Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 16 ]

.

.

.

.

Kediaman Haruno.

Wajah Sakura benar-benar merona, saat ini, di hadapannya, Sasuke dengan santainya membuka kemejanya begitu saja, pemuda ini sadar akan tatapan itu, menatap gadis di hadapannya, dia hanya mematung dengan memandanginya.

"Apa kau akan mencuci bajuku atau hanya ingin menatapku seperti itu?" Ucap Sasuke.

"A-a-akan ku cuci." Ucap Sakura, segera merampas kemeja itu dari tangan Sasuke dan mengalihkan tatapannya.

"Kenapa dia begitu santai membuka bajunya di hadapanku! Dasar Sasuke menyebalkan! Di-dia benar-benar seorang pemuda dewasa, apa yang kau pikirkan Sakura! Itu wajar! Itu wajar! Baru kali ini aku melihat tubuhnya." Pikir Sakura dan berusaha menghindari menatap wajah Sasuke, dia tidak ingin Sasuke melihat wajah anehnya.

"Paman dan bibi tidak di rumah lagi?" Tanya Sasuke, suasana rumah Sakura begitu sepi.

"Ayah akan kembali sebulan lagi dan ibu akan pulang malam." Ucap Sakura.

Sakura memasukkan baju Sasuke dalam mesin cuci, kembali ke ruang tamu, pemuda itu cukup aneh jika tanpa baju. Bergegas berlari ke kamar kedua orang tuanya dan mengambil salah satu pakaian ayahnya, walaupun cukup lebar.

"Pakai ini untuk sementara waktu." Ucap Sakura, masih mengalihkan tatapannya.

"Tidak perlu, aku begini saja sampai kemejaku selesai." Ucap Sasuke.

"Ka-kau akan masuk angin!" Kesal Sakura, pemuda itu tidak memahami situasinya.

"Mungkin aku akan masuk angin jika keluar seperti ini, lagi pula aku di dalam rumah." Ucap Sasuke, masih tidak ingin mengenakan apapun di badannya selain celana jins panjangnya.

"Pakai atau aku akan memukulmu." Ancam Sakura, bukannya mendengar ucapannya, Sasuke semakin membantahnya.

"Kau tidak perlu malu padaku, lagi pula kau sudah sering masuk ke kamarku seenaknya bahkan aku belum menggunakan baju."

"I-itu saat kita masih kecil!" Protes Sakura.

"Uhm? Bedanya?"

Sakura terdiam, wajahnya sangat merona dan membuat Sasuke sedikit sulit untuk tidak mengerjainya, Sakura tetap saja tidak menatap ke arahnya, apa karena malu atau hal lain.

"Baiklah, aku menyerah, tapi kau harus memakaikannya padaku." Ucap Sasuke, kembali menggoda gadis itu.

Sakura bergegas pergi dan tidak ingin mendengarkan ucapan Sasuke.

"Apa dia marah?" Pikir Sasuke, bingung, tapi dia semakin semangat menggoda Sakura.

Berikutnya.

Sakura kembali, memakaikan sesuatu pada Sasuke, bukan baju, tapi handuk dan di lilit hingga menutupi dada Sasuke.

"Akhirnya mataku tidak melihat sesuatu yang vulgar lagi." Ucap Sakura, lega melihat penampilan Sasuke.

"Kenapa kau memakaikan handuknya seperti ini! Aku bukan seorang gadis! Lagi pula apa yang vulga! Ha! Tubuhku vulgar untukmu, mau aku perlihatkan lagi." Ucap Sasuke, kini dia yang menjadi kesal.

"Jika kau membuka handukmu itu, aku akan teriak orang mesum." Ancam Sakura.

"Sial. Aku tidak peduli, sini kau."

"Apa? Dasar mesum!" Ucap Sakura dan kabur.

Sasuke segera berlari, cukup mudah mendapat Sakura dan merangkul gadis itu dari belakang.

Hening.

"Maaf." Ucap Sasuke dan segera melepaskan Sakura.

Suasananya menjadi aneh dengan apa yang terjadi pada mereka tadi, begitu canggung dan Sakura masih tidak bisa tenang, jantungnya berdetak cukup cepat apalagi Sasuke melepaskan handuknya saat mengejar gadis itu.

"Ba-bajumu mungkin sudah selesai." Ucap Sakura, segera mencairkan suasana aneh dan bergegas melihat baju Sasuke pada mesin cuci.

Sebuah senyum tipis di wajah pemuda itu, mengambil handuknya tapi tidak melilitkannya lagi pada tubuhnya, hanya di gantung pada lehernya saja.

.

.

.

.

.

Kampus K.

"Ada apa dengan wajahmu, selalu saja berwajah cemberut." Ucap Sasori pada Sakura.

"Bukan apa-apa." Ucap Sakura, dia tidak akan membicarakan apapun masalah yang sedang di hadapinya pada Sasori, meskipun mereka pacaran, itu adalah karena sesuatu yang membuat Sakura sangat terpaksa, menurut Sakura dia hanya ingin membalas perasaan Sasori yang sebelumnya, saat mereka masih sekolah.

"Oh ya, apa mahasiswa yang gemuk itu temanmu? Aku rasa pernah melihat kalian bersama." Ucap Sasori.

"Namanya Chouji, ada apa?" Ucap Sakura dan menatap malas ke arah Sasori.

"Aku pernah melihatnya di pukuli beberapa orang dekat area kampus, bahkan dia berani melawan, hahaha, lucu bukan? Seharusnya jika lemah tidak perlu melawan, mukanya sampai babak-belur." Ucap Sasori, bahkan memasang wajah senangnya.

Graab!

"Kau melihat Chouji di pukuli tapi tidak menolongnya? Apa yang kau lakukan?" Ucap Sakura, dia jadi marah setelah mendengar ucapan Sasori.

"Tenanglah, kenapa kau jadi marah?" Ucap Sasori, kerahnya sampai diremas keras oleh Sakura, dia tahu jika pacarnya akan sangat marah mendengar hal ini, tapi Sasori tidak akan peduli.

"Setidaknya kau bisa membantu mengusir mereka dari pada hanya menonton Chouji di pukul! Dia adalah temanku tentu saja aku akan marah!" Kesal Sakura.

"Bagaimana mungkin aku membantunya jika aku juga sendirian, aku tidak mau di pukuli dan malah terkesan bodoh." Ucap Sasori.

"Oh, begitu yaa, sekarang pikirkan lagi siapa yang lemah di sini." Ucap Sakura, segera pergi, dia tidak senang jika bertemu Sasori, pemuda itu yang memaksa ingin bertemu dengannya.

"Jangan pergi seperti itu, kau ini cepat sekali marah, kemarin aku juga melihatmu di ganggu 'mantan sahabat'mu itu, dia bahkan sangat jahat padamu."

Sakura terdiam, Sasuke tidak sedang berbuat jahat padanya hanya saja sedang berusaha membuatnya sadar jika dia tidak perlu berdandan seperti ini, menatap ke arah Sasori, Sakura hanya kecewa pada Sasori yang sekarang.

"Aku harus ke kelas." Ucap Sakura, memilih untuk tidak melawan Sasori dan pergi dari sana, dia sudah cukup muak mendengar segala ucapan Sasori.

"Baiklah, lain kali pulang bersama yaa." Ucap Sasori dan Sakura tidak peduli pada ucapannya.

Pemuda berambut merah dan tatapan sayup ini terlihat menghela napas, Sakura tidak pernah bersikap lebih baik padanya lagi, selama mereka kembali pacaran, dia senang dengan perubahan Sakura, seperti yang dia inginkan, dia sangat tahu jika gadis berambut softpink itu akan lebih menawan dengan penampilannya, tapi tetap saja sikap gadis itu sulit berubah.

"Lebih baik menjadi kucing manis bukan?" Ucapnya dan tersenyum.

.

.

.

Sakura terus berjalan di sepanjang koridor fakultasnya, berharap bertemu Kiba atau Naruto, sedikit beruntung, dia menemukan Kiba.

"Aku tahu siapa yang memukul Chouji." Ucap Sakura.

"Dari mana kau tahu?" Ucap Kiba, Sakura cepat sekali menemukan informasi ini.

"Kiba! Sakura!" Kali ini Naruto yang berlari ke arah mereka, dia berlari seperti di kejar hantu."

"Ada apa?" Ucap Sakura.

"Aku, haa~ aku benar-benar lelah." Ucap Naruto, Kiba dan Sakura sangat ingin memukulnya. "Maaf, bukan itu maksudku, aku sudah tahu apa yang terjadi pada Chouji." Lanjut Naruto.

Ketiganya saling bertatapan dan memilih untuk berbicara bersama. Sakura mengatakan jika informasi ini di dapat dari Sasori, dia melihat beberapa orang memukul Chouji dan mengatakan jika Chouji itu teman anak preman atau geng mafia, yang mungkin di maksudkan adalah Kiba. Sementara Naruto, dia mendapat informasi jauh lebih jelas, mereka adalah pemuda yang pernah bermasalah dengan Kiba, informasi yang di dapatnya dari seorang gadis yang pernah di tolongnya.

"Gadis itu hanya takut jadi kabur, katanya dia ingin meminta maaf padamu Kiba, dia juga mengenalmu dan sangat berterima kasih dengan pertolonganmu, saat dia akan pergi ke sebuah kafe dan melewati jalur lain, dia malah bertemu dengan para pemuda itu, tapi mereka sedang memukul Chouji, gadis itu takut dan kabur, dia hanya mendengar jika mereka memukul Chouji karena mereka pernah melihat kalian bersama." Jelas Naruto.

"Sial! Kita harus membalas mereka!" Ucap Kiba, dia sangat marah, karena mereka, Chouji jadi memutuskan hubungan pertemanan mereka.

"Jangan bertindak gegabah, apa kau mau di tahan ayahmu lagi?" Cegat Sakura.

"Bagaimana mungkin kita membiarkan mereka! Sementara Chouji, dia kembali merasa dirinya di tindas, bukannya kita sudah berjanji akan menolongnya? Akan terus bersamanya? Apa kalian lupa itu?" Ucap Kiba.

"Tenanglah, kita harus memikirkan rencana dulu." Ucap Naruto.

"Terlalu lama, aku tahu mereka ada dimana." Ucap Kiba, bergegas pergi.

"Apa! Tunggu, jangan seperti ini Kiba!" Ucap Sakura, segera menyusul Kiba. Naruto pun mengikutinya, dia harus menahan Kiba sebelum kembali mendapat masalah.

Ketiganya berlarian hingga keluar fakultas, Naruto dan Sakura terus meneriaki nama itu untuk berhenti, Kiba seakan tuli dan larinya semakin cepat, Sakura kesusahan dengan pakaiannya, dia kesulitan berlari cepat jika sedang memakai dress yang manis ini, Naruto mendahuluinya.

"Tenang saja, aku yang akan menghentikannya." Ucap Naruto dan berusaha mengejar Kiba.

"Seharusnya aku tidak berpakaian seperti ini." Pikir Sakura, menatap dirinya, dia ingin berhenti menjadi keinginan seseorang.

"Sakura." Panggil seseorang. Sakura berbalik dan melihat Chouji bersama pengawalnya.

"Chouji, maafkan kami, kami benar-benar tidak tahu jika ada yang memukulmu, sekarang Kiba, dia pergi mencari orang-orang yang memukulmu, jika dia seperti ini, dia akan dalam masalah." Ucap Sakura, dia terlihat khawatir.

"Maaf, tapi aku sudah memutuskan hubungan dengan kalian, ini bukan urusanku lagi." Ucap Chouji, kembali tidak menatap Sakura.

Sakura terkejut mendengar jawaban Chouji.

"Maaf malah membuatmu dalam masalah jika terus bersama kami." Ucap Sakura, bergegas menyusul Naruto, berharap dia bisa membantu sesuatu.

Sementara itu Chouji terdiam, raut wajahnya terlihat sedih, bukan seperti ini yang dia inginkan, dia tidak ingin teman-temannya kembali terlibat masalah, selalu saja repot karenanya.

"Kau, temannya Sakura?" Ucap seseorang.

"Sasuke?"

"Kau melihat Sakura? Aku rasa dia tadi berlari di sekitar sini."

"Sakura, dia pergi mencari Kiba, mereka ingin menahan Kiba yang akan kembali berkelahi" Ucap Chouji, bahkan raut sedih itu tidak lepas dari wajahnya.

"Benarkah? Aku jadi penasaran bagaimana Sakura berkelahi dengan dress itu, atau mungkin dia malah yang akan di pukul." Ucap Sasuke, berjalan ke arah dimana Sakura berlari.

"Tunggu." Ucap Chouji.

"Hn? Ada apa? Mau ikut nonton juga? Pasti akan seru." Ucap Sasuke, namun itu hanya sebuah pancingan darinya, dia bisa membaca tatapan pemuda itu, dia pasti tidak akan tenang jika tahu teman-temannya sedang dalam masalah.

"Tidak, aku tidak akan ikut." Ucap Chouji, dia hanya berdiri mematung.

Sasuke kembali berjalan pergi.

.

.

"Kalian!" Teriak Kiba, dia menemukan orang-orang itu.

"Wah, anak geng mafia dat-"

Bught!

Sebuah pukulan keras dari Kiba hingga pemuda itu terjatuh.

"Jika kalian punya masalah denganku, kalian harus mencariku, bukan memukul orang lain!" Kesal Kiba.

"Sialan, kau berani sekali!" Ucap pemuda itu dan marah, temannya-temannya pun mulai bergerak akan melawan Kiba.

Satu lawan 6 orang, Kiba tidak peduli, hari ini mereka lebih banyak dari biasanya, beberapa kali memukul mereka dan Kiba akan mendapat perlawanan, mereka membalas Kiba dengan memukulnya, hingga wajah pemuda itu terluka.

"Berhenti kalian!" Teriakan lainnya.

"Kenapa kau ke sini? Pergi! Ini urusanku dengan mereka!" Ucap Kiba pada Naruto, pemuda itu berhasil menyusul Kiba.

"Urusan apa? Membiarkan kau di pukuli seperti ini?" Ucap Naruto, jadi khawatir setelah bertemu Kiba, pemuda ini cukup gila mau melawan mereka.

"Oh, jadi memanggil teman yaa? Ini jauh lebih seru, setelah ini kalian akan berhenti menjadi sok hebat dan sok pahlawan." Ucap pemuda itu.

Mereka kembali berkelahi dan suasana cukup kacau, Naruto dan Kiba tidak ingin mengalah dan melawan balik.

Kali ini Sakura yang telah menyusul, menatap ke arah depan dan teman-temannya sedang berkelahi, terlalu banyak orang yang harus di lawan mereka, bergegas namun langkahnya terhenti, seseorang menarik tangannya dan menahannya untuk pergi.

"Kau mau apa dengan pakaian seperti itu?"

Sakura berbalik dan melihat Sasuke, pemuda itu tiba-tiba muncul.

"Aku harus membantu teman-temanku." Ucap Sakura.

"Membantu mereka dengan dress ini? Apa kau mau pamer pakaian dalammu?" Ucap Sasuke dan menatap datar Sakura.

"Bo-bodoh! Aku tidak akan melakukan hal itu!" Kesal Sakura, wajahnya sampai merona.

"Jangan berkelahi, Sakura, berapa kali aku sudah katakan padamu, kau hanya seorang gadis." Ucap Sasuke. "Atau kau ingin menjambak rambut mereka dan menarik-nariknya?" Tambahnya, memikirkan bagaimana jika Sakura turut ikut dalam perkelahian itu.

"Perkelahian macam apa itu?" Ucap Sakura, bingung, selama ini dia hanya langsung memukul dengan kepalang tangannya.

"Perkelahian ala perempuan." Ucap Sasuke dan hanya membuat gadis itu kembali protes padanya.

Sakura terdiam, mencoba melepaskan genggaman tangan Sasuke dan tidak ada hasilnya sama sekali, Sasuke menggenggamnya dengan sangat kuat

Priiiitttt...!

"Tangkap mereka semua!"

Sakura dan Sasuke melihat beberapa polisi datang bersama seorang gadis, mereka berhenti berkelahi dan di tangkap termasuk Kiba dan Naruto.

"A-aku yang melaporkannya." Ucap gadis itu pada Sakura.

"Kau, bagaimana tahu mereka ada di sini?" Ucap Sakura.

"Sejujurnya aku ingin berterima kasih pada Kiba, tapi aku malah kabur." Ucap gadis itu dan Sakura mengingatnya, dia adalah gadis yang di ceritakan Naruto, Kiba mengenalnya dan menolong gadis itu. "Aku sering mengikuti Kiba, mencoba untuk minta maaf dan berterima kasih, tapi aku sangat takut, apalagi rumor tentangnya, padahal dulunya Kiba anak yang baik." Lanjut gadis itu.

Sakura ingin tertawa, tapi sedang di tahannya, ini bukan waktunya untuk tertawa, Kiba, Naruto dan yang lainnya sedang di bawa ke kantor polisi untuk di proses, ucapan gadis itu cukup masuk akal, hanya saja itu rumor palsu yang membuat image Kiba jadi buruk.

"Tenang saja, Kiba masih tetap pemuda yang baik, kami berteman, yaa itu hanya stylenya saja, jadi sebaiknya kau mengucapkan langsung dari pada menggunakan perantara." Ucap Sakura.

Gadis ini berterima kasih pada Sakura dan pamit, dia ingin membantu Kiba kali ini, dia berharap bisa menjadi saksi untuk Kiba.

"Oh, jadi sekarang menasehati orang tapi kelakuanmu dulu sama seperti dia, hanya di jadikan perantara dan tidak suruh saja mereka katakan langsung." Sindir Sasuke.

"I-itu sudah lewat." Ucap Sakura, wajahnya merona.

.

.

.

Kantor polisi.

"Mau jadi apa kalian! Masih muda dan hanya berkelahi saja!" Marah seorang polisi, mereka di tegur habis-habisan.

Kiba menundukkan wajahnya.

"Apa menahanmu sehari semalam tidak cukup? Apa kau mau di tahan saja beberapa bulan?" Ucap ayah Kiba dan menatap tajam pada anaknya itu.

"Terserah saja apa yang ingin kau lakukan." Ucap Kiba. Bahkan tidak ingin menatap ayahnya, sedikit tidak suka akan sikap ayahnya yang selalu memandang buruk padanya.

"Kalian semua di tahan dan silahkan menunggu jaminan kalian lagi." Ucap seorang polisi.

"Apa! tidak pak! Mereka berdua yang duluan mencari masalah, apalagi pemuda preman ini!" Para pemuda itu protes dan tidak ingin di tahan, lagi-lagi mereka harus menunggu sanak keluarga untuk menjamin mereka, mungkin mereka akan mendapat masalah lagi jika keluarga mereka datang.

"Berisik! Dan cepat masuk!" Kesal polisi itu, mereka cukup ribut seperti bebek kelaparan yang ingin di beri makan.

Naruto dan Kiba pasrah saja, mereka akan memilih di tahan, Naruto sendiri sudah bingung bagaimana jika ibunya tahu dia di tahan di kantor polisi, Kiba hanya terdiam, dia tidak peduli, sekarang dia harus membuat para pemuda itu tidak mengganggu teman-temannya lagi.

"Tunggu pak! Saya ingin menjadi saksi, pemuda ini telah menolong saya dan mereka ini mengganggu saya." Ucap seorang gadis.

.

.

TBC

.

.


update...~

hari ini, semangat kerja! senin libur, akhirnya ada waktu libur selain minggu. tapi tenang saja saja, author akan tetap update saat hari itu, kecuali minggu yaaa XD

.

see you next chapter.