Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, dan satu jam lagi Sasuke sudah harus berangkat ke kafe. Sakura masih tertidur di atas sofa membuat Sasuke tak tega membangunkannya.

"Mhh..." Sakura menggeliat, merentangkan tangannya kemudian mengucek matanya. Saat kesadarannya sudah terkumpul semua, Sakura langsung bangkit dan melirik jam besar yang terpasang di dinding apartemen.

"Sudah sore." Ucapnya.

"Hn, cepatlah pulang atau kau akan mendapatkan masalah." Sakura menoleh mendengar ucapan Sasuke.

"Sejak kapan kau disana?" Tanya Sakura heran melihat Sasuke sudah duduk manis di sampingnya.

"Sejak kau tertidur pulas, satu jam lagi aku harus bekerja dan kau pulanglah." Ucap Sasuke seraya mengusap wajah Sakura.

"Hm... begitu ya," Sakura menunduk saat mendengarkan ucapan Sasuke. Rasanya tidak rela kalau dia harus pulang sekarang.

"Hei! Seluruh Nii-chan ku pasti sedang mencarimu sekarang. Jika mereka menemukanmu di sini, aku yakin empat hari kemudian aku tidak akan bisa pulang kerumah." Sasuke menyentuh pipi Sakura, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya.

"Hm..." Sakura menghela napas. "Baiklah aku pulang sekarang, tapi besok aku akan kesini lagi." Sakura tersenyum manis menyahuti ucapan pemuda di depannya.

"Bakka!" Sasuke menjitak kepala Sakura. Membuat gadis itu meringis kesakitan. "Tidak ada membolos lagi." Ucapnya tak mau di bantah.

"Lalu aku harus bagaimana? Malam hari kau bekerja kan?" Ucap Sakura bingung.

"Lupakan saja! Pikirkan si pirang kesukaan mu itu." Ucap asal Sasuke. Dan ternyata ucapan itu malah membuat Sakura tersenyum girang.

"Kau benar! Besok Naruto-kun ulang tahun. Aku akan tetap kesini setelah pulang sekolah dan ikut bersamamu ke tempat kerja. Kau harus membantuku membuatkan kado untuknya." Sakura tersenyum senang. Apa-apaan ini? Gadis itu malah kegirangan seperti Sasuke telah mengingatkan ritual sakralnya dan Sasuke mendengus merutuki kebodohannya.

"Aku tidak mau!" Sasuke mulai kembali manarik tubuh mungil Sakura dan mendoronganya menuju pintu keluar.

"Pokonya aku akan kesini lagi!" Teriaknya.

"Pulang sana!" Sasuke mendorong Sakura keluar apartemenya.

"Pokonya aku akan kembali!" Teriak Sakura saat Sasuke menutup pintunya. Sasuke tersenyum. Dia benar-benar senang hari ini. Tanpa di duga Sakura sendirilah yang datang padanya. Gadis itu juga secara terang-terangan mengakui kalau dia merindukan Sasuke. Ya, meskipun si pirang itu masih mendominasi hatinya. Setidaknya nama Sasuke sudah mengisi sebagian hati itu dan perlahan akan menggeser posisi sahabat pirangnya.

Mansion Uchiha

Sakura sudah sampai di sana. Tetap pulang bersama Obito dan Shisui. Mungkin yang dikatakan Sasuke benar mengenai para Nii-chan nya yang mencari Sakura. Karena saat Sakura sampai ke tempatnya di turunkan tadi pagi, Shisui dan Obito sudah ada di sana. Mereka berdua menceramahinya dan memarahinya karena Sakura tidak masuk sekolah dan membolos seharian. Sakura berbohong kalau dirinya tersesat dan tidak tau jalan ke sekolah. Oke memang cukup masuk akal tapi, bagaimana dengan google map? Sakura bilang dia tidak bisa menggunakannya. Shisui dan Obito memutar bola matanya kesal dan berpesan agar Sakura tidak mengulangi hal serupa. Sakura mengangguk patuh.

"Itachi-nii, um ... apa kau mau mengantarku?" Tanya Sakura saat Itachi membacakan novel romantis untuknya. Itachi mengangkat alisnya sebelah mendengar ucapan Sakura. "Aa ... Aku sudah banyak merepotkan Shisui-nii dan Obito-nii. Dan aku tidak mau diantar mereka berdua!" Sakura menjunjuk Madara dan Izuna. "Mereka berbahaya." Bisik Sakura pada Itachi. Itachi tertawa geli mendengar alasan Sakura yang tidak mau diantar Izuna dan Madara.

"Hei aku mendengarnya!" Teriak Izuna tak terima. Sakura hanya membalasnya dengan menjulurkan lidahnya mengejek.

"Ah, justru dialah yang berbahaya." Madara melempar bantalan sofa pada Itachi.

"Hei jangan iri. Ini hari keberuntunganku." Ujar Itachi tersenyum seraya merangkul Sakura dan membawanya keluar rumah memasuki mobilnya.

Tanpa mereka sadari keempat Uchiha lainnya membuntuti dengan mobilnya masing-masing dari belakang, untuk memastikan jika tidak akan terjadi apa-apa dengan Sakura yang keluar dengan Itachi berduaan malam-malam begini.

Sebuah toko kaset game, yang Sakura kunjungi. Itachi terheran-heran saat gadis itu memasuki toko kaset game seperti ini dia pikir Sakura menyukainya.

"Kau menyukai game perang seperti ini?" Tanya Itachi sambil melihat-lihat kaset yang tersusun rapi di atas rak.

"Tidak!" Jawab Sakura ceria.

"Lalu?" Itachi semakin penasaran.

"Ah, besok Naruto-kun akan berulang tahun. Dia sangat menyukai game baru. Aku akan mencarikan kaset baru untuknya." Jawab Sakura riang.

"Kau memintaku mengantarmu malam-malam begini, hanya untuk membelikan hadiah untuk si pirang itu?" Tanya Itachi tak percaya, dan hanya mendapatkan anggukkan acuh dari Sakura. "Kau menyakiti hatiku." Gerutu Itachi. Seseorang, tidak! Beberapa orang tengah menahan tawa di sebuah sudut.

"Eh?" Sakura mendongak menatap Itachi. Raut wajahnya menyesal. "Maaf." Jawab Sakura. Itachi menghela nafad berat dan tiba-tiba Sakura mengecup pipinya sekilas yang berhasil menimbulkan semburat merah di pipi putih Itachi. Orang-orang yang tertawa tadi kini hampir saja menjatuhkan rahangnya karena kaget. Pemandangan yang mereka lihat tadi sangat menyakitkan di mata dan hati mereka.

Itachi tersenyum. "Untuk apa?" Tanyanya pada Sakura. Sakura tersenyum malu. "Untuk mengantarku." Jawabnya malu-malu. Ayolah! Sakura sudah menganggap Itachi seperti kakanya sendiri. Apa salahnya jika ia memberikan sebuah kecupan pada pipinya. Lagi pula itu hanya sebuah kecupan, bukan ciuman yang panas dan ganas. Itu memingatkan Sakura pada seseorang.

Pagi hari yang begitu indah. Sakura sudah mendapatkan kaset yang ia cari semalam dan pulang sekolah nanti dia berniat ke apartemen Sasuke untuk membungkusnya bersama Uchiha bungsu itu.

Wajah Sakura sangat terlihat ceria hari ini. Entah karena akan memberikan kejutan pada Naruto atau karena akan menemui Sasuke lagi? Entahlah, yang pasti Sakura sangat senang hari ini.

Semua berjalan seperti biasanya. Proses belajar yang sangat khidmat dan keusilan Izuna yang mulai mengganggunya. Obito dan Shisui yang mulai protectif padanya dan Madara yang selalu mengawasinya. Lama-lama Sakura seperti seorang nara pidana yang terus-terusan diawasi. Sangat sulit bergerak karena kemana-mana Sakura pergi para Uchiha ini terus mengikutinya. Bahkan ke kamar mandi wanita pun Sakura juga diikutinya dan mereka menunggu di luar. Tidak seperti Sakura yang risih dan takut di intip. Para siswi lainnya justru malah berteriak histeris dan bahkan yang tadinya sudah mau keluar kamar mandi pun malah masuk lagi kedalam. Mungkin mereka berharap kalau para Uchiha ini mengintipnya. Entahlah, pikiran Sakura terlalu ekstrim membayangkan hal itu.

Dan satu-satunya pengganggu para Uchiha itu adalah Naruto. Sakura sangat senang saat Naruto membuat para Uchiha itu kesal tapi, siapa dia? Gadis cantik berambut indigo. Setiap Naruto menggoda Sakura. Para Uchiha itu selalu memohon agar Nona Hime (panggilan gadis itu) membawa Naruto menjauh. Dan yang membuat Sakura kesal adalah, Naruto dengan senang hati mematuhinya.

Waktu menunjukan pukul empat sore, Sakura sudah berada di mansion Uchiha sejak pukul tiga tadi. Dan sekarang gadis itu berniat pergi menemui Sasuke di apartemennya. Dia juga sudah mendapatkan Izin dari Mikoto dan Fugaku. Para Uchiha itu melarangnya dan Sakura hanya menjawab. "Aku butuh waktu untuk membicarakan masalahku dengan Sasuke." Katanya.

Padahal di antara mereka sudah tidak ada masalah lagi. Lagi, Sakura berbohong pada para Uchiha itu. Mereka akan mengacaukan kesenangannya jika Sakura jujur. Dan akhirnya selalu mengiyakan keinginan gadis merah muda ini.

Apartemen Sasuke, di pusat kota.

Raut ceria gadis itu sudah terpasang rapih di wajahnya yang cantik, ketika Sasuke membukakan pintu untuknya. Pukul empat lebih tiga puluh menit sore hari. Tiga puluh menit lagi Sasuke berangkat kerja dan gadis ini mulai merecokinya dengan setumpuk kaset game yang katanya 'untuk Naruto.' Sasuke mendengus sebal mendengarnya.

"Ayo bantu aku!" Sakura menarik tangan Sasuke, agar pemuda itu duduk bersamanya dan membantunya membungkuskan kaset-kaset itu.

"Ck, tidak berguna." Geramnya kesal. "Sebentar lagi aku harus pergi kerja." Ucapnya.

"Aku tau!" Sahut Sakura. "Makanya bantu aku, dan aku akan membantumu bekerja." Lanjutnya semangat.

Mau tidak mau Sasuke pun akhirnya mengalah dan membantu Sakura membungkus kadonya.

"Memangnya kau akan menemuinya di mana?" Tanya Sasuke penasaran.

"Aku memberitahunya agar datang ke kafe tempatmu bekerja. Kita akan bertemu di sana." Sakura masih fokus pada bungkusan kadonya.

Tidak lama kemudian, atas bantuan Sasuke, akhirnya Sakura sudah siap dengan kadonya. Gadis itu benar-benar antusias memberikan kejutan pada Naruto. Lagi, Sasuke mendengus sebal mengingat hal itu. Setidaknya dia memiliki waktu lebih dengan gadis obsesinya ini.

"Sasuke," Sakura angkat bicara saat mereka dalam perjalanan menuju kafe. Tentu saja mereka berjalan kaki. Selain jarak kafe yang cukup dekat dengan apartemen Sasuke, pemuda ini juga tidak diberi fasilitas mewah seperti mobil. Kecuali apartemen mewahnya itu.

"Hn?" Sasuke menanggapinya hanya dengan sebuah gumaman. Tangannya ia masukkan kedalam saku celananya.

"Bisakah kau menggenggam tanganku? Aku takut." Ucapnya malu-malu. Mengingat sedari tadi langkah mungil Sakura berada di belakang Sasuke. Sasuke terdiam kemudian melirik gadis itu dengan tatapan tajamnya. Sakura menunduk takut sambil memeluk bungkusan kado miliknya.

"Baiklah!" Sasuke meraih tangan Sakura dan mengenggamnya dengan erat kemudian kembali berjalan santai mengulum senyumnya. Sakura tersenyum dan perlahan memeluk tangan Sasuke seraya menyamakan langkahnya dengan pemuda raven itu.

Tidak lama kemudian merekapun samapi di sebuah kafe Uchiha yang menjadi tujuan mereka sedari tadi. Kafe nya masih terlihat sepi karena ini baru saja memasuki jam lima sore. Mata Sakura terus bergulir mencari sosok kuning yang di tunggunya selama lima menit lamanya. Sedangkan Sasuke sudah masuk kedalam kafe untuk berganti pakaian.

"Sakura, apa kau akan berdiri di sana terus? Lama-lama kau akan membatu." Ucap Sasuke yang di acuhkan Sakura gadis itu terdiam membatu seperti yang Sasuke katakan tadi. Kemudin menjatuhkan kadonya. Sasuke terkejut dengan sikap Sakura yang terlihat shock pemuda itu mengikuti arah pandang Sakura dan mendapati si kuning sahabatnya tengah berciuman dengan wanita berambut indigo di seberang sana. Sial! Umpat Sasuke. Unruk apa? Sibodoh itu berciuman di tepi jalan begitu. Tanpa berpiki panjang, Sasuke menutup mata Sakura dengan telapak tangannya, kemudian menarik gadis itu dan menciumnya seperti orang bodoh yang ia rutuki tadi. Sakura terdiam saat bibirnya menempel di bibir Sasuke. Matanya masih terpejam menyingkirkan bayangan Naruto yang menghianatinya, menurutnya.

Kemudian perlahan Sakura membuka matanya saat Sasuke melepaskan ciumannya. Tangan pemuda itu masih menelungkup kedua pipi Sakura. Gadis itu menatapnya berkaca-kaca dan detik berikutnya memeluk Sasuke erat sambil menangis sesegukan. Sasuke mengusap punggungnya menenangkan gadis itu dan membalas pelukannya cukup erat.

Beberapa menit sebelum itu terjadi.

Naruto tengaj berjalan santai menuju kafe Sasuke. Dia juga sudah membeli sesiatu untuk Sakura. Gadis itu pasti akan senang dengan hadiahnya. Hingga pada saatnya ia kan menyeberang seseorang berteriak memanggil namanya. Sontak Naruto berbalik dan mendapati gadis indigo beberapa meter di depannya. Tanpa aba-aba gadis itu langsung berlari memeluk Naruto dan berkata. 'Aku mencintaimu.' Hingga berakhir dengan sebuah ciuman yang cukup panas. Naruto tak mampu menolaknya karena setengah hatinya juga mengakui kalau dia menyukai gadis ini dan setengah hatinya Sakura. Tapi karena terbawa perasaan Naruto tetap tak mampu menolak ciuman itu.

Mood Sakura menjadi buruk sekarang. Gadis itu duduk merenung di sudut kafe. Dia bilang dia akan menunggu Sasuke dan berniat menginap di apartemen Uchiha bungsu itu. Empat jam terlewati. Sasuke sudah selesai dengan tugasnya hari ini dan berniat mengajak gadis merah muda yang tengah patah hati tadi untuk pulang. Tapi, saat Sasuke menuju tempat Sakura, gadis itu sudah tertidur lelap dengan bertumpu pada lipatan tangannya di atas meja. Sasuke tersenyum, betapa manisnya Sakura saat tidur dan dengan terpaksa membawa gadis itu pulang dengan menggendongnya sampai apartemen. Punggung Sasuke pasti akan terasa sakit besok pagi. Sasuke terlihat dewasa jika jauh dsri orang tuanya. Bahkan dia dapat menahat egonya untuk memiliki Sakura di luar sini. Mungkin jika di mansionnya Sasuke merasa kalau saingannya terlalu banyak sehingga dia berlaku kasar pada Sakura. Dan saat ini, saat berdua seperti ini Sasuke merasa kalau Sakura hanyalah miliknya. Milik Uchiha Sasuke!

TBC

AN

huwaaa!!! seneng deh banyak yang reviews dan juga ada yang kritik mengenai tulisan nya keyra. Jadi terharu :")

Oke sebenernya ini dari awal udah nyondong ke sasu sih kyaaa!! Alurnya kacau ketebak (mungkin?) Tapi semoga engga deh. Kita lihat di ending nanti adakah yang akan tekejut hehehe...

oke makasih makasih makasih buat kalian yang udah meluangkan waktunya untuk membaca. Semoga selalu terhibur pastinya dan sampai jumpa di chapter berikutnya.

15 September 2018