Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 14 ]

.

.

.

.

"Ada yang perlu aku tanyakan." Ucapku pada Sasori.

"Ada apa? Apa kita saling mengenal?" Ucapnya dan membuatku ingin menghajarnya.

"Ada apa dengan Sakura?" Tanyaku, aku tidak perlu basa-basi dengannya.

"Sakura? Dia baik-baik saja." Ucapnya dan bahkan tersenyum.

"Kau melakukan sesuatu padanya?"

"Kenapa kau begitu peduli pada Sakura? Aku pikir kalian hanya 'teman' dan tidak lebih."

Aku sudah cukup kesal dengan nada bicaranya, meremas kerahnya dan menatapnya tajam.

"Jangan membuatku sampai mengulang pertanyaanku. Apa yang kau lakukan pada Sakura?" Ucapku.

"Hey-hey, tenanglah, aku dan Sakura baik-baik saja, bahkan hubungan kami berlanjut, kami pacaran kembali dan itu membuatku senang."

Sedikit terkejut akan ucapan Sasori, benarkah Sakura kembali memiliki hubungan dengan pemuda ini? Aku pikir dia tidak akan menyukainya kembali.

"Dia minta maaf dan ingin kembali padaku, jadi aku menerimanya kembali." Ucap Sasori dan senyum di wajahnya membuatku muak.

"Aku tidak akan percaya padamu." Ucapku.

"Apa? Hahahahahahah, kau benar-benar 'teman' yang terlalu peduli yaa, begini saja, bagaimana jika aku katakan kalau aku yang membuat Sakura kembali padaku, dulunya aku sangat menyukainya, tapi dia tiba-tiba berubah dan itu tidak membuatku senang, sekarang aku tidak peduli lagi karena dia sudah memilih yang benar dari pada hanya seorang 'teman' baginya."

Sial! Dia membuat kesabaranku habis.

Bught!

Terkejut.

Gadis itu sampai terjatuh ke tanah.

"Sakura, kau tidak apa-apa?" Ucap Sasori dan segera menghampirinya.

Aku cukup terkejut dan menatap Sakura yang tengah memegang pipinya.

"A-aku tidak apa-apa." Ucap Sakura dan kini menatapku, tatapan itu, dia terlihat sedih. "Sebaiknya kita pergi dari sini." Ucapnya dan malah meminta bantuan pada Sasori. Sasori membantunya berdiri dan mereka benar-benar pergi bersama.

Kenapa?

Kenapa Sakura menghalangiku untuk memukul pemuda brengsek itu!

Sial!

Aku benar-benar kesal, aku sempat melihat sudut bibirnya berdarah, menatap tanganku, pukulanku cukup keras dan pasti akan terasa sangat sakit, Sakura benar-benar gila, apa pengaruh sake belum hilang hingga dia berbuat seperti itu? Dia bahkan tidak peduli jika wajahnya terkena pukulanku.

.

.

.

.

Menatap jam dinding kamarku, sudah jam 7 malam, apa Sakura sudah pulang? Aku belum meminta maaf padanya, berjalan keluar kamar.

"Sasuke? Mau kemana malam-malam begini?" Tanya ibuku.

"Hanya menjenguk Sakura, dia sedang sakit." Alasanku.

"Sakit? Kalau begitu sampaikan salam ibu ya, semoga dia cepat sembuh."

"Hn, baik bu."

Berjalan ke arah rumah Sakura, memencet bel dan bertemu bibi Mebuki, beliau hanya mengatakan jika Sakura terus berada di kamarnya dan tidak ingin keluar setelah pulang kuliah, aku yakin jika dia sedang menyembunyikan wajahnya yang lebam itu. Bibi Mebuki memintaku untuk naik saja, tapi aku rasa dia tidak ingin bertemu denganku, jadi.

"Sakura, boleh ibu masuk?" Ucap bibi Mebuki.

"Masuk saja bu." Ucap Sakura.

Pintu itu terbuka, di dalam Sakura sedang berbaring di kasur dan tidur menyamping, dia tidak melihatku masuk dan hanya mendengar suara ibunya, bibi Mebuki pergi dan menutup pintu, duduk di sisi ranjang dan Sakura tidak juga mengalihkan wajahnya.

"Ada apa ibu? Aku sedang tidak mood untuk makan malam." Ucapnya.

"Kalau begitu biar aku mengobati lukamu." Ucapku dan gadis itu segera bangun dan menjauh dariku. "Sa-Sa-Sasukee! Kenapa kau masuk seenaknya dikamarku!" Ucapnya, dia mengatakan hal itu padaku dan wajahnya terlihat sangat panik.

"Oh, jadi jika kau masuk di kamarku seenkanya, aku tidak boleh protes juga?" Sindirku, dulunya dia selalu masuk ke kamarku seenaknya.

Sakura menjadi tenang dan tetap menjaga jarak, dia hanya duduk dan merangkul kedua lututnya di sudut, aku terus menatap ke arah wajahnya, memar di pipi dan luka di sudut bibirnya telah mengering.

"Kau tidak mengatakan apa-apa pada ibuku?" Ucapnya dan nada suaranya terdengar sedih.

"Hn, tidak, aku tidak mengatakan apapun."

"Awalnya aku ingin berbohong jika aku tadi jatuh, tapi ibu seorang dokter, dia akan mudah mengetahui yang mana jatuh dan yang di pukuli, lagi pula jika aku mengatakan kau pelakunya, ibu pasti tidak akan percaya." Ucapnya.

"Maaf, dan kenapa kau melakukan ini? Kau melindungi pemuda aneh itu?" Ucapku, aku sedikit kesal akan tindakannya.

"Jika kau memukulnya, masalah akan semakin rumit, jika kau hanya memukulku, tidak akan terjadi apa-apa."

"Kenapa kau tetap keras kepala untuk tidak mengatakan apapun padaku?"

Sakura terdiam.

"Sakura."

"Sebaiknya kau pulang."

"Aku tidak akan pulang jika kau terus seperti ini."

Dia kembali terdiam.

Sedikit kesal jika dia terus diam, berjalan keluar kamarnya, setelahnya aku kembali dengan secangkir air hangat dan handuk kering. Duduk di sisi ranjang dan memanggilnya, jika dia terus seperti itu, lebamnya tidak akan sembuh.

"Aku akan mengopresnya." Ucapku.

"Tidak perlu." Tolaknya.

Menatap tajam padanya dan dia jadi penurut, mengopres luka lebamnya dan Sakura sempat merintih saat handuk hangat itu menyentuh pipinya.

"Seharusnya ini di kompres sejak tadi, apa saja yang pacarmu itu lakukan? Kenapa dia tidak mengobatimu." Ucapku.

Lagi-lagi Sakura terdiam, dia benar-benar bungkam akan apapun.

"Kau repot-repot mengambil ini? Apa yang ibuku katakan?" Ucapnya.

"Aku hanya meminta air hangat untuk di minum dan handuk kering karena kau menumpahkan jus dikamar." Ucapku, sedikit berbohong pada bibi Mebuki, aku tahu Sakura tidak ingin ibunya tahu akan lebam di wajahnya.

Sakura menahan tawanya. "Aku pikir kau ingin minum air hangat dan handuk sebagai cemilanmu." Ucapnya.

"Dasar bodoh."

Kembali merendam handuk itu di air hangat dan mengopres pipi Sakura, menatapnya, dia tidak menatapku dan aku masih melakukan hal yang sama hingga air di cangkir itu menjadi dingin dan berhenti mengopres pipi Sakura.

"Aku pikir kau tidak menyukainya, kenapa kalian kembali?" Ucapku.

"Bukan apa-apa, seharusnya aku memang tidak merusak hubungan kami saat itu." Ucapnya dan tatapan itu, lagi-lagi dia berbohong, kapan kau akan jujur padaku Sakura? Dulunya kau selalu mengatakan segalanya dengan jujur, sekarang kau benar-benar berubah.

"Aku tidak suka kau bersamanya, seharusnya kalian tidak perlu menjalin hubungan lagi." Ucapku dan sesuatu membuatku cukup penasaran, tatapan Sakura melebar seakan dia terkejut akan ucapanku.

Tidak ada ucapan apa-apa lagi Sakura, kembali dia akan bungkam dan aku tidak akan mengetahui apapun lagi.

.

.

.

.

Siang ini, Naruto, Chouji, dan Kiba mengajakku ke kafe O, mereka tidak bersama Sakura lagi, mungkin ada hal yang ingin mereka sampaikan padaku, menatap Chouji, kenapa dia ngos-ngosan seperti sudah berlari? Naruto dan Kiba pun sama.

"Kalian habis lomba lari untuk menemuiku?" Tanyaku.

"Sakura, Sakura tidak melepaskan kami, dia terus mengikuti kami, jadi kami kabur saja." Jelas Kiba.

"Aku sudah tidak kuat lagi." Ucap Chouji dan seakan ingin berbaring di tempat duduk.

"Dia malah curiga pada kami, dia pikir kami tidak ingin berteman dengannya lagi." Ucap Naruto.

"Baiklah, apa yang ingin kalian sampaikan?" Tanyaku.

"Ada yang memukul Sakura!" Ucap Naruto dan cukup histeris, bisakah kau tidak berwajah seperti itu?

"Itu, aku yang lakukan." Ucapku, santai.

Graab!

"Kau, apa yang kau lakukan pada Sakura?" Ucap Kiba, mencengkeram kerah bajuku dan menarik ke arahnya.

"Dengarkan dulu penjelasanku sebelum kau memukulku." Ucapku. mencoba membuat mereka tenang, jika mereka masih tidak percaya padaku, terserah mereka saja.

"Katakan dengan jelas, semoga penjelasanmu tidak membuat kami akan menghajarmu di sini." Ucap Kiba, Naruto dan Chouji pun terlihat marah padaku.

"Aku tidak sengaja memukulnya, sebenarnya bukan Sakura yang ingin aku pukul, tapi pemuda yang aku yakin membuat Sakura berubah, setelah Sakura bertemu dengannya, dia jadi tidak seperti Sakura yang biasanya, selalu berbohong padaku dan mengubah penampilannya dan lagi mereka sedang menjalin hubungan, mereka pacaran." Ucapku.

Ketiga pemuda itu terkejut, Sakura memiliki pacar, mungkin ini adalah hal yang tidak pernah mereka ketahui.

"Kalian adalah teman terdekat Sakura, bagaimana kalian tidak tahu jika dia sudah punya pacar?" Ucapku, atau mungkin inilah yang tidak ingin Sakura ceritakan pada mereka.

"Sakura punya pacar? Tapi dia tidak pernah mengatakan apa-apa pada kami." Ucap Naruto.

"Nah, oleh sebab itu aku meminta kalian menyelidiki Sakura." Ucapku.

"Aku tahu siapa pemuda itu." Ucap Kiba.

Kami jadi menatap ke arahnya, sepertinya Kiba mempunyai beberapa informasi.

"Dia anak dari jurusan seni, bangunan fakultasnya pun cukup dekat dengan fakultas kita, namanya Akasuna Sasori, aku sempat melihatnya bertemu dengan Sakura, tangannya yang lancang itu selalu saja ingin menyentuh Sakura, tapi aku tidak jadi bertindak, Sakura menepis kasar tangannya, aku rasa di pantas mendapat itu, jadi benar mereka pacaran?" Ucap Kiba.

"Sasori sendiri yang mengatakannya dan saat aku ingin memukulnya, Sakura melindunginya." Ucapku, pemuda aneh itu membuatku marah.

"Apa! Sial! Dia mungkin sudah melakukan sesuatu pada Sakura hingga Sakura melindunginya." Ucap Naruto, dia jadi terlihat marah.

"Kau mau apa jika dia dan pemuda berambut merah itu pacaran?" Ucap Chouji.

Ah, dia benar, kita tidak mungkin memiliki hak untuk melawan Sasori jika menjadikan perubahan sikap Sakura sebagai alasannya, Sakura sendiri tetap bungkam dengan semua masalahnya, aku cukup kecewa akan perubahan sikapnya ini.

"Mereka pacaran, tapi aku tidak merasakan jika Sakura bahagia bersamanya." Ucap Kiba.

"Jadi apa yang harus kita lakukan? Aku tidak ingin melihat Sakura menderita." Ucap Naruto.

"Hanya bisa menunggunya berbicara, jika Sakura tetap diam, kalian tidak bisa melakukan apapun." Ucapku.

Ending Sasuke Pov.

.

.

.

.

Normal Pov.

"Hey! Kalian!" Teriak Kiba.

Beberapa orang menatap ke arah Kiba, mereka terlihat kesal setelah teriakan pemuda itu, dia mengganggu apa yang sedang ingin di lakukan mereka.

"Jangan mengganggu gadis itu." Ucap Kiba.

"Ha? Kenapa? Apa dia pacarmu?" Ucap salah seorang dari mereka.

"Bukan sih, tapi kalian tidak boleh mengganggunya." Ucap Kiba.

Beberapa pemuda itu tidak terima dengan ucapan Kiba, dia juga hanya sendirian, meskipun menantang mereka, para pemuda ini tidak takut dan malah beramai-rami menghajarnya, Kiba membalas mereka dan tidak takut, seorang gadis yang sempat dalam bahaya berlari-kabur, dia berhasil lolos karena pemuda yang menurutnya seperti seorang preman.

Kemudian.

Kantor polisi Konoha.

"Berkelahi di jalanan, kalian benar-benar pembuat onar!" Marah seorang polisi.

Mereka ketahuan polisi dan di tangkap beramai-ramai.

"Kau, kenapa malah terlambat masalah?" Ucap seorang polisi yang mengenal Kiba.

"Mereka mengganggu seorang gadis, jadi aku hanya ingin membantu gadis itu." Ucap Kiba.

"Bohong! Dia menyerang kami duluan!" Ucap pemuda itu, teman-temannya pun ikut membantunya membenarkan ucapannya, mereka terus-menerus menuduh Kiba sebagai biangnya.

"Kalian jelas-jelas mengganggu seorang gadis!" Kesal Kiba.

"Mana buktinya? Gadis itu bahkan tidak ada!"

"Dia kabur karena kalian!" Kiba semakin kesal, gadis itu meninggalkannya dan dia tidak punya bukti sebagai pembelaan.

"Diam!" Ucap polisi yang kesal itu, mereka cukup ribut di dalam kantor polisi ini.

"Apa bapak tidak percaya pada kami? Anak ini bahkan terlihat seperti geng mafia." Mereka masih menuduh Kiba.

Polisi itu hanya menghela napas, sudah berkali-kali Kiba di laporkan karena penampilannya, dia tahu jika Kiba itu bukan anak geng mafia atau apapun, hanya penampilannya saja yang membuatnya orang-orang gagal paham terhadapnya.

"Ada apa ini ribut-ribut?" Ucap seorang polisi lainnya, Kiba melihatnya dan menundukkan wajahnya, sedikit sial, ayahnya sedang bertugas hari ini.

"Mereka terlibat perkelahian di jalan." Lapor polisi itu.

"Oh, kurung saja mereka hingga mendapat jaminan." Ucap ayah Kiba.

Mereka mengamuk tidak ingin di tahan dalam beberapa hari, tapi ini sudah sesuai peraturan. Semuanya masih terlihat muda dan akan menunggu orang tua mereka atau keluarga mereka yang memberi jaminan.

"Pak, bagaimana dengan Kiba?"

"Biarkan dia bermalam beberapa hari di sini agar tidak mengulang kesalahannya lagi." Ucap ayah Kiba dan bahkan tidak ingin menatap anaknya yang sedang babak belur.

"Sekarang masuklah, tenang saja, jika suasana hati komandan sedang membaik, kau akan bebas dalam waktu beberapa jam saja." Ucap polisi itu setelah komandannya pergi dan berbicara pada Kiba.

"Tidak apa-apa." Ucap Kiba dan berjalan masuk, mereka semua di tahan dan di biarkan menunggu hingga ada yang membebaskan mereka.

.

.

TBC

.

.


update...~

udah baca review yang chapter kemarin.

banyak rahasia di karenakan sudut pandang Sasuke, jadi tunggu untuk sudut pandang Sakura yaa eheheh XD, biar makin greget dan penasaran gitu XD akan ada chapter sebagai penjelas.

terus. sri anisah terima kasih udah mau repot-repot baca fanfic author Sasuke fans. *senang* uhuk" pertanyaan yang sering muncul, author Sasuke fans ini cewek atau cowok? ada yang nebak dan yang berharap tidak sesuai tebakannya, hehehehe, uhmm... author ini sebenarnya adalah... manusia, oke itu saja, :D

dan review lainnya terima kasih banyak-banyak :)

.

.

See you next chapter.