Chapter 4

Tidak. Ini tidak benar. Aku tidak boleh membiarkannya bertindak lebih jauh. Maksudku- Memang benar aku mencintainya, aku ingin ciuman pertamaku dengannya, tapi untuk yang lebih dari itu aku belum siap! "Mmhh-" Aku berusaha mendorong dada Chanyeol, tapi cengkramannya di pergelangan tanganku malah semakin erat. Saat kurasakan stok oksigenku mulai menipis, aku melakukan hal nekat yang tak terduga. Aku menggigit bibir Chanyeol sampai berdarah.

"Argh..!" Chanyeol melepas ciumannya dan mengerang kesakitan. Aku beringsut mundur, mungkin setelah ini Chanyeol akan balas meninjuku dan merontokkan gigi-gigiku. Tapi ternyata tidak. Dia hanya mengerang sebentar sebelum akhirnya kembali tidur dengan nyenyak, seperti tidak terjadi apa-apa.

Aku menyentuh pundaknya pelan. Chanyeol tidak bergeming, hanya terdengar suara dengkuran halus. Astaga. Dia benar-benar tertidur. Ternyata selain menyebalkan dia juga aneh. Mudah tertidur, terbangun, lalu tertidur lagi. Aku melihat darah di bibirnya. Ada sedikit perasaan bersalah karena sudah menggigitnya, padahal aku yang mulai sejak awal. Aku ingin menyeka darah di bibirnya tapi takut dia terbangun lagi.

Akhirnya aku memutuskan keluar dari tenda dan meninggalkan Chanyeol sendiri. Aku ingin menghubungi Luhan, tapi signal disini jelek sekali. Jangankan menelfon, untuk mengirim pesan pun tidak bisa. Aku jadi ingat masa-masa saat Luhan baru meninggalkan panti asuhan dan pergi ke Seoul. Saat itu aku belum punya ponsel. Hampir tiga bulan lamanya kami tidak berhubungan. Sampai akhirnya Luhan mengirim uang pada pengurus panti asuhan dan aku dibelikan ponsel ini. Kalau mengingat masa-masa di panti asuhan, ada senangnya, ada sedihnya juga. Tapi lebih banyak kenangan buruknya sih.

Aku melihat sekeliling. Sudah sepi, kebanyakan sudah masuk ke tenda masing-masing dan beristirahat. Hanya ada beberapa mahasiswa dari kelompok lain yang sibuk berfoto. Sayang sekali ponselku tidak ada fitur kameranya, aku jadi tidak bisa mengabadikan momen-momen menyenangkan disini.

Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, "Baekhyun-ah!"

Aku sedikit meringis, kram di perutku memang sudah tidak separah semalam, tapi tetap saja nyeri kalau ada pergerakan tiba-tiba seperti ini. "Kau sudah baik-baik saja kan? Kami semua khawatir padamu." Tao menyandarkan dagunya di pundakku. Aku menjawabnya dengan anggukan dan senyuman. "Bahkan Jennie pun sampai terdiam saat melihatmu dibopong Kyungsoo dan Chen." Aku memutar mataku bosan, Jennie... Cantik tapi berbisa.

"Oh ya, kau tidak boleh melewatkan acara terakhir kita nanti malam. Semua orang diwajibkan berkumpul. Kau harus datang, oke?"


Hari mulai gelap. Para senior laki-laki sibuk menyalakan api unggun, dan kami disuruh duduk membentuk lingkaran besar. Aku duduk diantara Kyungsoo dan Chen. Malam ini lebih hening dari semalam, entah karena semua orang sudah kelelahan, atau sedih karena ini malam terakhir perkemahan.

Aku belum melihat sosok Chanyeol daritadi. Sepertinya dia belum bangun. Aku ingin membangunkannya, tapi mengingat kejadian tadi siang, aku jadi tidak berani.

"Baekhyun-ah, kau sedang cari kerja kan?" Kyungsoo menyenggol pundakku pelan. "Iya. Kenapa?"

"Kau mau coba lamar di tempatku? Kebetulan teman kerjaku mau resign, dan sedang cari penggantinya sekarang. Aku baru dapat infonya tadi sore."

"Benarkah? Aku mau! Dimana?"

"Di SkyBucks. Kau tahu kan, coffee shop yang di dekat kampus."

Tentu saja aku tahu. Siapa yang tidak tahu SkyBucks? Coffee shop terkenal yang tersebar dimana-mana. Setiap kali pergi dan pulang kampus, aku selalu melihat coffee shop itu ramai pengunjung. Aku merasa beruntung sekali kalau bisa bekerja disana. Letaknya strategis, dekat dengan rumah dan kampus. Satu kerjaan dengan Kyungsoo pula! Kurang apa lagi coba?

"Memang capek karena selalu ramai, apalagi kalau weekend. Tapi ya gajinya sesuai lah." Kyungsoo merangkul pundakku, "Lamarannya titip saja padaku."

"Ah... Aku juga ingin bekerja dengan kalian~~" Aku terkikik melihat rengekan Chen. Yang kutahu, Chen itu sibuk dengan kegiatan lesnya sampai malam, makanya dia tidak punya waktu untuk bekerja. Ya lagipula orangtua nya masih sanggup membiayai semua keperluannya.

Perhatianku teralih saat melihat penutup tenda dibuka. Sosok yang kucari daritadi keluar dari dalam tenda dan langsung bergabung dengan kami. Dia duduk di sebelah Kai, tidak jauh dari tempat ku duduk. "Sialan. Bibirku berdarah, entah kenapa." Aku bisa mendengar suaranya yang menggeram marah.

Aku melipat kaki ku dan menyembunyikan wajahku. Apa dia benar-benar tidak ingat kejadian tadi pagi? Aku kembali mengangkat wajahku saat Chen menyodorkan beberapa tangkai sosis panggang padaku. Sesekali aku melirik Chanyeol, wajahnya masih terlihat kesal. Apalagi saat Kai menyodorkan ramyeon cup padanya. "Argh… Breng-!" Chanyeol nyaris memaki Kai saat kuah panas ramyeon menyentuh luka di bibirnya. Saat itulah pandangan kami bertemu. Aku cepat-cepat mengalihkan wajahku.

"Hei, berikan sosismu. Kau makan ramyeon ku. Kita barter saja." Sebenarnya aku tidak rela memberikan sosis favoritku padanya, tapi mengingat siapa penyebab luka di bibirnya membuatku merasa bersalah sekaligus tak tega. Akhirnya dengan berat hati aku menukarkan sosis panggangku dengan ramyeon cup miliknya.

"Perhatian! Perhatian! Sambil menyantap makan malam kalian, aku ingin menyampaikan beberapa hal." Seperti biasa Suho berdiri di tengah-tengah lingkaran sambil memegang sepotong roti selai. Di sebelahnya ada Xiumin yang berjongkok.

"Ini malam terakhir kita. Besok pagi kita kembali ke Seoul. Walaupun acara ini tidak terlalu menarik karena mendadak dan kurangnya persiapan, tapi kuharap kalian bisa menikmatinya."

"Nah malam ini aku mempersilahkan kalian untuk melakukan apa saja. Yang ingin bernyanyi, boleh. Atau mungkin kalian ingin memperkenalkan diri dan menceritakan tentang kisah yang menarik dalam hidup kalian. Kalian juga bisa mengungkapkan perasaan kalian disini."

Chanyeol langsung mengangkat tangannya dan berdiri. Hal itu sukses menarik perhatian kami semua, bahkan Suho pun terlihat bingung dibuatnya. "Aku ingin bicara. Ah, lebih tepatnya bertanya."

"Oh, baiklah. Semuanya dengarkan dengan baik ya." Suho duduk di samping Xiumin dan membiarkan Chanyeol berdiri seorang diri. Jujur saja itu membuatnya semakin mencolok karena tinggi badannya yang diatas rata-rata itu.

"Tadi selama aku tidur siapa yang masuk ke tendaku?"

"Baekhyun, Sunbae. Aku melihatnya keluar dari dalam tenda. Selain itu aku tidak melihat siapapun yang masuk ke tendamu." Astaga, dari sekian banyak orang kenapa harus Jennie yang menjawab? Memang jawabannya benar, tapi kalau dia yang bicara tetap saja kesannya buruk.

"Sebenarnya kau ingin bilang apa sih? Langsung ke intinya saja." Kris Wu menepuk pipi dan lengannya bergantian. Sepertinya dia ingin acara ini segera berakhir supaya dia bisa masuk ke tendanya dan menghindari serangan para nyamuk.

"Bibirku berdarah. Aku ingin tahu siapa pelakunya."

"Mungkin kau mengigau dan menggeretakkan gigimu sampai bibirmu berdarah." Xiumin menjawab pertanyaan Chanyeol sambil menggigiti kukunya, tapi sepertinya dia masih belum puas. Kali ini Kai yang menimpali, "Tidak mungkin kan kau menuduh Baekhyun meninjumu saat kau sedang tidur. Kalau memang iya, kau pasti sudah terbangun dan balas meninjunya." Setelah itu Kai tertawa terbahak-bahak. Entah dimana letak kelucuannya, hanya Kai dan Tuhan yang tahu. Akhirnya Chanyeol menyerah dan kembali duduk, meskipun raut wajahnya masih menunjukkan rasa penasaran.

Situasi hening sejenak. Sebagian masih sibuk menghabiskan makan malamnya. Sampai akhirnya Jennie mengangkat tangannya. Tolonglah, siapapun asalkan jangan dia.

"Aku mau bertanya. Apa kalian pernah dengar tentang laki-laki yang punya rahim?"

DEG!

Apa dia sedang menyindirku? Tapi dia tahu darimana tentang keistimewaanku ini?

"Maksudmu apa?" Sunny menghentikan acara makannya dan menatap Jennie dengan serius. "Kau terlalu banyak berkhayal. Mana mungkin laki-laki punya rahim?"

"Sunbae, aku serius. Ayahku yang menceritakan ini padaku. Dulu teman ayahku ada yang punya keistimewaan itu, tapi sayangnya dia sudah meninggal sekarang."

Keringat dingin mulai membasahi dahiku. Telapak tanganku juga berkeringat. Aku tidak ingin mereka mengetahui tentang ini. Cukup aku diperlakukan seperti 'makhluk aneh' di panti asuhan. Aku belum siap mendapat perlakuan yang sama disini. Tujuanku kesini untuk memulai hidup baru. Tapi kalau identitasku terbongkar, lebih baik aku mati saja.

"Kenapa kita jadi membahas hal-hal aneh begini sih?" Suho memijat pelipisnya. Mungkin dia tak habis pikir, acara malam ini seharusnya seru karena ini malam terakhir perkemahan sebelum kembali ke Seoul. Tapi malah pertanyaan-pertanyaan aneh yang didapat. Mulai dari Chanyeol yang mencari pelaku yang menyebabkan bibirnya berdarah, dan sekarang Jennie yang membahas tentang laki-laki yang punya rahim. Tunggu, kok aku merasa semua itu mengarah padaku ya?

Akhirnya Suho mengijinkan kami masuk ke tenda masing-masing dan beristirahat. Saat aku masuk ke dalam tenda, Chanyeol sedang duduk sambil mengatur senar gitarnya. Dia melirikku sekilas. "H-hei..."

"Hm.."

Aku berbaring di sebelahnya. Hening. Aku hanya memperhatikannya dalam diam. Ingin rasanya aku mendengar dia bernyanyi seperti semalam, tapi apa hakku berani membuat permintaan seperti itu. Kunyamankan kepalaku dan mulai memejamkan mata.

"Kau sudah mau tidur?" Aku kembali membuka mataku saat kudengar suara Chanyeol. "Tidak juga. Kenapa?"

"Ada yang ingin kubicarakan." Sorot matanya terlihat serius. Dia meletakkan gitarnya dan menarik tanganku agar duduk berhadapan dengannya. Bagus, Park Chanyeol. Jantungku jadi berdetak tidak karuan sekarang.

"A-apa?"

"Kau ingin pekerjaan tidak?"

"Aku memang sedang mencari pekerjaan."

"Kalau begitu bekerja lah padaku."

"Tapi aku sudah janji akan menitipkan lamaranku pada Kyungsoo. Aku akan bekerja di SkyBucks bersamanya."

Chanyeol mengusap wajahnya gusar. "Aku akan menggajimu dua kali lipat."

"Kau kenapa sih? Kenapa mendadak memintaku bekerja denganmu?"

"Aku... Aku tidak tahu. Aku hanya ingin." Chanyeol terus menatapku, aku tidak mengerti arti tatapannya itu. "Pekerjaanmu tidak berat, aku janji. Kau hanya perlu bekerja seperti Luhan. Tinggal bersamaku, mengurus segala keperluanku."

"Jangan khawatir. Ada pembantu yang membersihkan rumah, mencuci dan menyetrika pakaian."

Aku menunduk. Aku ingin menerimanya. Maksudku, kalau kalian di posisiku, kalian pasti tidak ada alasan menolak. Tinggal bersama Chanyeol, digaji dua kali lipat, pekerjaannya juga tidak berat. Mungkin kalau aku bilang pada Kyungsoo dia juga akan mengerti. Tapi aku takut... Aku takut jatuh cinta lebih dalam lagi pada seorang Park Chanyeol.

"Aku akan memikirkannya." Chanyeol menahan tanganku saat aku hendak berbaring. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak jadi. "Baiklah."

Malam itu kami tidur sambil saling memunggungi satu sama lain. Aku tidak bisa tidur nyenyak, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk menolak tawaran Chanyeol. Entahlah, mungkin cuma perasaanku saja, tapi aku bisa merasakan sorot kesepian di matanya saat memintaku tinggal bersamanya dan mengurus segala kebutuhannya, layaknya Luhan yang bekerja pada Sehun.


Beberapa hari setelah itu Chanyeol terus membuntutiku. Dia terus memaksaku bekerja padanya, walaupun aku sudah puluhan kali menolak tawarannya tersebut. "Dengar ya, Park. Aku sudah resmi bekerja di SkyBucks mulai hari ini. Jadi kau tidak bisa memaksaku."

"Katakan berapa gajimu disana? Aku akan menggajimu-"

"Haish! Hentikan!" Aku berbalik dan menghentakkan kakiku kesal. Kenapa sih dia keras kepala sekali? "Kenapa harus aku? Hah?"

"Kenapa kau menolakku? Memangnya kau pikir seberat itukah bekerja padaku?"

Sialan. Dia membalas pertanyaanku dengan pertanyaan juga. Karena aku tidak mau jatuh cinta lebih dalam padamu! "Karena aku tidak mau. Dan kau tidak punya hak memaksaku."

Kyungsoo berlari kecil menghampiriku yang masih berdebat dengan Chanyeol. "Sunbae, sudahlah. Ini pilihan Baekhyun. Biarkan dia bekerja dengan tenang. Ayo, Baekhyun. Jangan sampai telat di hari pertamamu bekerja." Kyungsoo menarik tanganku. Kami segera pergi meninggalkan kampus dan mengabaikan Chanyeol yang berteriak-teriak memanggil namaku.

Aku suka suasana di SkyBucks. Walaupun ramai pengunjung, tapi tetap terkesan tenang dan damai. Kyungsoo juga sabar sekali saat mengajariku. "Ini namanya Macadamia Cocoa Frappuccino, best seller disini."

"Kalau yang ini namanya Iced Matcha and Espresso Fusion. Matcha nya tidak boleh terlalu banyak, karena bisa mendominasi rasa kopinya. Jadi harus 50:50, supaya rasanya sebanding."

Aku mencatat apa saja yang dikatakan Kyungsoo di notes kecil, banyak yang harus diingat. Aku tidak boleh ceroboh karena gajiku bisa dipotong setiap kali aku membuat kesalahan. "Disini kita juga menyediakan sandwich. Best seller nya ini, Tuna Cheese Whole Wheat Panini. Kadang-kadang ada yang request tidak mau pakai paprika, bisa diganti dengan tomato sauce."

Sebenarnya aku bingung. Tidak ada satupun yang menempel di otakku. Jangankan cara membuat, namanya saja panjang dan susah diingat. Aku menggaruk pipiku saat Kyungsoo masih terus menjelaskan. "Ah, kau pasti bingung. Pelan-pelan saja belajarnya. Hari ini kau fokus dengan yang Macadamia Cocoa Frappuccino dan Tuna Cheese Whole Wheat Panini dulu. Besok kita belajar yang lain."

Hari ini sampai seminggu kedepan aku hanya memperhatikan Kyungsoo membuat pesanan, selebihnya aku memegang bagian kasir dan membersihkan meja. Mungkin Kyungsoo belum berani membiarkanku langsung turun tangan membuat pesanan, karena kalau terjadi kesalahan pembeli disini berhak komplain dan mendapatkan minuman gratis. Ditambah lagi bahan yang digunakan disini semuanya diimport dari luar negeri. Bisa rugi besar nanti, bahkan bisa-bisa gajiku pun tak cukup untuk membayarnya.

SkyBucks buka 24 jam, tapi aku dan Kyungsoo cuma mengambil shift kerja sampai jam 9 malam. "Hari pertama pasti lelah kan?" Tanya Kyungsoo sambil meninju pundakku pelan. "Ya lumayan. Tapi menyenangkan kok."

"Pelan-pelan saja belajarnya. Dulu aku butuh waktu tiga bulan untuk menghafal nama dan belajar membuatnya."

Setelah itu aku dan Kyungsoo berpisah di persimpangan jalan. Aku berniat akan mentraktirnya saat menerima gaji pertamaku. Ah, Chen dan Luhan juga, tentu saja! Ngomong-ngomong tentang Luhan, dia sangat tidak setuju saat kubilang Chanyeol menawarkan pekerjaan padaku. Luhan bilang pekerjaannya memang tidak berat dan gajinya lumayan, tapi ada satu alasan kuat yang membuatnya menentang keras pekerjaan itu. 'Kau tidak perlu tahu. Pokoknya tidak boleh'. Itu yang dikatakan Luhan padaku. Aneh kan? Dia sendiri bekerja pada Sehun, lalu kenapa aku tidak boleh bekerja pada Chanyeol? Yah... Bukan berarti aku ingin bekerja padanya sih. Aku cuma penasaran kenapa Luhan melarangku melakukan pekerjaan yang sama dengannya.

Kalau dipikir-pikir memang pekerjaannya itu mengharuskannya menuruti semua perkataan Sehun. Bahkan Sehun sampai punya hak melarangnya pergi kemana-mana, dan tega menguncinya di dalam kamar. Tapi Chanyeol dan Sehun kan berbeda. Aku tidak mengatakan Chanyeol lebih baik dari Sehun ya. Lagipula aku dan Luhan juga berbeda. Luhan bisa saja takut dan menuruti semua perintah Sehun. Aku? Coba saja si tiang listrik itu berani mengurungku seperti itu, kalau tidak mau pintunya kujebol habis.

Tapi ya sudah lah. Yang penting sekarang aku sudah punya pekerjaan, walaupun gajinya tidak setinggi yang ditawarkan Chanyeol, setidaknya cukup untuk biaya hidupku dan masih bisa kusisakan untuk menabung. Ambil sisi positifnya saja. Aku bisa belajar membuat kopi dan berkenalan dengan orang banyak.

Sesampainya di rumah aku langsung mandi dan makan. Oh ya, aku belum memberitahu Luhan tentang kejadian yang menimpaku di perkemahan, saat aku jatuh dari pohon dan blablabla. Aku tidak berniat memberitahunya juga. Aku tidak mau dia jadi khawatir.

Luhan bilang dia akan sibuk sampai seminggu ke depan karena Sehun sedang mempersiapkan diri untuk olimpiade. Sebenarnya menurutku aneh, Sehun yang mau lomba tapi Luhan yang sibuk. Tapi ya sudahlah, mungkin memang sudah begitu pekerjaannya.

Drrt... Drrt...

Park Chanyeol. Haish! Kenapa dia menelfonku malam-malam begini? Tidak tahu orang capek apa? Yah kuakui sih, ada sedikit rasa senang saat dia menelfonku, cuma sedikit loh ya. Bagaimanapun juga dia kan cinta pertamaku. Tapi tetap saja rasa kesal terhadapnya lebih mendominasi.

"Halo." Aku menjawab panggilannya dengan ketus.

"Hm.. Ini aku, Chanyeol."

"Iya, iya. Sudah tahu. Ada apa menelfonku malam-malam begini?"

"Bagaimana hari pertamamu bekerja?"

Blush. Pipiku memanas mendengar pertanyaannya. Apa-apaan dia sok perhatian begitu?

"B-biasa saja."

"Capek?"

"Ya begitulah. Kau kan tahu sendiri bagaimana ramainya SkyBucks." Aku menunduk, memainkan ujung kaus yang kupakai. Hei, bukankah kami terlihat seperti sepasang kekasih sekarang?

"Nah kalau begitu bekerja padaku. Kujamin tidak akan capek."

Sialan. Seharusnya sudah kuduga dari awal tujuannya menelfonku apa. Aku jadi menyesal sudah membayangkan yang tidak-tidak. "Tidak. Kubilang tidak, ya tidak. Kau tidak paham bahasa manusia ya?" Belum sempat Chanyeol membalas ucapanku, aku sudah memutuskan sambungan pembicaraan kami. Sekalian kucabut baterai ponselku supaya dia tidak bisa menghubungiku lagi, atau mengirim pesan. Dasar manusia menyebalkan. Kutinggalkan ponselku yang mati di atas meja makan dan beranjak menuju kamar. Aku harus segera mengistirahatkan jiwa dan ragaku.


Besoknya, kupikir hariku akan tenang karena sejak pagi Chanyeol tidak menampakkan batang hidungnya di kampus. Baguslah. Mungkin dia juga sudah menyerah dan mencari orang lain untuk menggantikanku.

Tapi ternyata ketenangan itu hanya berlangsung dari pagi sampai pulang kuliah. Buktinya dia muncul lagi di hadapanku sekarang, di SkyBucks, tempatku bekerja. Dia tidak memaksaku seperti sebelumnya, mungkin dia tahu aku sedang sibuk melayani banyaknya pengunjung hari ini. Dia hanya duduk di dekat jendela sambil menikmati segelas Teavana Iced Shaken Lemonade Tea bersama Kai. Kalau tidak memikirkan gajiku yang terancam akan dipotong, aku pasti sudah memasukkan perasan lemon banyak-banyak ke minumannya tanpa sepengetahuan Kyungsoo.

Oke, mungkin kalian menganggapku aneh. Aku menyukai Chanyeol, tapi di saat bersamaan aku juga membencinya. Bukan membenci dalam artian dendam atau apa. Aku hanya sensitif kalau sudah menyangkut tentang dirinya. Bawaannya kesal dan emosi terus. Ah, tidak perlu dimengerti. Aku sendiri tidak mengerti diriku, apalagi kalian.

Setelah hampir 45 menit menunggu, akhirnya Chanyeol menyerah. Sepertinya Kai sudah tidak sabar menunggu lebih lama lagi dan merengek minta pulang. Chanyeol berjalan menuju kasir. Matanya tertuju padaku. Sudah kuduga. Kalau dia berani membuat keributan disini karena masalah 'Aku ingin kau bekerja padaku', kurasa aku punya hak untuk menyiramnya dengan air mendidih.

"Apa? Aku sedang sibuk. Cepat katakan."

"Oh, jadi begini caramu melayani pembeli? Kalau kulaporkan pada bosmu kau bisa dipecat. Apalagi kau masih baru disini."

Bibirku mengerucut sebal mendengar ucapannya. "Ya bagus kan kalau dia dipecat. Dia jadi tidak punya pilihan lain selain bekerja padamu." Bibirku semakin maju beberapa inchi mendengar perkataan Kai. Saat mereka tertawa rasanya ingin sekali aku menyiram Kai dengan susu supaya kulitnya jadi putih, dan mematahkan kaki Chanyeol supaya dia jadi pendek. Tapi aku memilih diam. Kurasa dia tidak main-main dengan ucapannya. Siapa tahu salah satu dari mereka kenal dengan pemilik SkyBucks, atau jangan-jangan mereka punya saham di SkyBucks, atau lebih parahnya ternyata mereka pemilik SkyBucks yang sebenarnya?! Anggaplah aku berlebihan, tapi bisa jadi kan? Mereka kan orang kaya.

"Haha.. Aduh perutku jadi sakit. Hei, apa best seller disini?"

"Macadamia Cocoa Frappuccino untuk minumannya, dan sandwich nya Tuna Cheese Whole Wheat Panini."

"Oke aku pesan keduanya."

"Harganya 13.000 won."

Setelah membayar, Chanyeol malah berjalan pergi sambil melambaikan tangannya. "Itu untukmu. Silahkan dinikmati."

Hah? Untukku? Aku tidak salah dengar kan? Aku bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih saking kagetnya. Kyungsoo terkikik dan menepuk-nepuk punggungku pelan. "Sudahlah. Terima saja. Kurasa Chanyeol Sunbae menyukaimu, kau tahu."

Chanyeol menyukaiku? Ah.. Ahahaha. Tidak mungkin. Itu sesuatu yang mustahil. Aku tahu dia melakukan ini supaya aku mau bekerja padanya. Hmph! Dipikirnya aku bisa terbujuk hanya karena hal beginian? Tidak akan, Park!

Entah sejak kapan aku sudah meminum kopi pemberian Chanyeol. Ngomong-ngomong rasanya enak sekali. Yah... Memang dasarnya sudah enak, ditambah lagi gratisan, enaknya jadi berkali lipat. Sering-seringlah mentraktirku, Park. Tapi tetap saja tidak akan bisa mengubah pendirianku.


Asal kalian tahu, Chanyeol semakin menjadi-jadi setelah hari itu. Aku bahkan sudah minta tolong Luhan, tapi Luhan tidak berani melakukan apa-apa karena Chanyeol itu sahabat dekatnya Sehun. Aku sampai ganti nomor, tapi entah bagaimana Chanyeol bisa mendapatkan nomor baruku dan terus menerorku setiap malam. Aku sampai tidak bisa tidur. Lihat, kantung mataku tercetak jelas sekarang. Aku jadi seperti orang penyakitan.

Kalau dipikir-pikir mungkin Chanyeol punya darah psikopat. Memangnya ada orang kaya dan tampan seperti dia, yang memaksa orang biasa sepertiku untuk bekerja padanya? Aku berani bertaruh, kalau dia memasang pengumuman di mading kampus tentang dirinya yang membutuhkan seorang asisten pribadi, tidak sampai 15 menit pasti orang-orang sudah mengantri di depan kelasnya. Kyungsoo dan Chen yakin kalau Chanyeol terobsesi padaku, tapi memangnya apa yang spesial dari diriku?

Seperti sekarang, aku sampai tidak berani keluar kelas. Untung saja Kyungsoo dan Chen bersedia membelikan makanan untukku. Aku juga sudah mengingatkan mereka, kalau Chanyeol tanya keberadaanku katakan 'Baekhyun hari ini tidak masuk karena sakit'.

Dan kesalahan besar. 10 menit kemudian Chanyeol menggebrak pintu kelasku, "BYUN BAEKHYUN!"

Dia menyuruh semua orang keluar, dan menutup pintu kelas sebelum menghampiriku. "Kau ini apa-apaan sih? Yang barusan tadi sudah keterlaluan, Park!" Aku bisa melihat sorot marah di matanya, dan itu juga memancing emosiku sampai ubun-ubun. Memangnya dia saja yang bisa marah? Lagipula yang lebih berhak marah disini itu aku, bukan dia!

Chanyeol menarik tanganku dengan kasar, memaksaku bangkit dari posisiku dan mendorong tubuhku ke tembok. Nafasnya tersengal karena menahan emosi. "Kau- Kau bahkan menghindariku sekarang?!"

"Kau yang selalu mengekoriku dan menggangguku! Kau membuat hidupku tak tenang!"

"Tapi bukan berarti kau bisa membohongiku!"

"Berhenti menggangguku, Park Chanyeol! Berhenti memaksaku! Kau tidak punya hak untuk melakukan semua itu!" Aku mendorong tubuhnya sekuat tenaga, tapi dia malah semakin menyudutkanku ke tembok.

"Kau tidak mengerti. Apa sesulit itukah bekerja padaku? Hah? Aku sudah bilang, aku akan menjamin segalanya lebih baik daripada Luhan!"

"Jangan bawa-bawa Luhan!"

"Aku sudah meminta padamu secara baik-baik. Aku nyaris memohon padamu. Kau senang melihatku rendah begini? Iya?"

Dia sudah gila. Benar-benar gila. Aku tak habis pikir dengan jalan pikirannya.

"Kalau begitu apa perlu aku pakai cara kekerasan, eoh? Aku bisa mencabut beasiswamu. Kalau perlu biar kau ditendang dari kampus ini. Aku punya kuasa untuk itu." Chanyeol meninju tembok di samping wajahku sebelum berlalu meninggalkanku.

Kakiku mendadak lemas. Hatiku sakit. Aku tidak mengerti dirimu, Chanyeol. Dua minggu yang lalu kau merawatku saat aku sakit. Beberapa hari lalu kau membelikanku minuman. Tapi sekarang kau bertindak seolah-olah siap membunuhku kapan saja. Aku kembali duduk di tempatku saat orang-orang mulai masuk ke kelas. Kyungsoo dan Chen menghampiriku, menanyakan apa yang terjadi barusan. Tapi lidahku kelu. Aku hanya memberi mereka gelengan kecil. Saat dosen masuk ke kelas, ketakutanku terwujud. Chanyeol benar-benar menunjukkan kuasanya atas kampus ini.

"Byun Baekhyun, silahkan keluar dari kelas. Kau tidak diijinkan mengikuti perkuliahan hari ini."

Chen mengangkat tangannya untuk membelaku, "Tapi dia tidak melakukan kesalahan, Seonsaengnim. Kenapa anda tiba-tiba menyuruhnya keluar dari kelas?"

"Aku juga tidak tahu. Ini perintah dari atasan. Byun Baekhyun, silahkan keluar sekarang. Kami tidak bisa memulai pelajaran kalau kau tidak keluar."

Aku menahan pundak Chen dan Kyungsoo saat mereka hendak protes. "Tidak apa-apa." Bisikku. Aku tidak mau mereka kena masalah juga. Dengan gontai aku mengambil tasku dan berjalan keluar kelas.

Yang pertama terlintas di benakku adalah Luhan. Aku ingin mengadu padanya, tapi aku tidak ingin Luhan khawatir. Dia sudah senang karena aku bisa menyusulnya ke Seoul dan mendapat beasiswa di sini. Aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaannya.

Setelah berjalan melewati beberapa koridor, kaki ku kembali lemas saat membayangkan bagaimana reaksi Luhan saat tahu tentang ini. Aku tidak sanggup berjalan lagi. Kududukkan diriku di bawah mading, tempat dimana aku bertemu dengan Kyungsoo dan Chen pertama kali. Air mata memenuhi pelupuk mataku, siap jatuh kapan saja.

Saat itulah seorang pemuda berkulit tan menghampiriku, sosok yang tidak asing. Kai, sahabat dari orang yang baru saja mengancamku. Ah, bukan hanya mengancam. Chanyeol sudah mewujudkan salah satu dari ancamannya itu. Kai membungkuk dan mengulurkan tangannya padaku.

"Kita perlu bicara. Ada yang ingin kukatakan."

TBC

Annyeong, chingu!

Uwaahh...! Mianhae, mianhaeee. Chapter ini gaje banget, aku nyadar. Jujur aja di pertengahan aku sempat ngestuck, jadinya mulai kacau dan terkesan ngasal. Tapi percaya deh, aku ngetiknya sepenuh hati kok :')

Sekali lagi maaf ya kalo chapter ini mengecewakan. Untuk chapter selanjutnya, I will try my best to create a better story yaaa. Jangan lupa ninggalin jejak ya readers sayang~

Review juseyooo~~