Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 4 ]

.

.

.

.

Setiap kali Sakura akan mendapat masalah, aku akan bertindak, bukan karena aku peduli padanya, tapi masalah yang di dapat akan selalu sama dan kasusnya tentang gadis yang menyukaiku dan menjadikan Sakura sebagai perantara, mereka pikir karena kami dekat, Sakura menjadi sasaran yang baik untuk meminta bantuan, jika Sakura mengatakan tidak pada mereka, mereka akan berbalik menyerang Sakura, ini benar-benar hal bodoh dan konyol, apa aku harus membawa papan bertuliskan jika aku benci kalian semua para gadis kecuali ibuku? Aku sudah sangat muak akan pengakuan perasaan mereka.

Mungkin jika Sakura seorang laki-laki dia tidak akan mendapat masalah seperti ini, bagaimana mungkin mereka berpikiran Sakura berbohong dan Sakuralah yang ingin dekat denganku, ah! Sial! Aku tidak ingin memikirkannya lagi.

"Berhenti peduli pada orang lain." Ucapku pada Sakura saat kami sedang belajar bersama.

"Kenapa?" Tanyanya.

Menatap ke arahnya. "Apa kau ini benar-benar bodoh? Masih tidak paham juga apa yang terjadi padamu selama ini?" Ucapku.

"Tentang?"

Rasanya aku ingin memukul kepalanya dengan keras.

"Berhenti bertingkah bodoh, jangan menjadi perantara siapapun lagi, mereka akan menyerangmu." Ucapku.

"Oh, tentang kasus bullyan." Ucapnya dan begitu santai.

Segera menyentil jidatnya, aku sudah tidak tahan ingin melakukan itu.

"Aouuh! Jangan menyentil jidatku!" Protesnya.

"Kau ini-"

"-Tidak apa-apa!" Dia memotong ucapanku. "Aku rasa tidak apa-apa jika mereka menyerangku, lagi pula ini sebagai latihan pertahanan diri." Ucapnya.

Plak!

Aku sudah sangat kesal padanya, memukul kepalanya dengan buku catatannya.

"Kau sungguh tega yaa Sasuke, bagaimana jika aku geger otak." Ucapnya.

"Ah, itu bagus sekali." Ucapku dan memasang wajah meremehkan padanya.

"Lagi pula ini hanya masalah kecil, mereka lama-lama akan bosan juga jika menggangguku." Ucapnya.

"Apa kau tidak sadar jika itu malah akan berdampak buruk pada mentalmu?"

"Mentalku sekuat baja." Tegasnya.

Plak!

Sakura segera menjauh dariku dan menutup kepalanya dengan kedua tangannya.

"Jangan memukulku lagi!" Protesnya.

"Sini kau, aku harus memukulmu lagi, sepertinya otakmu sedang bergeser dan membuatmu seperti orang bodoh yang tidak punya otak." Ucapku.

"Aku akan mengaduh pada bibi Mikoto." Ancamnya.

Cih, mau pakai cara kotor lagi, aduhkan saja, memangnya umur berapa masih pakai acara mengaduh-ngaduh pada ibuku.

.

.

.

.

Melewati masa SMP yang cukup membuatku repot, Sakura tetap saja masa bodoh dengan kasus bullyannya, tapi aku sedikit lega jika dia tidak terlalu pusing akan masalah itu, kasus bullyan termasuk kasus yang cukup buruk dan hampir korbannya akan berakhir tragis, aku senang dia menjadi gadis yang kuat menahan segalanya.

"Hari ini, aku Uchiha Sasuke sebagai perwakilan murid yang telah lulus-" Kembali menjadi perwakilan murid mengucapkan pidato perpisahan bagi murid SMP yang lulus, mulai membacakan pidatoku dan menatap ke arah Sakura, cukup mencolok, hanya dia yang tidak bisa diam dan mengacungi jempol ke arahku terus menerus, mengalihkan tatapanku dan menyelesaikan pidatoku, dia sudah pernah melakukan hal yang sama saat kami lulus SD.

Setelahnya, akan ada banyak buket bunga yang menghampiriku dan ucapan selamat, lagi-lagi hal merepotkan, sekarang dimana gadis berisik itu? Aku tidak melihatnya setelah acara perpisahan ini berakhir, berjalan menghindari para gadis lain, aku sudah cukup dengan buket bunga yang hampir menutupi wajahku.

"Apa kau sedang menjual buket bunga?" Ucap seseorang, aku tahu suara ini.

"Dari mana saja kau?" Ucapku, dia bahkan sudah mengatakan sesuatu yang membuatku sedikit risih.

"Aku tadi bertemu ayahku, dia datang loh dan juga hari ini dia ingin mengajak kita ke kapal pesiar." Ucapnya.

Segera menaruh semua buket bunga itu pada Sakura.

"Hey, apa yang kau lakukan? Ini milikmu." Ucapnya.

"Berat dan aku malas membawa bunga-bunga itu." Ucapku, cuek.

"Aku tahu kau tidak suka bunga, kenapa tidak katakan pada mereka."

"Mereka tiba-tiba saja memberikan padaku dan kabur." Ucapku, rasanya aku ingin melempar semua bunga itu ke tanah dan menginjak-nginjak mereka, tapi itu akan membuat pandangan buruk terhadap sikapku, orang tuaku sedang berada di sekolah, aku harus tetap menjaga sikap.

"Kau memang murid yang paling populer." Ucapnya, dia terus memujiku sepanjang perjalanan kami.

Berjalan bersama dan aku bertemu paman Kizashi, sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan pria itu, kedua orang tuaku pun turut hadir bersama ayah dan ibu Sakura, mereka dengan senang hati mendapat undangan khusus dari paman Kizashi, keluarga ini hanya dekat dan aku hanya ikut arus saja, mau tidak mau anak-anak mereka pun akan terlihat akrab di mata orang lain.

"Selamat adikku, Sakura juga." Ucap kakakku, dia sampai repot untuk bergegas ke sekolahku setelah menyelesaikan mata kuliahnya hari ini.

"Hn, terima kasih kak." Ucapku.

"Ini untuk Sakura." Ucapnya dan memberikan sebuah buket bunga. Sayangnya tangannya masih penuh dengan buket bunga milikku.

"Terima kasih, kak Itachi." Ucapnya. "Uhk, aku tidak bisa mengambilnya, Sasuke! Ambil semua bungamu!" Kesalnya.

"Aku tidak mau." Cuekku.

"Aku pikir semua bunga ini untukmu Sakura." Ucap kakakku.

"Tidak, ini milik Sasuke, dia bahkan tidak ingin membawanya." Ucap Sakura dan seakan mengaduh pada kakakku.

"Sasuke ini, kau merepotkan seorang gadis saja." Ucap kak Itachi dan mengambil semua buket bunga itu.

Menyebalkan.

"Biar aku yang bawa." Ucapku dan mengambil dari kakakku, aku tidak ingin merepotkannya.

.

.

Laut yang tenang, angin yang cukup kencang dan terik matahari, kapal pesiar ini sangat mewah, paman Kizashi jarang membawa kapal seperti ini, dia kadang akan mendapat tugas seperti ini jika tidak berlayar keluar negeri, sebuah pesta sedang di adakan, paman Kizashi mengundang kami khusus untuk ikut berlayar hanya di sekitar perairan laut masih area Konoha dan tidak akan terlalu jauh, tidak begitu ramai, hanya orang-orang kaya dan penting yang akan ada disini dan mereka cukup mengenal ayahku, mengundang kedua orang tua sama saja seperti mereka membuat acara sendiri karena masih saling mengenal, memilih meninggalkan pesta itu dan berdiri di dek kapal melihat luat biru.

"Akhirnya lulus, tapi harus sekolah lagi." Ucap Sakura.

Melirik ke arahnya sejenak dan kembali menatap laut, tanpa terasa kami sudah lulus SMP dan harus sekolah di SMA, masa-masa menjadi seorang pelajar belum berakhir.

"Kau akan masuk di SMA mana?" Tanyanya.

"Bukankah sekolah yang tidak jauh dari rumah." Ucapku, aku tidak begitu tertarik dengan sekolah mana pun, asal dekat dan juga ibuku selalu mengatakan, jika bisa harus satu sekolah dengan Sakura, gadis bodoh ini, tapi aku tidak mencapnya bodoh dalam soal pelajaran, dia mulai cukup memberikan peningkatan saat belajar bersamaku.

"SMA K yaa, kali ini mohon bantuannya lagi." Ucapnya dan membungkukkan tubuhnya sedikit di hadapanku.

"Asal nilaimu tidak buruk lagi aku akan tetap membantumu." Ucapku dan dia hanya tersenyum lebar.

"Baik, sensei!" Tegasnya.

"Aku jadi bosan melihatmu terus." Ucapku dan menatap ke arahnya.

"Jangan katakan seperti itu, tanpa kau pun aku akan tetap menjadi Sakura yang bodoh." Ucapnya.

Hee, ini menarik, dia mengakui jika bantuanku selama ini membuatnya berhasil, tidak buruk, aku pikir dia akan lupa akan semua hal yang telah aku lakukan padanya.

"Jangan lupa balas budi padaku." Ucapku, hanya memancingnya.

"Ba-balas budi?" Ucapnya perlahan dan terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu, kau ingin membalas apa untukku Sakura?

"Dasar, tidak usah di pikirkan." Ucapku dan mengelus perlahan puncuk kepalanya.

"Su-suatu saat, a-aku akan balas budi." Ucapnya, tatapan itu hanya sejenak mengarah padaku dan kini di alihkannya, wajahnya merona, apa karena sinar matahari? Mungkin saja.

Dia jadi sedikit berbeda, ini bukan Sakura yang seperti biasanya, gelagatnya seperti sedang malu akan sesuatu, tetap saja kau gadis bodoh yang menyebalkan untukku.

.

.

.

.

"Sa-su-ke." Sapanya, bahkan menyenggolku.

"Bisakah kau tidak melakukannya?" Ucapku, risih.

"Begitu saja kau sudah marah, apa pinggangmu seperti seorang kakek-kakek? Akan mudah rapuh saat di senggol." Ucapnya, aku tidak suka cara bicaranya seperti itu.

"Aku tidak marah, tapi berhenti menyenggolku dan dari mana saja kau? Kau terlambat bangun?" Ucapku, walaupun berhadapan rumah, kami jarang untuk pergi bersama, kami sudah bukan anak TK atau SD yang akan pergi bersama, itu perintah ibuku, sekarang sudah SMA tidak perlu ada yang di tunggu lagi dan aku bebas pergi lebih dulu darinya.

"Heheh, begitulah." Ucapnya, ceria.

Kami lulus di SMA yang sama, nilainya lumayan untuk tetap di pertahankannya, aku hanya ingin dia bisa lebih fokus belajar dari pada mengurus hal yang tidak jelas dan tidak ada gunanya, lagi pula gadis yang pintar itu jauh lebih baik.

Tanpa sadar aku sendiri sudah membentuk kepribadiannya, dia tumbuh menjadi gadis yang pandai dan juga kuat, rambutnya kini sudah semakin panjang, sepinggang, dia tidak lagi bermain di terik matahari dan sekarang kulitnya semakin terawat, walaupun sikap tomboy dan kasar masih tidak pernah hilang darinya, satu hal yang membuatku memberinya nilai plus, dia cukup cantik dengan penampilannya sekarang.

"Ada soalnya yang ingin aku tanyakan, sepulang sekolah bagaimana jika belajar bersama?" Tanyanya.

"Hn." Gumamku.

"Apa kak Itachi ada di rumah?"

"Kau ingin belajar atau bermain game? Kakakku sedang sibuk dengan ujian proposalnya." Ucapku, dia masih saja ingin bermain.

"Aku tidak bermain game, hanya tanya saja." Ucapnya, dia tidak bisa berbohong, ini gara-gara kakak terus menambah koleksi gamenya, Sakura jadi ikut kecanduan bermain, nilainya akan buruk jika kakak hanya mengajaknya bermain game, kenapa malah aku yang jadi repot untuk mengurusnya? Aku jadi terkesan sebagai ibu yang mengawasi anaknya belajar, apa yang kau pikirkan Sasuke!

"Sakura." Panggil teman-temannya.

"Yo, selamat pagi!" Ucapnya dan kini berlari ke arah teman-temannya, aku sampai bisa mendengar ucapan bisik-bisik mereka, bisik-bisik tidak perlu pakai loudspeaker, semuanya terdengar dengan jelas.

"Pagi-pagi sudah pacaran."

"Dia bukan pacarku, sudah aku katakan Sasuke itu adalah sahabatku." Ucap Sakura.

"Kau akan menyesal loh, Sasuke itu banyak fansnya."

"Aku tidak peduli, dia tetap adalah sahabatku." Ucap Sakura.

Berhenti melangkah, ucapannya memang benar, selama ini apa yang bisa aku harapkan? Hubungan kami sejak dulu, sejak kecil hanya sebatas teman bermain, teman bermain? Aku sampai lupa, dulunya aku sangat membencinya, kembali mengingat saat aku membuatnya tertidur cukup lama karena obat ayah, aku jadi bingung sendiri, apa yang sudah aku pikirkan saat itu, jika saja dia tidak bangun, aku akan menjadi orang jahat dan aku akan lebih menyakiti kedua orang tuanya, ibuku bahkan jauh lebih khawatir dari pada bibi Mebuki, dan sekarang dia menganggapku sahabatnya, sejak kapan kami menyandang status sahabat itu? Aku sendiri masih sedikit sulit jika menganggapnya teman, saat itu dia hanya butuh teman dan menjadikanku sasarannya.

Sahabat yaa?

Ah, tidak buruk, lebih baik memang seperti itu, tanpa sadar aku pun mulai terbiasa akan sikap kasarnya itu, sangat berbeda dengan gadis yang ku temui beberapa kali, bisa di gambarkan jika dia gadis unik, meskipun sedikit aneh, seorang gadis yang tidak bisa menjadi gadis, dia sangat cocok dengan itu, masih tidak sadar juga akan dirinya, sudah memasuki SMA dan masih tetap cuek akan dirinya.

.

.

TBC

.

.


udpate...~

udah beberapa hari server fanfic ini sepertinya lemot yaa, author cukup kesusahan kalau mau update, kalau lama loading jadi malas di update *kesal* =_="

karena mood sedang buruk, ya udah, cuma mau katakan itu.

see you next chapter...~