Konoha High School. Sepanjang jam pelajaran Sakura tidak begitu fokus karena terus ingat pada Sasuske. Kepalanya terus berputar melirik bangku kosong di belakangnya. Biasanya si raven itu suka mengganggu Sakura dengan cara melemparinya dengan potongan kertas, tapi sekarang Sakura hanya melihat Izuna setelahnya dan Naruto di sampingnya. Sakura mengabaikan mereka berdua, Naruto cukup paham dengan yang Sakura butuhkan sekarang ini. Ketenangan.

Bel istirahat sudah berbunyi. mood Sakura untuk ke kantin juga hilang. Dengan melangkah malas Sakura berjalan menuju perpustakaan berharap di sana Sakura mendapatkan ketenangan dengan membaca buku.

Sederet rak buku sudah Sakura telusuri, tapi tidak ada yang menarik perhatiannya dan berpindah-pindah ke rak buku lainnya. Di urutan ketiga rak buku, di tahap paling atas Sakura melihat buku dengan sampul berwarna biru tua yang biasa Sasuke baca, Sakura jadi penasaran isinya apa? Jika sedang berada di sekolah Sasuke selalu membaca buku itu dan membawanya kemana-mana. Benar! Bahkan saat di rumah pun Sasuke masih sempat membaca buku itu. Sakura tidak yakin sih kalau buku yang ia lihat sekarang adalah buku milik si raven, mengingat begitu banyak buku yang sama di dunia ini. Terserahlah, itu bukan hal penting, yang terpenting sekarang adalah bagaimana cara Sakura mendapatkannya?

Sakura clingak-clinguk mencari sesuatu yang dapat ia pijak, tapi tidak ada kursi di dekatnya, masa iya Sakura harus menggusur kursi dari ruang baca. Sekedar memberi tahu, di perpustakaan ini, rak buku dan ruang bacanya terpisah jadi setiap siswa yang membaca tidak akan terganggu dengan siswa lainnya yang sibuk mencari buku.

"Kau sedang apa?" Seseorang yang tak asing di penglihatan Sakura tiba-tiba saja mengejutkannya saat berjinjit mencoba meraih buku yang ia mau.

"Madara-nii?" Sakura menoleh ke asal suara. "Um ... aku hanya ingin mengambil buku itu." Sakura menunjuk buku bersampul biru tua.

"Aa ... seperti milik Sasuke," Madara teresenyum saat menyadari buku yang Sakura mau. "Lagi pula itu sebuah novel." Lanjutnya.

"Eh? Madara-nii tahu?" Sakura sedikit terkejut dengan ucapan madara yang juga memperhatikan buku yang Sasuke baca tapi, tidak heran juga sih, Madara kan kakaknya Sasuke tentu dia tahu yang biasa adiknya lakukan.

"Kau yakin ingin membaca itu?" Madara terlihat seperti tak yakin jika Sakura akan membacanya. Tali kenapa tidak? Itu hanya sebuah novel kan?

"Hm," Sakura mengangguk. "Aku hanya penasaran." Ucapnya kemudian kembali mendongak menatap buku itu.

"Baiklah." Sekali lagi Madara tersenyum. Tiba-tiba ia memeluk paha Sakura dan mengangkatnya. Sontak itu membuat Sakura terkejut. Dan lagi, telapak tangan si Uchiha sulung ini seperti mendarat di bongkahan pantatnya. Wajah Sakura memanas hebat, perasaan apa ini? Jantungnya berdetak kencang, darahnya seperti mengalir lebih cepat.

"Apa yang kau lakukan?" Sakura menunduk menatap wajah Madara yang sedang mendongak menatapnya. Kedua tangan Sakura bertumpu di bahu kiri dan kanan Madara.

"Ambil saja bukunya! Kau berat." Ucap Madara masih belum menghilangkan senyumnya. Tapi senyum kali ini terlihat seperti senyuman jahil pada Sakura.

Sakura mengembungkan pipinya dan memutar bola matanya kesal. Kemudian segera meraih buku yang menjadi tujuannya tapi Madara belum juga menurunkannya.

"Kau bilang aku ini berat, ayo turunkan aku!" Ucap Sakura sedikit ketus. Madara terkekeh mendengar ucapan Sakura dan perlahan menurunkannya. Tentu saja Madara hanya bercanda saat mengatakan kalau Sakura berat. Gadis itu sangat ringan karena kemungilannya. "Kau itu sensei-ku di sekolah, bagaimana jika ada siswa yang melihatnya? Citramu akan menjadi buruk!" Gerutu Sakura. Bibirnya mengerucut imut, membuat Madara ingin sekali menggigitnya.

"Tapi tidak ada kan?" Jawabnya enteng. "Aku hanya ingin membantumu." Lanjutnya seraya mencubit pipi Sakura.

"Kenapa harus mengangkatku seperti tadi? Seharusnya kau ambilkan saja buku itu untukku." Sakura masih bernada kesal menyahuti setiap ucapan Madara. Tangannya mengusap pipinya yang Madara cubit. Bagaimana tidak kesal? Mengingat telapak tangannya yang besar itu seperti menggrepe-grepe pantatnya. Mengingatnya saja membuat wajah Sakura menjadi pucat.

"Baiklah, mendapatkan momen seperti tadi itu seperti menunggu blood moon, sangat langka." Senyum Madara semakin lebar. Sakura jadi mengingat kata-kata Izuna sekarang, kalau para Uchiha ini tingkat kemesumannya sangat tinggi.

"Terserahlah!" Ucap Sakura hendak berbalik pergi meninggalkan Madara, tapi sebelum itu Madara sudah mendekatkan wajahnya ke pipi Sakura sambil membisikan sesuatu entah apa.

PLAK!!

Sakura mendaratkan pukulan di kepala Madara menggunakan buku novel yang ia pengang.

"Dasar mesum!" Geram Sakura. Dan sebelum benar-benar meninggalkan ruang perpustakaan, semasih Madara mengusap-usap kepalanya yang sakit, sekali lagi Sakura menendang kaki Uchiha sulung itu.

BUUKK!!

"Jangan lakukan itu lagi!" Ucapnya kesal kemudian pergi meninggalkan Madara yang meringis kesakitan.

"Gadis macam apa kau?!" Teriak Madara nyengir kesakitan.

Tidak disangka Sakura yang lemah lembut itu akan menjadi galak seperti tadi. Apa ini efek gara-gara kelakuan Sasuke kemarin? Seharusnya dia juga menghajar Sasuke kemarin, bukannya shock dan diam saja seperti manekin. Oke, Sakura juga manusia biasa. Lagi pula dia itu seorang wanita, Sakura cukup tau mana yang sedang menggodanya mana yang benar-benar ingin melakukan hal buruk padanya. Seperti halnya Madara, dia sangat dewasa, dan kata-kata yang ia lontarkan untuk menggoda Sakura juga terbilang mengandung unsur dewasa sehingga Sakura tak ragu untuk melakukan hal seperti tadi. Tapi itu berbeda dengan Sasuke bahkan raut wajah Sasuke sedikitpun tak memperlihatkan kalau dia sedang bercanda atau menggodanya. Dengan cengkraman erat di kedua bahu Sakura, itu cukup meyakinkan kalau Sasuke serius.

Sakura sudah berada di halaman belakang, terdapat pohon sakura yang cukup besar di sana. Sakura duduk bersandar di bawahnya dan kembali menatap novel yang berada di pangkuannya.

"Apa menariknya buku ini? Apa yang dikatakan Madara-nii benar?" Gumam Sakura seraya memperhatikan novel itu.

"Teriakan Malam Hari." Sakura mengerutkan keningnya ketika membaca judul novel itu. Dari judulnya saja sudah aneh bagaimana dengan isinya? Dan perlahan Sakura membuka halaman pertama sambil membacanya dalam hati. Tidak lama setelah itu, wajahnya memerah, matanya membulat sempurna seperti bulan purnama, keningnya sesekali mengerut terlihat membingungkan dan keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya kemudian Sakura menutup novelnya dengan cepat dan nafas yang ngos-ngosan.

'Itu novel dewasa, ada adegan bercinta di dalamnya' Bisikan Madara jadi terngiang-ngiang di telinganya. Ternyata si mesum itu benar ini novel bergenre hentai.

"Apa-apaan ini? Di sekolah mengkoleksi buku mesum seperti ini." Gerutu Sakura sambil memandangi buku yang ia pegang. Ah, benar juga! Ini Jepang, dimana semua hal mesum dilegalkan. Seharusnya Sakura tidak merasa aneh begitu.

Angin sepoi-sepoi berhembus menerpa tubuh Sakura. Kenapa matanya menjadi berat? Sakura menguap yang ditutupi punggung tangannya. Menyamankan posisinya pada batang pohon sakura dan memejamkan matanya dengan novel di pelukannya.

'Apa yang kau lakukan pada Sakura-chan?!'

'Aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada Sakura-chan tapi ...'

buagh!

'Kau itu sahabatku Teme, aku tidak percaya kau melkukan hal gila semacam itu pada Sakura-chan. Kau tahu dia? Dia Sakura-chanku!'

"SASUKE!!" Sakura berteriak seraya membuka matanya. "Mimpi," gumamnya pelan. Bayang-bayang saat Sasuke di hajar oleh Naruto dan Izuna terus terlintas di pikirannya. Bagaimana keadaan Sasuke sekarang?

"Mimpi buruk?" Seseorang membuat Sakura menoleh dengan cepat.

"Eh, Izuna? Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Sakura heran. Melihat Izuna tengah bersandar pada pohon sakura yang sama di sampingnya.

"Seharusnya aku yang bertanya, kau sedang apa di sini?" Izuna balik bertanya. Tatapannya masih fokus pada sesuatu yang ia pegang.

"Ah, hanya membaca." Sahut Sakura dengan cengiran aneh.

"Aku tidak percaya kau punya selera yang sama dengan Sasuke." Ucap Izuna Santai. Sakura memiringkan kepalanya tak mengeti. Maksudnya apa? Selera yang sama. Dan matanya kembali membulat setelah menyadari sesuatu yang sedang Izuna pegang itu adalah buku biru miliknya.

"Izuna!!" Teriak Sakura seraya meraih novel miliknya di tangan Izuna. Izuna tertawa dan menghindar, tapi Sakura menerjang tubuhnya sehingga terkapar di atas rerumputan. Mata Izuna membulat menatap emerald Sakura yang berada di atasnya, tangan gadis itu menggenggam pergelangan tangannya yang memegangi novel biru itu.

Degh!

Sudah berapa kali jantung Sakura berpacu lebih cepat hari ini? Wajah Izuna sangat mirip dengan Sasuke entah perasaan apalagi ini? Para Uchiha ini tidak bagus untuk kesehatan jantung Sakura. Maksudku, mereka selalu berhasil membuat Sakura terkena serangan jantung dalam jarak sedekat ini.

Terbawa perasaan. Mungkin itulah yang tepat untuk menggambarkan sikap Sakura saat ini. Gadis itu benar-benar menatap Izuna sangat dalam. Wajahnya yang memerah tak menghentikan gerakannya yang semakin mendekat dengan wajah kembaran Sasuke itu. Tentu saja ini juga tidak baik untuk jantung Izuna, sepertinya jantungnya akan meledak sebentar lagi.

Izuna menelan ludahnya susah payah, tenggorokannya terasa sangat kering, dan nafasnya tidak teratur. Apakah Izuna terkena panas dalam? Oksigen mana oksigen!

Sakura semakin dekat dengan wajah Izuna, ada apa dengan gadis ini? Apa hormonnya tiba-tiba menjadi berlebih atau bagaimana? Apa karena pesona seorang Uchiha atau karena Izuna mirip dengan Sasuke? Ini membingungkan.

Izuna memejamkan matanya saat hidung Sakura menyentuh hidungnya dan...

DUUKK!

Sakura membenturkan kepalanya di kepala Izuna sambil berteriak.

"KEMBALIKAN NOVEL KU!!" Mata Izuna terbuka seketika dan mengernyit merasakan sakit di dahinya. Sakura mengambil novel miliknya dari tangan Izuna dan bangkit ke posisi semula.

"Kau!" Geram Izuna menggigit bibirnya kesal. Padahal tadi hampir saja, gadis merah muda ini benar-benar mempermainkannya. Padahal detak jantung Izuna hampir berhenti karenanya tadi.

"Kenapa?" Sakura mengangkat dagunya. "Kau pikir aku akan menciummu?" Sakura menyeringai sambil menjilat bibirnya sendiri yang merah, kemudian tertawa geli melihat wajah Izuna yang merah padam karena kesal. Lihat saja gadis itu benar-benar menguji insting Izuna sebagai lelaki, dengan menjilat bibirnya sendiri seperti itu membuat Izuna benar-benar ingin menggigitnya.

"Apa?" Sakura merengut seketika melihat raut wajah Izuna.

"Kau akan menyesal!" Ucap Izuna dan tanpa aba-aba menerjang tubuh Sakura sehingga posisi mereka berbalik dari posisi Sakura tadi. Maksudku Sakura berada di bawah Izuna sekarang.

Mata Sakura kembali membulat, jantungnya kembali berpacu lebih cepat, wajahnya memerah sekarang. Apa Izuna benar-benar akan melakukanya? Menciumnya?

"K-Kau mau apa?" Tanya Sakura gugup. Oh, ayolah! Bagaimana pun Sakura tetap seorang wanita. Kalian mengerti maksudku kan?

Sekarang giliran Sakura yang meneguk ludahnya kasar. Dadanya naik turun dengan cepat menandakan nafasnya tidak teratur.

"Aku mau ini." Ucap Izuna tersenyum seraya mengusap bibir Sakura yang merah dengan ibu jarinya. Sakura memejamkan matanya saat hidung Izuna menyentuh hidungnya. Hembusan nafasnya begitu segar seperti daun mint menerpa wajah Sakura.

Fuuhh...

Tiba-tiba Izuna meniup wajah Sakura dan tertawa terbahak-bahak. Mata Sakura terbuka seketika dan mendorong Izuna dari atas tubuhnya kemudian bangkit ke posisi semula.

"Uchiha gila!" Teriak Sakura. Wajahnya merah padam karena malu. Bibirnya mengerucut kesal.

"Ha ha ha ha ... kau pikir kau saja yang bisa menipuku?" Ucap Izuna masih tertawa. Bibir Sakura mengerucut, pipinya mengembung, dan wajahnya masih merah karena malu.

"Argh!" Geram Sakura kemudian mendorong Izuna hingga terjatuh dari posisinya dan gadis itu berlari pergi meninggalkannya.

Apa-apaan ini? Balas dendam? Sakura benar-benar malu dengan kelakuan Izuna tadi. Dan apa? Sakura memejamkan matanya, berharap Uchiha sialan itu menciumnya? Heh, ayolah itu tidak mungkin kan? Pesona Uchiha benar-benar mematikan seperti racun tikus. Sangat berbahaya.

Sakura melewati setiap kelas sebelum akhirnya sampai di kelasnya. Tapi, tidak terlihat satu siswa pun di sekolah, apa ini sudah jam pulang?

"Sakura-chan!" Panggil seseorang yang suaranya sangat tidak asing di pendengarannya.

"Naruto-kun," ucap Sakura. Pemuda pirang itu sedang bersama si kembar Obito dan Shisui, dan di belakangnya ada Izuna mengekori mereka.

"Kau dari mana saja? Kami mencarimu kemana-mana." Ucap Naruto Khawatir seraya menghampiri Sakura dan memeluknya.

"Aku ketiduran tadi. Semua orang kemana?" Lanjut tanya Sakura.

"Lihat ini sudah sore, sudah waktunya pulang, dan kau membolos saat jam kedua." Naruto menunjukan waktu yang berada di jam tangannya.

"Hm ..." Sakura tersenyum malu. Selama itukah dia tertidur di halaman belakang? Padahal seperti hanya tertidur beberapa menit saja. Kepalanya mulai ingat kembali dengan Sasuke, sedang apa dia sekarang?

"Izuna, jidat mu kenapa benjol begitu?" Tanya Obito penasaran.

"Aa ... terbentur batu jelek." Sahut Izuna seraya mengusap benjolan di kepalanya. Sakura merengut sebal. Apa maksudnya batu jelek? Maksudnya Sakura yang jelek? Izuna tersenyum melihat wajah Sakura yang cemberut kesal.

"Aku mau pulang bersama Obito-nii dan Shisui-nii saja." Ucap Sakura mendelikkan matanya pada Izuna dan Uchiha itu masih dengan senyumnya yang menawan.

"Kau yakin akan pulang dengan dua singa ini?" Naruto menaikan alisnya sebelah tak yakin.

"Hei jaga ucapanmu! Siapa yang kau bilang singa?" Shisui memukul kepala Naruto cukup keras.

"Auk! Sakit tau!" Teriak Naruto tak terima.

"Jalan pulang kita tidak searah Naruto-kun, jadi tidak apa-apa aku pulang bersama Obito-nii dan Shisui-nii." Ucap Sakura meyakinkan. Sepertinya lebih berbahaya pulang dengan Izuna daripada dengan dua singa kembar ini.

"Baiklah, sampai jumpa besok." Naruto menghela nafas kemudian mencium pipi Sakura sekilas dan pergi memasuki mobilnya. Ketiga Uchiha yang ada, mendengus sebal melihat kelakuan manusia rubah itu. Selalu saja membuat mereka iri dan Sakura juga selalu membiarkannya.

"Ayo Nii-san!" Sakura menggandeng tangan Obito dan Shisui. Kemudian menjulurkan lidahnya mengejek Izuna. Sakura ingin segera sampai di mansion Uchiha. Ingin segera memastikan kalau Sasuke baik-baik saja. Entah kenapa? Tapi, Sakura benar-benar khawatir pada Sasuke. sejak kejadian kemarin Sakura tak melihatnya. Apakah ini yang dinamakan rindu? Benar kata Dilan, rindu itu berat. Dan Sakura tengah menyimpan beban berat itu di hatinya.

TBC

AN

Pokonya ucapan makasih yang melimpah buat kalian yang udah setia ngikutin jalan cerita KYA ini. Key sayang kalian...

'Jangan pernah meninggalkan orang yang mencintaimu, demi orang yang kamu cintai. Karena bisa saja, suatu saat orang yang kamu cintai, meninggalkanmu demi orang yang dia cintai'

Oke quotesnya nyesek. Tapi intinya lihatlah kebelakang, ada yang menunggumu di sana dan jangan kamu berlari mengejar dia yang tak pasti.

eeaakkss! wkwkwkwk

Sekali lagi makasih, Selamat membaca, semoga selalu terhibur dan semoga selalu suka sama ffnya. Mohon maaf dengan segala kekurangannya. Insya Allah key bakalan terus belajar untuk menjadi lebih baik.

see u

13 September 2018