Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
Enjoy for read
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
~ Girl-(friend) ~
[ Chapter 19 ]
.
.
.
.
Kiba, Naruto, dan Chouji datang menjenguk Sasuke, mereka mematung menatap pemuda yang sangat mirip Sasuke, dia memperkenalkan diri sebagai kakak tertua Sasuke dan tiba-tiba saja Sakura datang dan meneriaki mereka, ketiga pemuda itu terkejut, belum sampai ke arah mereka, Sakura tumbang, Itachi bergegas dan membawa masuk Sakura.
"Jadi kalian benar-benar tinggal berhadapan rumah?" Ucap Naruto.
Saat ini, di kamar Sasuke yang sedang ramai, Sasuke mengangguk setelah mendengar pertanyaan Naruto, demamnya mulai turun hanya saja dia masih perlu istirahat, sedangkan Sakura.
"Hey, Sakura, sebaiknya kau pulang dan tidur." Tegur Kiba.
"Berisik! Aku akan tidur di sini! Lagi pula aku selalu tidur di kasur ini!" Kesal Sakura, dia sedang berbaring di ranjang Sasuke dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut yang juga milik Sasuke, dia tidak ingin Sasuke mengatakan apapun jika mereka bertanya aneh-aneh, meminta pemuda itu duduk di dekat ranjang agar Sakura mudah menghentikan Sasuke berbicara seenaknya.
"Oh, selalu tidur di ranjang Sasuke?" Ucap Naruto.
"Wah-wah, Sakura ternyata sudah seperti itu." Ucap Kiba, mereka berdua kembali menggoda Sakura.
Plaak! Plaaak!
Sakura sudah tidak tahan, keduanya mendapat hadiah jitakan keras.
"Diam atau ku pukul kalian lagi." Ancam Sakura.
Sebelumnya, Sakura hampir pingsan karena kepalanya pusing dan berlari begitu saja sebelum tubuhnya benar-benar sembuh, Itachi mengangkatnya dan dia merengek tidak ingin pulang, Sakura meminta di bawa ke kamar Sasuke saja, sementara Sasuke yang sedang istirahat di sofa terkejut dengan kedatangan teman-teman Sakura dan juga Sakura di gendong kakaknya, pemuda ini meskipun masih belum sehat, segera mengambil Sakura dari kakaknya dan membawa Sakura hingga ke kamarnya.
Pemandangan yang membuat semuanya curiga jika Sasuke tipe cemburu bahkan terhadap kakaknya sendiri.
"Dari mana kalian tahu aku sakit?" Ucap Sasuke, mereka bukan teman satu jurusan, tapi hanya mereka yang repot datang menjenguknya.
"Kami mencarimu di fakultas dan kebetulan teman satu kelasmu mengatakan jika kau ijin sakit." Jelas Chouji.
"Rumah kalian dekat, jadi sekalian saja, Sakura juga sedang sakit." Ucap Kiba.
Sasuke menatap ke arah Sakura, gadis itu mengalihkan tatapannya, Sasuke tahu jika karena ulahnya kemarin mereka jadi demam bersamaan.
"Kau tidak apa-apa?" Ucap Sasuke, khawatir.
"Uhm, hanya masih demam." Ucap Sakura.
"Apa karena kemar-" Ucapan Sasuke terputus, Sakura segera menutup mulut Sasuke dengan tangannya.
"Jangan katakan apapun." Ucap pelan Sakura dan menatap marah pada Sasuke.
Sasuke mengalihkan tatapannya dan tidak ingin melihatnya marah seperti itu.
Ketiga pemuda ini merasa hawa aneh, seakan sedang melihat pasangan yang terang-terangan memperlihatkan hubungan mereka.
"Maaf membuatmu-"
"-uhuk! Uhuk! Uhuk!" Sakura kembali memotong ucapan Sasuke.
"Akan aku ambilkan minuman." Ucap Sasuke dan bergegas keluar.
Selamat, Sakura merasa selamat, hampir saja Sasuke seperti ayahnya yang mudah sekali membocorkan masalah kemarin, namun kembali mendapat tatapan curiga dari ketiga temannya itu.
"Sia-sia kita datang ke rumah Sasuke." Ucap Naruto.
"Sakura tidak ingin Sasuke mengatakannya." Ucap Kiba.
"Kalian sudah menjenguk kan? Sekarang pulang dan belajar sana!" Kesal Sakura.
"Orang sakit harusnya lebih tenang." Ucap Kiba.
Sasuke kembali dan melihat Sakura mengusir teman-temannya, hanya sebentar saja dan dia terduduk di lantai, terlalu lelah untuk mendorong mereka semuanya.
"Ya-ya, kami akan pulang." Ucap Naruto.
"Sampai jumpa lagi Sasuke." Ucap Kiba.
Ketiga pemuda itu akhirnya pulang, mereka hanya akan terus di usir Sakura jika masih berada di rumah Sasuke.
Hening.
Kini hanya tinggal Sasuke dan Sakura di kamar Sasuke.
"Minumlah dulu." Ucap Sasuke, memberi segelas air pada Sakura.
"Aku mau pulang saja." Ucap Sakura, dia sudah bisa tenang jika teman-temannya sudah pulang.
"Tidak apa-apa, berbaringlah di sini, aku akan mengatakannya pada paman Kizashi dan bibi Mebuki." Ucap Sasuke.
"Jangan berbicara pada mereka tentang kemarin, aku yakin mereka akan terus menggangguku." Ucap Sakura.
"Hn, tidak akan, aku tidak mengatakan apapun pada mereka." Ucap Sasuke. "Sekarang berbaringlah." Pintanya.
Sakura menuruti permintaan Sasuke, berbaring di kasur milik pemuda itu dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sementara Sasuke berjalan keluar dan menutup pintunya, Sakura terlihat kelelahan dan tubuhnya begitu panas.
Di lantai bawah, di ruang tamu, masih di rumah Sasuke.
"Jadi kalian berkencan!" Ucap Kiba.
"Shhhttt! Pelankan suaramu, Sakura akan tahu jika kita belum pulang." Ucap Naruto.
"Sakura akan memukul kita jika dia tahu kita berbohong." Ucap Chouji.
"Apa mereka benar-benar teman Sakura?" Bisik Itachi pada Sasuke.
"Ah, mereka berteman." Ucap Sasuke.
"Bagaimana kau bisa tahan Sakura di kelilingi oleh para laki-laki?" Itachi jauh lebih sibuk.
"Sebaiknya kakak pergi dari pada mengganggu di sini." Ucap Sasuke, sedikit risih dengan ucapan kakaknya itu.
"Sakura sepertinya benar-benar tertidur, dia masih sakit dan berlari keluar rumah Sasuke." Ucap Kiba.
Suasananya begitu tenang, tidak ada terdengar sedikit pun suara Sakura.
"Aku menyuruhnya untuk istirahat, jadi kalian tenang saja." Ucap Sasuke. ikut bergabung dengan mereka.
"Dia seperti takut kau akan mengatakan segalanya, termasuk kencan itu, aku tidak percaya kalian benar-benar berkencan, apa ini yang namanya sedang menikung?" Ucap Kiba dan tertawa.
"Itu bukan kencan, kalian saja yang seenaknya mengatakan itu kencan." Cuek Sasuke.
"Begitu yaa, jangan terus membohongi diri Sasuke, jadi apa kau rela Sakura bersama pemuda aneh itu?" Ucap Naruto.
"Mereka sedang pacaran dan aku tidak akan mengganggu hubungan mereka, jika kalian temannya, bukannya kalian harus mendukungnya?" Ucap Sasuke.
"Kami akan mendukungnya jika dia tidak tertekan, pacaran apa yang membuatnya sampai berubah seperti itu? Aku harap kau bertindak Sasuke dan rebutlah dia." Saran Kiba.
Chouji menjadi pendengar yang baik, dia sejak tadi sibuk dengan kue yang hidangkan ibu Sasuke, Mikoto merasa sedikit senang melihat ada teman-teman Sasuke yang datang menjenguknya dan lagi mereka mengenal Sakura.
Sasuke terdiam, ini bukan hal yang di inginkan Sakura, dia sudah cukup kapok membuat Sakura berwajah sedih dan menghindarinya dalam waktu yang cukup lama saat mereka masih sekolah.
"Kami akan tetap seperti ini." Ucap Sasuke, inilah keputusannya.
Naruto dan Kiba tidak berbicara apapun, keduanya sama-sama keras kepala dan sangat sulit untuk membuat mereka sadar akan perasaan mereka masing-masing.
Kunjungan ini berakhir, mereka bisa pulang dengan selamat sebelum Sakura bangun, sementara gadis itu, Sasuke mendatangi kamarnya dan melihat Sakura tertidur, dia kelelahan dan tubuhnya masih cukup panas.
"Ini, ibu bawakan kompres, Itachi sampai mengatakan Sakura merengek tidak ingin pulang dan ingin menjengukmu." Ucap Mikoto dan membawakan air hangat beserta handuk.
"Biar aku saja, bu." Ucap Sasuke, memberi kompres air hangat itu pada jidat Sakura.
"Bagaimana denganmu?" Ucap Mikoto pada anak bungsunya.
"Aku sudah merasa lebih baik, mungkin hanya perlu istirahat lagi." Ucap Sasuke.
Sakura membuka matanya, dia mendengar suara Mikoto dan Sasuke.
"A-aku akan pulang." Ucap Sakura, gugup, dia sudah seenaknya menempati kamar Sasuke dan seenaknya tidur di ranjangnya.
"Tidak apa-apa, Sakura istirahatlah di sini." Bujuk Mikoto.
"Aku sudah tidak apa bibi, ibu dan ayah malah akan khawatir aku tidak kembali." Ucap Sakura, dia tidak ingin merepotkan Sasuke dan ibunya.
"Aku akan mengantarmu." Ucap Sasuke, membantu Sakura berdiri di menopangnya.
"Hati-hati, setelah sembuh sering-seringlah ke sini." Ucap Mikoto.
Sakura mengangguk dan pamit pada Mikoto dan juga Itachi, dia sampai membuat Itachi khawatir.
"Sampai depan rumahmu saja." Ucap Sakura.
Sasuke tidak menjawab apapun dan tetap berjalan hingga mereka masuk. dia sampai lapor pada kedua orang Sakura jika gadis ini sempat pingsan di depan rumahnya, mereka jadi semakin khawatir dan meminta maaf sudah merepotkan Sasuke.
Ending Normal Pov.
.
.
.
.
Sakura pov. [FlashBack]
Beberapa hari yang lalu, aku melihat Sasori dan Sasuke berbicara, aku sampai takut jika Sasori mengatakan segalanya, aku sampai menghalangi Sasuke dan wajahku lah yang terpukul, namun saat itu, setelah aku pergi dengan Sasori, kami berpisah, aku menjauhkan diri dari Sasori dan pergi begitu saja, aku tidak peduli padanya, wajahku jadi lupa aku obati dan pada akhirnya, Sasuke datang ke rumah dan mengopres luka lebamku.
"Kalau begitu biar aku mengobati lukamu." Ucap Sasuke.
Segera bangun dan itu bukan suara ibuku, aku sampai terkejut melihat Sasuke duduk di sisi ranjangku. "Sa-Sa-Sasukee! Kenapa kau masuk seenaknya dikamarku!" Ucapku, aku sampai panik melihatnya.
"Oh, jadi jika kau masuk di kamarku seenaknya, aku tidak boleh protes juga?" Sindirnya.
Aku tahu, kau mengatakan hal itu karena dulunya aku selalu seenaknya masuk ke kamarmu, bahkan seenaknya berbaring di kasurmu.
"Kau tidak mengatakan apa-apa pada ibuku?" Ucapku dan aku tidak ingin ibu mengetahui hal ini.
"Hn, tidak, aku tidak mengatakan apapun." Ucap Sasuke.
"Awalnya aku ingin berbohong jika aku tadi jatuh, tapi ibu seorang dokter, dia akan mudah mengetahui yang mana jatuh dan yang di pukuli, lagi pula jika aku mengatakan kau pelakukanya, ibu pasti tidak akan percaya." Ucapku. Ibu pasti tidak akan percaya jika Sasuke yang melakukannya, dia pasti akan menyuruh ayah mencari tahu, aku tidak ingin masalah kecil ini menjadi lebih besar.
"Maaf, dan kenapa kau melakukan ini? Kau melindungi pemuda aneh itu?" Ucapnya dan aku bisa melihat tatapan kesal itu, dia jelas-jelas marah pada apa yang aku lakukan, saat itu seharusnya aku biarkan saja Sasuke memukul pemuda br*ngs*k itu, aku akan lebih senang jika dia sedikit menderita.
"Jika kau memukulnya, masalah akan semakin rumit, jika kau hanya memukulku, tidak akan terjadi apa-apa." Ucapku, di pikir bagaimana pun aku harus tetap menghindar dan membuat Sasori menjadi aman, karena sejak awal, semuanya adalah salahku.
"Kenapa kau tetap keras kepala untuk tidak mengatakan apapun padaku?" Ucap Sasuke dan masih dengan tatapan marahnya.
Apa yang akan aku katakan? Aku masih tidak bisa mengatakan kebenaran ini, aku benar-benar malu dan terus menyalahkan diriku sendiri, sejak lama tidak bertemu dan setelah masuk kuliah, akhirnya kami bertemu kembali, aku ingin kembali membangun hubungan pertemanan ini meskipun pada akhirnya aku yang membuat masalah lagi.
"Sakura."
Membuyarkan lamunanku dan menatap Sasuke. "Sebaiknya kau pulang." Ucapku, aku tidak ingin membuatnya lebih merepotkan lagi.
"Aku tidak akan pulang jika kau terus seperti ini."
Lagi-lagi bersikap peduli padaku, aku ingin Sasuke yang dulu kembali, Sasuke yang bahkan tidak pernah peduli padaku dan ingin aku lebih baik menjauh darinya, Sasuke beranjak dari sisi ranjangku dan berjalan keluar, kecewa, anehnya aku merasa kecewa setelah dia pergi, baru saja ingin menutup pintu kamarku, dia kembali lagi dengan air hangat di cangkir dan juga handuk kering, aku sampai harus menolak dan dia menatap tajam padaku, memilih diam dan membiarkan Sasuke melakukan apapun yang ingin di lakukannya.
"Seharusnya ini di kompres sejak tadi, apa saja yang pacarmu itu lakukan? Kenapa dia tidak mengobatimu?" Ucap Sasuke.
Aku memilih diam, ya benar, kami ini pacaran, namun bukan seperti itu, aku sedikit terpaksa bersama Sasori kembali, aku sudah membuat masalah dengan pemuda berambut merah itu, seharusnya aku tidak perlu memutuskan hubungan dengan menggunakan alasan bodoh, membuat cerita bohong pada Sasuke dan sekarang aku harus menanggung segalanya, jika saat itu Sasori berbicara apapun, aku yakin Sasuke akan membenciku dan hubungan ini benar-benar berakhir, aku berusaha untuk tetap membuat hubungan kami seperti dulu, tidak akan yang namanya perubahan.
.
.
"Kau tidak pakai dress yang indah lagi? Aku tidak suka melihatmu seperti ini." Ucap Sasori dan memasang wajah kecewanya, apa dia sengaja atau memang benar-benar sedang kecewa?
"Diam dan jangan cari masalahku." Ucapku, kesal, aku tidak mau pakai pakaian seperti itu lagi jika pada akhirnya aku tidak bisa membantu siapapun, Kiba dan Naruto dalam masalah, lalu apa yang aku lakukan? Hanya berdiri dan menatap mereka, Sasuke bahkan tidak ingin melepaskanku, ucapannya cukup benar, aku tidak mungkin ikut berkelahi dengan pakaian feminim itu.
"Jangan marah seperti itu, aku hanya ingin penampilanmu sedikit berubah atau 'mantan teman'mu itu yang menyuruhmu? Haa..~ mungkin aku harus mengatakan yang sebenarnya padanya." Ucap Sasori, setiap harinya dia tidak pernah habis ide untuk membuatku kesal, aku harap segera membuatnya menjauh dariku dan menutup mulutnya.
"Tunggu, bukan dia yang memintaku, besok aku akan memakai pakaian yang lebih feminim lagi, dan lagi dia bukan mantan temanku, kami masih berteman." Ucapku. Sial, aku benar-benar salah sudah berurusan dengan pemuda ini, aku harap bisa mengulang waktu saat kami SMA dulu dan tidak pernah menerima pernyataannya.
"Iya-iya. Apa kuliahmu sudah selesai? Ayo ke restoran yang ada di sana, mereka menjual menu yang enak-enak, tenang saja, aku akan yang mentraktirmu sebagai pacar yang baik." Ajaknya.
Menghela napas dan pasrah saja, aku harus tetap mengikutinya, berharap tidak bertemu Kiba, Chouji atau Naruto, mereka mungkin aku memukul pemuda ini.
"Bagaimana jika kau mendaftar sebagai model, seseorang yang ku kenal sedang mencari model loh." Ucap Sasori tiba-tiba.
"Tidak, aku tidak ingin menjadi model." Tolakku, aku tidak mau menjadi model.
"Sayang sekali, kau itu cantik, bertubuh ideal dan tinggi, tidak ada salahnya mencoba." Bujuk Sasori.
"Aku tidak mau." Tegasku dan menatap kesal padanya, apa dia tidak bisa sedetik saja membuatku tenang? Aku sudah memakai pakaian feminim yang di sukainya, aku sudah berdandan seperti yang di inginkannya, tapi dia sama sekali tidak merasa cukup akan hal yang aku lakukan, apa dia belum puas membalas dendamnya? Pemuda ini sangat gila!
"Lakukan demi aku?" Ucapnya dan memasang wajah memelasnya. "Demi aku, ya?" Kembali dia menekankan dua kata itu, aku jadi semakin muak padanya, aku ingin marah dan memukulnya, tapi dia akan mengatakan segalanya pada Sasuke, aku merasa di ancam akan setiap ucapannya.
"Akan aku pikirkan." Ucapku.
.
.
Pada akhirnya.
Aku benar-benar melakukan pekerjaan model itu, kenalan Sasori, dia meminta tolong padanya mencari gadis yang sesuai, saat mereka melihatku, mereka seperti melihat seorang artis, memuakkan, aku ingin segera pergi dari tempat ini, mengatakan pada Sasori hanya untuk kali ini saja aku akan melakukannya, selanjutnya aku tidak ingin melakukannya lagi. Pemuda itu hanya tersenyum senang dan mengatakan akan mendengar ucapanku.
Pemotertan itu berakhir, mereka-orang-orang yang mengenal Sasori, mengatakan jika bagaimana aku menandatangi kontrak untuk tetap menjadi model? Jika mereka memberiku kertas kontrak itu, aku akan merobeknya kecil-kecil di hadapan mereka, berusaha menjaga sikap.
"Maaf, aku sangat sibuk kuliah dan tidak ada waktu." Tolakku halus, Sasori masih terus mengawasiku.
Mereka menatap kecewa padaku, menyindiriku yang mungkin akan bisa terkenal jika menjadi model, itu mau kalian, tapi aku tetap tidak akan melakukannya.
Aku pikir ini tidak akan apa-apa, terkejut ketika pakaian yang ku kenakan di publis di sosial media manapun, hingga, ketiga temanku, termasuk Sasuke, mengejarku, aku yakin mereka hanya ingin mengetahui apa yang sudah aku lakukan, mereka memaksaku ke kelas dan aku di ikat, aku tidak akan kabur, jadi tenanglah, mereka pikir aku sudah gila dengan menjadi model, tapi aku tidak mengelak tanggapan mereka itu.
"Bohong! Kapan kau menyukai hal seperti itu?" Ucap Kiba.
Terkejut saat dia mengatakan hal itu padaku, aku sudah berusaha berbohong dengan baik, tapi mereka benar-benar tahu apa yang ada di kepalaku, menatap ke arah Sasuke, jika bukan saja aku yang membuat masalah ini lebih dulu, aku tidak akan seperti ini, menundukkan wajahku, aku membuat mereka kecewa akan sikapku.
"Maaf, aku tidak akan melakukannya lagi." Ucapku, lagi pula yang itu untuk pertama kalinya dan terakhir kalinya, aku tidak akan melakukannya lagi
.
.
TBC
.
.
update... ~
dan terima kasih atas semangatnya...
kapan sakura ngaku kalau suka sama Sasuke?
jawab : Final chapter... (spoiler keras)
.
.
see you next chapter.
