Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 7 ]

.

.

.

.

Sakura pov.

'Sasuke' sepertinya hanya nama itu yang terus aku panggil, awalnya begitu sulit berteman dengan anak yang bermarga Uchiha itu, dia tipe pendiam, malas bergerak, hanya terus membaca dan sikapnya sangat tenang, dia begitu pintar, dari sebelum masuk TK dia sudah pandai membaca dan sekarang dia lebih senang belajar di saat anak-anak hanya berpikir untuk bermain.

Dia akan selalu ikut apapun yang aku katakan padanya, atau mungkin dia hanya pasrah karena cuma aku yang terkesan cukup berani padanya, anak-anak lain jika ingin mendekatinya, dia akan memasang wajah temboknya dan berbicara cukup jahat pada anak-anak perempuan lain.

Hubungan ini terbentuk dengan sendiri, aku menyayanginya selayaknya aku memiliki saudara, sebagai anak tunggal aku hanya akan sendirian di saat kedua orang tuaku sibuk, Sasuke memiliki kakak, Uchiha Itachi, mereka terkesan mirip meskipun kak Itachi jauh lebih tua dari kami, sejak dulu dia sering membacakan cerita untukku, bermain denganku di saat Sasuke tidak peduli, hingga mengajakku bermain game di saat kepalaku pusing untuk mengerjakan tugas dan lagi Sasuke mulai keras untuk mengajariku belajar, aku tahu dia hanya ingin nilaiku tetap menjadi baik, dia pun perhatian padaku.

Hubungan ini, berubah, aku rasa aku mulai egois dengan sering menatap ke arah Sasuke, dia tumbuh menjadi pemuda dengan sikap yang sangat dewasa, saat memasuki SD dia sudah sangat populer, hingga SMA, kepopulerannya itu menjadi-jadi, aku tahu, dia sangat pandai di segala pelajaran, olahraga, dan juga wajahnya cukup tampan, paman Fugaku saja tampan dan bibi Mikoto sangat cantik, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, mungkin Sasuke mewarisi segalanya, kejeniusan dan wajah perfect.

Saat masih di bangku SMP, banyak dari murid perempuan ingin aku menyampaikan perasaan mereka pada Sasuke, aku membantu mereka, tapi Sasuke tetap saja akan cuek dengan mereka semua, dari kebaikan itu, mereka menyerangku, aku tahu siapa saja yang melakukannya, aku tahu mereka marah dan menganggapku berbohong, saat ini aku benar-benar mengganggap Sasuke hanya sahabatku, tapi tidak ada yang mempercayaiku dan malah mengedarkan isu bohong tentang hubunganku dan Sasuke.

Aku pikir jika isu itu benar beredar, Sasuke akan menjauh dan marah padaku, aku tidak ingin kami seperti itu, makanya selama ini aku diam, aku menyelesaikan sendiri masalah yang aku punya, aku tidak ingin Sasuke terlibat.

"Berhenti peduli pada orang lain." Ucap Sasuke.

Sasuke sedang mencoba melindungiku, tapi aku tidak bisa melakukannya, aku sedikit sulit jika harus menjauh dari Sasuke.

Berpura-pura tidak mengerti dan dia hanya semakin marah, aku tahu Sasuke, aku tahu maksudmu itu.

"-Tidak apa-apa!" Ucapku, aku memotong ucapan Sasuke. "Aku rasa tidak apa-apa jika mereka menyerangku, lagi pula ini sebagai latihan pertahanan diri." Lanjutku, aku juga merasa tidak masalah, aku berbohong akan perasaan yang tidak enak setiap kali mendapat perlakuan buruk itu.

Namun, aku tidak cukup membuat mereka berhenti menyerangku, Sasuke, dia lebih bertindak dariku, meskipun dia diam dan tidak mengatakan apa-apa padaku, aku mengetahui segalanya, dia yang membuat para gadis itu berhenti menyerangku dengan kata-kata jahatnya, aku jadi membuatnya repot dengan masalahku ini.

Selamanya aku pikir, ini tidak apa-apa, aku yakin hanya memiliki hubungan sebagai 'sahabat' adalah jalan terbaik, lagi pula selama ini Sasuke hanya menatapku sebagai sahabatnya, aku pun harus sadar diri, dia tidak mungkin menyukai gadis yang kasar dan keras kepala sepertiku ini, suatu saat, dia pasti akan mendapatkan gadis yang sangat layak untuknya, hingga hari itu datang, aku akan dengan senang hati tetap menyandang status 'sahabat' bersamanya, setelahnya, aku pun harus mencari pria yang sesuai untukku, tapi tetap saja aku akan terus menganggapnya sebagai sahabatku.

Saat itu.

"Sakura, bisa bantu kami, para murid perempuan yang lain lain tidak bisa membantu mengangkatnya." Ucap salah satu murid laki-laki yang sekelas denganku, mereka ada sekitar 3 orang datang meminta bantuan padaku, hari ini sekolah akan mengadakan festival, mereka selalu berpikir jika aku bisa melakukan segalanya selayaknya seorang pemuda, meskipun mereka tahu aku ini juga adalah seorang perempuan, kadang Sasuke selalu menegur, aku sadar jika aku hanya seorang perempuan, aku hanya tidak ingin di anggap lemah dan selalu mengabaikan teguran Sasuke itu.

"Ya-ya, tolong bantu kami, yang lainnya masih sibuk bekerja dan murid perempuan lainnya tidak ingin mengangkat yang berat-berat, katanya mereka takut tangan dan kuku mereka lecet." Alasan mereka.

Mungkin hanya aku saja yang kurang merawat diri, tapi tidak ada alasanku untuk menolak, lebih baik aku membantu agar tugas kami jadi lebih cepat selesai.

"Baik." Ucapku dan mereka terlihat senang.

Baru saja akan mengangkat salah satu kardus, Sasuke datang dan menarik tanganku menjauh dari kardus itu.

"Kalian, apa kalian tidak sadar jika dia juga seorang gadis? Apa kalian pikir dia tidak akan apa-apa jika mengangkat yang berat-berat? Dimana otak kalian?" Ucap Sasuke dan menatap tajam ke arah mereka.

"Ma-maafkan kami, biar kami yang akan mengangkatnya nanti." Ucap mereka dan kabur begitu saja setelah melihat Sasuke.

Aku sendiri sampai terkejut, Sasuke tiba-tiba saja datang seperti hantu.

"Kenapa berbicara seperti itu? Aku masih sanggup melakukannya." Ucapku.

"Kau ini benar-benar bodoh, kalau begitu ubahlah dirimu jadi laki-laki dan angkat apapun yang kau suka." Ucapnya dan kini menatap tajam padaku.

"Memangnya kenapa? Aku hanya ingin membantu." Ucapku, aku jadi kesal akan ucapannya.

Sasuke terdiam dan menatapku, aku sampai kesulitan menatapnya.

"A-apa?"

"Sadarlah jika kau pun hanya seorang gadis." Ucap Sasuke dan berlalu begitu saja.

Deg.

Apa-apaan tadi! Aku sampai gugup, dia terlalu dekat hanya untuk mengatakan itu.

"Dasar Sasuke bodooh!" Teriakku.

Cih! Menyebalkan, kenapa dia malah bersikap seperti itu!

Aku kembali mengingatnya lagi, saat itu aku jadi mulai merasa aneh padanya.

Sesekali menatapnya kembali, saat di kelas, saat sedang olahraga, saat kami sedang belajar bersama dan saat aku tidak melakukan apapun, Sasuke akan sibuk membaca dan duduk di kursi, aku jadi bisa menatapnya saat berbaring di ranjangnya, sedikit konyol, aku suka berbaring di ranjang Sasuke, di sana ada bau pemuda itu, benar-benar bodoh, aku jadi terkesan seperti gadis mesum, tidak! tidak! Aku hanya terbiasa tidur di sini.

Tapi,

Sekali lagi, aku akan membatasi diriku dan selalu menyadarkan diriku tentang siapa Sasuke itu sebenarnya.

Benar!

Kami hanya sahabat, dan aku tidak ingin hubungan ini berakhir atau tergantikan.

.

.

Saat hari kelulusan SMP.

"Paman bajak laut!" Ucapku dan memeluk ayahku.

"Apa yang kau ucapkan Sakura, panggil ayahmu dengan benar!" Tegur ibu.

"Tidak apa-apa, anakku sudah jauh lebih dewasa." Ucap ayah.

Setiap melihatnya kembali ke Konoha aku merasa begitu rindu padanya, sejak kecil, ayah akan selalu pergi dan pulang cukup lama, bertahun-tahun baru akan kembali, setiap dia pulang, dia akan terkejut melihatku tumbuh dengan cepat, bukan aku yang tumbuh dengan cepat, dia saja yang pulangnya sangat lama.

Aku merasa senang saat dia kembali, meskipun bekerja sebagai kapten kapal dan terus berlayar ke berbagai negara, dia masih tetap mengingatku dan ibu, dia bahkan akan sempat menghubungi kami jika sudah bersandar di pelabuhan negara lain, mengatakan hadiah apa yang aku inginkan jika dia sudah pulang, sayang aku tidak ingin hadiah apapun, aku akan bosan menunggu hadiah itu jika ayah akan kembali cukup lama, aku hanya mengatakan padanya jika hadiah yang aku inginkan, ayah kembali dengan selamat, itu saja sudah cukup.

"Selamat atas kelulusannya, Sakura." Ucap paman Fugaku dan bibi Mikoto, mereka sudah seperti orang tua kedua bagiku.

"Terima kasih." Ucapku dan tersenyum.

"Apa kabar Fugaku? Lama tak jumpa." Ucap ayah, dia mulai berbicara santai dengan paman Fugaku, yang aku tahu paman Fugaku dan ayah adalah teman.

.

.

Masa SMP berakhir, aku pikir akan mendapat kasus bullyan lagi, tapi malah Sasuke yang mendapat masalah, para senior memukulnya dan itu membuatku sangat marah, aku berteriak berbohong jika ada guru agar mereka berhenti memukul Sasuke.

Jika mendengar alasan mereka memukul Sasuke, aku juga merasa seakan ingin memukul mereka, mereka senior yang benar-benar konyol! Hanya karena masalah seorang gadis yang menolaknya saja, Sasuke menjadi sasaran, dimana pikiran mereka! Gila! Mereka benar-benar gila! Aku sangat ingin membalas mereka, tapi.

"Jangan pernah mencari masalah dengan para senior itu." Ucap Sasuke, dia sedang memperingatkanku agar tidak bertindak gegabah.

Aku hanya tidak bisa melihat Sasuke seperti ini, wajahnya lebam dan sudut bibirnya terluka, sensei yang berada di UKS pun menasehati Sasuke agar bekerja sama dengannya, tapi dia tipe yang cuek, Sasuke selalu bermasa bodoh jika mereka tidak mengganggu lagi, Sasuke tidak akan peduli.

Bagaimana pun juga aku harus membantu Sasuke, aku akan selalu mengikuti Sasuke kemana dia pergi dan mendapatkan bukti dari para senior itu, saat mereka sibuk mengoceh aku mengirimkan pesan pada sensei yang berada di UKS, kami bekerja sama, aku mengajukan diri karena Sasuke tidak ingin di bantu, dia merasa seperti orang yang bisa melakukan segalanya, padahal dia pun mendapat perlakuan buruk.

Kasus Sasuke terselesaikan dan satu hal yang membuatku cukup senang.

"Terima kasih." Ucap Sasuke.

Seumur hidupku, baru kali ini aku mendengar Sasuke berterima kasih padaku, biasanya dia akan memarahiku, mengejekku bodoh atau melakukan apapun jika dia sedang kesal padaku.

.

.

Saat itu.

Aku menatap salah satu teman kelasku, kami tidak begitu akrab, tapi melihat sikapnya bersama seseorang yang di sukainya, mereka jadi tidak saling berbicara bahkan menyapa, dulunya mereka adalah sahabat, setelahnya pemuda yang sahabatnya itu menyatakan perasaannya, hubungan mereka yang awalnya sahabat, menjadi lebih berkembang sebagai pacar, sayangnya saat mereka pacaran tidak seperti yang mereka harapkan, hubungan saat sahabat jauh lebih membuat keduanya nyaman, dan sekarang, bahkan tegur-sapa pun menghilang, keduanya sama-sama seperti orang saat asing saat berpapasan.

Semenjak itu, aku tidak ingin memikirkan hubungan yang lebih bersama Sasuke, membayangkannya saja terasa begitu menyakitkan, saling tidak menyapa, saling tidak menegur, saling tidak mengenal, dan menjadi orang asing, aku tidak mau seperti itu.

Sudah aku putuskan, mulai sekarang dan seterusnya kami adalah sahabat.

.

.

"Aku menyukaimu." Ucap seorang pemuda dari kelas yang berbeda denganku, dia menyatakan perasaannya padaku, aku tidak tahu jika meskipun sikapku kasar dan tidak begitu feminim, ada yang terus memperhatikanku.

"Be-beri aku waktu." Ucapku, gugup, dia menjadi orang pertama yang menyatakan perasaannya padaku, rasanya begitu aneh, gugup dan sedikit malu, tanganku sampai terasa dingin.

"Kau tidak menyukaiku?" Tanyanya, dan aku bisa melihat jelas tatapan kecewa itu.

"Bu-bukan seperti itu! Sungguh! A-aku tidak ada alasan untuk tidak menyukaimu, tapi tolong beri aku waktu untuk berpikir, ini terlalu mendadak bagiku." Ucapku, dia tiba-tiba saja berpikir buruk tentang tanggapanku.

"Baiklah, jangan terlalu lama memberi jawaban." Ucapnya dan tersenyum, sebenarnya dia juga sangat manis loh, Akasuna Sasori, fansnya pun cukup banyak, aku tidak peduli pada fansnya dan parasnya, tapi apa dia sungguh-sungguh tulus padaku?

Pada akhirnya.

Aku bertanya pada Sasuke, aku penasaran bagaimana tanggapannya jika ada pemuda lain yang menyukaiku? Apa dia akan membiarkanku memiliki hubungan dengan pemuda lain?

"Lalu?"

Hanya itu yang di ucapkan Sasuke, tatapannya sangat tenang, aku bahkan tidak melihat ekspresi apa-apa di wajahnya, dia tidak terkejut atau apapun, ini namanya the power of wall face.

"Aku tidak begitu mengerti akan hal ini, jadi aku belum bisa memberikan jawaban untuknya, menurutmu apa aku jawab iya atau tidak?" Tanyaku, anggap saja aku sedang konsultasi dengannya, tapi aku cukup salah untuk menanyakan hal ini pada Sasuke yang jelas-jelas tidak pernah memiliki hubungan seperti ini, yang aku dengar dia sudah menolak banyak gadis, murid populer mah bebas.

"Bagaimana jika aku menjawab tidak, apa kau akan mengikuti ucapanku?" Ucapnya.

Aku benar-benar terkejut mendengar jawaban itu, aku sangat ingin kau mengatakan hal itu, tapi tidak mungkin, pikirkan kembali hubungan kita.

"Begitu yaa." Ucapku, terdiam dan memikirkan jawaban Sasuke.

"Bodoh." Ucapnya dan menyentil jidatku. "Kau bisa menjawabnya sesuai apa yang kau rasakan." Tambahnya, aku sampai menatap kesal padanya dan menggosok jidatku.

"Tapi jika saja aku sudah punya pacar, bagaimana denganmu? Kau akan sendirian." Ucapku, aku sedang membuat alasan konyol agar dia benar-benar membantuku memberi jawaban.

"Aku tidak akan sendirian, kau bisa bersama orang yang kau sukai." Ucapnya.

Setelah dia mengucapkan hal itu, aku hanya berpikir dan terus berpikir, benarkah itu yang Sasuke inginkan? Dia pun ingin aku bisa bersama pemuda yang aku sukai.

Pemuda yang aku sukai?

Mencoba memikirkan Sasori, kami tidak terlalu akrab, dia hanya sering menyapaku dengan ramah, tiba-tiba menyatakan perasaannya, apa benar aku juga menyukai Sasori? Atau aku hanya mencoba mencari seseorang yang akan jauh lebih baik jika bersama dan tidak memiliki ikatan sebagai seorang sahabat pada hubungan awal, aku terus memikirkan jika aku tidak ingin hubungan kami berakhir buruk.

Ahhk! Aku sampai pusing memikirkannya.

.

.

Aku menjawab pernyataan Sasori, aku menerima pernyataannya dan kami resmi menjadi pacar, meskipun banyak yang iri padaku, aku tidak peduli, kalian ganggulah Sasuke semau kalian. Aku rasa bersama Sasori menjadi jalan yang tepat, hubunganku dan Sasuke akan tetap terjalin dengan baik, kami akan tetap menjadi sahabat selamanya, mungkin inilah yang aku harapkan dan begitu juga Sasuke, aku pikir semua akan baik-baik saja.

Namun,

Hal aneh terjadi, Sasuke semakin dingin padaku, sikapnya berubah, dia mulai jarang menegurku, beralasan jika sangat sibuk jika aku ingin belajar di rumahnya, kenapa? Aku pikir jika sudah punya pacar hubungan kami akan tetap biasa saja, kenapa dia malah menghindariku? Apa karena seorang pacar? Lagi pula aku sedang mencoba menyukai Sasori, aku belum benar-benar mengetahui Sasori seperti apa.

Aku sudah memikirkan baik-baik jika hubunganku dengan Sasuke akan tetap terjalin dan tidak akan terganggu, aku juga selalu menyapanya, aku tidak pernah membatasi diri dengannya, meskipun sudah memiliki pacar.

Semakin lama aku mulai merasa hubunganku dengan Sasori terasa hambar, bukan seperti ini yang aku harapkan, mungkin hanya aku saja yang merasakannya, di awal begitu bahagia, tapi jika Sasuke bersikap seperti itu, aku tidak menikmati hubungan pacaran ini.

"Bagaimana jika kencan lagi?" Ucap Sasori padaku.

Aku hanya menghela napas dan menatap malas padanya, punya pacar itu tidak juga membuatku bahagia.

"Aku ingin belajar, maaf." Ucapku.

"Kenapa jadi sibuk belajar? Kencan sekali lagi dan kau bisa belajar." Bujuknya.

"Tidak, Sasori." Tolakku.

"Sakura." Dia memanggilku dan tatapannya terlihat tidak senang. "Akhir-akhir kau pun menjadi aneh. Ada apa? Kenapa kau tidak pernah bercerita apa-apa padaku? Apa kau tetap menganggapku pacarmu?" Dia mulai berbicara hal yang sangat ingin aku jawab, jika sekarang.

Aku muak denganmu.

Aku menerimamu untuk menyelamatkan hubungan persahabatanku, tapi semakin kesini, hubunganku dengan Sasuke menjadi buruk, aku tidak senang akan hal itu, kebahagiaanku memudar, sepertinya Sasuke benar dengan ucapannya jika aku harus menolak dan bukan menerima, aku hanya terlalu bodoh untuk terus memikirkan bagaimana hubunganku dengannya, jika punya pacar? Sahabat pun tidak akan terganggu, aku terus memikirkan ini tidak akan membawa masalah, tapi Sasuke terus bungkam dengan segala hal yang di pikirkannya, aku kesulitan menebak apa isi kepalanya.

Beberapa hari kemudian, aku meminta putus dengan Sasori, meskipun dia menolak, aku tetap tegas akan keputusanku, aku berhenti memiliki hubungan dengannya dan juga aku berbohong pada Sasuke.

"Kau tahu, aku benar-benar tidak suka padanya, selalu saja memintaku untuk menjaga sikap, tidak boleh akrab dengan itu dan ini, jika beratku bertambah, dia menyuruhku diet, memangnya dia siapa! Aku sangat kesal padanya." Ucapku, semua itu bohong, Sasori tidak seperti itu, dia adalah pemuda yang baik, sangat baik, aku sampai takut jika dia akan marah saat kami putus, tapi dia hanya mengatakan jika berharap aku menemukan pemuda yang mungkin lebih baik darinya, jika tidak, dia akan datang kembali padaku.

Aku jadi merasa bersalah pada apa yang aku lakukan, Sasuke hanya terus bergumam, aku sedikit kesal akan jawabannya itu, dan tiba-tiba dia mengucapkan tentang pemuda sebagai kriteriaku, aku jadi keceplosan menjawab jika tipe pemuda yang aku inginkan seperti dia.

"Kalau begitu, pacaran denganku?" Ucapnya tiba-tiba.

Aku sampai terkejut, menatap ke arahnya dan dia begitu tenang. Aku terus memikirkan hubungan yang berubah dan akan terputus, aku tidak menginginkan

Tertawa cukup keras, aku harus tertawa agar Sasuke tidak sadar akan raut wajahku tadi. Aku sampai mengatakan itu tidak mungkin padanya, aku mulai mengucapkan apapun yang ada pikiranku selama ini terhadapnya.

Benar,

Kami hanya sahabat, dan hubungan itu akan selamanya, bukannya aku ingin bersikap egois memiliki pacar dan juga sahabat, tapi aku ingin tidak ada hubungan yang berubah saat kami bersama atau tidak memiliki seseorang yang sangat dekat dan memiliki status, apa itu salah? Apa itu berat?

"Omong kosong." Ucap Sasuke.

Kembali terkejut, dia seperti tidak menerima akan ucapanku itu, berikutnya dia membuatku merasa ucapanku tidak pantas karena selama ini dia terpaksa bersamaku, terpaksa membangun hubungan ini dan itu membuatku sedih, aku menjadi merasa bersalah padanya dan malu akan sikapku yang dulu.

"Begitu yaa, aku pikir selama ini kau tetap ingin berteman denganku, tapi gara-gara aku terus memaksamu kau jadi terpaksa." Ucapku.

"Ah, satu hal lagi, aku bahkan pernah berniat membuatmu tidak pernah sadar dengan obat tidur ayahku, alasannya hanya karena aku tidak ingin kau dekat denganku lagi, apa kau tahu itu?"

Terkejut, kali ini sebuah kebenaran yang tak pernah aku ketahui, ahk, bukan, tapi kebenaran yang sempat aku lupakan, aku hanya sadar saat berada di rumah sakit, apa itu perbuatan Sasuke? Apa dia benar sengaja melakukannya? Apa sampai seperti itu rasa bencinya padaku?

"Ma-maaf, aku minta maaf." Ucapku.

Aku sudah tidak tahan lagi.

Segera pulang dan menangis di kamarku, aku sedih setelah mengetahui kenyataan ini, karena sikap egoisku, aku membuat Sasuke tersiksa selama bertahun-tahun, Sasuke menjaga sikapnya hanya demi rasa terpaksa itu, aku benar-benar bodoh dan hanya mementingkan diriku sendiriku.

Hubungan persahabatan ini.

Hanya hubungan palsu yang aku bangun sendiri.

Sasuke tidak benar-benar ingin berteman denganku.

Aku rasa yang terbaik adalah.

Hubungan ini berakhir.

Ending Sakura Pov.

.

.

TBC

.

.


update... cinngg..~

kali ini author akan memperlihatkan sudut pandang Sakura, (sakura pov) jadi berikutnya, pov Sakura akan muncul lagi, di sini perannya sebagai penjelas sih, pov Sasuke seperti menyimpan banyak hal yang sulit di keluarkan, dan akan ada sudut pandang author, ada banyak hal yang akan author buat di alur selanjutnya dan selanjutnya, alur dalam fic ini bikin author cukup nyaman, konflik nggak terlalu rumit-rumti gimana sih, sebenarnya simpel tapi watak manusia kadang yang simpel di bikin rumit, wkwkkw, biasanya sih gitu XD jadi para reader udah tahu Sakura gimana, emang sih disini dia agak egois tapi dia cuma ingin yang terbaik dan berakhir dengan salah paham terhadap ucapan Sasuke. sasuke dengan segala muka temboknya dan rasa egois yang jauh lebih tinggi, serah kalian dah =_="

akhirnya hubungan mereka berakhir,

TAMAT...

belum woyy...! beluumm...! :D

.

hari ini nggak balas review yaa, tapi tetap rajin mau terima kasih aja. :)

See you next Chapter...~