dengan tanda tanya besar dan setelah saling lirik mereka segera bergegas menuju kamar Izuna untuk mengintrogasinya.

TBC

AN:

Hoy!XD sejauh ini bagaimana menurut kalian? Ini memang seperti mengacu pada Sasuke tapi sebenarnya kepada semua Uchiha sih. Mungkin mereka belum kebagian momen aja. Dan kejutan lainnya akan datang di chapter berikutnya...Terimakasih kepada kalian yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca Kesialan Yang Aneh ini. Semoga selalu terhibur dan jangan lupa keritik dan saran yang sopan dan membangun.See U2 September 2018