Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 2 ]

.

.

.

.

Saat ini Sakura akan tetap berada di rumah sakit, kata ibu dia akan menginap di sana dan mungkin besok dia sudah akan sadar, saat itu ibu masih terlihat khawatir.

"Sasuke." Panggil ibu.

"Hn? Ada apa, bu?"

"Apa kau melihat seseorang memberikan Sakura sesuatu? Seperti minuman atau obat?" Tanya ibu.

Terdiam, jika aku katakan pada ibu, aku memberi Sakura obat tidur ayah, apa ibu tidak akan marah? Aku tidak berniat membuatnya tidak pernah bangun, aku hanya ingin dia tidur siang saja, menggelengkan kepalaku.

"Lain kali, saat ada orang asing berada di dekat kalian, kalian harus pergi yaa." Ucap ibu.

"Baik, bu."

"Untung saja Sakura tertidur di kamarmu."

"Jadi, kenapa Sakura tidak bangun bu?" Tanyaku, meskipun aku sudah tahu.

"Ada kandungan obat tidur saat Sakura di periksa, dosis itu tidak sesuai dengannya, ibunya sudah menetralkan obatnya, berharap saja Sakura sudah bangun besoknya, jika tidak, mungkin dia akan tertidur terus dan entah kapan akan sadar." Jelas ibu.

Menundukkan wajahku, aku merasa bersalah, bukannya aku membencinya, tapi aku tidak terlalu suka sikap memaksanya.

"Apa kita bisa menjenguknya besok?" Ucapku, aku ingin minta maaf, jika dia sudah bangun.

"Tentu saja, kita akan menjenguknya besok." Ucap ibu.

.

.

Keesokan harinya.

Aku datang dan kak Itachi pun ikut, Sakura belum bangun, kata bibi Mebuki Sakura masih belum bisa sadar, dia masih tertidur nyenyak, ada infus yang di pasangkan pada tangannya.

"Sasuke jangan sedih yaa, Sakura akan segera bangun dan bermain denganmu." Ucap bibi Mebuki.

Aku semakin merasa bersalah, lihatlah, wajah bibi Mebuki seakan dia lelah tapi tetap saja dia terus bekerja, aku yakin dia pun khawatir dengan anak tunggalnya, aku sudah membuat masalah besar.

"Aku yakin Sakura akan segera bangun." Ucapku.

"Sasuke benar-benar sudah besar yaa, terima kasih sudah menjaga Sakura selama ini." Ucap bibi Mebuki dan mengelus perlahan puncuk kepalaku.

.

.

2 hari kemudian.

Menatap gadis itu, dia masih belum juga bangun, ibu kembali datang ke rumah sakit bersamaku, saat ini ibu sedang keluar sebentar, duduk di sisi ranjang Sakura dan menatapnya, dia hanya tertidur.

"Sakura! Ayah pulang!" Ucap seorang pria, menoleh ke arah pintu.

Aku bisa melihat seorang pria masuk ke kamar Sakura, lengkap dengan seragam kaptennya, dia jadi benar-benar mirip kapten bajak laut apalagi sedikit brewokan, warna tubuhnya menjadi coklat akibat terus berada di lautan, ayah Sakura, paman Kizashi sampai pulang hanya karena Sakura.

"Wah, ada Sasuke, kalian benar-benar sudah besar yaa." Ucap paman Kizashi, rambut softpink Sakura turun dari ayahnya.

"Selamat datang kembali paman." Ucapku, sopan.

"Terima kasih atas sambutannya, apa kau suka hiu Sasuke?" Tanyanya.

"Hiu?" Ucapku, bingung.

"Benar, saat membawa kapal ke arah lautan samudera, paman menemukan banyak hiu, apa kau mau memeliharanya satu?" ucap paman Kizashi.

Itu tidak mungin, bukan? Aku tidak mau mati karena peliharaan sendiri. hiu terkenal dengan haus darah, hewan predator laut yang sangat berbahaya dan cukup di takuti di lautan.

"Ini untukmu, hiu kecil ini akan terus bersamamu, jaga dia baik-baik yaa." Ucap paman Kizashi.

Menatap sebuah boneka hiu, aku sudah memikirkan sesuatu yang berlebihan dari kapten kapal ini, ayah dan anak sama saja, kini paman Kizashi berdiri di samping ranjang Sakura, tatapannya terlihat sedih, menundukkan wajahku, seakan aku menyakiti segalanya hanya karena membuat Sakura diam, ayahku, ibuku, kakakku, mereka pun sangat khawatir pada Sakura, dan aku? Aku lah penyebabnya.

Paman Kizashi kembali ke arahku.

"Paman tidak bisa terlalu berlama-lama, hiu yang satunya lagi ini untuk Sakura, tolong berikan padanya." Ucap paman Kizashi dan memberikan sebuah boneka hiu lagi. "Jika dia sudah bangun katakan jika ayahnya membawakan hiu ini dari lautan samudera." Ucap paman Kizashi dan tertawa, dia hanya pulang sebentar dan kembali berlayar.

Menyimpan boneka hiu itu di atas ranjang Sakura.

"Hey, cepatlah sadar, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan padamu, lain kali aku tidak akan melakukannya lagi, aku tidak benar-benar ingin kau tertidur seperti ini." Ucapku, karena melihat semuanya sedih dan khawatir, rasa bersalah ini terus menghantuiku.

Terkejut.

"Sakura." Panggilku.

Akhirnya dia membuka matanya dan menatap ke arahku.

"Akhirnya aku bangun, bagaimana kalau kita bermain sekarang Sasuke?" Ucapnya.

"Bermain? Bodoh! Pikirkan dulu dirimu." Ucapku,

"Aku akan mengadu pada bibi Mikoto kau berbicara kasar lagi." Ucapnya, di saat seperti ini, dia malah mengatakan hal itu, nada suaranya masih terdengar lemah.

"Tunggu dan jangan pergi, aku akan memanggil ibumu." Ucapku.

Berjalan keluar kamarnya, tiba-tiba mataku basah, apa ini? Aku menangis? Menangis hanya karena melihatnya bangun? Apa aku tertular kebodohan Sakura? Bodoh, bagaimana pun juga, aku hanya anak kecil yang masih berumur 5 tahun, meskipun pola pikirku lebih berkembang dari Sakura, tapi tetap saja, aku hanya anak kecil.

Sakura sudah sadar, bibi Mebuki memeriksa kembali anaknya dan dia sudah benar-benar bangun dari tidur panjangnya, walaupun itu hanya terhitung beberapa hari, ibuku jadi lega melihat Sakura sudah bangun.

"Maaf jika aku tidak bisa menjaganya dengan baik." Ucap ibuku.

Tidak ibu, akulah yang salah ibu, tapi aku tidak berani mengatakannya, ibu akan marah besar, ayah juga, kak Itachi juga, semuanya akan marah padaku dan aku tidak ingin melihat itu.

"Jangan seperti itu Mikoto, kau sudah menjaganya dengan baik, aku lah yang harus berterima kasih." Ucap bibi Mebuki pada ibu, aku juga merasa bersalah pada bibi Mebuki.

.

.

Setelah masalah itu, Sakura kembali seperti semula, penuh semangat, berisik dan terus teriak mengajakku untuk bermain.

"Sasuke, bermain denganku!" Ucapnya.

Dia tidak berubah sama sekali.

"Hey, apa kau tidak marah padaku?" Ucapku.

"Marah? Untuk apa marah padamu?" Ucapnya, polos.

"Aku yang membuatmu tidur lama." Ucapku dan mengalihkan tatapanku.

"Aku tidak ingat itu, kalau begitu kita bermain di luar." Ucapnya.

Menghela napas, bagaimana pun aku bersikap, dia tetap tidak peduli, yang ada di pikirannya hanya bermain dan bermain.

"Kau punya hiu juga?" Ucapnya saat melihat boneka yang aku pajang itu.

"Ah, paman Kizashi yang memberikannya." Ucapku.

"Kau bertemu ayah! Uhk, beruntung sekali kau bertemu bajak laut itu, aku sudah lama tidak pernah bertemu dengannya." Ucapnya, dan iri.

Bodoh, dia itu ayahmu, kenapa masih menganggapnya bajak laut?

"Dia selalu bercerita tentang mencari harta karun, pulau yang tak berpenghuni, hewan menakjubkan di dalam lautan dan banyak hal."

"Ayahmu juga hanya bisa datang sebentar." Ucapku. Paman Kizashi terlalu membuat semuanya berlebihan, Sakura masih tidak mengerti juga pekerjaan ayahnya, ini dunia nyata yang tidak sesuai dengan cerita fantasi-petualangan yang paman Kizashi ceritakan.

"Lain kali dia harus menemuiku." Ucapnya.

Terserah, aku tidak peduli, tapi satu hal yang membuatku sedikit senang jika dia kembali seperti Sakura yang biasanya, meskipun cukup menyebalkan bagiku.

"Aku akan mengajarkanmu tarian hiu." Ucapnya.

"Tidak mau! Lebih baik kau bermain di luar dan berlarian." Ucapku.

Sekarang di telingaku akan selalu terdengar.

Baby shark du-du-dudu baby shark du-dudud.

"Sakura, berhenti!" kesalku padanya, aku terus mendengar nyanyian konyol dan gerakan anehnya itu.

Semakin aku melarangnya, semakin dia akan mengeraskan volume suaranya dan tertawa.

.

.

.

.

Tahun ini, tidak ada lagi yang akan terus tinggal di rumah. Memasuki jenjang pendidikan, kami satu TK, hanya karena ini TK yang paling dekat dan kedua orang tua kami sangat ingin kami di satu sekolah agar lebih mudah untuk kami saling mengetahui, ibu juga akan mudah menjemput kami, seperti biasanya Sakura akan dititip kembali, aku masih tetap tidak senang padanya, di TK pun dia akan terus mengajakku bermain, tidak peduli saat aku melarangnya atau memarahinya, bagaimana dengan anak kecil lainnya?

"Sa-Sasuke, a-ayo bermain denganku." Ucap seorang anak kecil, kami satu kelas.

"Tidak, pergi dari hadapanku." Ucapku dan memasang tatapan dinginku padanya.

"Huee...~ Sasuke tidak mau bermain denganku." Ucapnya dan berlari pergi, dia menangis hanya karena ucapanku dan mengadu pada sensei, aku selalu berharap Sakura akan seperti itu, menangis dan tidak berani menantangku, sayangnya.

"Sakura, kembalikan bukuku!" Teriakku kesal, kenapa hanya dia yang berbeda? Dia gadis yang benar-benar menyebalkan!

"Ambil saja sendiri, hahahahha." Ucapnya, semakin hari, kecepatan larinya semakin bertambah cepat, dasar anak suku barbar!

Lelah, aku membiarkan apapun yang ingin di lakukannya, kadang aku selalu mengingat kejadian dimana aku memberi Sakura obat tidur dan tidak bangun dalam beberapa hari.

"Jangan menangis, aku akan mengembalikan bukumu." Ucapnya.

Dia masih tetap saja sangat menyebalkan.

"Aku tidak menangis, bodoh!" Kesalku.

"Sensei, Sasuke berbicara kasar." Ucapnya, sekarang dia jadi sering mengaduh pada sensei.

.

.

TBC

.

.


update...~

terima kasih atas reviewnya, *terharu* semoga tetap senang dan betah dengan alur yang semacam ini, mungkin akan mainstream, kali ini author kembali dengan alur anak sekolahan, emang mainstrum kalau alur-alur anak sekolahan, cuma author jarang membuat untuk alur anak sekolah TK dan SD, author pengen buat scene mereka dia jenjang pendidikan yang ada, jadi bakalan lambat sampai benar-benar mencampai konflik utama, apa ini termasuk spoiler? Ya sudah cuma mau bilang itu aja, spoiler dikit XD

uhm... auhtor balas review saja.

Thyrant-ie: Terima kasih atas semangatnya, ini akan rajin di update,(author yang cepat semangat jika di puji) XD

nakahara sakura : Sekali-sekali pakai sudut pandang Sasuke, berharap tidak OOC _

khoerunnisa : ya-ya awal perhatian, tapi ini belum juga masuk awal, ini masih jauh dari kata awal, ini belum termasuk kerangka luar aja.

Lacus Clyne 123 : Terima kasih, semoga senang dengan fic ini juga, untuk "sweet Blood"nya masih belum bisa di kerjakan, maaf, author udah sampaikan di chapter 1 fic ini.

Saskey Saki : terima kasih. Namanya anak kecil yang ingin balas dendam, heheheheh.

sina : selamat membaca kembali. :)

AkashiMashiro06SS : terima kasih, semangaat! semangat! semoga bisa update fast lagi...

Dcherry : selamat datang kembali di fanfic sasuke fans yang nggak kapok bikin TBC padahal masih ada yang TBC, hahahahah, *nyinggung diri sendiri*

sekali lagi terima kasih banyak atas reviewnya, untuk pembaca yang baru semoga terhibur, untuk pembaca langganan author, eaaa..~ selamat datang kembali ke fic baru Sasuke Fans.

.

.

See you next chapter.