Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 5 ]

.

.

.

.

Saat memasuki SMA, satu hal yang aku harapkan, Sakura tidak mendapatkan lagi kasus bullyan dan aku rasa dia harus berteman dengan orang-orang yang ingin berteman dengannya, tidak ada lagi perantara menyampaikan perasaan yang malah menyerangnya, aku benar-benar marah jika hal itu akan terjadi lagi padanya, namun aku hanya memikirkan Sakura dan aku sendiri.

Bughtt!

"Dasar, masih junior tapi sudah berlagak, kau yaa murid yang populer itu, jangan coba-coba bertingkah di sini." Ucap seorang senior padaku.

Mengepalkan tanganku dan membalas mereka, konyol! Apa mereka pikir aku mau saja menjadi murid populer! Siapa juga yang ingin menjadi murid seperti itu! Senior ini marah karena murid perempuan yang di sukainya menolaknya dan mengatakan suka padaku.

Gila! Kalian benar-benar gila, aku bahkan tidak tahu siapa gadis itu dan tidak ada urusannya denganku.

Bught!

Kembali mendapat pukulan, mereka ada lima orang dan aku kalah jumlah.

"Sial! Beraninya kau melawan seniormu!" Ucapnya dan memukul wajahku lagi.

"Senior, cih! Senior apa yang sudah ingin lulus tapi bertingkah sebagai preman di sekolah, masa depan kalian hanya akan menjadi sampah!" Ucapku, aku sudah cukup kesal dengan berbagai tuduhan bodoh mereka, apa mereka pikir aku akan diam saja? Aku tidak akan seperti itu, aku tidak mau mendapat perlakuan seperti ini.

"Sialan kau!"

"Sensei! Ada yang berkelahi!" Teriak seseorang.

Para senior itu berhenti dan berlari menjauh, mereka takut mendapat sanksi yang cukup keras jika ketahuan berkelahi.

Mereka tidak melihat siapa yang berteriak itu, tapi aku akan sangat hapal dengan suaranya, gadis berambut softpink itu menghampiriku.

"Sasuke, kau tidak apa-apa?" Ucapnya, menatap ke arahnya dan dia terlihat khawatir.

"Aku tidak apa-apa, pergilah." Ucapku, menyingkirkannya dari hadapanku.

"Apanya yang tidak apa-apa! Sudut bibirmu berdarah dan mukamu lebam. Ayo kita UKS." Ucapnya, dia bahkan tidak peduli saat aku mendorongnya menjauh, tangannya terus menarik lenganku dan di sana sakit, para senior tadi juga menginjak lenganku.

"Sakit, bodoh." Ucapku dan menepis tangannya.

"Ma-maaf, aku akan membawamu perlahan." Ucapnya.

"Aku tidak ingin ke UKS dan aku tidak ingin dibantu olehmu, pergi dari sini." Ucapku, aku bukan orang lemah, kau bahkan tahu itu Sakura, jangan memperlakukanku seperti itu.

"Kau ini benar-benar keras kepala!" Tegasnya, dia marah padaku.

"Kaulah yang keras kepala!" Kesalku, kami saling bertatapan, yang terlihat olehku raut khawatir Sakura dan aku menatap marah padanya. "Berhenti peduli padaku." Ucapku.

"Bagaimana mungkin aku tidak bisa peduli pada temanku sendiri, jangan seperti ini Sasuke, apa kau tidak tahu, selama ini aku benar-benar tahu apa yang kau lakukan, kau membantuku menyelesaikan kasus bullyanku dan apa salahnya aku juga membantumu." Ucapnya.

Entah mengapa aku semakin kesal mendengar ucapannya, aku tidak perlu rasa kasihan darinya, sejak awal aku memang tidak akan peduli padanya, aku melakukannya karena secara langsung itu berkaitan denganku.

"Jika kau keras kepala terus, aku akan mengaduh pada bibi Mikoto." Ancamnya.

Terdiam sejenak, setiap kali dia mengatakan hal itu, aku ingin membalasnya, sangat ingin bisa membalasnya, tapi lagi-lagi ibuku lebih berpihak padanya.

Mendecak kesal dan berjalan pergi.

"Kita harus ke UKS." Ucap Sakura, masih tetap dengan rasa ingin membantunya, dia menggenggam tanganku yang bahkan masih kotor saat aku terjatuh di tanah, menarikku dan jalannya cukup cepat hingga ke ruang UKS.

"Sensei, tolong obati Sasuke." Ucap Sakura saat kami tiba di sana.

"Ada apa ini? Kau berkelahi Sasuke?" Ucap seorang guru yang sedang bertugas di UKS, dia bahkan mengenal hampir seluruh murid yang ada di bangunan sekolah ini.

"Sasuke tidak berkelahi, sensei, para senior-hmmppp!" Segera menutup mulut Sakura, dia benar-benar cerewet dan tidak bisa diam.

"Jangan dengarkan dia sensei." Ucapku, tidak perlu sampai mengaduh pada sensei.

"Arrghh!" Teriakku. Melepaskan tanganku dari mulut Sakura, dia menggigitnya, menggigit tanganku.

"Para senior memukul Sasuke tanpa alasan sensei!" Tegas Sakura, dia berhasil menyelesaikan ucapannya.

Menatap tanganku, sial! Dia benar-benar menggigitnya dengan keras.

"Lagi-lagi para senio berulah. Kau mengingat wajah mereka Sasuke?" Ucap sensei padaku.

"Tidak, aku tidak mengingat satu pun." Ucapku, aku malas untuk mengingat kembali wajah konyol mereka.

"Jika kau ingin bekerja sama, bantu sensei menemukan para senior yang memukulmu, ini tidak boleh terjadi pada sekolah kita, kasus seperti ini akan membawa dampak buruk pada murid lain, mungkin hari ini kau yang di pukul, besoknya ada murid lagi yang seperti ini dan membuat mental mereka memburuk." Jelas sensei itu.

Sayangnya aku tipe yang tidak begitu peduli, aku tidak perlu membuat masalah ini menjadi besar jika mereka hanya sekali menggangguku, lagi pula aku juga memukul mereka dengan keras, kalau sensei tahu alasan yang sebenarnya mereka memukulku, ini akan jauh terdengar konyol.

"Sasuke, katakan saja." Ucap Sakura.

Menatap padanya dan memasang wajah kesalku, kau sudah menggigit tanganku, dasar gadis barbar! Sakura memasang wajah bingungnya, apa dia hanya pura-pura bodoh? Memperlihatkan tanganku padanya dan di sana ada bekas gigitannya, cukup jelas.

"Ma-maaf." Ucapnya dan mengalihkan tatapannya dariku.

Meminta Sakura kembali saja ke kelas, sensei yang akan mengobati lukaku.

.

.

.

.

Saat pulang dan bertemu ibu, aku hanya mengatakan jatuh dan ibu tidak percaya, aku tidak ingin ibu khawatir dengan masalah kecil ini, berbaring di kasurku, ah tidak, berjalan keluar kamarku dan masuk ke kamar kakakku, berbaring di ranjangnya dan dia sedang sibuk dengan laptopnya, sebentar lagi kakak akan lulus.

"Ada apa dengan wajahmu?" Ucapnya saat melihatku masuk ke kamarnya.

"Di pukul beberapa senior." Ucapku, aku tidak pernah bisa berbohong pada kakakku.

"Apa! Siapa mereka? Biar aku memberi mereka pelajaran, mereka harus kena pasal penganiayaan." Ucapnya.

"Tidak perlu, cukup selesaikan saja masa kuliahmu dan jangan terlibat masalah apapun." Ucapku.

Aku ingin kakakku tetap di pandang baik dan dia tidak perlu punya masalah apapun, kakak berhenti mengetik dan menatap wajahku.

"Apa sudah di kompres?" Tanyanya, dia jadi khawatir.

"Hn, sudah." Ucapku.

"Mereka benar-benar keterlaluan, wajah tampan adikku sampai rusak begini, mereka juga harus mendapat balasannya."

"Sudah-sudah, kau jadi repot."

"Aku tidak akan repot, ini masalah yang serius Sasuke, apa mereka terus mengganggumu?"

"Tidak, hanya baru kali mereka menghajarku."

"Apa yang kau katakan pada ibu?"

"Hanya jatuh dan jangan coba-coba katakan yang sebenarnya, aku tidak ingin membuat ibu khawatir."

"Bagaimana dengan ayah?"

"Apalagi ayah, dia akan menyeret mereka semua ke penjara sekarang juga." Ucapku, ayahku akan tegas akan hal apapun, apalagi jika ada kasus yang menyangkutku atau kakak, ayah akan cepat bertindak.

"Kau benar-benar-"

"Sasuke." Itu suara Sakura.

Ucapan kak Itachi terpotong, dia mendengar suara Sakura.

"Apa karena Sakura akan datang kau bersembunyi di kamarku?" Ucapnya, cih, dia mengetahuinya, aku sedang malas bertemu gadis berisik itu.

"Sakura, Sasuke berada di kamarku." Teriak kak Itachi.

Sial! Kenapa malah membuka pintu dan memanggil Sakura, bodoh! memilih tidur dan berbaring membelakangi mereka.

"Aku membawakan ini untuk Sasuke, semoga lukamu cepat sembuh." Ucapnya.

Suara Sakura cukup jauh, mungkin dia tidak masuk ke kamar kakak dan hanya berdiri di depan pintu, dia masih sangat menghargai kakakku dan area privasinya, kecuali kamarku, dia tidak peduli dan seenaknya masuk.

"Terima kasih yaa, tidak masuk dulu?" Ucap kak Itachi.

"Ti-tidak perlu, ada yang ingin aku kerjakan jadi hanya sebentar saja." Ucapnya dan suara Sakura telah menghilang.

Berbalik saat kakak sudah menutup pintu kamarnya.

"Apa ini yang namanya pacaran dan sedang bertengkar?" Ucap kakakku.

"Pertama, kami tidak pacaran, kedua, kami tidak bertengkar." Ucapku, dari mana lagi dia mendapat ucapan seperti itu!

"Masih tidak mengakuinya juga? Kalian sudah bersama cukup lama."

"Bersama tidak berarti kami pacaran, jangan konyol." Ucapku, kesal. Menatap ke arah kakakku dan dia memegang sesuatu, bungkusan dari toko yang menjual taiyaki (sejenis cemilan kue berbentuk ikan dan kadang isinya kacang merah).

Segera bangun dan merampas bungkusan itu sebelum kakak mengambil isinya.

"Hey, aku hanya ingin mengambilnya satu." Protesnya.

"Apa ini yang Sakura bawa?" Ucapku.

"Iya, dia membawakannya untukmu dan semoga lekas sembuh ucapnya."

"Aku dengar itu, kau pikir aku tuli."

"Aku pikir kau tidak ingin mendengar ucapannya. Kalau begitu kau harus membaginya."

"Tidak." Ucapku dan beranjak pergi dari kamarnya.

"Tidak mau bertemu orangnya tapi mau cemilannya, akui saja jika kau cemburu jika aku memakan bawaan pacarmu!" Teriak kesal kak Itachi tapi aku tidak peduli dan sudah masuk ke kamarku.

Berbaring di kamarku dan membuka bungkusan itu, ah, aku tahu taiyaki dari toko ini, mereka membuatnya dengan sangat enak dan isi kacang merahnya tidak begitu manis, dia masih saja tahu apa yang aku sukai.

Ahhk! Setiap menguyah sudut bibir yang terluka akan terasa perih, sial, aku benar-benar sial hari ini.

.

.

Esoknya.

Aku rasa tidak ada yang namanya berhenti untuk mereka, senior itu kembali dan mereka masih terlihat marah padaku, bahkan lukaku belum sembuh total, apa mereka sudah gila hanya karena seorang gadis?

"Sebaiknya kau pindah sekolah saja." Ucapnya.

Berbalik dan memilih pergi, tidak ada gunanya meladeni senior seperti mereka.

"Hey! Kau masih tetap melawan kami!" Ucapnya, marah.

Berhenti.

"Ambil saja gadis yang kau katakan itu, aku bahkan tidak tahu siapa dia." Ucapku, cuek.

"Omong kosong, hanya berpura-pura dan kau akan mengambilnya, ada banyak gadis yang bisa bersamamu, kau ini benar-benar menyebalkan yaa."

"Bodoh, kau ini senior tapi tidak pernah punya pikiran sama sekali, jika dia menyukaimu, dia akan datang sendiri padamu, jangan memaksa orang seenaknya dan berhenti menuduhku, aku tidak pernah melakukan seperti apa yang kau pikirkan." Ucapku, aku ingin hal konyol ini berakhir.

"Para senior! Senyum!"

Cekrek.

"Wah, kalian terlihat semua di sini, aku bisa melaporkan kalian pada kepala sekolah dengan kasus pemukulan murid junior." Ucap Sakura.

Dari mana dia bisa tahu aku ada di sini? Gadis ini berlari dari belakang para senior itu dan kini berdiri di hadapanku, dia bahkan telah mengambil gambar dari para senior di hadapan kami.

"Kau berani pada seniormu! Hapus foto itu sekarang juga!" Ucap senior itu.

"Aku tidak mau dan berhenti memukul temanku." Ucap Sakura.

"Teman katanya, hahahaha apa kau salah satu gadis yang menyukai pemuda sialan ini? Dasar, kalian para gadis benar-benar buta."

"Kaulah yang buta senpai! Apa kau pernah bercermin? Wajahmu itu sangat jelek! Pantas saja tidak ada gadis yang menyukaimu, sudah jelek, bersikap kasar bahkan sok dengan kekuasaannya sebagai senior, kau tidak akan lulus jika otakmu pun pas-pasan." Ucap Sakura, dia bahkan berani menantang para senior itu.

Senior itu hanya terdiam tapi langkahnya cukup cepat, menarik Sakura dan menjauhkannya dari pukulan senior itu, hampir saja, jika tidak menarik gadis berisik ini wajahnya benar-benar akan di pukul.

"Sial! Kalian berdua akan kami habisi hari ini." Ucap senior itu, tapi sedikit berbeda dengan teman-teman mereka.

"Sudahlah, hentikan, lebih baik membuatnya menghapus foto kita." Ucap yang lainnya.

"Aku tidak mau di keluarkan dari sekolah hanya karena masalah perasaanmu."

"Benar, itu hanya mati konyol namanya."

"Diam kalian! Kenapa kalian malah berpihak pada kedua anak ingusan itu."

"Jelek! Berhenti memanggil kami ingusan! Kami sedang tidak flu, bodoh!" Sakura masih tidak diam juga, tapi dia benar-benar tidak gentar, bahkan hampir saja kena pukulan, dia masih ingin meladeni senior itu.

"Sakura, hentikan." Tegurku, dia akan menambah masalah untuknya jika tidak berhenti.

.

.

TBC

.

.


update...~

kemungkinan author akan update ini tiap hari lagi seperti "to be princess" yaa semoga tidak ada halangan yang membuat saya tidak update dan sebagainya XD.

author akan balas beberapa review yang sepertinya author perlu sampaikan.

untuk Lacus Clyne 123 : tenang-tenang beberapa karakter yang kamu sebutkan tentu saja akan muncul :)

untuk Azure Shine : meskipun ini Sasuke pov, akan ada sakura Pov, sejak awal cuma katakan Sasuke pov yang akan lebih dominan, hehehehe jadi di tunggu aja yaa... uhk.~ selamat datang kembali untuk membaca fic author *senang*

untuk yang lainnya, terima kasih atas review semangatnya. fic ini cukup membuat mood author jadi happy, makanya author lebih senang mengerjakan fic ini dari pada yang sweet blood, sweet sedang masuk alur yang rumit dan kebiasaan author ini adalah, kabur saat konflik muncul. =_=" *maafkn saya*.

baiklah. author masih tidak tahu ada apa dengan server fanfic ini, selalu saja error, jika kalian mendapat kasus yang sama dengan saya, silahkan sharing yaa... :)

.

.

See you next chapter.