Sasuke sudah berada di ruangan Madara saat ini. Pria yang lebih tua darinya itu tengah berdiri menatap luar jendela penuh kecewa. Ini lebih dari 'tidak bersaing secara sehat' tentu saja. Melihat keadaan Sakura yang tidak bicara dengan tatapan kosong itu menjelaskan semuanya yang terjadi padanya sangat buruk. Dan Sasuke bertanggung jawab atas semuanya.
"Katakan!" Madara masih menatap luar jendela. Memasukan kedua tangannya kedalam Saku celananya. Sesekali ia memejamkan mata seiring helaan nafas beratnya.
"Sepertinya sudah jelas. Aku tak perlu mengatakan apapun lagi." Sahut Sasuke malas. Madara tahu betul sifat adik bungsunya itu, jika menyangkut hal-hal yang menjadi keinginannya, cara apapun akan ia lakukan.
"Kau tahu apa salahmu?!" Madara berbalik dan menggeprak meja di hadapan Sasuke. Kemudian menghempaskan pantatnya kesal di atas kursi empuk miliknya.
"Lakukan saja yang ingin kau lakuakan. Aku tidak akan mengatakan apapun." Masih dengan nada yang sama. Bahkan Sasuke menyandar santai di kursi yang ia duduki. Mungkin merasakan denyutan nyeri akibat hantaman Naruto dan Izuna.
"Kau!" Geram Madara kesal. "Bersyukurlah karena aku masih memiliki perasaan mengingat kau adalah Otoutouku. Jika tidak, mungkin aku akan membunuhmu saat ini juga." Ucap Madara yang mendapatkan dengusan mengejek dari Sasuke. Lagi, putra sulung Uchiha itu menghela nafas kesal dengan sikap adik bungsunya ini.
Madara juga sangat kesal pada adikknya ini. Sakura yang menjadi tanggung jawabnya, maksudku Mikoto memerintahkan para Uchiha itu menjaga Sakura dan tak membiarkan siapapun menyakitinya bahkan jika Sakura lecet sedikit saja Mikoto akan memberikan hukuman pada orang yang berbuat itu pada gadisnya. Terlebih lagi Madara juga menyukai gadis itu dan yang terpenting adalah Sasuke, Sasuke adalah adiknya dan dia melakukan hal buruk pada Sakura. Obsesi orang tuanya. Entah apa yang akan Mikoto lakukan jika ia tahu kalau putranya melakukan hal buruk pada Sakura. Mungkin Mikoto akan mengasingngkan Sasuke ke Antartika, atau membuat Sasuke menjadi santapan hiu di lautan lepas. Asal kalian tahu saja, sebegitu terobsesinya pada Sakura. Bahkan saat Obito berusia delapan tahun, ia tak sengaja menjatuhkan guci kramik yang ada gambar Sakuranya hingga hancur, yang Mikoto pajang di ruang tengah. Dan Obito mendapatkan hukuman tidak diberi makan malam selama seminggu. Bahkan Fugaku tak melarang istrinya itu. Padahal Obito anak kandungnya, apa guci kramik dengan gambar Sakura lebih penting daripada perut obito yang meraung setiap malam. Jadi tidak heran jika Mikoto akan melakukan hal yang Madara khawatirkan.
"Lakukan saja!" Tantangnya. "Asalkan kau tau, gadis itu milikku!" Tegas Sasuke menatap tajam onix Madara. Bahkan Sasuke berani mengklaim Sakura milikknya di depan Madara. Ini akan menjadi masalah besar untuknya.
"Kau di skors satu minggu." Madara menghela nafas dan menyudahi adu mulut dengan adik bungsunya itu. Dia tahu kalau percakapan seperti tadi tidak akan membuat si keras kepala itu mencair. Yang ada jika hal itu berlajut; diteruskan hanya akan berakhir dengan baku hantam di ruangannya.
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Sakura sudah pulang bersama Obito dan Shisui, bahkan Naruto ikut bersama mereka karena khawatir. Izuna menyetir sendirian karena Sasuke sudah pulang duluan dengan taxi dan tidak melanjutkan pelajarannya setelah mendapatkan skors dari Madara.
Mansion Uchiha. Mikoto benar-benar histeris saat melihat bahu Sakura yang terluka. Tentu saja kelima orang itu menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Mikoto. Wanita paruh baya itu menangis histeris seraya memeluk Sakura mengucapkan kata maaf atas nama Sasuke. Dan pria itu mengurung diri di kamarnya sedari tadi.
Madara sudah memberi tahu Mikoto kalau putra bungsunya mendapatkan skors karena kelakuan buruknya dan si bungsu itu akan mendapatkan masalah besar sekarang.
"Kaa-san, aku ingin pulang." Isak Sakura dipelukan Mikoto. Madara, Izuna, Obito dan Shisui merengut kecewa mendengar perkataan Sakura.
"Tidak!" Jerit Mikoto. "Kau tidak boleh pulang! Aku akan mati tanpamu." Ucapnya diiringi isak tangisnya. Ya ampun seharusnya kalian lihat wajah lebaynya itu. Sungguh Mikoto berlebihan untuk hal yang menyangkut Sakura. "Aku akan melakukan apapun untukmu asalkan kau tidak boleh pulang." Tegas nya. Beruntung Fugaku masih belum pulang bersama Itachi entah kemalangan yang seperti apa yang akan Sasuke terima setelah Fugaku mendengar ini.
"Kaa-chan benar. Kau sudah menjadi bagian dari kami, kau akan tetap di sini sampai kapan pun dan kami akan memastikan semuanya baik-baik saja." Shisui angkat bicara seraya mengusap lembut kepala Sakura. Sakura tidak mampu menolak mereka jika sudah seperti ini, mereka terlalu baik dan membuat Sakura sangat nyaman dalam keadaan apapun. Sakura mengangguk pelan di pelukan Mikoto dan mengeratkan pelukannya pada wanita kesayangannya. Mungkin Mikoto mulai menggantikan posisi Mebuki dan menduduki peringkat pertama pada daftar wanita yang Sakura Sayangi. Mengingat Ibunya yang telah sukarela membiarkannya meninggalkan rumah secara paksa.
Sedangkan Naruto mendengus sebal. Seharusnya Sakura pulang saja bukannya malah tetap berada di kandang singa ini. Mereka benar-benar sudah memonopoli Sakuranya.
"Ini sudah hampir malam, kalau begitu aku pamit. Aku mohon jaga Sakura dengan baik." Pinta Naruto sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.
Sasuke yang malang mengobati lukanya sendirian. Apalagi yang bisa ia lakukan? Sasuke tak butuh maid untuk memanjakannya. Lagi pula ini salahnya, Sasuke cukup tahu diri tentang itu.
Ini sudah waktunya makan malam. Mikoto dan Fugaku masih belum turun juga dari kamarnya. Mungkin mereka membicarakan masalah Sasuke dan memutuskan hukuman apa yang pantas untuknya. Sungguh ini masalah besar, Sakura sudah seperti nyawa bagi mereka dan Sasuke, pria malang itu seperti dianak tirikan. Mungkin efek karena masa kecilnya terlalu dimanjakan hingga Sasuke selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Dan sekarang, bahkan pria itu benar-benar melakukan trik kasar demi mendapatkan Sakura.
Itachi sudah diberi tahu oleh keempat Saudaranya mengenai Sasuke. Dan saat itachi mendengar itu, dia langsung berlari menuju kamar Sasuke. Jangan terpengaruh dengan senyum manisnya, Itachi bahkan lebih mengerikan dibanding dengan Uchiha lainnya. Wajahnya yang tenang dan cool menyembunyikan jiwa pembunuh miliknya dan mengenai keadaan Sasuke, entahlah. Sungguh Sasuke yang malang. Sudah berapa kali aku mengatakan itu? Sasuke benar-benar malang. Itachi terlihat tenang turun dari lantai dua, kamar Sasuke berada. Ketenangannya membuat bulu kuduk keempat Uchiha yang sedang berada di meja makan merinding. Dan tidak lama setelah Itachi turun, Mikoto dan Fugaku pun turun. Sepertinya mereka bertiga bersamaan dari kamar Sasuke.
"Kau melakukan apa pada Sasuke?" Tanya Madara berbisik karena takut Sakura akan mendengarnya.
"Hanya sebuah pelajaran kecil." Jawabnya datar dihiasi seringai iblis miliknya.
"Kau yakin?" Madara mengerutkan dahinya tak percaya. Seringai Iblis Itachi sangat tidak meyakinkan.
"Hm... bahkan Tou-chan tidak melarangku." Jawab Itachi sambil menyuapkan makanan kemulutnya.
Madara jadi ragu sekarang, dengan kedua orang tuanya. Apa karena keturunan Ayah dan Ibunya itu semua laki-laki sehingga membiarkan anak bungsunya sekarat di tangan kakanya sendiri. Beruntung Madara adalah anak sulung. Mungkin dia tidak akan mendapatkan hal serupa dengan Sasuke.
Sakura beberapa kali melirik tangga, asal kalian tahu saja, tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua dapat terlihat jelas dari dapur, karena dinding yang membatasi ruang tengah (ruang keluarga) dan dapur terbuat dari kaca seluruhnya.
Sakura sangat cemas, kenapa Sasuke belum turun juga? Padahal ini sudah kelewat jauh dari jadwal jam makan malam. Seluruh Uchiha pun telah menghabiskan makanannya dan Sakura kembali menghela nafas berat disuapan terakhirnya. Lagi, Sasuke belum turun bahkan hingga semua orang sudah bubar dari meja makan.
"Kaa-san, Sasuke ..." Sakura menggantung ucapannya ragu. Kemudian menghela nafas. Lagi. "Apa dia tidak apa-apa tidak makan malam?" Tanya Sakura. Oh, sungguh! Kepedulian Sakura membuat Mikoto semakin menyayanginya. Bahkan kepada Sasuke pun Sakura masih peduli, padahal Sasuke sudah melakukan hal buruk padanya.
"Dia tidak akan mati, jika hanya tidak makan malam 'kan?" Ucap Mikoto datar. Sakura merasa bersalah di sini, dengan kondisi Sasuke yang babak belur penuh luka, mereka bahkan masih mengabaikannya dan dirinya dianak emaskan. Sakura tidak enak.
"Tapi Kaa-san," ucapan Sakura terhenti karena Fugaku memotongnya.
"Jangan pedulikan anak brengsek itu, dia harus menanggung semua akibatnya karena telah membuatmu luka." Kata-kata Fugaku begitu tajam seperti mata pedang. Begitu menyakitkan dan menyayat hati. Maksudku, Sasuke itu anak kandung mereka. Anak kandung!
Sakura menghela nafas. Lagi, dan berjalan lemas menuju kamarnya. Gadis itu menghela nafas berat menatap pintu kamar Sasuke sebelum akhirnya masuk kedalam kamarnya.
Sementara itu. Sasuke meringkuk lemas di sudut ruangan, mencoba bangkit dan berjalan sempoyongan menyeret kakinya menuju rajang. Wajah pria itu sudah tidak berbentuk, maksudku wajahnya sudah habis dengan goresan luka dan lebam. Tulangnya terasa sangat remuk. Pikirnya, kenapa Itachi tidak membunuhnya saja tadi? Kemudian dia tersenyum miris mengingat hal itu dan membuka laci nakas untuk memgambil salep luka.
Sasuke meringis kesakitan ketika tangannya menyentuh luka yang berada di pelipisnya. Kemudian di sudut bibirnya, bahunya dan kepalanya yang berdenyut karena hantaman keras dari Itachi. Dia ragu kalau besok ia masih mengingat semua keluarganya, merasakan nyeri yang amat sangat di kepalanya membuat pria itu terjatuh pingsan. Sasuke yang malang.
Semua anak-anak Uchiha sudah berkumpul di kamar Madara, untuk memperbincangkan kemalangan yang akan Sasuke terima. Bahkan mereka melewatkan jam tidurnya utnuk itu.
"Menurutku itu berlebihan." Izuna menunduk setelah Itachi mengatakan sesuatu tentang hukuman yang akan di berikan pada Sasuke mulai besok.
"Aku merasa kasihan padanya, bagaimanapun dia adalah adik kita." Kini Obito menyambung perkataan Izuna tadi.
"Salahnya juga sih, melakukan itu pada Sakura-chan. Seharusnya Sasuke tahu Kaa-chan akan melakukan hal buruk padanya." Shisui menautkan tangannya untuk menopang dagunya di atas kasur.
"Aku mengingatnya sekarang. Bahkan Kaa-chan tidak memberikanku makan malam selama seminggu hanya karena memecahkan sebuah guci. Kupikir, guci itu memiliki gambar Sakura-chan di depannya." Obito merengut mengingat kejadian beberapa tahun lalu itu.
"Tidak usah berlebihan, dia itu kuat, kalian ingat? Dia itu seorang Uchiha dia tidak akan mati hanya karena hukuman Tou-chan." Dengan kalemnya, sambil bermain rubik Itachi menyahuti adik-adiknya.
"Kau itu memang seperti srigala berbulu domba." Madara mencibir Itachi yang dibalas kekehan oleh Itachi. "Seharusnya beberapakali hantaman dari Naruto dan Izuna, ditambah yang kau lakukan, belum lagi skors selama seminggu, menurutku itu sudah cukup. Kenapa harus di berikan hukuman lagi?" Madara benar-benar kasihan pada adik bungsunya itu. Kenapa keluarganya begitu kejam?
Semuanya merenung memikirkan nasib Sasuke besok. Bagaimanapun dia adalah Saudara mereka. Dan di lubuk hati mereka yang paling dalam mereka sangat menyayangi Sasuke. Sungguh. Itachi sekalipun.
Waktu sudah menunjukan pukul tujuh pagi. Semua anak-anak Uchiha sudah siap dengan kegiatannya hari ini. Obito, Shisui, Izuna dan Madara akan berangkat ke sekolah dan Itachi ke kantor. Sakura lagi-lagi menatap tangga dan pintu kamar Sasuke yang dapat terlihat dari ruang tengah lantai Satu. Pria itu belum keluar juga sejak semalam bahkan saat sarapan pun tidak terlihat. Sakura sangat khawatir.
Hari ini Sakura berangkat bersama Izuna. Suasana mobil terasa hening. Biasanya ada Sasuke yang nyerocos tak jelas karena gombalan Izuna pada Sakura.
"Sakura?" Izuna melirik Sakura sebentar dan kembali fokus menyetir.
"Hm?" Gumam Sakura melirik Izuna.
"Apa kau memikirkan Sasuke?"
"Hm ... kenapa dia tidak sekolah hari ini?" Sakura mengangguk dan beranya penasaran. Apa ini karena salahnya? Kemarin Sakura hanya shock sungguh.
"Kau belum tahu ya?" Sakura mendongak menatap Izuna. Belum tahu apa? Apa ada sesuatu yang terjadi pada Sasuke.
"Tahu apa?"
"Sasuke di skors selama satu minggu." Ujar Izuna. Mata Sakura membulat tak percaya, ia sungguh terkejut dengan kabar ini.
"Apa? Di skors?!" Teriak Sakura. Sakura tidak bisa tenang sekarang. Skors selama seminggu bukanlah hal baik, Sasuke akan ketinggalan pelajaran dan sebentar lagi ujian semester. Ini tidak benar.
"Kau kenapa? Bukan kah itu bagus. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu." Sahut Izuna santai. Bagaimana bisa Izuna sesantai itu saat saudara kembarnya di hukum seberat ini. Sungguh Sakura tidak apa-apa dia hanya shock kemarin.
"Apa ini karena masalah kemarin? Izuna, aku tidak apa-apa sungguh." dengan nada sedih, Sakura mulai berkaca-kaca.
"Sakura? ..." Izuna terkejut dengan ekspresi Sakura saat mendengar kabar mengenai Sasuke. Sontak Izuna mengrem mobil mereka dan menghentikannya. Matanya masih terfokus menatap Sakura yang mulai menangis sambil menundukan kepalanya. Ada apa dengan gadis ini? Bukannya ia harus senang karena hukuman Sasuke? Memang sih, Sasuke sudah mendapatkan lebih dari sekedar pelajaran dan di tambah hukuman dari Fugaku. Mungkin sekarang Sasuke sudah tidak ada di rumah.
Izuna perlahan mengangkat tangannya mengusap punggung Sakura dan menariknya kedalam pelukannya.
"Sasuke, dia hanya tidak sekolah selama satu minggu. Kau jangan khawatir." Ucap Izuna masih mengusap-usap punggung Sakura. Sakura masih terisak, dia benar-benar berfikir kalau ini adalah salahnya. Maksud Sakura semuanya. Tantang Naruto, tentang keberadaannya di mansion Uchiha, tentang sikap Sasuke padanya, dan semua masalah yang ada sekarang. Semua salahnya. Sakura meremas seragam Izuna seraya membalas pelukannya.
"Maafkan aku..." lirihnya di sela tangisnya.
TBC
AN
Minna...
Mungkin chapter, chapter sekarang agak melow ya, tapi tenang, komedinya insya allah gak bakalan hilang di chapter selanjutnya. Dan mengenai keberadaan Naruto juga jangan khawatir, momen Skura dengan Uchiha lainnya akan tetap berlanjut jadi pantengin terus ya hehe..
makasih buat White LentLily yang udah setia reviews seneng banget rasanya selalu ada yang nunggu chapter berikutnya. Itu juga jadi salah satu alasan key semangat nulisnya wkwkwk...
ya meskipun mungkin miss-typo(s) epliwel sama tanda bacanya juga masih berantakan. Tapi key bakalan terus berusaha buat perbaikin semuanya agar lebih baik lagi.
pokonya makasih buat semuanya.
semoga selalu terhibur.
see u next chapter.
12 September 2018
