Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 11 ]

.

.

.

.

Sakura pov.

"Bantu kami belajar!" Ucap Kiba dan Naruto, mereka sampai memohon di hadapanku.

"Be-belajar?" Ucapku, bingung.

"Nilai kami jadi sering terancam jika seperti ini, aku tidak mau mengulang setahun lagi." Ucap Kiba.

"Aku juga, ada beberapa mata kuliah yang belum bisa aku pahami." Ucap Naruto.

"Ha, kalian ini mahasiswa tapi seperti seorang siswa saja, aku tidak bisa." tolakku.

"Tolong kami, tenang saja, kami akan patungan membayarmu sebagai tutor, bagaimana?" Ucap Naruto.

"Baiklah, tapi tidak perlu membayarku, kita belajar bersama, cukup belikan aku cemilan, bagaimana?" Ucapku

"Kau dewi bagi kami." Ucap Naruto dan Kiba, mereka sampai berlutut di hadapanku.

"Hentikan itu!" Kesalku, mahasiswa lain jadi memandang kami orang-orang aneh.

Eh? Aku rasa jika seseorang menabrak punggungku, aku kehilangan keseimbangan dan jika saja bukan karena Kiba dan Naruto yang ada di hadapanku, aku sudah jatuh ke tanah.

"Aduh, kau ini, sekarang malah menabrak orang, sekarang minta maaf." Ucap seorang pemuda lainnya.

Berbalik dan melihat yang menabrak punggungku, aku tidak tahu dia sengaja atau seseorang yang mendorongnya hingga menabrakku, dia terduduk di tanah dan terlihat ketakutan.

"Kau tidak apa-apa Sakura?" Ucap Naruto.

"Aku tidak apa-apa." Ucapku.

Aku melihat pemuda yang bertubuh gemuk itu meminta maaf padaku, setelahnya pemuda lainnya merangkulnya dan mengajaknya pergi, tatapannya sedikit aneh, dia seakan sudah di hajar, pipinya tadi seperti lecet.

"Mereka itu keterlaluan." Ucap Kiba.

"Ada apa?" Ucapku, bingung.

"Aku melihat mereka dengan sengaja mendorong mahasiswa gemuk itu." Ucap Kiba, mungkin saja Kiba melihat mereka.

"Mereka itu, bukannya teman kelas kita?" Ucap Naruto.

"Teman kelas?" Ucapku, aku tidak begitu memperhatikan teman-teman kelasku.

"Yang gemuk itu namanya Chouji Akemichi, sepertinya dia selalu bersama dengan para geng itu." Jelas Naruto.

.

.

Aku jadi sering melihat mahasiswa itu, Chouji Akemichi, dia selalu pergi dan datang ke kelas bersama para mahasiswa itu, sejujurnya aku tidak begitu peduli pada mereka, tapi ada hal yang membuatku sedikit mengganjal, mereka seperti memperlakukan Chouji dengan cukup keterlaluan dan seenaknya, apa hak mereka melakukan hal itu padanya, lagi pula apa Chouji mengenal mereka? Apa mereka tidak merasa jika Chouji tertekan akan perlakukan mereka?

Saat itu.

"Ha! Apa? Kenapa tidak memberiku uang? Kau sudah janji kan?"

"Aku sungguh-sungguh tak punya uang."

"Kau bohong, orang kaya sepertimu tidak mungkin tidak punya uang, minta saja pada ayahmu yang kaya itu."

"A-aku tidak berani meminta uang."

"Kalau begitu curi saja."

"Tidak! Aku tidak mau mencuri!"

"Jadi kau lebih memilih di pukul?"

Bught!

Menatap ke arah mahasiswa itu, aku sudah memukulnya, tanpa sadar tubuhku bergerak sendiri dan memukulnya, aku hanya tidak tahan melihat Chouji di perlakukan seperti ini, sebelumnya aku tak sengaja melihat mahasiswa itu lagi-lagi meminta uang pada Chouji, dia di tindas, dia di peras dan bahkan di bully, aku seperti tengah bercermin pada Chouji, kadang bayangan diriku di masa lalu sering terlintas di benakku, aku tidak ingin ada orang yang berakhir dengan buruk, aku masih bisa menahan bullyan itu karena aku tahu, Sasuke akan melindungiku meskipun dengan caranya sendiri.

"Apa dia ini ibumu sampai harus memberimu uang jajan?" Ucapku, aku muak dengan pelaku bullyan.

"Ha? Kau, Sakura yaa, aku tahu kau, kita ini satu kelas, tapi kau berani sekali memukulku, gadis macam apa kau?" Ucapnya, dia terlihat marah.

"Aku gadis baik-baik." Ucapku.

"Kau cari masalah denganku juga? Atau bagaimana jadi pacarku dan aku anggap ini selesai."

"Pacar! Iiiuuh..~ melihatmu saja aku ingin muntah, apalagi jadi pacarmu, aku yakin aku harus masuk rumah sakit gila." Ejekku.

"Sialan! Dasar gadis brengs*k! Apa kau mau mati ha!" Ucapnya, dia semakin marah mendengar ucapanku, aku tidak takut padamu, meskipun pergelanganku hampir patah karena memukul rahang pipinya dengan keras, mahasiswa itu bergerak, kepalang tangannya melayang ke arahku, langkahnya terhenti, seseorang menahan tangannya dan menarik kerahnya, hanya ada tatapan tajam yang perlihatkan pemuda itu.

"Kau, mau ku bunuh?" Ucap Kiba, dia datang dan menghadang pemuda itu.

"Ka-kau, kau Kiba yang terkenal sebagai geng mafia itu?" Ucap pemuda itu.

"Kalau iya, kenapa? Apa kau suka jika aku memotong tanganmu yang lancang itu kecil-kecil karena sudah berani mengganggu Sakura?" Ancam Kiba.

"Ti-tidak, ma-maafkan aku." Pemuda itu kabur dan terus mengumpat.

Prok-prok-prok.

"Kau berbakat untuk akting seperti itu." Ucapku.

"Wah-wah, sekarang sedang menggunakan kekuasaan geng mafia yaa." Ucap Naruto.

"Kalian, apa mau aku cincang kecil-kecil dan menjadi makanan anjing-anjingku di rumah?" Ucap Kiba dan dia masih berakting seperti itu.

"Hamba menyerahkan diri padamu tuan geng mafia." Ucap Naruto, dia sampai bersujud di hadapan Kiba.

"Hahahahahha." Tawaku meledak, aku sudah tidak tahan melihat mereka.

"Apa-apaan kalian!"

Kami terdiam, suara itu, Chouji berbicara dengan cukup keras dan tatapannya terlihat marah.

"Jika kalian melakukan ini, mereka akan semakin menggangguku!" Ucapnya, aku melihat raut takut itu.

"Hey, kau ini, kami sudah membantumu, kenapa malah marah?" Ucap Kiba.

"Tahu apa kalian!" Kini nada suara Chouji kembali meninggi.

"Sial!" Kesal Kiba. Aku memberi aba-aba pada Kiba untuk tenang, aku ingin mendengar apapun yang di pendam Chouji selama ini.

"Mereka terus membujukku untuk menjadi teman, aku pikir mereka benar-benar akan berteman denganku, semuanya hanya memandang jijik padaku, katanya babi gemuk yang lebih baik di potong saja, lebih baik mati saja dari pada hidup dan menyusahkan orang-orang, mereka terus memperlakukanku seperti pelayan mereka, aku pikir ini tidak apa-apa, lagi pula mereka akan bosan dan pergi dariku, tapi semakin ke sini mereka semakin menjadi-jadi." Ucap Chouji, dia sudah sampai pada batasnya.

Aku merasakannya, rasa menyakitkan ini sebagai korban bullyan.

"Jika kalian membantuku, mereka akan kembali membalasku, aku sudah tahu ini, karena teman baikku satu-satunya, dia, dia pernah menjadi korban setelah membantuku." Ucapnya, Chouji terlihat sedih, ternyata ada yang sempat membantunya dan berakhir bermasalah.

"Kau, bisa diam tidak? Kami membantumu lepas dari mereka, bukan menambah masalah." Ucap Kiba, dia mencengkeram kerah Chouji.

"Apa kau bisa menjamin mereka tidak akan menggangguku lagi! Aku hanya ingin kuliah dan menjadi anak mahasiswa yang tenang tanpa terganggu apapun!" Ucap Chouji.

"Jika kau merasa akan mendapat kesulitan, ikutlah bersama kami." Ucap Naruto.

"Omong kosong! Setelahnya kalian malah akan menggangguku!" Ucap Chouji. Ah, aku rasa dia hanya takut jika kami pun akan menyalahgunakan pertemanan itu, tapi kami tidak seperti itu.

"Apa kau tahu, dulunya aku mendapat perlakuan yang sama denganmu? Aku hampir putus asa, tapi setiap kali melihat seseorang yang mendukungku, aku jadi mulai terbiasa dan menjadi kuat untuk menahan segala masalah itu." Ucapku, aku seperti ingin membagi pengalaman burukku juga.

"Hanya segitu saja, Bagaimana denganku yang terus-terusan di anggap preman, geng mafia dan bahkan selalu di lapor ke kantor polisi." Ucap Kiba, dia menceritakan pengalaman buruk akibat penampilannya, aku yakin ayahnya jadi repot jika anaknya terus di laporkan dengan tuduhan palsu.

"Kau tidak sendirian, Chouji, begitu banyak anak-anak di luar sana mendapat kasus yang sama denganmu, tapi kami akan tetap membantumu, karena hanya bantuan memberi dukungan dari orang-orang yang benar-benar peduli akan menyelesaikan masalahmu." Ucap Naruto.

"Ahk, sial! Aku jadi kesal." Ucap Kiba dan melepaskan tangannya dari kerah Chouji.

Kini Chouji terdiam dan menundukkan wajahnya, aku harap dia mengerti akan ucapan kami, kami hanya ingin membantunya terlepas dari jeratan orang-orang yang keterlaluan itu.

"Aku lapar, kita ke kantin kampus." Ucap Naruto.

"Makan! Makan! Aku juga sudah sangat lapar." Ucapku.

Kami pergi meninggalkannya, mungkin dia butuh waktunya untuk sendiri, setelah ini aku harap tidak ada yang mengganggunya lagi.

.

.

.

.

pagi ini, saat kelas masih kosong.

"Sudah aku katakan! Kita ini terlalu cepat datang!" Protes Kiba pada Naruto.

"Memangnya siapa yang mau datang pagi, ini kesalahan ketua tingkat yang terlambat memberitahu perubahan jam kelas!" Naruto pun kesal.

mereka jadi bertengkar pagi-pagi.

"Berisik! Aku mau tidur!" Aku juga ikutan kesal mendengar suara mereka yang tidak bisa diam.

Karena takut terlambat dengan dosen killer, akhirnya kami sepakat datang lebih awal, setelah tiba, ketua tingkat memberi kabar jika jadwal di undur jam 10 pagi, aku mau tidur di kelas saja dari pada pulang, terlalu lelah dan terlalu malas untuk berjalan.

Pintu kelas terbuka, Kiba dan Naruto mematung, aku membuka mataku dan melihat seseorang masuk ke kelas, apa dia juga salah jadwal? Mungkin saja, tapi dia tidak berjalan ke arah kursi yang akan di dudukinya, dia datang ke arah kami dan membawa sesuatu dalam kantongan yang cukup besar.

"Aku tidak tahu harus memberikan apa pada kalian untuk mengucapkan terima kasih." Ucap Chouji, dia mengeluarkan apapun yang ada di dalam kantong besar yang di bawanya, isinya adalah kripik kentang dan ada 10 bungkus dan ukuran besar-jumbo. "Ini adalah cemilan favoritku, aku rasa ini mungkin pantas aku berikan pada kalian." Tambahnya.

"Kami tidak makan kripik kentang, kami makan daging atau steak yang mahal." Ucap Kiba, memasang wajah seriusnya.

"Kau harus mentraktir kami steak berkualitas yang mahal." Ucap Naruto, dia juga memandang serius pada Chouji.

Haa..~ mereka mulai lagi.

Chouji terdiam dan pandangnya mulai berubah pada kami, sejenak tadi dia tulus pada kami, sekarang dia memandang jika kami sama saja dengan mereka yang menindasnya.

"Hahahahah! Lihat mukanya." Ucap Kiba.

"Ya ampun! Kiba, kita bisa jadi aktor terbaik jika ikut casting." Ucap Naruto.

Keduanya kompak untuk mengerjai Chouji.

"Maaf Chouji, mereka ini dua orang pasien rumah sakit gila yang sedang kabur, jadi otak mereka rada-rada miring." Ucapku.

"Apa! Kau kejam sekali Sakura." Protes Kiba.

"Aku masih waras!" Protes Naruto.

Hahaha.

Kali ini ada tawa lain, kami menatap ke arah Chouji, dia tertawa lepas dan setetes air mata di wajahnya.

"Selamat bergabung di geng konyol ini." Ucapku.

Chouji hanya mengucapkan terima kasih pada kami.

"Jika kita ini geng, aku mau jadi ketuanya!" Ucap Naruto.

"Siapa yang lebih pantas menjadi ketua." Ucap Kiba.

"Apa kalian lupa, aku ratu di sini, besok kalian harus belajar giat." Ucapku.

"Maafkan sikap lancang kami ratu." Ucap Kiba dan Naruto, mereka sampai bersujud di hadapanku.

.

.

Setelah jam mata kuliah berakhir, kali ini tidak satu kelas dengan Naruto dan Kiba, kami tidak bisa masuk ke kelas yang sama, mereka harus mengejar mata kuliah yang sempat tertinggal, langkahku terhenti.

Sasuke!

Ka-ka-ka-kami bertemu!

Di kampus ini!

Tenang Sakura! Tenang!

Padahal tinggal berhadapan rumah, tapi seperti sudah tidak bertahun-tahun saling bertemu, dia benar-benar semakin tinggi dan tetap terlihat dewasa, jika dia ada di sini, artinya yang di ucapkan Itachi benar, tapi jurusan apa yang di ambilnya?

Errr...~ ini sedikit menjadi canggung, rada awakward moment, Sasuke bahkan terdiam dan tidak mengatakan apapun, tatapan dingin itu masih senantiasa menghiasi wajahnya, sampai kapanpun aku akan kesulitan mengetahui apa yang di pikirkannya.

"Aku tidak menyangka jika kau akan kuliah di sini juga!" Ucapku, aku harus segera menghilangkan suasana aneh ini, aku tidak tahan seperti ini, jika kabur malah akan terlihat konyol.

"Hn, aku juga tidak menyangka kau akan kuliah di sini." Ucapnya, dia tidak berubah.

"Hahahah, kalau begitu mohon bantuannya." Ucapku.

Terasa begitu lega, entah apa yang tadi sempat tertahan hingga tenggorokanku rasanya kering, aku hanya bertemu Sasuke, bertemu teman lama, walaupun hubungan kami sempat memburuk, aku tidak mau mengingat hal itu lagi, jadi mulai detik ini aku ingin kembali membangun hubungan baru dan tidak perlu mengungkit masa lalu, lagi pula Sasuke sepertinya tetap ingin berteman baik denganku.

Ending Flashback, Ending Sakura pov.

.

.

TBC

.

.


update...!

sedang malas-mager efek musim hujan yang dingin, enaknya meringkuk di bawah selimut, tapi harus kerja, enaknya makan mie instan yang berkuah, tapi lupa kemarin seharian sudah makan itu dan akhirnya perut mual *bodoh* (curhat lewat di kala hujan)

.

.

See you next chapter...~