Chapter 2
Dan disinilah kami sekarang. Berada di aula bersama mahasiswa-mahasiswa baru lainnya dari berbagai jurusan. Untung saja aula kampus ini cukup besar untuk menampung kami semua. Kami disuruh duduk di lantai, dan membentuk barisan sesuai dengan jurusan masing-masing. Aku, Chen, dan Kyungsoo mendapat barisan tempat duduk keempat dari depan.
Kyungsoo sibuk berbicara dengan gadis berwajah dingin yang duduk di sebelahnya, kudengar namanya Krystal. Dan Chen sedang menelfon ibunya, mengomel tentang kegiatan ospek yang diberitahukan secara tiba-tiba. Sedangkan aku? Aku tidak melakukan apapun. Gadis yang duduk di sebelah kiriku terlihat sangat pendiam, dia hanya menatap lurus ke depan, tidak menunjukkan minat bicara padaku (atau siapapun). Yang duduk di sebelah kananku, tenggelam dalam dunianya sendiri bermain game. Aku tidak tahu dia sebenarnya cewek atau cowok, yang kutahu namanya Amber. Dia sempat memperkenalkan dirinya tadi.
"Perhatian! Perhatian!" Segerombolan mahasiswa menepukkan tangan mereka saat berjalan masuk ke dalam aula. Dari penampilan mereka aku bisa menebak kalau mereka anak-anak orang kaya yang cukup berpengaruh di kampus ini. Sebagian dari mereka berbaris di hadapan kami, dan sebagian lagi naik ke atas panggung. "Halo, selamat datang di SM University!" Aku tahu yang berbicara itu sang ketua panitia, Suho Sunbae. "Ini pertama kalinya kampus kita mengadakan acara ospek untuk menyambut mahasiswa tahun ajaran baru. Kuharap kalian antusias mengikutinya, oke? Sebelumnya kami akan memperkenalkan diri terlebih dahulu. Namaku Suho, aku ketua panita sekaligus pencetus kegiatan ospek ini."
"Namaku Xiumin, aku wakil ketua. Walaupun kegiatan ini terkesan mendadak, tapi kami janji akan melaksanakannya sebaik mungkin."
"Namaku Kim Taeyeon, posisiku sebagai sekertaris. Salam kenal semuanya."
Aku bisa mendengar orang-orang saling berbisik. Ada yang bergosip tentang betapa kayanya Suho, ada yang bercerita dengan bangganya kalau dia kenal Xiumin dan kopi buatan Xiumin adalah yang terbaik di dunia, ada juga yang memuji suara merdu sang sekertaris Taeyeon.
"Nah, sekarang kita akan membagi 10 kelompok. Dan pembagiannya secara acak, bukan berdasarkan jurusan. Jadi kalian bisa saling mengenal teman-teman dari jurusan lain juga." Suho kembali berbicara, kali ini nada suaranya sedikit lebih keras. "Oke, dengarkan baik-baik ya. Di bagian paling depan barisan ada kotak yang isinya kertas kecil, silahkan ambil satu persatu. Disitu kalian akan lihat angka yang menunjukkan kelompok kalian. Jangan ada yang berebut."
Kami pun berdiri dan menunggu giliran untuk mengambil kertas yang dimaksud. Aku sedikit menaikkan celanaku yang melorot. Maklum saja, celanaku ini memang agak sedikit kebesaran dan tali pinggangku ketinggalan di panti asuhan. "Kuharap kita satu kelompok ya." Bisik Chen dari belakang. Aku mengangguk, kuharap juga begitu.
Tapi ternyata takdir berkata lain. Aku, Chen, dan Kyungsoo masing-masing masuk ke kelompok yang berbeda. Chen masuk ke kelompok 2, Kyungsoo kelompok 9 dan aku kelompok 10. "Nah, sekarang aku akan bacakan ketua masing-masing kelompok dan silahkan bentuk barisan dengan ketua kalian." Taeyeon melambai-lambaikan tangannya dari atas panggung, berusaha menenangkan situasi. Ya, banyak mahasiswa yang kecewa dengan hasil kelompok yang mereka dapatkan. Sebagian besar pasti terpisah dengan teman-temannya, seperti aku.
Kelompok 1, Kris Wu.
Kelompok 2, Tiffany.
Kelompok 3, Lay.
Kelompok 4, Irene.
Kelompok 5, Minho.
Kelompok 6, Sunny.
Kelompok 7, Donghae.
Kelompok 8, Seohyun.
Kelompok 9, Kai.
Kelompok 10, Park Chanyeol.
DEG!
Aku... Aku tidak salah dengar kan? Aku memandangi kertas kecil di tanganku, tertulis angka 10 dengan jelas. Aku tahu aku memang kelompok 10. Maksudku... Ketuanya... Kenapa harus dia? Aku meremas kertas kecil di tanganku dengan gusar. Ini tidak benar. Kelompok mana saja, asalkan ketuanya jangan si tiang listrik itu.
"Baekhyun-ah, sepertinya ketua kita tidak ada disini." Kyungsoo menghampiriku. Aku melihat sekeliling dengan malas. Sepertinya benar yang dikatakan Kyungsoo. Kelompok lain sudah mulai membentuk barisan dengan rapi, cuma kelompokku dan Kyungsoo yang belum. Sampai akhirnya sosok tinggi yang paling kubenci melangkah masuk ke dalam aula dengan sombongnya, diikuti temannya yang berkulit eksotis. Chanyeol dan Kai . Mereka tampak berbincang sebentar dengan Suho sebelum mulai membentuk barisan.
Aku berdiri di barisan paling belakang, berharap si tiang listrik itu tidak menyadari keberadaanku di kelompoknya. "Oke, apa kalian sudah berada di kelompok masing-masing? Bagus. Sekarang, ketua kelompok dipersilahkan memilih satu orang untuk mewakili teman-temannya."
Awalnya aku bersyukur karena memilih barisan paling belakang. Pasti si tiang listrik itu memilih mahasiswa yang berada di barisan depan. Tapi ternyata aku salah. Dengan gaya soknya yang selangit itu, dia berjalan perlahan-lahan dan menginterogasi kami satu persatu.
"Namaku Lisa. Aku dari Thailand, jadi bahasa Korea ku kurang bagus."
"Namaku Tao! Aku punya kemampuan martial arts, jadi kau bisa mengandalkanku sebagai wakil."
Aku semakin gugup saat si tiang listrik berjalan menuju barisan belakang. Apa aku menyelip ke kelompok Kyungsoo saja? Tidak, tidak. Bukan ide bagus. Apa aku pura-pura pingsan saja? Jadi dia akan berpikir kalau aku penyakitan dan tidak akan memilihku sebagai wakilnya. Aku masih memikirkan bagaimana caranya agar bisa lolos dari si tiang listrik ini, saat sebuah tangan besar menarik lenganku secara paksa. "Akh! Sakit!" Aku berusaha melepaskan diri, tapi cengkramannya terlalu kuat.
"Kelompok 10! Wakilku adalah si kecil ini!" Sudah kuduga dia akan melakukan ini. Sudah kuduga. Aku memejamkan mata dan pasrah saja saat tanganku diangkat ke atas oleh si tiang listrik sialan itu. Park Chanyeol, aku akan membuatmu menyesal karena sudah memilihku.
"Pertemuan kita cukup sampai disini. Besok kita akan mengadakan acara perkemahan, untuk lebih jelasnya silahkan tanyakan pada ketua kelompok masing-masing. Sampai jumpa!"
"Sekarang bagaimana?" Tanyaku dengan nada malas pada si tiang listrik. Aku bahkan enggan melihat wajahnya. "Aku sebenarnya berencana membuat group chat di KakaoTalk, tapi yah... Mengingat ada yang ponselnya jadul di kelompok kita, jadi terpaksa kita membahasnya secara langsung saja."
Aku mendelik saat mendengar ucapannya yang meremehkan itu, tapi benar juga. Kalau mereka membahasnya di group chat, aku akan ketinggalan informasi. Jadi aku memilih diam dan membiarkannya yang mengambil keputusan. Lagipula itu kan sudah tugasnya sebagai ketua. "Ayo ikut aku. Kita bahas di ruang musik saja, kebetulan ruangan itu sedang kosong." Ujar si tiang listrik sambil meninggalkan aula. Tanpa banyak bertanya, kami langsung mengekorinya dari belakang menuju ruang musik yang dimaksud.
"Halo, Luhan."
"Baekhyun-ah, kau sedang apa? Sudah makan?"
"Ini aku sedang makan. Kau sudah makan?"
"Sudah, baru saja selesai. Kau makan apa?"
"Makan ramyeon." Aku mengaduk-aduk ramyeon di hadapanku. "Aku tidak tahu kalau ramyeon di Seoul seenak ini."
Luhan terkikik mendengar ucapanku, "Kau berlebihan. Ramyeon yang kita makan di panti asuhan dulu sama saja dengan yang kau makan sekarang."
"Tetap saja rasanya berbeda. Apalagi sekarang aku bisa menikmati sebungkus penuh untuk diriku sendiri."
"Iya, iya. Baiklah. Jadi bagaimana hari pertama kuliah? Menyenangkan?"
"Ya begitulah. Aku berkenalan dengan beberapa orang. Kyungsoo dan Chen jadi teman pertamaku di kampus." Sebenarnya aku ingin sekali menceritakan tentang Chanyeol si tiang listrik, tapi aku tidak mau membuat Luhan khawatir. Apalagi Chanyeol seangkatan dengan Luhan, walaupun beda jurusan.
"Oh ya, kudengar tahun ini diadakan kegiatan ospek. Wah kau beruntung sekali, Baekhyun-ah. Ini pertama kalinya kampus kita mengadakan kegiatan seperti itu."
Aku mendengus kesal. Tidak, aku sama sekali tidak merasa beruntung dengan kegiatan itu. "Tapi lebih baik kalau tidak usah diadakan."
Setelah mengobrol selama beberapa menit, akhirnya Luhan memutuskan sambungan saat Sehun memanggilnya. Baru saja aku melanjutkan acara makan malamku, tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk.
"From : Tiang Listrik
Temui aku di supermarket."
Hah. Hahaha. Dia pikir dia siapa? Seenak jidat mengganggu makan malamku dan menyuruhku datang menemuinya.
"To : Tiang Listrik
Aku sedang makan."
Belum sampai dua menit pesan itu kukirim, si tiang listrik langsung menelfonku. Haish! Dia benar-benar niat sekali!
"Halo."
"Cepat habiskan makananmu. Aku benci menunggu."
"Kalau begitu tidak usah menunggu."
"Suasana hatiku sedang baik, jangan merusaknya. Kau wakilku, ingat? Kau lupa apa yang kita bahas di ruang musik tadi siang?"
Tentu saja aku ingat. Kau yang memilihku secara sepihak, bodoh. Dan mengenai diskusi kami di ruang musik hari ini, sudah ditetapkan tugas masing-masing anggota. Ada yang bertugas membawa tenda, selimut, peralatan memasak, dan tugasku sebagai wakil adalah belanja keperluan konsumsi bersama sang ketua yang terhormat.
"Hh... Iya, iya. Aku kesana sekarang." Bisa kubayangkan senyum kemenangan di wajah menyebalkannya itu. Aku menyambar jaketku dan segera menuju supermarket.
Berbagai macam jenis snack, biskuit, ramyeon, minuman kaleng, semuanya bertumpuk di dalam keranjang belanjaan. Chanyeol memasukkan apa saja yang ada di depan mata dengan santainya. Saking penuhnya aku sampai harus memegang keranjang ini dengan kedua tangan. Dan karena kelakuannya itu aku jadi keringat dingin. Bagaimana kalau nanti di kasir Chanyeol menyuruhku membayar semuanya? Ah jangankan semuanya, setengah saja kurasa uangku tak akan cukup.
"Hei, kurasa ini sudah lebih dari cukup. Aku yakin mereka juga membawa makanan masing-masing." Aku menahan tangan Chanyeol saat dia hendak memasukkan beberapa bungkus marshmallow. "Kenapa? Kau takut aku menyuruhmu membayar?" Dia memasang wajah sombong. "Tenang saja, aku sudah cukup kasihan melihat ponselmu. Tidak mungkin aku tega menyuruhmu membayar ini semua. Lebih baik uangnya kau simpan untuk beli ponsel baru."
Aku meletakkan keranjang belanjaan dengan kasar ke lantai, membuat Chanyeol sedikit terkejut. "Kalau sudah selesai, aku pulang." Chanyeol segera menahan tanganku saat aku hendak beranjak pergi. "Apa? Belum puas menghinaku?" Aku menatapnya dengan pandangan sinis. Padahal untuk sesaat tadi aku hampir melupakan rasa benciku padanya.
"Aku cuma bercanda." Dia menatap mataku dalam, nyaris tidak berkedip. "Tidak lucu sama sekali." Aku balas menatap matanya. Lama kami saling bertatapan seperti itu, sampai akhirnya dia mengalah dan mengalihkan wajahnya. "Hmm." Dia hanya bergumam kecil. Diambilnya keranjang belanjaan yang tergeletak di lantai dan berjalan menuju kasir. Tidak ada sepatah kata maaf pun yang keluar dari mulutnya. Tapi itu lebih baik daripada kami melanjutkan perdebatan bodoh barusan.
Sebenarnya aku merasa sedikit tidak enak saat Chanyeol membayar semua belanjaan kami. Total belanjaan kami 35.000 won. Mungkin itu jumlah yang sedikit untuknya, tapi tetap saja aku merasa tidak enak. Bagaimanapun juga aku ini kan wakilnya. Oh! Aku juga tidak mau si tiang listrik ini semakin menghinaku. "Kita bagi dua saja. Aku bayar segini dulu, sisanya nanti." Aku merogoh saku jaket dan mengeluarkan selembar uang 5.000 won. Chanyeol menaikkan alisnya, "Sudah kubilang aku yang bayar semua. Kau pikir uangku tidak cukup?"
Aku menghela nafas panjang. Kenapa sih ada manusia menyebalkan sepertinya di muka bumi ini? Aku mengikuti Chanyeol berjalan keluar supermarket sambil terus memikirkan alasan apa yang harus kukatakan padanya. Kalau kubilang karena aku ini wakilnya, dia akan bilang ini tanggung jawabnya sebagai ketua. Kalau kubilang karena aku tidak mau diremehkan olehnya, bisa-bisa kami berdebat lagi di pinggir jalan dan jadi tontonan orang-orang yang lewat.
"Kenapa kau terus mengekoriku? Tugasmu sudah selesai. Pulang sana." Chanyeol membalikkan badannya tanpa aba-aba, membuatku nyaris menabrak tubuh tingginya itu. Astaga... Tabahkan hatimu, Baek. Setelah menghancurkan acara makan malamku, sekarang dia mengusirku begitu saja. "Tidak perlu kau suruh juga aku memang mau pulang." Kuhentakkan kakiku kuat-kuat saat berjalan melewatinya.
Kami disuruh berkumpul jam 5 pagi karena rencananya bus akan berangkat sebelum jam 6. Suho Sunbae bilang kami harus berangkat pagi-pagi kalau tidak mau terjebak macet. Ya tahu sendiri lah bagaimana padat dan sibuknya kota Seoul.
Aku berangkat dari rumah jam setengah 5. Tadi malam Luhan terus menerus minta maaf karena dia tidak bisa mengantarku hari ini. Pertama, Sehun tidak pernah bangun sepagi ini. Kedua, Luhan tidak bisa menyetir mobil. Dan Sehun sepertinya bisa membaca rencana Luhan, atau mungkin dia belajar dari pengalaman sebelumnya. Dia mengunci Luhan di kamar sejak semalam supaya rusa manis itu tidak bisa kemana-mana.
Udara pagi membuatku sedikit menggigil. Untunglah aku memakai pakaian berlapis, kemeja baby blue dengan luaran sweater rajut, ditambah jaketku satu-satunya yang selalu kupakai kemana-mana. Belum banyak kendaraan yang lewat jam segini, nyaris tidak ada. Ah... Aku suka suasana seperti ini. Benar-benar menenangkan. Aku memegang tali ranselku dengan kedua tangan dan melompat-lompat kecil sambil berjalan menuju kampus. Seoul, hidupku akan sempurna disini.
Ternyata tidak. Sesampainya di kampus, aku disambut dengan gerutuan dari teman-teman kelompokku, dan Chanyeol yang berdiri di samping bus sambil berkacak pinggang. Aku melihat sekeliling kampus. Mana yang lain? Cuma ada kelompokku dan sebuah bus dengan sticker angka 10 di bagian belakangnya.
"Hei, wakil! Kenapa kau lama sekali?"
"Lihat! Semua kelompok sudah berangkat duluan. Kelompok kita tertinggal di belakang gara-gara menunggumu."
Aku mengeluarkan ponselku, masih jam 5 lewat sedikit. "Kelompok yang anggotanya lengkap berangkat duluan." Tao menghampiriku, kurasa dia bisa membaca raut kebingunganku. "O-oh... Aku minta maaf. Aku jalan kaki kesini, jadi-"
"Kalau begitu berangkat lah lebih pagi! Jangan buat kami menunggu seperti ini." Seorang gadis yang tak kuketahui namanya sengaja menabrak pundakku saat masuk ke bus. Kalau saja Tao tidak memegangi tanganku, aku pasti sudah jatuh. Aku mengusap pundakku yang terasa nyeri. Untunglah si gadis Thailand, Lisa, mengajak yang lain segera masuk ke bus.
Aku berencana duduk di barisan paling belakang, tapi Chanyeol menarik tanganku dan memaksaku duduk di sampingnya. Hah... Aku pasrah. Dia pasti mau memarahiku. "Maaf, aku tidak tahu kalau kelompok yang lengkap berangkat duluan." Aku menunduk, memainkan resleting jaketku. "Hm. Tidak apa-apa." Chanyeol membalas ucapanku sambil memandang keluar jendela.
Drrt... Drrt...
Aku melihat nama Luhan terpampang di layar ponselku. Aku tersenyum, setidaknya moodku sedikit membaik.
"Halo, Luhan?"
"Baek, kau sudah sampai di kampus?"
"Sudah. Kau masih dikunci Sehun?" Aku tertawa saat mengatakannya, dan itu sukses menarik perhatian Chanyeol. Aku meliriknya sekilas dan mata kami bertemu.
"Iya. Dia belum bangun. Oh ya, Baek. Kau tidak lupa kan ini tanggal berapa?"
"Tanggal 28, kenapa?"
"Astaga. Pasti kau lupa lagi. Ini jadwal bulananmu, Baekhyun-ah..."
Ah... Aku lupa cerita pada kalian. Karena aku punya rahim, aku tetap menghadapi jadwal bulanan layaknya wanita. Bedanya aku tidak berdarah. Tapi dua sampai tiga hari pertama, perutku akan mengalami kram luar biasa. Biasanya kalau sudah begitu aku akan meminum obat untuk meredakan rasa sakit di perutku. Aku tidak pernah ingat jadwal bulananku, jadi selalu Luhan lah yang mengingatkan.
Aku melirik Chanyeol lagi dan dia masih menatapku. Aku tidak mau dia mendengar perbincanganku dengan Luhan tentang jadwal bulananku. Ini aib, oke?
Aku memiringkan tubuhku dan sedikit membungkuk, "Tenang saja. Aku selalu bawa obatnya kemana-mana kok." Aku berbisik saat mengatakannya. Kuharap si tinggi di sebelahku ini tidak menguping.
Setelah Luhan memutuskan sambungan, aku menegakkan tubuhku dan melirik Chanyeol (lagi), hanya untuk memastikan apakah dia benar-benar menguping atau tidak. Ternyata tidak. Dia sedang memakai headset dan memejamkan matanya. Aku jadi ikut mengantuk, mengingat tadi aku bangunnya subuh. Kuregangkan otot-otot tanganku. Perjalanan masih jauh. Sebaiknya aku tidur juga.
Bus kelompokku yang terakhir sampai di tempat perkemahan. Saat kelompok lain sudah selesai mendirikan tenda dan menyiapkan peralatan memasak, kami baru mulai menyusun kerangka tenda. Untung saja ada beberapa anggota dari kelompok lain yang membantu kami, termasuk Kyungsoo dan Chen.
Kemudian kami mulai membagi pasangan tidur. Dalam satu tenda ada yang muat 2 orang, 3 orang, bahkan 4 orang, tergantung ukuran tenda yang dibawa. Aku pasrah saja saat tidak ada yang mau tidur satu tenda denganku. Tao bergabung dengan Ryeowook, dan tenda mereka cuma muat untuk dua orang. Aku kembali menyibukkan diri bermain game Snake Xenzia, berusaha tidak mempedulikan sekeliling walaupun dalam hati aku khawatir akan tidur di luar malam ini. Sampai tiba-tiba seseorang menarik ranselku dari belakang, memaksaku berdiri dan sukses menggagalkan permainanku. Ah, sial. Padahal ularku sudah panjang tadi.
"Kau belum dapat tenda kan? Kalau begitu tidur denganku saja." Chanyeol menarik paksa ranselku dan melemparkannya ke dalam tenda. "Jangan dilempar!" Aku berlari mengambil tasku. Hal pertama yang kulakukan adalah mengecek obatku. Obatku berbentuk sirup di dalam botol kaca, karena aku tidak bisa menelan obat tablet atau kapsul. Dan yah... Keberuntungan sedang tidak berpihak padaku hari ini. Botol kaca itu pecah. Aku bisa melihat cairan pink membasahi pakaianku dan sebagian lagi merembes dari tas. Aku berbalik untuk memarahi sosok yang melempar ranselku tadi dan menyebabkan obatku terbuang sia-sia, tapi sosok itu sudah tidak ada.
Di kejauhan aku melihat Suho dan Xiumin sedang mengumumkan sesuatu. Semua orang mengerumuni mereka, termasuk si Park itu. Aku pun segera menghampiri kerumunan itu.
"Oke, jadi sekarang sudah hampir jam 11 . Aku mau kalian menulis sebuah surat cinta untuk senior yang ada disini, terserah mau diberikan kepada siapa saja." Situasi langsung heboh setelah Suho mengumumkan itu. "Tenang, tenang dulu semuanya. Nah surat itu akan kita bacakan satu persatu saat makan siang. Jadi manfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin." Lanjut Xiumin. Setelah itu Taeyeon membagikan kertas kosong pada kami.
Aku menulis surat cintaku di dalam tenda saat Chanyeol sedang berbincang dengan Kai. Hmm... Aku menulis untuk siapa ya? Semuanya cantik, tapi aku tidak mengenal mereka. Oh! Apa Taeyeon Sunbae saja ya? Kudengar suaranya bagus.
"To : Kim Taeyeon
Hai, Sunbae. Salam kenal, ya. Namaku Byun Baekhyun dari jurusan sastra. Mungkin kita tidak saling mengenal, tapi aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Kuharap setelah membaca surat ini kita bisa lebih dekat.
Kudengar suaramu bagus, aku jadi ingin bergabung di singing club supaya bisa sering-sering melihatmu bernyanyi. Tapi suaraku tidak bagus, apa aku masih boleh ikut bergabung?
Oh ya, Taeyeon Sunbae, aku mau bilang kalau kau terlihat cantik dengan rambut yang tergerai. Tapi kalau diikat tetap cantik kok. Sejujurnya aku bingung mau menulis apa lagi, jadi sampai disini dulu ya."
Tepat setelah aku selesai menulis suratku, Tao memanggilku. "Baekhyun-ah, bisa tolong bantu aku? Cewek-cewek disini tidak bisa diandalkan!" Aku melipat suratku dan menyelipkannya di dalam tas, kemudian segera menghampiri Tao yang sedang menyiapkan peralatan memasak. Ya menyebalkan sih memang. Para gadis di kelompokku tidak ada yang berniat turun tangan mempersiapkan makan siang, kecuali Lisa. Ada yang masih sibuk menulis surat cinta, dan ada yang sibuk berdandan.
"Hey, Tao. Sudah kubilang aku bukannya tidak mau membantu. Tapi aku tidak bisa memasak oke?" Gadis yang menabrakku tadi melotot ke arah Tao sambil mengoleskan lipbalm ke bibirnya. "Kau ini cewek, akan jadi ibu rumah tangga nanti." Tao balas melotot ke arah gadis berambut hitam itu.
"Sudahlah, Jennie. Jangan marah-marah terus." Lisa menghampiri kami dan membuka bungkusan ramyeon. Akhirnya cuma aku, Lisa dan Tao yang mempersiapkan makan siang. Setiap kelompok mempersiapkan makan siang mereka masing-masing. Kami memasak ramyeon, karena itu yang paling praktis.
Saat sedang sibuk memasak, sekilas aku melihat Jennie keluar dari dalam tendaku. Tapi kubiarkan saja. Aku malas ribut dengannya, lagipula kupikir dia mencari Chanyeol.
Setelah siap memasak, Taeyeon menghampiri kami satu persatu untuk mengumpulkan surat cinta. Aku sedikit malu membayangkan bagaimana reaksi Taeyeon saat membaca surat dariku. Selesai mengumpulkan surat, kami disuruh duduk mengelilingi para senior yang berdiri di tengah-tengah lingkaran sambil menyantap makan siang bersama.
"Aku akan membaca surat kalian secara acak." Suho mengambil salah satu kertas yang dipegang Taeyeon. Aku bisa membaca raut cemas dari teman-temanku, jujur saja aku pun merasakan hal yang sama. Bagaimana kalau itu suratku?
"Untuk Kai, ketua kelompok 9
Kai Sunbae, ah... Bolehkah aku memanggilmu Kai Oppa?" Suho membaca surat pertama sambil tersenyum geli. "Kulitmu yang eksotis membuatku merasa hangat walaupun udara disini dingin." Kami semua tertawa mendengarnya, Tao sampai memukul-mukul pahaku. "Aku tidak tahu apakah kau sudah punya pacar atau belum, kuharap belum. Kalaupun sudah, aku ingin kau mempertimbangkan tentang ini. Aku mencintaimu, Kai Oppa. Jadilah pacarku."
Kai tertawa saat Suho selesai membacakan surat itu. Dia mengambil surat itu dari Suho, "Jadi surat ini dari teman kita yang namanya Sulli. Tunjukkan dirimu, Sulli."
Seorang gadis berkulit seputih susu langsung berdiri dan menghampiri Kai. Semua orang langsung bersorak melihat keberanian gadis bernama Sulli itu. "Kau cantik, Sulli. Tapi sayangnya aku sudah punya pacar." Kai tertawa saat melihat Sulli mengerucutkan bibirnya. Dia kembali duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan itu membuat suasana jadi sedikit canggung.
"Oke, oke. Ini cuma permainan. Jangan dibawa serius ya, Sulli. Selanjutnya kita akan membacakan surat yang ditujukan untuk... Irene!"
Suasana sangat ramai karena acara surat cinta itu. Tao terus memukul-mukul pahaku saat tertawa, aku yakin pahaku sudah berbekas merah sekarang. Dan aku tidak menyangka kalau suara tertawa Lisa nyaring sekali. Telinga kiriku sampai berdengung.
Setelah membaca beberapa surat cinta, para senior mengubah posisi mereka menjadi duduk. Mungkin mereka capek berdiri terus. Chanyeol baru selesai menguap saat Xiumin tiba-tiba membacakan surat cinta yang ditujukan padanya.
"To : Park Chanyeol
Hai, Sunbae. Salam kenal, ya. Mungkin kita tidak saling mengenal, tapi aku selalu memperhatikanmu dari jauh. Kuharap setelah membaca surat ini kita bisa lebih dekat."
Kok... Isi suratnya mirip dengan punyaku?
"Kudengar kau bisa bermain gitar, kuharap kau mau memainkannya untukku kapan-kapan. Oh ya, Chanyeol Sunbae, aku mau bilang kalau kau orang paling tampan yang pernah kutemui seumur hidupku. Saranghae, Chanyeol Sunbae."
Semua orang bersorak dan bertepuk tangan saat surat itu selesai dibacakan. Bahkan Xiumin yang pendiam pun ikut tertawa. Chanyeol berdiri dan melihat sekeliling, "Xiumin-ah, jangan beritahu siapa yang menulis itu. Biar kutebak sendiri."
Chanyeol menunjuk seorang gadis bermata bulat, tapi dia menggeleng. Kemudian dia menunjuk gadis berambut panjang dari kelompok Chen, tapi gadis itu menggeleng juga. Akhirnya dia menyerah dan kembali duduk. "Kau pasti tidak akan menyangka ini, Chanyeol-ah." Xiumin menyodorkan surat cinta itu pada Chanyeol, dan Chanyeol membacanya dengan mata terbelalak.
"Byun Baekhyun dari jurusan sastra..."
TBC
Annyeong, chingu! Thanks ya udah mau mampir~
Chapter selanjutnya aku usahakan update secepatnya. Doain aja nggak nge-stuck tiba-tiba hahaha.
Jangan lupa ninggalin jejak ya chingu sayanggg. Saranghae~
