Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ Girl-(friend) ~
[ Chapter 9 ]
.
.
.
.
Kafe O
Sakura mengajakku saat ingin berkumpul dengan teman-temannya dan membahas tugas di sebuah kafe yang dekat dengan kampus, mereka ada tiga orang dan Sakura begitu nyaman bersama mereka, menatap mereka satu-persatu, aku tidak tahu bagaimana pemikiran mereka terhadap Sakura.
"Aku ke toilet dulu." Ucap Sakura.
Kini hanya kami, aku yakin mereka akan mengatakan segalanya jika Sakura tidak ada, jadi apa mereka akan berbohong padaku atau mengatakan kebenaran kenapa harus berteman dengan Sakur? Mereka semua para mahasiswa dan sama sekali tidak ada mahasiswi di geng mereka, Sakura terus membuat khawatir jika dia berteman dengan ketiga pemuda ini.
"Jadi benar kau hanya teman Sakura?" Ucap seorang pemuda yang gemuk, dia memulai pembicaraan ini, di tangannya ada bungkusan snack kripik kentang dalam ukuran jumbo, apa dia hanya makan itu? Sejak tadi tidak berhenti mengunyah.
Namanya Chouji Akemichi, entah dari mana Sakura mendapat teman seperti ini, dari penampilan dan cara bicaranya, aku yakin dia ikut Sakura hanya karena otaknya pas-pasan, Sakura kau akan bertambah bodoh jika berteman dengan orang bodoh!
"Ya, sejak kecil kami sudah berteman." Ucapku dan menatap dingin pada mereka.
"Pertemanan kalian sudah selama itu dan tidak terjadi apa-apa?" Ucap pemuda yang berambut kuning terang dan entah mengapa cuma dia yang membuatku kesal, dia tidak jauh beda dengan Sakura, terlalu berisik dan terlalu bersemangat, Uzumaki Naruto, dia juga tampak bodoh.
"Memangnya apa yang kau harapkan dari sebuah pertemanan yang abadi?" Ucapku, pertemanan ini sudah cukup lama, aku sudah bisa mencapnya abadi, mungkin saja, meskipun sebelumnya kami memutuskan hubungan pertemanan ini dan mulai kembali menjalinnya.
"Hahahahaha, pertemanan abadi katanya, hahahahah!" Ucap pemuda lainnya, dia terkesan seperti preman dan menjadi satu-satunya pemuda yang terus aku awasi jika dia akan macam-macam pada Sakura. "Aku tidak yakin jika itu terjadi pada kalian, lagi pula Sakura itu termasuk gadis yang cantik, tinggi, dan jika dia berdandan sedikit saja dia akan memperlihatkan kecantikannya." Ucap Kiba, namanya Inuzuka Kiba, bodoh dan preman.
Rasanya aku ingin mencengkeram kerahnya dan memukul wajahnya.
"Jadi apa yang membuat kalian ingin berteman dengannya? Apa kalian berniat macam-macam padanya?" Ucapku dan mereka menatap terkejut padaku, seketika tawa lepas dari mereka.
Kenapa?
Kenapa tertawa mendengar ucapanku?
"Hahaha, kau ini benar-benar 'teman' yang sangat peduli yaa." Ucap Naruto.
"Macam-macam katanya, hahaha! Bagaimana mungkin kami macam-macam pada Sakura." Ucap Chouji.
"Dengarkan kami, mungkin kau akan berpikir buruk, bagaimana mungkin Sakura yang seorang gadis mau berteman dengan ketiga pemuda ini? Kami tidak pernah memiliki niat buruk padanya, kami benar-benar berteman, Sakura satu-satunya gadis yang asik saat di ajak berbicara, menanyakan banyak hal dan saling membantu untuk belajar, dia cukup berbeda dengan mahasiswi perempuan di fakultas kami yang sibuk mengurusi diri, mengurusi pemuda tampan dan urusan yang tidak jelas lagi seperti bergosip, maka dari itu, dia benar-benar gadis yang berbeda, jika kau berpikir hal yang lain, coba sekali lagi pikirkan jika kami ini malah seperti pengawal baginya." Ucap Naruto panjang lebar.
Pengawal katanya, ha ini lucu, mereka sedang membanggakan diri sebagai orang penting yang akan melindungi Sakura, kalian hanya sekumpulan orang-orang bodoh.
"Pengawal apanya? Aku bahkan takut jika ada memalakku tapi malah Sakura yang memukul mereka." Ucap Chouji.
"Hahahahah, benar-benar." Ucap Kiba.
Seketika aku merasa ada batasan antara aku dan mereka, pemikiran burukku tentang mereka berubah, ini yang namanya pertemanan yang diinginkan Sakura? Dia menginginkan teman yang benar-benar ingin berteman tanpa memikirkan apapun, seperti beda gender, berbeda pemikiran dan termasuk perasaan memiliki.
"Hey, apa yang kalian tertawakan?" Ucap Sakura, dia telah kembali.
"Kau ingat waktu Chouji di palak?" Ucap Naruto.
"Oh, aku ingat, aku ingat." Ucap Sakura, mereka jadi heboh di hadapanku.
"Kau malah memukul orang itu." Ucap Kiba.
"Dan jika Kiba tidak datang, malah aku yang akan di serang mereka" Ucap Naruto.
"Ya-ya, aku memang pahlawan saat itu." Kiba menyombongkan diri.
"Iuuh...~ kau hanya beruntung saat itu." Ucap Sakura.
Hahahahaha.
Menatap ke arah mereka, kafe ini sedikit berisik dengan tawa mereka, aku sudah salah mencap mereka.
Perlahan-lahan, aku merasa sedikit terasingkan di antara mereka, ini yang namanya asik sendiri dengan teman yang di kenal, Sakura seakan sudah memahami mereka, aku tahu, karena mereka satu fakultas dan satu kelas, mereka akan terus bersama dan akan terbiasa satu sama lain.
Aku sadar, seperti ini yang akan aku rasakan saat bersama Sakura, perasaan nyaman dan terbiasa, mereka tidak ada bedanya denganku, Sakura pun menganggapku seperti itu.
.
.
"Teman-temanmu itu-"
"-Apa? Mereka membuat masalah denganmu?" Ucap Sakura.
"Tidak."
"Tenang saja, mereka memang terlihat seperti itu, tapi mereka sangat baik kok, apalagi Chouji yang penakut, mereka kadang akan membantuku walaupun mereka tidak begitu pandai membantuku." Ucap Sakura.
Saat ini kami bisa pulang bersama, aku menemukannya berjalan pulang, mata kuliahnya sudah selesai, begitu juga dengan mata kuliahku, kami jarang untuk pulang bersama dengan jadwal dan jurusan yang berbeda.
"Aku bisa tenang jika kau bersama mereka." Ucapku dan Sakura menatap serius padaku.
"Uhm, kau benar, merekalah teman-teman yang aku harapkan, bukannya aku berpikiran egois tentang membentuk teman yang sesuai keinginanku, tapi mereka tiba-tiba saja hadir dan benar-benar sesuai denganku." Ucapnya dan sebuah senyum di wajahnya.
Ah, mungkin benar, hanya yang ada pikiran Sakura, bagaimana bisa memiliki teman, dulunya dia selalu berteman dengan anak laki-laki sekarang pun dia tidak berubah.
Ending Sasuke pov.
.
.
.
.
Normal Pov.
FlashBack [sebelum Sakura berteman dengan Naruto, Kiba dan Chouji]
Sakura sudah mendaftar di kampus K, dia tahu jika kampus itu cukup bergengsi dan dia mendapat ajakan dari Itachi, kakak Sasuke yang telah lulus dari kampus itu.
"Kau bisa memilih jurusan yang kau inginkan, ada beasiswa dan pengajar di sana sangat berkualitas, fasilitas kampusnya pun menunjang." Ucap Itachi, memberi sebuah brosur kampusnya.
"Terima kasih, kak."
"Atau kau sudah punya kampus yang sudah di tetapkan?" Ucap Itachi.
"Tidak ada, aku bahkan bingung akan masuk dimana."
"Masuk saja disana, kau akan bertemu Sasuke, tapi dia masih menyembunyikan jurusan yang ingin di ambilnya, aku tidak yakin jika dia akan mengambil jurusan hukum." Ucap Itachi.
Sakura terdiam, terasa sudah sangat lama dia tidak bertemu Sasuke, rumah mereka hanya berhadapan tapi sangat sulit untuk bertemu, Itachi sendiri sampai repot datang ke rumahnya hanya untuk membantunya menentukan kampus terbaik.
"Sekali lagi terima kasih, kak."
"Belajarlah yang giat dan berusahalah untuk masuk di sana." Ucap Itachi dan menepuk perlahan puncuk kepala Sakura.
Itachi menyadari jika ada yang tidak beres antara Sasuke dan Sakura, Sakura sudah sangat jarang datang ke rumahnya, saat kelas tiga SMA, mereka juga tidak belajar bersama, dia tidak lagi mendengar teriakan Sakura atau teriakan kesal Sasuke saat mereka akan bersama di kamar Sasuke.
"Ah, satu hal lagi, jika kau ada masalah, kapan pun aku akan mendengarkanmu, bukan kah kau sudah menganggapku sebagai kakakmu?" Ucap Itachi.
Sakura tersenyum dan mengangguk senang, kembali mengucapkan terima kasih pada Itachi.
.
.
Kampus K.
Sakura menemukan namanya di papan pengumuman, dia lulus menjadi mahasiswi kampus K dengan jurusan Manajemen bisnis.
"Ini sebuah keberuntungan!" Ucapnya senang, terdiam sejenak, rasa senangnya memudar, dia akan selalu mengingat saat bersama Sasuke, pemuda itu akan bersamanya melihat papan pengumuman, sekarang dia hanya sendirian.
"Oi." Panggil seseorang, Sakura menoleh dan melihat seorang pemuda dengan tampang garang, tatapan yang tajam, setelan pakaian yang seperti preman. "Minggir, kau menghalangi papan pengumuman." Ucap pemuda itu dan menatap kesal ke arah Sakura.
"Dasar, apa preman bisa masuk ke kampus K?" Ucap Sakura, lebih tepatnya bergumam saat pergi dari papan pengumuman itu.
"Hey, aku mendengar ucapanmu." Ucap pemuda itu dan menahan Sakura untuk tidak pergi.
"Aku tidak ada urusannya denganmu." Ucap Sakura dan kini dia pun menatap kesal ke arah pemuda yang terlihat sok itu.
"Ha? Kau cari masalah denganku?" Ucap pemuda itu dan malah mencengkeram kerah Sakura, menatap tajam padanya. "Kau berani padaku?"
"Pencuriii!" Teriak Sakura.
Seketika seluruh mata tertuju pada keduanya, pemuda ini segera melepaskan cengkeramannya dan menjauh dari Sakura.
"Sial! Aku akan membalasmu nanti!" Ucap pemuda ini dan segera kabur.
"Apa-apaan tadi! Preman menyebalkan! Jika bertemu kembali aku akan menghajarnya!" Batin Sakura.
Kemudian.
Sakura menatap datar teman sebangkunya, hampir seluruh kursi telah kosong dan seseorang yang ingin di balasnya duduk di sampingnya.
"Bagaimana preman ini bisa masuk kampus!" Pikir Sakura.
"Sial! Bertemu gadis menyebalkan ini lagi!" Pikir Kiba, nama pemuda yang sudah mencari masalah dengan Sakura.
"Oi." Kiba menatap ke arah gadis itu.
"Apa!" Galak Sakura, dia tidak ingin berbicara dengan pemuda yang menyebalkan itu.
"Gara-gara kau, aku hampir di hajar massal, kau tahu ucapan itu sangat buruk, kau bahkan membohongi orang-orang."
"Aku tidak berbohong, lagi pula untuk apa preman ke kampus ini? Kau pasti akan berbuat masalah."
"Preman? Apa tampang seperti ini preman?" Ucap Kiba, kesal, selalu saja orang salah paham dengan penampilannya, dia hanya penyuka band rock dan berakhir dengan style yang sangat di sukainya, orang-orang terus menganggapnya preman saat di jalan.
"Jika bukan preman lalu apa?"
"Aku ini maba (mahasiswa baru) yang baik, aku tidak pernah memalak orang dan apapun, ini hanya style! Style! Kau tidak tahu apa itu style!"
"Aku tahu! Tidak perlu teriak di telingaku!" Kesal Sakua.
"Hey kalian yang di sana! keluar dari kelas jika masih berisik." Tegur seorang asdos (asisten dosen).
Sakura dan Kiba terdiam, mereka hanya berbicara pelan berakhir dengan saling teriak.
"Maaf. Aku tidak bermaksud membuat orang-orang ingin menghajarmu." Bisik Sakura.
Kiba menatap gadis itu, baru kali ini ada yang meminta maaf padanya dan berbicara lebih baik.
Setelahnya.
Sakura sangat ingin memukul pemuda itu, dia terus mengikuti Sakura dengan alasan.
"Jika aku jalan sendirian, orang-orang terus berpikiran aku ini preman, bahkan mereka hampir memanggil security kampus, tapi jika kita jalan bersama, mereka menganggap kita ini teman." Ucap Kiba.
Plak!
"Aku tidak mau bersamamu!" Kesal Sakura.
"Hey, bukannya kita ini teman?"
"Sejak kapan kita berteman! Kau membuat mahasiswa lain takut padaku, mereka pikir aku sedang di tindas olehmu."
"Aku tidak pernah menindasmu, bantu aku membersihkan namaku, mereka harus tahu jika aku orang baik dan bukan preman, ini hanya style."
"Aku tidak peduli! Pergi!"
Sakura pasrah saja, tidak ada yang mau berteman dengannya jika Kiba terus menempel padanya, mahasiswa lain beranggapan jika bersama Sakura, mereka pun akan ikut di tindas oleh Kiba.
.
.
Hari ini, Kiba mengajak Sakura ke rumahnya, Sakura sampai memikirkan macam-macam jika mungkin saja Kiba itu bukan seorang preman, melainkan seorang gengster atau salah satu anak buah geng mafia, gadis ini mematung menatap rumah yang cukup besar, tiga lantai dan halaman luas dengan rerumputan.
"Kau ini orang kaya?"
"Bukan, aku tidak kaya, area rumahku memang harus besar dan luas, ada alasan tersendiri kenapa rumahku seperti ini."
"Lalu, untuk apa kau membawaku ke rumahmu, aku ini gadis baik-baik loh, jangan seenaknya memperlakukan seperti ini."
"Masih berpikiran buruk terhadapku? Aku hanya ingin membuatmu percaya jika aku bukan pemuda seperti itu." Ucap Kiba.
Sakura menatap raut wajah itu, apa selama ini Kiba terus di anggap sebagai orang jahat?
"Aku pulang." Ucap Kiba, Dia mulai membuka pintu rumahnya dan sesuatu yang aneh terjadi, Sakura mendengar ada banyaknya suara kaki yang berlarian.
"A-apa itu?" Ucap Sakura, bingung, suara langkah kaki yang banyak itu semakin dekat.
"Oh, mereka akan datang setiap mendengar suaraku." Ucap Kiba.
Detik berikutnya, Sakura terkejut, ada 10 ekor anjing berlari ke arah Kiba dan menyerbunya.
Guk! Guk! Guk! Guk!
Semuanya terlihat senang saat berada di sekitar Kiba.
"Wah, apa kalian sedang berebutan ingin menyambutku, hahahah, terima kasih." Ucap Kiba, mengelus anjing miliknya satu persatu.
Sakura merasa sedikit takjub akan hal ini, semua anjing ini milik Kiba dan mereka sangat jinak dan ramah, bahkan kedatangan Sakura pun di terima.
"Bagaimana? Mereka ini sudah seperti keluarga bagiku." Ucap Kiba.
Sakura berjongkok dan mengelus anjing yang sedang menghampirinya.
"Mereka terlihat lucu, bagaimana kau bisa memelihara mereka semua?" Ucap Sakura.
"Sebenarnya mereka sudah ada bahkan sejak aku belum lahir, kedua orang tuaku menyukai anjing."
"Ternyata kedua orang tua penyayang anjing, mereka benar-benar hebat bisa mengurus anjing sebanyak ini, kenapa mereka tidak menyerangku?"
"Begitulah, mereka akan tahu mana orang yang baik dan mana orang yang jahat, dan kau harus mengenal yang ini." Ucap Kiba, menunjuk seekor anjing yang memiliki ras berbeda dari yang ada. "Dia ini milikku, yang lain ini adalah milik ayah dan ibuku. Akamaru kau harus memberi salam pada Sakura." Perintah Kiba.
Akamaru menggonggong senang, ekornya di kibas-kibaskan, meletakkan satu kaki depannya ke arah tangan Sakura seakan mengajak gadis ini bersalaman.
"Dia pandai sekali." Ucap Sakura dan mengelus gemas anjing itu.
"Aku sudah melatihnya, kata ibuku, dia hadiah untukku saat aku lahir."
"Kalian jadi tumbuh bersama."
"Uhm-uhm, jadi apa kau masih berpikiran buruk terhadapku?"
"Memangnya kapan aku berpikiran buruk padamu?" Ucap Sakura dan menatap datar Kiba.
"Tapi kau tidak mau berteman denganku! Bahkan pernah meneriakiku pencuri."
"Aku kan sudah minta maaf, lagi pula aku sudah menganggapmu teman, karena kau susah sekali di usir." Ucap Sakura.
"Hahaha, kau ini ada-ada saja."
.
.
TBC
.
.
update...~
dari sini alurnya mulai akan masuk ke chapter normal pov dulu, sementara author mau ceritakan bagaimana Sakura dan ketiga teman uniknya itu bertemu, mereka punya cerita masing-masing, jadi sementara Sasuke tidak akan muncul XD ini juga penting, karena akan saling berhubung. ya begitulah kira-kira.
author akan membalas review bertanya saja yaa. yang lainnya terima kasih yoo..~
Dcherry : halo-halo, selamat datang kembali. _ Gaara? sepertinya Gaara tidak akan muncul dalam, *sorry* karena rival Sasuke udah munculkan, author memilih Sasori.
.
.
see you next chapter.
