MY LOVELY BRONDONG
.
.
Present by IchiOchaMocha
...
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pairing : Uchiha Sasuke & Yamanaka Ino
Warning : Fic ini berisi kegajean yang di ciptakan author karena saking frustasinya terhadap real life-nya, Typo, Au, OOC, de el el. Alur cerita di percepat. Ide datang dari novel yang pernah saya baca, judulnya Brondong. Novelnya bagus. So sweet pake banget.
Summarry : Tua, muda. Usia tak bisa terelakkan jika sudah menyangkut cinta. Oh, mungkinkah berbedaan usia membuat mereka mengerti bahwa cinta tak terbatas pada usia? Special fic for SasuIno lover... Happy reading minna.
A/N : Apartemen Ino bernomor 1326, sedangkan apartemen Sasuke bernomor 1327. Setting waktu untuk chapter ini dimulai ketika Sasuke selesai mengantar ibunya ke bandara.
.
.
Apartemen Blue Orchid nomer 1327
Jam menunjukkan pukul 21.00 waktu Konoha. Ino baru saja memasuki apartemen Sasuke setelah ia diberi tahu pasword apartemennya. Gadis blonde itu sedang dilanda kebingungan lantaran Sasuke menyuruhnya memasak apalagi sang nona Yamanaka ini tampak frustasi ketika mengetahui banyak sekali stok tomat di kulkas keluarga Uchiha. 'Astaga, apakah tidak ada buah lain selain tomat? Ini sungguh mengerikan dari apa yang aku bayangkan,' batin Ino putus asa.
Ino lantas mengambil smart phonenya dan segara dirinya membrowsing beberapa masakan berbahan baku buah berwarna merah itu. Beberapa saat melakukan penelusuran resep makanan di dunia maya, Ino memutuskan untuk membuat sup tomat dengan daging giling serta puding tomat.
"Masakan ini mudah. Aku akan segera memasak sebelum bocah itu datang membuat masalah," ucap Ino bermonolog.
Gadis itu kemudian segera berjalan ke dapur. Sebelum memasak tak lupa ia mengikat rambutnya dan menggunakan appron yang tersedia di dapur. Ino lantas membuka isi kulkas untuk mengambil daging, tomat serta beberapa bahan lainnya. Gadis bersurai blonde itu lega lantaran sang nyonya Uchiha menyediakan kebutuhan masaknya di dapur sangat lengkap.
"Bahan sudah lengkap. Pertama-tama aku akan membuat puding dahulu, yang simple dahulu baru ke masakan yang agak rumit," kata Ino kembali bermonolog. Ino tampak menikmati kegiatan memasaknya. Ia bahkan telah lupa jika sedang kesal karena harus 'melayani' Uchiha bungsu itu. untuk saat ini, Ino benar-benar melupakan Uchiha Sasuke yang menurutnya menyebalkan.
Dua puluh menit di dapur, telah selesai dengan puding tomatnya. Ino kemudian meletakkan puding tersebut ke dalam frezer agar cepat padat. Gadis itu kemudian melanjutkan acara memasak sup tomat dengan daging giling. Masakan berikutnya sepertinya akan sedikit memakan waktu lama. Meskipun begitu, Ino ingin menyelesaikannya dengan cepat sebelum Sasuke pulang.
Didapur, terlihat sekali Ino sangat terampil dalam mengolah bahan masakan. Ia dengan mudah meracik bahan sesuai resep dan takaran yang pas. Untung saja mendiang ibunya selalu mengajarkan memasak sewaktu Ino masih kecil, jadi memasak bukan hal baru untuk Ino. Bagaimanapun juga, darah chef juga mengalir dari dalam dirinya, maka wajar saja ia terampil mengolah bahan makanan seperti sekarang.
"YEYYY, AKHIRNYA SELESAI!" teriak Ino bangga.
Ino lantas menata meja makan. Ia tak lupa menaruh makanan yang barusan ia masak. Gadis itu tampak puas dengan hasil kerjanya. Saat sedanga asik menata meja makan, dering ponselnya kembali berbunyi
Drrrt
"Moshi-moshi. Ada apa bocah?" tanya Ino seolah tahu siapa yang sedang menelponnya.
"Aku sudah memasuki parkiran. Kau tak lupa dengan tugasmu kan, Barbie?" tanya Sasuke memastikan.
"Huh, cepatlah naik, makanannya keburu dingin," kata Ino sewot.
'Dasar bocah ababil,' batin Ino kesal.
"Hn."
Tut
Tut
Tut
.
.
Lima menit kemudian
Sasuke sudah tiba di apartemennya. Baru saja masuk ke apartemennya, ia melihat Ino tertidur di sofa. Gadis itu sepertinya kelelahan akibat sejak tadi memasak di dapur. Sasuke tersenyum lembut. Ia lantas membetulkan posisi tidur Ino dan menyelimuti tubuh Ino dengan jaket yang ia kenakan. Pemuda berambut layaknya pantat ayam itu kemudian masuk ke kamarnya dan segera memasuki kamar mandi. Ia memutar keran air pada bathtubnya. Setelah air terisi penuh, ia kemudian menanggalkan semua bajunya. Pemuda itupun masuk kedalam bathtub untuk berendam. Sasuke begitu lega, segala lelahnya hari ini hilang sekita begitu tubuhnya menerima siraman air dan sabun beraroma orange yang dapat merilekskan tubuh serta pikirannya. Ya, dia sangat menikmati watu berendamnya.
Beberapa saat berendam, ia lantas menyudahi aktifitas favoritnya. Sasuke memakai kimono mandinya. Ia lantas menuju kamar dan mengambil pakain di lemari berukuran besar itu. Pemuda bersurai emo itu kemudian membuka lemari pakaiannya dan lantas memilh kaos serta celana pendek yang biasa ia kenakan saat di apartemen.
Selesai berpakain, Sasuke kemudian melangkahkan kakinya ke arah ruang makan. Ia melihat Ino tertidur. "Gadis itu, sudah makan malam belum, ya," gumam Sasuke pelan. Sedikit ragu, akhirnya Sasuke memberanikan diri membangunkan Ino.
"Barbie, bangunlah," kata Sasuke membujuk.
"Engghh." Ino hanya mengerang ketika Sasuke membangunkannya. Sasuke tersenyum tipis. Ia kemudian mendapatkan sebuah ide jahil agar Ino bangun.
Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Ino. Dari jarak sedekat itu, Sasuke membisikkan sesutu di telingan Ino. "Bagun atau kau kucium seperti di lift, Barbie."
Sontak saja Ino langsung terbangun. Sasuke yang melihat Ino terbangun dengan tidak elitnya langsung tertawa terpingkal-pingkal karena reaksi Ino yang menurutnya lucu. "Awas kau bocah!" Ino mengerang kesal, segera saja ia menyambar sandal yang ia kenakan lalu melemparkan ke arah Sasuke yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
Duagh
Sial bagi Sasuke, ia tak sempat menghindar dari sandal yang di lemparkan Ino. "Ups, maaf mengenai kepalamu Sasuke," ucap Ino puas.
"Kau. Sakit tau!" protes Sasuke menelus kepalanya.
Wajah Ino memerah. Ia begitu marah pada pemuda menyebalkan di hadapannya. "Apa ha! Kau mau protes, bocah?"
'Gawat, dia mengerikan,' batin Sasuke. Sasuke bergidik ngeri. Ia tidak menyangka jika sang Barbie yang ia kagumi begitu menyeramkan jika sedang marah. "Tidak, aku hanya-
"Apa maumu bocah. Aku sudah menurutimu untuk membuatkanmu makanan, sekarang apa lagi ha?" Memangnya kalau aku tidur masalah buatmu? Aku kan capek menunggumu pulang," potong Ino tak mau kalah.
"Maafkan aku," ucap Sasuke merasa bersalah.
Ino tak menjawab. Gadis itu masih dengan mode 'ngambek' di depan Sasuke. Sasuke yang merasa di abaikan lantas mendekati Ino. "Maafkan aku, nee-san."
Ino tertegun. Baru kali ini, Sasuke memanggilnya dengan lebih sopan. Hal tersebut membuat Ino tersenyum tipis. "Aku memaafkanmu. Lebih baik kau segera makan keburu makanannya dingin, Sasuke," kata Ino dingin.
Melihat reaksi Ino yang seperti itu, Sasuke menurut saja. Ia hendak menuju ruang makan tetapi ia berhenti sebentar. Pemuda itu kemudian menarik tangan Ino dan menyeretnya ke ruang makan.
"Kau! Apa yang kau lakukan? Lepaskan bocah."
"Temani aku makan, Barbie. Aku tak terbiasa makan sendirian di meja makan."
"Aku tidak lapar Sasuke."
KRIUUUYUUUKKK
'Ah, sial. Ini memalukan,' batin Ino kesal.
"Perutmu tak bisa di bohongi, Ino-chan."
"Kau-
KRIUUUYUUUKKK
Gadis itu hendak protes pada Sasuke, namun siapa sangka perutnya kembali berbunyi menandakan jika perutnya minta di isi. Ino pun terpaksa mengikuti keinginan Sasuke.
Acara makan malam berlangsung hening. Baik Sasuke dan Ino, masing-masing dari mereka memilih diam. Sesekali Sasuke melirik Ino yang tampak tidak berselera makan. "Ada apa? Kenapa tidak memakan makananmu?" tanya Sasuke heran.
"Malas makan, padahal perut lapar," ucap Ino sekenanya.
Tanpa babibu, Sasuke kemudian mengambil sendok yang berisi makanan lalu memaksa memasukan makanan tersebut ke dalam mulut Ino. Lagi-lagi Ino hendak protes dengan aksi Sasuke yang tiba-tiba namun terpaksa ia urungkan karena mulutnya penuh dengan makanan yang di sodorkan Sasuke.
"Seenaknya saja kau ini, bocah," ucap Ino setelah menelan habis makanannya.
"Pfft. Salah siapa makan seperti itu."
"Hei bocah, gara-gara kau program dietku gagal tahu."
"Kau ini sudah sexy, ngapain diet segala."
Blush
Pipi Ino tiba-tiba merona ketika Sasuke memujinya. "Apa pedulimu, bocah. Aku diet kan bukan urusanmu," celetuk Ino kesal.
Sasuke hampir saja tertawa terbahak-bahak jika saja ia tidak di depan Ino. Wajah Ino yang menggemaskan saat kesal ataupun marah seperti obat penghilang stres baginya. Pemuda itu lantas meletakkan sendok dan garpu yang ia pegang. Sasuke kemudian menatap intens gadis bersurai blonde tersebut. "Salah ya aku memujimu sexy?" goda Sasuke jahil.
"Sebaiknya kau cepat habiskan makananmu dan segera tidur. Kau harus bangun pagi agar tidak terlambat," ucap Ino yang berusaha menutupi malu ketika Sasuke menggodanya.
"Bicara soal tidur, apa ibuku tidak mengatakan sesuatu padamu?" tanya Sasuke memastikan.
Ino terdiam. Ia berusaha mengingat apa pesan Mikoto untuk menjaga Uchiha bungsu. Seolah tidak menemukan jawaban, Ino menyerah untuk mengingat semua yang di katakan Mikoto pada suratnya. "Mengatakan apa?" kata Ino polos. Ino sungguh melupakan apa yang di katakan pada surat yang Mikoto tulis.
Sasuke menyeringai. Pemuda itu sudah menduga jika gadis di hadapannya ini melupakan surat dari ibunya. Sebuah ide terlintas di benaknya. Mesumkah? Belum tentu. "Aku tidak bisa tidur tanpa menyentuh telinga orang lain," ucap Sasuke mantap.
Prangg
Sendok dan garpu yang semula di pegang Ino terjatuh di atas piring. 'Ya ampun, kenapa aku melupakan itu, ah bisa gawat ini kalau si bocah pantat ayam melakukan hal mesum padaku,' batin Ino shock.
"Errr, Sasuke. Aku ada tugas kuliah, sebaiknya aku pulang ke apartemenku," bohong Ino.
Sasuke tak tinggal diam. Pemuda itu berusaha menarik tangan Ino agar tidak kabur kemana-mana. "Kau mau aku laporkan pada ibu kalau kau lalai menjalankan tugasmu, Barbie?" ancam Sasuke disertai seringai yang menakutkan bagi Ino.
Ino tak bisa berkomentar lagi. Ancaman Sasuke terlihat mengerikan. "Baik-baik. Aku akan menuruti keinginanmu. Puas kau!" ucap Ino mengalah.
"Nah, itu baru namanya Yamanaka Ino. Sekarang, ku ijinkan kau mengambil pakaianmu. Selama seminggu kau harus tinggal di apartemenku, Barbie."
"Kau gila bocah mesum!" teriak Ino frustasi.
Sasuke hanya terkekeh pelan. Pemuda jenius itu sepertinya telah menemukan kelemahan Ino. "Tentu saja, memangnya siapa yang bisa membuatku gila seperti ini kalau bukan kau, Yamanaka Ino."
"Aku mau mengambil bajuku."
.
.
Sepuluh menit kemudian
Ino telah selesai berberes bajunya. Ia lantas menuju apartemen Sasuke untuk menginap di sana selama seminggu lamanya. Ino langsung masuk ke apartemen Sasuke. Sesampainya di sana, Sasuke sudah memakai piyama tidur lengkap.
"Aku tidur di mana bocah?" tanya Ino to the point.
"Tidur di kamar Itachi. Tapi, sebelum tidur, bisakah aku menyentuh telingamu sebentar, Barbie."
"Huh, baiklah bocah. Sebentar saja, jangan lama-lama. Aku sudah ngantuk."
'YES! RENCANA BERHASIL,' batin Sasuke girang.
"Ayo kekamarku, Barbie."
"Ha? Kenapa harus di kamarmu. Tidak di sini saja? Kenapa memegang telinga saja harus repot ke kamarmu juga, sih," gerutu Ino.
"Jangan membantah. Lakukan di kamarku saja," perintah Sasuke mutlak.
.
.
Lima menit berlalu, Sasuke masih saja asik memblintir (pegang) telinga Ino. Ino sebenarnya tidak keberatan, Cuma yang jadi masalah saat ini adalah posisi mereka yang berada di atas tempat tidur yang sama. Sekali lagi posisi mereka sangat tidak menguntungkan bagi Ino, tapi justru posisinya sekarang sangat menguntungkan Sasuke.
"Sasuke? Sudah belum. Aku mau tidur saja di kamar kakakmu," ucap Ino merasa risih karena posisinya berbaring yang saling berhadapan dengan Sasuke.
Sasuke masih tak bergeming. Ia sangat menikmati ketika bisa menyentuh telinga seseorang. Ya, sensasi ini benar-benar membuat Sasuke tenang. "Sebantar lagi, Ino."
"Ck, sopanlah pada orang yang lebih tua darimu, Sas."
"Hn."
"Apanya yang cuma 'hn' saja, bocah."
"Maksudku, aku tidak bisa seperti itu jika bersamamu, Barbie," ucap Sasuke parau.
Ino lantas bangun dari pembaringannya. Gadis itu lagi-lagi di buat kesal oleh ucapan Sasuke yang seenaknya. "Sudah ya. Aku ngantuk. Aku mau tidur," ucap Ino sepihak. Sasuke tak sadar jika saat ini Ino sangat kesal padanya.
Ino kemudian beranjak dari tempat tidur Sasuke. Sebelum membuka kamar pintu kamar Sasuke, Ino kembali melihat Sasuke yang ternyata sudah terlelap tidur.
'Dasar bocah aneh,' batin Ino kesal. Berjalan perlahan, ia kemudian keluar dari kamar Sasuke dan p menutup pintu kamar pemuda berambut emo itu.
.
.
Pagi hari,
Sejak jam 7 pagi ini, Ino sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda ia akan bangun. Gadis itu masih memeluk erat selimut tebalnya. Ia begitu lelap tertidur hingga tanpa suara, Sasuke masuk diam-diam ke kamar kakaknya untuk mengintip gadis pujaannya.
'Dia manis sekali saat tertidur,' batin Sasuke sambil mengamati wajah damai Ino saat tertidur. Sasuke kemudian mengambil smart phonenya. Diam-diam pemuda itu mengambil potret wajah gadis bersurai blonde itu. Sasuke tampak tersenyum puas melihat hasil foto Ino di layar smart phonenya. Sasuke masih betah memandang Ino tidur, bebarapa saat kemudaian ide jahil pun muncul dalam benak Sasuke.
Sasuke keluar dari kamar Itachi. Pemuda itu kemudian mengambil kotak kaca yang berisi Emilio dari dalamnya. "Nah, Milo lakukan tugasmu dengan baik," ucap Sasuke pada Emilio. Emilio adalah laba-laba peliharaannya. Saseke sendiri sering memanggil Emilio dengan Milo. Yah, dia sangat menyayangi peliharaannya itu.
Sasuke kembali ke kamar kakaknya. Ia lantas meletakkan Emilio ke samping bantal Ino. Sasuke kemudian meninggalkan Emilio dan Ino di kamar itu. Dalam hati ia puas telah menjahili Ino, ia hanya perlu melihat Ino ketakutan setelah ini.
.
.
Aaaaaaaaa
Suara teriakan terdengar dari kamar Itachi setelah beberapa menit Sasuke meletakkan Emilio di samping Ino. Sasuke yang saat itu sedang berada di kamar mandi terkekeh pelan. Rencananya pagi ini berhasil dengan baik.
Bugkh
Bugkh
Disisi lain. Ino segera mengambil sapu dan mengusir laba-laba itu. Gadis itu mati-matian mencoba mengusir hewan yang amat ia takuti. Ia sampai mengambil sapu untuk mengusirnya. Emilio yang gesit, kemudian merayap kearah jendela kamar Itachi. Ino tak tinggal diam, ia lantas membuka jendela kamar tersebut dan dengan di bantu sapu di tangannya, ia berhasil mendorong laba-laba itu keluar jendela.
Cklek
"Ada apa teriak pagi-pagi begini?" tanya Sasuke pura-pura kesal.
"Itu, ada laba-laba mengerikan di sampingku, Sasuke," ucap Ino terengah-engah. Gadis itu tampak berusaha mengatur nafasnya karena kelelahan mengusir laba-laba itu.
"Sekarang tunjukkan di mana laba-labanya, supaya aku tangkap."
"Tidak perlu repot-repot. Aku telah membereskannya. Laba-laba itu jatuh dari jendela. Aku yang mendorongnya pakai sapu."
"Oh jadi kau mengusirnya." Sasuke terdiam. Otaknya baru saja memproses ucapan Ino. Pemuda itu berlari ke arah jendela dan membuka jendela tersebut. Mata onyxnya mengawasi keberadaan hewan peliharaannya. Ia takut Emilio tewas di injak mobil.
"Heheheh, dari atas sini pasti laba-laba mengerikan itu pasti mati," ucap Ino tanpa dosa.
"INOOOOOOOOO! AWAS JIKA EMILIO SAMPAI TEWAS DI LINDAS MOBIL!" Teriak Sasuke schock.
"Eh, ada apa?"
"Dasar bodoh, dia itu peliharaanku. Kenapa kau tidak punya rasa ke binatangan, ha! Harusnya kau tidak menjatuhkan Emilio dari atas sini!" ucap Sasuke marah.
"Hehehe, maaf aku tidak tahu."
"Awas saja sampai Emilio terjadi sesuatu!"
.
.
To be continued
.
.
.
Maaf update agak telat. Ini karena beberapa minggu terakhir sebelum dan sesudah tahun baru drop bgt kondisi tubuh saya. Aku harap kalian masih setia meninggalkan jejek untuk fic ini ya.. maaf chapter ini agak mengecewakan ya...
Happy new year 2016
Balesan yang belum login:
Hana : thanks for RnR... ok, ini udah update. Makasih
Amayy : thanks for RnR... ok, ini udah update. Makasih
Ryuunee :hahhaha... cie cie juga.. sasuke lg jatuh cintrong nih.. thanks for RnR... ok, ini udah update. Maaf baru bs update skrng. Makasih
Namewahdah : thanks for RnR... ok, ini udah update. Makasih
Pipitqueen : thanks for RnR... ok, ini udah update. Makasih . Sasuke sengaja saya buat OOC, jadi maaf klu agak nyleneh dr wataknya yg sbnrnya.. hohohho
Yuuukooo-chan: thanks for RnR... ok, ini udah update. Makasih
Legaaaaaa udah update.. yang udah login, saya udah bls k pm masing-masing ya... thank u
