Sakura sudah berada di mansion Uchiha sekarang, bersama ketiga Uchiha yang menjemputnya. Sakura merasa keadaan semakin tidak jelas dan tidak dapat ia pahami. Semuanya terasa aneh, mengingat ucapan Obito yang seperti teka-teki tadi pagi.

Setelah Sakura masuk kamar, Madarapun datang menghampiri tiga adiknya dan mengintrogasi mereka tentang alasan kenapa mereka membolos sekolah. Setelah mendengar penjelasan adiknya Madara mengangguk paham.

"Bagaimana?" Katanya.

"Kurasa ini terlalu mudah," jawab Izuna.

"Ini tidak seru," sambung Shisui. "Harus lebih banyak permainan." Katanya tersenyum dan menatap Madara. Pria itu juga tersenyum membalas adiknya kemudian mengangguk.

"Kau benar!" Katanya seraya mengambil ponsel dari saku celananya.

"Kau mau apa?" Tanya Obito.

"Menciptakan permainan baru." Sahutnya tenang. Seringaian aneh terbit di bibirnya sambil menatap Izuna.

"Apa kau akan melibatkanku dalam permainanmu yang satu ini?" Izuna melotot tak suka pada Madara.

"Mungkin ya, tapi tenang saja, kupikir ini tidak akan terlalu buruk untukmu." Jawab Madara santai dan mulai menghubungi seseorang di seberang sana. Izuna mengangguk setuju berharap yang dikatakan Madara itu benar.

"Permainan semacam apa?" Obito menaikkan alisnya sebelah penasaran.

"Mungkin semacam permainan cemburu buta." Sahut Madara. Kemudian mereka semua tertawa dan Madara mulai berbicara dengan seseorang di telepon.

Sementara itu

.

.

.

.

.

Oke, Sakura mulai menyadarinya sekarang. Kepulangannya ke rumah besar ini membuat gadis itu tak merasa senang, perasaannya menjadi kalut dan merasa kesepian. Dan hal utama yang mendominasi otaknya adalah Sasuke.

Tidak! Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya, menghilangkan setiap bayangan bersama Sasuke yang mereka lakukan tadi, tapi detik berikutnya bayangan itu mulai kembali memenuhi kepalanya. Sakura berlari menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air sedingin es, kemudian mengangkat kepalanya berniat menatap dirinya sendiri di cermin. Tapi apa yang dia lihat sekarang? Sasuke, lagi.

Mata Sakura terbelalak melihat pria itu tengah tersenyum padanya di cermin. Ya, yang Sakura lihat bukanlah bayangan dirinya melainkan Sasuke. Gadis itu tersenyum tanpa ia sadari dan menyentuh cermin yang memperlihatkan Sasuke sedang tersenyum. Namun begitu jemarinya menyentuh cermin, bayangan itu menghilang dan hanya ada pantulan dirinya yang seperti orang gila meraba-raba cermin tanpa alasan yang jelas. Matanya terbelalak kembali setelah ia menyadari kekonyolannya, kemudian ia tersenyum dan menyelipkan anak rambut ke belakang telinga. Kepalanya menggeleng lagi seraya mengusap wajahnya dengan handuk kering dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur.

Sakura tahu, dia benar-benar tahu, dan dia sadar, kalau pilihannya adalah Sasuke. Sakura tak pernah merasakan ini sebelumnya pada Naruto. Mungkin memang benar ada rasa sakit ketika melihat pria kuning itu bersama wanita lain tapi, Sakura tak pernah merasa gila memikirkannya seperti memikirkan Sasuke sekarang ini. Sakura sadar, dia menyukai Naruto karena pria itu begitu baik dan perhatian padanya, ditambah waktu yang cukup lama yang ia habiskan bersamanya, dan itu bukan cinta.

Seluruh bayang-bayang indahnya bersama Sasuke melayang entah kemana, sampai sebuah cahaya matahari pagi membangunkannya dari mimpi indah itu. Matanya mengerjap beradaptasi dengan cahaya itu. Sakura terbangun dari tidurnya dan bergegas ke kamar mandi.

Semuanya sudah siap, Sakura terlihat sempurna dengan seragam sekolahnya, bahkan gadis itu terlihat lebih cantik hari ini setelah mendapatkan pesan singkat di ponselnya.

Tentu saja! Itu pesan dari Sasuke. Pria itu mengajaknya bertemu di apartemen. Sakura merasa ia mulai jatuh cinta kepada om, om mengingat Sasuke belum menghabiskan masa skorsnya. Kalau saja wajah tampannya terlihat tua seperti Madara, mungkin Sakura benar-benar berfikir bahwa dia menyukai om, om.

Serangkaian ritual pagi sudah Sakura jalankan seperti biasanya. Seperti memberi kecupan selamat pagi kepada Fugaku dan Mikoto, Sarapan bersama di meja makan, mendapatkan kejahilan Izuna, dan rayuan-rayuan gombal dari si kembar Obito dan Shisui. Tidak terkecuali Itachi, bahkan pria itu bisa membuat Sakura mati hanya dengan mengeluarkan satu kalimat saja.

Kau terlihat sangat cantik hari ini

Sakura pikir, dialah yang paling romantis dari kelima Saudaranya. Sosok cool dan memesona.

.

.

.

.

Sakura-chan?" Suara itu terdengar menyakitkan sampai ke hati. Sakura berbalik menatap pemilik suara itu dengan senyuman pahit. Sakura tahu dia tidak mencintainya. Tapi bukan berarti melupakan semudah itu rasa sakitnya.

"Naruto-kun," Sahutnya ceria. Wajahnya yang tersenyum dibuat-buat agar tidak terlihat menyedihkan. Pria itu berjalan mendekat ke arahnya dan duduk di sampingnya. Raut wajahnya seperti sebuah penyesalah yang tak berujung dan Sakura masih mampu tersenyum.

"Aku,"

"Aku tidak apa-apa," tiba-tiba saja Sakura memotong perkataan pria itu. Sakura tahu apa yang akan dia katakan. Mungkin semacam kata maaf dan sebagainya yang hanya akan membuat hatinya terasa sakit. Pria itu menoleh dengan tatapan menyesal. "Aku senang kau bisa menemukan orang tepat," Sakura menghela napas dan menghembuskannya secara perhan, sedangkan Naruto kembali menunduk. "Aku memang menyukaimu, tepatnya aku pernah menyukaimu," gadis itu tersenyum dan menatap langit. "Tapi bukan berarti aku harus memilikimu, kau berhak memilih wanita yang akan kau jadikan pendamping seumur hidup," gadis itu kembali menghela nafas dan menunduk.

"Sakura-chan," suaranya setengah berbisik.

"Aku tahu," katanya tersenyum namun masih menunduk. "Aku tahu, aku menyukaimu hanya sebatas teman." Katanya tanpa memberikan kesempatan untuk sahabat pirangnya berbicara.

Naruto sadar, dia menyukai Sakura. Dia sangat menyukainya, bahkan mungkin lebih dari dia menyukai Hinata. Tapi, kejadian yang menimpa Sasuke membuatnya sadar, cinta tidaklah lebih penting dari persahabatan. Jika mencintai Sakura adalah kehancuran untuk persahabatannya dengan Sasuke maka, Naruto lebih memilih mundur. Sebenarnya bukan kejadian itu yang membuat hatinya benar-benar memutuskan untuk memilih Hinata tapi ada yang lain, seseorang yang memberitahu tentang sahabatnya, tentang Sasuke yang terobsesi pada Sakura begitu lama, bahkan lebih lama dari dirinya mengenal gadis itu.

"Sakura-chan," Naruto memanggil namanya lagi untuk kesekian kalinya. Sakura berbalik menatap mata sebiru langit musim semi itu. Tatapannya begitu menyakitkan, seperti Sakura tak akan rela jika kehilangan sahabatnya ini, dan hari ini, mungkin hari terakhir untuk mereka dapat melakukan hal seperti biasanya. Setelah hari ini Sakura yakin, sahabat pirangnya tidak akan pernah merangkulnya lagi, dia tidak akan pernah memeluknya lagi atau mencium pipinya lagi, tapi, ikatan persahabatan yang ada di antara mereka tidak akan pernah putus oleh apapun. Hanya jarak, sebuah jarak pemisah, meleaskan Naruto pergi kepelukan Hinata. Dan mata gadis itu terpejam kala bibir sahabatnya menempel di bibirnya, Naruto menciumnya begitu lembut dan lama. Tidak ada permainan lidah atau bertukar saliva, hanya bibir yang menempel. Ini bentuk perpisahan di antara mereka, perpisahan untuk menghilangkan perasaan yang lebih istimewa yang ada di antara mereka, bukan berarti persahabatan mereka berakhir. Naruto akan tetap menjadi sahabatnya untuk selamanya, dan akan tetap begitu.

"Sakura-chan, terima kasih," Naruto berbisik setelah melepaskan ciumannya. Sakura memeluknya erat sambil menangis sesegukan. "Kita akan tetap bersahabat bukan? Aku akan tetap ada untukmu walau tak bisa memilikimu," katanya. Nada suaranya lirih, Sakura sadar, sahabatnya itu tengah menahan tangisnya dalam hati. Dia mengangguk dan melepaksan pelukannya kemudian tersenyum.

"Janji?" Katanya menunjukan jari kelingking.

"Janji," jawan Naruto sambil menautkan kelingkingnya di kelingking Sakura. Mereka berdua tersenyum, perasaannya jauh lebih lega sekarang. Mereka telah memutuskan untuk menghapus perasaanya masing-masing dan memilih cintanya.

"Aku ada janji dengan Hinata-chan," Naruto memiringkan kepalanya menatap Sakura seraya tersenyum menggodanya.

"Pergilah!" Kata Sakura tersenyum sambil mendorong Naruto. "Aku akan ada di belakangmu untuk mendukung." Teriaknya setelah Naruto berjalan menuju pintu keluar. Sakura berada di atap sejak istirahat tadi.

.

.

.

.

Sekolah telah berakhir hari ini sekitar pukul tiga sore, dan Sakura bergegas menuju apartemen Sasuke karena pesan yang ia kirimkan tadi pagi. Tapi Sakura tahu mendapatkan izin dari para Uchiha tidak akan semudah itu jadi, Sakura mulai menyusun strategi untuk mendapatkannya.

Sementara Sakura menyusun strategi. Sasuke yang baru saja pulang dari mini market untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, melihat seseorang yang tidak asing tengah menangis di pinggir jalan dengan kondisi acak-acakan.

Karin? Itulah yang batin Sasuke katakan saat pertama kali melihatnya. Sasuke memang agak takut dengan wanita itu tapi, melihatnya dengan kondisi seperti ini Sasuke tidak akan tega, oleh karena itulah Sasuke menghampirinya dan menantakan apa yang terjadi padanya.

Gadis itu tampak terkejut sekaligus senang melihat kehadiran Sasuke di hadapannya. Dan pelukan yang tak bisa Sasuke hindari pun terjadi.

"Kau kenapa?" Tanya Sasuke. Gadis itu tengah menangis di pelukannya. Dia tidak menjawab dan Sasuke memutuskan untuk melanjutkan percakapannya di apartemennya. Karin pun ikut bersamanya.

Setelah menyimpan barang-barang belanjaannya di dapur Sasuke kembali menghampiri Karin dengan segelas air putih di tangannya. Gadis itu menenguknya sampai habis dan keadaannya jauh lebih tenang sekarang.

"Ceritakan padaku, kau kenapa?" Tanya Sasuke. Gadis itu melirik Sasuke sebentar dan akhirnya menunduk kembali.

"Aku hampir di perkosa," katanya. Suaranya setengah berbisik.

"Apa?!" Sasuke setengah berteriak mendengar jawaban Karin. Dan gadis itu mengangguk.

"Aku takut," katanya memeluk Sasuke. Sasuke tidak mendorongnya agar menjauh dan dia hanya membiarkannya karena merasa kasihan. Sasuke pikir Karin hanya perlu ketenangan saat ini, dan baju yang ia pakai memeng sedikit berantakan dengan robekan berada di bagian tangan dan kerahnya.

"Sudahlah, kau tidak perlu takut," Sasuke mengangkat tangannya dengan ragu dan mengusap helaian rambut merah miliknya. "Pakaianmu rusak, sebaiknya kau pakai kemejaku dulu," kata Sasuke sambil bangkit hendak mengambilkan kemejanya untuk dapat Karin pakai. Sasuke tahu ini bukan sifatnya. Tapi jika melihat keadaan Karin yang seperti ini, dia jadi ingat dengan keadaan Sakura waktu itu yang ia paksa untuk berciuman dengannya. Mungkin karena itu juga Sasuke beesikap baik seperti ini pada Karin.

Sasuke sudah masuk ke kamarnya untuk mengambil bajunya. Dan Karin memutar bola matanya, seperti kesal setelah mendapatkan pesan singkat dari seseorang. Kemudian memakan sesuatu seperti pil dari dalam tas kecil yang ia bawa sejak tadi.

Dan Sasuke pun keluar dari dalam kamarnya membawa satu buah kemeja berwarna putih miliknya. dan duduk di samping Karin.

"Pakailah!" Katanya sambil memberikan baju itu. Karin menggeleng.

"Tidak, aku memakai baju dua lapis di dalamnya." Kata Karin sambil membuka bajunya yang sobek dan hanya menyisakan tank top yang ia pakai. Sasuke tak akan pernah menyangka berada di situasi seperti ini, si Karin itu terlihat seksi dengan tank top dan rok mininya. Untuk pria normal seperti Sasuke, tentu membuat pria itu menelan ludah kasar. Tiba-tiba, tubuh Karin condong kedepan tubuhnya -dadanya- dan memuntahkan sisa makanan yang berada di perutnya di tubuh Sasuke. Itu membuat baju Sasuke kotor dan berbau tak sedap.

"Karin kau kenapa?" Sasuke menahan bahu wanita itu agar sedikit menjauh dari tubuhnya.

"Entahlah, tiba-tiba saja perutku mual," katanya sambil mengusap mulutnya membersihkan sisa muntahan. "Maafkan aku," lanjutnya sambil mencoba membersihkan baju Sasuke menggunakan bajunya yang robek, yang telah ia lepas tadi.

"Tidak usah, biar aku bersihkan sendiri," ucap Sasuke, tapi Karin menahannya dan memaksa Sasuke membuka bajunya hingga pria itu telanjang dada di hadapan Karin. Memperlihatkan ototnya yang atletis. Dan saat itulah Sakura datang.

Pintu apartemen Sasuke lupa ia kunci saat mengajak Karin masuk tadi, dan posisi mereka berdua sedang tidak bagus sekarang. Memangnya apa yang akan Sakura pikirkan saat melihat Sasuke telanjang dada di hadapan Karin yang hanya menggunakan tank top dan terlihat seksi itu. Yang terlintas pertama kali di otaknya adalah mereka akan melakukan sesuatu yang Sakura tidak sukai. Bercinta.

"Sasuke?" Ucap Sakura. Tubuhnya masih mematung menatap dua manusia itu. Sasuke seketika berbalik melihat Sakura dan mendorong Karin agar menjauh dari tubuhnya. Pria itu menggelengkan kepalanya terkejut, namun otak Sakura sudah tidak bisa berpikir lagi saat ini dan memilih untuk berlari pergi tanpa arah. Yang penting ke tempat yang jauh, dimana dia tidak bisa melihat Sasuke dan Karin.

"Sakura!" Teriak Sasuke sambil berlari mengejar gadis itu, sedangkan Karin tersenyum senang.

.

.

.

.

.

TBC