Cuit ... cuit ... terdengar suara burung berkicau, saling bersahutan menyambut pagi yang cukup indah. Bias-bias cahaya menembus celah jendela memancarkan sinar menyilaukan ke pelupuk mata Sakura. Dahinya mengerut, kelopak matanya masih tertutup mencoba beradaptasi dengan cahaya yang menyilau di matanya. Perlahan-lahan Sakura membuka matanya dan menggeliat kecil, kemudian bangkit dari tidurnya. Mulutnya menguap, ditutup oleh punggung tangannya dan ia kembali meregangkan otot-otot tangannya.

Rambutnya masih acak-acakan dan kesadarannya belum terkumpul seluruhnya. Sakura sudah berjalan santai menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Piayama pertengahan paha, masih melekat di tubuhnya. Pikirnya karena ini hari minggu, sepertinya tidak apa-apa kalau tidak mandi pagi. Setelah menyisir rambut, Sakura bergegas turun, masih lengkap dengan gaun malamnya berniat untuk membantu Mikoto menyiapkan sarapan.

Waktu sudah menunjukan jam delapan pagi dan Sakura terlambat memenuhi niatnya. Mikoto sudah bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan dibantu dengan maid yang bertugas.

"Kaa-san, kenapa kaa-san tidak memanggil ku? Jika kaa-san membangunkanku lebih awal, aku pasti membantu kaa-san dan kaa-san tidak akan kerepotan sendiri." Sakura cemberut mulai nyerocos kesal dan merutuki keterlambatannya. Mikoto memang tak suka membangunkan Sakura apalagi jika melihat gadisnya itu tertidur pulas. Mikoto pasti akan menyelimutinya dan membuat Sakura tertidur semakin pulas lagi.

"Sayang, Kaa-san kan dibantu Karui, kau jangan khawatir." Mikoto tersenyum sambil membelai rambut Sakura. Selalu begitu, kasih sayang yang terpancar dari mata Mikoto begitu besar, sangat besar Sakura dapat merasakannya. Ini membuat Sakura semakin nyaman berada di sini dan mulai lupa dengan orang tuanya.

Menghela nafas. Sakura membalas senyum mikoto dan mencium pipinya sekilas kemudian menduduki salah satu kursi yang ada di dapur untuk menikmati sarapan dan dua Uchiha pun datang.

"Kau, tidak mandi saja terlihat secantik ini, tidak heran jika setelah mandi kami semakin tergila-gila padamu." Ucap Shisui, tersenyum kemudian duduk di kursi samping sebelah kanan Sakura. Tangan kanan menopang dagunya, matanya tak berkedip menatap Sakura.

"Ah ... terima kasih Shisui-nii. Aku pikir karena ini hari minggu jadi, jika tidak mandi pagi tidak apa-apa kan?" Sakura tersenyum pada Shisui, dan itu membuat Shisui meleleh. Oh tuhan! Nikmat mana lagi? Yang Shisui dustakan. Pagi-pagi begini sudah disuguhi pemandangan indah seperti ini. Sungguh manis, lebih manis dari roti dan selainya.

"Shisui-kun benar. Kau tetap cantik Sakura-chan." Sambung Mikoto sambil mengolesi roti dengan selai blueberry. Mikoto tidak akan menghalangi setiap langkah dan proses yang anaknya lakukan untuk pendekatan Sakura. Ya, selama mereka bersaing secara sehat. Meskipun ada perlakuan dari salah satu Uchiha yang sedikit vulgar, selama Sakura tak keberatan dan tak membuat Sakura sedih. Itu tidak masalah.

"Bagaimana jika kau aku mandiin?" Tiba-tiba Sasuke datang dan menyambar sandwich isi tomat di tangan Sakura kemudian melahapnya hingga mulutnya penuh. Sasuke duduk di samping kiri Sakura.

"Kau mau mati?!" Teriak Sakura sambil memperlihatkan kepalan tanganya pada Sasuke. Mikoto dengan tenangnya tertawa pelan dan mulai melahap rotinya. Tidak lama setelah itu Fugaku datang menyapa mereka dan memberi kecupan pada Mikoto dan Sakura di pipi mereka. Hal ini membuat Shisui dan Sasuke merengut sebal dan kesal. Tentu saja, disaat mereka harus mati-matian bersaing mendapatkan Sakura, dan ayah mereka sudah menang banyak menciumi Sakura seenaknya. Ini tidak benar! Sakura sudah ternodai.

"Ayah, apa aku boleh melakukan itu?" Tanya Sasuke seraya memasukan seluruh sandwich kemulutnya hingga penuh karena kesal.

"Tanyakan pada Sakura-chan." Ucap Fugaku santai diiringi senyuman manisnya. Udah tua tapi sok manis.

"TIDAK!!" Teriak Sakura sambil menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya yang menghadap Sasuke sekarang. Menandakan kalau siapa saja tidak boleh melakukan cium sembarangan kecuali Mikoto, Fugaku dan kedua orang tuanya um ... kecuali lagi sahabatnya itu he he...

"Hn ..." gumam Sasuke sambil tersenyum mencurigakan. "Aku akan membangunkan Izuna dan yang lainnya." Sasuke bangkit dari duduknya setelah menghabiskan sarapannya. Madara dan Itachi mungkin kelelahan karena mereka lebih giat bekerja daripada menggombali Sakura. Tapi, meskipun begitu mereka sama antusiasnya seperti Sasuke dan yang lainnya untuk merebut hati Sakura. Kemudian Izuna dan Obito, mereka pasti bergadang semalaman sambil bermain game, sudah menjadi tradisi malam minggu. Obito bahkan mengesampingkan Rin di malam minggunya oleh karena itu mereka kesiangan.

Dan tanpa diduga saat Sakura sedang mengunyah makanannya Sasuke langsung mengecup pipi Sakura sekilas sambil berbisik.

"Selamat pagi Sakura-chan." Kemudian berlari menuju ruang tengah. Sontak itu membuat pipi Sakura merona hebat. Tiba-tiba udara di dapur menjadi sangat panas dan pasokan oksigen menipis.

"Hei!!" Teriak Sakura bersamaan dengan Shiui karena terkejut. Wajah Sakura memanas, seakan mengeluarkan uap dari kedua telinganya. Sedangkan Shisui sudah berlari mengejar Sasuke untuk menghajarnya. Mikoto dan Fugaku tertawa seperti sedang menonton drama komedi dan kembali melahap rotinya dengan tenang.

Tinggal Izuna, Madara, Obito, dan Itachi yang belum sarapan. Sakura sudah membantu Mikoto membereskan bekas makan mereka.

"Seperti ada keramaian di rumah." Ucap Mikoto setelah mencuci tangan dan menutup keran air.

"Iya, apa ada yang berkunjung?" Tanya Sakura penasaran dan mengikuti Mikoto berjalan menuju ruang tamu.

"Um ... apa mungkin? ..." Mikoto menggantungkan ucapannya dan berjalan cepat menuju ruang tamu. Seperti ingin memastikan bahwa dugaannya itu benar. Sebenarnya siapa yang datang? Apa memang selalu ada yang berkunjung dalam waktu sebulan? Ah, Sakura semakin penasaran.

"Payah! Mau apa kau kemari?" Sasuke dengan ketusnya menyapa pria berambut kuning sambil mendaratkan kepalan tangannya pelan di kepala pria itu.

"Aku merindukan mu," Pria itu memeluk Sasuke sebentar, "Ah, gadis stres itu juga merindukanmu." Ucapnya diiringi tawa jahilnya yang khas saat menunjuk seseorang di pintu masuk.

"Apa? Dia ikut bersamamu?" Raut wajah Sasuke menjadi panik dan khawatir. Sepertinya ada yang tidak beres dengan Sasuke dan wanita itu.

"Hei! Sob." Shisui melayangkan kepalan tangannya, beradu dengan kepalan tangan pria itu dan berpelukan sebentar.

"Wah ... kembaranmu mana?" tanyanya pada Shisui kemudian tertawa.

"Mungkin masih tidur. Kau tau kan? Kebiasaan rutin Obito di malam minggu." Shisui mengedikan bahunya saat memberitahu kebiasaan kembarannya itu.

"Rin pasti akan menghabisinya besok." Naruto dan Shisui tertawa bersama sedangkan Sasuke menautkan alisnya menatap seorang wanita yang datang membawa dua koper berat sedang diseret masuk.

"Bahaya!" Gumam Sasuke.

"SASUKE-KUN!!" Teriaknya sambil melompat kepangkuan Sasuke. Pria kepala kuning itu benar, dia gadis stres. Pantas saja Sasuke begitu khawatir saat pria kuning itu bilang kalau gadis stres merindukannya. Sepertinya ini sudah terjadi dan berlangsung sejak lama sehingga Sasuke sudah tau pasti sifat wanita itu.

"Hei! Apa-apaan kau!" Teriak Sasuke histeris. Shisui dan pria berambut kuning itu tertawa geli melihat kelakuan dua orang di depannya. Yang benar saja, wanita berambut merah itu seperti srigala betina yang merindukan srigala jantan. Ini musibah untuk Sasuke. Yang kuat ya.

"Hi, Oba-san!" Teriak pria berambut kuning seraya menghampiri dan memeluk Mikoto. Pandangan Sakura masih fokus pada Sasuke dan wanita itu. Ada rasa kesal, tapi ... tidak! Sakura tidak menyukainya. Sakura tidak menyukai Sasuke, ini salah! Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya kemudian mengalihkan pandangannya pada sosok yang berada di hadapan Mikoto yang baru saja selesai berpelukan.

"N-Naruto-kun!" Ucap Sakura terkejut. Matanya membulat melihat sosok di depannya itu.

"Sakura-chan." Ucap pria yang disebut Naruto itu sama terkejutnya dengan Sakura.

"NARUTO-KUN!!" Teriak Sakura seraya berlari kepelukan Naruto, dan Naruto berputar sambil memeluk Sakura erat. Seperti melepas rindu yang sudah lama terpendam. Sebenarnya siapa pria ini? Berani sekali memeluk Sakura dihadapan para Uchiha.

"Eh?" Mikoto terdiam melihat Sakura dan Naruto yang terlihat akrab itu saling berpelukan. Dan beberapa menit kemudian setelah tersadar dari lamunannya Mikotodan dua Uchiha yang sedari tadi sudah ada di tempat ditambah empat Uchiha yang baru bangun berteriak tak terima melihat Sakura mereka dipeluk sembarangan oleh orang lain. Ingat! Sakura hanya milik Uchiha.

Bahkan mereka (para the boys Uchiha) saja sangat kesulitan untuk sekedar menyentuhnya dan ini ... memeluknya begitu erat, merasakan setiap lekuk tubuhnya, menghirup aroma parfum nya, mencium rambutnya yang wangi itu. Aaaaarrrggghhh!! Itu sudah kelewatan. Dan mereka bertujuh pun (termasuk Mikoto) menarik paksa Naruto dari pelukan Sakura hingga terlepas. Entah kenapa, Tapi, raut wajah Sakura begitu bahagia saat bersama Naruto terkecuali Karin yang sedang merengut sebal karina diabaikan Sasuke, yang lebih peduli pada Sakura.

"Apa-apaan ini? Dia milik kami!" Tegas Madara dan Mikoto sambil bersedekap menantang Naruto.

"Apa maksud kalian?" Tanya Naruto tak mengerti. Cengiran aneh terukir di sudut bibirnya sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal dan kenapa Sakura ada di sini?

Sakura melewati keenam, ah tidak, Ketujuh Uchiha itu dan menarik Naruto pergi menuju halaman belakang mension itu untuk menjelaskan semuanya. Sakura juga membutuhkan penjelasan kenapa Naruto ada di sana dengan gadis merah itu. Sedangkan tujuh Uchiha yang terabaikan menganga tak percaya melihat Sakura yang begitu dekat dengan Naruto. Apa-apaan ini? Bahkan Sakura mengabaikan Mikoto juga. Ada apa sebenarnya.

Setelah sampai di halaman belakang. Sakura lagi-lagi memeluk Naruto dan mendapatkan balasan dari Naruto. Sakura berbisik 'Aku sangat merindukanmu' yang di jawab oleh Naruto 'Aku juga'.

"Sakura-chan, kau sedang apa di sini? Dan kau tidak memberitahuku kalau kau pindah sekolah!" Ucap Naruto dengan raut wajah yang cukup kecewa atas keputusan Sakura. Naruto tidak mengerti dengan yang terjadi saat ini. Pertemuannya dan Sakura di mension ini?

"A-Aku ... aku, tinggal di sini sekarang. Naruto-kun kau tau? Kalau aku dijodohkan dengan enam singa itu." Ucap Sakura frustasi. Ia bingung harus mulai dari mana untuk menjelaskan semuanya pada Naruto. Naruto adalah sahabatnya yang paling ia sayangi, dan pada Naruto lah Sakura menaruh hatinya.

"Aa ... ternyata itu benar, kupikir orang tuamu hanya bercanda." Sakura melirik Naruto dengan wajah penuh penyesalan. "Aku dengar dari Mebuki baa-san, tapi setidaknya kau beri tahu aku. Aku menunggumu di tempat kesukaan kita setiap pagi dan kau tidak kunjung datang." Ucap Naruto cemberut. Bagaimana ia tidak kesal? Pasalnya Naruto juga menaruh hati pada Sakura dan selalu berharap suatu saat nanti Sakura dapat ia miliki. Tapi, jika keadaannya seperti ini ... bersaing dengan enam Uchiha itu, sepertinya Naruto tidak akan sanggup.

"Aku tau, aku salah. Maaf ..." Sakura menunduk menyesal. Naruto tersenyum seraya mengusap rambut Sakura menandakan bahwa tidak apa-apa. Sakura mengangkat wajahnya dan membalas senyum Naruto.

"Dan kau, sedang apa kau di sini?" Tanya balik Sakura.

"Ah, aku sudah biasa bermain kesini jika akhir pekan. Biasanya aku menginap semalam dan pulang keesokan harinya." Jelas Naruto sambil menyilangkan tangannya di belakang kepala dan bersandar pada sandaran kursi.

"Lalu gadis merah itu?"

"Dia Karin, sepupuku. Dia sangat terobsesi dengan Teme, makanya setiap aku kemari dia selalu ikut. Merepotkan!" Jawab Naruto. Sebuah cengiran khas terukir di wajah tampannya. Ah, cengiran yang sangat Sakura rindukan. Sudah berapa lama Sakura tak melihat itu.

"Aku tidak pernah tahu kau punya sepupu."

"Dia bersekolah di sekolah yang berbeda dengan kita. Jadi kau tidak akan tahu." Naruto melirik Sakura dan tersenyum. Naruto benar, Karin memang saudaranya tapi, dia tidak bersekolah di sekolah yang sama oleh karena itu Sakura tidak pernah mengetahuinya.

"Umh ... menginap Satu malam saja harus membawa dua koper seberat itu." Gumam Sakura yang dibalas kekehan Naruto.

"Dia memang aneh." Naruto tertawa geli, "Sakura-chan ... aku juga pindah ke KHS agar selalu dekat denganmu, dan untuk menjagamu dari singa Uchiha itu." Naruto berbalik menatap Sakura dan menelungkup kedua pipinya dengan telapak tangannya yang besar. Ia tersenyum manis dan dibalas senyum lebih manis dari Sakura.

"APA?!" Suara teriakan terdengar dari balik pintu belakang mengejutkan Sakura dan Naruto membuat mereka berdua berbalik ke arah suara itu.

"Kalian!" Geram Sakura. Ternyata sedari tadi delapan Uchiha (termasuk Fugaku) itu menguping pembicaraan Naruto dan Sakura. Dan saat mereka berteriak mereka terkejut tak terima jika Naruto juga berada di sekolah mereka membuat posisi mereka semakin terancam. Sasuke dan lima Saudaranya takut kalau saingan mereka bertambah satu sedangkan Mikoto dan Fugaku takut kalau perhatian Sakura beralih pada Naruto. Seharusnya mereka gak separno itu bahkan sebelumnya Sakura sudah terbiasa dengan Naruto.

TBC

An

Minna... maaf telat nih... dan maaf kalau makin gaje aja. Kritik saran pokonya selalu key tunggu ya. Ya siapa tau punya saran untuk fict ini kedepannya gitu. oke terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca KYA ini. Dan semoga selalu terhibur.

8 September 2018