MY LOVELY BRONDONG

.

.

Present by IchiOchaMocha

...

Disclaimer : ©Masashi Kishimoto

Pairing : Uchiha Sasuke & Yamanaka Ino

Warning : Fic ini berisi kegajean yang di ciptakan author karena saking frustasinya terhadap real life-nya, Typo, Au, OOC, de el el. Alur cerita di percepat. Ide datang dari novel yang pernah saya baca, judulnya Brondong. Novelnya bagus. So sweet pake banget.

Genre : Romance, Friendship

Summarry : Tua, muda. Usia tak bisa terelakkan jika sudah menyangkut cinta. Oh, mungkinkah berbedaan usia membuat mereka mengerti bahwa cinta tak terbatas pada usia? Special fic for SasuIno lover... Happy reading minna.

.

.

.

Apartemen Blue Orchid, Konoha City

Ino hendak keluar dari apartemennya untuk belajar di kampusnya. Ia berjalan mendekati pintu lift seorang diri . Ino tak menyadari bahwa seseorang berjalan mengendap-endap di belakangnya. Dan-

Dorrrrr

"Kena kau, Barbie!" Sasuke tampak puas mengagetkan Ino. Ia tertawa terpingkal-pingkal oleh reaksi yang Ino keluarkan. Ino begitu kaget. Ia mengelus dadanya memastikan ia tidak terkena serangan jantung mendadak akibat teriakan Sasuke yang begitu keras.

"Astaga bocah tengil. Kau mengangetkanku," teriak Ino.

"Pagi, Barbie! Kau mau kemana sepagi ini?" tanya Sasuke.

'Sialan bocah itu,' batin Ino kesal.

Ino yang tak ingin membuat moodnya hancur di pagi ini menjawabnya singkat pertanyaan dari Sasuke. "Tentu saja ke kampus," jawab Ino ketus.

Ting

Pintu lift terbuka. Ino dan Sasuke masuk kedalamnya. Ino yang masih terlihat kesal dengan kelakuan Sasuke, memilih diam dan mengabaikan Sasuke.

"Hoi, Barbie. Mau berangkat bareng?" tawar Sasuke.

"Sasuke. Namaku Ino. Bukan Barbie. Dan aku tidak ingin berangkat bersamamu."

"Suka-suka aku dong. Aku sukanya panggil B-A-R-B-I-E," ucap Sasuke dengan penuh penekanan.

"Astaga. Kenapa aku harus punya tetangga sepertimu sih. Menyebalkan sekali," gerutu Ino.

"Hei, biar akau menyebalkan, aku ini tampan lho. Banyak kok yang nagantri untuk jadi pacarku. Atau kau mau mendaftarkan diri, Barbie?" goda Sasuke lagi.

"Bocah, dengar ya. Aku ini tak tertarik pada anak di bawah umur, paham. Lagi pula, aku tidak ingin di sebut pedofil gara-gara dekat denganmu."

"Hohohoh, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku Barbie. Lihat saja. Aku yang akan jadi pemenangnya."

"Dalam mimpi bocah."

Sasuke sedikit terpancing emosi lantaran penolakan Ino. Dengan nekat, Sasuke meraih leher bagian belakang Ino dan mencium bibirnya secara paksa di dalam lift yang masih sepi, hanya ada mereka berdua. Ino meronta, tangannya di genggam secara kasar oleh Sasuke.

Ya, Sasuke memang sudah gila. Gila karena pesona nona Yamanaka Ino. Sasuke memperdalam ciumannya. Ino sendiri masih berusaha melepas pagutan Sasuke. Sasuke menikmati bibir tipis berpoles lipglos rasa strawberry. Bibir tipis Ino seperti candu baginya untuk memperdalam ciumannya. Bagi Sasuke dan Ino inilah ciuman pertama mereka. Ciuman yang special bagi Sasuke. Poor Ino.

Beberapa saat mereka berciuman, pintu lift terbuka. Sasuke terpaksa melepas pagutannya di bibir Ino. "Strawberry, nikmat sekali Barbie."

"Dasar bocah mesum. Aku membencimu bocah!"

"Dan aku mencintaimu, Barbie."

.

.

University of Konoha

Sesampainya di kampus, Ino segera melangkahkan kakinya menuju ruang kelasnya. Sepanjang perjalanan menuju kampusnya, ia tak henti-hentinya menggerutu tak jelas. Memory-nya masih terngiang di otaknya atas apa yang Sasuke lakukan pagi ini. sungguh membuat jantungnya berdebar kencang. Rasa yang sama saat ia bersama dengan mantan kekasihnya. Ino baru merasakan hal ini lagi sejak beberapa tahun lalu ia putus dengan pacarnya. Ya, Ino yakin ada yang tidak beres dengannya.

Ino berusaha menepis lagi perasaan itu. ia tidak ingn lagi perasaan tersebut muncul lagi. Ya, Ino tidak ingin mengalami lagi jatuh cinta sesaat pada orang yang salah.

"Ohayou," sapa Ino ketika memasuki ruang kelasnya. Di sana sudah ada Tenten dan juga Mei Terumi. Mereka berdua adalah sahabat sejak mereka masih duduk di bangku SMP.

"Tumben kau sepagi ini?" tanya Tenten to the pint. Gadis bercepol ini sedikit heran pada sahabat pirangnya ini, pasalnya Ino adalah mahasiswa yang selalu datang mepet dari jam kuliah.

"Ini semua karena Kakashi-sensei. kalau sekali lagi aku datang terlambat bisa-bisa nilaiku C," ucap Ino.

Mei hanya terkikik mendengar penuturan sahabatnya itu. Gadis bertubuh sintal itu lantas memajukan kursinya menghadap Ino. "Hei, Ino-chan. Bagaimana dengan tempat tinggal barumu? Apa ada yang menarik di sana?" tanya Mei penasaran.

"Tidak ada yang menarik, hanya saja ada tetangga yang resek, Mei-chan." Ino memang belum menceritakan secara detail mengenai kepindahannya kepada kedua sahabatnya. Sebenarnya hari ini ia berencana mengajak Mei dan Tenten mengunjungi apartemnnya.

"Wah, aku jadi penasaran pada orang yang membuatmu tak nyaman, Ino," sela Tenten saat Mei hendak berbicara.

"Hanya bocah SMA yang resek. Huh, aku benar-benar kesal di buatnya."

"Bocah?" beo Tenten dan Mei bersamaan.

"Huum. Dia bocah paling mesum yang pernah kutemui seumur hidupku. Aku menyesal menjadi tetanggaku."

"Ino, apa bocah itu melakukan sesuatu?" tanya Mei dengan penuh selidik.

Ino tampak berpikir. Ia ingin mengatakan kejadian tadi pagi pada kedua sahabatnya, namun ia mesti berhati-hati juga saat ia hendak mengatakan sesuatu pada sahabat yang paling update tentang gosip di kampusnya. Dan oh, ia tidak ingin jadi bahan gosip oleh kedua sahabatnya sendiri. "Dia memanggilu dengan sebutan barbie. Namaku kan Yamanaka Ino, bukan Barbie. Dia juga tadi pagi mengagetkanku dengan teriakan mautnya. Menyebalkan bukan, Mei, Tenten?"

Mei tertawa keras. Cerita Ino pagi ini benar-benar membuatnya sakit perut. Tenten pun juga sama. Ia bahkan sampai memegangi perutnya kerena tawa yang begitu keras. "Hahahahahha, oh astaga. Siapa nama orang yang menganggumu, Ino," tanya Tenten.

"Uchiha Sasuke. Bocah sok keren itu mungkin saja akan menghancurkan hari-hari indahku di sana, huhuhuhu." Ino mulai lebay. Sang drama queen ini memang pandai sekali berakting selayaknya orang teraniaya di depan kedua sahabatnya.

"Hei, jangan terlalu membenci seseorang, awas lho nanti bisa cinlok beneran," goda Mei.

"Tidak akan, Mei-chan. Aku nggak suka brondong ingusan sepertinya."

Seringai jahil nampak di wajah Tenten. Ia kemudian menanyakan sesuatu yang membuat Mei ikut geleng-geleng kepala. "Ngomong-ngomong, Sasuke tampan nggak?"

"Sasuke itu tampan," ucap Ino polos. Sontak Tenten dan Mei saling bertatapan. Ino baru kali ini memuji seseorang yang lebih muda darinya. Di sadari atau tidak, Ino sepertinya tak sadar bahwa ia telah memuji seseorang selain mantan kekasihnya.

"Ino kau sa-

Teerrrttttttttttttt

Suara bel masuk membuat ucapan Mei terpotong. Ino hendak menayakan lagi maskud ucapan Mei, namun Mei urungkan. Mereka kembali terdiam setelah beberapa saat Kakashi-sensei memasuki kelas. Ino, Mei juga Tenten memilih diam dari pada membuat ulah di kelas Kakashi-sensei.

.

.

Sementara, di Konoha High School

"Sasuke-kun!" teriak seorang gadis berkacamata bernama Karin Uzumaki. Sasuke yang merasa namanya di panggil oleh gadis itu hanya menoleh sebentar dan kemudian ia berlalu begitu saja saat Karin mulai mendekat.

"Sasuke-kun. Kau mengabaikanku lagi," protes Karin.

"Menjauh dariku Karin. Aku tidak ingin kau merusak pagi yang indah ini dengan suara cemprengmu," ucap Sasuke dingin.

Merasa di acuhkan, Karin berjalan menyamai langkah Sasuke. Gadis ini memang pantang menyerah. Demi mendapatkan hati Sasuke sang prince charming ini, ia rela melakukan apapun agar Sasuke bisa menjadi kekasihnya. "Sasuke-kun setelah pulang sekolah ayo kita kencan. Bagaimana?" tawar Karin masih berusaha menarik perhatian Sasuke.

"Maaf saja, aku sangat sibuk hari ini, Karin. Sebaiknya kau menyingkir dari jalanku." Ucapan ketus dari Sasukepun akhirnya mampu membuat Karin diam seribu bahasa. Selama ini ia selalu mengejar Sasuke, namun kenapa pemuda berambut emo ini bahkan tak sedikitpun bersedia meliriknya. Apa yang salah dari dirinya. Ia cantik dan terkenal. Ia juga seorang penyanyi yang melambung tinggi di dalam maupu luar negeri, tapi tetap saja Sasuke tidak tertarik sedikitpun dengannya.

Gadis itu menatap sendu punggung Sasuke yang mulai menjauh dari pandangannya. Setitik air mata nampak menetes di pipi mulusnya hingga sebuah kata lirih terucap dari bibir tipisnya. "Maafkan aku, Sasuke-kun. Semua ini salahku jika saja dulu aku tidak serakah pada cinta."

.

.

Skip time

Hari bergulir dengan cepat, tak terasa hari telah beranjak sore. Ino telah selesai dengan tugas kuliahnya. Ia kemudian segera beranjak dari kelasnya dan mengajak kedua sahabatnya untuk mampir ke apartemen barunya. Ino, Tenten, juga Mei segera saja menuju parkiran kampus.

Perjalanan menuju apartemen Ino memakan waktu kurang lebih dua puluh menit dari kampus. Dengan hati-hati, Mei berusaha melajukan mobilnya agar tidak tertabrak di jalan. Tenten dan Ino yang tidak sabaran sampai menegur Mei.

"Mei, bisa lebih cepat tidak sih nyetir mobilnya," keluh Tenten.

"Sabar donk Tenten ku tersayang. Aku sedang konsentrasi agar nggak nabrak."

"Duh, nyampai di apartemen berapa jam nih kalau netirnya kayak siput," sindir Ino.

"Plis dech, Barrbie jangan bicara seperti itu. Ini hampir sampai kok," ucap Mei meyakinkan.

"Ahhh, aku nggak sabar! Mei, kau sebaiknya di belakang. Biar aku yang nyetir," ucap Tenten mutlak. Ino dan Mei melongo. Ucapan Tenten seolah mutlak di laksanakan. Mei sendiri hanya menurut dan memilih menepikan mobilnya di pinggir jalan. Gadis itu mulai berpindah ke kursi penumpang.

Tenten kemudian memakai sabuk pengaman dan menyalakan mobil. Gadis itu langsung tancap gas mengemudikan mobil itu dan lihatlah apa yang terjadi. Ino dan Mei setelah ini sepertinya harus memeriksakan jantungnya ke dokter lantaran Tenten nyetir seperti pembalap kesetana.

Gadis bercepol itu sendiri hanya tertawa pelan melihat reaksi kedua sahabatnya yang menggerutu aksinya menyetir.

"Kalau nyetir itu hati-hati dong. Ini bukan sirkuit, Tenten," keluh Mei memegangi dadanya yang berdetak kencang akibat ulah kebut-kebutan Tenten.

"Hahaha, ini baru seberapa," ucap Tenten enteng.

Duaghhh

"Auwwhh, sakit Barbie."

"Aku belum mau mati muda, Tenten! Dan kau jangan pernah memanggiku dengan panggilan yang menyebalkan itu," ucap Ino kesal setelah puas memukul kepala sahabatnya.

Mei hanya tertawa melihat pertengkaran antara Ino dan Tenten. Mereka bertiga memang selalu seperti itu, dan pada akhirnya mereka akan kembali seperti semula jika sudah sama-sama lelah berdebat.

.

.

To be continued

Segini aja dulu ya.. nunggu ide yang lain dateng. Thanks udah nengok fic, membaca fic ini, ataupun meninggalkan jejak untuk fic ini. salam garpu siomay...plakkkk