Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ Girl-(friend) ~
[ Chapter 12 ]
.
.
.
.
Sasuke Pov.
"Sasuke!" Panggilan itu. "Maaf, dosenku cukup lama keluar." Ucapnya.
"Hn, tidak apa-apa." Ucapku, aku sedang menunggu Sakura keluar, kami ada janji untuk hari ini.
"Kau menunggu lama?" Tanyanya, seperti khawatir membiarkanku menunggu terus-menerus.
"Tidak, aku juga baru saja keluar." Ucapku.
"Sakuraaa! Jangan tinggalkan kami!"
"Sakuraa!"
"Sakuraa!"
Suara ini, ketiga temannya yang unik itu ternyata menyusulnya dari belakang.
"Kalian, aku sudah katakan jika aku ada janji." Ucap Sakura.
"Kau harus ikut bersama kami." Ucap Chouji.
"Apa kau lupa, kau sudah janji dengan kami duluan hari ini." Ucap Kiba.
"Dan kau tuan sok peduli, jangan seenaknya saja mengajak Sakura kami ikut denganmu." Ucap Naruto.
Mereka bertiga hanya membuatku kesal, memangnya aku orang seperti apa yang mengajak Sakura pergi atau dari pandangan mereka, aku sedang membawa kabur Sakura.
"Aku tidak ingat jika ada janji dengan kalian." Ucap Sakura, dasar, apa dia sedang pikun?
"Hari ini ada pasar malam, apa kau lupa?" Ucap Kiba.
Sakura mulai berpikir dan mengingatnya.
"Pasar malam! Aku ingat, tapi maaf, aku benar-benar harus pergi dengan Sasuke." Ucap Sakura.
"Jangan pergi...~" Ucap mereka bertiga.
Aku jadi melihat pemandangan seperti ketiga anak yang tidak ingin ibunya pergi dari mereka, aneh.
"Baiklah, kalian ini membuatku jadi tidak tega saja. Sasuke setelah kita ke perpustakaan, apa kau mau ikut bersama kami ke pasar malam?" Tanyanya padaku.
"Hn, terserah saja." Ucapku, lagi pula aku akan tetap mengawasi Sakura ku.
Mereka jadi ikut bersama kami, aku cukup risih saat mereka ada, entah mengapa mereka terus menatap ke arahku, lagi pula apa mereka lupa aku dan Sakura jauh lebih dulu berteman, bahkan sejak ibu kami masih mengandung.
.
.
Aku dan Sakura sudah janji akan membuat sebuah tugas bersama, meskipun beda jurusan ada beberapa tugas yang hampir sama, aku hanya membantunya sedikit mencari resume, Sakura sedikit kesulitan dan dia harus mendatangi perpustakaan umum di luar kampus yang memiliki buku lebih lengkap.
Setelah kegiatan itu selesai dan malam hari kami baru keluar dari perpustakaan itu, kami mendatangi sebuah pasar malam, ramai, sangat ramai, aku hanya tidak terbiasa dengan keramaian ini, banyak orang yang berlalu-lalang.
"Hati-hati." Ucapku pada Sakura, dia tersenggol dan hampir jatuh, aku jadi harus menariknya ke arahku.
"Terima kasih." Ucap Sakura dan berdiri lebih baik.
Aku merasa tidak nyaman, bukan karena keramaian ini lagi, tapi ketiga pemuda itu masih senantiasa menatap ke arahku, tanpa ucapan, tapi tatapan seakan mereka tidak suka padaku dan akan terus mengawasi apa yang aku lakukan pada Sakura, mereka jadi membuatku kesal.
Ada banyak penjual cemilan yang beragam di sini, Sakura jadi sibuk mencobanya, berlari ke sana dan kemari dan mencoba apapun, teman-temannya santai-santai saja mengikutinya dan aku tidak terlalu suka jika Sakura seperti ini, seperti anak kecil yang tidak bisa tenang melihat surga makanan.
"Uhm...~ ini enak!" Ucap Sakura, dia sibuk dengan takoyakinya (takoyaki=cemilan yang berbentuk bulat, biasanya isi gurita)
"Ada saus di pipimu, bisakah kau makan lebih bersih." Tegurku pada Sakura, membersihkan pipinya dengan tissu.
"Iya-iya, kau ini cerewet sekali, sekarang coba ini." Ucap Sakura, dia menyuapi sebuah takoyaki padaku. "Enak?" Tanyanya, memastikan seleraku sama dengannya.
"Hn, ini enak." Ucapku.
"Aku ingin bungkus untuk bibi Mikoto." Ucapnya.
"Kau tidak belikan untuk ibumu?" Dia lebih mengingat ibuku dari pada ibunya, bodoh.
"Ibu sedang bekerja, katanya ada operasi malam, jadi mungkin dia baru akan pulang besok." Ucap Sakura.
Dia masih tetap peduli pada ibuku.
Tapi, lagi-lagi perasaan tidak nyaman ini, menatap ke arah mereka dan mereka menatap lebih tajam dariku sambil memakan takoyaki, tatapan itu tidak lepas dari arahku sedetik saja, setiap aku menatap mereka, mereka akan menatap balik padaku, apa yang membuat kalian menatap seperti itu padaku! Sial! Abaikan mereka!
"Apa kak Itachi juga ada?" Tanya Sakura.
"Iya, kakak sedang berada dirumah." Ucapku.
"Baiklah, untuk kak Itachi juga." Ucap Sakura, dia tetap tidak sadar dan sibuk membeli jajanan itu.
"Kau jadi repot."
"Tidak-tidak, ibu selalu mengatakan padaku, jika kau sedang makan sesuatu yang enak, jangan lupa orang di sekitarmu, aku harus sering-sering membalas bibi Mikoto yang sudah menjagaku sewaktu kecil dan juga kak Itachi yang mengajariku bermain game." Jelasnya.
Ya, terserah saja, dia seperti ingin membalas budi kepada ibu dan kakakku.
"Bagaimana denganku?" Tanyaku padanya.
"A-a-aku rasa aku belum siap balas budi, tunggu saja." Ucapnya, canggung dan malah tidak menatapku.
Akhirnya rasa tertekan ini berakhir, kami sudah harus pulang, sudah jam 10 malam dan mereka akan ada kelas pagi esoknya, Sakura juga sudah lelah berjalan-jalan dan sudah kenyang dengan semua cemilan yang di cobanya.
"Terima kasih untuk hari ini, kita berpisah di sini yaa, sampai ketemu di kelas besok." Ucap Sakura, dengan wajah cerianya dan tidak sadar akan apa yang di lakukan teman-temannya padaku.
Mereka pamit pada Sakura dengan wajah ceria dan tidak peduli padaku. Lain kali, aku harap mereka tidak ikut bersamaku dan Sakura jika mereka terus menganggapku sebagai ancaman, apa mereka tidak tahu malah aku yang menganggap mereka sebagai ancaman bagi Sakura.
"Apa teman-temanmu itu tidak bisa menatapku lebih baik." Ucapku.
"Eh? Mereka menatapmu?" Ucap Sakura, bingung.
"Lupakan."
Mereka seperti pembunuh bayaran yang siap memotongku jika macam-macam pada Sakura.
Hey! Kalian tetap saja lupa jika siapa aku dan Sakura sebenarnya.
"Kau tahu, Kiba itu anak polisi loh, dia bahkan tidak berani melakukan kejahatan, dia takut bermasalah dengan ayahnya, tapi dia tidak mau mengubah style premannya itu." Ucap Sakura dan tertawa.
Sepanjang perjalanan pulang kami, Sakura menceritakan teman-teman 'unik'nya itu. Ternyata anak yang terlihat preman itu adalah anak polisi, keluarganya sudah lama menjadi anggota kepolisian dan turun temurun, mulai dari kakeknya, pamannya, bibinya, dan keluarga lainnya. Inuzuka yaa, pantas saja nama marga itu tidak asing, aku rasa ayah sempat bekerja sama dengan salah seorang bermarga itu untuk mengusut sebuah kasus.
Kemudian anak konglomerat yang tidak begitu di ketahui, dia sebenarnya anak kaya-raya, Chouji Akemchi, tapi dia memilih lebih terlihat sederhana di hadapan teman-temannya, dan yang satu lagi, si kuning berisik itu, dia anak dari orang yang cukup penting, ayahnya seorang menteri keuangan negara, pantas saja wajah menyebalkan itu tidak asing, dia anak pak Minato, ayahnya juga merupakan aktivis yang juga mendukung pentingnya pendidikan untuk anak-anak miskin, mereka memiliki latar belakang yang sangat baik, penampilan benar-benar tidak bisa di pandang sebelah mata saja, mereka bukan orang yang buruk.
Perjalanan kami akhirnya berakhir, rumah Sakura terlihat gelap dan kosong, paman Kizashi pasti sedang berlayar keluar negeri dan dia akan sendirian dirumah, bibi Mebuki masih berada di rumah sakit seperti yang di katakan Sakura tadi.
"Jika kau tidak keberatan menginap saja di rumaku, apa kau tidak apa-apa sendirian di rumah?" Ucapku, hanya sedikit khawatir.
"Tidak apa-apa, lagi pula aku sudah sering di tinggal ibu dan ayah, jadi sudah terbiasa untuk tinggal sendirian saat rumah sedang kosong." Ucapnya.
Saat masih kecil dia selalu di titipkan pada ibuku, semenjak kami masuk SMP, Sakura tidak pernah di titip lagi, dia sudah berani tinggal sendirian dan bibi Mebuki berpesan padanya, jika terjadi sesuatu dia harus menghubungi ibuku terlebih dahulu, dia benar-benar berani untuk tinggal sendirian, aku sedikit merasa kasihan dengannya, anak tunggal dan kedua orang tuanya sibuk, tapi melihatnya baik-baik saja seperti ini, membuatku lega, dia tidak berubah.
"Baiklah." Ucapku, sedikit kecewa dia tidak pernah mendatangi rumahku lagi.
"Ini, jangan lupa, sampaikan salamku untuk bibi Mikoto dan kak Itachi." Ucapnya dan memberikanku kantongan berisikan takoyaki yang di belinya tadi.
"Hn."
Menatapnya pergi, dia sudah masuk ke dalam teras rumahnya, Sakura berbalik dan melambai ke arahku.
"Se-la-mat ma-lam." Ucapnya perlahan, tersenyum padaku dan berjalan masuk.
"Selamat malam." Balasku.
Ending Sasuke Pov.
.
.
Normal Pov.
Sementara itu, Kiba, Naruto dan Chouji, mereka belum pulang dan malah nongkrong di depan nicemart.
"Aku tidak yakin jika mereka hanya teman." Ucap Naruto, masih memikirkan sikap Sasuke pada Sakura.
"Tapi Sakura terlihat santai dan biasa saja pada Sasuke." Ucap Kiba.
"Mau di lihat bagaimana pun mereka memang cocok dan terlihat seperti pasangan." Ucap Chouji.
Kiba dan Naruto menatap serius ke arah Chouji.
"Kita tidak akan membiarkannya mengganggu Sakura." Ucap Kiba.
"Dia harus menjauh dari dewi kita." Ucap Naruto.
"Kalian benar-benar aneh, jika Sakura ingin pacaran, biarkan saja." Ucap Chouji.
Naruto dan Kiba merasa tidak rela membiarkan Sakura akan bersama pemuda lain, menurut mereka, Sakura sudah seperti adik perempuan mereka yang berharga, mereka tahu jika Sakura anak tunggal dan tidak memiliki sanak saudara lainnya, Kiba hanya memiliki kakak perempuan tapi dia mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang polwan dan memilih mandiri di luar sana, sedangkan Naruto juga anak tunggal, mereka jadi saling mengisi rasa kekurangan saudara itu.
"Sakura kita tumbuh dengan cepat, padahal rasanya baru kemarin dia memukul kita." Ucap Naruto.
"Kau benar, dia bahkan sangat berani menarik kerahku jika sedang kesal dan menendang perut." Ucap Kiba.
Chouji menatap malas ke arah mereka, rasanya dia ingin memukul mereka, tapi dia tidak terlalu suka untuk memukul, berbeda dengan Sakura yang bahkan akan memukul mereka dengan sangat keras jika sedang kesal.
"Semoga kau cepat mendapat pacar Sakura dan tinggalkan kedua pemuda aneh ini." Pikir Chouji.
Ending Normal Pov.
.
.
.
Sasuke Pov.
Hari ini pun masih bisa bertemu kembali dan pulang bersama, menatap sekitar, bagus! Teman-teman 'unik' Sakura itu tidak bersamanya, ini lebih baik dari pada mereka terus menatapku dengan tatapan menyebalkan.
"Sakura." Panggil seseorang dan langkah kami terhenti. "Ternyata benar kau, aku sampai takut jika salah orang." Ucap seorang pemuda berambut merah.
Kami bertemu seperti ini, apa dia juga mengambil jurusan di kampus ini? Menatap ke arah Sakura, tatapan itu, dia sangat-sangat terkejut bertemu Sasori, ada apa? kenapa dia terkejut sampai tidak bisa membalas ucapan pemuda berambut merah di hadapannya ini? Mata Sasori tertuju padaku.
"Oh, jadi karena ini-"
"-Bukan seperti itu!" Sakura segera menghentikan ucapan Sasori, nada suaranya bahkan terdengar lebih keras dan tegas, seakan Sakura takut Sasori mengatakan sesuatu.
"Bukan seperti itu, apa? Sakura? Apa kau ingin mengatakan jika bukan seperti yang aku pikirkan?" Ucap Sasori, aku sudah cukup lama tidak menyukainya, dia sudah merebut Sakura dan kini muncul lagi di hadapan kami.
"Apa kau ada masalah dengannya?" Ucapku pada Sakura.
"Ti-tidak, kami tidak ada masalah." Ucapnya, tapi raut wajah itu tidak menunjukkan jika mereka tidak sedang bermasalah.
Sejak masalah yang terjadi padaku dan Sakura saat SMA, aku jadi tidak mengetahui apapun lagi tentangnya, bahkan dengan Sasori.
"Maaf, Sasuke aku ada keperluan dengan Sasori, kau pulang saja lebih dulu." Ucap Sakura.
Sakura mulai berjalan menghampiri pemuda itu dan aku bisa melihat sebuah senyum di wajah Sasori, rasanya aku ingin menggenggam tangan Sakura dan menahannya untuk tidak pergi, tapi apa alasan yang pantas aku katakan padanya? Dia pasti akan merasa aneh padaku dan hubungan kita yang sedang di bentuk dengan susah payah ini, akan kembali hancur.
Menatap mereka pergi, hanya itu yang aku bisa lakukan, lagi-lagi aku hanya bisa menatap mereka.
.
.
TBC
.
.
update...~
.
.
See you next chapter..~
