Chapter 3

Aku merebut surat yang dipegang Chanyeol dan membacanya berulang-ulang. Aku menulis untuk Taeyeon, bukan dia! "I-ini bukan tulisanku..." Suaraku gemetar, aku berusaha menahan tangisku.

"Ah... Ternyata kau menyukai sesama jenis ya, Byun?" Jennie terkikik geli. Tunggu, aku teringat sesuatu. Tadi Jennie masuk ke dalam tendaku. Pasti dia yang menukar suratku dengan surat palsu ini! Aku ingin meneriakinya, tapi suaraku tercekat. "Memangnya kenapa kalau dia menyukai Chanyeol Sunbae?" Tiba-tiba Kyungsoo bangkit, tangannya mengepal. Mungkin kalau Jennie itu laki-laki Kyungsoo sudah melayangkan tinjunya.

"Oh? Kenapa kau membelanya?" Jennie ikut bangkit dan membalas ucapan Kyungsoo. "Jangan-jangan kau juga gay seperti dia?"

"Hei, hei. Kalian berdua hentikan." Suho menahan dada Kyungsoo, dan Taeyeon menarik tangan Jennie. "Jangan hancurkan acara ini. Kumohon. Kita disini untuk bersenang-senang."

Akhirnya sesi pembacaan surat cinta dihentikan dan kami dibubarkan. Aku sedikit merasa bersalah, karena surat cinta palsu yang mengatasnamakan diriku, suasana perkemahan jadi buruk. Aku meremas surat cinta sialan itu dan membuangnya asal.

Kuhampiri Kyungsoo yang sedang duduk di dalam tendanya. "Kyungsoo-ya, kau masih marah?" Aku memberanikan diri duduk di sebelahnya. Kyungsoo yang sedang marah benar-benar mengerikan. "Aku tidak marah padamu, Baek. Aku marah pada si nenek sihir itu."

"Terima kasih karena sudah membelaku. Tapi aku tidak menyukai Chanyeol."

Kyungsoo menoleh, "Lalu surat itu?" Dia menatapku dengan pupil matanya yang besar.

"Sumpah, bukan aku yang menulis surat itu. Suratku itu seharusnya untuk Taeyeon Sunbae, bukan Chanyeol." Aku menggeleng pelan. Aku ingin menceritakan tentang Jennie yang masuk ke dalam tendaku, tapi aku kan tidak melihatnya mengambil suratku. Aku tidak mau terkesan menuduh Jennie dan memperburuk keadaan. Lagipula aku tahu gadis itu punya pengaruh yang cukup besar. Aku tidak mau berurusan dengan orang sepertinya.

Percakapanku dengan Kyungsoo terhenti saat Chen ikut bergabung ke dalam tenda. "Hei, tahu tidak. Aku menguping pembicaraan Tiffany Sunbae dan Xiumin Sunbae barusan. Sepertinya malam ini kita akan masuk hutan."

"Masuk hutan? Malam-malam begini?"

"Iya, gila kan? Tapi kudengar hadiahnya lumayan."

Aku menyandarkan kepalaku di pundak Kyungsoo dan memejamkan mata. Rasanya tubuhku lelah sekali. Aku benar-benar mengantuk, bahkan suara Chen yang nyaring pun tidak menggangguku sama sekali. Saat aku mulai memasuki alam mimpi, kurasakan tubuhku dibaringkan perlahan.


Aku terbangun saat mencium aroma sosis panggang. Uh... Makanan kesukaanku. Hari sudah hampir gelap, beberapa senior sedang menyalakan api unggun dan junior sedang sibuk mempersiapkan makan malam. Tadi siang kami disuruh masak perkelompok, tapi sekarang semua kelompok boleh saling berbagi makanan dengan kelompok lain. Mungkin untuk memperbaiki situasi yang sempat memanas tadi siang.

Aku menguap dan berjalan mendekati Kyungsoo yang sedang memanggang sosis. "Baekhyun-ah, kau sudah bangun?" Kyungsoo menyodorkan sepotong sosis yang langsung kulahap habis. Aku berjongkok di sebelahnya sambil terus memakan sosis panggang. Saat Chen datang membawa roti selai, aku juga langsung memakannya dengan lahap. Entahlah, mungkin karena pengaruh cuaca yang dingin perutku jadi lapar.

Aku tidak berniat gabung dengan kelompokku. Pertama, aku malas bertemu dengan Jennie. Dan kedua, aku tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan Chanyeol. Ah biarlah aku disini bersama Kyungsoo dan Chen. Lagipula mereka juga tidak keberatan aku makan makanan mereka.

"Perhatian semuanya!" Taeyeon menepuk-nepukkan tangannya dan berdiri di tengah-tengah kami. "Makannya tolong dipercepat ya, karena setelah ini kita akan mengadakan permainan mencari harta karun di dalam hutan! Yeay!"

Krik.. Krik..

Tidak ada yang terdengar selain suara jangkrik dan pekik kegirangan Taeyeon. Aku dan Kyungsoo saling melirik, sebelum akhirnya kami terkikik geli. Wajah Taeyeon berubah merah saat dia menyadari tidak ada yang meresponnya. Dia langsung kembali dan melanjutkan makannya. Akhirnya Suho yang menggantikan Taeyeon untuk menjelaskan aturan mainnya. Kami akan mulai berpencar ke dalam hutan tepat jam 7 malam, mengumpulkan 'harta karun' dan kembali ke lokasi perkemahan setelah mendapatkan salah satu dari harta karun tersebut. Harta karun yang dimaksud adalah barang-barang pribadi milik para senior. Batas waktu pencarian sampai jam 9 malam. Permainan ini dilakukan secara individu, bukan kelompok.

Kami masing-masing diberi satu senter. Saat aku berjalan melewati Chanyeol, kudengar dia berbisik "Cari di atas." Aku pura-pura tidak mendengarnya, aku masih salah tingkah karena kejadian tadi siang. Aku, Kyungsoo dan Chen berjalan masuk ke hutan bersama-sama. Chen yang paling bersemangat, dia sangat antusias mencari harta karun milik Suho yang diyakininya pasti barang branded yang mahal.

Kami berjalan memasuki hutan yang gelap. Kyungsoo berhasil menemukan sebuah kotak yang berisikan sepasang sepatu, milik Xiumin. Dia menemukannya di balik semak-semak.

"Kyungsoo-ya, bantu aku cari harta karunku!" Chen menarik tangan Kyungsoo dengan paksa. "Jadi Baekhyun bagaimana?"

"Ah, tidak apa-apa. Kalian cari saja. Aku tidak enak badan, aku mau langsung kembali ke perkemahan saja." Aku tidak bohong saat mengatakan itu. Sejak tadi badanku memang terasa lemas. Aku jadi tidak bersemangat melanjutkan permainan ini, rasanya ingin cepat-cepat kembali ke perkemahan dan beristirahat.

"Baiklah. Nanti kami akan menemuimu setelah mendapatkan harta karun Chen." Kyungsoo melambaikan tangannya kemudian berlari mengikuti Chen.

Aku memasukkan tanganku yang dingin ke dalam saku jaket, dan kembali berjalan ke arah yang tadi kulalui. Kami sudah berjalan cukup jauh dari lokasi perkemahan, untunglah para senior meletakkan bendera-bendera kecil di sepanjang jalan agar kami tidak tersasar. Tiba-tiba aku teringat perkataan Chanyeol, apa maksudnya cari di atas? Apa dia menyembunyikan harta karunnya di atas pohon?

Sepanjang perjalanan kembali menuju perkemahan, aku terus mendongak, memperhatikan pohon-pohon tinggi yang ada di kiri kananku. Dan gotcha! Aku melihat benda hitam itu tergantung di ranting pohon. Aku jadi bersemangat ingin mengambilnya. Aku menggigit senterku dan mulai memanjat pohon. Kurang kerjaan sekali si tiang listrik itu, sampai-sampai harta karunnya diletakkan di atas pohon begini. Aku duduk di atas ranting yang cukup besar, kuulurkan tanganku mengambil benda itu. Ah! Ternyata itu headset yang dipakai Chanyeol saat di bus! Kugantungkan headset itu di leherku dan mencari pijakan untuk turun.

Saat itulah hal yang tidak kuharapkan terjadi. Tiba-tiba perutku kram, bukan main sakitnya. Aku berusaha mempertahankan keseimbanganku di atas ranting pohon yang kududuki. "A-akh...!" Memang ini bukan pertama kalinya perutku kram, tapi tetap saja aku tidak terbiasa dengan rasa sakitnya. Aku menjatuhkan senterku dan meremas perutku. Sakit. Sakitnya sampai menjalar ke pinggang bagian belakangku.

"K-kyungsoo- Akh.. Chen.. T-tolong..." Aku membungkuk, memeluk perutku. Bahkan untuk berteriak pun rasanya aku tak sanggup lagi. "Hah... Hah..." Dahiku mulai basah oleh keringat. Kuambil ponselku dari saku jaket dengan tangan gemetar, dan yang terlintas di benakku saat itu adalah menghubungi Chanyeol. Aku kesulitan menekan tombol ponselku karena tanganku yang gemetar. "U-ugh..!" Saat otot-otot perutku mulai mengejang, aku oleng ke samping dan semuanya berubah menjadi gelap.


Apa aku sudah mati?

Luhan... Aku minta maaf, aku pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan padamu.

Tapi aku bersyukur karena bisa makan sosis yang kuidam-idamkan sebelum aku mati.

Aku berharap akan terlahir di kehidupan yang lebih baik. Menjadi laki-laki seutuhnya, menjadi laki-laki normal.

"Ngh..."

"Kau sudah sadar?" Sebuah tangan hangat menepuk-nepuk pipiku pelan, membuatku terbangun perlahan. Aku mengerjap-ngerjap sebentar, dan yang pertama kulihat adalah wajah orang paling menyebalkan di muka bumi.

"Tenang saja, kau belum mati." Chanyeol menyibakkan poniku ke samping dan meletakkan sebuah handuk kecil di keningku. Perutku masih kram, tapi tidak separah tadi. Untunglah. Aku tidak mau dia menanyaiku yang tidak-tidak.

"Temanmu yang menemukanmu dan membawamu kesini." Chanyeol menautkan jari-jarinya dan menatapku serius, membuatku sedikit gugup. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut tenda, melihat apa saja asalkan jangan dia. Tatapannya mengintimidasi sekali. "Kenapa kau bisa jatuh dari pohon?"

Karena kau menggantung headset mu di ranting pohon. Aku ingin menjawab begitu, tapi kuurungkan niatku. Aku sedang tidak bertenaga untuk berdebat dengannya. Lagipula tidak mungkin kan aku jujur kalau hari ini jadwal bulananku dan perutku kram tiba-tiba. "Banyak semut merah."

"Jangan bohong. Aku mengganti pakaianmu, dan aku tidak lihat ada satupun bekas gigitan serangga di tubuhmu."

Hah! Dia mengganti pakaianku?! Aku langsung menyibak selimut. Benar saja, pakaianku sudah berganti dengan sweater berbulu warna coklat muda, entah punya siapa. Seingatku aku tidak punya pakaian sebagus ini. Aku menyilangkan tanganku di depan dada dan memberikannya tatapan 'Dasar mesum'.

Chanyeol memijat pelipisnya sebentar, "Bajumu kotor semua, kena cairan aneh warna pink. Itu sweaterku." Salah siapa bajuku bisa kotor? "Dan ada pecahan botol di dalam tasmu. Aku sudah membersihkan semuanya." Nah, itu salah siapa juga?

"Aku minta maaf. Itu pasti obatmu. Tapi aku malah membuatnya pecah." Chanyeol mengambil handuk kecil itu dari keningku dan menyentuh keningku dengan punggung tangannya. "Demam mu sudah turun. Kau mau makan?" Aku menggeleng. Perutku masih kram, bukan waktu yang tepat untuk menelan apapun saat ini. "Kau tidak lapar? Atau mau kubuatkan susu hangat?" Berhentilah bersikap baik padaku, Park. Kau jadi terlihat semakin menyebalkan.

Chanyeol kembali merapatkan selimut yang sempat kusibak tadi. "Sudah jam berapa?" Tanyaku dengan suara serak. "Hm? Sudah hampir jam 11 malam. Temanmu yang pendek itu bersikeras mau menunggumu, akhirnya dia ketiduran di depan tenda dan jadi merepotkan temanku. Kai bilang walaupun tubuhnya pendek tapi ternyata kalau digendong berat juga." Chanyeol sedikit terkekeh saat mengatakannya.

Situasi sempat hening selama beberapa menit. Aku yang masih terlalu lemas untuk bicara, dan Chanyeol yang kehabisan topik pembicaraan. Saat aku memejamkan mata, kudengar suara petikan gitar. Aku kembali membuka mata dan mendapati Chanyeol sedang bermain gitar di sampingku.

"Nae nargeun gitareul deureo haji mothan gobaegeul
Hogeun gojipseuresamkin iyagireul
Norae hana mandeun cheok jigeum malharyeo haeyo
Geunyang deureoyo I'll sing for you"

Suaranya yang berat terkesan mendominasi malam yang hening dan gelap. Aku memerhatikannya dengan mata sayu. Di satu sisi, aku merasa nyaman dan mengantuk. Di sisi lain, aku tidak ingin melewatkan momen ini.

"Neomu saranghajiman saranghanda mal an hae
Eosaekhae jajonsim heorak an hae
Oneureun yonggi naeseo na malhal tejiman
Musimhi deureoyo I'll sing for you"

Kami saling bertatapan, hanyut dalam pikiran masing-masing. Aku yang terkesima dengan suaranya, dan Chanyeol yang fokus dengan permainan gitarnya. Tanpa bisa dilawan, rasa hangat menjalar di hatiku. Saat itu aku jatuh cinta.

"The way you cry, the way you smile
Naege eolmana keun uimiin geolkka?
Hagopeun mal, nohchyeobeorin mal
Gobaekhal tejiman geunyang deureoyo
I'll sing for you, sing for you
Geunyang hanbeon deutgo useoyo"

Cinta pertamaku. Aku jatuh cinta pada orang yang salah. Park Chanyeol, kenapa kau melakukan ini padaku? Kau dekat, tapi aku tak sanggup menggapaimu. Kau sebenarnya terlalu jauh untukku. Kenapa orang sepertiku bisa jatuh cinta padamu? Aku yang dibuang sejak bayi, dikucilkan dari dulu sampai sekarang, harus berjuang untuk hidupku sendiri... Kenapa harus mencintai orang yang hidupnya nyaris sempurna seperti dirimu?

"Heh, aku tahu aku tampan. Tapi matamu bisa loncat keluar kalau kau terus menatapku seperti itu."

"T-tidak kok. Siapa bilang kau tampan?" Aku berbalik memunggungi Chanyeol. Sejenak kulupakan rasa sakit di perutku. "Sudah ya. Jangan ribut. Aku mau tidur."

"Yah.. Padahal di suratmu kau bilang ingin melihatku bermain gitar."

"Sudah kubilang bukan aku yang menulis surat itu!"

"Hahaha iya, iya. Baiklah. Ngomong-ngomong, tubuhmu mulus juga."

"DIAM KAU!"


Kyungsoo dan Chen terus-terusan minta maaf karena sudah meninggalkanku sendirian di dalam hutan. Walaupun aku sudah bilang itu bukan salah mereka, tapi mereka terus bersikeras akan bertanggung jawab merawatku.

"Baekhyun-ah, kau tidak usah kemana-mana. Istirahatlah disini, oke?"

"Aku akan membawakan makanan untukmu. Kau mau makan apa? Katakan saja."

"Dia suka sosis. Cepat ambilkan sosis untuknya Chen!"

"Roger!"

Aku tersenyum melihat tingkah kedua temanku ini. Ah... Mereka bukan temanku, mereka sahabatku sekarang. Aku senang, orang yang peduli padaku bertambah selain Luhan. "Sudah kubilang aku baik-baik saja. Kalian berlebihan."

"Apanya yang baik-baik saja? Kau sampai jatuh dari atas pohon. Untung saja tangan atau kakimu tidak patah." Aku tidak bisa membedakan apa Kyungsoo sedang mendelik padaku, atau memang matanya selalu terlihat begitu.

"Atau lebih parahnya, gegar otak." Sambung Chen saat masuk ke dalam tenda, membawakan beberapa sosis panggang dan sandwich. Perutku masih kram, tapi cacing-cacing di perutku sudah memberontak minta diberi makan. Aku mengambil sepotong sandwich dan menyelipkan sosis panggang di dalamnya. Kyungsoo dan Chen terlihat senang sekali saat melihatku makan, walaupun tidak selahap kemarin.

"Chanyeol Sunbae marah sekali waktu tahu kau pingsan." Chen memeluk lututnya sambil memperhatikan aku makan. "Dia sampai mengeluarkan kata-kata kasar terus." Aku nyaris tersedak mendengarnya. "Chanyeol Sunbae menyalahkan semua orang, kau tahu. Dia bahkan menyalahkan Suho Sunbae sebagai penyelenggara acara ini."

"Setelah itu dia menyalahkan dirinya sendiri dan membanting headset nya."

"Untung saja Minho Sunbae bisa memperbaikinya."

Untung masih bisa diperbaiki. Kalau tidak, sia-sia perjuanganku memanjat pohon untuk mendapatkan headset itu. "Jadi mana headset nya sekarang?"

"Tadaaa!" Chen memasangkan headset itu ke telingaku. Aku mengelusnya pelan, sudah tidak terlalu mulus. Aku bisa merasakan lecet di beberapa sisinya. Tapi suaranya masih bagus.

Tiba-tiba tenda terbuka, Chanyeol masuk sambil membawa sebuah mangkuk yang mengepulkan asap hangat. "Keluar." Perintahnya pada Kyungsoo dan Chen, yang langsung dituruti mereka. "Ck, silau sekali. Turunkan penutup tendanya juga."

Aku cepat-cepat melepaskan headset yang terpasang di telingaku dan menyimpannya di balik ransel. Chanyeol menyipitkan matanya, sepertinya dia tahu tapi dia tidak mengatakan apa-apa.

"Makan." Chanyeol duduk di hadapanku dan menyodorkan mangkuk yang ternyata berisi bubur itu. "Aku sudah kenyang. Tadi Kyungsoo dan Chen-"

"Mana ada orang sakit makannya sosis panggang?!" Aku sedikit tersentak saat Chanyeol membentakku. Kenapa sih dia mudah sekali marah? Melihat raut terkejutku, Chanyeol menghela nafas dan melembutkan suaranya. "Orang sakit makannya bubur." Takut Chanyeol marah lagi, aku segera mengambil mangkuk itu dan menyendokkan bubur ke mulutku. Chanyeol terus menatapku, nyaris tidak berkedip. Setelah makan beberapa suapan, aku menyodorkan kembali mangkuk itu padanya. "Aku sudah kenyang."

"Hm." Chanyeol hanya bergumam singkat dan meletakkan mangkuk itu di depan tenda. "Mereka sedang main apa di luar?" Jujur saja aku bosan di dalam tenda terus. Aku bisa mendengar pekik kegirangan dari arah luar, sepertinya mereka sedang main permainan yang seru. "Permainan yang membosankan. Kau tidak usah ikut, istirahat saja." Chanyeol memaksa tubuhku untuk berbaring, dan ikut membaringkan tubuhnya di sampingku.

"Akh..." Aku meringis pelan saat kram di perutku kambuh, mungkin karena Chanyeol memaksaku berbaring tiba-tiba. "Apa? Dimana yang sakit?" Chanyeol mengangkat kepalanya dan menyentuh lenganku. "Perutku... Sakit..."

Tanpa kusangka Chanyeol meletakkan tangannya di perutku dan mengelus perutku perlahan. Darahku langsung berdesir, aku yakin wajahku sudah semerah kepiting rebus sekarang, bahkan merahnya pasti menjalar sampai telinga. Aku langsung memunggunginya untuk menyembunyikan wajahku. Tapi tidak bisa kupungkiri, sentuhannya di perutku membuatku merasa nyaman. Perlahan rasa kram di perutku berkurang. "Aku sudah baik-baik saja sekarang."

"Hei, kubilang aku sudah baik-baik saja. Kau dengar tidak-?" Aku berbalik, dan mendapati wajah Chanyeol yang sedang tertidur, entah sejak kapan. Memandang wajahnya dari jarak sedekat ini membuat jantungku hampir meledak. Dia tampan. Itu hal mutlak yang tak bisa dipungkiri oleh siapapun.

Tanpa kusadari, tanganku bergerak mengelus wajahnya, menyusuri setiap lekuk wajahnya dengan telunjukku. Park Chanyeol, bolehkah aku mencintaimu? Kau tidak perlu membuka hati untukku, karena aku tahu dimana tempatku berpijak. Kau hanya perlu mengijinkanku untuk mencintaimu.

Aku menyentuh kelopak matanya yang terpejam. Mata ini selalu menatap siapapun dengan tajam.

Aku menyentuh hidungnya yang mancung. Aku bersyukur sempat mengurungkan niat pernah ingin mematahkan hidungnya dulu.

Menuruni batang hidungnya, telunjukku sampai di bibirnya yang tebal. Siapa orang beruntung yang pernah menciumnya? Atau jangan-jangan... Dia belum pernah berciuman? Pipiku memanas membayangkannya. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak. Kalau dia belum pernah berciuman, dan aku menciumnya sekarang, berarti ciuman pertamanya untukku? Ciuman pertamaku juga untuknya. Aku menepuk-nepuk pipiku pelan. Tapi bagaimana kalau seandainya ini bukan ciuman pertamanya? Aku yang rugi, kalau begitu.

Aku memandangi wajah tampannya, menimbang-nimbang apakah harus kucium dia atau tidak. Situasinya tidak terlalu mendukung, sebenarnya. Ini masih terang, banyak orang berkeliaran di luar. Bagaimana kalau saat aku menciumnya ada yang masuk ke tenda tiba-tiba? Tapi aku tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Terlepas dari dia sudah pernah ciuman atau tidak, yang pasti aku ingin melepas ciuman pertamaku dengannya, cinta pertamaku. Setidaknya walaupun cintaku tidak kesampaian, aku pernah meninggalkan jejak sebagai orang yang diam-diam mencintainya.

Tanpa berpikir lebih panjang lagi, aku memejamkan mataku erat dan menempelkan bibirku di bibirnya. Hangat. Bukan hanya pipiku yang panas sekarang, tapi sekujur tubuhku pun panas. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat, meremas sweaterku. Aku tidak melakukan apapun, hanya menempelkan bibirku padanya.

3 detik...

5 detik...

10 detik...

Aku melepas ciumanku dan membuka mata. "Kau seperti ikan mati." Mataku bertemu dengan Chanyeol, dia sedang menatapku datar tanpa ekspresi. Ya Tuhan! Aku tersentak dan menggeser tubuhku menjauhinya. Aku tertangkap basah, mencium seorang Park Chanyeol! Dan yang lebih parahnya lagi, yang menangkap basah itu orangnya langsung! "M-maaf... Maaf..." Cicitku. Apa setelah ini Chanyeol akan meninjuku sampai gigiku copot?

Chanyeol menarik tanganku agar semakin merapat ke tubuhnya. Aku refleks memejamkan mataku, terlalu takut melihatnya. Kalian tahu kan, bagaimana kalau dia sudah marah?

"Mmh..?" Aku membuka mataku sedikit saat kurasakan sesuatu yang lembut menekan bibirku. "Diamlah, begini caranya berciuman." Chanyeol memegangi pergelangan tanganku dan melumat bibirku, lembut tapi menuntut. "Mmf-" Aku berusaha mengalihkan wajahku, tapi Chanyeol terlalu memaksa. Dia menghisap bibir bawah dan atasku bergantian. Astaga. Otakku blank. Aku kembali memejamkan mataku saat tangan Chanyeol menyusup masuk ke balik sweaterku.

Ya Tuhan.

Apa aku akan melepas keperjakaanku dengannya juga?

Disini?

Sekarang?

TBC...

Annyeong, chingu! Waaaa maaf ya, sejujurnya aku nggak sanggup ngetik kelanjutannya. Hiks :''

Thanks untuk kalian semua yang udah nyempatin mampir dan special thanks untuk yang udah ninggalin jejak~

Chapter selanjutnya, Lemon or no? Tapi mungkin terlalu cepat ya kalau ChanBaek langsung ke tahap 'itu' *gaahhhh

Review juseyooo~~