Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ Girl-(friend) ~
[ Chapter 6 ]
.
.
.
.
"Kau pikir aku takut? Aku akan melawan para senpai ini." Bisik Sakura.
Bodoh, bisakah gadis ini sadar jika dia hanya seorang gadis biasa dan bukan wonder women? Apa perlu aku memukul kepalanya atau menyiramnya dengan air agar sadar? Mau sampai kapan dia punya pikiran bisa melawan anak laki-laki.
"Sakura." Panggilku agar dia menatapku, aku sampai harus menatap marah padanya. "Hentikan ini." Aku bahkan menekan setiap ucapanku agar dia mengerti.
"Aku hanya ingin membantumu." Ucapnya dan tidak berani menatapku.
Kau bisa apa untuk membantuku? Kau hanya menambah masalah.
"Sudah basa-basi kalian? Hari ini kalian akan ku buat kapok agar tidak melawan senior lagi." Ucap senior yang masih keras kepala itu dengan segala amarahnya, teman-temannya memilih diam hanya melihat-lihat saja, mereka tidak ingin ikut campur lagi.
"Sensei! Di sebelah ini." Teriak Sakura.
Ada tiga guru datang, para senior tidak bisa lari lagi. Sejak kapan? Sejak kapan para guru tahu kami berada di sini?
"Sudah aku katakan aku akan membantumu." Ucap Sakura.
Aku merasa sedikit lega, aneh, aku lega akan hal ini, aku pikir dia benar-benar akan melawan senior itu dengan kekerasan, dia memang kuat, tapi aku tak pernah melihat dia benar-benar berkelahi dengan anak laki-laki, kecuali dia pernah memukulku.
Setelah kejadian itu, para senior yang sudah memukulku mendapat teguran dan skors selama dua minggu, jika mereka berulah lagi, mereka akan segera di keluarkan dari sekolah, Sakura mempunyai bukti di ponselnya, dia sampai memotret para senior yang marah.
Gadis yang terlalu ingin ikut campur dan merasa dirinya sok kuat.
"Terima kasih." Ucapku, kami kembali belajar bersama, aku pikir aku harus berterima kasih banyak padanya, dia membantuku menyelesaikan kasus ini, meskipun sudah di larang berkali-kali, dia tetap dengan keras kepalanya.
"Kau berterima kasih? Tidak seperti Sasuke yang biasanya." Ucapnya dan memasang wajah aneh itu, antara ingin mengejek dan jijik mendengar ucapanku sendiri.
"Aku akan memukulmu jika berbicara seperti itu." Ucapku, kesal.
Aku tidak tahu, jika aku memang sangat jarang mengucapkan terima kasih padanya.
"Ciiee...~ akur lagi."
Melirik ke arah pintur kamarku yang terbuka sedikit, wajah menyebalkan itu tiba-tiba muncul.
"Berisik!" Kesalku dan melempar buku cetakku ke arah kakakku, pintaku tertutup sebelum buku cetak nan tebal itu mengenai wajahnya, rasanya aku benar-benar ingin memukul wajahnya, apalagi ucapan salah pahamnya, menatap Sakura, dia hanya tertawa melihat tingkah kakakku, kau juga, konyol.
Plak!
"Kenapa memukul kepalaku! Kak Itachi yang mengganggumu." Protesnya dan memegang kepalanya.
"Kau dan dia sama-sama menyebalkan." Ucapku.
.
.
.
.
Hari ini, di kamarku, kami sibuk belajar, jadi ingat, jika selesai jadwal belajar bersama, kami akan bermain, itu tidak mungkin di lakukan lagi, lagi pula saat liburan dia memilih pergi bersama teman-temannya, itu jauh lebih baik dari pada dia harus menjadikanku sasarannya untuk menghabiskan waktu, tidak ada hal yang bisa di lakukan bersama lagi saat telah menduduki bangku kelas 2 SMA ini, akan terkesan konyol jika masih bermain kejar-kejaran, apa Sakura benar-benar sudah berubah?
"Sasuke." Panggilnya, dia berhenti menulis soal yang sedang di pelajarinya, menatapku yang tengah membaca buku.
"Ada apa? Masih tidak mengerti?" Tanyaku tanpa menghentikan apa yang aku baca.
"Bukan."
Berhenti membaca dan melihatnya, dia terlihat ragu-ragu untuk menanyakan sesuatu padaku.
"Kau ingin mengatakan apa?" Ucapku, dia adalah tipe yang jujur, mungkin saja padaku, tidak ada hal yang bisa Sakura tutupi dariku, dia akan mengatakan segalanya.
"Seorang murid laki-laki dari kelas lain menyatakan perasaannya padaku." Ucapnya.
"Lalu?" Aku tidak tahu maksud dari ucapannya ini, apa dia ingin aku mendengar ceritanya atau ingin mendengar pendapatku.
"Aku tidak begitu mengerti akan hal ini, jadi aku belum bisa memberikan jawaban untuknya, menurutmu apa aku jawab iya atau tidak?" Ucapnya.
Dasar bodoh, kenapa aku yang harus menjawab? Kau yang akan pacaran dan bukan aku.
"Bagaimana jika aku menjawab tidak, apa kau akan mengikuti ucapanku?" Ucapku, aku melihat reaksinya, tatapan itu seakan ingin mendengar ucapanku, ada apa denganmu Sakura? Kau bebas menjawabnya.
"Begitu yaa." Ucapnya perlahan dan menjadi tenang.
"Bodoh." Ucapku dan menyentil jidatnya. "Kau bisa menjawabnya sesuai apa yang kau rasakan." Tambahku.
"Tapi jika saja aku sudah punya pacar, bagaimana denganmu? Kau akan sendirian." Ucapnya, itu adalah alasannya kenapa dia ingin mendengar jawabanku.
"Aku tidak akan sendirian, kau bisa bersama orang yang kau sukai." Ucapku.
Wajahnya terlihat senang, apa dia sudah mendapat jawaban yang akan di katakannya? Mungkin saja, jika pun kau sudah memiliki pacar, aku, uhm... aku tidak tahu, rasa bersama ini membuatku sedikit bingung, menatapnya, aku tidak tahu perasaan macam yang ada pada benakku.
Awalnya aku cukup membencinya, berikutnya dia mengaku-ngaku sebagai temanku, dia ingin menjadi sahabatku dan dia ingin aku pun mengakui hubungan kita ini, mungkin hanya karena akrab dengannya jadi hanya aku yang akan terus bersamanya.
Hubungan yang tumbuh perlahan ini berakhir menjadi sebuah persahabatan.
.
.
.
.
Hari itu, saat aku melihatnya, aku tahu Sakura menjawab apa.
"Kami pacaran, terima kasih atas nasehatmu Sasuke, kau benar-benar teman terbaik." Ucapnya, wajahnya terlihat senang dan rona merah itu menghiasi wajahnya.
Ini tidak membuatku senang.
"Aku akan pergi ke perpustakaan." Ucapku.
"Ah, baiklah, apa kita bisa belajar lagi saat di rumahmu?" Tanyanya.
"Tidak, aku akan keluar dan mungkin akan lama." Bohongku.
"Baiklah, mungkin lain kali saja, dah." Ucapnya. Dia pergi bersama pemuda itu, pemuda berambut merah yang di sukainya.
Perasaan macam apa ini? Rasanya ada sesuatu yang mengganjal dan rasanya aku ingin menarik Sakura kembali, dia sudah pergi, dia pergi bersama pemuda lain dan aku membiarkannya, apa ini sudah tepat? Perasaan aneh macam apa ini? Aku benar-benar bingung.
Sadar Sasuke!
Aku harus sadar akan hal ini, apa ini yang namanya kebebasan? Akhirnya aku benar-benar bebas darinya, bebas dari gadis kasar itu, aku tidak perlu pusing akan dia lagi, aku tidak perlu sibuk mengurusnya lagi, tidak perlu ada yang menggangguku dan ini membuatku merasa,
Aneh?
Ini benar-benar aneh, bukannya aku harus senang?
Beberapa kali kami sering berpapasan, Sakura akan menyapaku dan aku hanya memasang wajah tembokku, aku akan mencoba tidak peduli padanya lagi, sudah ada pemuda yang akan lebih peduli padanya.
Menghindarinya,
Cara lain agar kami tidak benar-benar bertemu, saat dia akan ke rumah, aku akan pura-pura keluar dan kembali ke rumah, semua yang aku lakukan untuk menghindarinya saja agar dia terbiasa dengan orang lain, tidak denganku lagi yang seperti benalu, terus menempel kemana aku pergi.
Tapi,
Sekali lagi ada yang aneh padaku, semuanya aku lakukan malah membuatku tidak senang dan lebih gelisah dari biasanya, aku sempat mendapatkan tatapan itu, wajah Sakura malah menjadi sedih, dia bersama pemuda yang di sukainya, tapi dia sama sekali tidak terlihat bahagia, ada apa dengannya? Aku harus menahan diri agar tidak kembali ikut campur.
.
.
.
.
Saat itu, aku pikir Sakura akan berhenti menemuiku, tapi dia kembali lagi menemukanku di rumah, kembali lagi seenaknya masuk kamarku dan juga, dia ingin berbicara padaku.
"Kau tahu, aku benar-benar tidak suka padanya, selalu saja memintaku untuk menjaga sikap, tidak boleh akrab dengan itu dan ini, jika beratku bertambah, dia menyuruhku diet, memangnya dia siapa! Aku sangat kesal padanya." Ucap Sakura, dia tiba-tiba putus dengan pacarnya itu, alasan karena Sakura tidak suka di perintah, aku tahu dia tipe gadis yang lebih ingin bebas.
"Hn." Gumamku.
"Aku menyesal menjawab pernyataannya."
"Hn." Gumamku lagi.
"Sasuke, apa kau mendengarkanku?" Ucapnya.
"Ah, aku mendengarmu." Ucapku.
Lihatlah apa yang di lakukannya, dia berbaring seenaknya di atas kasurku lagi, hingga berantakan, aku baru merapikan kasurku beberapa detik yang lalu.
"Aku pikir kau suka padanya." Ucapku.
"Awalnya aku suka, hanya saja setelah bersamanya sikap aslinya keluar, dan dia sudah membuat kesabaranku habis." Ucap Sakura dan dia terlihat kesal.
Dia begitu sederhana untuk memiliki hubungan dengan seseorang.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" Tanyaku.
"Entalah, aku tidak mau pacaran lagi dengan siapapun." Ucapnya, tapi ada yang berbeda dari tatapannya, dia menyembunyikan sesuatu dariku.
"Benarkah?"
"Tentu, untuk apa pacaran jika mendapatkan orang yang hanya merepotkan." Ucapnya.
"Jadi, kau ingin pacaran dengan seseorang yang sesuai keinginanmu saja?"
"Tentu! Jika bisa aku ingin pemuda yag sepertimu, kau benar-benar pengertian Sasuke dan aku jauh lebih nyaman denganmu."
Ucapannya cukup membuatku terkejut, menatap ke arahnya, apa dia tidak sadar dengan apa yang di ucapkannya itu?
"Kalau begitu, pacaran denganku?" Ucapku tiba-tiba, sial! Apa yang aku ucapkan!
"Hahahahahahahah...!"
Hanya ada tawa lepas darinya. "Jangan bercanda Sasuke, kita tidak mungkin pacaran." Ucapnya, dia mengatakannya dengan begitu santai.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Kau adalah sahabatku, aku tidak ingin mengubah hubungan yang telah lama kita bangun, ini sangat sulit loh, kau harus tahu-"
Sejenak jantungku berdegup kencang, sekarang aku sudah meredahkan detak jantung yang tak jelas itu, aku mengucapkan sesuatu yang membuatku sampai ingin berlari keluar dari kamarku, terdiam, aku mendengar ucapan Sakura, dia mengatakan jika aku adalah orang yang sulit baginya, dulu, dia sengaja bersikap kasar padaku, memaksaku dengan berbagai alasan, dia ingin aku tetap bermain dengannya meskipun harus berkali-kali membuatku marah, semua yang di lakukannya untuk membangun hubungan persahabatan itu.
"-Maka dari itu, aku ingin tetap kita menjaganya hingga kita tua nanti."
"Omong kosong." Aku tidak ingin mendengar ucapan itu darinya.
Sakura menatapku, dia menatap bingung ke arahku.
"Kau harus tahu ini, aku sudah bosan dengan hubungan pertemanan yang tidak jelas ini denganmu, sejak dulu aku terus menahan diri, sekarang aku tidak akan menahannya lagi dan sadarlah Sakura, kau itu seorang gadis." Ucapku, aku rasa inilah ucapanku yang cukup keterlaluan baginya.
"Apa yang kau katakan Sasuke?"
"Berhenti berteman denganku, aku tidak ingin memiliki hubungan seperti ini denganmu." Tegasku.
Dia tidak menatap ke arahku, tapi gelagat itu, dia jadi terkesan menjadi canggung padaku dan mulai merasa tidak enak.
"Begitu yaa, aku pikir selama ini kau tetap ingin berteman denganku, tapi gara-gara aku terus memaksamu, kau jadi terpaksa." Ucapnya.
"Ah, satu hal lagi-" Jangan katakan! Kenapa mulut ini tidak bisa diam! Jangan katakan apapun lagi! "Aku bahkan pernah berniat membuatmu tidak pernah sadar dengan obat tidur ayahku, alasannya hanya karena aku tidak ingin kau dekat denganku lagi, apa kau tahu itu?"
Siaal! Kenapa aku mengatakan itu juga!
Saat ini, aku menutupi rasa terkejutku, wajah itu, Sakura memperlihatkan wajah sedihnya padaku, untuk pertama kalinya, seumurku hidupku, mimik wajah yang sangat aku harapkan itu akhirnya muncul, namun terasa menyakitkan bagiku.
"Ma-maaf, aku minta maaf." Ucapnya dan bergegas keluar dari kamarku.
Menghela napas, apa yang sudah aku katakan? Aku hanya ingin menyembunyikan hal yang hampir saja aku ucapkan padanya, sial! Aku sudah gila jika pada akhirnya akan memiliki perasaan dengan gadis kasar itu, ini gara-gara kakak yang terus-terus mengatakan hubungan kami yang tidak masuk akal itu, ini bukan sebuah perasaan yang seperti itu, tenanglah, tenanglah, aku hanya terbawa suasana dan bukan seperti yang Sakura pikirkan, aku mungkin hanya terbiasa dengannya, makanya mengatakan hal itu.
Aku yakin sekarang Sakura sudah menganggap aku tidak ingin berteman dengannya lagi dan perasaan ini, memegang dada, gejolak aneh yang semakin membuatku sakit, aku menyakiti perasaannya dan hubungan yang susah payah di bangunnya.
Apa ini akhir dari hubungan kami?
.
.
TBC
.
.
update...
konflik permulaan, yak kira-kira begitu.
balas review :
Azure Shine : uhmm... begitu yaa, author pikir endnya udah kek sesuai, kek pengen bikin ngegantung, tapi malah maksa yaa? heheh nggk ada alasan nggak ada ide dan capek ngetik kok, (berusaha menjawab benar) ciyuuss...~ tidak ada, itu malah kepikiran emang pengen di kasih gitu aja Xd
Nejes : Semangat..! *membara*
Ve27 : terima kasih, bener, jarang-jarang ada, kalau ada pun, sasukenya ke bangs*t banget, pernah nemu, karya author pun hampir semua sakura pov, jadi ini sedang coba-coba Sasuke pov, (sampai kesulitan mikir sebagai Sasuke) :D :D
HYSTXX : Author suka dengan cewek yang nggak lemah, hehehe, Sakura kan tipe yang kuat kan, kan, jadi agak malas kalau di buat lemah XD
baiklah, karena tak ada yang di sampaikan, jadi balas review 4 biji yang nongol.
.
.
See you Next Chapter..
