Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 8 ]

.

.

.

.

Normal Pov.

Setelah pembicaraan mereka yang sudah lewat seminggu itu, Sasuke masih sering memperhatikan Sakura, gadis itu, menjauh darinya, dia tidak tahu jika ucapannya itu malah menyakiti perasaan Sakura, hubungan mereka berakhir bukan karena hubungan yang berkembang, tapi hubungan yang masih membuat Sasuke berpikir jika dia tidak ingin bersahabat dengan Sakura, namun Sakura pun mengartikan lain dari apa yang Sasuke inginkan.

Tidak ada yang saling tegur-sapa, semuanya jadi terkesan biasa saja dan seperti tidak mengenal satu sama lain, orang asing bagi mereka, murid-murid lain sering membicarakan mereka, awalnya terlihat begitu akrab meskipun tidak memiliki hubungan, namun keduanya mulai tak terlihat bersama atau bercanda bersama, masing-masing punya kesibukan dan lebih sering berkumpul bersama teman kelas mereka yang lainnya.

"Bawa ini pada Mikoto." Ucap Mebuki, meminta Sakura membawakan pai apel untuk tetangga mereka.

"Heee! Kenapa harus aku yang membawanya? Ibu saja." Tolak Sakura.

"Ibu masih sibuk membersihkan ini, cepat sana, Mikoto itu paling suka dengan pai apel, kau sudah sering di jaganya, seharusnya kau membawakan sesuatu untuknya, kau tidak ingin sedikit berbalas budi pada ibunya Sasuke?" Tegur Mebuki.

Ucapan ibunya membuatnya ingat akan sesuatu, saat dia dan Sasuke berada di kapal pesiar dan saling berbicara, Sasuke menyinggung akan balas budinya, namun mulai sekarang dia tidak bisa menemui Sasuke lagi, suasananya benar-benar berbeda.

Sakura dengan wajah malasnya berjalan keluar, satu-satunya yang tidak ingin di lakukannya adalah mendatangi kembali rumah Sasuke, setelah pembicaraan mereka saat itu, keduanya menjadi semakin jauh dan Sakura tidak pernah lagi menginjakkan kaki di rumah Sasuke.

Memencet bel dan berharap bukan Sasuke yang membukanya.

Sialnya.

"A-a-a-aku membawakan ini untuk bibi Mikoto, sudah, bye!" Ucap Sakura dan segera pergi dari situ setelah memberikan kue itu, dia benar-benar terkejut saat Sasuke yang membukakan pintu, dia pun terburu-buru mengatakan hal itu dan berlari pulang.

Sementara Sasuke, masih menatap pintu rumahnya yang tertutup dan di tangannya ada semangkuk pai apel, Sakura sudah menghilang dan dia baru saja menyadarkan diri jika tadi adalah Sakura.

Tatapannya terlihat sedih, bukan ini yang di harapkannya, dia pun tidak berniat berbicara kembali dengan Sakura, dia yakin jika Sakura tidak akan mendengarkannya, hubungan mereka berakhir begitu saja. Sasuke merasa ada yang hilang dari apa yang sering di rasakanya, gadis itu tidak ada lagi untuk mengganggu kehidupannya, meskipun terkesan sebagai pengganggu, Sasuke seakan senang jika gadis itu cerewet dan merengek padanya.

Membawa pai apel itu masuk, berjalan menuju ruang tv dan ibunya sedang bersantai di sana, menaruh pai apel itu di meja.

"Siapa yang datang?" Ucap Mikoto.

"Sakura, ini untuk ibu." Ucap Sasuke, setelahnya beranjak pergi.

"Kenapa tidak membiarkan Sakura masuk?" Ucap Mikoto dan langkah Sasuke terhenti, jika dia mengatakan mereka bertengkar atau hubungan pertemanan mereka berakhir, apa yang akan di pikirkan ibunya? Sasuke sendiri bingung bagaimana menyelesaikan masalahnya.

"Dia terburu-buru, jadi langsung pulang." Ucap Sasuke.

"Akhir-akhir ini Sakura juga jarang datang ke rumah, kalian tidak belajar bersama lagi?"

"Sakura ingin belajar sendiri katanya." Karang Sasuke, dia pun tidak tahu jika semuanya akan berdampak pada belajar bersama mereka, Sakura jadi tidak ingin bertanya apapun masalah pelajaran yang sulit baginya.

Menghela napas, berjalan masuk ke kamarnya setelah ibunya berbicara, berbaring di ranjangnya yang sudah rapi sejak tadi, tidak ada yang akan mengganggunya lagi di saat sibuk membaca, tidur seenaknya di ranjangnya dan membuatnya berantakan dan juga cerita-cerita curhat konyol Sakura jika dia sedang di sekolah.

Hening,

Suasana damai yang di harap Sasuke tidak seperti ini, sejak dia mulai terbiasa dengan Sakura, semua jadi keseharian yang seakan wajib untuknya.

.

.

.

Hari kelulusan SMA.

Sekali lagi, Sasuke akan naik ke atas panggung sebagai perwakilan murid yang lulus dengan mendapat peringkat teratas, dia masih melihat hasil dari Sakura, nilainya sedikit menurun semenjak mereka tidak belajar bersama lagi.

Sasuke mulai membicarakan pidatonya, menatap ke arah seluruh murid yang telah lulus dan matanya kini terfokus pada Sakura, gadis itu, terdiam, dan menundukkan wajahnya, dia tidak lagi heboh di kursinya dan mengacungi jempol saat mata mereka bertemu.

Rasa hampa ini semakin membesar.

Sasuke bertemu kedua orang tua Sakura lagi, namun tidak bertemu gadis itu, kata kedua orang tuanya Sakura sedang ke toilet, tapi dia tahu jika gadis itu sedang menghindarinya.

Tidak ada perayaan bersama lagi, Kizashi, ayah Sakura hanya pulang sebentar dan kembali berlayar, saat ini, di restoran keluarga, Sakura dan ibunya sedang membuat acara kecil mereka.

"Kenapa tidak memanggil keluarga Uchiha lagi? Kita bisa makan bersama." Ucap Mebuki.

"Tidak usah, bu, sepertinya mereka punya rencana juga." Ucap Sakura, dia tidak ingin bertemu Sasuke.

"Kau ini, akhir-akhir ini terlihat aneh, bahkan tidak belajar bersama Sasuke, ada apa?"

"Tidak ada apa-apa, bu."

"Baiklah, kau sudah menargetkan kampusmu?"

"Sudah, bu."

"Apa akan bersama Sasuke lagi? Kalian ini lama-lama akan berjodoh."

"Hentikan itu, bu. Selama ini Sasuke bersamaku hanya karena dia mendengar ucapan ibunya, bibi Mikoto ingin ada yang menjagaku selama ibu dan ayah sibuk bekerja." Ucap Sakura, dia mulai membicara fakta yang terjadi selama ini.

"Be-begitu, maafkan ibu, karena ayah dan ibu Sibuk, kau terus bersama keluarga Uchiha."

"Aku memahaminya, bu, maka dari itu, aku tidak akan pernah merengek pada kalian, aku tahu kalian bekerja pun semuanya untukku, maka dari itu, seharusnya aku yang meminta maaf dan terima kasih atas kerja keras kalian selama ini, ayah bahkan repot-repot membawakanku hadiah saat pulang, padahal aku hanya ingin hadiah dimana ayah pulang dengan selamat." Ucap Sakura.

Mebuki menatap anak semata wayangnya itu, sedikit terharu mendengarnya, sekarang anak kecilnya sudah menjadi gadis dewasa yang benar-benar memahami segalanya.

"Makan yang banyak, sebentar lagi kau akan menjadi mahasiswa." Ucap Mebuki.

"Tentu saja, aku akan makan semuanya." Tegas Sakura, berusaha melupakan masalah yang sedang terjadi antara dia dan Sasuke.

Ending normal Pov.

.

.

.

.

.

.

1 tahun kemudian.

Sasuke Pov.

Sampai masa SMA itu berakhir, kami tidak pernah berbicara, saat menjadi perwakilan murid yang lulus, aku harus menyampaikan sedikit pidato perpisahan, naik ke atas podium, sesekali menatap ke arah Sakura, dia sama sekali tidak menatap ke arahku dan terus menundukkan wajahnya, raut wajah itu, dia seakan sedih terhadap sesuatu, mungkin saja itu adalah ucapanku saat itu, aku sudah membuatnya menjauh, aku lah yang patut di salahkan, aku pun tidak bisa mengatakan apa-apa padanya, aku takut jika aku hanya semakin membuatnya terpuruk.

Aku mendaftar di kampus kakakku, universitas K, mengambil jurusan manajemen akuntansi, aku ingin tahu Sakura kuliah dimana, tapi cukup sulit jika aku bertanya padanya, dia masih terus menghindar, apa dia akan mendaftar di kampus yang biasanya saja, atau yang menerima nilainya, aku jadi memikirkannya, mau masa bodoh, tetap tidak bisa, aku jadi terbiasa sibuk mengurusnya.

Tanpa sengaja.

Hening.

Aku bertemu dengannya, suasana aneh macam apa ini? Sakura hanya mematung begitu juga denganku, dia terlihat canggung untuk berbicara denganku, aku ingin segera mengakhiri perasaan tidak nyaman ini, aku ingin kembali seperti sejak awal, tidak apa-apa saat dia menggangguku, marah padaku, merengek padaku dan memukulku, aku ingin tidak perlu ada masalah lagi diantara kita.

"Aku tidak menyangka jika kau akan kuliah di sini juga." Ucapnya, tatapan itu berubah, dia kembali menjadi gadis yang pertama kali aku temui dulu, semangat, penuh energi dan ceria, Sakura hanya berusaha menghilang perasaan canggung ini.

"Hn, aku juga tidak menyangka kau akan kuliah di sini." Ucapku, aku sedikit senang melihat sikapnya menjadi lebih baik, dia tidak memperlihatkan wajah murungnya lagi.

"Hahahah, kalau begitu mohon bantuannya." Ucapnya dan tersenyum.

Ini sedikit aneh, seperti tidak terjadi apa-apa antara kami, apa Sakura sudah melupakan apa yang terjadi pada kami dulunya? Atau dia mulai bermasa bodoh dengan masa lalu itu? Tapi untung saja kami satu kampus, aku jadi merasa tenang, aku bisa mengawasinya kapan saja.

Lagi-lagi perasaan konyol.

Aku bisa tenang jika dia berada di dekatku.

"Sakura." Panggilku, aku sangat ingin bertanya padanya.

"Ada apa, Sasuke?" Ucapnya.

"Tentang ucapanku saat itu-"

"-Sudahlah, kenapa malah mengungkit masa lalu, sekarang berhenti memikirkannya, aku tahu jika dulunya aku sangat jahat dan sangat keterlaluan padamu." Ucapnya, raut ceria itu sejenak berubah. "Maka dari itu, aku harap kita bisa berteman lagi, jika kau merasa berat berteman denganku, katakan saja, aku akan mencari teman yang lain." Ucapnya dan kini wajah ceria itu kembali dan menutupi raut yang sempat terlihat sedih.

"Maaf, aku tidak berpikiran seperti itu, jika kau ingin berteman lagi, lakukan saja apa yang kau suka." Ucapku, aku rasa inilah yang terbaik.

Perlahan,

Hubungan ini kembali terjalin,

Aku mencoba kembali membangun hubungan yang diinginkan Sakura, kali ini aku tidak akan egois lagi.

"Benarkah! Aku yakin kau akan kesepian jika tidak bersamaku." Ucapnya dan dia kembali bersikap seenaknya, kini sebuah rangkulan yang di berikannya padaku, dia bukan gadis yang pendek, tinggi badannya pun hanya beda 10 senti denganku.

Meskipun kuliah di kampus yang sama dan bangunan yang sama, tapi kami memiliki jurusan yang berbeda, Sakura mengambil jurusan manajemen bisnis, sedangkan aku jurusan manajemen akuntansi, hanya karena satu bangunan kami jadi akan terus bertemu.

"Kau tidak berniat menjadi seorang dokter seperti ibumu?" Tanyaku

"Apa katamu? Aku menjadi dokter? Itu mustahil Sasuke, jika saja bukan karena kau, aku tidak akan pernah belajar dengan baik dan lagi seorang dokter itu memiliki otak yang encer dan jenius, lulus di jurusanku saja aku sudah sangat beruntung." Ucapnya.

Ya, mungkin beginilah seorang Sakura, dia pasti akan menjawab apa yang ada di kepalanya.

"Lagi pula dokter itu butuh keinginan yang kuat, kau akan terus berhadapan dengan orang-orang, pikirkan saja jika aku yang jadi dokter, tidak ada yang berani datang padaku." Ucapnya dan terkekeh.

"Mereka takut dengan dokter galak sepertimu." Ucapku.

"Kau benar, dan kau sendiri kenapa tidak mencoba menjadi dokter, kau itu pintar loh, sangat pintar." Ucapnya dan terus memujiku.

"Aku tidak ingin jadi dokter, merepotkan."

"Cih, kau menyia-nyiakan otakmu yang brilian itu." Sindirnya.

"Bagaimana dengan bajak laut? Kau selalu memimpikan akan seperti ayahmu."

"I-itu-" wajahnya merona. "Itunya masa kecilku yang bodoh, a-aku hanya memikirkan terlalu banyak cerita imajinasi." Ucapnya.

Aku pikir dia akan tetap dengan keinginannya dulu, menjadi seperti ayahnya dan berkeliling lautan dengan sebuah kapal, saat kecil, pikiran kita memang penuh imajinasi sampai lupa akan kenyataan.

.

.

Sepertinya benar, Sakura tidak ingin mengungkit masa lalu kami dan dia bersikap normal terhadapku, sikapnya menjadi seperti biasanya, sedikit kasar dan menyebalkan, seperti petasan yang tidak ada habisnya, penuh energi dan semua itu membuatku kembali semangat terhadapnya, aku kembali kesulitan untuk tidak memperhatikannya.

Hampir seluruh temannya adalah laki-laki, dia benar-benar tidak berubah sejak kecil, dari sekian banyak mahasiswa perempuan, kenapa dia hanya berteman dengan laki-laki? Dia benar-benar gadis aneh.

"Apa? Berteman dengan mahasiswa perempuan?" Ucapnya, saat aku bertanya tentang teman-temannya itu yang notabenenya adalah laki-laki, apa sampai sekarang dia tetap tidak sadar jika dia adalah seorang perempuan, kenapa juga aku yang sakit kepala akan pergaulannya ini? "Tidak akan! Aku tidak mau berteman dengan mereka, kau tahu, dari depan saja sikap mereka baik dan setelah di belakangku, mereka mengatakan berbagai hal buruk tentangku, apa itu yang namanya teman?" Lanjutnya.

Apa ini mungkin pengaruh saat dia masih sekolah dulu? Hampir seluruh murid perempuan yang berteman dengannya memiliki alasan tertentu, alasan menjadikan Sakura sebagai perantara, mungkin saja, dia jadi tidak ingin lagi berteman dengan para perempuan

"Lalu bagaimana dengan temanmu yang para laki-laki itu?"

"Mereka semua jujur mau berteman denganku, mereka tidak pernah membicarakan hal buruk tentangku, laki-laki kan tidak suka bergosip." Ucapnya.

Jawaban yang terdengar begitu sederhana, tapi karena hal ini, aku jadi tidak bisa sedetik saja tidak mengawasinya.

Kami akan sering bertemu di saat mata kuliah jam pagi hingga siang berakhir, mendatangi kantin kampus dan makan siang bersama, beberapa pasang mata sering menatap Sakura, jika dia sedikit mengubah penampilannya, dia akan seperti model, rambut panjangnya di potong hingga punggung, kulit yang putih, dia jadi sedikit kurus, aku rasa dia menurunkan berat badannya atau karena masalah yang lalu membuatnya turun berat badan, apa yang aku pikirkan! Kembali memusingkan sesuatu yang bukan urusanku, dia bukan anak gadismu Sasuke, lagi-lagi aku merasa ingin mengubahnya.

.

.

.

.

Kafe O

Sakura mengajakku saat ingin berkumpul dengan teman-temannya dan membahas tugas di sebuah kafe yang dekat dengan kampus, mereka ada 3 orang dan Sakura begitu nyaman bersama mereka, menatap mereka satu-persatu, aku tidak tahu bagaimana pemikiran mereka terhadap Sakura.

"Aku ke toilet dulu." Ucap Sakura.

Kini hanya ada kami, aku yakin mereka akan mengatakan segalanya jika tidak ada Sakura, jadi apa mereka akan berbohong padaku atau mengatakan kebenaran kenapa harus berteman dengan Sakura? Mereka semua para mahasiswa dan sama sekali tidak ada mahasiswi di geng mereka, Sakura terus membuat khawatir jika dia berteman dengan ketiga pemuda ini.

.

.

TBC

.

.


update...~

kali ini dari sudut pandang normal pov yaa dan kembali lagi pada Sasuke pov...(jangan sampai goyah jika lama-lama sasuke pov malah tergusur) hehehehe.

author akan memperlihatkan karakter-karakter yang mendukung alur fic ini XD

.

.

see you next chapter...~