Mansion Uchiha.

Sejak kepulangan Sakura dari sekolah tadi, hingga jam makan malam, kemudian waktunya tidur. Sasuke belum juga menampakan diri. Apa dia sakit? Sakura benar-benar khawatir padanya. Bertanya pada Mikoto pun tidak sempat karena wanita itu sibuk dengan urusannya dan terlihat sangat lelah, Sakura tak mau mengganggunya. Fugaku juga belum pulang dari kantor dan kelima Uchiha yang ada masih belum memberitahu Sakura mengenai Sasuke.

Tok ... tok ...

Sakura memberanikan diri mengetuk pintu kamar Sasuke. Sudah hampir lima menit Sakura berdiri di depan pintu kayu bercat putih itu, tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Perlahan tangannya terangkat mencoba membuka handle pintu dan lagi, ternyata tidak terkunci.

"Sas? Sasuke?" Sakura clingak-clinguk mengedarkan pandangannya mencari sosok raven yang menjadi tujuannya. Tapi kamar itu kosong dan hanya ada kasur beserta seluruh isinya, tanpa Sasuke.

Sakura mencoba mengetuk pintu kamar mandi, dia juga tidak mendapatkan jawaban dari sana. Sasuke tidak ada di sana. Sakura menghela nafas dan menghembuskannya begitu berat seraya menutup pintu kamar mandi. Kemudian ia memperhatikan keseluruhan kamar yang di dominasi dengan warna biru tua dan biru muda itu. Senyumnya mengembang ketika Sakura menatap bingkai foto milik Sasuke yang terpajang di atas nakas, di samping ranjangnya. Gadis itu duduk di tepi ranjang sambil memandangi foto itu.

"Kau tampan," ucapnya pelan diiringi senyuman. "Kau kemana? Aku ..." Sakura menggigit bibirnya ragu. "Aku merindukanmu." Bisiknya. Sungguh tanpa Sakura sadari, ia sudah mengucapkan kata yang bahkan tidak pernah terpikirkan di kepalanya. Tanpa kehadiran si pengacau itu hari-hari Sakura sangat terasa sepi. Entah apa? Dan kenapa? Tapi, Sakura merasa kesepian tanpanya.

Sakura menaruh kembali foto Sasuke di atas nakas dan bangkit hendak pergi meninggalkan kamar itu karena pemiliknya tidak ada. Tapi, kening Sakura mengerut saat melihat sebuah pintu bercat putih lainnya di sudut ruangan kamar itu sedikit terbuka. Pintunya hampir tidak terlihat karena terhalang sebuah lemari besar. Tapi dari tempat Sakura duduk sekarang ini, ia dapat melihat cukup jelas kalau itu sebuah pintu. Sakura berjalan perlahan menuju pintu itu. Lagi-lagi keningnya mengerut saat melihat sebuah tulisan di depan pintu itu.

Siapapun dilarang masuk!

Sakura mengangkat alisnya sebelah saat membaca larangan yang terpampang di pintu. Kemudian mengedikan bahunya acuh. 'Terselahlah! Toh si pemilik kamar tidak ada.' Pikir Sakura.

Sakura mengabaikan larangannya dan memasuki ruangan. Alangkah terkejutnya dia saat melihat seluruh isi ruangan yang berukuran kira-kira enam meter persegi itu. Matanya membulat, mulutnya menganga tak percaya dengan apa yang ia lihat. Berkali-kali Sakura mengedipkan matanya memperjelas penglihatannya, meyakinkan dirinya sendiri kalau itu bukanlah sebuah mimpi.

Ruangan ini dipenuhi dengan foto dirinya, mulai dari Sakura masih berusia sepuluh tahun, bahkan saat Sakura bersama Naruto yang masih duduk di kelas satu SMA pun ada. Foto ini lebih banyak dari foto yang memenuhi kamarnya, yang Mikoto siapkan saat Sakura pertama kali pindah.

Pose saat Sakura tersenyum, menangis, tertawa, foto bersama Naruto, bersama Ino, sedang berjalan sendirian saat pulang sekolah dan masih banyak lagi yang lainnya.

Ruangan ini memiliki satu unit komputer lengkap dengan printer dan scanner. Sebuah meja kaca dan kursinya, sofa leter L, dan sebuah rak kaca yang di penuhi macam-macam kerajinan dari kramik seperti gelas, guci kecil, piring hias, dan yang lainnya, yang juga ada gambar Sakura di setiap ukirannya.

"Sasuke, apa kau sudah gila?" Gumam Sakura. Sakura ingat sekarang saat Sasuke bilang kalau dia juga terobsesi padanya. Sakura benar-benar yakin dengan ucapannya setelah melihat ini. Tidak heran jika Sasuke over protectif dalam diam padanya.

Seperti biasa, pagi ini juga Sakura tidak melihat Sasuke. Sasuke, Sasuke, Sasuke dan Sasuke yang ada di kepalanya. Bagaimana tidak, Sakura merasa bersalah atas apapun yang menimpa pemuda raven itu dan sekarang Sasuke sudah menghilang selama dua hari.

"Ohayou Sakura-chan!" Shisui merangkul bahu Sakura seraya berjalan menuju pintu utama. Padahal tadi mereka makan bersama, kenapa baru mengucapkan selamat pagi sekarang?

"Hm ... ohayou mo nii-san." Sakura tersenyum membalas sapaan Shisui.

"Seperti ada yang kau pikirkan." Ucap Shisui yang tiba-tiba menelungkup wajah Sakura dengan telapak tangannya dan onix hitam itu menatapnya serius. Ya ampun ... matanya indah sekali. Ah, semua onix Uchiha memang indah.

"Eh?"

"Katakan! Apa yang mengganggumu?" Tanya Shisui masih menelungkup wajah Sakura dan menatapnya. Tubuhnya sedikit condong; menunduk kebawah, karena tinggi Sakura hanyalah sebatas bahu para Uchiha.

"Um ... ano ... sudah dua hari aku tidak melihat Sasuke, dia pergi kemana? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Sakura penasaran. Wajahnya terasa panas saat menanyakan si biang onar itu, Shisui pasti berpikir kalau Sakura mulai tertarik pada si bungsu itu. Padahal itu tidak benar, Sakura hanya merasa bersalah. Atau ... memang benar.

Saat Shisui membuka mulutnya akan menjawab pertanyaan Sakura. Tiba-tiba Obito menariknya.

"Ayolah! Lanjut mengobrolnya di dalam mobil saja, ini sudah siang." Ucap Obito seraya menarik Shisui dan Sakura masuk kedalam mobil. Kemudian Shisui memberi tahu Sakura apa yang terjadi pada Uchiha bungsu itu setelah berada di dalam mobil. Sakura sangat terkejut dan lagi, menangis sesegukan di kursi belakang membayangkan yang sedang Sasuke alami saat ini.

Sementara itu. Itachi sudah berada di sebuah apartemen cukup mewah di pusat kota, dia tengah duduk santai bersama saudaranya di sana.

"Aku menyesal dengan apa yang terjadi padamu." Ucap Itachi, kemudian meneguk sebuah soft drink berperisa lemon.

"Aku tidak." Sahutnya datar.

"Heh, baguslah! Setidaknya kau menikmati saat-saat liburanmu." Itachi tertawa pelan.

"Tidak lucu." Desahnya. "Sudahlah! Aku tidak butuh ceramah mu. Kau pergi saja urus pekerjaanmu." Ucapnya sambil menarik Itachi untuk bangkit dan mendorongnya menuju pintu.

"Hei! Baiklah aku akan pergi." Itachi mengangkat kedua tangannya dan orang itu melepaskannya. "Kau juga bekerja dengan baik!" Itachi menahan tawa mengejek.

"Berisik!" Geramnya kesal dan hanya dibalas sebuah kekehan oleh Itachi. Setelah Itachi berbalik akan pergi meninggalkan apartemen itu, sebelum orang itu menutup pintunya Itachi berkata...

"Dia terus menanyakanmu, dia sangat khawatir padamu." Kemudian Itachi pergi meninggalkan apartemen itu. Dan orang itu tersenyum tipis mendengar ucapan Itachi.

Konoha High School.

Shisui, Obito, dan Izuna berjalan bersamaan menuju kelas dan teriakan yang setiap pagi menyambut mereka masih terdengar sama. Para siswi itu masih saja berteriak histeris melihat ketampanan mereka, apalagi teriakan mereka semakin pecah hari ini karena tidak ada Sakura di sana. Lihat saja, saat Izuna melambaikan tangan diiringi senyum manisnya pada mereka. Para sisiwi itu seperti domino yang terjatuh bersamaan. Pingsan masal.

"Ah, kau menyiksa mereka." Ucap Obito merangkul bahu Izuna.

"Mereka harus menikmati senyuman manisku ini." Sahutnya seraya membenarkan kacamata hitamnya.

"Hai!" Teriak seseorang dari arah berlawanan. Melambaikan tangannya pada Izuna.

"Kau kenal?" Tanya Shisui.

"Siapa dia?" Lanjut Obito.

Gadis itu berlari menghampiri Izuna dan memeluknya sebentar. Wajahnya begitu manis, tapi dia bukan tipe Izuna, ataupun tipe Obito dan Shisui. Tepatnya gadis ini bukan tipe Uchiha meskipun terlihat sangat manis dengan mata bulannya yang indah.

"Hinata-chan, kapan kau kembali ke Konoha?" Tanya Izuna.

Dia adalah Hinata Hyuga, putri dari Hiashi Hyuga yang juga teman bisnis Fugaku. Tentu saja Izuna kenal dengan gadis ini, dia sempat bersekolah di KHS saat duduk di bangku kelas satu dan pindah ke luar negri saat pertengahan semester. Gadis ini juga tidak menyukai para Uchiha, menurutnya Uchiha terlihat menakutkan dan angker, ya kecuali hanya menjalin pertemanan, itu tidak apa-apa.

"Hoy!" Satu lagi manusia rubah berteriak dan berlari menghampiri mereka. Tubuhnya menegang saat melihat Hinata. "Siapa dia?" Tanyanya, berbisik pada Obito.

"Teman Izuna." Jawab Oboto.

"Aa ..." Naruto mengangguk-anggukan kepalanya mendengar ucapan Obito. Kemudian mulai celingukan saat menyadari bahwa gadis merah mudanya tidak ada di sana.

"Mana Sakura-chan?" Tanyanya panik.

"Dia turun di tengah jalan tadi. Katanya ada sesuatu yang ingin ia beli." Jawab Shisui tenang.

"Kenapa kau tidak menemaninya?!" Teriak Naruto mulai khawatir. Bagaimana bisa mereka membiarkan Sakura sendirian di kota besar seperti Konoha ini? Bagaimana kalau Sakura tersesat? Bagaimana kalau dia diculik dan bagaimana dengan kemungkinan bagaimana yang tidak terduga lainnya.

"Hei! Tenanglah. Jaman sekarang sudah ada google map, kau tidak perlu khawatir. Lagi pula Sakura-chan sendiri yang tidak mau dianatar. Aku tidak ingin citraku buruk di depannya karena menjadi pemaksa seperti Sasuke." Lanjut Shisu. Naruto menghela nafas lega. Kemudian mereka semua kembali melanjutkan perjalanan menuju kelasnya masing-masing.

'Dia dikirim ke sebuah apartemen di pusat kota. Apartemen milik Uchiha. Tou-chan mengasingkannya selama masa skorsnya, dan dia juga di suruh membantu melayani pengunjung kafe.' -Shisui-

'Maksud Shisui, Sasuke disuruh menjadi pelayan di kafe Uchiha.' -Obito-

'Hm ... Itachi-nii bilang, Tou chan hanya ingin memberinya pelajaran saja. Menjauhkannya darimu dan menjadikannya pelayan di kafe milik Uchiha.' -Shisui-

Ucapan Shisui dan Obito terngiang-ngiang di kepala Sakura sekarang. Sakura tidak percaya dampaknya akan seburuk ini pada Sasuke. Gadis itu masih menangis dan berlari menembus keramaian pusat kota. Shisui benar dengan bantuan google map Sakua tidak butuh waktu lama untuk menemukan apartemen tempat Sasuke tinggal sejak kemarin. Mengingat nama Uchiha yang sudah mendunia, tidak akan sulit mencari sesuatu apapun yang menyangkut Uchiha.

Setelah Sakura mendengar kabar mengenai Sasuke dari Shisui dan Obito, Sakura memutuskan untuk menemuinya dan meminta maaf, oleh karena itulah Sakura berbohong dan meminta Izin Shisui dan Obito untuk membeli sesuatu di pusat kota. Awalnya Shisui maupun Obitu tidak mengijinkannya dan ingin menemani Sakura tapi, Sakura bersikeras menolak tawaran mereka dan tetap ingin pergi sendiri. Akhirnya Obito menurunkan Sakura di tengah jalan sesuai permintaannya dan setelah itu meninggalkan Sakura sendirian.

Sakura sudah berada di depan sebuah pintu sekarang, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu dengan keras. Sakura tak berfikir untuk memencet bel atau sejenisnya yang Sakura pikirkan sekarang adalah bertemu dengan Sasuke. Walaupun itu artinya harus mengetuk pintu menggunakan kepalan tangannya.

"Orang gila macam apa yang mengetuk pintuku sekeras itu? Apa dia tidak paham artinya sebuah bel?" Gerutu Sasuke kesal dan beranjak mendekati pintu. Layar door viewer nya terlihat gelap karena tangan Sakura yang lain menutupi kameranya. Alis Sasuke mengernyit, ia heran dengan orang yang bertamu padanya sepagi ini, kalau bukan Itachi pasti madara mengingat saudaranya yang lain harus sekolah dan untung saja Sasuke berkerja di kafe mulai nanti sore, jadi kalau pagi-pagi begini Sasuke masih ada di rumah.

perlahan pemuda raven itu membuka pintu apartemennya. Pemudia itu terdiam saat seseorang menerjang tubuhnya, memeluknya begitu erat.

"Sasuke! Kau kemana saja?" Suara Sakura campur isakan tangis teredam karena wajahnya terbenam di dada Sasuke. Sasuke masih Diam mematung, terkejut dengan apa yang terjadi sekarang. Apakah Sasuke bermimpi? Apakah ini benar-benar Sakura?

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Sasuke sambil celingak-celinguk memperhatikan sekitar. Ya, siapa tahu Sakura datang bersama yang lainnya tetapi tidak ada siapa-siapa selain gadis itu yang sedang memeluknya erat. Sakura menggelengkan kepalanya, tangannya masih melingkar di pinggang Sasuke sangat erat. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa lagi di luar, Sasuke pun menarik Sakura masuk kedalam apartemennya masih dengan posisi yang sama. Kemudian Sasuke mendudukan diri bersama Sakura di atas sofa.

"Kau bolos?" Sakura mengangguk pelan, wajahnya masih terbenam di dada Sasuke. "Bodoh! Sebentar lagi ujian dan kau membolos?" Ucap Sasuke seraya menjitak kepala Sakura sehingga gadis itu mendongak menatapnya dengan mata yang sembab.

"Kau juga bodoh! Kenapa harus diskors selama seminggu. Dan kau pergi dari rumah tanpa memberi tahuku." Ucap Sakura. Bibirnya mengerucut kesal. Tepatnya Sakura ngambek sekarang.

"Aa ... itu," Sasuke menggantungkan ucapannya.

"Apa karena aku?" Tanya Sakura.

"Ya, ekspresimu berlebihan saat itu, padahal aku hanya menciummu." Sasuke tersenyum mengejek seraya mengetukan jarinya di dahi Sakura.

"Hei! Aku ketakutan. Seharusnya kau ngaca melihat wajahmu kemarin, kau seperti monster." Sakura mengembungkan pipinya dan melepaskan pelukannya.

"Jangan di lepas!" Sasuke kembali menarik tangan Sakura kepelukannya. "Jadi, kau merindukanku?" Lanjutnya. Sakura mendongak.

"Apaan sih?!" Sakura mendorong Sasuke dan kembali melepaskan pelukannya. "Aku hanya merasa bersalah saja." Elaknya.

"Hn, begitu." Sasuke melirik Sakura dengan sudut matanya dan tersenyum, menggoda gadis itu.

"Jelek!" Gumam Sakura.

"Baiklah! Kau sudah lihat kan? Aku baik-baik saja jadi, lebih baik kau pergi dan lanjutkan pelajaranmu." Sasuke menarik Sakura agar bangkit dan mendorong gadis itu menuju pintu keluar, seperti yang ia lakukan pada Itachi tadi pagi. Tapi Sakura berbalik dan kembali memeluknya erat.

"Aku merindukanmu!" Ucapnya. Sasuke tersenyum dan membalas pelukan Sakura, kemudian mengecup pucuk kepalanya. "Kapan kau akan pulang?" Tanya Sakura mendongak menatap Sasuke.

"Empat hari lagi. Aku harus menyelesaikan hukumanku dulu." Ucapnya seraya menelungkup pipi Sakura dan mengecup bibirnya sekilas. Sakura terdiam, bahkan gadis itu tidak berontak seperti sebelumnya. Ada apa dengannya? Apa dia mulai terhipnotis oleh pesona Uchiha Sasuke? Tapi tubuhnya seperti membiarkannya untuk menerima setiap perlakuan bocah Uchiha itu padanya. Sementara sesuatu terjadi di antara mereka dan sesuatu yang lain terjadi di KHS.

Sudah jam istirahat dan Sakura tidak masuk sekolah hari ini. Izuna, Hinata, Naruto, Obito, dan Shisui sudah duduk manis di bangku kantin. Naruto terus mengoceh menanyakan keberadaan Sakura yang ditanggapi dengan kedikan bahu oleh ketiga Uchiha itu. Pemuda pirang itu benar-benar khawatir dengan keadaan sahabat merah mudanya yang tidak masuk sekolah hari ini, tapi kekhawatirannya dapat tersembuhkan oleh kata-kata Hinata yang menenangkannya. Kemudian Madara pun datang.

"Bagaimana?" Madara mengangkat dagunya menatap Shisui dan Obito.

"Beres." Jawab Obito tersenyum. Izuna dan Shisui pun tersenyum saat Madara mengangguk kemudian duduk bersama mereka.

"Apa?" Tanya Naruto penasaran.

"Nona Hime, bisa kah kau jauhkan pemuda pirang ini dari kami? Kepala kami pusing jika harus mendengarkan setiap ocehannya." Ucap Shisui. Hinata tersenyum dan kemudian membujuk Naruto untuk ikut bersamanya entah kemana, dan akhirnya Naruto pun pergi. Padahal baru tadi pagi, tapi mereka sudah akrab begitu saja. Dasar mata keranjang. Maksudnya Naruto.

"Jadi, kau yang menelepon Neji?" Izuna angkat bicara dan menatap Madara.

"Aa ... aku kan harus melakukan sesuatu. Mengingat nona Hime sangat tertarik pada manusia rubah itu." Jawabnya diiringi senyuman lebar.

"Ah, Madara-nii memang dapat di andalkan." Shisui mengangkat dua jempolnya disertai cengiran.

"Baiklah! Satu masalah akan segera tersingkirkan." Obito tertawa kemudian ber-tos ria bersama para Saudaranya dan mereka semua tertawa.

TBC

AN

maaf kalau makin hari makin gaje. Dan maaf juga kalau ada yang gak suka sama sifat Sakura di sini. Tapi menurutku Sakura gak terlihat murahan, mengingat dia tidak pernah menggoda siapapun kecuali para Uchiha itu yang menggodanya. Dan lagi, aku gak bisa buat sifat Saku kaya author lainnya maaf kan aku :"( aku ngikutin kata hatiku aja.

Xx :Kamu akan terkejut sama endingnya sayang :)

Oke sekali lagi makasih banyak karena udah bersedia reviews dan sedia luangin waktunya buat baca ff nya keyra. Semoga selalu terhibur dan selalu suka.

See u

14 September 2018