Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ Girl-(friend) ~
[ Chapter 3 ]
.
.
.
.
Tk kami akan mengadakan sebuah pementasan drama, di saat anak-anak perempuan heboh dan berebut ingin menjadi seorang putri, tema yang akan di ambil adalah seorang pangeran yang menyelamatkan seorang putri, tapi bagaimana dengan Sakura?
"Sensei! Aku ingin menjadi seorang pangeran!" Teriaknya dan membuat semua anak perempuan terdiam, mengangkat tangannya tinggi dan berharap sensei tetap fokus padanya.
Anak laki-laki lain pun tidak ada yang ingin menjadi pangeran, mereka masih terkesan malu, atau terlalu malu bermain drama ini, semuanya memilih diam dan seakan selamat ada yang ingin menjadi pangeran.
"Tapi Sakura, pangeran itu seorang laki-laki." Ucap sensei.
"Aku jauh lebih kuat dari anak laki-laki." Ucapnya dan masih keras kepala akan pilihannya, dia tetap ingin menjadi seorang pangeran.
"Apa ada yang ingin menjadi pangeran selain Sakura?" Ucap sensei.
Hening.
Anak perempuan tidak ada yang ingin protes, apalagi anak laki-laki.
"S-Sasuke saja yang menjadi pangerannya." Ucap seorang anak perempuan, setelah suara itu keluar, yang lainnya pun ingin menjadikanku pangeran.
"Bagaimana Sasuke? Apa kau mau menjadi seorang pangeran?" Tanya sensei padaku.
Menatap ke arah Sakura, dia menatap kesal padaku, bagaimana jika aku katakan, iya, aku akan menjadi pangeran, apa dia akan menggangguku seumur hidupku? Tapi jika aku menjadi pangeran, entah mengapa seluruh anak perempuan ribut ingin menjadi putri, jadi serba salah dan serba merepotkan.
"Putuskan saja dengan kertas pilihan sensei." Saranku, dengan begitu masalah ini akan cepat selesai.
Sensei membuat kertas pilihan dan semua bebas mengambil kertas itu. pada akhirnya.
Sakura tetap menjadi pangeran dan aku menjadi putrinya, sial! Drama macam apa ini! Kenapa aku harus menjadi putrinya dan baju menyebalkan ini, gaun layaknya seorang putri, aku ingin protes pada sensei.
"Jangan katakan pada sensei, biarkan saja kau jadi putrinya." Ucap Sakura, dia mulai berani mengancamku, aku yakin dia sangat senang aku menjadi seorang putri atau lebih tepatnya sedang mengejekku.
Ini adalah masa TK yang hanya membuatku malu seumur hidup, kedua orang tuaku yang sampai ikut menonton drama ini terhibur melihat anak laki-lakinya menjadi seorang putri, kakakku sendiri, dia terlihat sangat senang sampai memelukku dan mengatakan aku putri yang cantik, aku sangat ingin memukul wajah senangnya itu.
Kesal! Semuanya hanya membuatku kesal dan marah. Masa-masa itu akhirnya berakhir.
.
.
.
.
.
Masa TK yang sudah berakhir dan memasuki sekolah dasar, sekolah baru hanya saja bertemu kembali gadis berisik itu dan juga sialnya, kami satu kelas. Saat akan menuju sekolah untuk penerimaan murid baru.
"Senyum Sasuke." Ucap ibuku.
Dia sampai repot ingin mengabadikan kami yang sekarang mulai masuk sekolah dasar.
"Aku tidak ingin di foto, bu." Ucapku, malas, berjalan pergi dan sebuah tarikan keras dari Sakura.
Cekrek.
"Wah, kalian terlihat lucu." Ucap ibu, apanya yang lucu? Senyum lebar Sakura atau wajah kesalku yang bahkan tidak ingin menatap kamera.
Menarik tanganku dari Sakura, sampai kapan dia akan mengubah sikapnya itu? Tetap saja tidak pernah berubah.
Meskipun hanya seorang anak sekolah dasar, aku mulai belajar serius, aku ingin mendapat nilai terbaik seperti kak Itachi, kakakku termasuk murid yang pintar dan aku senang bisa belajar dengannya, tapi belajarku akan terus terganggu jika Sakura tidak berhenti mengajakku bermain, sudah memasuki jenjang pendidikan dan masih tidak ingin berhenti bermain, bagaimana jika nilainya buruk? Apa dia tidak ingin melihat kedua orang tuanya bangga, aku jadi malah sibuk mengurusnya, abaikan, abaikan, aku harus tetap tidak peduli padanya dan tidak perlu sibuk untuk menegurnya.
Saat kelas 3 SD dan bermain pun semakin berkurang, tapi setiap liburan musim panas.
"Sasuke, ayo main!" Lagi-lagi ucapan yang sama, kini dia sudah berada di kamarku dan berharap aku mengikutinya.
Pasrah.
Dia semakin kuat saja dan aku akan mengikutinya.
Di taman bermain, aku melihat hanya tinggal beberapa anak yang sering bermain dengan Sakura, yang aku dengar, anak-anak lainnya pindah dan bersekolah di tempat lain.
Semakin kami naik kelas, anak-anak semakin berkurang.
Sekarang saat kami kelas 6 SD, menatap Sakura yang hanya menggambar-gambar tidak jelas di tanah, tidak ada lagi anak-anak yang bermain dengannya, di jaman sekarang, anak laki-laki lebih senang bermain game atau membaca komik di rumah mereka atau di rumah teman-teman mereka, tidak ada lagi bermain kejar-kejaran dan lainnya, mereka pun tidak mau bermain dengan Sakura karena dia seorang gadis, aku sadar akan hal itu, dan Sakura sendiri, dia masih tidak memahaminya.
Membaca pun tidak membuatku konsentrasi, aku terus melirik ke arahnya dan melihatnya tidak juga berdiri dari sana, masih senantiasa menggambar-gambar tidak jelas di tanah, berhenti membaca dan berjalan ke arahnya.
"Kita pulang." Ucapku.
"Apa mereka tidak suka bermain denganku lagi?" Ucapnya dan baru kali ini aku mendengar nada sedih itu darinya, biasanya dia akan tertawa ceria, heboh dan jarang sekali untuk menampakkan rasa sedih.
"Sekarang bukan waktunya bermain lagi." Ucapku dan memintanya berdiri.
"Kenapa?" Tanyanya, bahkan matanya terlihat berkaca-kaca, aku sangat ingin melihatnya menangis.
"Kau sudah harus memahami keadaan, sekarang waktunya belajar, kita sudah kelas 5 SD, tidak ada waktu bermain lagi, kau sudah harus siap untuk memilih sekolah SMP yang akan menjadi tujuanmu." Ucapku, dia terlihat bingung, apa ucapanku begitu rumit? Mungkin saja, selama ini nilainya buruk dan kerjanya hanya bermain, aku tidak mengerti kenapa orang tuanya begitu senang bahkan jika dia mendapat nilai standar.
"Kalau begitu bermain denganku, kau hanya membaca saja." Ucapnya.
"Kau masih tidak mengerti juga?" Ucapku, dia benar-benar membuatku kesal.
"Aku ambil ini." Ucapnya, merampas bukuku dan berlari, kesalnya, kenapa dia selalu melakukan hal itu padaku!
.
.
Liburan musim panas kali ini, karena tidak ada anak yang mau bermain dengannya lagi, aku yang menjadi sasarannya.
"Kita ke taman." Ajaknya.
Aku sudah hampir pada batasan kesabaranku, tapi entah mengapa aku mulai sulit marah padanya.
"Kita buat perjanjian." Ucapku.
"Perjanjian apa?" Ucapnya, bingung.
"Senin sampai jumat kita belajar, sabtu dan minggu kita bermain, bagaimana? Aku rasa itu akan menguntungkan buatmu, apa kau tidak sadar, nilaimu sangat buruk dan berkali-kali sensei harus menegurmu." Ucapku. Dia tidak bosan untuk di marahi karena nilai.
"Iya, aku tahu!" Ucapnya bahkan mengalihkan tatapannya dariku, dia terlalu cuek untuk masalah nilai, apa dia tidak punya masa depan? Apa tujuan hidupnya hanya untuk bermain? Aku benar-benar sulit memahami pola pikirnya.
"Bagaimana?" Tanyaku, aku ingin dia sedikit mendengar ucapanku.
"Baiklah, kau janji akan membantuku belajar dan bermain denganku?"
"Hn, aku janji." Ucapku.
.
.
Sesuai janji yang kita buat, aku akan bermain dengannya di taman saat hari sabtu dan minggu, saat hari senin dan jumat kita akan belajar bersama, semuanya di lakukan sesuai aturanku, Sakura pun menurut padaku, saat belajar berkali-kali aku harus memarahinya, kenapa dia sangat bodoh sekali!
Pada akhirnya aku benar-benar harus membuatnya belajar keras, orang tuanya cukup mendukung dan merasa lebih senang ada yang membantu Sakura belajar, aku tidak mengerti akan pikiran bibi Mebuki dan paman Kizashi, mereka orang-orang pintar dan memiliki pekerjaan yang baik, kenapa anaknya tidak begitu? Apa karena Sakura anak satu-satunya dan dia begitu di manjakan? Mungkin saja, gadis kasar itu benar-benar memiliki kebebasan untuknya sendiri.
Jika dia tidak segera berhenti dari kebiasaannya bermain, nilainya benar-benar tidak akan tertolong, aku mengajarinya dengan sabar, meskipun kadang dia akan jenuh dan berakhir dengan tidur di ranjangku tanpa peduli ucapanku.
Waktu belajar selesai, dan hari dimana aku harus bermain dengannya, aku benar-benar bermain, jika dia ingin berlari, aku harus mengejarnya, dia pun mengajariku banyak hal, dari belajar naik sepeda, bermain sepak bola, bola basket, tunggu, semuanya adalah hal yang selalu di lakukan anak laki-laki, aku pikir bermain yang akan di lakukan Sakura adalah permainan anak perempuan, masak-masak dan bermain rumah-rumahan, ini tidak buruk, aku melakukan permainan apapun yang di pilihkannya, tanpa sadar kami saling mengajari satu sama lain.
Hingga.
Menatap papan pengumuman, dia berhasil, bahkan masuk 10 besar, aku tidak menyangka bantuanku membuatnya bisa masuk ke SMP yang sama denganku.
"Aku berhasil, Sasuke!" Ucapnya gembira, bahkan memelukku erat.
"Lepaskan." Ucapku dan melepaskan pelukannya.
"Hehehe, maaf, aku benar-benar senang, terima kasih sensei." Ucapnya padaku dan tersenyum lebar, lihatlah dia sekarang sudah tumbuh menjadi seorang gadis, rambut softpinknya pun mulai semakin panjang, tapi sikap kasarnya tetap tidak berubah.
Kali ini, tidak ada bermain di taman, kami berhenti melakukannya, aku rasa sudah tidak mungkin lagi bermain kejar-kejaran atau apapun di taman bermain dengan umur segini, tapi dampaknya, aku jadi semakin mudah mengejarnya, dia pun membantuku dari sikap malasku selama ini, aku malas keluar dan bermain, efek bermain itu untuk membentuk fisik, aku harus berterima kasih padanya, semenjak itu aku tidak cepat lelah lagi dan jika harus berlari, aku jauh lebih cepat darinya.
Apa yang di lakukan Sakura sekarang? Dia akan ribut bersama kakakku, kak Itachi menyukai game sejak dulu, dia membeli satu set peralatan game dan mengajari Sakura, aku pikir kakakku akan terus sibuk belajar dan tetap belajar, dia akan sibuk dengan hal itu untuk masa depannya, tapi kakakku pun berbeda, dia tidak terlalu fokus pada belajar, selama ini dia jauh lebih sering bersenang-senang saat di rumah atau keluar bersama teman-temannya, ibu tidak pernah menegur kakak untuk masalah belajar, karena nilai kakak tak pernah turun sedikit pun, dia tetap menjadi murid terpintar di sekolahnya dan sekarang kakak sedang belajar di salah satu universitas terbaik di Konoha dan mengambil jurusan hukum, mungkin kakak ingin menjadi seperti ayah.
Sekarang.
"Aku tidak akan kalah!" Ucap Sakura.
"Kemampuanku masih di atasmu, Sakura." Ucap kak Itachi.
Mereka berdua akan selalu ribut setiap harinya hanya gara-gara sebuah game, pernah sekali mereka memaksaku dan game itu hanya membuatku kesal, aku berhenti dan tidak akan bermain game lagi, mungkin mereka lebih cocok menjadi adik-kakak.
.
.
Menatap ke arah Sakura, kepribadian yang tidak berubah, beberapa kali aku jarang mengeluarkan rasa kesalku padanya, hanya lebih baik diam dan bersikap dingin padanya, tapi tetap saja dia seakan memahamiku, dia pikir, dia lah yang lebih mengerti keadaanku, aku jadi sering memendam hal ini, di pikir bagaimana pun, aku akan jauh lebih terlihat konyol jika terus-terus mengeluarkan rasa kesalku padanya.
"Hey, ada yang menyukaimu, dia ingin aku menanyakannya padamu." Ucapnya.
"Bodoh." Ucapku padanya.
"Ah! Kenapa memanggilku bodoh?" Ucapnya, dia tidak akan teriak mengaduh pada ibuku lagi jika aku berbicara kasar padanya, tapi yang di lakukannya mencengkeram kerah bajuku dan menarik ke arahnya, dia sedang marah karena aku memanggilnya 'bodoh', terlalu dekat, aku sampai bisa melihat mata hijaunya itu.
Menyentil jidatnya dengan keras.
Sakura segera melepaskanku dan menggosok jidatnya.
"Kau, apa yang kau lakukan padaku!" Marahnya.
"Berisik dan cepat kerjakan soal ini." Ucapku.
Sakura terdiam, aku bisa melihat bekas memerah di jidatnya itu, apa aku sedikit keterlaluan? Itu hanya balasan dia sudah berani mencengkeram kerah bajuku dengan kasar, tetap saja tidak berubah.
"Jadi apa yang harus aku katakan padanya?" Ucap Sakura, dia mulai menatap buku soalnya.
"Aku tidak mau." Tegasku.
"Kau jahat sekali." Ucapnya, mengalihkan tatapannya dari buku soal itu dan menatapku.
"Ya, aku memang jahat, aku rasa kau juga tahu." Ucapku dan menajamkan tatapanku padanya.
"Kau tidak benar-benar jahat, Sasuke, aku tahu itu." Ucapnya.
Selalu saja merasa dia tahu segalanya, jika aku katakan aku tidak menyukaimu sejak dulu, apa kau akan percaya? Aku masih sulit untuk membuat dirinya menjadi teman.
.
.
Saat di sekolah. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang terjadi pada Sakura, seragamnya kotor, loker sepatunya penuh sampah, tempat duduknya di coret dan lagi buku catatannya hilang, dia tidak pernah mengatakan apa-apa padaku, apa dia sedang mendapat kasus bullyan? Aku sempat membaca beberapa kasus tentang itu, mental mereka akan sangat terganggu, bahkan ada yang sampai bunuh diri karena tak sanggup untuk di kucilkan dan terus mendapat perlakukan buruk saat di sekolah,
Mungkin hanya aku yang terlalu memikirkannya, Sakura, dia dengan segala kekuatan yang dia punya, ya aku tahu sejak awal dia jauh lebih kuat bahkan dari anak laki-laki, dia menyelesaikan sendiri masalahnya dan bullyan terhadapnya perlahan-lahan menghilang, tapi aku tidak yakin jika dia akan benar-benar tidak di ganggu lagi.
"Aku tidak akan membela Sakura, tapi aku benar sudah mengatakan padanya jika aku tidak akan menyukai siapapun." Ucapku.
Aku sudah tahu siapa menjadi sumber masalah ini, murid perempuan yang menanyakan perasaannya melalui Sakura, dia pikir Sakura berbohong dan isu yang beredar, aku dan Sakura memiliki hubungan, omong kosong, aku bahkan ingin dia pergi jauh dariku, tapi melihatnya kesusahan karena aku, bagaimana pun juga ini harus di selesaikan.
"Bohong! Anak-anak lain mengatakan kalian memiliki hubungan." Ucap gadis itu dan tetap saja keras kepala.
"Aku tidak pernah menyukai Sakura, bahkan jika ingin mengatakannya, aku lebih membencinya, sikapnya yang kasar dan dia sudah membuatku kesal bertahun-tahun, jangan asal berbicara jika kau tidak punya bukti kami memiliki hubungan." Ucapku.
Gadis itu tersentak kaget, aku sudah mengatakan yang sebenarnya dan cobalah untuk berpikir, inilah yang membuatku kesal pada para gadis yang sangat keras kepala, terutama Sakura, dia jauh lebih keras kepala dari siapapun.
"Ini bukan sebuah peringatan, tapi jika kau mengganggu Sakura, aku akan turun tangan, aku tidak ingin Sakura bermasalah hanya karena satu gadis bodoh yang menyukaiku, kau pikir aku akan menyukai gadis sepertimu? Jangan mimpi, jika kau punya masalah denganku, kau bisa lakukan cara kotor itu padaku, bukan pada perantara yang membuatmu marah." Ucapku dan pergi, aku rasa kata-kata itu akan membuatnya segera sadar jika tak ada satu pun gadis yang akan membuatku peduli.
Setelah hari itu. Sakura benar-benar bebas dari kasus bullyan, dia sampai tidak peduli dan tetap ceria bahkan sudah mendapat masalah buruk, aku harus akui, kau satu-satunya gadis yang tetap tenang dan bahkan melawan, dia tidak seperti gadis yang mendapat masalah dan malah semakin tenggelam dalam masalahnya sendiri.
.
.
TBC
.
.
update...~
hari ini fast update.
untuk word, author masih mikir-mikir untuk buat banyak, haa..~ nanti lah XD
yak segitu aja,
see you next chapter...~ :)
