Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

Catatan :

Fic ini terinpirasi dari beberapa kasus tentang persahabatan antara cowok dan cewek yang kadang sedikit mustahil.

.

Peringatan...!

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

Enjoy for read

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

~ Girl-(friend) ~

[ Chapter 21 ]

.

.

.

.

"Aku menyukaimu! Aku sungguh-sungguh menyukaimu, itu adalah masalahku sekarang." Ucapnya.

Deg.

Aku harap Sakura tidak melihat ke arahku, aku benar-benar sangat terkejut, apa ini perasaan yang selama ini di tutupinya?

"Selama ini, aku ingin terus mempertahankan hubungan pertemanan ini, tapi aku rasa aku mulai egois, aku terus memikirkan perasaanku, aku tidak ingin hubungan pertemanan ini, aku ingin hubungan yang lebih terhadapmu, tapi saat melihat orang-orang yang memiliki masalah sepertiku, aku jadi takut, aku takut jika kita putus, bahkan hubungan pertemanan yang selama ini kita bangun ikut berakhir, aku menyimpan segalanya hingga membuatku dalam masalah sendiri."

Tidak Sakura, selama ini pun, aku sangat egois, terus membuatmu bingung akan perlakuanku padamu, saat itu, aku tidak benar-benar memikirkan perasaanmu, aku hanya terus mempermainkan keadaanmu dan memikirkan cara balas dendamku padamu.

"Sasori sebenarnya pemuda yang baik, aku berbohong padamu, aku putus dengan alasan aku tidak suka akan sikapnya, dia tidak seperti itu, dan sekarang kami bertemu, dia tahu aku memutuskannya karena memiliki perasaan terhadapmu, Sasori membuat hal itu menjadi senjata untukku, aku tidak ingin kau tahu perasaanku yang sebenarnya, aku menuruti keinginannya, hahaha, ini lucu sekali, akulah yang membuat Sasori tersakiti dan sekarang aku mendapat karmanya, Sasori berubah karena aku dan aku tidak menyukai sikapnya itu."

Melepaskan rangkulan Sakura, aku sudah cukup mendengarnya dan sudah cukup untuk pura-pura mabuknya.

"He-hey, jangan melepaskannya, kau akan jatuh." Panik Sakura saat aku melepaskan diri darinya.

"Aku tidak mabuk, tenanglah." Ucapku dan aku bisa melihat wajah terkejut itu.

"Ka-ka-kau mendengar segalanya!" Panik Sakura.

"Bagaimana yaa, aku kurang mendengarnya jika kau tidak mengatakan langsung padaku." Ucapku dan wajahnya sangat merona.

"Ka-kalau begitu pulang saja sendiri!" Ucapnya, segera menahan lengan Sakura, jika aku tidak menahannya, semua ucapannya hari ini akan menggantung dan aku akan kesulitan lagi menemuinya jika dia menghindar, kali ini aku harus menggenggamnya, menggenggamnya erat agar membuatku tidak menyesal kembali.

"Beri aku penjelasan sekarang juga." Ucapku.

Mata Sakura basah, dia sampai menahan tangisnya dan wajahnya itu terlihat takut dan khawatir.

"Kau sudah mendengarnya, bukan?" Ucap Sakura dan dia tidak menatapku.

"Aku tidak mendengarnya." Bohongku.

Sakura terdiam, tubuhnya sampai gemetaran, apa dia setakut itu untuk hubungan yang berakhir? Dia takut jika aku akan meninggalkannya?

Menariknya dalam dekapanku dan memeluknya, aku tidak mungkin akan meninggalkannya meskipun hubungan ini berubah, aku tetap akan bersamanya, sejak lama aku begitu menyayanginya, walaupun dia sangat keras kepala, kini suara tangis yang bisa aku dengar, Sakura menangis seperti dia benar-benar sudah lelah akan masalahnya, tangisannya itu terdengar begitu memilukan, memeluknya dan berharap hanya dengan pelukan ini dia akan berhenti menangis.

.

.

Menatap taman tempat kami bermain dulu, sekarang kami tengah duduk di kursi dimana aku selalu membaca dan membiarkan gadis kecil itu bermain sepuasnya, hari ini aku ingin mendengar segalanya dari Sakura, hal yang selama ini di tutupinya.

"Kau kecewa bukan? Aku yakin kau pasti akan sangat kecewa, aku ini benar-benar egois." Ucapnya.

"Tidak." Ucapku, mata hijau itu menatap ke arahku. "Kau itu bodoh." lanjutku dan membuatnya kesal.

Dia menghela napas dan berwajah cemberut. "Selalu mengatakanku bodoh." Ucapnya.

"Jadi, bagaimana sekarang?" Ucapku.

"A-a-aku tidak tahu, aku sudah membuat Sasori berubah, aku berbohong padamu dan juga, aku menjadi bingung akan sikapku sendiri, jika kau ingin marah, marah saja, sejak awal kau pasti selalu menahan diri untuk tidak marah 'kan?" Ucapnya, kini raut sedih yang di perlihatkannya.

"Aku marah karena kau tidak mengatakan apa-apa padaku, apa kau pernah sedikit saja bertanya padaku? Bertanya bagaimana perasaanku padamu?" Aku pun lelah jika kita terus salah paham.

"Tapi-"

"-Cukup Sakura, tidak ada hubungan yang berakhir seperti itu jika kita tidak menginginkannya, itu adalah masalah temanmu dan sahabatnya, jangan menjadikan masalah mereka sebagai ketakutanmu, itu bukan Sakura yang aku ketahui, jika benar kau menyukaiku melebihi sahabat, apa itu salah?"

Sakura terdiam dan wajah meronanya terlihat jelas.

"Apa kau juga uhm. merasakan seperti itu?" Ucapnya, ragu.

"Jika iya, memangnya kenapa? Aku sudah melarangmu sejak awal, kenapa kau tidak menolak saja dia." Ucapku, kesal, dia pikir aku sedang bercanda saat itu.

"A-aku sama sekali tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku."

"Diam dan jangan beranggapan aneh-aneh." Kesalku, aku benar-benar kesal padanya, sekarang semuanya sudah jelas aku jadi sedikit lega jika dia mengatakan yang sebenarnya.

"Jika kau tetap menyukai pemuda berambut merah itu, lanjutkan saja hubungan kalian, aku juga tidak peduli." Cuekku.

"Kami sudah putus." Ucapnya.

"Putus?"

"Ah, kau harus tahu apa yang aku lakukan padanya."

Saat itu.

.

.

[ FlashBack-Sakura pov. ]

"Sakura, sebaiknya kau berhenti sekarang." Ucap Naruto.

"Ini karena kami peduli padamu, Sakura." Ucap Chouji.

"Jika kau ingin aku mematahkan tangannya yang lancang itu, akan segera aku lakukan." Ucap Kiba.

"Tidak! Jangan lakukan itu." Ucapku, menghembuskan napas perlahan, aku akan memilih apa yang menurutku benar.

"Sasori." Ucapku. Dia terlihat senang saat aku mendatanginya, ya, aku rasa ini lebih baik.

"Aku senang kau selalu kembali padaku Sakura." Ucapnya dan senyum manisnya itu tidak membuatku luluh padanya.

"Kau harus tahu Sasori, dulunya kau begitu baik dan tulus padaku, sekarang kau sangat berubah, jika itu karena kesalahanku, aku minta maaf, aku tahu aku sangat jahat padamu saat itu, tapi bisakah kau tidak mempermainkanku? Aku tidak melihat lagi ketulusan padamu." Ucapku.

"Kau ini, jangan mengulang kesalahanmu lagi, aku tetap tulus padamu jika saja kau terus mendengar perintahku."

"Baiklah jika itu yang kau pikirkan."

Plaaakk!

"Kita putus, aku muak untuk mendengar setiap perintah konyolmu." Ucapku.

Sasori memegang pipinya yang telah aku tapar, wajahnya terlihat marah dan kepalang tangan itu mengarah padaku, sayangnya dia sama sekali tidak bisa menyentuhku.

"Hey-hey, dasar pemuda aneh, beraninya memukul seorang perempuan." Ucap Kiba, segera menahan kepalang tangan Sasori.

"Jika berani, kau harus melawan kami." Ucap Naruto.

"Jika kau memukul Sakura, aku akan menggigitmu." Ucap Chouji.

Kiba, Naruto dan Chouji menghalangi Sasori.

"Begitu yaa, bagus Sakura, bagus! Sekali lagi kau merusak segalanya! Aku juga muak padamu yang tidak bisa menjadi seorang gadis yang lebih baik!" Ucapnya, marah. "Sial!" Umpatnya dan bergegas pergi.

Apa ini sudah menjadi jalan yang terbaik? Aku harap, sekarang aku rasa rencana Sasori sia-sia, dia tidak bisa membalasku dan aku harus segera berbicara pada Sasuke, jika Sasuke mendengarnya dari Sasori, aku takut jika Sasuke malah akan kecewa padaku, sampai detik ini aku tetap menjadi orang buruk dengan segala keegoisanku.

[Ending Flashback-Ending Sakura Pov.]

.

.

.

.

"Ya aku tahu, kau akan mengatakan aku orang yang buruk dan sangat egois, kau bisa membenciku jika kau mau." Ucap Sakura, saat ini tidak ada tatapan sedih di sana, tapi lebih kepada dia kecewa akan dirinya sendiri.

Aku sudah mendengar semua yang di katakannya, aku rasa itu sudah cukup untuk membuatku terus salah paham, tapi aku pun bisa termasuk orang yang buruk, selalu menutupi perasaanku padanya dan tidak bisa lebih jujur, sepertinya kami sama saja.

"Apa itu yang namanya orang baik akan berakhir buruk?" Ucapku.

"Kau benar, semua ini benar-benar salah dan apa dulunya kau benar-benar membenciku?" Ucapnya, Sakura menanyakan masalah yang sudah lewat itu.

"Ah benar, dulunya aku sangat benci padamu, aku sampai ingin kau menjauh, tapi semakin membuatmu menjauh, kau semakin keras kepala dan tidak peduli." Ucapku, aku juga ingin jujur padanya tentang diriku yang dulu.

"Ternyata aku benar-benar gadis yang menyebalkan." Ucapnya.

"Baiklah, semuanya sudah terjadi, kita tidak bisa mengulang waktu kembali, mungkin hanya bisa memperbaiki keadaan yang salah, lagi pula aku sudah minta maaf dan kau juga sudah minta maaf, sekarang kita pulang saja." Ucapku.

Sakura mengangguk pelan, suasananya jadi aneh, sedikit canggung, Sakura bahkan berjalan sambil menjaga jarak dariku, apa dia sedang malu atau malah merasa bersalah telah mengakui perasaannya?

.

.

.

.

.

.

Siang ini, menatap ke arah mereka, kami tidak satu fakultas dan mereka akan terus memaksaku mengikuti mereka.

"Sakura sudah putus dengan pacarnya, kalian tidak ada niat untuk pacaran?" Ucap Kiba.

"Bukan urusanmu." Ucapku.

"Jadi kalian akan tetap berteman?" Kini Naruto yang berbicara.

"Bisakah kalian tidak sibuk mengusikku?" Ucapku, lagi pula pacaran atau tidak pacaran adalah hal yang perlu kami bicarakan bersama.

Saat pulang bersama, Sakura tidak mengatakan apa-apa, sebelumnya dia sudah mengatakan jika menyukaiku melebihi sahabat, aku pun sudah mengatakan jika aku memiliki perasaan yang sama dengannya, tapi hingga tiba di rumah masing-masing, hanya ada ucapan selamat malam dan kembali ke rumah masing-masing, aku hanya ingin memberi waktu pada Sakura, aku yakin dia sudah cukup lelah dengan memikirkan perasaannya sendiri tanpa tahu aku juga memikirkan perasaannya padaku.

"Abaikan saja mereka Sasuke." Ucap Chouji, setidaknya cuma dia yang memahami keadaan, tak lupa sibuk dengan makanannya.

Sakura sedang tidak bersama mereka, gadis itu sedang ada jadwal kuliah. Suasananya begitu tenang, meskipun mereka terus mendesakku untuk mengatakan yang sebenarnya, aku tidak peduli, seharusnya kami bisa bersabar untuk hubungan yang lebih jauh, aku bisa menunggunya sampai kapanpun.

.

.

.

.

.

Liburan semester.

"Wah, liburan ini sangat mewah, aku tidak percaya kau mengajakku ke tempat yang jauh." Ucap Sakura, dia sedang sibuk dengan melihat brosur tempat kami akan liburan.

"Kau tidak suka?" Tanyaku, baru kali ini aku benar-benar mengajaknya pergi untuk liburan, dulunya kami tidak pernah kemana pun, perjalanan cukup jauh dengan kereta cepat, tempatnya pun berada di luar Konoha.

"Tidak-tidak, hanya saja kau akan menghabiskan banyak uangmu." Ucapnya.

"Tidak, lagi pula ini permintaan ayahku." Ucapku.

"Paman Fugaku?"

"Ah, dia mendapat sebuah hadiah dari seseorang yang bekerja padanya, orang itu pemilik resort ini dan ingin ayah mendapat liburan gratis ini, dia masih sibuk dan ibu malah menyuruhku mengajakmu." Ucapku, aku tidak keberatan, hanya saja saat meminta ijin pada kedua orang tua Sakura cukup memalukan, seperti akan melamarnya, apalagi kami akan menginap, paman Kizashi mengatakan tidak apa-apa, lakukan apa yang kalian sukai katanya, hingga bibi Mebuki mencubitnya, aku tetap akan menjaga Sakura dengan baik.

"Heee... jadi apa ini namanya liburan yang sedang terpaksa?" Ucapnya dan menatap kecewa padaku.

"Menurutmu?"

"Kau sungguh keterlaluan, katakan saja jika tidak ingin pergi liburan." Ucapnya

"Aku akan tetap akan mengajakmu liburan, meskipun tanpa hadiah resort mewah ini." Ucapku.

Sakura terdiam dan hanya menatapku.

"Ada apa? Kau tetap saja tidak suka?" Tanyaku.

"Ti-tidak." Gugupnya dan mengalihkan tatapannya dariku.

Dasar bodoh, wajahmu sama sekali tidak bisa berbohong jika kau sedang senang.

.

.

Setelah tiba, resortnya benar-benar mewah, mengecek hotel yang telah dipesankan dan Sakura menatap datar padaku.

"Mungkin mereka pikir karena hanya ayah dan ibu yang akan pergi, makanya memesan satu kamar." Jelasku, kami hanya dapat satu kamar, meskipun aku ingin meminta kamar lain lagi, tidak masalah, aku akan membayar, sayangnya saat liburan seperti ini, hampir seluruh kamar telah di pesan dan penuh.

"Jadi? Kita harus bagaimana?" Ucapnya.

"Batalkan liburan ini atau kita ke tempat lain yang lebih dekat, masih di Konoha saja." Ucapku, hanya memberi beberapa saran.

Sakura mengambil kunci kamar itu dari tanganku dan beranjak pergi. "Sudah jauh-jauh ke sini dan pulang, aku tidak mau, aku ingin liburan." Ucapnya dan bergegas menarik kopernya.

Menghela napas, hanya ada satu kamar, apa benar kita akan tidur bersama? Cih, apa yang aku pikirkan! Hanya satu kamar saja, kita tidak perlu membagi ranjang, aku bisa tidur dimana saja.

Masuk ke kamar itu dan begitu luas, pemandangan laut bisa terlihat jelas dari sini, menatap ranjangnya, single bed, keadaan semakin memburuk.

.

.

TBC

.

.


update...~

apa author update kemarin atau tidak? sepertinya lupa. seharusnya chapter ini sudah TAMAT, tapi author sedikit bingung bagaimana mau menyelesaikan endingnya, ada begitu banyak akhir alur yang sedang author pikirkan dan belum author putuskan XD serasa belum puas menentukan alur endingnya, jadinya TBC lagi, yaa anggap saja chapter berikut adalah epilognya saja. author sudah baca kembali semua alur selama dua hari demi ending yang bagus, terus kaget, ada begitu banyak typo dan salah penulisan, HIks, berharap para reader sadar aja kalau yang author ketik itu salah, karena keseringan mengetik, jari-jari jadi suka salah ketik. hiks. atau mungkin kelelahan mengetik. hiks.

karena udah janji akan balas review, auhtor balas yang di chapter ini dan author jawab saja yang sedang bertanya dan kebingungan yaa...

annis874 : ini lagi ngebom review yaa XD namanya berurut nongol. uhm, terima kasih telah benar-benar mengerti alur yang telah author buat, *tersanjung* untuk masalah cewek yang membantu Kiba, itu cuma karakter lewat yang tidak author cantumin siapa dia, anggap saja si A XD terima kasih juga selama ini telah menyukai fanfic karya author, senang masih ada yang mau baca. padahal karyanya suka gitu-gitu aja.

Azure Shine : kesukaan author ini di buatin kesel, ehehehe. tebakanmu benar sekali tentang sikap Sakura.

Nejes : Harusnya mereka berdualah yang perlu di sadarkan, hahaha. apa mereka akan pacaran meskipun sama-sama suka? hayoooo... hahaha *ketawa jahat* tidak semua fernando.

Lacus Clyne 123 : kata TBC hilang? chapter berapa? author sudah cek semua chapter dan tidak ada kok. fic ini harusnya tamat di chapter ini, tapi author masih bingung buat tamat yang benar-benar ngepas dan sesuai dengan keinginan author, belum puaslah intinya ini. hahaha, tapi next chapter benar-benar akan tamat. untuk oneshoot, auhtor sudah siapkan satu oneshoot pas malam tahun baru, hehehe, jangan sampai tidak membacanya yaa dan berharap di review juga XD

Oec : karena baru cek review, semua pertanyaanmu sudah dijawab pada chapter sebelumnya dan ini. semuanya sudah terbongkar.

Evy Bestari Putri : udah tahu kan kenapa Sikap saku aneh.

review-review lain juga dan untuk yang ngereview tanpa akun (guest-guest), terima kasih juga sudah support author. hiks *terharu*

.

.

See you (epilog) chapter... ~