Yoongi tidak menyangka Jimin akan se-menempel ini padanya.

Bayi kucing yang mulai tumbuh besar itu mengikuti Yoongi kemana-mana, menempelinya dan menyundul kepalanya manja.

Yoongi tidak keberatan, toh jika sudah waktunya musim kawin Yoongi bisa melakukan itu pada Jimin tanpa paksaan.

Hehehe.

Tapi sepertinya Yoongi lupa, kalau Jimin itu masih bayi dan belum cukup umur untuk melakukan hal yang iya-iya.


.

Lil Meow Meow

Yoonmin Fanfiction

© celestaeal

.


Hari ini tidak seperti biasanya. Panas sekali!

Yoongi yang biasanya sudah malas bergerak semakin malas karena cuaca yang semakin panas, maklum sekarang memang musim panas.

Berbanding terbalik dengan Yoongi, si anak kucing―Jimin, malah bermain-main bahagia di tower kucing.

Taehyung dan Jungkook membeli tower kucing besar untuk dua kucing mereka, tapi yang antusias memainkannya adalah Jimin. Yoongi bagian melihat keaktifan si anak kucing saja, dan juga menjaga si pacar kalau-kalau tersandung.

"Hyung!"

Jimin mengeong antusias dari tower. Yoongi menggeliyat, membuka matanya yang sedari tadi terpejam sambil berjemur.

"Ya, chubs?"

"Lihat! Lihat! Aku bisa sampai sini!"

Yoongi melirik Jimin, pacar kecilnya itu sudah bisa memanjat hingga separuh tinggi tower. Yoongi tersenyum tipis meliat ekor gembul pacarnya bergoyang antusias.

"Chubs hebat. Hati-hati jangan sampai jatuh." Balas Yoongi.

Kemudian kucing jantan hitam itu meregangkan tubuh, menguap kecil mulai mengantuk. Yoongi memejamkan mata, merasa seperti papa muda yang bersantai sementara Jimin adalah anaknya yang sedang dalam masa aktif-aktifnya.

Yoongi mendadak lupa, kalau Jimin itu pacarnya.

Bukan anaknya.

Beberapa menit kemudian berlalu dengan tenang, Yoongi mendengkur di bawah terpaan sinar matahari yang hangat dengan Jimin meloncat-loncat di towernya.

Hingga teriakan Jimin terdengar.

"Yoongi hyung!"

Yoongi yang sudah terlelap damai terpaksa membuka mata, kepalanya terpaling melihat Jimin yang kini berada di puncak tower. Yoongi baru saja ingin memuji Jimin hebat, tapi malah suara mengeong penuh ketakutan Jimin yang terdengar.

"Hyung, aku tidak bisa turun!" Jimin berseru panik, berputar-putar di puncak tower.

Yoongi mendesah pelan, beranjak bangun sambil meregangkan otot. Kemudian kucing hitam itu berjalan santai menuju tower.

"Chubs, jangan panik." Yoongi memberi peringatan bagi Jimin yang berputar-putar di atas karena ketakutan. Meski terlihat santai, Yoongi tetap mawas diri. Takut-takut kalau Jimin tiba-tiba jatuh dari atas sana.

Tapi, melihat paras imut Jimin yang menggemaskan membuat Yoongi tak ingin cepat-cepat beranjak menolongnya. Lihat saja, Jimin dengan kuping kecil yang terlipat kuyu penuh ketakutan dan mata sayu coklatnya yang menatap Yoongi memelas.

Ah, lucunya.

Yoongi terpesona sesaat melihat wajah super menggemaskan pacarnya itu. Jimin yang melihat Yoongi bengong di tempat kembali mengeong ribut, si kecil pacar Yoongi itu berdiri kaku di puncak tower karena rasa takut.

Suara Jimin membuat Yoongi tersadar dari lamunan bodohnya. Tidak butuh waktu lama bagi Yoongi untuk memanjat. Dulu waktu kecil dia hobi memanjat kesana kemari sampai-sampai membuat Taehyung dan Jungkook pusing, dia bisa meloncat jauh dan pandai menyembunyikan diri di lemari atas dapur yang membuat Ayah Tae dan Bunda Kookie kebingungan setengah mati mencarinya.

Jadi, intinya, memanjat tower itu hal yang sangat mudah bagi Yoongi.

Kucing hitam itu gesit melompat kesana kemari sampai ke atas. Jimin berseru bahagia melihat pacarnya yang terlihat gagah sekali menyusulnya sampai atas sana.

Sampai di puncak tower, baru saja Jimin ingin mendusel manja ke dagu Yoongi, kucing hitam itu terlebih dahulu menggigit tengkuknya yang membuat si bayi kucing kebingungan.

"Eh? Loh, hyun―MIAWW!" Jimin menjerit keras saat tiba-tiba saja Yoongi meloncat dari atas tower ke atas.

Untuk sepersekian detik yang menegangkan Jimin kira dia akan mati. Tapi, tidak.

Yoongi mendarat dengan anggun ke lantai, dengan Jimin yang dia bawa. Yoongi melepas gigitan tengkuk, membuat Jimin berdiri terhuyung dengan kaki gemetar.

"H―hyung…."

Kucing hitam itu duduk sambil menjilati bulunya sendiri. "Hm?"

"Yoongi hyung keren miaw!" Jimin berbinar menatap Yoongi. Bayi kucing itu berdiri dengan kaki gemetar dan mata berbinar cerah menatap pacarnya yang super keren.

Yoongi tersenyum tipis, kaki depannya mengusap pelan pucuk kepala Jimin. "Lain kali jangan tinggi-tinggi memanjatnya, kalau hyung tidak ada bagaimana?"

Pertanyaan dari Yoongi membuat si bayi kucing langsung bungkam―kembali mengingat momen menegangkan beberapa detik yang lalu. Kuping kecil Jimin terlipat kuyu dan chubs kesayangan Yoongi itu menunduk dengan raut bersalah.

Yoongi tentu menyadari perubahan sikap Jimin yang menjadi murung. Lantas, kucing itu mendekati Jimin dan langsung menjilati area wajah pacarnya yang mungil penuh sayang.

"Hyung hanya takut terjadi sesuatu yang buruk kepada chubs. Hyung khawatir." Kata Yoongi disertai sundulan lembut di kepala Jimin membuat bayi kucing itu refleks mengangkat wajah. Ekornya bergerak-gerak dengan mata coklatnya menatap Yoongi penuh harap.

"Hyung khawatir?" beo Jimin.

Yoongi terdiam.

Kucing jantan itu kemudian mengeong pelan sambil mendekati mulut Jimin dan mengecupnya lembut.

"Tentu. Jimin-ie itu chubs kesayangan hyung. Tentu hyung khawatir terjadi sesuatu pada chubs."

Perkataan manis disertai kecupan lembut itu membuat si kucing kecil merona.

Refleks, Jimin beringsut mendekati Yoongi. Kemudian, kepala kecilnya menyundul rahang bawah kucing jantan itu malu-malu sambil mengeong lembut.

"Meow~ Maaf Jimin membuat Yoongi hyung khawatir, miaw."

.


.

"Hyung, bukankah Jimin semakin besar?"

Celetukan Jungkook siang hari itu membuat Taehyung menolehkan kepala memandang bayi kucing mereka yang sekarang sudah menjadi anak kucing sedang bermain-main dengan kantung plastik.

"Iya, kenapa memangnya?"

"Tidak, bukan itu maksudku." Jungkook menautkan alis, tangannya mengetuk asal meja. "Bukannya Jimin semakin um―gendut?"

Taehyung berkedip-kedip mendengar hal itu. Pria dewasa berambut pirang itu meletakkan ponsel di meja, kemudian melangkah mendekati Jimin yang sibuk bermain dan mengangkatnya.

"Hup!" Taehyung menggendong Jimin menuju meja makan―tempat Jungkook berada.

"Lihat, gendutnya karena bulu Jimin tebal." Taehyung menggaruk kepala Jimin membuat kucing itu mendongak keenakan.

Bibir Jungkook mengerucut, tangannya refleks terangkat untuk menggaruk perut depan Jimin. "Menurutku Jimin semakin gendut, hyung."

Jimin mengeong, protes dibilang gendut.

Taehyung tersenyum, mengecup cepat bibir Jungkook yang masih mengerucut. "Gendut itu wajar. Jimin kan, masih dalam tahap pertumbuhan."

Jungkook menatap Jimin khawatir, kemudian menatap Taehyung dengan pandangan yang sama. "Benar tidak apa-apa?"

Taehyung terkekeh, menganggguk gemas. "Iya tidak apa-apa. Kenapa sih cemas sekali?"

Jungkook menggeleng, mengusap bulu tebal di perut Jimin pelan-pelan. "Aku hanya takut kalau…. Jimin hamil, hyung." ucap Jungkook lirih.

Perkataan Jungkook membuat Taehyung terbahak-bahak, "Astaga―Jungkook.." tangan Taehyung yang bebas mencubit gemas pipi Jungkook membuat pria muda itu mengaduh kesakitan.

"Jimin kan laki-laki, tidak mungkin dia hamil." Taehyung menggeleng-geleng dengan senyum geli.

"Lagipula kalau Jimin hamil, tentu kita tau siapa yang menghamilinya, kan?" tambah Taehyung.

Kemudian, kedua manusia itu kompak memandang kucing hitam jantan yang berjemur santai di dekat jendela.

Yoongi yang merasa diperhatikan refleks menoleh―

"Meong?"

.


.

Jimin si baby chubs kesayangan Yoongi itu adalah kucing perasa.

Pasca dibilang gendut, kucing kecil itu menjadi murung yang membuat Yoongi bingung.

"Chubs?" Yoongi menyundul samping kepala Jimin pelan.

"Meong." Jimin yang tiduran di lantai balas mengeong lirih, tampak tidak bersemangat.

"Hei, kenapa?" Yoongi yang merasa janggal dengan sikap Jimin beringsut mendekat, kucing hitam itu ikut tiduran di samping Jimin, mengecupi wajahnya lembut.

"Hyung…" Jimin mengeong lemas, mau tak mau itu membuat Yoongi cemas.

"Ya?"

"Jimin…"

"Jimin kenapa?"

"Jimin…." Jimin menatap Yoongi memelas, "Jimin gendut ya, hyung?"

Pertanyaan Jimin membuat Yoongi berkedip-kedip bingung.

Bingung karena tidak tahu harus menjawab apa.

Yoongi lantas menatap Jimin dari bawah ke atas. Memang sih, Jimin kini mulai tumbuh menjadi anak kucing yang lincah. Pertumbuhan Jimin cukup drastis sebenarnya. Yoongi rasa, pertumbuhan Jimin bukan lagi dari bayi menjadi anak kucing. Tetapi, bayi menjadi dewasa.

Soalnya, Jimin sekarang berukuran cukup besar untuk anak kucing seusianya. Bulu-bulunya kini berubah menjadi sangat lebat. Warna bulunya juga berubah. Mulanya bulu Jimin berwarna coklat dan putih dengan dominasi coklat. Kini, warna putih mulai mendominasi dengan warna coklat menjadi kuning keemasan.

Perubahan Jimin ini membuat kucing itu menjadi semakin cantik.

Bukan cuman itu saja. Adalagi perubahan signifikan yang membuat Jimin semakin menarik di mata Yoongi.

Jimin semakin montok.

Otomatis, anak kucing itu menjadi semakin seksi.

Uhuk―Yoon.

Tidak, Yoongi tidak berniat berpikiran jorok seperti itu kok.

Serius!

Memang dasarnya Jimin sekarang menjadi montok dan mau tidak mau Yoongi tentu melihat kemontokan Jimin yang seksi i―

"….ung―Hyung!"

Sundulan cukup keras Jimin ke kepalanya membuat kucing hitam itu tersadar dari lamunannya mengamati Jimin.

"Uh―apa?" Yoongi mengeong kaget.

"Jimin gendut, ya?" ulang Jimin.

Yoongi refleks menggeleng-geleng cepat. "Tidak, chubs tidak gendut."

"Sungguh?" Mata Jimin membola dengan binar-binar cerah.

Yoongi mengangguk, "Siapa yang bilang chubs gendut? Jimin tidak gendut kok." Kata Yoongi sambil menggigiti kuping kecil Jimin.

"Kalau begitu, Jimin kurus dong?"

Pertanyaan Jimin lagi-lagi membuat Yoongi berkedip bingung.

Kurus? Duh―

Kalau dibilang kurus, bohong namanya.

Jimin kan tidak kurus.

"Um―" Yoongi memutar otak, mencari jawaban yang pas. "Jimin…"

"Jimin?"

Bola mata Yoongi berputar kesana kemari, kebingungan mencari kata yang pas. "Jimin….. Jimin seksi! Iya, seksi!"

Jawaban Yoongi membuat Jimin mengeong bingung, "Seksi itu apa―miaw?"

"Seksi itu seperti chubs, tidak kurus juga tidak gendut. Pas." Yoongi tersenyum tipis.

"Jadi, Jimin seksi?"

Yoongi mengangguk, kaki depannya mengangkat kaki depan Jimin yang kecil kemudian dia mengecup paw mungil Jimin lembut. "Apapun yang terjadi, meski Jimin kurus ataupun gendut. Jimin akan tetap menjadi chubs kesayangan hyung."

Yoongi tersenyum, matanya berkedip menggoda Jimin.

"H―hyung, miaw~" Jimin mengeong, tersipu. Ekornya berayun kesana kemari karena dibuat malu oleh kucing jantan dewasa di depannya. Sementara itu, Yoongi tersenyum puas melihat tingkah lucu Jimin.

Ya, Jimin tumbuh semakin besar dan itu bukan masalah besar bagi Yoongi karena kucing hitam itu menyukai si kucing kecil apa adanya.

Meski sebenarnya ada sisi negative yang kurang Yoongi sukai dari pertumbuhan Jimin.

Kenyataan bahwa Yoongi sekarang mulai kesusahan membawa Jimin kesana kemari karena bobot tubuhnya yang bertambah.

Padahal, salah satu hobi Yoongi kan menggigit tengkuk Jimin dan menggendong kucing kecil itu kesana kemari.

Duh―

.


.

"Aung~"

Kegiatan favorit Jimin itu saat Yoongi menjilatinya. Si kecil itu suka sekali saat Yoongi mulai menjilati wajah dan badannya, apalagi saat kucing jantan itu mulai menggigiti kuping kecilnya penuh rasa gemas.

Jimin suka!

Seperti sekarang, kedua kucing beda ras itu bergelung di box tidur abu-abu Yoongi dimana si kucing jantan berjenis Havana Brown itu fokus menjilati pacar bayi kesayangannya. Jimin sih senang-senang saja dimanja seperti ini, malah kucing kecil itu sudah memejamkan mata keenakan.

"Purr~" Jimin mendengkur puas.

Sepertinya si kecil tidak sadar kalau dia sudah mendengkur keras saat Yoongi menjilat dan menggaruk balik kupingnya. Namun entah kenapa, mendengarnya membuat Yoongi berhenti terpaku.

"Yoongi hyung?" Jimin membuka kedua mata, menatap Yoongi dengan pandangan sayu. Heran karena Yoongi berhenti menjilatinya. Bayi kucing yang mulai beranjak besar itu memandang wajah tampan pacarnya yang melamun.

"Hyung?" Jimin mendusel rahang bawah Yoongi manja.

Tindakannya itu membuat Yoongi tersadar. Kucing hitam itu gelagapan menyadari Jimin yang mendusel dan mulai menjilatinya.

"Uh, ya chubs?"

"Hyungie~" Jimin mengeong pelan, manja.

"Hum? Apa, chubs? Maaf, tadi hyung melamun." Yoongi memberikan kecupan-kecupan kecil di wajah Jimin.

"Yoongi hyung melamunkan apa?" Tanya Jimin.

Yoongi berkedip, kaki depannya naik untuk memeluk Jimin. "Tidak melamunkan apa-apa. Hyung peluk, ya?"

Jimin mengeong bahagia, antara senang karena dia dipeluk Yoongi dan rasa hangat yang menyelimutinya. Jimin kembali menutup mata, menyamankan diri dalam pelukan Yoongi.

Tidak menyadari Yoongi yang menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.

.


.

Malam di kediaman Kim harusnya menjadi malam yang tenang.

Tapi sepertinya tidak untuk malam ini.

Tengah malam, Yoongi terbangun dari tidur nyenyaknya karena merasakan panas di sekujur tubuh yang membuatnya bergidik dan mengeong dengan suara keras.

Alhasil Yoongi duduk, meski badannya terasa berat dan bulu-bulu di punggungnya serasa berdiri karena rasa tak nyaman.

"Rrrr―" Yoongi mendengkur, suaranya terdengar lebih keras dari biasanya dan hal itu menyebabkan Jimin yang mulanya tertidur perlahan bangun.

"Uh? Hyung?" Paw mungil Jimin terjulur, matanya yang tertutup kini separuh terbuka.

Jimin mengerjapkan mata melihat sosok Yoongi yang terduduk kaku di atas box ranjang mereka. Satu-satunya sumber penerangan adalah lampu kuning remang-remang dari dapur yang jaraknya cukup jauh sehingga membuat sosok Yoongi terlihat seperti siluet hitam yang menyeramkan.

"Meow?" Jimin mengeong kebingungan, melihat keterdiaman Yoongi yang mulutnya tak henti mendesis keras.

"Hyung? Kena―MIAWW!"

Belum selesai perkataannya, Jimin dibuat terkejut setengah mati.

Yoongi menyergapnya!

Kucing hitam itu menindih badannya, memenjarakan Jimin di bawahnya dengan mulut menggigit tengkuk Jimin sehingga kucing kecil itu tidak bisa bergerak.

"Hyung? Hyung? Miaw!" Jimin mengeong ribut.

Ada apa dengan Yoongi?

Jimin memberontak, menggerak-gerakkan tubuhnya ke kanan ke kiri berusaha membebaskan diri. Namun, tindakannya itu malah membuat Yoongi mengeong semakin keras.

"Rawrr!"

Jimin diam membeku ketakutan. Suara Yoongi terdengar lain dari biasanya, pelukan Yoongi juga terasa berbeda. Jimin semakin ketakutan saat melihat kaki depan Yoongi yang mengukungnya mulai mengeluarkan cakar.

"Hrr―rawr."

Yoongi menggeram rendah dari atas. Jimin yang terperangkap di bawahnya menatap kalut sekelilingnya. Kucing kecil itu ketakutan dan kebingungan, dia tidak bisa melakukan apapun karena Yoongi tidak membiarkannya bergerak sedikitpun.

Aneh. Yoongi tidak seperti Yoongi yang biasanya.

Yoongi kenapa?

Berbagai macam pertanyaan menyergap Jimin. Tapi, tidak ada jawaban. Karena Jimin juga tidak tahu apa yang sedang terjadi, kucing itu hanya bisa mendengung dan menutup wajah dengan paw mungilnya menutupi ketakutan.

Perlakuan tak biasa Yoongi membuat tubuh kecilnya gemetar tak karuan. Apalagi saat beberapa menit kemudian Jimin merasakan gesekan-gesekan tidak wajar di punggung dan area bawahnya.

"Hiks―miaw."

Jimin mengeong lemah dengan mata tertutup rapat.

Siapapun, tolong!

.

.

.

TBC


.

Celestaeal's note :

Halo~
Berjumpa lagi dengan Lil Meow Meow

Yup, aku pikir banyak yang bisa menebak; apa yang terjadi pada Yoongi?