Chapter 5

Kai mengajakku ke atap, tempat yang paling tepat untuk bicara katanya. Karena tidak ada siapapun disana apalagi saat jam pelajaran berlangsung seperti ini. Selama beberapa menit kami tidak saling bicara. Mungkin Kai tahu perasaanku yang masih kacau, jadi dia memberiku waktu untuk menenangkan diri dulu.

"Kau pasti terkejut saat diusir dari kelas tadi." Aku menenggelamkan wajahku di antara lengan dan lututku yang ditekuk, tidak berniat merespon Kai. "Chanyeol punya kuasa disini, kakeknya salah satu orang yang berperan penting saat kampus ini dibangun. Tapi aku yakin Chanyeol tidak benar-benar ingin kau diusir seperti tadi, itu cuma emosi sesaat. Tahu sendiri lah emosinya itu tidak stabil."

Kubiarkan Kai bicara sendiri. Bukannya aku tidak mendengarkan, tapi aku juga tidak tertarik untuk meladeninya. "Kau tahu kenapa emosinya bisa tidak stabil seperti itu?" Tidak. Aku tidak mau tahu.

"Karena masa kecilnya tidak bahagia." Aku sedikit mengangkat wajahku, dan Kai tersenyum saat mata kami bertemu. Aku cepat-cepat menenggelamkan wajahku lagi. "Chanyeol anak tunggal, ayahnya punya perusahaan di luar negeri. Ibunya seorang mantan model. Bisa kau bayangkan?"

Omong kosong. Anak tunggal, terlahir di keluarga kaya, punya orangtua yang utuh. Apanya yang tidak bahagia? Coba bandingkan dengan masa kecilku di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtuaku, lebih menyedihkan masa kecil siapa?

"Ayahnya sering ke luar negeri untuk mengurus perusahaan mereka, ibunya juga lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman sosialitanya. Sejak kecil Chanyeol kurang mendapat kasih sayang."

Aku berusaha menahan diriku untuk tidak kasihan padanya. Bagaimanapun juga masa kecilku lebih menderita. Jadi cerita seperti ini tidak akan membuatku luluh. Kai menghela nafasnya saat aku tidak memberi respon apapun. Baguslah, supaya dia tahu kalau aku tidak peduli. Aku tidak membenci Chanyeol setelah semua yang dia lakukan padaku. Aku tidak mungkin membencinya, setelah hatiku memilih untuk jatuh cinta padanya waktu itu. Tapi diperlakukan seperti ini oleh seseorang yang kalian cintai rasanya lebih sakit. Terlebih dia melakukan ini atas dasar egonya sendiri.

"Puncaknya saat ayah Chanyeol selingkuh dengan sekertarisnya. Hal itu membuat ibunya depresi berat dan memutuskan untuk bunuh diri. Belum genap sebulan setelah kematian ibunya, ayahnya menikahi selingkuhannya dan pindah ke New York. Sampai sekarang. Tidak pernah kembali sekalipun untuk melihat Chanyeol. Dia hanya memenuhi kebutuhan finansial Chanyeol, itu saja."

Aku mengangkat wajahku dan menatap Kai tak percaya. "Bisa kau bayangkan? Chanyeol masih 7 tahun saat itu. Untung saja dia dirawat oleh neneknya."

Aku salah. Aku salah karena terlalu cepat menjudge Chanyeol. Nyatanya dia punya masa lalu yang benar-benar buruk, jauh lebih buruk dariku. Setidaknya apa yang kualami di panti asuhan tidak meninggalkan rasa trauma seperti yang dirasakan Chanyeol.

Sebenarnya tidak ada alasan aku menolak tawaran Chanyeol. Hanya karena perasaan bodoh ini yang membuatku takut untuk lebih dekat dengannya. Tapi setelah mendengar cerita Kai, pertahanan diriku runtuh. Chanyeol kesepian, sama seperti diriku. Mungkin dengan bekerja dengannya kami bisa saling menutupi rasa kesepian itu. Tidak, maksudku bukan ke arah yang romantis. Aku tidak mengharapkan apapun darinya. Sampai detik ini pun tidak pernah terlintas di benakku kalau Chanyeol akan membalas perasaanku.

"Minta alamat Chanyeol." Aku berdiri dan menepuk-nepuk celanaku. Keputusanku sudah bulat. Terserah lah orang mau mengecap aku plin plan, pengecut, atau apa lah itu. Aku tidak peduli. "Aku harus minta ijin ke Skybucks dulu, dan mengemasi pakaianku di rumah. Nanti malam aku akan langsung ke rumah Chanyeol."

Kai mendelikkan matanya tak percaya, "Tunggu, kau serius?" Aku menjawab pertanyaan Kai dengan anggukan mantap. "Anggap saja kau tidak pernah cerita apapun padaku, dan aku tidak tahu tentang masa lalu Chanyeol. Aku murni melakukan ini karena tawaran gaji yang tinggi dan pekerjaannya lebih mudah. Oke?"

"Oke. Aku juga bisa mati dihajar Chanyeol karena sudah menceritakan rahasianya." Setelah Kai memberitahuku alamat Chanyeol, kami berpisah. Aku segera menuju Skybucks, sementara Kai kembali ke kelas sebelum Chanyeol curiga dengan kepergiannya.


Aku tidak mengalami kesulitan saat minta ijin resign dari Skybucks. Mereka malah memberiku gaji penuh padahal aku belum genap sebulan bekerja disana. Kyungsoo juga tidak menahanku untuk tetap bekerja disini, dia menghargai keputusanku. Sekarang yang paling sulit adalah meminta ijin Luhan, karena sejak awal dia lah yang menentang habis-habisan.

Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore. Aku sudah selesai mengemasi barang-barangku. Sama halnya seperti saat pertama kali datang ke Seoul, barang bawaanku tidak banyak. Seharusnya aku sudah berangkat daritadi kalau saja Luhan tidak bersikeras menyuruhku menunggunya.

15 menit berlalu. Luhan masih belum menampakkan batang hidungnya. Hari juga semakin gelap. Bukannya aku tidak sabar menunggu, tapi aku sama sekali belum pernah ke rumah Chanyeol. Pasti makan waktu juga saat mencari rumahnya.

Sekitar jam setengah 7 barulah Luhan muncul di depan pintu. Wajahnya tidak menunjukkan senyum seperti biasanya. Tentu saja, Luhan masih tidak setuju dengan keputusanku ini.

"Hei, Luhan. Kau datang sendiri? Sehun mana?" Aku berusaha berbasa-basi saat Luhan duduk di hadapanku, masih dengan wajah kesalnya.

"Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran? Kupikir kau tidak mau bekerja dengannya." Luhan tidak main-main, dia sangat kesal saat ini. Aku jadi merasa tidak enak.

"Y-yah... Bagaimana lagi. Gajinya lebih tinggi, dan pekerjaannya juga lebih mudah." Aku mengusap tengkukku dengan canggung. Jangan sampai Luhan tahu kalau aku diusir dari kelas tadi siang, bisa-bisa dia beranggapan aku terpaksa menerima tawaran Chanyeol karena ancamannya itu.

"Aku tetap tidak setuju, Baekhyun."

"Kenapa? Kau harus memberitahuku alasannya apa. Kau melarangku sementara kau melakukan pekerjaan yang sama dengan Sehun."

Luhan mengusap wajahnya dengan gusar. Aku tahu dia kehabisan kata-kata, karena memang sejak awal dia tidak bisa memberikan alasan yang jelas kenapa aku tidak boleh melakukan pekerjaan yang sama sepertinya.

"Baiklah. Aku tidak akan melarangmu. Kau sudah dewasa, Baek. Kau bisa menentukan apa yang baik dan buruk untuk dirimu." Luhan menggeser kursinya mendekatiku. "Dan aku yakin ini keputusan terbaikmu." Kami saling bertatapan, Luhan memaksakan dirinya tersenyum tapi aku masih bisa melihat kekecewaan di matanya. "Ayo, aku dan Sehun akan mengantarmu ke tempat Chanyeol."


Chanyeol menyambut kedatangan kami dengan ekspresi yang sulit diartikan. Dia tidak mengeluarkan sepatah katapun, walaupun Sehun terus mengajaknya bicara. Chanyeol hanya merespon dengan gelengan atau anggukan kecil. Aku jadi ikut merasa canggung. Apa Chanyeol masih marah padaku? Atau jangan-jangan Chanyeol sudah berubah pikiran dan tidak mau mempekerjakanku lagi? Kalau iya, tamatlah riwayatku. Aku sudah mengundurkan diri dari Skybucks. Tidak mungkin kan besok aku memohon supaya diterima bekerja disana lagi. Kalau mencari pekerjaan baru pasti sulit.

Luhan sepertinya bisa membaca situasi yang awkward ini, dia berdiri dan mengajakku ke dapur. "Aku dan Baekhyun akan membuat makan malam."

Dapur Chanyeol luas dan tertata rapi. Saking rapinya aku sampai curiga kalau Chanyeol tidak pernah menginjakkan kakinya ke dapur. "Jangan dipikirkan. Mungkin Chanyeol cuma kaget melihat kehadiranmu yang tiba-tiba begini." Ujar Luhan sambil membuka kulkas. Kulkasnya cukup besar untuk orang yang tinggal sendiri.

"Lihat, tidak ada bahan makanan yang segar. Percuma punya kulkas sebesar ini." Luhan membuka pintu kulkas lebih lebar dan menunjukkan isinya padaku. Benar saja. Hanya terdapat beberapa butir telur, makanan olahan cepat saji seperti nugget dan sosis, botol air mineral, susu, dan beberapa kaleng soda. "Coba tanya mereka, mau makan nasi goreng tidak."

"Langsung masak saja, kenapa harus tanya?"

Setelah mengambil beberapa butir telur, Luhan menutup kulkas dan berbalik menghadapku. "Pekerjaannya tidak semudah yang kau bayangkan, kan? Sebelum melakukan apapun harus tanya dulu, kalau disetujui baru kita lakukan."

Saat berjalan menuju ruang tamu, samar-samar aku mendengar pembicaraan antara Sehun dan Chanyeol. Aku tidak berniat menguping sebenarnya. Hanya saja sepertinya pembahasan mereka serius, dan aku merasa tidak enak kalau memotong tiba-tiba.

"Aku masih belum mengerti apa alasanmu mau mempekerjakan Baekhyun."

"Kenapa? Aku heran, kau dan Luhan terus memprotesku tentang hal ini. Semacam kalian tidak melakukan hal yang sama saja."

"Maksudku Baekhyun itu masih polos..."

"Memangnya kau pikir mau kuapakan dia? Aku tidak segawat dirimu. Luhan juga masih polos waktu pertama kali dia datang kesini."

Aku berusaha mempertajam pendengaranku saat tiba-tiba Luhan menutup telingaku dari belakang. "Apa saja yang sudah kau dengar?" Tanya nya setelah menarikku kembali ke dapur. Aku mengendikkan bahuku sedikit, "Cuma dengar kalau Chanyeol bilang dia tidak segawat Sehun."

Luhan menghela nafasnya dalam-dalam. Dia memejamkan matanya, seperti sedang mempertimbangkan sesuatu. "Baekhyun, banyak yang ingin kuberitahukan padamu. Tentang pekerjaan ini, pekerjaan kita. Mungkin kau pikir mudah karena cuma perlu mengurus kebutuhan sehari-harinya. Membersihkan rumah, masak, menemaninya kemana-mana. Tapi sebenarnya tidak semudah itu. Kau lihat sendiri kan, ruang gerakku terbatas. Aku tidak bisa kemana-mana karena harus selalu mengikuti Sehun. Bahkan aku sempat dikurung beberapa kali di dalam kamar karena tidak diijinkan keluar."

"Mungkin itu yang dimaksud Chanyeol kalau dia tidak segawat Sehun."

Luhan menggeleng, "Maksudku kau benar-benar harus mengurus segala keperluan dan 'kebutuhan' nya."

"Luhan, ayo pulang." Aku dan Luhan tersentak karena kemunculan Sehun yang tiba-tiba. "Tapi makan malamnya.."

"Kita makan di luar. Biar Baekhyun yang mengurus Chanyeol." Luhan menurut saja saat Sehun menariknya keluar.

Setelah kepergian Sehun dan Luhan, suasana kembali canggung. Chanyeol masih tidak mau berbicara, memandangku saja enggan. Dia malah sibuk bermain game, padahal aku berdiri di hadapannya. "Kau berubah pikiran? Tidak jadi mempekerjakanku?"

"..."

"Padahal aku sudah mengundurkan diri dari pekerjaanku sebelumnya. Aku juga sudah membawa semua pakaianku kesini."

"..."

Berani-beraninya dia mengacuhkanku seperti ini! Aku jadi menyesal sempat kasihan padanya, aku menyesal sudah mengundurkan diri dari Skybucks, aku menyesal sudah menentang Luhan, aku menyesal sudah datang kesini. Aku menyesali semuanya. Dari awal dia yang memohon-mohon agar aku bekerja padanya, dan sekarang malah terlihat seperti aku yang memohon agar dipekerjakan olehnya.

"Ya sudah. Kalau kau berubah pikiran, aku pulang saja." Kuraih ranselku yang tergeletak di sampingnya. "Tahu begini aku tidak akan pernah datang kesini."

Cklek!

Belum sempat aku meraih pintu, sebuah tangan dengan cepat memutar kunci dari belakang. Chanyeol membalik tubuhku dan menyudutkanku ke pintu. Astaga. Posisi kami sekarang seperti di drama-drama yang sering kutonton. Aku refleks menjatuhkan ranselku dan menahan dada Chanyeol agar tubuh kami tidak saling menempel. Sial. Jantungku berdegup kencang, sampai rasanya sulit bernafas. "A-apa?"

"Aku mau minta maaf soal kejadian tadi siang di kampus."

"Kejadian apa? Aku tidak ingat." Aku mengalihkan wajahku kesamping. Tatapan mata Chanyeol saat ini seperti hendak menelanku bulat-bulat. "Lagipula mana ada orang minta maaf seperti ini. Kau tulus tidak sih?"

"Kenapa kau berubah pikiran?"

"Memangnya tidak boleh?"

"Dari awal kau begitu keras kepala, pasti ada alasannya!"

"Kau bodoh ya? Karena kau mengancamku! Aku bahkan diusir dari kelas hari ini!" Kepalaku mau pecah rasanya. Kenapa sih setiap kali bertemu dengan si tiang listrik ini bawaannya ribut terus?

Tiba-tiba Chanyeol menjatuhkan dirinya ke lantai, berlutut di hadapanku. Tentu saja gerakannya yang tiba-tiba itu membuatku terkejut (sekaligus takut). Kurasa dia benar-benar tidak waras. "H-hei! Bangun, cepat! Apa-apaan kau berlutut begitu?!" Aku menarik kerah bajunya, tapi dia tidak bergeming sedikitpun. "Aku minta maaf."

Sepertinya Chanyeol benar-benar menyesali perbuatannya. Kalau tidak mana mungkin si angkuh ini mau berlutut begitu di hadapanku, iya kan? Aku yang jadi salah tingkah dibuatnya.

"Iya, aku memaafkanmu. Sekarang bisa kita hentikan drama ini?"

Senyum lebar terpampang di wajah Chanyeol, menandakan dia senang dengan respon yang kuberikan barusan. Astaga. Aku seperti menghadapi seorang bayi besar. Sepertinya hidupku akan sulit untuk beberapa waktu ke depan.


Sudah seminggu sejak aku memutuskan bekerja dengan Chanyeol. Sejauh ini semuanya baik-baik saja, aku hanya mengulangi hal yang sama setiap hari nya.

Pagi : Membangunkan Chanyeol, merapikan kamar tidur, menyiapkan segala keperluan Chanyeol, memasak sarapan

Siang : Menemani Chanyeol ke kantin atau membawakan makan siang ke kelasnya

Sore : Menunggu Chanyeol dan pulang bersama (atau menemaninya kemanapun dia pergi)

Malam : Menyiapkan makan malam, membersihkan rumah, membantu Chanyeol mengerjakan tugas, memastikan ponsel Chanyeol dicharge sampai penuh

Oh ya, kamar tidurku terpisah dengan Chanyeol. Dia tidur di kamar utama, aku tidur di kamar tamu. Jangan ditanya alasannya kenapa. Tentu saja karena aku menolak! Tidur sekamar dengan Chanyeol sama dengan bunuh diri.

Aku melirik jam yang tergantung di dinding kamar, sudah jam 11 malam. Seharusnya ponsel Chanyeol sudah penuh karena aku menchargenya dari jam 8 malam tadi. Aku segera keluar dari kamar dan menuju kamar Chanyeol.

Tok.. Tok..

"Chanyeol, kau sudah tidur?"

Hening. Tidak ada jawaban. Sepertinya dia memang sudah tidur.

"Aku masuk ya."

Aku membuka pintu dengan sangat perlahan, nyaris tidak bersuara. Mood Chanyeol bisa jelek kalau ada yang mengganggu jam tidurnya. Ah, kamarnya memang tidak pernah dikunci. Alasannya supaya kalau nanti terjadi sesuatu padanya aku bisa langsung masuk ke kamar tanpa harus menghabiskan waktu mendobrak pintu.

Langkahku terhenti saat mendapati ranjang Chanyeol kosong. Chargernya masih tergantung di dekat ranjang, tapi ponselnya tidak ada. Kemana dia? Tidak mungkin dia keluar, biasanya si tiang listrik itu yang paling heboh minta ditemani. Aku mengecek jendela, terkunci dengan rapat dari dalam. "Haih.. Bodoh. Mana mungkin ada yang menculiknya. Kalau diculik alien sih aku percaya."

"Ahh..."

Tunggu. Sepertinya aku dengar sesuatu.

"Ssh... Hah..."

Suara Chanyeol samar-samar, dari arah kamar mandi. Aku berjalan perlahan mendekati kamar mandi dan menempelkan telingaku di pintu. Sedang apa si tiang listrik itu tengah malam begini? Jangan bilang dia kena diare?

"Hah... Baek.. Aku keluar- Ahh shit!"

Telingaku memanas. D-dia- Chanyeol- Aku sudah cukup dewasa untuk tahu apa yang sedang dilakukannya di dalam sana, oke? Tapi kenapa harus aku? Maksudku- Tadi dia meneriakkan namaku kan? "Hh!" Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Ya Tuhan! Aku jadi objek fantasi si Park itu?! Yang benar saja!

Oke. Tenang, Baekhyun. Anggap saja ini tidak pernah terjadi. Sekarang, pertama-tama, yang harus kulakukan adalah keluar dari kamar terkutuk ini...

Aku berbalik, berjalan mendekati pintu. Kali ini langkahku lebih pelan dan lebih hati-hati dari sebelumnya. Ya, begitu Baek. Sedikit lagi.

Cklek!

Aku membatu saat mendengar suara pintu kamar mandi terbuka.

"Baekhyun?"

"Aku baru masuk, dan aku tidak dengar apapun. Sumpah." Haish... Aku merutuki perbuatan bodohku barusan. Dia bahkan belum tanya apapun, dia cuma memanggil namaku dasar Byun idiot.

"Baiklah. Tapi apa kau harus bicara sambil memunggungiku begitu? Itu tidak sopan, kau tahu."

Lengan kekar Chanyeol membalik paksa tubuhku, "Kau pasti dengar sesuatu. Iya kan?" Entah kenapa suara berat Chanyeol terkesan mengintimidasi, tidak seperti biasanya. Jantungku yang masih belum stabil karena kejadian tadi, jadi semakin tidak menentu. Aku menunduk, tidak sanggup membalas tatapan Chanyeol. Aku bahkan tidak tahu harus memasang ekspresi yang bagaimana sekarang. "A-aku..."

"Jujur!"

"Aku tidak sengaja!"

Aku mengangkat wajahku dan menatap Chanyeol dengan kesal. Berani-beraninya dia membentakku, seakan-akan aku yang salah disini. Oke, kuakui aku salah, sedikit. Tapi dia lebih salah, karena sudah menjadikanku objek fantasi seksualnya! Bukankah seharusnya aku yang marah?

"Kau membentakku?" Chanyeol menurunkan intonasi suaranya, dia menatapku tidak percaya. Oh ayolah, Park. Kenapa kau harus pasang wajah 'Aku-tidak-menyangka-kau-akan-membentakku' begitu? Ini bukan pertama kalinya aku bicara dengan nada seperti ini kan?

"Kau yang membentakku duluan."

"Aku menggajimu, aku punya hak untuk itu." Jadi semenjak aku kerja denganmu, kau punya peraturan baru begitu? Aku tidak boleh bicara kasar lagi? Oke, baiklah. Aku bisa terima itu. Terima kasih sudah mengingatkanku, bos Park. Tapi aku tidak peduli.

"Oh jadi salahku begitu? Berhentilah menyalahkan orang lain, Park. Aku tahu apa yang kau lakukan di kamar mandi tadi. Kau mengimajinasikan hal-hal kotor tentangku kan? Kau bahkan sampai menyebut namaku, apa aku punya hak juga untuk menamparmu sekarang?"

"Kau- Sudah cukup."

"Aku tidak menyangka akan bekerja dengan orang mesum sepertimu." Aku mendengus kesal. Jangan pikir dengan menggajiku kau bisa membeli harga diriku.

"Apa? Mesum kau bilang?"

"Iya! M-E-S-mmph!"

Mataku melebar saat Chanyeol menempelkan bibir tebalnya ke bibirku. Terlalu mendadak sampai aku tidak sempat menghindar. "Emph-Mmf!" Aku memukul-mukul dada Chanyeol, berusaha mendorongnya sekuat tenaga tapi tidak berhasil. Sedetik kemudian Chanyeol membanting tubuhku ke atas ranjang, dan mengurungku di antara kedua tangannya.

"Hah! Hh! Kau gila?!"

"Mesum? Akan kutunjukkan arti mesum sesungguhnya padamu, Baek."

TBC…

Annyeong, readers! Maaf ya lama update nya :( Author sibuk sama kerja & kuliah soalnya. Jadi mohon pengertiannya ne~

Maaf kalau chapter ini mengecewakan. Udah update nya lama, jalan ceritanya terkesan 'ngebut' pula. Sejujurnya isi otak author udah dipenuhi sama kelanjutan-kelanjutan ceritanya (bahkan ide untuk beberapa cerita baru), tapi selalu kesulitan menuangkannya dalam bentuk kalimat :' Mianhae~ Author masih butuh waktu untuk belajar jadi yang lebih baik. Mohon bimbingan dan kesabarannya *bow*

Oh ya, author punya account KakaoTalk, kalian punya account KaTalk juga kah? Kalau nggak keberatan boleh jadi teman dan berhubungan disana :3 Lumayan sekalian nambah teman, kali aja bisa bertukar ide dan pikiran. Kalau tertarik boleh add ID ini ya :

heyyitsjia98

Gomawo~