Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 17 ]

.

.

.

.

Kiba mengangkat wajahnya dan melihat gadis itu, dia sampai datang ke kantor polisi ini hanya ingin membantunya.

"Hey, nona, kau jangan berbohong, kapan kami mengganggumu?" Ucap pemuda itu, dia sedang berbohong dan menahan sakit di wajahnya.

"Ka-kau, kau bahkan yang menyuruh teman-temanmu untuk menggangguku, mereka sampai kurang ajar ingin melecehkanku." Ucap Gadis itu.

"Kau saja yang ingin mengganggu kami." Protes pemuda itu.

"Diam! Sudah salah masih mengelak juga, baik nona, ucapanmu akan menjadi bukti sebagai saksi, tapi mereka ini berkelahi, bagaimana pun juga harus di proses." Ucap polisi itu.

"Baiklah." Ucap gadis itu, cukup kecewa mendengar ucapan pak polisi di hadapannya.

"Kiba, aku minta maaf, seharusnya aku menjadi saksi padamu saat itu." Ucap gadis ini.

"Pacaran rupanya." Para pemuda yang mengganggu gadis itu malah menggodanya dengan Kiba.

"Berisik! Kami tidak pacaran!" Kesal Kiba. "Tidak apa-apa, mereka ini memang harus di pukul." Lanjut Kiba, menatap gadis itu sejenak dan menatap kesal pada mereka, sel itu kembali ricuh dengan mereka yang kembali berkelahi, hingga seorang polisi datang dan menyuruh mereka diam.

.

.

.

Sudah tepat jam 10 malam, Sakura dan Sasuke hanya datang sebentar, mereka pun tidak bisa melakukan apapun untuk membebaskan Naruto dan Kiba, gadis yang menjadi saksi itu tetap menunggu hingga Kiba dan temannya itu di bebaskan.

"Pulanglah, nona, mereka akan di bebaskan tidak lama lagi." Ucap seorang polisi.

"Tidak apa-apa, aku di sini saja." Ucap gadis itu.

"Kau, pulanglah, lagi pula ayahku ada di sini, jadi tidak perlu khawatir." Ucap Kiba.

Semuanya kompak menatap Kiba kecuali Naruto, dia sudah tahu jika ayah Kiba ada seorang anggota polisi.

"A-aku tidak tahu jika ayahmu seorang polisi." Ucap gadis itu, dia hanya mengenal Kiba saja, tapi tidak mengetahui orang tuanya maupun latar belakang keluarganya.

"Pria yang menyebalkan di sana, dia ayahku." Ucap Kiba dan menunjuk ayahnya yang tengah duduk.

Beberapa anggota polisi menahan diri untuk tidak tertawa, Kiba sudah mengatakan hal yang tidak sopan pada ayahnya sendiri.

"Kalau begitu." Gadis itu berjalan ke arah ayah Kiba. "Aku ingin berterima kasih banyak, karena anak bapak, saya jadi selamat." Ucap gadis itu, dia malah berterima ke ayah Kiba dengan sangat sopan.

"Sekarang pulanglah, aku yang akan mengurusnya." Ucap ayah Kiba.

Gadis itu baru akan pulang setelah merasa tidak khawatir lagi jika Kiba tidak akan di tahan dalam waktu yang cukup lama.

"Kau ternyata anak polisi, kami kira kau anggota geng mafia." Ucap para pemuda yang sudah memukul Kiba.

"Itu hanya rumor bohong, mana mungkin orang sepertiku ini geng mafia." Kesal Kiba, masih saja di anggap seperti itu.

"Hahaha, anak polisi di anggap preman."

Kini tempat tahanan itu malah ribut dengan suara tawa mereka, kembali mendapat teguran jika mereka masih ribut di tahanan mereka akan pulang lebih lama.

.

.

Jam 11 malam.

Kiba dan Naruto menatap ke depan, Chouji datang bersama pengawalnya.

"Aku akan memberi kalian semua jaminan, tapi jangan menggangguku dan teman-temanku lagi." Ucap Chouji dan menatap serius ke arah mereka.

"Cih, menyebalkan, hey gemuk, pertama yang memukul kami itu adalah temanmu."

"Dan kalian menggangguku, apa itu tidak salah?" Tegas Kiba.

Mereka terdiam.

"Sekali lagi, apa kalian ingin aku bebaskan? Tapi jangan lupa dengan ucapanku, kalian tidak boleh mengganggu orang lain lagi atau kalian lebih senang di bebaskan keluarga kalian?" Ucap Chouji.

"Chouji, tidak perlu seperti itu, biarkan saja mereka kapok atau tidak perlu membebaskan mereka, orang-orang seperti ini sampai kapan pun tidak akan berubah." Ucap Kiba.

"Kami tidak ingin ada yang menyakitimu lagi." Ucap Naruto.

"Dan aku tidak ingin melihat teman-temanku dalam masalah." Ucap Chouji.

Sejak tadi, saat bertemu Sasuke dia terus berpikir, apa yang di lakukannya sudah benar? Dia memutuskan hubungan pertemanannya dengan mereka begitu saja, tapi bukannya membencinya, mereka malah semakin peduli padanya hingga ingin balas dendam dan berakhir di dalam tahanan.

"Baik, kami akan mendengar semua ucapanmu, jauh lebih baik ada yang menjamin kami, aku juga tidak ingin berurusan dengan ayah atau ibuku." Ucap pemimpin mereka. Semuanya mengangguk setuju dan ingin di bebaskan saja dan melakukan keinginan pemuda gemuk itu.

Mereka di bebaskan Chouji, semuanya, Naruto jadi tidak perlu menunggu ibu atau ayahnya, bisa saja dia mendapat marah dari ibunya, sedangkan Kiba, dia mendapat peringatan dari ayahnya jika kembali ke kantornya lagi, Kiba benar-benar akan dalam masalah.

.

.

Semenjak itu.

"Kau gemuk! Beri kami uang!" Ada-ada saja orang yang ingin menindas Chouji saat dia sedang sendirian.

Tapi.

"Hey, kau, beraninya mengganggu temanku, kau tahu dia itu teman 'berharga'ku, aku akan mematahkan tangan kalian jika berani meminta uang padanya." Ucap pemuda yang pernah di bebaskan Chouji, pemuda itu datang bersama teman-temannya.

Orang-orang yang ingin memalak Chouji bergegas kabur, mereka tidak ingin bermasalah dengan pemuda yang cukup terkenal sebagai pemuda jahat.

Chouji menatap ke arahnya, dia tidak menyangka, melakukan hal kecil saja dia mendapat teman lainnya, mereka jadi baik pada Chouji dan jika saja dia dalam masalah, mereka yang akan melindunginya, sekarang pun Chouji tidak membawa pengawal lagi, menurutnya terlalu mencolok membawa seorang pengawal ke kampus, orang-orang akan terus memperhatikannya.

Sementara itu.

"Kau tidak pakai dress yang indah lagi? Aku tidak suka melihatmu seperti ini." Ucap Sasori, kecewa akan penampilan Sakura hari ini.

"Diam dan jangan cari masalahku." Ucap Sakura, kesal, beberapa hari yang lalu, Kiba dan Naruto dalam masalah tapi dia sama sekali tidak bisa membantu, pakaiannya tidak sesuai jika ingin berkelahi dan lagi, Sasuke terus menahannya dan tidak membiarkannya berkelahi dengan penampilan over-feminim itu.

"Jangan marah seperti itu, aku hanya ingin penampilanmu sedikit berubah atau mantan temanmu itu yang menyuruhmu? Haa..~ mungkin aku harus mengatakan yang sebenarnya padanya." Ucap Sasori.

"Tunggu, bukan dia yang memintaku, besok aku akan memakai pakaian yang lebih feminim lagi, dan lagi dia bukan mantan temanku, kami masih berteman." Ucap Sakura, tetap dengan tatapan tidak senang itu pada Sasori.

"Iya-iya. Apa kuliahmu sudah selesai? Ayo ke restoran yang ada di sana, mereka menjual menu yang enak-enak, tenang saja, aku akan yang mentraktirmu sebagai pacar yang baik." Ucap Sasori dan tersenyum manis.

Sakura mengalihkan tatapannya, tangan pemuda itu mulai menariknya untuk pergi.

"Bagaimana jika kau mendaftar sebagai model, ada kenalanku sedang mencari model loh."

"Tidak, aku tidak ingin menjadi model." Tolak Sakura.

"Sayang sekali, kau itu cantik, bertubuh ideal dan tinggi, tidak ada salahnya mencoba." Bujuk Sasori.

"Aku tidak mau." Tegas Sakura dan menatap kesal pada Sasori.

"Lakukan demi aku?" Ucap Sasori dan memasang wajah memelasnya. "Demi aku, ya?" Kembali dia menekankan dua kata itu.

Tangan Sakura mengepal, dia tidak bisa tenang sedikit saja jika bersama Sasori, lagi-lagi pemuda itu menginginkan sesuatu yang sangat tidak disukainya, tidak ingin menjadi sorotan, tidak ingin menjadi model, meskipun semua teman-teman di kelasnya yang perempuan mengatakan dia sangat cocok jadi model.

"Akan aku pikirkan." Ucap Sakura, tangan mengepalnya terlepas, dia harus lebih sabar jika ingin menghadapi Sasori.

.

.

.

.

Hari-hari berikutnya..

"Masih ada kelas dua jam lagi, aku malas untuk pulang." Ucap Naruto, sibuk dengan ponselnya.

"Jangan berisik, aku sedang berusaha tidur." Ucap Kiba.

"Kalian tidak lapar?" Ucap Chouji, sejak tadi dia hanya makan kripik kentangnya.

"Kita baru saja makan Chouji! Apa harus makan lagi?" Ucap Naruto, merasakan perutnya sebentar lagi akan meledak.

"Aku akan mentraktir kalian." Ucap Chouji.

"Tidak, terima kasih." Tolak Kiba dan Naruto.

"Bagaimana makan daging?" Ucap Chouji lagi.

"Chouji berhenti membuat kita makan terus! Aku akan lebih mengantuk lagi jika makan." Kesal Kiba, dia tidak bisa tidur.

"Teman-teman! Lihat ini!" Ucap Naruto, heboh, dia segera memperlihatkan ponselnya.

Sebuah informasi tentang seorang model yang sedang menjadi sorotan.

"Mau di lihat bagaimana pun, model ini mirip Sakura." Ucap Kiba.

"Apa! Sakura jadi model? Tapi dia itu sangat membenci hal itu." Ucap Naruto.

"Apa Sakura sedang di paksa?" Ucap Chouji.

Mereka saling bertatapan dan berlari keluar kelas, sekarang juga mereka ingin bertemu Sakura dan mengetahui segalanya, gadis itu melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya.

.

.

Kelas Sasuke.

"Dia cantik yaa?"

"Bukannya dia mahasiswa dari jurusan manajemen bisnis? Kita satu angkatan dengannya."

"Benarkah? Kenapa aku jarang melihatnya? Padahal kita ini satu bangunan jurusan."

"Dia memang jarang untuk terlihat mencolok, tapi dia gadis yang lebih tinggi dari beberapa mahasiswa di angkatannya, aku sempat bertemu dengannya beberapa kali di kantin kampus bersama teman-temannya, dan salah satu temannya adalah mahasiswa dengan rumor jika dia seorang geng mafia."

"Heee! Gadis secantik ini berteman dengan geng mafia!"

"Tapi katanya hanya rumor, tetap saja, aku tidak berani mendekati gadis itu, pemuda itu terlihat galak."

Sasuke mendengar percakapan teman kelasnya itu, mereka sibuk dengan sebuah foto di ponsel mereka, Sasuke meminta mereka memperlihatkannya dan itu adalah Sakura dengan pakaian feminimnya, dia sedang menjadi model.

"Apa kau mengenalnya Sasuke? Dia cantik bukan?" Ucap pemuda itu.

"Kami tinggal berhadapan rumah." Ucap Sasuke, santai.

Kedua pemuda itu terkejut, mereka sampai memohon pada Sasuke untuk di kenal, tapi Sasuke pergi meninggalkan mereka.

Berjalan sepanjang koridor fakultas, dia ingin mendengar sendiri dari Sakura, kenapa dia harus menjadi model? Jelas-jelas ini hal yang bertolak belakang dengan Sakura.

Langkahnya terhenti. Ketiga pemuda itu segera menghampiri Sasuke.

"Kalian mencari Sakura?" Ucap Sasuke.

"Aku rasa kita punya tujuan yang sama untuk mencarinya." Ucap Kiba.

Ending normal Pov.

.

.

TBC

.

.


update...!

hari ini libur jadi santai banget, selamat berlibur juga yang sedang berlibur XD dan semangat yang tetap masuk kerja padahal hari kejepit XD

ooh iya, untuk karakter cewek yang di tolong Kiba, itu hanya karakter OC author tidak ingin mencantum namanya karena hanya sebagai pemeran yang cuma sekedar lewat, jadi sudah itu tak muncul lagi.

.

.

see you next chapter...~