Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ Girl-(friend) ~
[ Chapter 18 ]
.
.
.
.
Sasuke pov.
Sangat kebetulan sekali, kami menemukan gadis itu, tapi saat dia melihat kami.
"Sakura! Jangan lari!" Teriak Kiba.
Naruto dan Kiba segera mengejarnya, Chouji sedang berusaha menyusul mereka meskipun kesulitan berlari, aku harus mencari jalan lain agar menemukannya, kenapa dia malah kabur? Dasar gadis aneh.
Memutar jalan dan benar saja, aku menemukannya, dia masih berlari dan berbalik ke belakang, berharap Kiba dan Naruto tidak mendapatkannya. Sakura terkejut, dia tidak tahu jika aku sudah berdiri di hadapannya dan menghadangnya, gadis ini memberontak, memeluknya erat dan tidak akan aku lepaskan bagaimana pun juga.
"Sasuke, biarkan aku pergi." Rengeknya.
"Tidak akan sebelum kau bertemu teman-temanmu itu." Ucapku dan menatap tajam padanya.
Sakura terdiam, Kiba dan Naruto akhirnya tiba di hadapan kami, Chouji baru akan menyusul.
Sekarang.
"Kenapa kalian mengikatku seperti ini!" Protes Sakura.
Aku tidak tahu dari mana Kiba dan Naruto mendapatkan tali dan malah mengikat Sakura, mereka tidak ingin gadis itu kabur lagi.
"Kami yakin ada yang sedang mengganggumu, tapi kau diam saja." Ucap Kiba.
"Apa kau pikir kami tidak tahu, lihat ini! Kenapa kau menjadi model Sakura!" Ucap Naruto dan memperlihatkan foto itu.
"Kami tidak akan melepaskanmu jika kau tetap diam." Ucap Chouji.
Aku hanya ingin dia berbicara, memilih diam dan melihat mereka, teman-temannya jadi seperti polisi yang sedang mengintrogasinya.
"I-ini keputusanku, aku menyukai dunia model." Ucap Sakura, namun dia tidak menatap kami dan tidak ada ucapannya yang terdengar dia benar-benar senang menjadi model, Sakura sedang berbo-
"Bohong! Kapan kau menyukai hal seperti itu?" Ucap Kiba.
Mereka benar-benar 'teman', Kiba sampai mengetahui jika Sakura sedang berbohong, Chouji dan Naruto pun menatap kecewa padanya, Sakura tiba-tiba menatap ke arahku, tatapan itu, dia terlihat sedih, hanya sebentar saja dia menatapku dan menundukkan wajahnya.
"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi." Ucap Sakura.
Pada akhirnya, dia mendengar ucapan ketiga temannya itu atau mungkin karena Sakura tidak ingin masalah ini menjadi besar dan teman-temannya akan mencari sumber masalah Sakura, dia memilih untuk berdamai saja, masih ada sesuatu hal yang sedang di sembunyikannya.
.
.
.
.
Hari minggu.
Menarik selimut seorang gadis yang masih tertidur pulas hingga dia terbangun dan teriak padaku.
"Apa yang kau lakukan! Ini hari minggu! Aku harus tidur!" Protesnya.
"Bersiaplah, pakai pakaian yang kau sukai dan jangan berdandan ala badut, aku menunggumu 15 menit, cepat." Ucapku dan berjalan keluar dari kamarnya.
Apa dia akan mendengar ucapanku? Atau dia akan kembali tidur?
"Mau jalan-jalan yaa?" Ucap paman Kizashi, aku baru bertemunya sekarang, paman Kizashi cukup sibuk seperti ayahku, kami pun jarang bertemu.
"Hn, aku pinjam Sakura untuk seharian ini." Ucapku.
"Hahahah, apa-apaan kau Sasuke, bawa saja sesuka hatimu." Ucap paman Kizashi dan aku bisa melihat bibi Mebuki memukul bahu suaminya itu.
"Jangan mengatakan yang aneh-aneh." Tegur bibi Mebuki pada suaminya, aku hanya bisa menahan diri melihat tingkah mereka. "Terima kasih yaa Sasuke, kau sudah mau mengajak Sakura jalan-jalan, dia bahkan seperti tidak punya pacar saja." Ucap bibi Mebuki padaku.
Tidak punya pacar?
Aku pikir Sakura akan mengatakan apapun pada ibu dan ayahnya, tapi sepertinya Sakura tidak ingin mereka mengetahui jika Sakura memiliki seorang pacar.
20 menit terlewatkan.
Menatapnya, nah, inilah Sakura-ku, dia berpakaian yang tentu saja sangat di sukainya dan membuatnya lebih nyaman, kaos lengan pendek longgar, celana jins panjang dan sepatu ketsnya, rambut panjang itu di gerainya dan sebuah topi pada kepalanya. Aku jauh lebih senang melihatnya seperti ini.
"Sekarang apa?" Ucapnya dengan wajah marah.
Aku semakin senang saat dia membuat wajah seperti itu.
"Kami pergi dulu, paman, bibi." Ucapku pada kedua orang tua Sakura, menggenggam tangan gadis itu dan mengajaknya pergi.
"Hati-hati di jalan dan bersenang-senanglah." Ucap kedua orang tua Sakura.
"Eh? Heeee? Sa-Sasuke!" Ucapnya sampai ingin protes, aku tetap tidak peduli dan terus mengajaknya pergi.
Awalnya, gadis kasar ini marah-marah, berikutnya dia tidak peduli aku akan mengajaknya kemana, kita hanya akan pergi ke wisata kebun binatang, melihat berbagai hewan dan dia pun menjadi cukup antusias pada hewan-hewan di sana, dia sampai sibuk ingin memeluk seekor kelinci, kucing, hamster dan terakhir singa, aku harus menariknya dari sana, dia terus merengek ingin ke kandang singa itu, kau ingin jalan-jalan atau mati?
Setelahnya, kami ke Konoha-Land dan lagi-lagi dia jauh lebih heboh dariku, dia terlihat sangat senang, berkali-kali meneriakkan namaku saat dia benar-benar merasa sangat senang, menarik tanganku untuk menaiki wahana apapun, dia menikmati setiap wahana yang ada di sini.
Jalan-jalan kami berakhir di sebuah danau dan bisa menyewa sebuah perahu untuk di gunakan ke tengah danau itu, cahaya matahari di sore hari membuat tempat itu menjadi cukup indah, danaunya berkilau dari pantulan cahaya berwarna jingga.
"Apa kau sedang menghiburku?" Ucap Sakura padaku.
"Tidak, aku hanya sedang membuang waktu di hari minggu." Ucapku, asal.
"Aku tidak percaya padamu." Ucapnya dan menatap malas padaku.
Perahu kami masih berada di tengah danau, Sakura sedang menatap matahari terbenam yang akan terlihat sangat indah dari sini.
"Sekarang aku ingin mendengar apapun darimu, ini waktu yang tepat Sakura, ceritakan saja apa sudah terjadi dan aku akan mendengarkannya."
Sakura terdiam dan senyum ceria di wajahnya memudar seketika, wajahnya tertunduk dan dia tetap tidak ingin mengatakan apapun padaku.
"Jika kau tidak berbicara, aku akan lompat dari perahu ini, Danau ini cukup dalam dan bisa membuatku tidak perlu kembali ke atas." Ucapku, lebih tepatnya aku sedang mengancam.
Tatapannya melebar dan Sakura terlihat sangat takut, apa dia tidak ingat jika aku bisa berenang?
"Ja-jangan lakukan Sasuke." Ucapya.
Dasar, dia bahkan lupa jika aku bisa berenang.
"Aku akan tetap lompat, ceritakan atau aku lompat." Ancamku lagi.
"Bisakah kau tidak bertanya hal itu padaku? Aku mohon." Ucapnya, raut wajahnya terlihat dia benar-benar khawatir.
"Tidak, aku ingin kau mengatakan dengan jujur, semuanya yang kau sembunyikan dariku."
"Aku sungguh tidak bisa! Kenapa kau tidak mengerti juga!" Kini nada suara Sakura meninggi.
"Aku tidak mengerti jika kau tidak menceritakan apapun, baiklah, sepertinya kau lebih senang jika aku melompat." Ucapku.
Aku sudah berdiri di sisi perahu, hanya iseng dan mencoba memancingnya.
"Apa! Jangan lakukan!" Ucap Sakura, dia sampai berlari ke arahku dan ingin menahanku, perahu kami sampai bergoyang akibat Sakura yang tiba-tiba berlari ke arahku dan perahu kami terbalik.
"Sasukeee! A-aku-"
Segera menahannya, aku tahu, kau tidak bisa berenang Sakura, aku membawanya ke pinggir dan beberapa orang menolong kami, mereka pikir itu hanya kecelakaan kecil, setibanya di pinggiran, sebuah dorongan keras dari Sakura, dia mendorongku hingga terjatuh di tanah, wajahnya benar-benar marah, dia sangat marah padaku dan aku bisa melihat air mata itu terbendung, dia menahan diri untuk tidak menangis, maaf Sakura.
"Ada apa denganmu!" Marahnya.
Terdiam, aku hanya sedang mencoba membuatnya berbicara, tapi lagi-lagi Sakura terdiam dan menyimpan segalanya.
Jalan-jalan kami berakhir dengan basah kuyup, aku tidak ingin memulangkannya seperti ini.
"Ikut aku." Ucapku, membawa Sakura ke rumah dan memintanya untuk memakai pakaianku sementara waktu.
Hening, suasana di ruang tamu begitu tenang.
"Aku lupa jika kau pandai berenang." Ucap Sakura, akhirnya dia berbicara setelah marah dan mendiamkanku cukup lama, dia tengah duduk di sofa, dengan segelas teh hangat di tangannya, rambut softpinknya yang masih terbungkus handuk dan dia cukup cocok memakai kaos dan celana kain milikku.
"Kau sampai melupakan apapun tentangku, bukannya kau lebih tahu dari siapapun." Ucapku.
"Maaf." Ucapnya, lagi-lagi wajah sedih itu. Apa yang sebenarnya sedang kau sembunyikan Sakura? Aku benar-benar tidak tahu apapun.
"Ciiieeee...~ cinta lama bersemi kembali yaa." Ucap, ah! Sial! Ternyata kakak masih berada dirumah, aku pikir ayah mengajaknya ke sebuah pesta, pesta berkumpulnya orang penting dan kenalan ayah, Biasanya ayah akan memperkenalkan anak terbaiknya pada mereka atau lebih tepatnya pamer.
"Jangan berbicara seenaknya." Ucapku, menatap kesal pada kakakku itu.
"Wah, Sakura, lama tak melihatmu." Ucap Itachi dan malah ikut duduk bersama kami di sofa.
"I-iya, aku sudah jarang bertemu kak Itachi, maaf." Ucap Sakura, dia jadi canggung pada kakak, mungkin karena mereka sudah mulai jarang bertemu.
"Tidak apa-apa, anak kuliah memang akan selalu sibuk dan aku memakluminya. Aku merindukan masa-masa dimana kita bermain game." Ucap Itachi
"Pergi dan kembali ke kamarmu." Ucapku pada Itachi.
"Oh hoo..~ jadi tidak ingin di ganggu, baiklah, selamat berkencan." Ucapnya dan pergi.
Aku sangat ingin memukul wajahnya meskipun dia kakakku.
Sebuah tawa kecil dari Sakura, dia malah tertawa mendengar kakakku, tapi aku senang jika dia tidak murung seperti tadi lagi, mungkin sebaiknya aku berhenti saja untuk mengetahui masalah yang sedang di hadapi Sakura, dia sama sekali tidak ingin mengatakan apa-apa padaku, aku sampai harus mengancamnya.
"Terima kasih untuk hari ini." Ucapnya dan tersenyum menatapku.
"Hn? Terima kasih sudah membuatmu tercebur di danau juga?" Candaku.
"Ya itu juga, terima kasih." Ucapnya dan menatap kesal padaku.
Menyentuh wajahnya, bekas pukulanku saat itu sudah memudar, tapi tetap saja aku masih merasa marah pada diriku sendiri, menatap mata Sakura dan gadis itu terdiam, dia bahkan tidak terusik saat tanganku menyentuh pipi, waktu berjalan begitu lambat, hanya saling menatap saja dan membuatku rindu akan sosok gadis kasar ini.
"Lama! Cium saja jika di ingin di cium."
Terkejut, Sakura pun ikut terkejut, aku sampai harus menjauhkan diri dan menatap kesal pada seseorang yang masih saja di tangga dan mengintip kami.
"Dasar kakak sialan!" Kesalku dan aku akan menghajarnya, Itachi sampai berlari masuk ke kamarnya dan mengunci pintu, sial!
Ending Sasuke Pov.
.
.
.
Normal Pov.
"Apa benar ini rumah Sakura?" Ucap Naruto.
Setelah mendengar kabar Sakura demam, ketiga pemuda ini datang berkunjung, sebelumnya mereka belum pernah mendatangi rumah Sakura.
"Jika ini rumah Sakura, artinya rumah di depan ini rumah Sasuke." Ucap Kiba, melihat ke arah rumah bercat abu-abu.
Mereka pun mendengar kabar jika Sasuke tidak masuk karena sakit, ketiga pemuda ini sempat ingin bertemu Sasuke dan mengajaknya bersama menjenguk Sakura, tapi teman kelasnya menyampaikan jika Sasuke juga ijin sakit.
"Ada apa ini? Keduanya sama-sama sakit." Ucap Naruto, memasang wajah curiga.
"Mereka seperti menyimpan sesuatu atau semacam sakit pasangan yaa." Ucap Chouji.
"Sudahlah, cepat kita jenguk Sakura, setelah itu kita jenguk Sasuke." Ucap Kiba.
Salah satunya mulai memencet bel, seorang wanita keluar, dia terlihat sedikit berbeda dengan Sakura karena warna rambutnya lebih ke gold pale pendek.
"Permisi, kami teman-teman Sakura, kami ingin menjenguknya." Ucap Naruto.
Sebuah senyum ramah dari wanita ini. "Silahkan masuk, aku ibunya Sakura, terima kasih kalian sudah repot-repot datang ke sini." Ucap Mebuki.
Ketiganya cukup terkejut, wanita itu adalah ibu Sakura, berjalan masuk dan mereka di biarkan masuk ke kamar Sakura, gadis itu tidak ingin bergerak, tubuhnya terasa nyeri dan masih hangat.
"Kalian datang ke sini?" Ucap Sakura, terkejut, teman-temannya datang.
"Tentu saja, kami ini teman-teman yang peduli loh." Ucap Kiba.
"Ya terserah kalian saja, tapi aku tidak bisa menjamu kalian." Ucap Sakura.
"Tidak perlu, kami hanya sebentar saja dan akan mengunjungi Sasuke." Ucap Naruto.
"Sasuke? Kenapa dia?" Ucap Sakura, dia tidak mengetahui jika Sasuke juga sedang sakit.
"Kalian berhadapan rumah tapi tidak tahu, aneh." Ucap Chouji.
Sakura terdiam, kemarin, mereka tercebur ke dalam danau dan pulang dalam keadaan basah-basah, mungkin karena itu keduanya terserang demam bersamaan.
"Kami jadi curiga, kenapa kalian bisa demam bersamaan?" Ucap Naruto.
"Aku juga tidak tahu jika Sasuke demam." Bohong Sakura.
Mebuki datang dan menyajikan teh dan kue untuk ketiga pemuda itu, mereka berterima kasih dan meminta maaf telah merepotkan ibu Sakura, satu hal lainnya yang baru saja di ketahui ketiga pemuda ini jika ibu Sakura adalah seorang dokter spesialis anak dan hal lainnya.
Mereka terdiam, menatap ke arah pintu dan ada seorang pria tengah berdiri menatap serius ke arah mereka, tubuh yang tinggi, kulit sawo matang, brewokan dan terlihat garang, hanya saja rambut softpink itu sangat mengganggu, tidak cocok dengan imagenya.
"Terima kasih sudah menjenguk anakku!" Tegas Kizashi, sampai berlutut di hadapan ketiga pemuda ini.
Bukannya diam, ketiga pemuda ini terkejut dan segera ikut bersujud membalas apa yang di lakukan Kizashi, mereka sangat takut, benar-benar takut, baru kali ini bertemu orang yang kesannya lebih berbahaya dari pada Kiba.
"Ayah, sudahlah, jika ayah seperti itu, mereka malah akan canggung." Ucap Sakura.
Kizashi masih belum berlayar dan beristirahat di rumahnya, kemarin dia sangat senang anaknya dan Sasuke pergi berkencan namun setelahnya Sakura jadi demam.
"Ayah hanya ingin berterima kasih, ternyata kau masih memiliki teman selain Sasuke, apa karena kencan kemarin kau demam?" Ucap Kizashi.
Ketiga pemuda ini kompak menatap aneh ke arah Sakura, mereka sudah tahu jika sedang terjadi sesuatu antara Sakura dan Sasuke.
"Keluar dari kamarku!" Kesal Sakura, wajahnya semakin merona, ayahnya benar-benar tidak bisa menutup mulut. "Ah sial, kepalaku jadi sakit." Ucap Sakura setelah mengusir ayahnya.
Ketiga pemuda ini berbisik-bisik tentang kencan itu.
"Aku akan memukul kalian semua setelah sembuh." Ucap Sakura, kesal.
"Tenanglah, lagi pula kami setuju kau bersama Sasuke." Ucap Kiba.
"Benar-benar." Ucap Naruto.
"Sudah di takdirkan yaa." Ucap Chouji.
"Diamlah, aku tidak ingin mendengar hal itu, kami akan tetap berteman selamanya." Ucap Sakura.
"Kau ini terus berbohong pada dirimu sendiri." Tegur Kiba.
"Lagi pula aku sudah punya pacar." Ucap Sakura.
"Pacarmu tidak membuatmu bahagia Sakura, kami tahu itu." Ucap Naruto, mereka semua tahu jika Sakura seakan terpaksa memilih pemuda berambut merah itu.
"Kalian tidak tahu apa-apa, sebaiknya pulang saja, aku ingin tidur." Ucap Sakura, mengusir mereka semua.
Mereka tidak peduli akan ucapan Sakura dan sibuk sendiri, tatapan ketiganya tertuju pada sebuah foto yang di pajang di meja belajarnya.
"Sejak kecil terus bersama yaa." Ucap Kiba.
"Apa yang kalian lihat!" Kesal Sakura, berdiri dari kasurnya dan merampas bingkai foto itu, dia sampai harus menyembunyikan foto itu.
"Sakura benar-benar seorang gadis pemalu yaa." Ucap mereka, kompak, lebih tepatnya mengganggu dari pada menjenguk.
"Berisik! Kenapa kalian tidak bisa menjenguk orang dengan lebih tenang? kalian hanya membuatku tambah sakit." Ucap Sakura, marah.
"Baiklah, kami sudah selesai." Ucap Kiba.
"Semoga cepat sembuh, kami akan menjenguk Sasuke, dia akan lebih mengatakannya dengan jujur." Ucap Naruto.
"Semoga kau segera ke kampus, Sakura." Ucap Chouji.
Ketiga pemuda itu keluar dari kamar Sakura, pamit pada ayah dan ibu Sakura, setelahnya mendatangi rumah Sasuke. Sakura masih memikirkan ucapan Naruto, perasaannya tidak tenang, Sasuke akan berkata lebih jujur.
"Sial! Mereka tidak bisa di biarkan!" Ucap Sakura, turun dari ranjangnya dan berlarian keluar rumah, ayah dan ibunya sampai terkejut melihat anaknya yang sedang sakit itu berlari dengan cepat.
"Aku akan jenguk Sasuke." Ucap Sakura agar tidak di cegat ayahnya.
Mebuki dan Kizashi saling bertatapan bingung, anaknya juga sedang sakit dan malah ingin menjenguk orang sakit.
.
.
TBC
.
.
update...~~~
hari ini, selamat natal untuk kalian yang sedang merayakan... :)
besok akhirnya masuk kerja lagi, akhirnya libur yang lumayan ini berakhir :(
terima kasih atas reviewnya, dari yang nebak-nebak alur sampai kesal sendiri, sabar yaa.. XD
.
.
see you next chapter.
