Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ Girl-(friend) ~
[ Chapter 13 ]
.
.
.
.
Kelas berikutnya akan di mulai sekitar sejam lagi, berjalan keluar kelasku dan menuju kantin kampus, mungkin aku bisa bertemu dengan Sakura dan teman-temannya di sana, mereka paling rajin mendatangi kantin kampus.
Tiba-tiba ada yang menarikku dan memaksaku mengikuti mereka, berikutnya, duduk dengan menatap kesal pada mereka, teman-teman Sakura memaksaku ke sebuah kafe dekat kampus, kenapa mereka melakukan ini padaku? Apa mereka masih tidak suka padaku? Sebaliknya aku lebih tidak menyukai mereka, anehnya, Sakura tidak bersama mereka.
"Ada apa?" Ucapku, mereka sampai maksaku.
"Kami hanya ingin berbicara denganmu, kau 'kan lebih dekat dengan Sakura, bahkan kata Sakura rumah kalian berhadapan." Ucap Naruto.
"Jangan berbelit dan ucapkan dengan jelas." Ucapku, aku tidak ada waktu meladeni mereka.
"Beberapa hari ini Sakura menjadi sedikit aneh, dia berubah dan tidak seperti Sakura yang biasanya, bagaimana kau yang berhadapan rumah tapi tidak pernah memperhatikannya?" Ucap Kiba, dia terlihat kesal padaku, aku bukan ibu Sakura yang harus memperhatikannya 24 jam.
"Meskipun kami tetangga, aku jarang bertemu dengannya, itu karena jadwal kuliah kami yang berbeda, jika sudah di rumah pun Sakura akan tetap di dalam rumahnya dan jarang keluar." Ucapku, mereka pikir kami tinggal satu atap yang bisa saling memperhatikan satu sama lain.
"Sudahlah! Jika di jelaskan seperti ini dia pasti tidak akan percaya, bawa saja dia." Ucap Chouji.
Aku sampai terkejut, mereka kembali memaksaku mengikuti mereka dan melihat bagaimana Sakura.
"Disana." Ucap Naruto, mengikuti arah yang di tunjuknya.
Aku bisa melihat dengan jelas gadis berambut softpink itu, rambutnya memang sudah sangat panjang hingga ke pinggang, tapi dia tidak mengikatnya, dia membiarkannya tergerai, penampilannya sangat berbeda, sekarang dia sedang memakai rok span jins pendek di atas lutut, terlalu pendek, aku tidak suka melihatnya, kemeja yang lebih feminim dan merias wajahnya.
"Kau lihat, dia berubah." Ucap Chouji.
Menatap ke arah mereka dan entah mengapa hanya ada tatapan kecewa, di saat para laki-laki mungkin akan senang melihat penampilan baru Sakura, namun sangat berbeda dari ketiga pemuda ini, mereka tidak senang akan perubahan Sakura, dan sejujurnya, aku pun tidak begitu menyukainya, tiba-tiba dia membuang kepribadiannya sendiri, dia bukan seperti Sakura yang aku kenal selama ini, kadang setiap harinya, penampilannya lebih santai dan lebih tertutup, lebih sering menggunakan celana jins panjang dan kaos, rambutnya pun sering di ikatnya, dia bahkan jarang merias wajah.
Meninggalkan mereka dan menghampiri Sakura.
"Aku mencarimu." Bohongku, aku hanya berpikir jika mungkin bertemu dengannya secara tidak sengaja di kantin kampus, tapi malah teman-temannya membuatku bertemu dengannya.
"Sa-Sa-Sasuke." Ucapnya, gugup dan sangat terkejut.
Aneh, kenapa dia malah terkejut melihatku? Wajahnya sampai merona-malu dan tidak berani menatapku, hal lain yang aku lihat, dia jadi tidak nyaman dengan dirinya sendiri, tepat sekali, dia tidak berubah, dia tetap Sakura yang seperti biasanya, tapi ada hal yang membuatnya sampai seperti ini, tangannya bergerak gelisah, seakan ingin membuat rok pendeknya itu lebih panjang dan merapikan kemeja yang sebenarnya sedang tidak kusut, dia benar-benar tidak nyaman akan penampilan ini dan berharap aku tidak memperhatikannya.
"Apa kau sedang menjadi badut sirkus?" Ucapku padanya.
"A-apa maksudmu!" Dia marah.
"Kau terlihat seperti badut hari ini." Ejekku. Aku hanya ingin dia sadar jika tidak perlu berdandan seperti ini.
"Bu-bukan urusanmu!" Ucapnya, dia masih tidak menatapku. "Maaf, aku ada kelas." Dia pergi setelah mengucapkan hal itu, aku rasa dia sedang berbohong.
Sakura dan teman-temannya itu satu kelas untuk semester kali ini, mereka pun sudah selesai dengan mata kuliah hari ini.
Kembali mendatangi ketiga pemuda itu.
"Dia masih tetap Sakura yang sama, tapi ada sesuatu yang di sembunyikannya. Jika kalian benar-benar teman yang peduli padanya, cari tahu apa yang terjadi padanya." Ucapku, aku juga sedikit sibuk di jurusanku jadi agak kesulitan untuk mengawasi Sakura, aku rasa bisa mempercayakan Sakura pada mereka, lagi pula jika bukan karena mereka, aku tidak mungkin melihat penampilan Sakura yang aneh hari ini.
"Siap, pak!" Ucap mereka serempak dan hormat padaku.
Ada apa dengan mereka? Menatap aneh pada mereka, kalian pikir, kalian ini prajurit. Bodoh!
.
.
.
.
Berjalan keluar rumah di malam hari, sekedar menghirup udara di luar, hanya berdiri di taman depan teras dan aku melihat Sakura berjalan keluar dari rumahnya, dia terkejut saat melihatku juga berada di luar, hari ini kembali seperti Sakura yang biasanya, dia menghapus segala make up di wajahnya dan berpakaian kasual yang lebih santai, celana berbahan kain parasut dan kaos yang cukup lebar dari badannya, seperti ini Sakura yang aku kenal, aku menyukai penampilannya yang sederhana ini, rambut panjangnya di ikat satu-tinggi.
"A-aku mau beli es krim." Ucapnya dan tidak menatapku, entah apa yang membuatnya menjadi canggung padaku.
"Memangnya aku bertanya padamu?" Ucapku, dingin.
"A-a-aku hanya mengatakannya saja, biasanya kau akan bertanya mau kemana." Ucapnya, gugup.
Berjalan keluar dan berdiri di hadapannya.
"Aku juga ingin ke nicemarket." Bohongku.
"Ya sudah, kita pergi sama-sama saja." Ucapnya.
Berjalan di sepanjang jalan yang mulai sedikit sepi, area kompleks perumahan akan sepi meskipun masih jam 8 malam. Tiba di sebuah nicemarket, Sakura membeli es krim hingga 5 dan aku hanya membeli sebuah minuman dingin dalam kemasan botol.
"Apa ada yang mengganggumu akhir-akhir ini?" Tanyaku padanya.
"Tidak ada." Ucapnya dan menikmati setiap es krimnya.
Kami belum kembali dan duduk di kursi yang di sediakan nicemarket ini pada area terasnya.
"Masih berbohong juga?" Ucapku, aku jadi tahu kapan dia berbohong dan kapan dia akan berkata jujur.
"Tidak ada masalah, tenang saja, kau pikir kau sedang berbicara dengan siapa? Kau tahu banyak yang takut padaku karena aku ini kuat dan galak."
"Tapi tetap saja, kau seorang gadis, Sakura." Ucapku dan menatapnya.
Wajahnya tiba-tiba merona dan mengalihkan tatapannya dariku.
"Iya-iya, aku tahu, aku hanya seorang gadis." Ucapnya dengan nada terdengar malas.
"Maka dari itu, kau harus menjaga dirimu." Ucapku.
"Uhm, aku sudah menjaga diriku dengan baik." Ucapannya terdengar begitu pelan dan wajahnya tertunduk, dia sampai membiarkan es krimnya itu meleleh dan menetes ke tanah.
"Aku pikir kau punya banyak teman, jika kau sedang kesulitan bukankah kau harus menceritakannya pada mereka?" Aku ingin dia mengatakan pada ketiga pemuda itu, mereka akan lebih mudah mengatakannya padaku jika Sakura saja, dia memilih diam dariku.
"Ini bukan sesuatu yang harus aku ceritakan pada mereka." Ucap Sakura, kini tatapan yang terlihat cemas.
"Kenapa?"
"Aku harus pulang!" Ucapnya, membawa kantongan es krimnya dan berlari dengan cepat, dia bahkan meninggalkanku begitu saja.
Lagi-lagi aku tidak lebih cepat untuk menahannya tidak pergi, sejenak aku melihat raut sedih di wajahnya, dia benar-benar sedang menyimpan sesuatu yang bahkan tidak ingin di ceritakannya padaku.
.
.
.
.
089XXXXXXXXXX
calling.
"Sasuke, kau harus kemari, Sakura benar-benar sulit di kendalikan."
Aku tidak tahu nomer siapa yang menghubungiku, tapi dari suaranya, itu adalah suara Naruto, dia seperti ingin meminta bantuan padaku, berlari ke arah sebuah kedai yang di sampaikan Naruto dan aku melihat Sakura di sana.
"Tambah lagi! Aku tidak takut untuk minum yang banyak!" Ucap Sakura, cara bicaranya sampai ngaur dan rona memerah menghiasi wajahnya, dia mabuk, bodoh! Jika tidak bisa minum banyak kenapa harus minum!
"Akhirnya kau datang, bawa dia pulang, dia sama sekali tidak ingin mendengarkan kami." Ucap Chouji, wajahnya terlihat takut, apa yang sudah di lakukannya selama mabuk?
"Aku sampai di tamparnya." Ucap Kiba, aku bisa melihat bekas merah di pipinya, Sakura cukup kuat dan aku yakin itu tamparan yang sangat keras.
Katanya mereka sedang merayakan hari ujian yang telah berakhir pada semester ini, sekedar melepas penat dan sibuknya kuliah, awalnya hanya minum sake sedikit, tiba-tiba Sakura meminta adu minum sake dan berakhir dengan seperti ini, mereka membantuku untuk menggendongnya di punggung, aku jadi harus membawanya seperti ini.
Di perjalanan, Sakura begitu diam, apa dia tertidur? Tapi tangannya masih erat merangkulku dari belakang.
"Hey, apa kau tidur?" Ucapku, memastikan dia tidak tertidur dan akan terjatuh.
"Kepalaku sakit." Ucapnya perlahan.
"Aku tidak pernah melihatmu minum sake seperti itu, meskipun kau sudah menjadi seorang mahasiswa, kau tidak perlu minum sebanyak itu" Tegurku.
"Aku hanya sedang melepas stres, aku benar-benar sedang stres." Ucapnya, setiap kali dia berbicara aku akan mencium bau sake yang cukup kuat.
"Jika stres kenapa kuliah? Kau bisa langsung mencari pekerjaan."
"Bukan, aku tidak stres akan kuliahku, tapi terhadap seseorang, dia terus membuatku harus menurut padanya." Ucap Sakura dan membuatku berhenti berjalan, siapa? Kenapa sampai dia membuat Sakura menurut?
"Katakan Sakura, apa yang sedang terjadi padamu akhir-akhir ini." Ucapku.
"Aku, aku juga tidak tahu apa yang sedang terjadi padaku." Ucapnya.
Rangkulan Sakura semakin mengerat dan aku bisa merasakan hembusan napasnya pada punggung leherku, sia-sia saja, bahkan dalam keadaan mabuk aku tidak bisa mendapatkan informasi apa-apa, mengantarnya pulang ke rumahnya.
"Sasuke." Panggilnya.
"Apa?"
"Aku mau mun-"
Segera menurunkan Sakura dan membiarkannya menghadap ke tembok jalanan. Hampir saja, mungkin jika aku tidak menurunkannya lebih cepat, dia akan memutahiku, mengelus perlahan punggungnya.
"Aku tidak akan minum lagi." Ucapnya.
"Itu jauh lebih baik, aku akan memukulmu jika melihatmu mabuk lagi." Ucapku.
"Terima kasih Sasuke, terima kasih, aku selalu saja merepotkan-" Ucapnnya terputus dan dia masih saja tidak sadarkan diri dengan benar, menuntunnya agar ku gendong kembali, Sakura kembali terdiam, mungkin dia sudah tertidur.
Saat tiba di rumahnya, aku bertemu bibi Mebuki yang sedang tidak ada jadwal operasi.
"Sakura, ada apa dengannya?" Ucap bibi Mebuki, ibunya sampai khawatir.
"Dia minum hingga mabuk." Ucapku, masih menggendongnya dan bibi Mebuki menuntunku untuk membawanya ke kamarnya.
"Anak ini, dia benar-benar keterlaluan, kenapa harus minum-minum! Masa kuliah itu bukan masa ajang seperti ini, minum secukupnya, Kau jadi seperti ayahmu yang suka minum sake." Gerutu bibi Mebuki. Aku tidak melihat paman Kizashi, mungkin beliau sedang berlayar kembali.
Membaringkannya di kasur, sementara bibi Mebuki sedang berada di dapur dan membuatkan sesuatu untuk Sakura agar dia segera sadar, menatapnya yang berbaring di kasur, matanya tertutup dan wajahnya sangat merona, helaian rambutnya menutupi bagian wajahnya, sedikit menyingkirkan helaian rambutnya dan melihat baik-baik wajah gadis itu, make up masih menghiasi wajahnya, meskipun tidak make up pun dia tetap akan cantik.
Tersadar akan sesuatu, ini untuk pertama kalinya aku masuk ke kamarnya, selama ini hanya dia yang terus menerobos masuk ke kamarku, terlihat sederhana dan sesuatu membuatku terfokus ke arah meja belajarnya, berjalan ke arah meja itu dan mengambil sebuah bingkai foto kecil yang di pajangnya, foto ini, aku jelas mengingatnya saat kami mulai memasuki sekolah dasar, saat itu aku malas berfoto dan ibuku sampai memaksaku, Sakura segera menarik lenganku dan merangkulnya, dia bahkan tidak peduli dengan wajah kesalku padanya. Sakura masih menyimpan foto ini bahkan di pajang.
"Maaf yaa Sasuke, kau jadi repot." Bibi Mebuki telah kembali dan membawa sesuatu, mungkin semacam obat peredah mabuk.
"Hn, tidak apa-apa bibi."
"Dia ini sampai sekarang pun terus merepotkanmu, bibi selalu berpikir apa dia punya teman selain kau?" Ucap bibi Mebuki.
Terdiam sejenak, teman? Mungkin sejak awal cuma kami yang terus terlihat bersama.
"Tenang saja bibi, Sakura punya banyak teman." Ucapku, ya dia punya teman-teman yang peduli bahkan mereka tidak pernah memiliki niat buruk pada Sakura meskipun dia hanya seorang gadis di antara mereka.
"Begitu yaa."
"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu bibi."
"Uhm, sekali lagi terima kasih dan mampirlah ke sini." Ucap ramah bib Mebuki.
Aku pamit padanya dan berjalan pulang.
.
.
.
.
"Sasuke, selamat pagi." Sapa seorang gadis, aku tidak begitu mengenalnya, tapi sepertinya dia yang terlalu ingin dekat denganku atau mungkin karena kami satu kelas.
"Hn." Gumamku perlahan.
Saat ini yang aku pikirkan apa Sakura sudah sadar? Dia benar-benar gila kemarin, teman-temannya sampai takut padanya.
"Sasuke kau tidak mendengarkanku?" Ucap gadis di sebelahku.
"Apa kau sedang berbicara padaku? Jika tidak penting tidak perlu berbicara padaku." Ucapku dan menatap dingin padanya, aku sedang tidak mood untuk mendengar orang lain berbicara.
"Be-begitu yaa, maaf." Ucapnya dan aku bisa melihat raut kecewa disana, tapi aku tetap tidak peduli, raut kecewa itu tidak akan membuatku kasihan padanya.
Memilih untuk keluar dari kelas, mencoba mencari Sakura di fakultasnya, apa dia sudah datang? Atau dia masih tidak masuk kuliah dan tetap berada di rumah, cukup beruntung aku bertemu Naruto.
"Sakura? Kami sempat bertemu di kelas, setelah kelas berakhir dia buru-buru keluar." Ucap Naruto.
Hanya mendengar ucapannya dan kembali mencari Sakura, aku hanya ingin tahu keadaannya, apa dia baik-baik saja? Semalam dia cukup mabuk. Setelah berjalan di sekeliling area kampus, aku tidak menemukan Sakura, tapi menemukan pemuda itu, entah mengapa aku rasa di balik semua perubahan sikap Sakura, sebelum bertemu Sasori, Sakura baik-baik saja, bahkan penampilannya sesuai keinginannya, setelah bertemu Sasori, sikap dan penampilannya berubah total.
"Ada yang perlu aku tanyakan." Ucapku pada Sasori.
.
.
TBC
.
.
update ciiiinggg...~
cuma mau ketik itu dan kabur.
see you next chapter...~ ehehe
