MY LOVELY BRONDONG
.
.
Present by IchiOchaMocha
...
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pairing : Uchiha Sasuke & Yamanaka Ino
Warning : Fic ini berisi kegajean yang di ciptakan author karena saking frustasinya terhadap real life-nya, Typo, Au, OOC, de el el. Alur cerita di percepat. Ide datang dari novel yang pernah saya baca, judulnya Brondong. Novelnya bagus. So sweet pake banget.
Summarry : Tua, muda. Usia tak bisa terelakkan jika sudah menyangkut cinta. Oh, mungkinkah berbedaan usia membuat mereka mengerti bahwa cinta tak terbatas pada usia? Special fic for SasuIno lover... Happy reading minna.
.
.
.
Apartemen Blue Orchid nomer 1326
Mei dan Tenten telah sampai di apartemen milik Ino. Sampai di parkiran mobil, Tenten memakirkan mobil Mei tak jauh dari lift. Mereka keluar dari mobil tersebut dan segera menuju lift yang tak jauh dari tempat mereka parkir. Di sela-sela mereka menunggu lift terbuka ada saja tingkah Tenten dan Mei yang membuat Ino harus geleng-geleng kepala. Ya, terbiasa selfie di tempat yang baru mereka kunjungi adalah hal wajib untuk di posting di media sosial mereka.
Ting
Suara pintu lift terbuka. Suasana di dalam lift sepi. Mereka bertiga kemudian masuk ke dalam lift dan Ino menekan angka 13a menuju lantai 13. Mei dan Tenten masih asyik melanjutkan kegiatan selfie mereka di dalam lift, hingga suara lift terbuka.
Ting
Pintu liftpun terbuka dan seseorang masuk kedalam pintu lift itu, dan lihat apa yang ada di hadapan Ino. Di depannya adalah sosok yang tak ingin ia temui hari ini. Sosok itupun masuk ke dalam lift dan beberapa saat kemudian pintu itu tertutup. "Sore Barbie? Kau baru pulang?" tanya seseorang yang baru masuk dari luar lift. Dia adalah Uchiha Sasuke dengan senyum evilnya ia berusaha menggoda gadis pujaannya.
Mei yang sejak tadi asyik berselfie ria bersama Tenten, sontak melirik orang di hadapan Ino. Dalam hati mereka bertanya-tanya pada sosok yang menyapa Ino. 'Benarkah ini Uchiha Sasuke yang tadi pagi Ino ceritakan?' batin Mei.
"Sudah tahu nanya," ucap Ino ketus.
"Maaf, barusan kau memanggil Ino-chan 'Barbie' ya? Apa kau bocah yang dibicarakan Ino tadi pagi?" tanya Mei menyelidik.
Sasuke tampak menyerngit, sedangkan Ino hanya menepuk keningnya. Ino tak habis pikir bagaimana sahabatnya sekepo ini. 'Gawat, bencana ini,' batin Ino tak tenang.
"Si Barbie membicarakanku? Apa nee-san temannya si Barbie?" tanya Sasuke.
"Um,kami berdua sahabat si blonde. Salam kenal Uchiha-san. Aku Tenten dan dia Mei," potong Tenten kemudian.
"Oh, salam kenal Mei-san, Tenten-san."
'Ya ampun guys, jangan berbuat aneh-aneh di depan bocah ini. Bocah ini sangat berbahaya,' batin Ino tak tenang.
"Kamu tinggal di sebelah apartemen Ino-chan ya?"
"Benar, Tenten nee-san. Atau kalian mau mapir sekalian?" tawar Sasuke.
'Cih, anak ini benar-benar king drama yang handal. Didepan mereka dia sangat sopan, kalau didepanku seenaknya saja. Sialan jangan sampai mereka mampir ke apartemen Sasuke,' batin Ino kesal.
"Maaf ya Sasuke-kun. Lain kali kami mampir, hari ini kami ingin ngobrol di apartemen Ino-chan," ucap Mei sopan. Dalam hati, Ino sangat berterima kasih pada Mei atas penolakannya barusan. Itu membuat hati Ino sedikit lega.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai 13a. Mereka berempat keluar dari dalam lift sebelum Sasuke mengatakan sesuatu pada ketiga mahasiswi cantik di depannya. "Aku masuk ke dalam dulu. Sampai jumpa lagi Mei nee-san, Tenten nee-san."
"Sampai jumpa lagi, Sasuke-kun," ucap Tenten melambaikan tangan. Setelah memastikan Sasuke memasuki apartemannya, ketiga gadis cantik ini masuk ke dalam apartemen milik Ino.
.
.
SKIP TIME
"Ino-chan. Aku mau bros ini. Di jual berapa?" tanya Mei sembari melihat koleksi dagangan Ino.
Ino melirik ke arah Mei. "Ambil saja. Itu gratis untukmu," kata Ino.
"Hei tidak bisa gitu. Kau ini pedagang. Kau harusnya menjualnya bukan memberikannya," protes Mei.
"Itu hadiah untukmu karena kau tadi melolak tawaran Sasuke," ucap Ino cuek. Ia masih fokus melayani orderan yang masuk ke situs online shopnya.
"Jadi ini untukku ya? Wah, terima kasih banyak Ino-chan."
Ino hanya tersenyum melihat tingkah childish Mei. Ino hanya mengeleng pelan kepalanya, kemudian ia fokus di depan laptopnya.
"Ino, apa kau tidak membuat cake? Aku pengen cemilan, tapi Cuma ada keripik di dalam lemari," tanya Tenten yang baru saja datang dari arah dapur apartemen Ino.
Ino menghentikan aktivitasnya di depan laptop. Ia segera menoleh ke arah Tenten yang sibuk membawa minuman. "Hari ini aku tidak membuatnya. Kau makan saja apa yang ada, lagian kau juga sudah makan kan?"
Ting
Tong
"Ada tamu, Ino. Bukalah pintunya," perintah Tenten.
Ino menurut saja. Ia lantas berjalan ke arah pintu depan dan membuka pintu tersebut. Ino melongo ketika tidak mendapati siapapun di depan pintu apartemennya. Matanya tiba-tiba tertuju pada sebuah kotak persegi panjang di depan pintu apartemenya.
'Apa ini?' batin Ino tak tenang.
"Ino-chan, siapa yang datang?" tanya Mei yang mengikutinya dari belakang Ino.
"Tidak ada siapapun, tapi seseorang meninggalkan kotak ini di depan pintu, Mei."
"Ayo buka apa isinya." Ino lantas membuka kotak itu pelan.
Sreekkk
Sobekan kertas pembungkus kotak itu terlepas. Ino dan Mei sedikit merasa deg-degan dengan isi kotak tersebut. Ino menarik nafas sebentar, ia pun kemudian bersiap membuka tutup kotak itu.
"Aaaaaaaaaa," jerit Ino dan Mei bersamaan.
BRAKKK
Kotak itu di buang ke lantai oleh Ino. Tenten yang mendengar teriakan Ino dan Mei langsung menuju ke sumber suara. Tenten menatap bingung ke dua sahabatnya. "Hei, kalian kenapa berteriak? Ada apa?" tanya Tenten penasaran.
"Lihat saja, Tenten. Itu sangat mengerikan," ucap Mei yang masih shock.
Tenten mendekati kotak yang sempat di lempar Ino. Iya membalikkan isi kotak tersebut. Betapa terkejutnya Tenten ketika mendapati boneka barbie yang berlumuran darah. "Tega sekali orang yang mengirimkan ini," ucap Tenten geram.
Mei, memeluk Ino. Gadis itu berusaha menenangkan sahabat blondenya itu. "Tenanglah, kita akan cari tahu siapa pelakunya," ucap Mei menenangkan.
Tenten dengan sigap segera membereskan kotak mengerikan itu. Ia mengangkat kotak itu, namun sesuatu terjatuh ke lantai dan Mei mengambilnya. "Surat?" beo Mei penasaran.
Ino, Mei dan Tenten pun segera membuka amplop berwarna hitam tersebut. Mereka bertiga kemudian membaca isi surat tersebut.
Suatu saat nasibmu akan sama seperti boneka ini, Ino.
Aku bersumpah akan membuat hidupmu tak tenang.
Harusnya kau sadar, kau sangat menjijikkan, perebut pacar orang lain.
"Ino, apa ini ulah Sakura?" tanya Tenten to the point.
Ino hanya mengedikkan bahunya. Ia ingin mengatakan hal itu, namun ia juga tak punya bukti untuk menuduh Sakura-lah yang mengirim kiriman tersebut.
Drrrrttt
"Dari siapa?" tanya Mei.
"Sakura,Mei-chan," jawab Ino.
"Angkat dan loud speker," perintah Ino.
Ino mengangguk. Ia kemudian menekan tombol yang tertera di layar ponselnya. "Moshi-moshi."
"Kau sudah menerima kirimanku, pig?" tanya Sakura.
Ino mengendus kesal. Mei dan Tenten berusaha menenangkan Ino agar tidak terpancing emosi. "Jadi ini ulahmu, forehead?"
"Tentu saja, siapa lagi," jawab Sakura mantap.
"Wah, sayang sekali aku tak takut pada ancaman seperti ini forehead. Kalau kau berbuat jauh dari ini, aku tidak akan segan membalasnya yang lebih kejam, Sakura."
"Hahahha. Kau bisa apa? Kau ini cuma anak yatim piatu yang menyedihkan. Sedangkan aku, aku memiliki segalanya termasuk kekuasaan yang bisa sewaktu-waktu mengeluarkanmu dari kampus kalau sampai itu terjadi, pig."
"Kheh, menyedihkan sekali hidupmu forehead. Pantas saja Naruto tidak tahan terhadapmu dan memilih ke luar negeri dibandingkan denganmu," ejek Ino.
"Kau-
"Dengar ya, Naruto sudah menceritakannya semua padaku. Aku tahu kartu As mu, forehead. Jadi jangan macam-macam padaku."
Tut
Tut
Tut
"Bagus Ino. Kau memang harus terlihat kuat," ucap Tenten memberinta semangat.
"Huh, kenapa hidupku serumit setelah Naruto ke Amerika," keluh Ino.
"Kau sudah ceritakan ini pada Naruto?" tanya Mei.
"Aku tidak ingin dia khawatir. Dia juga memilih meninggalkan Jepang demi diriku, Mei."
Drrrtttt
Ponsel Ino kembali berdering. Gadis itu kemudia mengangakat telponnya dan meloudspeaker ponselnya agar Mei dan Tenten bisa mendengarnya. "Mosho-moshi."
"Ino-chan, ini aku Naruto," potong seseorang dari sambungan telepon.
Ino mengenali suara ini. Suara seseorang yang lama tidak ia temui. Suara cinta pertamanya, Naruto. "Oh, kau Naruto. Panjang umur juga kau menelpon. Kami baru saja membicarakanmu," ucap Ino tersenyum. Mei dan Tenten ikut tersenyum begitu tahu Naruto yang menelponnya. Mereka berdua diam, sambil memperhatikan Ino mengobrol dengan Naruto.
"Oya? Wah, ternyata kau masih mengingatku ya. Hehehhe," ucap Naruto disertai kekehannya.
"Ada apa menelpon?" tanya Ino penasaran.
Hening sejenak. Naruto kembali membuka suara. "Aku tiba-tiba khawatir padamu, Ino. Apa Sakura melakukan hal lain padamu?" tanya Naruto khawatir.
Ino merasa senang. Setidaknya Naruto masih mengkhawatirkannya. "Tidak, hanya saja barusan aku menerima teror lagi darinya," jawab Ino jujur.
"Tapi kau tak apa-apa kan, Ino?" tanya Naruto mulai cemas.
"Aku baik-baik saja. Untung saja ada Mei dan Tenten yang menolongku."
Naruto kembali diam. Ia meras bersalah pada gadis yang pernah singgah di hatinya. "Ino. Maafkan aku."
Terdiam, Ino rasanya ingin menangis mendengar pernyataan Naruto. "Tidak usah kau pikirkan Naruto. Aku sudah lebih baik tanpamu."
"Ino, berbahagialah dengan orang lain. Kau pantas mendapatkannya."
"Kau juga Naruto. Kau juga harus bahagia di Amerika."
"Um, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa kalau ada apa-apa segera hubungi 'sahabatmu' yang tampan ini jika terjadi apa-apa."
"Tentu saja. Kau juga, Naruto."
Tut
Tut
Sambungan via telepone pun terputus. Dalam hati kecil Ino, ia masih ingin mendengar suara Naruto yang berisik itu, namun sekarang ia sadar bahwa dirinya sekarang bukan siapa-siapanya Naruto.
"Dia masih saja mengkhawatirkanmu ya, Ino-chan," goda Mei menghibur sahabatnya itu.
Ino terdiam. Ucapan Mei seolah menegaskan pendapatnya. "Naruto masih sama dan tetap mengkhawatirkanku, namun bedanya sekarang kita hanya berteman. Tidak lebih dari itu," ucap Ino lirih.
"Hei Ino, Naruto bukan tidak mau memperjuangkanmu. Dia hanya tidak ingin kau terluka lebih jauh karena Sakura. Ingat Ino, kalian beda kasta," ucap Tenten mengingatkan.
"Aku tahu dan sekarang saatnya untuk move on seperti saran Naruto, Tenten."
"Nah begitu dong. Itu baru Ino sahabatku," kata Mei sembari memeluk sayang sahabatnya. Begitupun Tenten, ia juga memeluk Ino untuk selalu menguatkan hati Ino yang sedang di landa kegalauan akut jika mengingat Naruto.
"Terima kasih minna," ucap Ino tulus.
Mereka bertiga terhanyut dalam suasana. Beberapa saat saling berpelukkan, Tenten kemudian melepas pelukkannya diikuti oleh Mei. Ketiganya tersenyum.
"Minna, apa semboyan kita?" tanya Mei mengingatkan.
"SAHABAT ITU MENDUKUNG, MENOLONG DAN SALING PERCAYA!" Beo Ino, Mei dan Tenten bersamaan. Ketiganya pun tertawa. Motto yang selalu mereka kumandangkan menjadi penyemangat untuk mereka di kala mereka merasa sedih.
"Tentu saja begitu kan Ino-chan," ucap Tenten membangkitkan semangatnya.
Ino mengangguk. Ia bersyukur memilik sahabat seperti Mei dan Tenten. 'Andai kau seperti mereka, Sakura. Kita pasti akan kompak,' batin Ino.
.
.
Dua hari kemudian
Hari ini kuliah Ino sedang libur. Ia masih setia di apartemennya bergelung dengan orderan yang masuk melalui webnya. Ia menikmati sangat menikmati pekerjaannya, hingga suara bel membuatnya harus menghentikan aktifitasnya.
Ting
Tong
Ino berjalan ke arah pintu. Ia membuka pintu tersebut. "Selamat malam Ino-chan," sapa Mikoto ceria.
"Ah, bibi Mikoto. Silahkan masuk bibi," kata Ino mempersilahkan wanita paruh baya itu untuk memasuki apartemennya.
Mikoto segera masuk kedalam apartemen Ino. "Bibi Mikoto silahkan duduk. Maaf apartemenku berantakan."
"Ah, tidak apa-apa, Ino-chan."
"Sebentar bibi, aku buatkan teh dulu."
"Tidak usah repot-repot Ino-chan. Aku kemari sebentar saja kok."
"Eh?" Ino melongo. Tumben sekali tetangga yang ramah ini hanya mampir sebentar.
"Aku ingin meminta bantuanmu Ino. Apa kau keberatan?" ucap Mikoto to the point.
Gadis itu mengerti, pasti ada hal penting dan mendesak sehingga ibu dari Uchiha Sasuke ini repot-repot meminta bantuannya. "Aku tidak keberatan kok bibi."
"Benarkah Ino-chan mau membantu bibi?"
"Aku bersedia, bibi Mikoto. Apa yang harus kulakukan untuk menolong bibi?"
"Begini. Bibi akan ke Eropa atau lebih tepatnya ke Inggris selama seminggu untuk menemui ayahnya Sasuke yang akhir-akhir ini kurang enak badan. Nah, aku butuh bantuanmu untuk menjaga Sasuke, Ino-chan."
Ino menelan ludah. Menjaga Sasuke sama artinya menjadi baby sisternya Sasuke. Ino mau pingsan saja ketika ia menyanggupi permintaan Mikoto. "Bukannya ada kakaknya Sasuke, bibi?" tanya Ino sopan.
"Itachi sedang berada di Jerman bersama istrinya Ino. Aku ingin menitipkan pada tetangga sebelah namun mereka juga sedang berlibur. Terpaksa aku memintamu menjagamu."
Ino tidak tega menolak permintaan wanita didepannya ini. Ia sendiri juga salah, tanpa bertanya ia malah langsung mengabulkan permintaan Mikoto. "Baiklah bibi aku akan menjaga Sasuke selama seminggu ini," ucap Ino meyakinkan Mikoto.
"Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu, Ino-chan. Maaf bibi terpaksa merepotkanmu," ucap Mikoto merasa bersalah.
"Jangan sungkan meminta bantuanku, bibi."
"Bibi juga sebenarnya ingin mengajak Sasuke, namun ia harus mengikuti ujian akhir yang akan diadakan dua hari lagi."
"Oh, baiklah Bibi. Jangan khawatir. Kalau ada apa-apa dengan Sasuke, aku akan segera menghubungi bibi."
"Terima kasih Ino-chan. Ini ada catatan dan uang selama seminggu. Kau pergunakan untuk keperluan sehari-hari. Jika kurang atau tak mengerti, segera hubungi bibi. Ok?"
"Ok."
"Bibi harus segera ke bandara. Jaga dirimu baik-baik Ino-chan." Mikoto kemudian berpamitan pada Ino. Ino mengantarkan Mikoto ke depan pintu. Disana, ada Sasuke yang akan mengantar ibunya ke bandara. Mikoto kemudian pergi bersama ke bandara bersama putranya.
.
.
Satu jam kemudian
Ino menghela nafas berat. Tugasnya minggu ini begitu berat. Ia sampai tidak bisa fokus dengan tugas-tugasnya. Ino melirik amplop di depannya. Ia lantas membuka amplop itu lantas membacanya pelan.
Ino-chan. Maaf merepotkanmu, tapi aku meninggalkan catatan agar kau bisa menjaga Sasuke dengan baik. Hal-hal yang perlu kau perhatikan ada di catatan ini.
Sasuke paling suka tomat. Kalau bisa kau masakkan hal berbau tomat. Maaf merepotkanmu untuk hal ini, tapi tenang saja, stok tomat tersedia lebih di kulkas.
Sasuke tidak terlalu menyukai makan makanan manis.
Sasuke itu sangat menyayangi EMILIO.
Sasuke tidak bisa tidur tanpa menyentuh telinga seseorang.
Sasuke sebentar lagi ujian, usahakan jangan sampai dia keluar malam atau ke diskotik.
Sasuke alergi kacang-kacangan.
Jangan biarkan sasuke tidur larut malam dan main game.
Itu saja catatan dariku Ino-chan. Kalau ada apa atau uang dari bibi habis, tolong segera kabari bibi. Aku akan segera transfer. Terima kasih banyak ya Ino-chan.
"Ya ampun, banyak sekali larangan dan perintahnya. Apa aku sanggup hidup seminggu bersama bocah mesum itu. Arrggghhhh menyebalkan!" teriak Ino frustasi.
DRRRRTTTT
"Moshi-moshi. Siapa ini?" tanya Ino sopan.
"Ini aku, Barbie."
'Ck, sial. Mau apa lagi anak ini. Dan dari mana dia mendapatkan nomor hpku?' batin Ino kesal.
"Sebaiknya selama seminggu ini kau menginap di rumahku," ucap Sasuke penuh kemenangan.
"NGGAK MAU!"
"Oya? Kalau begitu aku akan bilang ibu kalau kau-
"Oke-oke, aku akan tinggal. Puas kau pantat ayam?"
Tersenyum kemenangan, Sasuke rupanya hampir saja berteriak kemenangan. Untung dia sedang menyetir, jika ia tidak menyetir pasti dia akan menari-nari melihat kekalahan Ino. 'Berhasil. Kena kau Barbie,' batin Sasuke puas.
"Satu jam lagi aku sampai di apartemen. Tolong kau buatkan aku makanan."
Tut
Tut
Tut
Sasuke mematikan teleponnya sepihak. Ia tertawa puas di dalam mobil, sedangkan Ino langsung membanting ponselnya seketika. "Sialan kau Sasukeeeee!"
.
.
To be continued
A/N: Chapter ini sengaja saya panjangin interaksi persahabatan Ino. Chapter depan kemungkinan akan lebih panjang interaksi SasuIno. Thanks for RnR
Minna-san yang RnR udah login, saya bales d Pm, xixixiix
Balesan yang belum login:
Yuu : Iya, disini saya ceritakan si Sasuke suka sama yang lebih dewasa seperti Ino. Sejujurnya ada kisah lain di balik pembuatan fic ini. Thanks dah RnR
Hana : Thanks dah RnR. Ini sudah di lanjut, hehhehe
Reader : Okay. Thanks for RnR hehehe
Amayyy : Maaf ya agak aneh,hehehe. terima kasih, semoga chapter ini tidak mengecewakan. Thanks dah RnR.
HEKNI954 : terima kasih semangatnya. Thanks dah RnR
Maaf minna-san, balesannya rada singkat. Hehehe, saya nggak suka basa-basi. Harap di maklumi ya memang karater saya begini suka bales singkat bahkan bbm atau semacamnya jarang banget bales panjang lebar. Semoga minna-san tidak tersinggung atas segala tulisan saya. Selebihnya saya mengucapkan banyak terima kasih atas dukungannya dan kritik serta saran yang membangun.
