Sakura cukup menghabiskan banyak waktu dengan Naruto. Dan Karin, dia sepanjang hari terus mengganggu Sasuke sehingga Sasuke terus berteriak 'Sakura tolong aku!' Tapi, tentu saja Sakura tak peduli karena waktunya bersama Naruto akan terganggu.
Kadang-kadang Madara menariknya menuju kamarnya dengan alasan menegur Sakura karena nilainya jelek, padahal Madara cemburu parah melihat Sakura dan Naruto yang seperti perangko. Itachi dan yang lainnya juga sama, menarik Sakura dengan alasan yang kurang jelas.
Itachi, 'Bantu aku membereskan kamar.'
Izuna, 'Temani aku belanja.'Obito dan Shisui, 'Kau harus mencatat skor kami.'Naruto hanya tersenyum melihat tingkah para Uchiha yang berlebihan itu dan pada akhirnya Sakura tetap menghabiskan waktunya bersama Naruto.
Tidak terasa sudah hari senin. Naruto dan Karin sudah kembali kehabitatnya masing-masing dan mungkin nanti di sekolah mereka akan bertemu, mengingat perkataan Naruto bahwa ia juga pindah ke KHS demi Sakura dan mengenai Karin, entahlah kita lihat saja nanti.
Sakura sudah bersiap dengan seragam sekolahnya dan berkumpul di meja makan untuk sarapan. Seluruh Uchiha sudah berada di sana tersenyum menyambut Sakura.
"Selamat pagi Sakura-chan." Sapa Mikoto diikuti oleh kelima anaknya kecuali Sasuke. Sepertinya dia masih cukup kesal dengan Sakura. Selain karena Sakura begitu dengan Naruto, kecemasannya juga tertuju pada gadis stres berambut merah, Sasuke harap gadis itu tidak ikut-ikutan pindah bersama Naruto.
Dan mereka pun memakan sarapannya cukup tenang walaupun sesekali mereka mendengus sebal ketika Fugaku datang dan melakukan kegiatan rutinnya mengecup pipi Sakura dan Mikoto bergantian. Yah, mau bagaimana lagi? Masa iya, mereka harus memasukkan ayahnya ke daftar saingan mereka. Maksudku Fugaku cukup tua untuk menarik perhatian Sakura. Ya, walaupun memang sebenarnya dia sudah melakukan itu.
Sekarang giliran Itachi mengantar Sakura kesekolah, meskipun dia mendapatkan protes keras dari para saudaranya tapi Itachi tak peduli. quality time nya bersama Sakura terbilang sedikit karena Itachi harus bekerja di tempat yang cukup jauh dari KHS dan tidak bisa menghabiskan cukup banyak waktu dengan Sakura. Itachi bilang, dia tidak apa-apa mengantar Sakura dulu ke sekolah sebelum ke kantor. Katanya hari ini dia tidak terlalu sibuk.
"Nii-san, benar tidak apa-apa? Jika nii-san mengantarku dulu." Sakura takut kalau Itachi kerepotan karena harus mengantarnya dulu, padahal ini permintaan Itachi sendiri seharusnya Sakura tidak usah merasa bersalah.
"Hm ... sungguh, jarang-jarang kan kita bisa berduaan seperti ini." Itachi tersenyum dan tangan kirinya menggenggam tangan Sakura lembut.
Degh~
Lagi-lagi detak jantung Sakura berpacu lebih cepat saat seorang Uchiha memeperlakukannya semanis ini. Pasokan oksigen di dalam mobil terasa menipis membuat Sakura sesak napas seketika. Sakura wanita normal, meskipun perasaannya sudah menjadi milik Naruto (menurut Sakura) tapi bagaimana juga dia tetap wanita normal yang apabila berduaan dengan pria tampan seperti Itachi dapat membuatnya dek-dekan.
Apalagi pesona Itachi, sifatnya yang sangat dewasa dan dia juga tidak banyak bicara, cenderung cool dan pendiam meskipun kadang dia juga suka curi-curi perhatian pada Sakura.
"Kau kenapa?" Itachi melirik Sakura sebentar kemudian fokus kembali pada jalanan.
"A-Aku ... tidak apa-apa." Sakura memalingkan wajahnya menatap jendela pintu mobil. Jika ia tidak melakukan ini, Sakura akan sangat malu karena Itachi bisa melihat pipinya yang memerah seperti tomat.
"Sakura?" Itachi kembali memanggil nama Sakura dengan begitu lembut. Kenapa suaranya begitu menghipnotis Sakura, seperti akan membawa Sakura ke alam bawah sadar. Membayangkan hal-hal romantis bersamanya. Ini salah!
"Hm?" Sakura menelan ludahnya susah payah kemudian menatap Itachi yang sedang fokus menyetir.
"Apa kau sudah memutuskan?" Sakura menautkan alisnya tak mengerti. Maksud Itachi memutuskan apa? "M-Maksudku ... apa kau telah memilih satu diantara kami?" Lanjutnya gugup dan Itachi malah jadi salah tingkah sekarang.
"Aa ... mengenai itu," Sakura menunduk lemas menatap ujung roknya. "Aku ... maaf ..." Sakura menggigit bibirnya takut. Ia sebenarnya masih ragu dengan perasaanya pada keenam Uchiha itu, yang ia tahu, ia masih menyukai Naruto saat ini. Itachi benar, seharusnya waktu beberapa minggu ini Sakura lakukan untuk menilai keenam Uchia tapi, dia hanya menjalani semuanya dengan santai dan menikmati setiap debaran jantungnya yang berpacu cepat saat mereka melakukan hal yang romantis. Sakura masih pada perasaan lamanya. Naruto.
"Hm ... tidak apa-apa, aku mengerti." Itachi tersenyum dan mengacak-acak rambut Sakura pelan. Itu malah membuat Sakura semakin takjub dan terpesona. Itachi benar-benar sangat dewasa dan keren. Ini bisa memicu serangan jantung untuk Sakura. Ah, untunglah Sakura cepat sampai di sekolah, jika tidak dia akan masuk rumah sakit karena serangan jantung atau sesak nafas kan tidak lucu jika itu terjadi.
Itachi keluar dari dalam mobilnya dan berputar membukakan pintu mobil untuk Sakura. Sakura tersenyum dan keluar dari dalam mobil.
"Huh dasar, modus tuh!" Teriak Obito setelah keluar dari dalam mobilnya bersamaan dengan Shisui.
Sasuke dan Izuna juga mendengus sebal. Sasuke memakai kacamata hitam, bersedekap dan bersandar di pintu mobil. Sedangkan Izuna berdiri di sampingnya.
"Kalian iri padaku? Mungkin seharusnya aku membuat kalian lebih iri daripada ini." Itachi tersenyum kemudian mengecup pipi Sakura sekilas. "Sampai jumpa nanti." Itachi melambaikan tangannya dan masuk kedalam mobil kemudian melajukannya menuju kantor.
Shisui, Obito, Izuna dan Sasuke menganga terkejut. Hampir saja rahang mereka jatuh saking terkejutnya, dan Sakura menelungkup kedua pipinya yang mulai memanas dan memerah hebat. Dia tidak berteriak ataupun memaki Itachi. Itachi tidak semenyebalkan Sasuke untuk dia teriaki. Sakura tersenyum dan berlari menuju kelasnya tanpa menghiraukan keempat Uchiha yang tengah memandanginya tak suka.
"Kau lihat tadi?" Shisui berbalik menatap tiga Saudaranya. Mulutnya masih menganga tak percaya.
"Dia tersenyum." Gumam Obito dengan ekspresi tak percaya.
"Hnn," gumam Sasuke sambil mengedikan bahunya setelah ber-kaget-ria tadi dan segera berjalan masuk menuju kelasnya. Dia itu seperti tidak peduli tapi cemburu, seperti ingin memiliki tapi acuh. Dasar aneh.
Suara keramaian para siswa-siswi mulai memenuhi ruang koridor. Tawa, teriakan, kejar-kejaran dan lain sebagainya sedang berlangsung di sana. Sasuke ditemani Izuna dengan tenang melenggang masuk menuju kelasnya, terlihat Sakura tengah membenamkan wajahnya diantara lipatan tangannya di atas meja. Sepertinya Sakura masih merasakan efek sengatan listrik cinta dari Itachi.
"Lebay!" Sasuke menjitak ubun-ubun Sakura dan duduk di belakangnya. Izuna memelototi Sasuke karena tidak suka kembarannya itu menyakiti Sakuranya.
"Auk! Sakit tau!" Teriak Sakura seraya mengusap kepalanya yang Sasuke jitak. Si menyebalkan itu terus saja mengganggu Sakura. Dia itu sepertinya tidak bisa tenang jika sehari ... tidak! semenit saja membiarkan Sakura tenang.
"Tenamg Sakura-chan akan ku balas si menyebalkan itu." Izuna mengusap kepala Sakura kemudian melayangkan tinjunya di kepala Sasuke.
Buagh!
Akh!
"Jangan coba-coba menyakiti Sakura-chan!" Teriak Izuna.
"Ini penganiayaan terhadap Saudara kembar!" Teriak Sasuke tak terima. Bibirnya mengerucut dan tangannya mengusap-usap kepalanya yang berdenyut.
"Rasakan!" Sakura tertawa melihat Sasuke yang teraniaya dan tidak lama kemudian Naruto pun datang.
Senyum Sakura mengembang, dia bangkit dan merentangkan tangannya berniat akan memeluk Naruto tapi sial, Sasuke dan Izuna menahan tangan Sakura membuat gadis itu cemberut.
"Siapa suruh masuk ke kelas ini?" Ucap Izuna sinis. Dengan Santainya dan cengiran khasnya Naruto masuk dan merangkul bahu Sakura. Tentu saja itu membuat Sasuke dan Izuna semakin kesal, mudah sekali si pirang itu dapat merangkul, memeluk bahkan sesekali mencium pipi Sakura. Benar-benar mengibarkan bendera perang.
"Mungkin keberuntungan." Ucapnya tersenyum dan entah apa yang Sasuke pikirkan sehingga ia menarik Sakura kasar keluar kelas. Naruto terdiam, Izuna juga sama seperti Naruto mereka berdua terkejut melihat tingkah Sasuke yang sedikit kasar pada Sakura. Sebelumnya ini tidak pernah terjadi pada pria raven itu bahkan sekesal apapun Izuna melihat Sakura yang begitu dekat dengan manusia rubah itu tidak berani memperlakukannya sekasar itu.
Di atap. Sasuke melepaskan tangan Sakura dengan kasar dan mendorongnya hingga membentur dinding. Raut wajahnya yang ceria berubah menjadi takut dan khawatir.
"K-Kau kenapa?" Sakura berusaha bersikap tetap tenang menghadapi Sasuke yang seolah berubah menjadi monster mengerikan sekarang. Tatapannya tajam setajam mata elang. Raut wajah mengeras dan menakutkan. Sakura tak mengerti ada apa dengannya.
"S-Sa-Sasuke?" Suara Sakura gemetar sekarang, Sasuke mencengkram bahunya kuat sehingga Sakura merasakan nyeri.
"Aku sudah muak dengan sikap sok jual mahal mu itu. Dan saat bersama si bodoh itu kau seperti gadis murahan!" Bentaknya. Itu seperti seribu anak panah menancap yang menancap di dada Sakura. Begitu menyakitkan. Mata gadis itu terbelalak mendengar ucapan Sasuke, matanya mulai berkaca-kaca dan beberapa detik kemudian meluncurkan beberapa butir air mata yang semakin menderas.
"Apa yang kau katakan?" Suaranya masih bergetar namun mampu ia keluarkan disela isak tangisnya. Matanya yang dipenuhi air mata menatap tajam onix di depannya itu.
"Harus berapa lama aku bersikap bodoh dan bersedia bersaing dengan lima Uchiha itu? Aku Sasuke Uchiha. Aku tidak suka berbagi dan kau! Milikku." Tegasnya. Apa maksud si menyebalkan ini? Sakura semakin tak mengerti dengan ucapannya yang berbelit-belit seharusnya langsung saja ke intinya dan menjelaskannya dengan bahasa sederhana.
"Aku tidak mengerti maksudmu." Isakannya masih terdengar. Namun Sakura juga membutuhkan penjelasan atas sikap Sasuke saat ini.
"Aku menyukaimu sejak pertama kau masuk kedalam rumah kami. Tidak! bahkan jauh lebih lama daripada hari itu." Kedua tangannya mencengkram bahu Sakura yang bersandar di dinding. Tangannya begitu kuat sehingga Sakura tak mampu untuk menggerakan tubuh mungilnya. "Aku benci saat melihat Itachi menciummu, aku benci saat kau harus berduaan dengan Izuna, aku benci saat melihat si bodoh itu melakukan segala hal padamu, aku benci saat yang lainnya menggodamu aku benci dengam segala hal yang membuatmu harus bedekatan dengan para pria itu!" Teriak Sasuke. Sakura tak yakin, tapi Sasuke yang saat ini di depannya 180ยบ berbeda dengan Sasuke yang ia kenal sebelumnya. Apakah ini sosok Sasuke Uchiha yang asli? Apa sifat asli semua Uchiha sama? Sakura mulai merasa takut sekarang tinggal di mansion itu. Sikap mereka yang konyol dan kadang bersahabat itu, membuat Sakura tak yakin jika saat mereka marah akan menjadi semenakutkan ini.
"Sungguh, aku tak pernah berpikir jika aku harus memilih satu diantara kalian. Aku tak tau harus berbuat apa? Mereka memaksaku untuk tinggal di sana." Sakura semakin sesegukan. Rasa sakit bercampur takut menjadi satu sekarang. Sakura tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Kau tak harus memilih satu diantara kami. Kau hanya perlu menjadi milikku." Apakah si raven ini gila? Dia tidak bisa seenaknya begitu menentukan mana yang harus sakura pilih. Apalagi saat ini Sakura masih menyukai Naruto, perasaan seseorang tidak bisa dipaksakan begitu saja.
Sakura menundukan kepalanya masih menangis. "Aku tidak bisa." Gumam Sakura di sela isaknya.
"Apa kau menyukai si Dobe itu?" Wajah Sasuke benar-benar berubah tak suka sekarang. Cengkraman tangannya yang kuat belum terlepas sedari tadi ini bisa membuat Sakura terluka. Dan Sakura hanya diam kemudian mengangguk pelan dan kembali mendapatkan betakkan dari orang gila di depannya.
"KAU TIDAK BISA MENYUKAI SIAPAPUN SELAIN AKU!" Bentaknya semakin menekan kuat tubuh Sakura pada dinding dan memaksanya untuk berciuman dengannya. Sakura berontak sekuat tenaga tapi, sial! Tenaga Sasuke jauh lebih kuat darinya. Dan ciuman ganas pun tak bisa Sakura hindari. Sasuke melumat bibirnya begitu ganas penuh nafsu. Sungguh ini tidak enak, Sakura mutup mulutnya sambil menahan tangisnya yang semakin menjadi, tangan mungilnya mencengram erat seragam Sasuke dan sesekali memukuli dada pria itu. Sungguh Sakura tak habis pikir dengan Sasuke, kenapa dia bisa sekejam ini padanya? Bukan salahnya yang tidak mencintai Sasuke. Salahkan saja kedua orang tua mereka yang memaksa Sakura untuk meilih putranya. Sasuke benar-benar gila! Dia terus melumat bibir gadis malang itu, bahkan Sakura merasakan perih ketika Sasuke menggit bibirnya sesekali. Dan akhirnya Sasuke melepaskan ciumannya saat dia benar-benar telah kehabisa oksigen. Sakura merosot terjatuh di lantai, pakaiannya acak-acakan. Sepertinya bahunya membiru akibat cengkraman Sasuke. Dia masih menangis sesegukan. Pria gila itu hampir saja membunuhnya karena kehabisan nafas. Untung saja di detik-detik terakhir Sasuke melpaskan ciumannya.
Sasuke terdiam, sepertinya dia juga shock atas perlakuannya pada Sakura. Penyesalan menyeruai menyelimutinya. Ia benar-benar tak bisa menahan lebih lama sifat aslinya. Sasuke berjongkok dengan bertumpu pada lutu kaki kanannya. Ia menarik lebut Sakura di pelukannya sambil berkali-kali mengucapkan kata maaf. Dan karena kejadian itu berlamgsung cukup lama, sepertinya sekarang sudah memasuki jam istirahat. Tak ada satu Uchiha pun yang menemukan keberadaan mereka selama mereka menghilang sejak tadi.
Sasuke menggendong Sakura di depannya. Membawa gadis mapang itu menuju UKS. Sakura hanya mampu diam mematung karena tubuhnya juga merasakan lemas sehingga tak dapat berjalan sendiri.
Ruang UKS. Sasuke membuka dua kancing atas seragam Sakura dan membuka seragam itu agar memperlihatkan kedua bahunya yang lecet dan memar. Tentu saja bra yang Sakura kenakan terlihat jelas, namun Sasuke tak dapat berpikir macam-macam sekarang yang terpenting adalah mengobati luka Sakura sekarang.
Sakura duduk mematung seperti manekin. Air matanya sudah tak menetes lagi, sedangkan Sasuke masih mengoleskan salep di bahu kirinya. Dan Keempat Uchiha pundatang termasuk tambahan Naruto di dalamnya.
Melihat Sakura dengan keadaan kacau, Naruto sudah tidak bisa berpikir dengan jernih lagi. Mengingat Sasuke yang menarik Sakura tadi dan membuatnya menghilang selama jam pelajaran. Naruto langsung menarik kerahnya dan menghajar Sasuke membabi buta hingga tersungkur di sudut ruangan. Sedangkan empat Uchiha lainnya menahan diri agar tak menghabisi Sasuke saat itu juga. Mereka lebih peduli pada kondisi Sakura saat ini.
"Apa yang kau lakukan pada Sakura-chan?!" Bentak Naruto. Tangannya masih mencengkram erat kerah kemejanya dan wajah Sasuke sudah babak belur. Madara, Obito dan Sasuke tak tahu kronologis kejadiannya, jadi mereka bingung antara harus menyalahkan Sasuke atau tidak. Tapi melihat Naruto yang sebegitu murkanya pada Sasuke, mereka menjadi yakin kalau adik bungsu merekalah penyebabnya. Izuna menatap bibir Sakura yang bengkak dan ada luka disana. Ia memejamkan matanya dan menghampiri Sasuke yang terdiam pasrah di tangan sahabatnya.
"Aku tidak tau apa yang kau lakukan pada Sakura-chan tapi ..." tiba-tiba Izuna melangkan Satu hantaman keras pada pipi kembarannya itu hingga mengalirkan sedikit darah segar dari sudut bibirnya. Dan Sakura masih terdiam dengan tatapan kosong.
"Kau itu sahabatku Teme, aku tidak percaya kau melkukan hal gila semacam itu pada Sakura-chan. Kau tahu dia? Dia Sakura-chanku!" Tegas Naruto yang menghempaskan Sasuke ke lantai dan mengacak frustasi rambutnya.
Tentu saja! Sasuke lebih dari tahu tentang Sakura. Sasuke dan Naruto bersahabat sejak kecil karena orang tua mereka juga bersahabat. Karena Sasuke anak bungsu meskipun berbeda beberapa menit dengan Izuna. Sasuke lebih suka ikut bersama kedua orang tuanya apabila ada pertemuan dengan sahabatnya atau teman bisnisnya. Sedangkan Izuna lebih suka bergabung dengan para nii-channya.
Sasuke lebih sering bertemu Naruto dan kedua orang tuanya sejak usianya sepuluh tahun. Dan mengenal Sakura dua tahun setelahnya. Sasuke mengenal Sakura karena alasan yang sama, menyukai saat ia mengikuti pertemuan orang tuanya. Sakura tak pernah menyadari keberadaan Sasuke karena Sakura tak begitu peduli dengan urusan orang tua, tapi Sasuke sering memperhatikan gadis itu saat mereka berkunjung kerumahnya di Suna. Wajahnya yang cantik, senyumnya yang manis, dan sifat cerianya yang membuat Sasuke semakin tertarik pada gadis itu dan saat itulah Sakura menjadi obsesinya. Tapi, Sakura tetap tak menyadari itu selama beberapa tahun.
Saat Usianya lima belas tahun. Sasuke sudah tak mengikuti kegiatan orang tuanya yang suka berkunjung itu. Kecuali ke rumah Naruto. Sasuke dan Naruto sangat akrab sehingga seminggu sekali Naruto suka berkunjung dan menginap di rumahnya. Pria pirang itu sering menceritakan gadis merah muda yang ia sukai di sekolahnya, awalnya Sasuke hanya mendengus dan berdecak malas saat Naruto menceritakan gadis itu, sampai pada saat malam tahun baru, Naruto memperlihatkan foto gadisnya pada Sasuke. Sasuke terkejut. Ia tak percaya gadis yang sahabatnya sukai adalah gadis yang sama dengan gadisnya. Lelucon macam apa ini?
Setelah itu, Sasuke bertekad, ia tuidak akan membiarkan gadisnya dimiliki orang lain begitu saja. Hingga pada saat orang tuanya membawa Sakura ke rumah itu.
Sasuke sangat senang, senang sekali saat Mikoto bilang Sakura datang untuk memilih Satu di antara enam Uchiha. Sebenarnya bukan senang karena itu tapi, setidaknya maksud Mikoto Sakura akan menjadi menantu keluarga ini kan? Dan Sasuke memiliki peluang untuk memiliki Sakura seutuhnya. Walaupun di perkenalan pertama mereka (menurut sudut pandang Sakura) Sasuke menyebalkan. Sasuke harus terlihat seperti orang yang memang baru melihat Sakura kan? Daripada sok kenal tapi di acuhkan oleh Sakura karena ia tak pernah tahu apa yang Sasuke lakukan selama ini.
Sasuke meringis sakit di sudut ruangan. Naruto masih mengacak rambutnya frustasi, dan kempat Uchiha lainnya mengolesi salep di bahu kanan Sakura. Hingga akhirnya Sakura di bawa pergi oleh tiga Uchiha dan Naruto.
"Keruanganku sekarang, kita perlu bicara." Tegas Madara yang kemudian pergi meninggalkan Sasuke.
Sasuke tertatih seraya menyeka darah di sudut bibirnya kemudian mengikuti perintah Madara menuju ruangannya.
TBC.
ANKyaa... Lagi semangat semangatnya nulis nih wkwkwkwk.. key ucapkan terimakasih buat yang udah mau rieview dan kasih kritik maupun saran. Itu sangat berguna dan membantu sekali agar tulisan key lebih baik dan lebih menghibur lagi. Tapi maaf apabila reqwes nya belum terkabulkan wkwkwk... key bingung soalnya harus mulai darimana.Oke intinya terimakasih banyak.Selamat membaca dan semoga selalu terhibur.Jangan lupa review ya.apalagi buat Like and Favorit (tapi gak maksa) hehe...see u next chapter11 September 2018
