Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 20 ]

.

.

.

.

Hari itu, Sasuke menerobos masuk ke kamarku, menarik selimutku, dan mengajakku pergi, dia sampai membuat kedua orang tua salah paham, mereka pikir kami akan kencan, tapi jika seorang pemuda dan gadis keluar jalan-jalan, apa itu sudah termasuk kencan? Hanya terkesan saja seperti kencan, tidak-tidak-tidak, ini bukan kencan! Sadarlah Sakura! mungkin Sasuke hanya ingin membuatku senang, mungkin, dia sepertinya sadar akan sikapku akhir-akhir ini. Sasuke mengajakku ke tempat yang bagus dan banyak hal yang bisa di lihat, dari wisata kebun binatang, Konoha Land, kafe yang enak, dan terakhir danau yang sangat ingin aku datangi, aku selalu ingin ke sana, tapi aku takut jika perahunya terbalik dan aku tidak bisa apa-apa.

Saat kami sedang berada di tengah danau, Sasuke kembali memintaku untuk menceritakan segala hal yang sudah aku tutupi padanya selama ini, dia bahkan mengancamku akan melompat, aku tidak bisa, aku benar-benar tidak bisa mengatakannya, perahu kami terbalik dan satu hal yang membuatku tersadar.

Karena ketakutanku selama ini,

Karena kebohonganku selama ini,

Karena kepura-puraanku,

Karena aku terus menghindar dari kebenaran,

Aku lupa dengan Sasuke, aku lupa segalanya tentang Sasuke, dia sampai menyindirku.

"Kau bahkan lupa aku bisa berenang." Ucapnya.

Setelah mendengar ucapannya itu rasa bersalah jadi semakin besar di benakku.

.

.

"Sa-ku-ra. Kau menungguku?" Ucap Sasori, senyum ramah dan hangat, wajahnya masih tetap terlihat imut meskipun kami sudah memasuki masa kuliah, para gadis di fakultasnya sampai rela ingin bersamanya, tapi dia dengan senangnya mengatakan sudah punya pacar dan tidak bisa bersama gadis mana pun lagi.

"Tidak." Ucapku cuek, dialah yang menyuruhku datang di dekat fakultasnya dan dia sengaja melakukannya.

"Haa...~ kau marah lagi, kenapa setiap kita bertemu kau selalu marah?" Ucapnya dan sengaja membuat wajah menggemaskan itu, hey! Kau sudah tidak cocok lagi.

"Kita sudah bertemu, sekarang aku harus pergi." Ucapku dan bergegas.

"Tunggu." Ucap Sasori dan tangannya menggenggam erat tanganku. "Kita pergi bersama, hari ini mau makan siang dimana?" Tambahnya.

Terdiam, aku sangat ingin makan di kantin kampus, tapi aku tidak ingin bertemu teman-temanku apalagi Sasuke, jika makan di luar, dia akan keras kepala membayar semua apa yang aku makan.

"Aku tidak lapar." Ucapku.

"Tidak ada penolakan, kau harus makan siang bersamaku."

"Eh, tidak mau! Aku tidak mau makan siang!" Tegasku.

"Jangan keras kepala Sakura." Ucapnya.

"Baik, makan siang, tapi aku tetap akan membayar bagianku." Ucapku. aku ingin dia sadar jika aku tidak suka di traktir terus menerus, aku bukan orang miskin yang perlu di kasihani.

"Aku hanya ingin membelikanmu makan siang, lagi pula itu tidak berat, aku kan pacarmu." Ucapnya, ya-ya terserah saja kau pakaikan alasan karena kita 'pacaran'.

"Sasori, cukup, aku tidak akan pergi jika kau juga keras kepala." Tegasku.

"Aku menyerah, kita makan siang bersama dan kau bisa bayar bagianmu." Ucapnya.

Kami pergi sama, menjauhkan tanganku saat dia akan menggenggamnya, aku tidak ingin ada yang melihat kami berjalan dengan mesra, cukup dengan akting manismu Sasori, aku hampir melampaui batas muakku.

Menatap pemuda ini, sampai kapan dia akan berhenti bersikap seperti ini dan kapan aku bisa bebas darinya?

.

.

"Hee? Benarkah? Jadi kau serius dengan gadis itu? Dia mantanmu kan?" Ucap seseorang, aku menemukan pemuda itu berbicara dengan beberapa orang, mungkin teman-temannya, berhenti berjalan, aku akan mendengar ucapan mereka sebelum menemui Sasori.

"Bukan-bukan, sekarang kami kembali pacaran." Ucap Sasori dan tentu saja dia akan selalu memperlihatkan wajah senangnya.

"Aku pikir kau sudah melupakannya dan akan bersama gadis yang satu kelas dengan kita, bukannya kau sudah lama mengincarnya?"

Terkejut.

Apa maksud dari pembicaraan mereka?

"Tunggu dulu, aku belum selesai, aku harus membuat Sakura kembali padaku dan membalaskan rasa sakitku padanya, dia harus tahu bagaimana dia memutuskanku dengan mudah, aku sampai tidak mengerti jalan pikirannya, dia cinta pertamaku, tapi juga merusak perasaanku." Ucap Sasori.

Menyesal, aku membuat Sasori kecewa, itu karena kesalahanku, sekarang, dia tidak akan seperti dulu, mungkin ini yang membuatku tidak bisa kembali luluh padanya, Sasori berbohong dan aku? Kami sama saja, aku bahkan jauh lebih buruk dari Sasori.

Menghembuskan napas perlahan dan berpura-pura baru saja tiba.

"Akhirnya kau datang, aku menunggu." Ucap Sasori dan memperlihatkan wajah senangnya padaku.

"Wah, dia benar-benar cantik dan sangat cocok jadi model." Ucap salah satu temannya.

"Dia sudah menjadi model loh." Ucap Sasori.

"Aku juga melihatnya." Ucap temannya yang lainnya.

"Kenapa tidak di lanjutkan? Sayang sekali, wajah cantik dan tubuh yang sesuai, kau akan terkenal."

Menatap Sasori, dia senang akan semua ucapannya, kau senang akan pujian temanmu, tapi aku, aku sama sekali tidak peduli akan ucapan mereka.

"Tidak-tidak, aku tidak ingin terlalu banyak publik yang melihatnya." Ucap Sasori dan aku sangat ingin memukulnya, dialah yang memaksaku menjadi model dan bukan dia yang ingin aku berhenti, tapi aku dengan sikap tegasku ingin berhenti.

Kau sangat berubah Sasori.

Teman-temannya mulai berbicara omong kosong kembali, seperti iri pada Sasori yang memiliki pacar sepertiku, aku tidak pernah merasa diriku sempurna di mata siapapun.

.

.

"Kau hanya menyakiti dirimu sendiri, berhentilah Sakura." Ucap Kiba.

"Aku setuju dengan Kiba, kami akan membantumu jika dia berulah." Ucap Naruto.

"Aku pikir kau seperti tidak pernah punya masalah Sakura." Ucap Chouji.

Menatap ke arah mereka bertiga, akhirnya aku rasa lelahku memuncak dan aku tidak tahu harus berbicara pada siapa lagi kecuali mereka, aku menceritakan bagaimana aku dan Sasuke dulu, bagaimana hubungan ini terbentuk dan bagaimana aku menjadi egois terhadap diriku sendiri, perasaan lebih terhadap Sasuke benar-benar salah dan aku malu pada diriku, aku sampai menjadikan masalah temanku yang saat SMA menjadi trauma, dia dan sahabatnya yang seorang laki-laki memutuskan hubungan mereka, bahkan itu pertemanan, aku tidak ingin Sasuke dan aku seperti itu.

"Hey, aku pikir kau ini pintar Sakura, kenapa kau jadi bodoh hanya gara-gara masalah perasaan? Namanya juga hubungan, itu akan berakhir atau tidak, tergantung bagaimana kau mempertahankan hubungan itu, kau terus menyalahkan diri dan tidak berniat mengubah keadaanmu, sekarang masalahmu jadi semakin rumit." Ucap Kiba.

"Manusia memiliki sikap ego itu wajar, jika bukan manusia-"

"-Makhluk alien." Potong Chouji.

"Apa! Jangan seenaknya memotong ucapanku!" Protes Naruto.

Kiba hanya tertawa mendengar ucapan Chouji.

Egois yaa, aku jadi lupa, kapan aku benar-benar egois?

"Sakura, dengarkan kami, cukup jadi dirimu sendiri, katakan apapun pada Sasuke, kami juga tidak melihat Sasuke itu seperti ingin hubungan pertemanan kalian berlanjut, kadang-kadang dia memasang wajah khawatir berlebihan terhadapmu, apa kau tidak ingin tahu bagaimana perasaan Sasuke terhadapmu juga? Kau hanya memikirkan dari sisimu saja." Ucap Kiba.

Terdiam sejenak, selama ini aku terus menghindar dari pembicaraan serius dengan Sasuke, aku selalu saja mengalihkan pembicaraannya, tidak ingin menjawab pertanyaannya dan tidak ingin membuatnya tahu apa masalah yang sedang aku hadapi sekarang.

"Jika dia benar temanmu, tidak mungkin dia sampai meminta kami menyelidiki pacar br*ngs*kmu itu, kami tidak yakin jika dia adalah pacarmu, kau harus tahu pemuda itu mungkin dulunya baik bagimu, tapi sekarang, sebaiknya putuskan hubunganmu dengannya." Ucap Naruto.

"Aku tahu." Ucapku.

Ya, aku benar-benar tahu, dulunya Sasori pemuda yang baik, tapi aku menyakitinya dengan memutuskan hubungan kami, padahal kami tidak pernah punya masalah, Sasori selalu menjadi pacar yang pengertian dan baik hati padaku, aku saja yang masih egois akan perasaanku, aku tidak ingin Sasuke menjauh dariku karena aku sudah memiliki pacar.

Bodoh.

Aku benar bodoh.

Sekarang aku tahu kenapa aku tetap tidak bisa menyelesaikan masalah ini dan malah menjadikannya rumit.

Sejak awal, aku harus tegas pada diriku sendiri, sejak awal, aku harus mendengar ucapan Sasuke, aku merasa jika Sasuke memang tidak ingin aku bersama pemuda mana pun.

Tapi,

Aku sama sekali tidak tahu isi hati Sasuke, dia begitu tenang dan sangat mudah menyembunyikan ekspresinya.

Apa tanggapan dirinya tentangku?

Apa yang dia rasakan jika bersamaku?

Apa aku hanya seorang teman baginya?

Atau.

Sebuah rangkulan di bahuku.

"Aku mencari-carimu Sakura, kenapa bersama mereka?" Ucap Sasori.

"Jauhkan tanganmu dari Sakura." Ucap Kiba, dia sampai menepis tangan Sasori, Naruto menarikku ke arahnya dan Chouji seakan menjadi tameng bagiku.

"Kalian, apa yang kalian lakukan? Sakura adalah pacarku." Ucap Sasori.

Menatapnya, ini bukan Sasori yang dulu pernah aku kenal, sikapnya berubah, dia tidak lagi menjadi sosok pacar yang baik, pengertian, dan peduli padaku, dia selalu saja memerintahku, gunakan pakaian yang lebih feminim! Dandanlah yang cantik! Bersikaplah seperti seorang gadis! Dan pada akhirnya dia hanya memamerkanku pada teman-temannya, dulunya aku berbohong seperti itu pada Sasuke, sekarang kebohonganku itu menjadi nyata dan pemuda itu, masih pemuda yang sama yang dulunya sangat mencintaiku.

"Omong kosong, pergi atau ku pukul kau sekarang." Ucap Kiba, dia sampai mengancam dengan kepalang tangannya.

"Sakura, kita pergi." Ucap Sasori, dia masih tidak pergi dan ingin mengajakku.

"Sakura, sebaiknya kau berhenti sekarang." Ucap Naruto.

"Ini karena kami peduli padamu, Sakura." Ucap Chouji.

"Jika kau ingin aku mematahkan tangannya yang lancang itu, akan segera aku lakukan." Ucap Kiba.

"Tidak, jangan lakukan itu." Ucapku, menghembuskan napas perlahan, aku akan memilih apa yang menurutku benar.

"Sasori." Ucapku. Dia terlihat senang saat aku mendatanginya, ya, aku rasa ini lebih baik.

Ending Sakura Pov. [Ending Flashback]

.

.

.

.

Sasuke Pov.

Siang ini aku baru melihatnya, gadis berambut softpink sepinggang yang di ikatnya tinggi, penampilannya hari ini sangat berubah, aneh, dia tidak berdandan, tidak mengenakan pakaian lebih feminim dan menjaga sikap, dia kembali menjadi Sakura seperti biasanya, lagi-lagi aku tidak tahu apapun tentangnya, mengekor kemana Sakura pergi, dia bertemu teman-temannya itu dan mereka kompak menatap ke arahku.

"Itu Sasuke! Sasukee!"

"Sasukee!"

"Ayo ke sini!" Teriak mereka seperti aku akan datang, memangnya kalian siapa?

Membuang muka dan bergegas pergi, sayangnya ketiga pemuda itu berlari ke arahku dan menahanku untuk tidak pergi.

"Jangan pergi, hari ini aku tertaktir kalian." Ucap Kiba.

"Aku tidak perlu di traktir." Tolakku.

"Jangan seperti itu, aku mengajakmu karena Sakura yang memintaku." Ucapnya lagi.

"Hari ini Kiba ulang tahun, kau seharusnya ikut saja." Ucap Chouji.

"Aku mau makan daging yang banyak yaa!" Ucap Naruto.

Mereka sibuk untuk memutuskan tempat, Sakura baru saja sampai, dia sedikit berubah, bukan perubahan dari hal yang tidak pernah aku lihat, dia kembali seperti Sakura yang dulu, Sakura-ku, aku hanya senang melihatnya seperti ini, dia jauh lebih cocok dengan penampilan yang tidak perlu mencolok.

"Kau harus ikut, hari ini kita harus membuat Kiba bangkrut." Ucap Sakura dan tertawa lepas.

"Daging impor berkualitas." Ucap Naruto.

"Naruto ilermu!" Ucap Chouji.

"Kalian mau merampokku, ha!" Protes Kiba.

Terlalu berisik, aku tidak terbiasa dengan suara ramai seperti ini, meskipun begitu, aku sedikit senang keadaan sakura kembali, mereka perlu menjelaskan sesuatu padaku saat tidak ada Sakura nantinya.

.

.

Di sebuah restoran.

Aku pikir ini akan menjadi makan-makan biasa saja, mereka adu perang minum dan berakhir dengan mabuk, aku terus menghalangi Sakura untuk minum dan sekarang aku yang sudah tidak sanggup, bersandar pada Sakura.

"Kalian sudah! Hentikan! Sasuke sampai mabuk!" Sakura sampai teriak-teriak pada teman-temannya.

"Hahahaha, dia seharusnya tidak minum bagianmu." Ucap Kiba.

Sejujurnya aku tidak mabuk, tapi aku hanya pura-pura agar mereka berhenti.

"Aku akan pulang duluan, kalian berhenti minum dan pulang!" Ucap Sakura dan ketiga pemuda itu seperti prajurit yang mendengar perintah komandannya.

Kegiatan ini berakhir, aku hanya berpura-pura dan Sakura pikir aku sudah mabuk berat, dia berusaha memapahku saat berjalan.

"Dasar, jangan minum terlalu banyak jika kau pun cepat mabuk." Marah Sakura, dia sedang mengomel. "Kau berat! Apa kau lupa itu!" Omelnya lagi. "Aku tidak akan membiarkanmu di jalanan seperti ini." Kini nada suaranya merendah.

"Seharusnya setiap kau ada masalah kau harus mengatakannya padaku." Ucapku, aku sedang mencoba memancingnya berbicara, apa mungkin jika dia pikir aku sedang mabuk, dia bisa mengatakan segalanya.

"Aku tidak tahu, apa ini sebuah masalah atau bukan, aku sampai bingung ingin membicarakannya denganmu, makanya cepat sadar dan aku mungkin bisa mengatakannya dengan jujur." Ucap Sakura.

Dia benar-benar berbeda hari ini, setelah penampilannya yang sudah kembali seperti semula, Sakura pun mulai terbuka padaku.

"Dasar pembohong." Ucapku.

"Ahk! Berisik, cepat pulang dan aku ingin melihat bibi Mikoto memarahimu." Ucapnya.

"Aku ingin mendengarnya sekarang."

"Apa? Kau bahkan tidak sadar seperti ini."

"Katakan saja, aku pendengar yang baik."

Sakura terdiam, apa dia akan mengatakan masalahnya sekarang?

"Aku menyukaimu! Aku sungguh-sungguh menyukaimu, itu adalah masalahku sekarang." Ucapnya.

.

.

TBC

.

.


update...~

karena hanya mengupdate setelah itu log out akun, author jadi tidak menyampaikan banyak hal, dan suka lupa lihat review, but terima kasih buat semua reader yang telah mendukung dan sampai repot tinggalkan review kalian. :)

mungkin balas-balas review kalian di akhir chapter saja, akhirnya fic ini akan segera tamat *bahagia* emang ini cuma fic yang singkat, hanya selingan di kala boring, soalnya satu fic yang belum TBC sebut saja "sweet blood" itu butuh waktu lama untuk berpikir, author harus mikir alurnya dulu dan baru bisa melanjutkannya, pada akhirnya jenuh dan sulit untuk di lanjutkan, kasusnya akan sama dengan fic gadis kuil, updatenya akan lama juga, tapi tetap saja, tidak akan ada fic Sasuke fans yang hiatus hingga menggantung, hanya sangat lambat untuk di update, jadi yang suka dengan fic itu harap bersabar untuk kelanjutannya. sekedar info ini akan menjadi fic TBC yang terakhir, bukan akhir yaa, hanya terakhir, author akan berhenti dulu membuat fic TBC, kalau oneshoot mungkin masih akan buat- kadang-kadang. haa...~ pasti akan sangat merindukan memikirkan alur-alur fic TBC.

uhm... segitu aja curhat plus penyampaian author.

.

.

See you final Chapter. ;)