Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ Girl-(friend) ~
[ Chapter 15 ]
.
.
.
.
"Apa kalian melihat Kiba? Sudah dua hari dia tidak masuk." Ucap Sakura.
"Aku juga tidak melihatnya, menghubungi ponselnya pun tidak ada gunanya, ponselnya selalu tidak aktif." Ucap Naruto.
"Kita ke rumahnya saja, mungkin dia sedang sakit." Ucap Chouji.
Ketiganya mendatangi kediaman Inuzuka, seseorang membuka pintu dan itu bukan Kiba atau ibunya, seorang gadis yang mirip dengannya namun jauh lebih tua, tubuh yang tinggi dan seperti atlet bela diri, tatapannya pun terlihat tegas. Hana Inuzuka, dia adalah kakak perempuan Kiba.
"Kami teman-temannya Kiba, apa dia ada di rumah?" Ucap Sakura.
"Oh, masuklah, kalau bisa aku ingin kalian membuatnya keluar dari kamarnya." Ucap Hana.
Mereka hanya saling berpandangan bingung, Kiba tidak mau keluar kamar hingga dua hari, baru saja mengucapkan 'permisi' mereka mendengar suara langkah kaki yang tidak asing, para anjing itu sudah hapal dengan suara mereka.
"Berhenti!" Ucap Hana.
Seluruh anjing berhenti berlari dan berdiri dengan rapi, bahkan menegakkan tubuh mereka.
"Kalian ini, baru ku tinggal sebentar sudah membandel, mana sopan santun kalian? Baris yang rapi untuk menyambut tamu." Tegas Hana.
Para anjing itu benar-benar mendengar ucapan Hana, para anjing berbaris dengan rapi di sisi jalan masuk dan membiarkan Sakura dan teman-temannya berjalan melewati mereka.
Saat di kamar Kiba.
"Apa kau sedang sakit? Kenapa tidak datang sampai dua hari?" Ucap Sakura.
"Ada apa dengan wajahmu itu!" Teriak Naruto, hal pertama yang di perhatikannya.
"Kau ini ada masalah tapi diam, lalu apa gunanya kami?" Ucap Chouji.
"Maaf, aku hanya sedang malas masuk kuliah. Wajahku, ini karena aku sudah menolong seorang gadis, pada akhirnya dia kabur dan tidak bisa menjadi saksiku, aku di tahan selama sehari semalam." Jelas Kiba.
"Dasar, makanya jangan sok menjadi pahlawan." Sindir Naruto.
"Apa kau mau aku hajar, ha? Sebenarnya aku mengenal gadis itu, makanya aku ingin menolongnya, sayangnya, mungkin dia sudah lupa padaku dan kabur, ayahku jadi marah padaku karena di pikirannya aku hanya menjadi anak nakal." Ucap Kiba.
"Cocok, tampang preman dan benar-benar berkelahi seperti preman." Ucap Naruto dan mendapat sebuah jitakan.
"Oh iya, gadis yang kami temui tadi." Ucap Sakura, penasaran, sebelumnya Sakura tidak pernah melihat ada seorang gadis lagi di rumah Kiba.
"Dia kakakku, seorang anggota polisi juga, dia sedang cuti, jika cuti seperti ini dia akan pulang ke rumah dan melatih para anjing-anjing yang ada di rumah ini" Ucap Kiba.
"Pantas saja para anjingmu yang selalu ingin mengerumuni kami saat akan masuk, mereka semua menjadi patuh dan tenang, kakakmu betul-betul hebat, anjing saja bisa sepatuh itu." Ucap Naruto, kagum, memikirkan inilah kekuatan seorang polwan yang tegas.
"Kakakku punya kediamannya sendiri, dia tipe yang sangat mandiri dan selalu saja menjadi andalan bagi ayahku, hahaha, ini lucu bukan? Aku anak laki-laki di rumah ini tapi hanya bikin susah ayahku." Ucap Kiba dan mereka melihat raut kecewa itu.
"Kau juga orang yang hebat, jadi jangan menyalahkan diri seperti itu." Ucap Chouji, dia kembali mengingat saat Kiba menolongnya, karena rumor tentang Kiba seorang preman kampus dan geng mafia membuatnya tertolong, Kiba bahkan tidak peduli akan rumor palsu itu.
"Aku tidak punya kakak, jadi aku tidak tahu seperti apa rasanya." Ucap Sakura.
"Aku juga." Ucap Naruto.
"Ya-ya, kalian enak tidak memiliki saudara, oh iya, Sakura-" Ucap Kiba dan kini menatap serius ke arah. "-Apa kau sungguh pacaran dengan pemuda berambut merah itu?" Lanjut Kiba.
Bukannya berwajah malu atau seperti gadis yang tidak ingin ketahuan jika memiliki pacar, wajah Sakura malah lebih terlihat tenang dan seakan menyembunyikan apapun.
"Iya, kami sedang pacaran." Ucap Sakura, santai.
"Bohong! Kami pikir kau menyukai Sasuke." Ucap Naruto.
"Bisakah kalian tidak mengatakan hal itu! Lagi pula aku dan Sasuke sudah berteman sejak kecil, aku tidak akan pernah mengubah hubungan itu, aku ingin tetap memiliki hubungan ini, dengan begitu tidak perlu ada yang bermasalah nantinya." Ucap Sakura.
Chouji, Naruto dan Kiba terdiam, mereka merasa jika Sakura sedang berbohong, tatapan itu bahkan terlihat sedih dan tidak menerima ucapannya sendiri.
"Maaf, sebaiknya kita tidak membahas Sasuke, bukannya rencana kita ingin menjenguk Kiba." Ucap Sakura mengalihkan pembicaraan ini.
Suasananya jadi canggung, Kiba memilih mengajak mereka keluar ke area teras di halaman dengan kursi bersantai agar menghilangkan suasana yang sempat membuat mereka sulit untuk berbicara, para anjing datang setelah mendengar panggilan Kiba.
.
.
.
"Oii. Kau, si babi gemuk." Ucap seorang pemuda pada Chouji.
Chouji tidak mengenal mereka, memilih untuk pergi dari pada mendapat masalah, berjalan lebih cepat namun para pemuda itu yang terlihat tidak baik dan ramah itu malah menghalangi jalannya.
"Aku hanya ingin bicara padamu, kau yaa temannya si anak berpenampilan preman itu." Ucap pemuda ini.
Hanya satu yang orang yang mungkin mereka maksudkan, Kiba, cuma dia hanya terus di anggap preman.
"Aku tidak mengenalnya." Bohong Chouji, sekarang dia sedang sendirian dan tidak akan ada yang bisa membantunya.
"Ha? Tidak mengenalnya, jangan membuat ini semakin rumit, kau lihat wajahku ini, orang tuaku memukulku lagi karena kami di aduhkan dia di kantor polisi."
"Aku benar-benar tidak tahu, lagi pula itu salah kalian, kenapa berkelahi!" Ucap Chouji, meskipun takut dia harus berani pada mereka, tidak ingin di tindas lagi.
"Kau benar-benar menyebalkan, aku ingin tahu, bagaimana reaksi temanmu jika kami memberimu pelajaran."
"Jika kalian bermasalah dengannya, kenapa tidak datang padanya! Jangan datang padaku!" Teriak Chouji.
Bught!
"Diam kau babi gemuk! Kami juga muak dengan cara bicaramu, oh kira-kira kau bisa beri kami uang?"
Terkejut, Chouji kembali mengingat saat dia di peras oleh teman kelasnya sendiri.
"Tidak akan aku berikan! Kalian bukan orang yang aku kenal!" Tegas Chouji, terus mempertahankan miliknya.
Mau berusaha bagaimana pun, Chouji tidak bisa membiarkan mereka mengambil uangnya dengan paksa, bahkan dia di pukuli hingga babak-belur.
.
.
.
Hari ini, Kiba melihat Chouji dengan wajah yang lebam, segera menghampirinya dan tiba-tiba saja ada yang menghentikan pergerakan Kiba.
"Hey, apa-apaan ini!" Ucap Kiba, kesal.
"Kau tidak apa-apa, tuan?" Ucap pria yang memakai setelan jas dan celana hitam pada Chouji, seakan dia sedang melindungi Chouji.
"Chouji, siapa dia?" Ucap Kiba, masih tidak bisa bergerak.
"Mulai hari ini aku akan membawa pengawal pribadi, ini perintah ayahku dan juga, sebaiknya aku tidak berteman lagi denganmu dan yang lainnya." Ucap Chouji, dia bahkan tidak menatap Kiba.
"Apa! Apa yang sudah terjadi? Kenapa kau malah tidak ingin berteman dengan kami, kau harus katakan semuanya dengan jelas." Ucap Kiba.
"Maaf, lepaskan dia, kita harus bergegas." Ucap Chouji.
Pengawalnya itu melepaskan Kiba dan memberinya peringatan agar tidak mendekati tuannya lagi.
.
.
"Aneh bukan? Bagaimana mungkin Chuoji seperti itu, dan lagi wajahnya habis di pukul, apa masih ada yang menindasnya lagi?" Ucap Kiba, dia menceritakan segalanya pada Sakura dan Naruto.
"Kita tidak bisa sering-sering bersama jika jadwal kuliah yang kadang tidak sama kelas atau jika Chouji sedang keluar di sekitar area kampus, mungkin saja masih ada yang ingin menyakitinya." Ucap Sakura.
"Sial! Siapa yang berani-berani memukul Chouji? Kita harus mencari orang itu!" Kesal Naruto.
"Sangat sulit jika Chouji bahkan tidak ingin berbicara dengan kita, dia sampai membawa pengawal yang jika sejengkal saja ingin menyentuhnya, pengawal itu akan bergerak dan melumpuhkan kita. Aku tidak mengerti, ada apa dengannya."
"Padahal kita sudah berjanji akan bersamanya dan tidak akan membiarkannya di tindas lagi." Ucap Sakura, cukup sedih mendengar masalah yang sedang di hadapi Chouji.
"Satu masalah belum selesai, sekarang muncul masalah lain." Pikir Kiba, menatap ke arah Sakura, gadis itu belum juga mengubah penampilannya, masih terlihat sangat-over feminim dan wajahnya terus menggunakan make up, dia terlihat cantik, namun sangat berbeda, Sakura tidak sesuai dengan sikap ala feminim ini, terlalu di paksakan.
Dia harus segera mencari tahu apa yang terjadi pada Chouji, saat bertemu dengannya, Chouji bahkan tidak ingin menatapnya, ada sesuatu yang sedang di sembunyikan Chouji.
"Kita harus menemui Chouji!" Ucap Naruto.
"Apa kau mau di pukul oleh pengawalnya? Aku sih, tidak mau, pasti ada cara agar kita bisa berbicara dengannya tanpa perlu melawan pengawalnya itu." Ucap Kiba.
.
.
Sakura berjalan keluar kelasnya, akhirnya mata kuliahnya berakhir, menatap ke depan dan langkahnya terhenti, Sasuke tengah berdiri tidak jauh dari gerbang kampus dan tatapan mereka bertemu, berbalik, Sakura masih canggung akan bertemu Sasuke jika penampilannya seperti ini.
"Hey, aku akan menghadangmu di depan rumahmu jika kau kabur." Ancam Sasuke.
Sakura berhenti kabur dan berbalik badan, berjalan menghampiri Sasuke dan menatapnya kesal, lagi-lagi tatapan yang sama, Sakura akan terus mendapat tatapan tenang itu, terkejut, tangan Sasuke tiba-tiba bergerak ke arahnya dan menghapus lipstik berwarna merah terang itu.
"Sampai kapan kau akan menjadi badut seperti ini?" Ucap Sasuke.
"Apa yang kau lakukan!" Kesal Sakura, dia bahkan menepis kasar tangan Sasuke, kini warna merah lipstik itu bergeser hingga ke pipi kanannya.
"Wajahmu jadi tambah aneh." Ucap Sasuke, menahan diri untuk tidak tertawa, wajah Sakura jadi sangat konyol.
"Aku akan membalasmu." Ucap Sakura, mencari-cari tissu di tasnya, sialnya dia tidak punya tissu atau apapun yang bisa gunakan, wajah benar-benar aneh dan seperti gadis yang gila.
Kembali tangan Sasuke ke arah wajahnya.
"Mau apa kau!" Ucap Sakura, marah.
"Kau semakin terlihat aneh." Ucap Sasuke. Membersihkan lipstik yang berada pada pipi Sakura dengan lengan kemejanya.
"Tidak usa-"
"-Diam dan jangan bergerak." Ucap Sasuke.
Sakura terdiam, menundukan wajahnya, tatapan dingin dan cara bicara yang seakan cuek, tetap saja dia membersihkan wajah Sakura.
"Jika saja kau tidak berusaha menghapusnya, pipiku tidak akan ikut berwarna merah." Ucap Sakura, menurutnya ini kesalahan Sasuke.
Tidak ada jawaban apa-apa dari Sasuke, dia sedang berusaha menghilang lipstik itu, namun bukan hanya lipstik yang ingin di bersihkan Sasuke, satu tangannya memegang belakang kepala Sakura dan tangan yang sedang membersihkan itu menghapus seluruh make up yang ada di wajahnya.
"Sasukeee! Apa yang kau lakukaan!" Teriak kesal Sakura, Sasuke benar-benar keterlaluan.
Sasuke berhenti, wajah Sakura bertambah parah, maskranya berantakan, bercampur dengan eyeshadow, bedaknya menghilang dan eyerlinernya menjadi mata panda.
Bught!
Sakura memukul perut Sasuke dengan keras.
"Apa kau ingin membunuhku?" Ucap Sasuke memegang perutnya yang cukup sakit.
"Kau merusak wajahku!" Kesal Sakura.
"Sekarang jauh lebih baik."
"Apanya yang lebih baik! Aku jadi seperti hantu!" Sakura benar-benar marah saat ini.
Beberapa mahasiswa melintas dan melihat mereka, Sakura terdiam, mereka jadi pusat perhatian dan kembali menundukkan wajahnya, make upnya jadi berantakan, entah apa yang membuat Sasuke sampai melakukan hal ini padanya, memarahinya pun Sasuke tidak peduli, memilih untuk pergi dan pemuda itu akan mengikutinya, melirik ke arah lengan kemeja Sasuke, cukup kotor dengan segala make up yang ada di sana.
"Sekarang kau malah membuat kemejamu kotor, biarkan aku mencucinya." Ucap Sakura.
"Hn? Kau ingin aku membuka bajuku sekarang? Di sini?" Ucap Sasuke, bahkan sudah memegang kaki bajunya dan bersiap membuka bajunya.
"Gila! Bukan seperti itu! Sa-saat pulang, berikan padaku." Ucap Sakura, wajahnya sampai merona melihat Sasuke hampir membuka bajunya, rasanya Sakura ingin kembali memukul pemuda yang mulai menyebalkan itu.
.
.
TBC
.
.
update...~
see youu...~
XD
